[Ficlet] Coffee For Love

Coffee For Love

a fanfiction by Jane Doe

Starring [NCT’s] Moon Taeil, Winwin & [OC’s] Moon Sui
Length: Ficlet (±950words)
Genre : Romance, Fluff | Labeled as General
Plot and OC are mine!

_ _ _

And last, from a cup of coffee, I know something behind it.

Something that makes me can’t sleep at night, something that makes many butterflies flying around my stomach when I saw her.

_ _ _

Lonceng kecil yang sengaja dipasang di pintu kembali berbunyi. Suara dentingannya membuatku tersenyum, lalu sedikit menundukan kepala—sebagai ucapan selamat datang. Dia kembali lagi, melangkah riang melewati pintu kecil itu dan juga beberapa meja yang telah tertata rapi seperti biasa. Dengan kaus panjang berwarna abu-abu dan rok rimpel putih gading selutut, membuatnya terlihat manis. Rambut hitam panjangnya kali ini dibuat sedikit bergelombang di bagian bawah. Semakin menambah apik aura yang dipancarkan. Tanpa riasan di wajah, gadis itu masih terlihat cantik. Kecantikan yang natural.

Sesekali ia melihat sekeliling ruangan, senyumnya merekah ketika matanya menangkap tempat kosong di dekat jendela—yang merupakan tempat favoritnya. Bahkan, kadang ia menelpon café ini hanya untuk bertanya apakah ada meja kosong di dekat jendela atau tidak. Dan ketika aku menjawab ‘ya’, nada suaranya akan berubah menjadi lebih ceria.

Pemuda di sampingku tersenyum cerah. Tatapannya hanya tertuju pada gadis yang kini tengah memandang keluar, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dengan gaya fashion mereka yang berbeda-beda. Winwin—pemuda itu kini memandangku, seolah ingin mengatakan sesuatu. Aku hanya terkekeh pelan. Tanpa perlu ia katakan, aku sudah mengetahui maksud dari tatapannya tersebut.

Dalam hitungan detik, Winwin melangkahkan kakinya menghampiri gadis itu—pelanggan tetap café kami. Aku—dan Winwin—tentunya tahu benar apa yang akan ia pesan. Coffee macchiato dengan tambahan caramel dan sepotong cappuccino cheese cake. Aku tahu karena memang akulah yang bekerja sebagai koki sekaligus manajer di café ini. Winwin tahu karena dialah yang selalu melayani pesanan gadis tersebut.

Kalian tahu, senyum menawan seorang pemuda asal China itu mungkin mampu membuat semua gadis yang ada di café ini bertekuk lutut di hadapannya. Namun, pada kenyataannya, senyum menawannya hanya diperlihatkan kepada satu orang. Dan dia adalah gadis yang kuketahui bernama Moon Sui.

Tak perlu banyak rangkaian kata untuk mengatakan apa yang tengah dialami pemuda bersurai legam tersebut. Jatuh cinta. Ya, pemuda itu jatuh cinta. Sesederhana itu.

.

.

.

Winwin adalah pria tertampan—setelah aku tentunya—sekaligus terbodoh yang pernah aku temui. Winwin mendekati seorang gadis tanpa tahu siapa namanya, atau—minimal—apa marganya. Jika kalian melihatnya, maka kalian akan sependapat denganku bahwa he looks like a stalker. Tersenyum jika pandangan mereka bersirobok. Kembali ke kasir, lalu mencuri-curi pandang ke arah gadis itu sambil menopang dagunya dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya yang bebas memainkan kain lap yang berada tak jauh darinya.

Secara otomatis aku merapatkan tubuhku dengan tubuhnya, meminimalisir jarak di antara kami. Kudekatkan wajahku, lalu membisikkan sesuatu ke arahnya, “Apa kau tidak ingin mengenalnya?”

Kepala Winwin tersentak ke belakang, tangan kanannya yang semula ia gunakan untuk menopang dagu serta tangan kirinya yang sejak tadi memainkan lap, kini beralih menutup wajahnya yang tampan. Malu. Sementara aku hanya tertawa, dan tanganku terangkat menepuk-nepuk pundaknya yang kini bisa kurasakan sedikit gemetar. Gugup.

