[NCTFFI Freelance] Prom Party Affair (Oneshot)

PROM PARTY AFFAIR

.

Romance, Angst, Drama || Oneshot || Teenager

.

Starring
NCT’s Mark and Renjun, thehunlulu’s OC Jane Jung

.

“Maafkan aku karena telah merusak suasana hatimu.”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I just own the plot. Big thanks to Dyvictory for the moodboard

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Dentuman musik masih mengiringi keramaian pesta dalam ballroom hotel tersebut, menemani 185 insan yang tengah merayakan hari kelulusan sekaligus perpisahan sekolah menengah mereka. Tawa riang terdengar di setiap sudut ruangan, terselip dalam setiap konversasi yang terjalin. Tak sedikit juga yang mengabadikan momen once-in-your-lifetime ini dengan kamera ponsel, bahkan kamera Go-Pro, tersenyum selebar mungkin pada setiap lensa yang membidik mereka, seiring dengan suasana hati yang memang gembira.

Sejauh mata memandang, terlihat setiap siswi dengan gaun yang membalut tubuh mereka, berbagai macam warna pun model. Tatanan rambut pun bermacam-macam, demikian pula riasan wajah. Penampilan para putri bersanding dengan para pemuda yang mengenakan tuxedo. Hitam dan putih adalah warna mayoritas, meski masih ada warna-warna lainnya. Singkatnya, ruangan tersebut bagai diisi oleh pangeran dan putri dari berbagai kerajaan.

Pencahayaan ballroom tersebut pun mendukung. Lampu utama dengan sorot kuning royal, lampu putih kerlip di sepanjang dinding, serta lampu sorot dengan mode berganti-ganti warna di panggung. Dinding depan aula ditutup oleh kain berwarna krem, kemudian diberi hiasan styrofoam yang bertuliskan tema dari acara mereka. Di pojok kanan tepat sebelah panggung, sebuah layar besar dibentangkan, guna menampilkan video kilas balik selama tiga tahun mereka bersekolah. Sementara di sebelah kiri panggung merupakan tempat pemusik yang sejak awal acara tak kenal lelah menyuguhkan penampilan, mengiringi acara prom party tersebut.

Di salah satu sudut ballroom, seorang gadis bergaun putih gading terlihat sedang asyik dengan ponselnya. Ajakan pembawa acara mengajak para hadirin untuk berkumpul di sekitar panggung utama tak ia hiraukan. Tampak seperti mengetik sesuatu di ponsel merupakan pekerjaan dengan tingkat prioritas lebih tinggi.

Rupanya, gadis bernama asli Jung Jane tersebut sedang membalas pesan LINE dari Mark Lee, kekasihnya.

Sayang sekali kau tak bisa datang, Makeu. Ini adalah acara terakhir kita di SMA sebelum berpisah di universitas. Tapi aku mengerti, acara pernikahan kakakmu jauh lebih penting.

Selamat menikmati acaramu ^^

Selesai sudah. Ibu jari Jane pun menekan tombol send.

Tepat ketika Jane selesai memasukkan ponsel ke dalam tas tangannya dan bermaksud untuk kembali dalam keramaian dengan kawan-kawannya, sebuah suara yang familiar mengusik pendengarannya.

“Kak Jane!”

Meski sekelilingnya riuh akan musik berintensitas tinggi, namun suara panggilan itu tetap berhasil memasuki liang telinganya.

Jane pun menoleh, dan tidak heran begitu mendapati Huang Renjun, adik tingkatnya, sedang berdiri tak jauh darinya. Tangan terlipat di depan dada, plus cengiran lebar. Renjun mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih dengan rompi hitam di bagian luar. Poninya ditata sedemikian rupa sehingga keningnya terekspos.

Walau kuriositas Jane sedikit tergelitik menyadari presensi Renjun di acara kakak tingkat, namun sang gadis memutuskan untuk tak ambil pusing. Mungkin Renjun datang kemari sebagai pasangan salah satu kawannya, demikian kesimpulan Jane.

“Oh! Hai, Renjun-ah!” sapa Jane balik.

“Sendirian saja, Kak?”

