[NCTFFI Freelance] Kisah Silam yang Terbuang (Oneshot)

Kisah Silam yang Terbuang

by Rijiyo

Starring

Mark Lee [NCT’s]  / Amel [OC’s] / Dona [OC’s] / etc

Slice of Life, AU  | Oneshot | Teen

.

.

Mark hanya ingin tahu satu hal. Hanya satu.

.

.

28 Oktober 2017, Malang, Indonesia

Namaku Lee Min Hyung. Apakah nama itu terdengar asing untuk silabel Indonesia? Tentu saja, aku blesteran Korea-Kanada yang lahir sembilan belas tahun lalu di Jakarta. Ayahku asli Kanada, sedangkan ibuku warga Korea yang bekerja di Indonesia. Tapi sayangnya nama indah itu tidak berguna di rumah ini, karena sekarang aku lebih sering dipanggil Mark. Sebenarnya nama itu tidak terlalu buruk, toh, artinya juga sama. Aku seorang supir yang hampir dua minggu bekerja di sini, bergaji lumayan besar, dan punya majikan baik.

Kalian pasti bertanya kenapa di usiaku yang baru sembilan belas ini malah menjadi sopir daripada melanjutkan kuliah? Itu karena aku harus menyelesaikan misi—

“MARK!”

Nah, itu adalah suara Non Dona. Aku segera menghampirinya yang tengah memakai sepatu bertali banyak. Wajahnya tampak gusar. “Nggih, Non?”

“Lemot banget, sih! Aku ada les pagi, nih!” dumelnya. “Cepet panasin mobil, gih. Aku nggak mau telat.”

Nggih, Non.”

Aku segera berjalan ke garasi untuk memanaskan mobil. Jangan salah, sejak umur lima belas tahun aku sudah diajari mengendarai mobil oleh Ayah, yah… meskipun usia sekecil itu tentunya masih dilarang membawa mobil sendiri. Dan sebenarnya aku bekerja di sini untuk menggantikan Pak Ujang yang pulang kampung karena ada keperluan keluarga. Alhasil, aku sebagai tetangganya pun menawarkan diri menggantikan pria sepuh itu. Hitung-hitung sekalian cari pengalaman di Malang.

“Pagi, kak Mark!” sapa seseorang dengan ramah.

“Pagi, Non Amel,” balasku tak kalah ramah.

Non Amel adalah anak bungsu di keluarga ini setelah Non Dona. Dia masih kelas 2 SMP di Pakisaji. Sedangkan kakaknya baru naik kelas 2 SMK di Belimbing. Aku tidak tahu kenapa mereka memilih sekolah yang jauh dari rumah—dan berlawanan arah. Jadinya aku sering bingung mau mengantar siapa, tapi untunglah Non Dona selalu mengalah dan memperbolehkan adiknya berangkat dulu.

“Mana kak Dona?”

Tasik ndamel sepatu, Non.”

Non Amel bersandar di mobil. “Hari ini Kakak ada les pagi, makanya berangkat lebih awal. Biasanya kan dateng paling akhir, hehehe,” ujarnya.

Antara Non Amel dan Non Dona, aku lebih dekat dengan Non Amel. Berbeda dengan kakaknya yang tegas, mandiri, dan sedikit galak, Non Amel jauh lebih manis dan ramah. Non Amel bahkan sering menyapaku duluan meskipun hanya untuk mengucapkan selamat pagi. Meski begitu, mereka adalah dua saudari yang cantik nan cerdas. Terbukti Non Dona sering memborong beberapa piala dalam sehari atas kemenangan olimpiade (karena katanya Non Dona ingin menyaingi Albert Einsten). Sementara Non Amel yang pendiam lebih suka merawat tanaman di depan rumah atau berkutat dengan komputer untuk mengarang dongeng, bahkan katanya dia ingin menjadi novelis terkenal. Aku sering berdoa dalam hati semoga impian mereka tercapai.

“Ngebut ya, Mark. Bisa bahaya nih kalau telat sedetik,” kata Non Dona sambil masuk mobil.

“Hati-hati,” seru Non Amel sambil melambaikan tangannya hingga mobil mulai menjauh.