Akhirnya, aku memberi tahu semua identitas si gadis, mulai dari marga hingga hobinya sebelum Winwin bertanya, “Hyung, tahu dari mana?” dan aku hanya menjawab, “She is my sister, Winwin. Sorry, I didn’t tell you first!”

Winwin menurunkan kepalanya, merenggangkan jemarinya. Kedua bola matanya yang cemerlang mengintip dari sela-sela jemari yang menutupi wajah.

Kupikir awalnya Winwin akan menjawab seperti, “Mengapa Hyung tidak memberitahuku?” atau reaksi semacam ia memprotes karena aku tak pernah mengatakan sejak awal. Namun respon yang Winwin berikan hanya, “Sui… it means happiness, right?

Hanya itu. Lurus. Polos. Murni. Tanpa alasan. Tanpa tendensi.

Dan sekali lagi, kata cinta sudah mulai bekerja dalam fungsi otaknya.

.

.

.

Hyung.” Suara manis Winwin kembali tedengar setelah beberapa saat—hanya sesaat—menghilang dan hanya menyisakan keheningan yang begitu sepi.

Hm?” Aku hanya menjawab seadanya tanpa melihat ke arah Winwin.

“Taeil Hyung!” Winwin berseru seraya menarik-narik lengan kemeja yang kukenakan. Winwin membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun tidak ada kata yang bisa keluar, membuat pemuda itu mengatupkan mulutnya. Kemudian membukanya lagi, lalu mengatupkannya kembali.

Dengan sabar dan perlahan aku mencoba menuntunnya untuk mengucapkan apa yang ia inginkan. “Iya Winwin, ada apa?”

Pemuda itu menghela napas, “Ia minta coffee dan pie apel. Bisakah Hyung membuatkannya untukku? You know I can make it. But, please make it perfect for me.” pintanya pelan. Dan jelas, permintaannya kali ini ditunjukkan untuk Sui.

“Untuk Sui?”

Tanpa kata, Winwin hanya mengangguk malu.

“Winwin, listen to me. This is your first time to serve her with your own dishes. Let’s make it perfect, with your love, get it? Let your love lead the way.” Aku menepuk-nepuk bahunya, memberinya dorongan dan keberanian.

Ia tersenyum kecil, “Okay, thank you, Hyung. You’re the best hyung and boss in the whole world.

.

.

.

Sui hanya membalas pemberian kopi itu dengan sebuah senyum kecil, dan Winwin pun membalasnya dengan anggukan pelan. Tak lupa menyisipkan senyum manis. Meski tak terkatakan, aku tahu senyum dan anggukan kecil itu adalah ucapan saling berterimakasih antara mereka berdua. Ucapan yang sebatas ‘terima kasih’ dan ‘sama-sama’ tersebut hanya tertuang dalam reaksi kecil mereka.

Aku tahu karena aku pernah ikut merasakan. Sedikit senyum malu-malu, lalu anggukan singkat tanpa bertatap muka—karena kami tahu ada rona merah yang berusaha disembunyikan. Kemudian memaksakan diri untuk saling menyapa meski hati terasa segan. Dan berlanjutlah kejadian-kejadian hingga ke tahap berikutnya. Hingga ada sebuah cincin platinum yang tersemat di jari manisku dan jari manisnya, kekasihku—Han Jisun.

Perantara dari semua hal kecil memalukan itu hanya satu, coffee. Dan kopi adalah cinta di dalam gelas—yang mewakili setiap perasaan masing-masing.

-fin

Advertisements

5 thoughts on “[Ficlet] Coffee For Love

  1. Jadi pengin punya kakak ipar kayak mbah, baik, perhatian, jarang2 lho ada kakak yg baik sama orang yg naksir adeknya. Mbah punya adek cowok gak mbah?sini mbah kenalin sama mel, biar amel gebet//ditendang XD

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s