Gadis Jung itu mengangguk.

“Mark hyung?”

“Ada acara keluarga yang tak dapat ia tinggalkan. Kakak kandungnya menikah, dan ia diminta untuk hadir di sana.”

“Wah, sayang sekali. Padahal ini acara sekali seumur hidup,” komentar Renjun.

Bola kepala Jane bergerak naik turun, menyetujui opini adik kelasnya.

“Kalau begitu, keberatan bila aku yang menemani, Kak?” Renjun menawarkan.

Tadinya Jane bermaksud untuk mencari teman-temannya, bergabung kembali dalam percakapan yang sempat terputus akibat pesan LINE dari Mark. Namun ketika Jane mengedarkan pandangan, dwimaniknya tak dapat menangkap satu pun sosok dari sahabat-sahabatnya. Pencahayaan di sana agak temaram. Selain itu, kerumunan insan di mana-mana. Jane sedang terlalu malas bergerak akibat sepatu hak tingginya yang terlalu tinggi pun kekecilan, karena itu niat mencarinya buyar.

Lagipula, menghabiskan waktu dengan Renjun tak ada salahnya. Toh Huang Renjun adalah kawan bicara yang asyik.

“Tentu saja tidak,” balas Jung Jane akhirnya.

Meski dalam cahaya temaram, Jane dapat menangkap ekspresi senang yang terlukis dalam wajah sang adik kelas, seraya ia bergeser beberapa langkah mendekati Jane.

“Bagaimana rasanya sudah selesai ujian, Kak?” Renjun memulai percakapan. “Lalu, bagaimana perasaan kakak saat mengetahui bahwa waktu belajar Kakak di sekolah ini sudah habis, dan Kakak harus berpisah dengan teman-teman?”

“Rasanya campur aduk,” balas Jane. “Lega rasanya aku dapat menyelesaikan ujian dengan baik. Hasilnya pun cukup memuaskan. Yah, sebanding dengan hasil usahaku. Kemudian … uhm … perasaanku mengenai kelulusan? Hal pertama yang kupikirkan adalah Wah, akhirnya aku meninggalkan tempat penderitaan ini! Hahaha …. Namun ketika menyadari bahwa aku akan meninggalkan teman-teman beserta banyak kenangan, rasanya cukup sedih. Tak terasa rupanya aku telah tiga tahun bersekolah di sini. Rasanya seperti baru kemarin aku menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Tahun depan kau pasti akan merasakannya, Renjun-ah.

“Bagaimana dengan kuliah, Kak? Kakak akan melanjutkan ke mana? Siapa yang akan Kakak paling rindukan nanti?”

“Kuliah? Hmm ….” Jane menerawang untuk beberapa saat. “Sepertinya Mark, karena tempat kuliah kami berbeda.”

Tanpa Jane sadari, raut wajah Renjun berubah. “Kak Jane tak akan merindukanku?”

Dara garis Jung itu pun tergelak. “Hahaha …. Rindu. Aku pasti akan merindukan sapaanmu padaku setiap pagi.”

“Kalau guru? Siapa yang Kak Jane paling akan rindukan?”

Lagi-lagi gadis itu mendongak untuk berpikir. “Hmmm …. Kwon ssaem! Lelucon yang beliau lontarkan tak pernah gagal membuat kita terpingkal-pingkal hingga sakit perut! Padahal beliau menceritakannya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Kok bisa, ya?”

Renjun ikut tertawa menanggapi jawaban Jane. “Nah! Aku juga berpikir demikian, Kak!”

Siapa sangka berawal dari basa-basi kecil tahu-tahu percakapan mereka meluas ke mana-mana. Awalnya hanya membahas tentang kehidupan di sekolah, lama-lama bahkan keduanya membicarakan tentang keluarga, cita-cita, hingga pandangan hidup. Meaki sesekali percakapan mereka diselingi dengan Hah? Kakak tadi bilang apa? atau Sorry, tadi tidak terdengar karena suasana yang bising, namun hal tersebut tak mengganggu keseruan dari konversasi tersebut. Nyatanya, Jane dan Renjun asyik bercakap-cakap layaknya teman yang sudah saling kenal sejak lama.

