[Drabble-Mix] Dua Hati dalam Fantasi

Angelina Triaf ©2017 Present

Dua Hati dalam Fantasi

Johnny Seo (NCT) & Berlian (OC) | Slice of Life, Psychology | G | Drabbles

0o0

Aku memalingkan wajah meskipun aku menyukaimu.

Bodohnya Berli yang salah mengambil sepatu pagi tadi. Di bawah terik matahari, lecet kemerahan di jemari kaki tahu-tahu menjalarkan perih. Rasa kantuk dan bayangan wajah membosankan dari sang dosen di kelas hilang sudah, berganti lelah yang otomatis memberikan sinyal ke otak untuk mencari tempat duduk barang rehat sejenak.

“Hei, kau sudah dengar? NCT akan mengeluarkan sub-unit baru!”

“Oh ya? Kuharap member favoritku juga ambil bagian di dalamnya!”

Kantin jadi alternatif terdekat, namun sayang sekali panasnya siang belum cukup menyiksa dirinya. Dua tegukan air tuntas ditelan, disambung tangannya yang sudah merogoh isi tas demi mengambil headphone kesayangan.

Baiklah, Berlian, mari putar playlist yang tidak ada lagu NCT di dalamnya.

0o0

Aku bertahan karena aku tak dapat melihatmu. Kita seperti garis pararel.

“John?”

Telinganya yang tuli mendadak memancing bogeman ringan milik Hansol untuk mendarat di bahu. Johnny sontak menaruh gelas kaca yang sedari tadi menggantung dalam genggaman, beralih menelisik wajah berpeluh plus baju yang banjir keringat dari pemuda yang kini sudah mengganti warna rambutnya jadi gelap.

Wow, pesona seseorang yang akan debut memang sangat luar biasa.”

“Kau meledekku?” ucap Hansol, entah beretoris atau bertanya sungguhan, Johnny tak cukup ahli membedakan.

Kerutan di kening Hansol semakin menjadi lantaran gelas yang semula ia kira berisi soju atau mungkin salah satu jenis wine putih faktanya memberikan rasa soda di lidah. Johnny masih melihat dengan kedua matanya, bibirnya gatal ingin melontarkan salah satu cibiran paling kejam seperti tren savage yang merajalela jika saja tak ingat berapa usia Hansol tahun ini.

Hyung.”

“Hm?”

“Berapa negara yang akan kita kunjungi dalam jadwal fansign nanti?”

“Entah? Kisaran 37, mungkin.”

Ayolah, 37 dan aku akan frustrasi jika tak bisa kutemukan juga dirimu.

0o0

Aku tidak bisa memberitahumu, tapi aku mencintaimu.

Sudah hampir dua bulan, tapi Berli masih kerap kali terkejut melihat pantulan dirinya di cermin. Rambutnya mungkin sudah memanjang beberapa senti, ditambah warna cokelat madu yang akan langsung memantul jika terkena cahaya. Sedikit banyak perubahan terjadi dalam hidupnya, dari yang super kecil sampai … yang bisa dibilang cukup besar.

“Itu kardus apa, Dek?”

Tanpa sengaja ia berpapasan dengan sang kakak di ambang pintu. Percakapan seputar kardus yang tengah dibawanya berakhir cukup singkat, kemudian kedua kaki lanjut melangkah ke arah sebuah kotak surat tua yang sudah kehilangan fungsinya seiring zaman.

“Mba Berli, kardusnya mau saya bantu loakin lagi?”

“Eh iya, Pak.” Senyumnya melengkung tipis, hampir tak terlihat. “Ini isinya album-album sama sejenis lampu gitu. Lumayan, kan, kalau Bapak jual nanti bisa dapat uang.”

Oh, ini, Bang? Isinya album foto season greeting sama lightstick punya Ber, udah engga butuh lagi.

0o0

Kalau saja aku bisa berjalan menembus waktu dan menjadi dewasa.

Johnny ambruk di lantai, menyusul kemudian Yuta yang duduk di sampingnya juga Taeyong yang dengan kurang ajar menjadikan perutnya sebagai bantal.

“Tak biasanya Johnny jatuh duluan.” Taeyong membuka pembicaraan, seketika menatap Haechan yang sibuk memainkan―lebih tepatnya menjambaki―rambut Mark. “Haechan, apa kau membuat Hyung-mu tidak bisa tidur lagi kemarin malam karena teriak-teriak tak jelas saat menonton live perform Girl’s Day sunbae-nim?”

“Astaga, aku tak melakukan apa pun, Hyung!”

“Abaikan mereka, John.”

Beruntungnya, Taeil datang dengan cahaya lampu ruang latihan di belakangnya, seolah menjadikannya sangat bersinar di mata Johnny. “Apa kau sedang ada masalah?”