Aku sesekali memandang Non Dona dari spion. Dia sedang memainkan ponselnya (mungkin bertukar SMS dengan pacar). Berbeda dengan Non Amel yang suka menghabiskan waktu di rumah, Non Dona jauh lebih bebas dan suka bepergian. Temannya banyak dan dia sering menyibukkan diri dengan ikut berbagai organisasi di sekolah. Dia bilang zodiaknya Aquarius, makanya dia suka melihat air karena lambang zodiaknya manusia yang membawa air (sumpah, aku masih tidak paham bagian ini). Ketika tatapannya tertuju padaku, aku langsung fokus ke jalanan, pura-pura tidak terjadi apa-apa.

“Kenapa, Mark?” tanyanya.

“Nggak kenapa-napa, Non.”

Kemudian dia kembali melanjutkan melihat ponsel. Aku mengaku, dia memang gadis yang cantik—sangat cantik, malah. Orang tuanya pasti bangga punya anak berambut panjang yang diam-diam gemar makan sate ayam di warung dekat sekolahnya (Nyonya Wulan selalu melarang anaknya makan makanan di luar sebab kualitasnya tidak terjamin). Tapi anehnya aku selalu canggung bila berhadapan dengan Non Dona. Sungguh berbeda pada saat aku berhadapan dengan Non Amel. Apa karena dia sosok yang sangat tegas, makanya aku reflek menjadi mati kutu? Meski begitu hatiku tetap puas bisa bertemu dengannya.

Meskipun tak lebih dari sebulan.

.

.

.

Sesudah mengantar Non Dona, aku kembali ke rumah untuk gantian mengantar Non Amel dan Nyonya Wulan. Selama empat hari Non Amel masuk siang karena ada ujian kelulusan kelas 3, sehingga siswi kelas 1 dan 2 diharuskan masuk jam sembilan agar tidak mengganggu USBN. Sedangkan Nyonya Wulan mau ke salon karena nanti malam suaminya pulang. Aku benar-benar tidak sabar menunggu Pak Johnny, karena aku belum bertemu dengannya selama ini.

Tepat di persimpangan Kanjuruhan, Nyonya Wulan pun turun sesudah Amel mencium tangannya penuh kepatuhan. Langkahnya gemulai dengan sepatu hak tinggi hingga berbunyi tak tak tak.

“Nanti habis jemput Mel, kita ke rumah mbak Lely dulu, ya? Mel mau pinjem catatannya.”

“Lho, kenapa, Non? Mbak Lely kan kelas 3 SMA,” ucapku.

“Nah, justru itu. Mel mau belajar duluan, soalnya catatannya mbak Lely luwih lengkap, selain itu mbak Lely juga nggak keberatan ngajarin Amel. Kan lumayan, Kak.”

Aku hanya tersenyum. Non Amel memang sangat rajin. Meskipun suka berkutat dengan komputer, tapi belum tentu hobinya hanya membuat cerita. Bahkan Non Amel sering begadang hanya untuk mengerjakan tugas, atau malah mempelajari materi sekolah yang masih belum waktunya. Buktinya dia suka meminjam catatannya mbak Lely yang sekarang kelas 3 SMA sedangkan dia sendiri masih SMP. Dan kalau Non Amel paham pelajarannya anak SMA, berarti itu anugerah Tuhan.

Jika dilihat dari penampilan, Non Amel juga berbeda dengan Non Dona. Kalau kakaknya terkesan mencolok dan fashionable, Non Amel jauh lebih sederhana dan rapi. Seragamnya tidak pernah kusut dan rambut panjangnya selalu dikuncir. Apa mungkin karena dia masih SMP? Ah, kurasa tidak. Bagiku, sampai nanti pun Non Amel akan tetap berpenampilan polos. Apalagi kalau melihatnya memakai kerudung di salah satu foto yang tertempel di ruang tamu, Non Amel bilang foto itu diambil saat dia tengah merayakan ‘Hari Islam’ (entahlah aku lupa mereka menyebutnya apa, seingatku sih ada kata fitri-fitrinya). Sampai terkadang aku berpikir kalau cewek islam yang berjilbab itu cantik-cantik meskipun tidak berdandan sama sekali. Aku jadi membayangkan bagaimana jadinya kalau orang kristiani juga memakai kerudung? Atau… aku saja yang memutuskan masuk islam supaya—suatu hari, mudah-mudahan—bisa menikahi satu di antara jutaan cewek islami di dunia?

“Eh, ya Allah!” pekikan Non Amel membuyarkan lamunanku.

“Ada apa, Non?”

“Ya Allah, Kak, Mel lupa bawa mukenah.” Non Amel gelagapan menggeledahi tasnya.

