[Vignette] Hansol and His Triplets

by ayshry

[NCT’s] Ji Hansol – [OC’s] Ji Yoonji, Ji Haeun, Ji Minseol, Yoon Jooeun

AU!, Family, Fluff/Vignette/G

***

Derap langkah terburu-buru diambil Hansol dengan rasa panik yang mendera. Kurang dari satu menit yang lalu, pemuda itu baru saja memutuskan sambungan telepon dari Jooeun yang memberitahukan bahwa gadis yang sudah empat tahun menjadi pendamping hidupnya itu harus pulang ke rumah orang tua dikarenakan sang ibu mendadak sakit. Sebenarnya, panik yang dirasakan Hansol bukan karena sang istri akan pergi ke luar kota, melainkan ada tugas lain yang diserahkan kepada pemuda Ji tersebut, yaitu menjemput ketiga putri kembar mereka di tempat penitipan.

Jika dihitung-hitung jarak antara perusahaan dimana Hansol bekerja dengan tempat penitipan terbilang cukup jauh. Jadi, jika tak dari sekarang ia bergerak, maka bisa dipastikan ketiga anak kembarnya akan menangis histeris lantaran terlambat dijemput.

Tak butuh waktu lama bagi Hansol untuk tiba di parkiran dan melompat ke kursi pengemudi mobilnya. Tanpa banyak menunggu, lekas saja ia menghidupkan mesin dan memijak pedal gas kelewat kuat. Well, meski Hansol telah mencoba untuk tetap tenang, namun pada kenyataannya ayah tiga anak itu tak bisa mengontrol diri dan melakukan segala hal seperti tengah dikejar-kejar. Ya, semoga saja Hansol tiba di tempat ketiga putrinya tepat waktu pun dengan nyawa yang masih berada di tubuhnya.

***

“Dad, di mana Mom?” Adalah pertanyaan pertama yang terlontar dari si sulung Yoon ketika melihat wajah Hansol yang tiba-tiba muncul dari sebalik pintu. Ketiga putri kecilnya telah mengenakan mantel pun ransel yang tersandang di punggung dengan rapi, siap-siap untuk pulang ke rumah lantaran keadaan sekitar pun mulai terlihat sepi.

“O, Yoon-a, Mom pergi ke tempat Nenek, jadi Dad yang menjemput kalian. Ayo kita pulang.” Meraih jemari kecil milik Yoon dan Eun yang berada paling dekat, Hansol pun baru tersadar jika ada satu tangan lagi yang belum diraihnya. Si bungsu menatapnya lekat-lekat sembari menyodorkan tangan agar segera mendapat sambutan, namun Hansol yang kebingungan terdiam beberapa saat sampai si tengah menarik tangan adiknya dan menggandengnya bersamaan dengan gandengan tangan sang ayah.

“Bisanya Mom menggandeng kami seperti ini,” ujar Eun girang, disusul tawa Seol sebagai ungkapan bahwa ia pun merasa senang.

Hansol yang sempat kebingungan kini dapat menghela napas lega. “Baiklah, sebelum pulang kalian mau ke mana dulu, hm? Kedai es krim?”

Jerit riang tak dapat dicegah. Agaknya ajakan Hansol kali ini sungguh di luar kebiasaan. Jika biasanya Jooeun akan menjemput anak-anak dan langsung membawanya pulang, namun Hansol terpikir untuk menghabiskan sedikit waktu bersama sang buah hati yang sangat sulit ia dapatkan. Toh, hari ini Jooeun tidak pulang ke rumah, berarti hanya ada dia, Yoonji, Haeun dan Minseol yang menguasai istana mereka. Dan artinya … untuk hari ini saja, segala aturan yang telah ditetapkan oleh sang istri akan dilanggarnya demi mendapatkan kenangan berharga. “Lupakan soal Mom, kita akan bersenang-senang hari ini, Yoon-a, Eun-a, Seol-a!

