[Ficlet-Mix] Brothership?

Brothership?

Debut OC Fict by. Cho Hana

Lee Taeyong with [OC] Lee Taehwan

Feat [RV] Park Sooyoung, [BP] Kim Jisoo and [SVT] Yoon Junghan

Just mentioned [SM Kids Model] Kim Haeun

Family || Slice of Life || Brothership

General || Ficlet-mix (3 Ficlets)

I just have a storyline :))

.

Sejak kapan Taehwan punya kemampuan semacam itu?

.

[1]

Masih segar di ingatan Taehwan—bocah yang bulan depan genap berusia sepuluh tahun—tentang bagaimana murkanya sang kakak—Lee Taeyong—saat tahu jika Mommy seenaknya melimpahkan tugas sang supir pribadi yang sedang cuti pada dirinya. Tugasnya memang tidak berat. Hanya mengantarkan sang adik ke sekolah selama satu minggu, namun jelas Taeyong protes karena itu artinya ia harus ikut-ikutan bangun pagi.

Sekadar informasi, Taeyong itu mahasiswa semester enam yang mengambil jurusan Arsitektur. Setiap semester Taeyong selalu direpotkan dengan segudang tugas besar yang membuatnya nyaris gila. Sekarang Taeyong sedang menikmati masa minggu tenang dan tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir semester. Taeyong jelas harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, jadi wajar saja  jika pemuda berparas tampan itu protes saat masa hibernasinya harus terganggu karena tugas konyol dari sang ibu.

“Besok-besok naik taksi saja. Cih, merepotkan sekali.”

Dengan wajah masam dan rambut acak-acakan, Taeyong memutar setir mobilnya dengan cepat, mengeluarkan mobil sport kesayangannya dari bagasi lalu segera melaju menuju sekolah Taehwan. Sepanjang perjalanan ia terus mengomel, tak peduli dengan Taehwan yang hampir saja pingsan karena bau napas Taeyong yang belum sikat gigi. Yeah, saking malasnya Taeyong bahkan langsung pergi tanpa cuci muka atau gosok gigi. Namun, pemandangan berbeda justru tampak hari ini. Taehwan hampir saja merosot dari kursi penumpang saat Taeyong masuk ke dalam mobil. Penampilannya jelas berbeda dari semalam. Ia tampak tampan dengan setelan pakaian terbaiknya, wajahnya cerah, rambutnya mengkilap—dan oh jangan lupakan juga tentang aroma parfum yang menguar saat Taeyong masuk ke mobil.

“Kak Taeyong sehat?” Taehwan bertanya—sekedar memastikan jika sang kakak tak salah minum obat pagi ini.

“Kenapa memangnya? Bukankah hari ini kakak sangat tampan?” Taeyong mengusap-usap rambut mengkilapnya dengan penuh rasa bangga, sementara Taehwan hanya tersenyum tipis.

Iyain aja biar cepet.

Perjalanan dari kediaman keluarga Lee menuju sekolah Taehwan memakan waktu hampir setengah jam. Untungnya pagi itu jalanan kota Seoul cukup lengang sehingga Taehwan bisa tiba di sekolahnya lebih cepat.

“Taehwan masuk dulu ya, Kak,” Taehwan langsung melepas sabuk pengamannya lalu meraih pintu mobil milik Taeyong.

“Taehwan, Kakak antar sampai kelas, ya.”

Sontak ucapan Taeyong itu langsung membuat Taehwan membeku. Bocah itu langsung mengurungkan niatnya keluar dari mobil dan menatap wajah sang kakak sejenak. Jangan salahkan Taehwan yang bersikap terlalu berlebihan. Salahkan saja tingkah Taeyong yang terlalu mencurigakan di mata sang adik.

“Kenapa kau tidak turun? Ayo, cepat! Nanti kau terlambat.”

Taehwan terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tak sadar jika sang kakak sudah berada di luar mobil. Taehwan pun berusaha mengesampingkan rasa curiganya lalu segera turun. Taeyong benar-benar mendampingi sang adik hingga sampai ke depan pintu kelasnya.

“Eh, Lee Taehwan, selamat pagi.”

Di tengah perjalanan, tak sengaja mereka berpapasan dengan seorang wanita yang sangat cantik. Wanita itu tersenyum lalu langsung menyapa Taehwan saat mereka sampai di depan kelas.