Perbincangan mereka berdua terhenti sejenak ketika atensi Jane teralihkan oleh ucapan pembawa acara yang terdengar melalui pengeras suara. Pembawa acara meminta masing-masing pria mencari pasangan wanitanya, lalu mengajak ke tengah ballroom untuk diajak berdansa waltz. Mendengarnya, Jane pun tertunduk. Helaan napasnya keluar meski pelan.

Dan Renjun dapat menangkap riak kecewa di wajah kakak kelasnya.

“Kak Jane tidak ikut berdansa?” pancing si lelaki Huang.

Jane mengangkat wajah, berusaha sebisa mungkin tersenyum dan tetap terlihat tenang meski perasaannya agak kacau. “Seharusnya aku berdansa dengan Mark,” tukas Jane. “Namun, yah, ia tak bisa datang, dan aku tak punya pasangan pengganti. Lagipula, tak apa. Toh kakiku juga sedang sakit akibat high heels kekecilan ini.”

Renjun merasa ini adalah kebetulan yang baik, dan seketika wajahnya terlihat cerah. Ia membungkukkan badan, mengulurkan tangan kanannya ke arah Jane, membuat postur seorang lelaki yang hendak mengajak pasangannya berdansa.

“Mind to dance with me?” tanya Renjun. Tingkahnya tersebut mau tak mau membuat Jane tertawa.

“Tapi … high heels-ku ….”

“Tak usah dipakai saja.”

Lagi-lagi Jane tertawa, kali ini sambil menghadiahi bahu Renjun dengan sebuah pukulan ringan. Namun tak ayal Jane menurutinya. Ia menendang sepatunya tepat ke pinggir dinding, menggamit tangan Renjun, dan membiarkan lelaki itu menggandengnya ke tengah ballroom, bergabung dengan pasangan lainnya.

Tanpa gadis itu sadari mereka berdua cukup kompak dalam berdansa. Well, beberapa hari yang lalu Mark memang sempat mengajarinya teknik-teknik dasar waltz, dan tampaknya Renjun juga menguasai gerakan sederhana tersebut. Keduanya seakan dapat membaca pikiran satu sama lain sehingga tak sekali pun terjadi insiden injak-menginjak atau tersandung kaki atau semacamnya.

Satu hal, sejak awal berdansa, Renjun tak pernah satu kali pun melepas tatapannya dari Jane. Ia menilik dwimanik gadis itu dalam-dalam, seolah mengabsorp isi hati sang gadis melalui tatapan. Senyum manis nan lembutnya masih senantiasa terukir. Sebelah tangannya menggenggam jemari Jane erat, sebelah lagi memeluk pinggang gadis itu dengan mantap.

Keduanya terbuai dalam alunan musik, berputar dan terus menari di lantai beralaskan karpet tersebut, seolah lantai dansa hanya milik mereka berdua. Bukan hanya Renjun yang menatap Jane dalam, Jane pun balas menilik iris gelap adik kelasnya itu. Keduanya tenggelam dalam dwimanik kelabu pasangannya.

Ada sebuah perasaan dalam hati Jane yang tak dapat ia sangkal eksistensinya. Suatu rasa bergejolak dalam dada begitu menyadari tatapan Huang Renjun yang begitu intens. Ia memang dekat dengan pemuda itu – cukup dekat. Namun tak dapat ia sangka bahwa kedekatan yang berlebihan rupanya dapat menjadi sesuatu yang berbahaya.

Inikah rasanya berpegangan tangan dengan Renjun?

Inikah rasanya hampir dipeluk oleh Renjun?

Inikah rasanya berdansa dengan Renjun?

Inikah rasanya menjadi pasangan seorang Huang Renjun?

Pada detik krusial itulah tiba-tiba bayangan sesosok pria muncul di benak Jane. Pria yang terkadang mengomel padanya, pria yang kerap tak dapat mengontrol emosinya, pria yang seringkali bersikap overprotective terhadapnya, namun juga pria yang menyayanginya, yang selalu ada untuknya. Pria yang selama ini setia mengisi kesehariannya.

Mark Lee, kekasihnya.