***

“Eun mau yang rasa stroberi.”

“Kalau Seol yang cokelat, Dad.”

“Yoon yang vanila!”

Ketiga putri kecilnya memekik girang ketika tiba di depan gerai es krim, lekas saja Hansol yang ketularan rasa senang pun menyebutkan pesanan dan tak memelurkan waktu lama untuk empat cone es krim berpindah tangan.

Sembari menikmati santapan lembut nan dingin tersebut, Hansol membawa putri-putrinya ke salah satu bangku yang berada di taman. Kebetulan sekali gerai es krim yang mereka singgahi bersebelahan dengan sebuah taman kota. Jadi, selagi menunggu bocah-bocahnya menyelesaikan santapan, ia bisa bersantai mumpung langit belum sepenuhnya gelap.

“Jadi, Dad, hari ini tidak ada Mom di rumah?” Pertanyaan yang terlontar dari si bungsu Seol menarik atensi Hansol yang kala itu tengah sibuk berkutat dengan ponselnya.

“Oh, iya, Seol-a. Mom harus menemani Nenek dan malam ini hanya ada kita berempat di rumah.”

“Berarti … kita bisa bersenang-senang dong!” Seruan kali ini bersumber dari si sulung Yoon. “Dad, aku akan tidur terlambat malam ini!”

Hansol tertawa lantas menatap putri kecilnya dengan hangat. “Apa yang ingin Yoon lakukan sehingga harus tidur larut malam, hm?”

“Banyak sekali! Mom selalu menyuruh kami tidur tepat waktu dan, asal Dad tahu, aku dan yang lain sering berpura-pura tertidur, lalu ketika Mom meninggalkan kamar kami langsung beranjak dari kasur dan melakukan beberapa hal yang menyenangkan!”

“Di tengah kegelapan?”

Yoon mengangguk.

“Tapi Seol benci gelap.”

“Oleh karena itu, terkadang Seol tetap melanjutkan tidur sedangkan aku dan Kak Yoon melakukan sesuatu.”

Rasa penasaran Hansol tiba-tiba membuncah. Dalam pikirannya kini, apa saja yang bisa dilakukan putri-putirnya di tengah kegelapan untuk bersenang-senang? Lantas, sekon berikutnya ia pun membuka suara, “Apa yang kalian lakukan, huh?”

“Menggambar,” Yoon menjawab.

“Atau mendengarkan musik,” disusul Seol kemudian.

“Oh-oh, sesekali kami juga menonton kartun dengan volume yang sangat kecil.” Eun yang tak mau kalah pun lekas bersuara.

“Dan bermain game,” lanjut Yoon.

Ada rasa kagum yang tak dapat ditutupi oleh Hansol. Pemuda itu kini tengah membayangkan bagaimana keseruan yang dilakukan ketiga anak kembarnya di tengah malam di dalam kegelapan. Wah, sepertinya terlalu banyak hal yang telah ia lewatkan. Ke mana saja ia selama ini? Apa ia terlalu sibuk hingga tak memiliki waktu untuk bersenang-senang bersama bocah-bocahnya? Well, sepertinya malam ini Hansol bertekad untuk menciptakan momen spesial antara ia dan ketiga gadis kecilnya.

Menyeka bibir ketiga anaknya yang belepotan krim secara bergantian, Hansol kini melirik ke arah cone es krim di tangan masing-masing gadis ciliknya yang sudah tandas. Sekon berikutnya, Hansol berdiri, meraih ketiga tangan putrinya lantas berujar, “Ayo kita pulang. Malam ini … Dad akan bermain bersama kalian!”

“Sungguh?” Mata berbinar Seol membuat Hansol merasa tubuhnya meleleh seketika. Gadis ciliknya begitu menggemaskan. Oh, rasanya terlalu banyak hal yang pemuda itu lewatkan. “Dad akan membiarkan kami tidur terlambat dan ikut bermain bersama?”

“Tentu saja!”