“Nggak apa-apa, Non, biar nanti saya antar ke sekolah. Shalatnya jam dua belas, kan?”

Non Amel mengangguk. “Makasih ya, Kak. Bisa gawat kalau Mel nggak sembahyang, ntar dapat hukuman. Apalagi Mel nggak punya alasan kenapa nggak ikut shalat.”

Aku memberanikan diri bertanya. “Non, orang islam itu wajib shalat, ya? Kalau nggak mau shalat, gimana?”

Non Amel terkekeh pelan seolah menertawakan pertanyaan konyolku. “Siapapun di dunia ini yang mengaku islam wajib shalat karena itu perintah Allah yang paling utama. Kalau nggak mau, ya siap-siap aja masuk neraka.”

Aku terpaku. Ternyata materi agama islam dan kristiani tidak jauh berbeda, di mana jika kita meninggalkan ibadah, maka neraka akan menanti. Betapa dosanya aku yang sering menolak diajak ke gereja, aku bahkan jarang membaca Alkitab kalau tidak dipaksa ibu. Sedangkan Non Amel, mukenahnya ketinggalan saja sudah panik setengah mati.

“Papa Non nanti pulang, ya? Senangnya,” dalihku agak canggung.

Kulihat dari spion, Non Amel menyandarkan kepalanya di jendela. “Seneng lah, Kak. Papa jarang pulang soalnya.”

“Emang dari dulu udah jarang pulang?”

“Enggak juga, sih. Pokoknya sebelum Mel masuk SMP, Papa setiap hari pulang. Tapi sekarang jarang banget, padahal sebenernya Amel nggak suka kalau Papa kerja jauh-jauh,” keluhnya.

“….”

“Papa baik banget, kadang malah beliin oleh-oleh kalau udah pulang. Apalagi pas bulan puasa, Papa sering ngajak Mel dan kak Dona tadarus sehabis tarawih. Pokoknya kesayangan Amel, deh.”

“….Tadarus itu apa ya, Non?”

“Lho, kak Mark nggak ngerti tadarus? Maaf sebelumnya, kak Mark ini agamanya apa, ya?”

“Saya Kristen, Non.”

Non Amel terdiam sebentar. “Oh, Mel kira islam.”

“Non Amel bisa aja. Memangnya wajah saya kayak orang islam?”

Lah emang wajahnya orang islam sama orang Kristen itu beda, ya? Kayaknya semua manusia itu sama, deh.”

Aku tersenyum kikuk. Merasa sangat bodoh membicarakan agama yang aku sendiri pun masih belum bisa menjalankannya perintah-Nya dengan baik.

.

.

.

Malam ini aku mengantar Nyonya Wulan untuk menjeput Pak Johnny di bandara Juanda. Jantungku berdentum dan aku berpikir apakah harus mencium tangannya atau sekedar tersenyum? Hingga sosok tegap nan berwibawa itu datang. Rambutnya yang setengah beruban, jas kerjanya yang rapi, juga paras bule-nya benar-benar semakin menambah kesan kebapakan. Aku dibuat takjub, maksudku, aku senang bertemu dengan Pak Johnny. Kepalaku memanas, ingin rasanya kuberlari, entah karena terlalu senang atau malah sedih. Kudengar dari Pak Ujang kalau Pak Johnny memutuskan masuk islam setahun setelah menikahi Nyonya Wulan.

“Siapa dia, Ma?” tanya Pak Johnny pada istrinya.

“Dia sopir baru kita, Pa. Sementara menggantikan Pak Ujang yang masih pulang kampung.”

“Ya sudah, kamu kemasi barang-barang saya,” pintanya tegas. Sorot tajamnya mengingatkanku akan Non Dona.

Nggih, Pak,” jawabku sigap.

Di rumah, keadaan juga terasa hangat. Pak Johnny begitu dekat dengan Non Dona dan Non Amel. Bahkan mereka bergurau sambil sesekali memukul. Aku senang melihat mereka seperti ini hingga rasanya aku tidak mau pulang.

Ponselku bergetar. Ada telepon dari Ayah. Aku segera menyingkir dari tempat itu dan masuk ke kamar.

“Halo, Yah?”

“Minhyung, kamu di mana? Liburan mau selesai, kapan kamu pulang? Kamu nggak cari universitas? Keburu pendaftarannya ditutup.”

“Anu, Yah. Saya masih ada keperluan di sini. Mungkin sampai lusa,” ujarku setengah merasa tidak enak karena harus membohongi Ayah.