“Tidak, Hyung,” sanggahnya dengan suara pelan. “Hanya sedang berandai-andai saja. Jangan khawatirkan aku.”

Youngho, bukankah sudah Ibu bilang kalau hidupmu akan jauh lebih baik jika tinggal di Chicago dari dulu?

0o0

Ketika aku melihatmu, terasa sebuah keraguan.

“Sudah empat teaser keluar, Ber. Yang semalam punya Johnny, pasti kau sudah lihat, ‘kan?”

Iya, sebuah kesalahan besar karena Berli menuruti bisikan dalam dirinya untuk melihat video berdurasi 43 detik semalam. Sesal tak berguna, hanya mulut terkatup yang sedari tadi jadi senjatanya untuk melawan opini-opini dari sahabat di sampingnya tentang betapa keren nan tampan para Oppa yang hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Fansign nanti ikut, kan, Ber? Jangan gunakan alasan klise macam finansial! Aku tahu pasti berapa jumlah tabungan di rekening dan celengan sapi dekilmu itu!”

Kali ini bukan masalah uang seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi kenapa rasanya lebih berat dan membuat miris?

0o0

Aku akan datang untukmu.

“Aku tak mengerti dengan pola pikirmu tentang kekasih di masa depan yang bahkan wajahnya pun belum kau ketahui itu.”

Mungkin karena mereka sama-sama pernah mengalami krisis debut yang selalu tertunda, keduanya jadi semacam soul mate yang terlibat dalam love-hate relationship imajiner.

“Bagaimana aku tak terus memikirkan dia jika faktanya di mimpiku ia selalu muncul dengan adegan yang itu-itu saja, Hyung ….”

Hansol menghela napas, mengubah haluan tangan dari hendak memasukkan kripik kentang ke mulut menjadi menuangkan kola ke gelas ukuran sedang. “Aku jadi haus menghadapi omong kosongmu.”

And I’m tired for being insane, Hyung.”

Benar, yang terus terputar hanyalah adegan saat aku terjebak dalam hitamnya jelaga di kedua matanya.

0o0

Suatu hari, aku akan memberitahumu segala hal yang tak bisa kukatakan.

Coba tebak apa yang tengah Berli pegang sekarang; tiket fansign untuk lusa.

“Kau berhutang dua loyang pizza padaku, Berlian.”

“Sial. Kubilang tak ingin ikut, kenapa masih juga dibelikan?”

“Karena orang dulu punya slogan; ga ada lo ga rame, sist.”

Kelakar temannya ditelan bulat-bulat, memancing tawa yang sepertinya sudah beberapa lama hilang lantaran hati dirundung kebingungan. Awal kepala dua bukan berarti seorang wanita muda sudah lepas dari yang namanya krisis kepribadian. Berlian, perempuan ini baru saja memasuki gerbang awal untuk berpetualang mencari jati diri.

Benar, bukankah lebih baik diselesaikan langsung daripada berusaha kabur seperti ayam yang digorok lehernya?

0o0

Seperti mimpi yang jadi kenyataan. Seperti sebuah keajaiban.

“Hah~ Aku ingin ke Bali saat liburan nanti―aish, Hyung, sakit!”

Entah mana yang bersalah, mulut Doyoung yang terlalu berisik atau tangan Yuta yang kelewat jahil. Tapi, refleks Yuta dalam membungkam mulut Doyoung sukses membuat yang lainnya tertawa geli. Oh, tentu saja, Johnny tak masuk dalam hitungan.

“Hei, Pangeran, kita sudah sampai di tempat tuan putrimu berada.”

“Hansol, jangan bercanda!”

Hyung, kau diam-diam punya kekasih orang Melayu?”

“Sok tahu, siapa bilang Indonesia hanya didiami oleh ras Melayu?”

Bandara tetap dengan suasananya yang ramai, kawannya yang lain pun masih adu argumen tentang siapa tuan putri yang Hansol singgung tentang Johnny tadi.

Dan Johnny masih dengan heningnya, benar-benar sudah jadi gila hanya karena mimpi berkepanjangan.

Dilihat dari mimpiku, ia salah satu orang Asia Tenggara berkulit kuning, dan ini negara Asia Tenggara terakhir sebelum kami pindah ke benua Amerika.

0o0

Aku masih tak dapat memberitahumu bahwa aku menyukaimu.

“Sepertinya member NCT benar-benar semakin lancar berbahasa Inggris sehingga sudah bisa mengadakan fansign di luar negeri.”

“Aku tak mau bicara denganmu.”

“Ber, jangan gitu ah nanti mukamu jelek di depan Johnny.”

“Berisik.”