“Woah! Dad memang yang terbaik!” Pekik serempak ketiga bidadari kecil itu membuat tawa Hansol menguar. Ternyata, sumber kebahagiaan tak perlu dicari susah payah, toh selama ini ada di dalam keluarga kecilnya yang sedikit terabaikan lantaran sibuknya pekerjaan.

“Jadi … ayo kita pulang!”

***

“Dad, di mana pensil warna pink-ku?”

“Dad,  kurasa Candy mau tambahan teh!”

“Dad, kau harus segera ke dapur, aku menumpahkan susu, hehe.”

Bayangan keseruan dan keasyikan seketika buyar dari kepala Hansol ketika mendapati betapa merepotkannya bermain bersama ketiga putrinya sekaligus. Well, ia tak pernah membayangkan jika merawat tiga bocah aktif itu akan menguras tenaga sebanyak ini. Jika ia tahu, mungkin Hansol akan memilih untuk menidurkan buah hatinya ketika tiba di rumah tadi.

Oke, jadi … inikah alasan Jooeun selalu mendisiplinkan ketiga anak mereka? Oh, Hansol ternyata sudah berprasangka buruk kepada istrinya. Setelah ini, Hansol akan memperlakukan Jooeun lebih baik dari sebelumnya.

“Dad! Kenapa kau diam saja? Candy sudah menunggu cangkir tehnya diisi lagi!” Teriakan dari si bungsu memaksa Hansol kembali ke dunia nyata. Pemuda itu mendesah lantas memasang senyuman dan menuangkan teko ke cangkir kosong milik Candy—boneka barbie berambut panjang yang dijalin asal-asalan oleh si anak.

Diam-diam melirik jam dinding yang menggantung, Hansol tak sadar jika waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, dan ketiga bocahnya belum juga menunjukkan rasa lelah dan kantuk. Wah, jika seperti ini terus, bisa-bisa Hansol yang terlanjur lelah berakhir dengan tak sadarkan diri.

“Yoon-a, Eun-a, Seol-a, kurasa kita sudah bermain terlalu lama, jadi waktunya tidur! Mom akan memarahi Dad jika besok pagi kalian susah untuk dibangunkan.”

Seol yang berada paling dekat dengan sang ayah lekas menggelengkan kepala tanda penolakan. “Dad bilang, kita bisa bermain sepuanya malam ini!” serunya.

“Iya, benar, tapi … ini sudah terlalu malam dan sejujurnya, Dad lelah dan perlu istirahat, Seol-a.”

“Dad bisa pergi tidur, kami akan menyusul beberapa saat lagi,” ujar Yoon dengan kalem. Kedua matanya bahkan tak beranjak dari lembaran kertas yang sudah penuh dengan warna-warni berantakan.

“Dad tidak perlu khawatir. Kami akan baik-baik saja bermain tanpa Dad!” sambung Eun yang masih sibuk mengobrak-abrik kotak mainan.

“Tapi—“

“Ayolah, Dad. Kau sudah berjanji.”

Menatap manik besar si tengah, agaknya hati Hansol mencelos seketika. Well, tatapan ketiga anaknya benar-benar membuatnya lemah. Jika sudah seperti ini, apa yang bisa dilakukan seorang ayah muda sepertinya?

“Oke-oke, kalau begitu Dad akan tidur di sini sementara kalian bisa melanjutkan bermain. Dad hanya akan tidur sebentar, hm sekitar satu jam mungkin? Setelah itu Dad akan menidurkan kalian, setuju?”

 “OKE!”

Pekik serempak menyapa rungu Hansol, membuat lelaki itu tertawa lantas membaringkan tubuhnya ke atas lantai yang beralaskan karpet berbulu tebal. Sekon berikutnya, ketika Hansol hendak menutup kedua mata, tiba-tiba ketiga bocah itu menyerbunya tanpa aba-aba, membuatnya tergelak selagi mereka menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi di wajah.