“Selamat pagi, Bu Guru,” Taehwan membalas sapaan wanita itu dengan ramah.

“Taehwan hari ini diantar siapa? Papahnya, ya?”

Tawa Taehwan hampir saja meledak saat mendengar pertanyaan dari wali kelasnya itu. Ia hanya tengah berpikir: apakah wajah Taeyong setua itu hingga ia dikira sebagai seorang ayah?

“Ah bukan. Ini kakak Taehwan. Namanya Kak Taeyong,” Taehwan mulai memperkenalkan sosok Taeyong pada sang wali kelas.

“Ah, kakaknya Taehwan rupanya. Perkenalkan saya Park Sooyoung, wali kelas Taehwan,” Wanita Park itu mengulurkan tangannya pada Taeyong. Butuh waktu beberapa detik bagi Taeyong untuk menetralkan degup jantungnya sebelum akhirnya tangannya ikut terulur menyambut tangan wanita itu.

“Lee—Lee Taeyong,” Sahut Taeyong sedikit tergagap.

“Senang bertemu dengan anda.”

Senyuman yang terus merekah itu tak henti-hentinya membuat Taeyong terkesima. Bahkan Taeyong sampai lupa jika tangan wanita itu masih belum ia lepas sejak tadi. Taehwan langsung menyenggol lengan kakaknya—memberi isyarat agar Taeyong segera melepas genggaman tangan Sooyoung.

“Maafkan saya,” Taeyong menundukkan kepalanya—malu atas sikapnya sendiri.

“Ah tidak apa-apa,” Sooyoung masih terus tersenyum lalu kembali beralih menatap Taehwan. “Taehwan, jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Sebaiknya kau lekas masuk. Ibu tunggu di dalam, ya.”

“Baik, Bu,” Sahut Taehwan sebelum akhirnya sosok sang guru menghilang di balik pintu.

Pandangan Taeyong masih belum bisa lepas dari sosok guru muda itu. Sooyoung memiliki wajah yang cantik, senyum yang manis, juga tatapan mata yang membuat hatinya teduh. Benar-benar tipe wanita idaman seorang Lee Taeyong. Taeyong masih sibuk dengan fantasinya sendiri saat tiba-tiba Taehwan membisikkan sesuatu padanya.

“Kak Taeyong, Bu Sooyoung itu sudah punya suami loh.”

Seketika bunga yang bermekaran di hati Taeyong langsung kuncup kembali. Senyum Taeyong langsung sirna bahkan sorot matanya jadi redup.

“Bahkan dia sudah memiliki dua anak, jadi lebih baik Kak Taeyong tak usah bermimpi untuk bisa mendapatkan hati Ibu Sooyoung.”

Taehwan sama sekali tak bisa menahan tawanya. Bukannya prihatin, ia justru merasa geli saat melihat Taeyong patah hati. Sekarang jelas ia tahu apa penyebab kakaknya jadi mendadak rajin mengantarnya ke sekolah. Benar kata orang cinta bisa mengubah siapapun.

“Kalau begitu, mulai besok kau berangkat naik taksi saja.”

Taeyong buru-buru melangkahkan kakinya menuju parkiran. Meninggalkan Taehwan yang sibuk melayangkan protes padanya. Yang patah hati Taeyong, kenapa Taehwan jadi ikut-ikutan kena getahnya?

[2]

Tak ada yang pernah tahu, sejak kapan seorang Lee Taehwan membenci cokelat, permen serta makanan manis lainnya yang dibawakan Jisoo—kekasih sang kakak. Padahal selama ini semua orang tahu jika dirinya adalah maniak makanan manis.

“Taehwan, Kak Jisoo baru pulang dari Thailand. Kak Jisoo bawa banyak permen untukmu.”

Dengan senyum yang merekah, Jisoo menghampiri Taehwan yang tengah asyik duduk sendirian di ruang tamu. Di tangannya sudah bertengger sekeranjang penuh permen warna-warni berbagai rasa yang bercampur dengan cokelat, juga sebungkus gulali warna biru muda yang amat menggoda. Berbeda dengan rona wajah Jisoo, Taehwan—bocah yang digadang-gadang akan jadi adik ipar Jisoo di masa depan itu justru menekuk wajahnya. Ia bahkan memalingkan wajahnya dari Jisoo.