Lampu dalam ruangan tiba-tiba padam, tak lama menyala kembali dengan kilat warna yang berbeda. Pembukaan acara adalah penampilan live dari title track sub-unit NCT yang baru. Teriakan menggema di mana-mana, membuat telinga sakit kalau saja Berli tak terbiasa dengan tetek bengek per-fangirl-an seperti ini.

Diberkatilah para penggemar dari lelaki bak porselen di depan sana, terutama Berlian yang kini sudah tak peduli dengan laju waktu kala matanya menangkap salah satu perawakan tertinggi dalam grup. Begitu terang―sekali lagi dalam hidupnya, ia merasa terpesona.

Aku memang tak dapat memberitahunya. Masih belum bisa.

0o0

Bahkan ketika kita terjebak dalam waktu.

Hi, Jakarta! I’m Johnny and let’s have fun tonight!”

Mic kembali diedarkan. Johnny menjadi member ketiga yang memperkenalkan diri. Yang lucu dari hari ini adalah Hansol yang bersikeras ingin berdiri di samping Johnny, kalau-kalau kawannya itu telah melihat si gadis mimpi sungguhan duduk di hadapan mereka.

Senyum di bibir masih merekah, namun dengan teliti mata menjelajah. And bingo! She’s the one who sits at the first row.

Hyung, aku menemukannya.”

“Oh, ya?” sahut Hansol dengan amat antusias. “Yang mana?”

Yang paling cantik. Yang baru kusadari kalau rambutnya telah diwarnai cokelat madu alih-alih hitam seperti dalam mimpi.

0o0

Tolong ketahuilah maksudku, segala sesuatu yang kukatakan.

Hello! Your name?”

Demi Tuhan, ini bukan perihal Berli yang baru pertama kali melihat Johnny dalam jarak sedekat ini, pun senyuman Johnny yang kelewat membuat jantung berbedar aneh. Semuanya tentang dirinya sendiri, Berlian yang ingin menjalani kehidupan dengan lebih baik.

“Berlian, umdiamond, in Englishfor your information.”

“Ah … I see. You’re really like a diamond, shining brightly.”

Benar, tak ada salahnya menikmati momen singkat ini. Berli juga butuh untuk menyimpan kenangan manis sebelum berperang, ‘kan?

Do you want me to hold your hand? Or say something?”

Segalanya siap, Berli sudah mencatatnya matang-matang dalam memori otak.

Yup. Please say a goodbye thing to me.”

Harus! Jangan sampai berhenti di tengah jalan!

0o0

Bahkan jika aku tidak terdengar siap.

Pardon?”

Johnny tahu bahwa dirinya tidak tuli―dalam kasus pura-pura tuli di hadapan Hansol, itu lain cerita. Bukanlah sesuatu yang biasa seorang penggemar meminta hal itu, dan Johnny tahu ada sesuatu yang tidak beres.

A goodbye thing, like; you’ve had a wonderful time, Ber! Now, you must move on since life must go on. Stop loving me that much, cause you have another important things to do. Study hard and being success! Never forget that you ever loved me. Okay, John? Can you?”

Layaknya terluka namun tak tahu letaknya di bagian mana. Hanya terasa perih, apalagi harus tetap tersenyum karena Johnny tahu bahwa hari ini adalah terakhir kalinya si jelita membunuh rindu.

Aku … mengatakannya. Karena dirimu yang meminta, Berlian.

0o0

Aku ingin kamu selalu tersenyum seperti yang kamu lakukan sekarang.

Sesi terakhir; high five sebelum pulang.

Waktu terasa cepat jika seseorang sedang bahagia, begitulah hukum alam. NCT berhasil menebarkan senyuman dan cinta hari ini, tentunya khusus kepada para penggemar yang selalu mendukung mereka di mana pun berada.

“Ber, habis ini langsung pulang, ya? Terlalu lama lihat Kun yang bercahaya imajiner begitu berpotensi membuatku cepat mati.”

“Lebih bagus lagi kalau kau menghindari makanan berkolesterol tinggi seperti pizza. Gosipnya, kakak tingkat kita hampir mati karena makan pizza minggu kemarin.”

“Masa? Hampir mati karena kebanyakan kolesterol?”

“Bukan, tapi karena tersedak keju saat sahabatnya mukul punggungnya lantaran kesal.”

“Sialan!”

Obrolan sangat tidak berfaedah dari kedua mulut mereka terus mengalir ke udara. Namun siapa sangka, pandangan Berli sedari tadi hanyalah untuk Johnny seorang.

Senyum itu … sepertinya mengingatnya saja sudah cukup bagiku.

0o0

Berjanjilah padaku, aku harap kamu tidak berubah.