“Selamat malam, Dad! Mimpi indah!”

“Selamat malam, hei, Dad hanya akan tidur sebentar lalu bangun kembali untuk menidurkan kalian. Jangan melakukan hal yang aneh-aneh selagi Dad tidur, mengerti?”

Ayey, Captain!”

***

“Aku pu—astaga ….”

Jooeun yang baru saja menjejakkan kaki di ruang keluarga lekas membekap mulut lantaran terkejut melihat keadaan rumah yang bak kapal pecah. Seluruh mainan anak-anaknya tersebar di mana-mana, ditambah lagi, empat onggok nyawa yang tertidur tanpa alas pun selimut di atas lantai yang sejuk.

Berjalan mendekati satu-satunya lelaki di sana, Jooeun lantas menepuk pundak Hansol yang kala itu tertidur dengan posisi menelungkup. Tidak membutuhkan waktu lama hingga si pemuda menggeliat lalu mengubah posisinya dibantu Jooeun yang sebenarnya hampir meledak kini.

“Oh, kau sudah pulang, Sayang?” Suara sengau Hansol menguar bersamaan dengan matanya yang perlahan terbuka. Jooeun syok. Sungguh. Melihat keadaan Hansol yang tak karuan pun wajahnya yang penuh dengan coretan, pada akhirnya Jooeun yang telah siap-siap menyemburkan amarah malah tertawa keras-keras melihat wajah suaminya yang kacau-balau.

“ASTAGA, JI HANSOL!” Jooeun tak lagi memedulikan eksistensi ketiga putrinya yang masih tertidur pulas. Baginya, pemandangan kali ini sungguh langka. Tak ada alasan untuk menahan diri. Lagi pula, jika bukan karena wajah Hansol yang penuh coretan, mungkin Jooeun akan mengusir pemuda itu ke luar sebagai hukuman.

“Kau kenapa?” Hansol yang setengah sadar kebingungan. Mengubah posisinya menjadi duduk, kakinya yang panjang tanpa sengaja menyenggol si bungsu dan membuatnya terbangun.

“Kau sudah pulang, Mom?” Seol mengusap mata lantas mendekati ibunya yang bersiap memberikan pelukan.

“Bagaimana malam tanpa Mom, huh?”

“Menyenangkan!” seru Seol.

“Dan … apa yang kalian lakukan kepada Dad, huh?”

Seol yang tadinya hanya terfokus pada sang ibu lekas mengalihkan tatap pada ayahnya. Layaknya Jooeun tadi, tawa si kecil pun tak menguar begitu saja, kali ini sangat keras dan membuat kedua saudaranya ikut terjaga.

“Mom!” Pekik kuat disusul tubrukan bertubi-tubi yang didapatkan Jooeun agaknya membuat mood ibu muda itu kembali membaik. “Kukira Mom akan pulang sore hari,” ucap Yoon sembari bergelayut manja di lengan Jooeun.

“Hei, tidak adakah yang mau memberikan Dad pelukan?”

“Tidak!” tegas ketiganya disusul tawa yang menyenangkan.

“Oh, iya, apa yang kalian lakukan pada Dad, huh?”

Yoon membekap mulutnya dengan imut lantas meloloskan kata ‘oops’ dengan menggemaskan. Lalu ia berkata, “Selamam, Dad bilang hanya akan tidur sebentar dan kembali bangun untuk menidurkan kami.”

“Tapi kemudian Dad tidur selamanya,” sambung Eun.

“Kami bahkan sudah mencoba membangunkan Dad. Kami kira Dad benar-benar lelah,” kali ini Yoon yang berujar.

“Lalu … Kak Yoon yang kesal mengajak kami melakukan ‘itu’.”

“Apa Dad akan memarahi kami, Mom?” Setengah berbisik, Eun yang berada paling jauh dengan Jooeun lekas mendekatkan diri dan mengawasi ayahnya dengan was-was.