“Taehwan gamau cokelat. Memangnya Taehwan anak kecil apa, huh.”

Dengan langkah tegas, Taehwan segera bangkit berdiri lalu beranjak meninggalkan Jisoo sendirian. Jisoo hanya menatap bocah sepuluh tahun itu dengan tatapan heran. Tak bisa dipungkiri jika kepalanya kini dipenuhi oleh ribuan tanda tanya tentang sikap Taehwan barusan. Biasanya Taehwan selalu bersikap manis padanya. Bahkan sebelumnya setiap kali Jisoo main ke rumah, bocah itu pasti akan selalu menempel pada gadis cantik itu.

“Jisoo, kau sudah datang?”  Taeyong yang baru saja selesai mandi langsung menghampiri Jisoo. Tangannya sibuk mengusap-usap handuk ke rambutnya yang masih basah.

“Ya aku sudah datang,” Jisoo kembali menyunggingkan seulas senyum. “Aku membawa banyak permen dan cokelat untuk Taehwan, tapi sikapnya sangat aneh.”

“Aneh? Aneh bagaimana?” Taeyong mengempaskan tubuhnya dengan santai di sebelah kekasihnya.

“Saat aku datang dan menyodorkan cokelat, dia malah terlihat kesal lalu pergi. Sebenarnya apa yang terjadi padanya?”

Taeyong terdiam sejenak, “Entahlah. Seingatku, tadi ia baik-baik saja.”

Hening melingkupi mereka. Jisoo terdiam. Pikiran-pikiran negatif mulai menghinggapi benaknya. Apa mungkin Taehwan marah padanya? Apa mungkin Jisoo tanpa sengaja menyinggung perasaan bocah itu? Jika semua jawaban dari pertanyaannya benar, maka bukan tidak mungkin hal ini akan berdampak juga pada hubungannya dengan sang kekasih.

“Taeyong, jangan-jangan Taehwan marah padaku,“ gumam Jisoo dengan suara pelan.

“Tidak mungkin. Kalian sudah lama tidak bertemu. Tidak mungkin dia marah padamu.”

“Tapi, bagaimana jika aku menyinggung perasaannya tanpa sengaja? Buktinya tadi dia langsung pergi saat aku datang,” Jisoo mulai terlihat panik, bahkan suaranya terdengar sedikit serak.

“Jisoo,” Taeyong melemparkan tatapan yang begitu hangat pada Jisoo—seolah menyiratkan jika gadis itu tak perlu khawatir akan apapun. “Kau tenang saja. Aku akan mencoba bicara pada Taehwan. Tak ada yang perlu kau khawatirkan.”

Malamnya Taehwan tak banyak bicara. Ia bahkan langsung melengos menuju kamarnya saat makan malamnya telah habis. Taeyong mengendap-endap masuk ke kamarnya. Saat itu ia menemukan adiknya sudah terlelap.

“Dasar bocah. Lampu saja lupa dimatikan.”

Taeyong baru saja akan bergerak untuk memadamkan lampu kamar Taehwan, namun tangannya terhenti begitu saja kala maniknya menangkap secarik kertas yang tergeletak di lantai. Taeyong berjongkok lalu memungut kertas itu. Maniknya melebar saat ia menangkap objek yang ada di atas kertas tersebut. Sebuah foto seorang gadis dengan senyum yang menawan.

“Kim Haeun? Bukankah ini Kim Haeun?”

Taeyong langsung memalingkan kepalanya, menatap wajah tenang sang adik yang tengah terlelap.  Ia menghela napas panjang lalu beringsut duduk di tepi ranjang adiknya. Tangannya bergerak lembut mengelus lembut surai kecoklatan adiknya.

“Adik kakak sudah besar rupanya. Masih sepuluh tahun, tapi sudah berani menyukai seorang gadis. Hwan-ah, kau boleh menyukai siapapun. Kak Taeyong takkan melarangmu, tapi untuk yang satu ini jangan ya,” Taeyong tersenyum tipis lalu berbisik pelan di telinga sang adik. “Mana boleh kau menyukai calon adik iparmu sendiri. Dasar bocah nakal!”  