Tak ingin dirinya makin tenggelam dalam buaian sentuhan Renjun, Jane memutuskan untuk mengakhiri acara dansa mereka. Ia melepas genggamannya pada Renjun, mundur dua langkah dan meninggalkan tempat pijakan mereka semula. Bahkan Jane sudah siap untuk pulang ke rumah, tak mengikuti acara prom hingga selesai. Ia pikir ia perlu menjauhkan diri dari Renjun, sebelum perasaannya tambah tak terkendali.

Sialnya, pemuda Huang itu malah mengikutinya. Bahkan ketika Jane keluar dari ballroom sekalipun.

“Kak Jane!” teriaknya.

Jane menghentikan langkah, lantas berbalik menghadap adik kelasnya tersebut. Ia tetap menjaga distansi beberapa meter dari titik pijakan Renjun. “Aku mau pulang, Renjun-ah. Kau kembalilah ke dalam.”

Baru saja Jane hendak lanjut melangkah, Renjun berlari mendekat dan menangkap pergelangan tangannya, mencegah sang gadis untuk berjalan lebih jauh.

“Kak Jane, aku menyukai Kakak!” seru Renjun dengan nada yang terdengar putus asa, antara disadari atau tidak.

Jane terdiam. Ia tidak mengharapkan suatu konfesi dalam situasi buruk seperti ini. Pengakuan itu hanya membuat suasana hatinya tambah runyam.

“Aku tahu,” balas Jane lelah. “Tapi hatiku telah menjadi milik Mark. Maaf.”

Rupanya kalimat itu berhasil menyolot emosi Renjun. Jujur saja, ia paling benci jika sesuatu dalam dirinya dikaitkan dengan Mark. Mark adalah rival terbesarnya dalam segala hal; Mark bagaikan musuh yang tak bisa dilawan. Lawan yang terlalu kuat, dan tanpa sadar itu membuat Renjun cukup membencinya.

Renjun kalap. Didorongnya sang kakak kelas ke dinding terdekat pada sebuah lorong dengan cahaya temaram, lalu kedua tangannya digunakan untuk menahan Jane, seolah menancapkan gadis itu ke dinding.

“TAHU?! Kak Jane tahu?!” ucap Renjun dengan nada sarat emosi. “Kalau begitu mengapa Kakak diam saja selama ini? Mengapa Kakak mempermainkan perasaanku kalau pada akhirnya Kakak sama sekali tak berniat memberi hati Kakak untukku?”

“Lantas … aku harus apa?” balas Jane.

Renjun tak menghiraukan pertanyaan Jane yang terakhir. Sebaliknya, ia malah berjar, “Kak, ini mungkin adalah kesempatan terakhirku untuk melihat Kakak. Kumohon, untuk malam ini saja, aku ingin bersikap egois. Aku ingin mengabaikan eksistensi seorang Mark Lee di hati Kakak, dan membuat Kakak hanya melihat padaku.”

Renjun mengikis jarak yang terbentang di antara mereka dengan mendekatkan wajah ke arah Jane. Jane sendiri tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Renjun, namun ia punya firasat bahwa itu bukanlah sesuatu yang baik. Sejatinya, Jane harus menghentikan semua niatan Renjun. Ia harus menjauhkan diri dari pemuda itu.

Tapi, apa daya. Rasanya bagai semua tenaganya telah terserap oleh dinding. Ia tak bisa melepaskan diri dari cengkraman Renjun, pun mendorong adik kelasnya itu menjauh. Ingin ia berteriak, namun tenggorokannya bagai tercekat.

Sekarang jarak mereka hanya sebatas helaan napas. Jane dapat merasakan hangatnya napas Renjun di pipinya. Gadis itu menutup mata, pasrah dengan apa yang akan terjadi.

Tiba-tiba cengkraman pada bahunya terlepas. Sekon kemudian, terdengar suara gedebuk yang keras di lantai. Jane buru-buru membuka mata, kemudian terkejut begitu mendapati Mark Lee muncuk di hadapannya, mengenakan tuxedo warna hitam, siap memberi bogem mentah berikutnya pada Renjun yang sempat terpelanting ke lantai.