“Keperluan apa lagi, Nak? Kamu sudah hampir dua minggu nggak pulang.”

“Jeno dan kak Ten masih pengin nginep di rumah Neneknya. Makanya Minhyung lebih baik pulang bareng mereka aja, selain itu kan kak Ten yang ngajak kami ke Jogja.”

Hatiku semakin pedih tatkala dusta demi dusta dengan mudah keluar seperti air mata.

“Kalau ada apa-apa di sana, cepet hubungi Ayah, ya? Jangan bikin Ayah cemas.”

“Iya, Yah. Terima kasih.”

Sambungan ditutup. Aku kembali menghela napas. Dua minggu lalu aku pamit pada Ayah mau ke Jogja bersama kak Ten dan Jeno. Padahal sebenarnya aku merantau ke Malang hanya untuk bertemu Pak Johnny. Untung Pak Ujang memberitahuku alamatnya secara detil, bahkan memberiku foto keluarganya. Aku sangat berterima kasih pada Pak Ujang karena mau bekerja sama denganku hingga aku berjanji akan memberinya bonus. Selain itu aku juga harus berterima kasih pada kak Ten dan Jeno karena aku sudah boleh pinjam namanya dengan bilang kalau mereka berdua mengajakku jalan-jalan menghabiskan liburan di Jogja. Nanti saat sudah pulang, aku akan mentraktir mereka nasi goreng dua porsi.

Minggu pagi, setelah sarapan, aku mengantar Pak Johnny ke suatu tempat. Sepanjang perjalanan, jantungku tak henti-hentinya berdebar melihat wajah beliau. Inikah dia? Seseorang yang sudah mengacaukan kehidupan Lee Yoon Hee empat belas tahun silam? Hatiku berdenyut. Antara ingin menyayangi dan membenci.

“Kamu orang mana, Le?” Suaranya memecah lamunanku.

“Jakarta, Pak.”

“Jauh sekali, ya?”

Nggih.”

“Kamu merantau apa gimana?”

“Merantau, Pak.”

“Sudah berapa lama di Malang? Bahasa Jawa-mu lumayan bagus,” pujinya kalem.

Ah, aku juga harus berterima kasih pada kak Ambarsari, anaknya Pak Ujang yang sudah mau menjadi guru bahasa Jawa-ku seminggu berturut-turut. “Kurang dari sebulan, Pak. Saya dari dulu memang suka merantau, bukannya panjenengan juga suka merantau?” kataku sambil melirik spion. Pandangan kami sempat bersirobok, namun cepat-cepat kukembalikan fokusku ke jalan.

“Iya, saya suka pergi ke kota-kota besar di Indonesia untuk bisnis. Oh ya, Mark?”

Dalem?” Aku kembali melihat spion.

“Saya kayak pernah ketemu kamu.”

Aku terkekeh. “Mungkin itu hanya perasaannya Pak Johnny. Soalnya saya baru pertama kali ini ketemu panjenengan.”

“Dan matamu mirip Amel, sedikit.”

Aku menelan ludah.

Aku berusaha menutupi perasaanku. “Itu berarti ada kemungkinan kalau saya ini kakaknya Amel.” Aku tersenyum penuh makna.

Kulihat Pak Johnny menutup mulutnya rapat-rapat.

Aku tersenyum lagi. “Saya hanya bercanda, Pak.”

.

.

.

Hari ini aku berencana pulang. Aku sudah bersiap-siap di depan cermin dengan jaket cokelat dan celana jeans. Aku akan segera kembali ke Jakarta. Sudah selesai misiku di sini. Karena akhirnya aku bisa bertemu Pak Johnny yang selama ini menjadi alasan utama dibalik kebohonganku pada Ayah.

Bayangan Lee Yoon Hee kembali berkelebat di kepalaku. Perempuan lugu yang rela meninggalkan segalanya hanya demi kekasih. Mengikutinya hingga jejak kaki mereka terlukis di tanah Jakarta. Tak peduli kemarahan orang tuanya yang tidak merestui hubungannya. Namun nasib baik ternyata enggan memihak, setelah punya satu anak lelaki yang baru merayakan hari ulang tahun ke lima, lelaki berengsek itu meninggalkan Yoon Hee dengan kejam sambil bilang kalau dia tidak pantas melanjutkan hubungan tidak sah ini. Kalau menurutku, lelaki berengsek itu meninggalkan Yoon Hee karena berpaling pada wanita kaya bernama Wulan, warga Malang yang kemudian dinikahinya hingga punya dua anak manis bernama Dona dan Amel. Atau siapa tahu dia berselingkuh dan meniduri wanita itu dulu sebelum pergi meninggalkan Yoon Hee.