[3]

Sebenarnya ini bukan cerita baru. Cerita ini adalah kejadian nyata yang dialami sendiri oleh Taeyong sekitar tiga tahun yang lalu. Saat itu Taeyong baru saja memasuki babak baru dalam masa studinya. Setelah lulus dari SMA, akhirnya Taeyong memutuskan untuk meneruskan pendidikannya di salah satu universitas ternama di kota Seoul. Ia mengambil jurusan teknik Arsitektur.

Taeyong—yang notabennya adalah mahasiswa baru mulai menikmati masa-masa awal kuliahnya dengan tenang. Lambat laun ia mulai berusaha beradaptasi dengan sistem perkuliahan, tugas-tugas yang diberikan, juga dengan sesama mahasiswa baru. Taeyong terbilang orang yang supel. Tak heran jika ia mampu memiliki banyak teman dalam waktu singkat. Banyak orang yang senang berteman dengan Taeyong, namun dari sekian banyak temannya, ada salah satu yang paling dekat dengannya. Namanya Yoon Junghan, pemuda asal Busan yang sejak masa orientasi menjadi teman sekelompok Taeyong. Sifat Junghan yang ramah dan sopan membuatnya cocok berteman dengan Taeyong. Hampir setiap hari Junghan selalu mengerjakan tugas di rumah Taeyong. Tak heran jika keluarga Taeyong juga mengenal Junghan dengan baik.

“Kakak itu cantik ya,” Ucap Taehwan saat pertama kali melihat Junghan menyambangi rumah mereka.

Hush, kak Junghan itu bukan perempuan, Taehwan!” Taeyong segera menegur Taehwan. Bukannya apa, ia hanya takut pemuda berambut gondrong itu akan tersinggung dengan ucapan sang adik.

Suatu hari, seperti biasa, Taeyong dan Junghan kembali menerima tugas baru dari dosen mereka. Junghan pun langsung memboyong semua buku serta alat tulisnya ke rumah Taeyong. Biasanya jika sudah mengerjakan tugas, Junghan bisa sampai menginap selama beberapa hari di rumah Taeyong.

“Tae, sepertinya aku tak enak badan,” Junghan yang tadinya sedang sibuk menggambar di atas milimeter blok tiba-tiba menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia nampak memijat-mijat lehernya sendiri.

“Kau kenapa?” Taeyong langsung panik. Ia langsung beranjak dari meja belajarnya dan menghampiri Junghan. “Kau baik-baik saja?”

“Entahlah. Rasanya leherku pegal sekali. Tubuhku juga mendadak jadi dingin,” sahut Junghan sambil sedikit meringis.

“Kalau begitu, kau pulang saja. Besok kita lanjutkan lagi tugasnya. Kesehatanmu adalah yang terpenting.” Junghan mengangguk dengan cepat lalu segera membereskan tasnya, “Kalau begitu aku akan istirahat di rumah saja.”

“Kenapa tidak di sini saja? Ibuku bisa membuatkanmu ramuan herbal.”

“Tidak usah. Aku ingin pulang saja. Tidak enak jika aku terus berada di sini. Lagi pula aku harus menengok apartemenku juga.”

“Baiklah. Kau boleh pulang, tapi kau harus minum obat herbal dulu. Aku akan meminta ibuku untuk membuatkannya.”

Taeyong segera beranjak keluar kamar. Ia meminta sang ibu membuatkan obat herbal yang biasa mereka minum jika sedang sakit. Setelah menghabiskan segelas obat herbal yang dibuat ibu Taeyong, Junghan langsung pamit untuk pulang. Taeyong mengantarkan Junghan hingga sampai depan pagar—memastikan jika temannya itu benar-benar pergi dengan taksi yang ia pesan. Taeyong kembali masuk ke dalam rumahnya setelah taksi yang ditumpangi Junghan menghilang di ujung jalan.

“Kak Taeyong, kakak itu benar-benar cantik ya,” tiba-tiba Taehwan mencegat jalan Taeyong yang ingin masuk ke kamar.

Taeyong menghela napas panjang. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar adiknya berceloteh demikian. Ia paham jika ucapan sang adik hanya sekedar ungkapan hati seorang bocah kecil yang masih polos, namun Taeyong sudah cukup jengah mendengarnya secara berulang-ulang.

