[Ficlet] Don’t Ruin My Good Mood

 

wp-1490374615781.jpeg

Don’t Ruin My Good Mood

Casts: [NCT’s] Na Jaemin, [OC] Park Geena | Genre: Fantasy, Wizard, AU, Frienship | PG-13 | Length: Ficlet

Jaemin menyihir keempat gurunya. Persetan dengan itu, keselamatan adalah hal yang utama.

-o0o-

Siang itu, Jaemin berniat menghindari kelas Profesor Winwin terkait metode penyampaian materi yang tidak menarik. Kepalanya tidak mampu menampung lebih banyak muatan lagi. Situasi menyebalkan itu diperkeruh dengan keberadaan Park Geena yang tertidur nyenyak di bangku sebelahnya. Tidak peduli volume suara guru yang tengah mengajar di depan, gadis itu terjun ke dalam dunia mimpinya tanpa banyak kendala. Geena ingin istirahat sejenak setelah menghafal seratus mantra dari Mr. Russell dan berhasil mendapat nilai A. Untungnya, Jaemin bisa diajak bekerja sama walaupun tidak luput dari unsur keterpaksaan.

Kalau boleh jujur, Jaemin tidak tahan lagi, kepalanya akan segera meledak jika dipaksakan berdiam di kelas ini. Ia segera meraba laci meja dan menarik sesuatu dari sana. Benda sepanjang dua jengkal berwarna hitam pekat tengah diudarakannya saat Profesor Winwin membelakangi murid–tongkat sihir, memang tidak salah lagi. Bukan Jaemin namanya jika tidak membuat kecerobohan dalam aksi sihirnya, kali ini pun sama. Suaranya yang mendadak tersedak itu membuat Profesor Winwin menoleh, tepat saat lengannya lurus ke atas sambil memegang sebatang tongkat sihir.

Sepasang mata mengintimidasi itu telah memandang Jaemin yang berniat mengucap mantra dan Park Geena yang tertidur di sampingnya. Beliau bergantian memandang keduanya, menarik napas panjang, kemudian berteriak penuh tenaga. Ah, sayang seribu sayang, Jaemin lebih dulu melontarkan mantra mematikan pada gurunya.

Murid sekelas ternganga, tidak tahu harus bertepuk tangan atau justru berlari keluar sebelum kiamat terjadi. Mereka memilih diam, setidaknya sampai mantra Jaemin dijinakkan oleh dia sendiri. Satu persatu dari mereka mundur ke belakang, menghindari amukan profesor yang kian memuncak. Mulutnya terkatup, seakan bibirnya dijahit rapat. Ternyata memang benar, Jaemin itu penyihir yang andal dan saat mencari target dalam keadaan genting ia tidak peduli perihal umur. Entah kelewat berani atau memang tabiatnya yang jail, Jaemin memang seperti itu sejak sekolah di Royal Academy– seperti itulah sepengenalan Geena terhadapnya.

Royal Academy adalah sekolah asrama khusus dengan pelajaran utamanya adalah tentang sihir. Gedungnya hanya terlihat ketika malam hari, letaknya di atas awan, itu pun berupa tiga titik kecil yang berwarna putih di langit. Wilayah mereka disebut Storyland. Para murid tidak mendaftar di Royal Academy berdasarkan hati nurani, tetapi mereka ‘direkrut’ dan ‘dipaksa’ untuk sekolah di sana.

Setahun yang lalu, Geena menjadi salah satu manusia yang terpilih untuk merasakan penderitaan di Royal Academy. Satu-satunya akses menuju sekolah itu adalah dengan portal yang tidak pernah menyentuh logikanya. Sepekan pertama, banyak sekali kejadian aneh yang tidak dapat diterima akal, seperti gedung yang bergerak-gerak mengikuti arah angin setiap harinya, barang-barang yang berpindah tanpa ada yang menggerakkannya, dan guru-guru yang penuh kejutan.

Namanya Profesor Casper, berkacamata bulat dengan warna yang mencolok. Beberapa murid agak tegang ketika beliau mengajar. Karena spidol dan kacamatanya yang terbang, serta detak jantung yang diragukan semua penghuni asrama membuatnya mengerikan. Beliau adalah satu-satunya guru tak kasatmata di Royal Academy dan hanya ada satu cara untuk mengetahui keberadaannya: kacamata merah muda yang melayang di udara.

Kembali lagi ke Jaemin. Ia berhasil menyudahi mantra ketika mereka sudah sampai di hall olahraga indoor.

“Kenapa kau menarikku ke sini, hah?! Kau tahu, kan, aku sedang bahagia dan ingin tidur untuk merayakannya? Sekarang kau menghancurkannya!” ucap Geena terduduk dan mendongak seraya memandang wajah datar Jaemin. “Harusnya kau berterima kasih karena aku sudah menyelamatkanmu dari amukan Profesor Winwin! Dia tahu kalau aku menyihirnya tadi.”

Well, aku tidak suka berterima kasih, lebih baik kau tidak menyelamatkanku kalau begitu!” balas Geena tak kalah pedas. Namun, ia segera menepuk jidatnya kuat-kuat hingga hampir saja terlentang ke belakang. “Aku menarik kata-kataku,” katanya cepat-cepat berdiri dan pergi mendahului Jaemin. Setelah sadar beberapa sekon, Jaemin ikut berlari mengejar Geena. Profesor Casper baru saja mendengar pembicaraan mereka. Jaemin tahu itu, karena ia bisa membaca pikiran beliau: Profesor Casper akan menghukum keduanya untuk menghafal kamus mantra. Sedangkan Geena telah membaca masa depannya: terkepung guru-guru killer dengan sebuah tongkat sihir di tangan mereka masing-masing.

Tidak ada yang meleset dari perkiraannya.

Profesor Winwin berdiri tegak di hadapan Jaemin dan Geena, Profesor Casper di belakangnya, Miss Dillenia di sisi kiri, dan Miss Kate di sisi kanan. Bagi Na Jaemin, ini semacam eksekusi mati tanpa penutup mata. Pasti para guru telah mengetahui kepergiannya ke Wonderland, menggunakan sihir saat memasuki asrama putri, dan menyihir Profesor Winwin saat pelajaran berlangsung.

Sekarang, ia hanya menunggu mati.

“Ini kesalahanmu, Jaemin,” Geena berucap pasrah.

Tanpa basa-basi, Jaemin kembali menyihir keempat gurunya. Persetan dengan itu, keselamatan adalah yang utama. Ia menarik Geena untuk menuju portal Wonderland dan menghela napas lega. Sedangkan Geena kembali dibuat menganga, bingung terkait isi otak Jaemin yang kian lama semakin tidak keruan.

“INI NAMANYA CARI MATI!!!”

Fin.

Kangen Nana :’) Kangen Nana:’) Kangeeen :’)

Udah ah

Dah

Makasih udah baca^^

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s