Yoon Hee berencana kembali ke kotanya setelah ditinggal Si Lelaki Berengsek. Akan tetapi, dia terlalu takut pulang ke rumah, apalagi sambil membawa anak dari hasil hubungan gelap yang tak diketahui orang tuanya. Anak yang masih tidak mengerti arti kehidupan, yang sejak kecil sudah disuruh kerja keras demi mendapat sebutir nasi, anak haram dari hubungan mereka yang tak jelas, dia bernama Lee Min Hyung.

Dengan bantuan sahabatnya semasih sekolah, Yoon Hee mengontrak sebuah rumah sederhana. Dan demi menyambung hidupnya, serta anaknya yang baru masuk TK, dia berjualan nasi kucing di depan rumahnya. Lagi-lagi modalnya dari bantuan sang sahabat.

Tiga tahun kemudian Yoon Hee menikah lagi dengan seorang dosen yang sering membeli nasi kucingnya. Seorang lelaki sejati yang bersedia menerimanya apa adanya. Yang membesarkan putra Yoon Hee seperti putranya sendiri. Yang membuat kehidupan Yoon Hee menjadi lebih baik. Hingga setahun kemudian Yoon Hee meninggal karena tumor ganas.

Paparan kisah itulah yang menyeretku ke Malang. Dari penyelidikanku berbulan-bulan lalu, juga bantuan informasi dari Pak Ujang yang hampir tujuh tahun menjadi sopir pribadi keluarga Pak Johnny, kuketahui kalau wanita kaya yang menyingkirkan ibuku itu tinggal di Malang, tepatnya di pertengahan Brantas yang—syukurlah—pernikahannya awet hingga sekarang. Semoga Pak Johnny tidak menyakiti wanita baik seperti Nyonya Wulan layaknya apa yang dulu pernah dilakukannya pada Ibu.

Pak Johnny kudapati sedang menonton tivi di ruang keluarga. Keningnya berkerut menatap penampilanku.

“Saya mau berhenti, Pak,” kataku to the point.

“Lho, kenapa tiba-tiba?” Kulihat wajahnya sedikit terkejut.

“Saya sudah bertemu apa yang saya cari. Nggak ada alasan bagi saya untuk tetap tinggal di sini.”

“Apa maksudmu?”

Aku tersenyum kalem. “Saya kemari karena ingin tahu kabar laki-laki yang pernah menelantarkan ibu saya empat belas tahun yang lalu.”

Pak Johnny tertegun. Lalu dengan kasar dia bangkit dari duduknya. “Siapa kamu? Saya nggak kenal ibumu!”

“Saya Lee Min Hyung. Dan nama ibu saya Lee Yoon Hee.”

Wajah di depanku tiba-tiba terpaku. Kegarangannya meleleh. Dia menatapku seperti melihat hantu. Aku sangat menikmati detik-detik yang berlalu.

“Kamu… Lee Min Hyung, anaknya Yoon Hee?”

Aku tidak punya kesempatan untuk menjawab pertanyaan itu. Suara Amel dan Dona yang muncul seketika membuatku berpaling.

“Kak Mark? Sampeyan mau ke mana?” tanya Amel.

“Saya mau pulang kampung, Non,” jawabku sekenanya.

Dona langsung cemberut. “Yah… kok gitu sih, Mark? Kamu kan belum lama kerja di sini. Apa karena aku yang doyan marahi kamu? Iya deh, sorry kalau selama ini aku kasar. Belum lagi aku juga njambal, harusnya aku kan panggil kamu Kakak,” pungkas Dona sambil menaruh tasnya di sofa.

“Non Dona nggak salah apa-apa. Tapi saya memang harus pulang, Non. Saya disuruh Ayah kembali ke Jakarta soalnya ada urusan.”

“Terus kapan baliknya?” desak Dona.

Aku tersenyum. “Nggak tahu, Non.”

Kemudian Nyonya Wulan datang dan kukatakan alasan yang sama. Saat wanita itu hendak memberiku uang, aku menolaknya dengan halus. Sebelum pergi, aku sempat menoleh pada ayah kandungku. Pandangannya sangat dingin tanpa ekspresi. Apakah harus seperti itu reaksinya ketika melihat kepergian si anak sulung?