BUK!

Belum sempat Jane mencegah, sebuah pukulan kembali mendarat di wajah Renjun, membuatnya kembali menumbuk karpet.

“Hentikan!” Jane berseru. Saat itulah Mark bagau disadarkan bahwa kekasihnya melihat semua tindakannya. Ia yang bermaksud melancarkan serangan bertubi-tubi pun mengurungkan niat, lantas berbalik dan dalam sekali tarik membawa Jane dalam dekapannya.

“Kau tak apa-apa?”

Jane mengangguk lemah.

“Aku minta maaf karena terlambat. Aku – “

Kata-kata Mark terpotong begitu kekuatan Renjun kembali dan ia ganti melancarkan serangan pada si pemuda Lee. Bukan hanya satu atau dua, tapi bertubi-tubi pukulan dihantamkan pada wajah putih Mark.

“Jangan hanya tahu main pukul, BEDEBAH!” ucap Renjun penuh dengan amarah.

Emosi Jane memuncak. Air matanya mulai merembes keluar, melunturi maskara serta turun mengalir di pipinya. Rasa marah akhirnya mendidih di ubun-ubun. Dengan sekuat tenaga Jane mendorong Renjun menjauh dari sang kekasih.

“HENTIKAN!!!” Jane berteriak, lagi. Kali ini dengan suara serak.

“Huang Renjun! Aku membencimu! Aku mengerti kalau kau menyukaiku. Tak apa, aku menghargai perasaanmu.Tapi aku benci akan sikapmu yang pemaksa, bahkan sampai mencelakalan orang lain demi keegoisanmu! Dan, kau, Mark Lee!” Jane melemparkan tatapan tajam pada kekasihnya. “Aku pun membencimu! Aku benci akan pengaturan kontrol emosimu yang buruk! Aku benci kalian berdua!”

Setelah berkata demikian, Jane mengambil high heels serta tas tangannya yang sempat tergeletak sembarangan, lantas pergi sambil menenteng dua benda tersebut. Tak ia hiraukan kakinya yang tanpa alas menginjak lantai marmer lorong hotel. Likuid beningnya terus mengucur dengan deras seraya ia menguntai langkah, seiring dengan suasana hatinya yang buruk.

Ending macam apa ini? Indikasinya datang kemari adalah hendak membuat memori menyenangkan terakhir bersama dengan teman-teman seangkatannya. Namun kedatangan Huang Renjun dan rumitnya kisah di antara mereka membuyarkan semuanya.

Mark Lee adalah orang pertama yang menyadari kepergian Jane. Ia bangkit berdiri, dan sekuat tenaga berlari menyuri lorong demi menyusul kekasihnya. Netramya menangkap sesosok gadis yang gengah berjalan dengan kaki telanjang. Segera Mark berlari mendekat, menangkap pergelangan gadis itu, dan menariknya dalam dekapan, merengkuhnya erat.

Tangis gadis itu pun pecah.

“Maafkan aku,” bisik Mark seraya tangannya bergerak mengelus surai kehitaman sang dara. “Maafkan aku, meninggalkanmu sendirian. Maafkan aku karena telah merusak suasana hatimu.”

Masih dalam pelukan Mark, Jane pun mengangguk. “Jangan pernah lakukan itu lagi … “ isaknya.

“Lakukan apa?”

“Adu jotos hanya demi seorang gadis. Aku paham aku memang pantas untuk diperjuangkan, namun bila harus mencelakakan diri sendiri pun tak ada gunanya,” jelas Jane.

Mark melepaskan dekapannya. Kedua tangan ia letakkan pada pundak Jane, sambil ia menatap gadis itu lurus-lurus. “Tapi, kau tak berselingkuh dengannya, kan?”

“Sudah berapa kali kukatakan padamu? Tentu saja tidak!” balas Jane. “Ia memang menyukaiku, dan aku menghargai perasaannya. Tetapi itu tidak berarti bahwa aku menyukainya juga.”

“Aku percaya padamu.” Mark berujar. Kedua sudut bibirnya teterangkat, kemudian tangannya menggamit jemari sang kekasih. “Kita pulang sekarang?”