“Taehwan, dengar ya, Kak Taeyong ‘kan sudah pernah bilang, Kak Junghan itu laki-laki bukan perempuan. Berhenti menyebutnya cantik. Nanti dia bisa tersinggung.”

Taeyong langsung menggeser tubuh Taehwan dari depan pintu kamarnya. Ia segera masuk dan mengempaskan tubuhnya di atas kasur ukuran king size miliknya.

“Tapi Taehwan serius, Kak. Kakak itu benar-benar cantik.”

Ternyata Taehwan tak mau menyerah. Ia bahkan sampai ikut mengempaskan tubuhnya di sebelah Taeyong.

“Wajahnya putih seperti susu, matanya hitam, rambutnya panjang dan— bla bla bla.“

Taeyong membiarkan sang adik meracau sendirian. Tubuhnya terasa sangat letih bahkan untuk sekedar meladeni ucapan polos sang adik.

“—Pokoknya kakak itu sangat cantik. Taehwan paling suka dengan rambutnya. Selain panjang, rambutnya juga berwarna merah. Taehwan ‘kan paling suka warna merah.”

“Merah?” Taeyong memalingkan wajahnya, menatap wajah polos Taehwan yang tengah berbaring di sebelahnya. “Sejak kapan rambut kak Junghan warna merah? Apa kau buta warna, Hwan-ah?”

“Tidak kok. Taehwan tidak buta warna,” Taehwan bersikeras dengan argumennya. “Rambutnya benar-benar warna merah, tapi bukan rambutnya kak Junghan.”

“Lalu?”

“Rambut merah itu milik kakak perempuan yang selalu digendong oleh kak Junghan.”

Damn! Tidak butuh waktu lama bagi Taeyong untuk mencerna kata-kata adiknya. Bulu kuduk Taeyong mendadak berdiri. Sial! Sejak kapan Taehwan punya kemampuan semacam itu? Taeyong buru-buru meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas lalu mengirim pesan pada Junghan.

To: Junghan

Junghan, sebaiknya kau cepat panggil biksu, pendeta, dukun atau apapun itu. Ada hantu perempuan yang menempel padamu.

Gelaaaa niat bgt ga sih daku sampe bikin ficlet-mix buat debutin OC HAHAHAHA /ketawa laknat

Percaya gak percaya, awalnya bener-bener gada niatan pengen ikut debutin OC karena ya gitu deh, aku ga pinter bikin OC, tapi gatau kenapa tiba-tiba kepikiran pengen debutin OC juga. Bukan pairing tapi siblings. Terus nengok-nengok OC yang lain dan baru sadar: OC saya cowok sendirian saudara-saudara HAHAHAHA /ketawa laknat part 2

Singkat kata, cuma pengen bilang: Selamat menetas untuk dd Taehwan yang unyu. Moga bisa cepet akur sama Taeyong. Moga cepet move on dari Haeun juga. Taehwan, inget loh Haeun adeknya pacar kk Taeyong :’)

Np: Yg penasaran sama mukanya Taehwan, visualnya itu David Jenssen. Model ciliknya SM. Sengaja make visual dia soalnya cetakan mukanya sama kayak Taeyong 😉

Advertisements

4 thoughts on “[Ficlet-Mix] Brothership?

  1. TOLONG YA ITU….. ITU…….. SI TAEHWAN UNYU SEKALIGUS SEREM (?) /ditimpuk/

    ITU JUNGHAN…. GENDONG SIAPA????????? And I see Joy here ❤ ❤ Aku ngefans banget sama Sooyoung /gak nanya/ lalu pulang

    Liked by 1 person

    • Jangan ketipu ya. Taehwan emg unyu tp kadang bisa serem juga hweheheheh😄

      Yg di gendong junghan itu… Siapa hayo siapa? No comment ah ntar jd serem sndiri😂😂

      Mkah ya jiyo udh nyempetin mampir❤

      Liked by 1 person

  2. Wah
    Taehwan 7th sense
    *open your eyes*

    Jgn bilang yg di gendong junghan itu nenek gayung ?!
    Hahhahahahahaha … CD

    Good job chohana
    Aku ngajak terus … XD

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s