Mangga, Pak. Kula badhe kundur, nggih,” pamitku.

Tidak kudengar jawabannya. Aku melangkah meninggalkannya dengan diiringi Dona dan Amel.

“Rajin-rajin belajar ya, Non. Semoga cita-citanya tercapai,” ucapku di pintu pagar.

“Amin. Makasih, kak Mark,” jawab Amel dengan mata berkaca-kaca.

“Jangan lupa mampir, ya? Atau aku aja deh yang mampir. Alamatmu di mana?” kata Dona sambil mengeluarkan ponsel, bersiap-siap mencatat alamat.

Aku terkekeh. “Saya usahakan tetap mampir ke Malang. Terima kasih selama ini kalian sudah baik sama saya. Matur nuwun sanget. Saya pulang dulu, nggih. Assalamualaikum.”

“Walaikumsalam.” Mereka berdua tersenyum manis sekali. Wajahnya saat itu kupatri baik-baik dalam hatiku. Suatu hari nanti akan kukatakan padanya siapa aku sebenarnya. Dona dan Amel, kedua adikku yang aku pun tak tahu kapan mereka lahir.

Aku berlalu dari hadapan mereka. Ada yang aneh ketika aku mengucapkan salamnya orang islam, lidahku terasa geli yang membuatku ingin mengucapkannya terus. Bagaimana reaksi Ayah saat aku pulang ke rumah sambil bilang assalamualaikum, ya? Salahkah jika aku mengatakan hal itu di depan sosok yang berbeda Tuhan? Biarkan saja, toh Ayah tidak mungkin mempermasalahkannya. Aku jadi ingin mempelajari kata-kata islami lebih banyak pada kak Ambarsari selain assalamualaikum, alhamdulillah, dan inshaallah. Atau bahkan sekalian belajar membaca Al… Al—Al apa, ya? Pokoknya kitab sucinya umat islam. Oh ya, besok aku akan menghubungi Pak Ujang, memintanya kembali ke Malang. Seperti yang kujanjikan, aku akan memberinya bonus atas kesediaannya bekerja sama denganku. Agar tidak terlalu kentara, akan kusarankan agar dia kembali dalam tiga atau empat hari lagi.

Aku rindu Ayah. Laki-laki yang membesarkanku dengan cinta, menanamkan akhlak rohani dan nilai-nilai kehidupan di kalbuku. Tanpa Johnny mungkin aku tidak akan pernah lahir. Namun hanya kehampaan yang kurasakan saat berada di dekatnya. Saat ini dia hanyalah sepenggal kisah dari masa lalu ibuku. Entah nanti apakah kami bisa bertemu lagi. Aku tidak berani berpraduga karena rahasia Tuhan tidak mungkin kutebak.

Sebutir bening jatuh dari mataku. Aku tidak tahu mencoba kembali ke masa lalu ternyata begitu menyakitkan, itulah kenapa masa lalu lebih baik dibuang. Aku menghapus air mataku karena teringat ucapan ibu bahwa air mata laki-laki adalah refleksi dari kecengengan. Namun sialnya cairan ini tak kunjung mereda, malah semakin deras layaknya sungai.

Hingga akhirnya aku membiarkan diriku menangis.

Aku tetap menangis sambil mengubur bayangan ayah kandungku yang kutinggalkan bersama hembusan angin di lubuk hatiku yang paling dalam.

.

.

_Fin_

  1. Baiklah, biarkan Ji mendongeng dulu di sini okey 😀 (yang gampang mual dilarang keras membaca)
  2. Maaf untuk nama yang udah Ji pinjem tanpa ijin (Amel & Don). Maaf sekali pokoknya, soalnya Ji kurang ngeh kalau pake nama OC kalian (dan berhubung kalian berdua sama2 suka Mark). Maaf juga kalau ada yang menyinggung, Ji nggak bermaksud menyakiti siapa-siapa wkwkwkwk
  3. Maaf kalau ini melempem ala kadarnya. Entah Ji habis dapet hidayah dari mana karena tiba-tiba bikin slice of life nirfaedah gini. Silakan yang mau nge-bully saya /lari ke kamar Jaehyun/
  4. Itu juga ada mbalel yang nyempil dan Ambarsari (tokoh khayalan kaber di Amnesia Abroad yg sempet bikin Ji nggak bisa tidur karena masih kebayang-bayang mas Doyok) 😀
  5. Kumau bilang sesuatu ke Dona : “Jangan pacaran dengan kakak sendiri, okey?”
  6. Dan yang terakhir, wasalamualaikum wr.wb
Advertisements

19 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Kisah Silam yang Terbuang (Oneshot)

  1. Wahai..
    Kamu bikin ff yang ceritanya unik bangett..
    Ada unsur indo nya.. Jadi ngebayangin mark. Ngomong pake bahasa jawa. Hihihihi..
    Nice fanfic. Kutunggu karyamu yang lain. Special about mark. Fighting!