Jane pun memberi respon dengan sebuah anggukan.

.

EPILOG

You have a message from Huang Renjun!

Kak, maafkan karena telah merusak acara prom Kakak tadi. Mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu lagi. Sukses untuk kuliahnya, Kak. Jaga kesehatan, dan jangan lupakan aku. Oke? ^^

Tanpa bisa dicegah seulas senyum tipis di bibir Jane begitu membaca pesan dari adik kelasnya tersebut. Perlahan ia menggerakkan jari untuk membalas, walau ia jaga posisi ponsel agar tidak terlalu terlihat oleh Mark Lee yang sedang menyetir di sebelahnya.

Tak apa, Renjun-ah. Aku mengerti. Semua orang berhak untuk mencintai dan dicintai. Aku senang kamu mau terbuka tentang perasaanmu, dan aku harap dari pengalaman kita kamu belajar banyak hal. Seperti diriku.

Jaga dirimu selalu. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi, ya J

.

“Well, it’s true that I have been hurt in my life. Quite a bit. But it’s also true that I have loved, and been loved, and that carries a weight of it’s own. A greater weight, in my opinion. In the end, I’ll look back on my life and see that the greatest piece of it was love.”
–Sarah Dessen (This Lullaby)

-FIN-

A/N

Sebelumnya, big thanks untuk Donna aka thehunlulu yang udah mau meminjamkan OC kesayangannya… Walau hasil eksekusiku jadi kacau seperti ini hihihi… Maaf juga kalau misalnya ternyata jatuhnya jadi OOC ya…

Thanks untuk kisah cinta segitiga mereka berdua yang sudah menginspirasi XD

Sekali lagi, jangan kapok minjemin JungJane ya, Don 😀 Minjemin Mas Mark juga boleh tuh /melipir

Anyway, mind to review? J

Advertisements

17 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Prom Party Affair (Oneshot)

  1. KAK CE, bagaimana bisa seperti ini kau bilang kacau. YA AMPUN INI KISAH MEREKA JADI SYAHDU BEGINI.. WALAU ADA BOGEM BOGEMAN..
    Mark Lee pake tuxedo ganteng ya :’)))

    Aku terhanyut dengan kisah cinta segitiga mereka :’)))) SUDAH SUDAH, RENJUN SAMA AKU AE!!! /melipir

    Bagus kak. Nicefic ❤❤ Keep wringting kak Ce ❤❤❤❤❤ Semangat UNBKnya ❤❤❤😘

    Liked by 2 people

    • Because gataulah aku dewe ngerasa endingnya agak kurang greget hihihi… Ganteng dong dia…
      Lahahaha jangan… Ini noonanya jg naksir sama dia (nunjuk diri sendiri)
      Makasih difan wes mampir 😂😂

      Like

  2. Sebelumnya….aku enggak ngerti harus ngomong apa…enggak tau kudu mulai dari mana komennya, karena tiap paragraf bahkan kalimat di cerita ini emang bener2 bikin deg2an bacanya, asli deh enggak bohong…… (Ceritanya lagi berlagak tenang padahal waktu baca isinya nahan teriak mulu)

    Oke yang pertama, aku nggak nyangka kisah cinta mereka bisa dijadiin oneshot dan demi apa ini bagus bangettt!!! SERIUS INI SUMPAH YA INI epik banget plus bikin gemes, nggak ketebak sama sekali adegan yang bakal mereka lakuin :”) pokoknya…. ARGH KAKCEE AKU PADAMU LAH AKU PADAMU, nggak mau komen super duper heboh soalnya energiku udah terkuras habis waktu baca ini, main perasaan buaangeeeeetttttttt 😭😭😭😭😭

    Daaan yang kedua, entah kenapa cerita ini tuh kayak ada manis manisnya gitu…….bahkan kakcee lebih jago mengkondisikan dan mengkoordinir(?) perjalanan cinta mereka, bikin aku—PASTINYA—baper sebaper bapernya :”) dan ini tuh hangat bangettt kaaaaaaak, apalagi waktu Jane dansa sama Renjun tuh aku mikir gini “Semoga hari itu Jane lupa sama Mark, semoga Renjun beneran nyium Jane, semoga hari itu bisa jadi hari paling bahagianya Renjun karena bisa interaksi sama senpai kesayangannya apalagi sampe dansa segala……”