Tinggal dua orang lagi sampai Johnny tepat berpapasan dengan Berlian. High five berlangsung sangat singkat, namun bukan Johnny Seo namanya jika tidak sempat memutar otak untuk membuat sebuah rencana.

I give my precious two second for my girl; Berlian. Have a great life, John!”

Begitu gadis tadi berlalu begitu saja di hadapannya, Johnny langsung tahu bahwa Berlian memiliki kehidupan yang baik; terbukti dari sahabatnya yang sungguh pengertian.

Hey, John. Take care―”

Johnny tahu bahwa memeluk penggemar seperti ini melanggar aturan, dan tentunya ia sudah memikirkan apa konsekuensi dari perbuatannya. Tapi, meninggalkan Jakarta tanpa sebuah kenangan berharga bukanlah hal yang bagus demi kejiwaannya yang selalu memimpikan perempuan itu.

Promise me that you’ll never change, Ber.”

Senyum tulus ditunjukkan oleh keduanya. “I will, John. I’m still Berlian who admires NCT Johnny even though I’m not being a fangirl anymore.”

Ya, setidaknya kau sudah berjanji padaku.

0o0

Aku kira kita masih begitu muda.

Kautahu, John? Ini semua sangat sulit bagiku.

Berlebihan, memang. Hanya pasal menjadi seorang penggemar salah satu member boy group asal Korea saja rasanya seperti hidupku sedang berada di ujung tanduk.

Tapi hidup ini harus terus berjalan, ‘kan? Karena aku bosan melihat wajahmu yang terpajang di mading kamarku alih-alih foto kakak tingkat incaranku.

Jadi, ayo akhiri di sini saja, ya? Walaupun aku mencintaimu ….

Ah, aku harus segera jadi dewasa agar bisa membedakan mana rasa cinta dan mana kekaguman secara akurat.

0o0

Tapi aku mencintaimu.

Benar-benar, apakah aku perlu ke psikolog? Apakah cerita-cerita dalam webtoon bisa terjadi di dunia nyata? Saat tokoh utama selalu memimpikan seseorang dan berujung mencintainya?

Terlepas dari kemungkinan diriku yang sakit jiwa karena lelah dengan kehidupan atau tidak … fakta bahwa aku mencintaimu sungguhan sudah tak bisa terelak lagi.

Jadi, bolehkah aku berharap padamu lebih lama? Saat dunia kita sudah lebih dipersempit dan hidup bersama denganku bukanlah sesuatu yang mustahil lagi bagimu?

FIN

  • Entah ini beneran masuk slice of life atau justru kesannya curhatan dan harapan seorang penggemar xD Tapi untuk mimpi berulang yang terus-menerus gitu diriku sudah pernah mengalaminya sampe lelah sendiri :’)
  • Terus untuk castnya … gapapa bikos mereka so swit /abis ini dibalang sama yang punya nama/
  • Ambil nilai positifnya, yaa. Demi masa depan yang lebih baik lagi sejahtera 🙂
  • Lirik lagu diambil dari Rough – GFriend.
Advertisements

9 thoughts on “[Drabble-Mix] Dua Hati dalam Fantasi

  1. Kanjel bikin judulnya mendalam banget euy… terus baca ini ada ngakaknya ada sedihnya. Etapi betewe itu om john mimpi kaber mel langsung keinget anime kimi no na wa masa. Terus mel pengin curhat, tapi untungnya tidak jadi khilaf. Ya udah, dadah kanjel, maacih udah bikin amel baper XD Maapin mel ngomongnya tidak beraturan, sudah bawaan lahir, wkwkwkw

    Like

    • thanks for reading^^ itu judul sekenanya doang mel ga niat xD njel jarang nonton anime jadi gatau, hehe. yuk sini curhat mel :3 aku tau kok itu udah bawaan lahirmu, aku sudah sangat maklum. makasih udah main di sini amelqu ❤

      Liked by 1 person

  2. Kaber yang jadi tokoh, Donna yang baper :’) terimakasih atas kisah yang sungguh mengharukan ini kakak incess :’) tau ga aku senyum2 sendiri waktu adegan high five itu, kaya ada manis manisnya gitu……… ah, mau nyusul JohnBer boleh ga? Aku ntar september terbang ke jekardah biar Mark bisa ngomong “Hi Don, stop ruining my dreams, okehh?” /lalu pergi/

    Mari kita senggol kaka diamond yg unyu semoga bisa dinotis si om unchhh @berlyvirgiyani

    Liked by 1 person

    • thanks for reading^^ aw apakah perlu njel ganti nama jadi incess beneran xD yuk sini don ke jkt kita cegat mark ajak dia makan sate ayam di deket rumahku wkwk. unch kak diamond kesayangan :3 makasih udah main ke sini dd don ❤

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s