    Liked by 1 person

  2. kak ji tahu golok? tahu cangkul? tahu sianida? itu adalah benda yg kalau disalahgunakan akan berakibat fatal #krikk

    Wes lah, mel sampe speechless, iseng2 buka ff eh tahunya nama sendiri nongol jadi cast. Ya udah, daripada kepedeaan sapa tahu cuma nama doang yang sama, dibaca mpe habis sama author notenya sekalian. Antara seneng sama merasa teraniaya. Pliss itu endingnya gak keduga banget, apalah malah jadi adeknya Mark, padahal kan mel udah siap bersaing sama kakdon untuk memperjuangkan Mark XD //dibuang
    Dan itu om john jadi bapaknya, terus jadi bapak2 yg tidak bertanggung jawab lagi. Udah kayak sinteron yg di tv. tahu gak ini bakalan lebih spektakuler lagi kalau bu wulan diganti jadi nyonya berly. cause JohnBer adalah official couple terngeHitz di nctffi wkwkwkwkwk //kabermianhaeyo
    Ih pendeskripsiannya kok bisa relate banget sih, apalagi sifatnya amel sama dona. Tahu aja mel adalah anak yg ramah, baik hati dan cerdas #hueekkkk

    Udah deh ya, daripada mel entar khilaf, meskipun sebenanrnya masih ingin cuap2 sampe lempar2 barang, diudahin aja. Eh tapi sebagai gantinya mel moo request dong kak ji. Kak Ji kan jago tuh bikin fluff, plisss bikinin Mark-Amelia yg fluff dong… Plisss Plissss Plissss XD

    Oke, segitu aja Dadahhhh….. XD

    Liked by 2 people

    • Mel tahu Jaehyun? Tahu Renjun? Tahu Taeyong? Tahu Ten? Tahu Jaemin? Iya, mereka semua tuh sekumpulan calon suaminya Ji #krikk

      Iya, itu emang pinjem namanya Mel. Kan nggak enak kalo orang Indo namanya Jane & Jenaa -.,- “Antara seneng sama merasa teraniaya” => kujadi ingin membenturkan kepala ini ke tembok -.,- Iya, kamu & Dona emang nggak jodoh sama Mark, soalnya sebenarnya Mark itu lebih cocok sama yang nulis /plak/langsung kebayang ZLS Virgo/ itu juga biar Don & Mel enggak war terus, padahal kan masih gantengan mz Tiway /plak (2)

      Waduh kok aku nggak kepikiran ada bu berly? Habisnya aku masih belum akrab sama semua staff di sini, jadinya nggak tahu siapa aja official couple-nya HAHAHA Tapi agak geli juga nggak sih kalau misalnya dipanggil “Bu Ber” soalnya kalau “Bu Berlyana” itu kepanjangan /ditimpuk kaber/

      Relate? Wah berarti Ji punya bakat cenayang. Makanya kemarin sempet kebayang jaehyun, mungkin kami jodoh /krik/

      REQUEST MARK-AMELIA? /ngakak dulu/

      Tapi Ji nggak janji fluff ya, mungkin Mel / Mark bakalan teraniaya /ga/ Aku sebenernya nggak jago, cuma suka aja bikin gituan, kan gampang tuh, apalagi otaknya Ji juga minim kosa kata, nggak kayak Amel yang narasinya selangit :’D