    TAPIIIII IH NGESELIN BANGET MARK LEE SUMPAH DASAR PENGHASUT EMANG TIBA2 DATENG TAK DIUNDANG KAYA JELANGKUNG TIBA2 GEBUKIN RENJUN PFFFTHHHHHH… Intinya tuh tiap pembaca udah berandai andai dan berharap Renjun makin ngeromantisin Jane, mesti adaaaa aja masalah…. Mesti deh mestiiiiii, fantasiku dipatahkan waktu tau Mark dateng. Serius ihhhh sumpah yaaaa kakceeeee aku enggak nyangka dirimu bisa eksekusi mereka bertiga dengan cerita sebagus iniiiiiii❤️❤️❤️

    Plus buat endingnya, bikin baper pake bangeeeetttt, aku nggak rela mereka pisah, POKOKNYA KEMBALIKAN RENJUN-JANE KU TERSAYAAAAAAANG!!!!

    Udaaaa gitu aja kakcee, aku gatau harus ngomong apa, yang jelas makasih banyak sama hadiahnya hari ini wkwkwkwk bikos kreatornya sedang ditimpuk banyak tugas yang ga selese2 heuuuu :”) keep writing yaaa!!❤️❤️❤️

    Liked by 1 person

    • Sik sik ya aku bingung kudu balesin komenmu yg panjang banget ini gimana 😂😂 yg pasti kusenang bisa membuat kamu baper /pfft itu artinya goalsku tercapai bhaks
      Kemudian ia aku sengaja bkin jane kek terhanyut dlu dalam pesona renjun hahahaha sengaja bawa renjun dalam situasi baper juga tp ttp hatiku pada markjane jd jane ga kubuat selingkuh unch
      Hahahaa… Thanks ya udh pinjemin jungjane… Jangan kapok minjemin dia lagi yaaa.. Unch

      Liked by 1 person

  3. Kak Gece demi apa!!! Percaya nggak percaya, aku bisa ngerasain gimana perasaannya Jane & Renjun waktu itu :’v INI DABESH SEKALI KAK ❤ ❤ Sebenernya aku agak shock soalnya Renjun (yang dibayanganku) anaknya imut imut gingsul gitu ternyata juga bisa agresif ala-ala anak kuliahan gitu wkwkwkwk

    Dan dan dan aku suka bahasanya, seolah mengaduk-aduk emosi (njir). Aku suka deskripsinya yang penuh kefrustasian (njir (2)), dan penjabaran karakternya top banget (y) Ji suka sekali sama ceritanya ❤ ❤ ❤

    P.s. Renjun, tolong SMS-nya dikondisikan :')

    Liked by 1 person

    • Hai jiyo~~~ first of all thanks udh mampir ya hihihi… Iya aku jg pas baca ulang kek “yawlah adekku kenapa kubkin jd gini…” tp tak apa, secara teknis dia anak SMA kls 10 (apa 11?) yang pasti punya sisi agresif pfft
      Hehehe.. Thanks utk pujianmu jiyo 😄

      Like

  4. Inilah akhirnya harus kuakhiri, sebelum cintamu semakin dalam ~~~ XD

    “Adu jotos hanya demi seorang gadis. Aku paham aku memang pantas untuk diperjuangkan, namun bila harus mencelakakan diri sendiri pun tak ada gunanya,” HMMMM JANE…. KALO NGOMONG, SUKA BENER WKWKWK

    YET FOR MEH RENJUN IS THE CUTEST HELLO KITTY EVER
    /ngerti istilah hello kitty gak sih? apa aku doang yang kerajinan nonton catatan hati seorang istri di RCTI dulu?

    mungkin koreksinya, kalo ini FF emang patokan penulisannya pakai EBI… respon itu harusnya respons. tapi terserah sih mau pakai s atau enggak karena FF kan karya yg tdk terikat EBI ya ehehhh

    nice fic ce ^^

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s