“O-oh, tentu saja tidak!” Jooeun terkikik. “Justru Dad menyukainya. Iya, ‘kan?” Mengedipkan sebelah mata ke arah suaminya yang masih kebingungan, Jooeun seakan meminta persetujuan agar si pemuda mengiakan perkataannya.

“Oh, benar! Dad menyukainya.”

“Kau yakin, Dad?” tanya Eun takut-takut. “Kukira Dad akan memarahi kami.”

Hansol mengangguk lantas mengulurkan tangan agar si tengah Eun lekas mendekat. “Tidak ada alasan Dad untuk memarahi kalian.”

“Benarkah? Kalau begitu … kami boleh sering-sering melakukannya?” Yoon yang gembira kini melompat-lompat ketika Hansol menganggukkan kepala dengan semangat. “Wah, Dad memang yang terbaik!”

“Nah, karena sudah pagi dan kalian harus pergi ke tempat penitipan, ayo kita mandi!” Seruan yang berasal dari Jooeun disambut riang oleh anak-anaknya. Selagi ia sibuk membawa ketiga putrinya ke kamar mandi, Jooeun memberikan kode kepada Hansol yang masih kebingungan agar melihat pantulan wajahnya di cermin yang terdapat di wastafel . “Pagi ini mandi bersama Dad, ya? Sekalian bersihkan wajah Dad, oke?”

“OKE!”

Sementara itu, Hansol yang baru saja tiba di depan wastafel dan mematut wajah di cermin tiba-tiba bergeming. Sekon berikutnya, teriakan kuat memekakkan telinga memenuhi ruangan, sedangkan keempat wanita yang sudah berada di kamar mandi terkikik tak karuan. Well, sepertinya sudah jelas bukan dari mana sumber keisengan ketiga buah hati mereka itu? Yeah, Yoon-Eun-Seol benar-benar putri dari seorang Jooeun yang jahil pun Hansol yang naif.

“JOO, HARUSKAH AKU MELENYAPKAN KETIGA BOCAH ITU?! AKU ADA RAPAT PENTING SIANG INI DAN AKU TAK MUNGKIN KE KANTOR DENGAN WAJAH PENUH CORETAN BEGINI!”

-Fin.

Yeay. Ji triplets kambek dengan penuh kegajean dan kerecehan ehe ehe. Udah, gitu aja. Salam rindu buat mas hansol yang tak kunjung debut dan akhirnya memutuskan untuk berumah tangga saja~~

-mbaay.

Advertisements

3 thoughts on “[Vignette] Hansol and His Triplets

  1. Amanat: jangan pernah membiarkan bapak yg sering sibuk urusan kantor untuk tiba2 disuruh ngurusin rumah. Hasilnya, rumah akan kayak kapal pecah.

    Btw adek2ku…. Kasih tau dong cara menggambar dalam kegelapan gimana? Hahahaha

    Ficnya gemesin banget kaaaayyy… Aku suka interaksi hansol dengan anak2nya di sini hahahaha mana ini piyik2 ceriwis banget lg semuanya ngoceh dan ingin didenger dluan hahahaha terus membayangkan “wah ji hansol bisa jadi papi yg baik nih…” XD

    Btw itu emg sengaja kah kak tulisan Mom sm Dad nya tdk diitalic? Hehehehe im just asking because of curiousity..

    Nice fic kaay! Keep writing yaaaaa

    Like

  2. AH GEMESIN BANGET JADI INGET DAEMINGMAN YARABB:””’

    KAAAY AKU KUDU BERKATA APALAGI? SUDAH KEHABISAN KATAKATA INI HADUH, POLOSNYA MEREKA KAYAK SINTIA YANG TAK BERDOSA INI::”””

    LUCU KAK GEMES MAU NGANTONGIN TIGA TIGANYA TERUS DIBAWA PULANG

    UDAH AH SEKIAN, BABAY KAAY LOPU TU:-) 💜💓💜💓💜💓

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s