      Tapi ya udah deh tunggu aja ya :’v Sangkyu dah baca dedek :* :* :*

      Liked by 1 person

      • sori sori baru nongol sekarang padahal harusnya kemarin ya hahaha
        bentar….. anjirr itu ngapa ada namaku LOL pencitraan banget lagi, catetan lengkap apaan buku dari kelas 1 sampe sekarang cuma kepake paling 5 lembar wkwkwk, era milenial gini masa masih pake buku tulis, serba digital dong sekarang /ALASAN LU LEL
        lahhh itu Mark gimana ceritanya bisa tahu Lely kelas 3? terus kok enggak tanya Amel ancer2 rumahnya Lely dulu? berarti Mark udah kenal dan hafal jalan rumahnya Lely dong? curiga ini FF sebenernya ada dark side, Mark ke Malang enggak cuma nyari bapaknya tapi nemuin LDR-annya di Malang, yaitu aku. nah ini harus nih dibikin penjabarannya lagi biar jelas dan enggak menggantung. /BAKAR AJA BAKAR/
        ANJAAYYYY INI BAU2 MARK MAU MUALLAF XD sana gih sana ikut tabligh akbar DR Zakir Naik biar dituntun baca syahadat wkwkwk
        “Lah emang wajahnya orang islam sama orang Kristen itu beda, ya?” enggak ngerti kenapa, tapi menurutku emang kentara aja sih bedanya wajah orang islam sama kristen XD
        hmmm… apa lagi ya…… kalau bicara penokohan jelas semua out of character ya, tapi itu yang bikin ngakak. Donnaaaaaa kesamber apa kamu jadi galak di sini naaaakk wkwkwk
        udah deh segini aja pokoknya ini lawak sampe bikin aku terjungkal HAHAHAHA

        Liked by 2 people

    • Iya nggak apa2, selow aja 😂😂😂 Kan ini balik ke era 99 yg nulisnya masih pake buku HAHA. Mark tahu mbalel kelas tiga itu dari Jiyo. Kita kan berteman baik di dunia mimpi kak /gak/

      Iya Ji pengin banget Mark (atau semua cowok koreyah) jadi mualaff, biar enak kalau mau nukahin mereka nggak ribet /plakk/ DAN SUMPAH DI SINI AKU NGGAK BERMAKSUD MENISTAKAN SIAPAPUN TERMASUK DONA :’V

      Makasih sudah baca & komen mbalel ❤ ❤ ❤ Semangat terus buat UN-nya ya ❤ ❤ ❤ Big laf dari Jiyo ❤

      Like

  3. Kak jiyoooo wahahahahaha mau cerita deh, aku udah baca satu paragraf pertama dua hari lalu, dan akhirnya enggak kulanjutin soalnya disuruh masuk kelas dan akhirnya lupa mau ngelanjutin😂😂 baru tadi pagi aku nyempetin baca ulang, DAN WOW AKU BARU SADAR SAMA NAMA OC NYA…………………. Kamu siapa? Kenapa kamu tau aku zodiaknya aquarius? Kenapa tau kalo aku suka sate ayam /krik/

    Mungkin yang bukan domisili Malang enggak ketawa ya waktu baca, tapi sumpah serius sumpil wes aku ngakak tok isine waktu baca si amel sekolahnya di pakisaji, terus aku sekolah di blimbing…….😂😂🔥🔥 pengen nimpuk yang nulis rasanyaaa.

    Terus plot twistnya juga wahahahahaha agak sedih yaaa ternyata bapakku punya anak yang disembunyikan dan dia pacarku sendiri /enggak gitu don/ /digebuk/ bentar deh bentar, rumahku di kali brantas? Di tengah kali? Di pinggir kali? Di dalem kali? /dibuang/

    Udaaaah gitu aja kak, keep writing yaaaa!!❤️❤️❤️

    Liked by 2 people

    • DONAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA WAHAHAHAHAHAHA Kujuga sebenernya nggak kuat nulis namamu & Amel di sini sumpah, tapi ya demi menghibur diri sendiri karena belakangan ini lagi sumpek apa pun yang berbau PSG wkwkwk/ dih curcol/ Ji tahu kamu suka sate kan di blog mu ada tulisannya “Sate Ayam is my life”, dan untuk zodiak aquarius itu aku nyomot dari nama blogmu yang “Sparquarius” dan atas berlandaskan rasa sok tahu stadium empat, kujadi berpikir kalau zodiakmu pasti aquarius soalnya ada quariusnya /dikampleng/

      Ji nggak tahu rumahmu & sekolahmu di mana. Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa maafkan jiyo……….. Jiyo masih suci /plak/

      Nah makanya itu, sekali-kali Mark ganti posisi sebagai mas-mu. Kan enak tuh, siapa tahu Renjun ntar balik lagi /lah (?)/ Dan rumahmu itu di dalamnya, katanya kamu suka main sama ikan koi-koi yang biasanya dijual Pak Johnny di pasar /no/

      Pokoknya thanks udah baca Dona ❤ ❤ ❤

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s