[NCTFFI Freelance] Suaranada Senja (Chapter 2)

Suaranada Senja#2

Angestita

Mark NCT – Nada (OC)

PG – 13 II AU – HGTG – Romance

Chaptered

FF ini ditulis untuk menghibur. Tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan para tokoh. Tidak berniat untuk mengambil keuntungan dari penulisan ini. Tidak mencontoh karya penulis lainnya dan harap anda bisa melakukan hal yang sama.

2

(Mark POV)

Setelah selesai kelas terakhir, aku dan beberapa teman satu kelas memutuskan untuk mampir ke sekre Mapala. Kita memang ingin ikut bergabung di UKM ini. Alasanku memilik Mapala adalah karena aku tidak perlu menggunakan otakku terlalu keras untuk berfikir.

Selesai mengurus pendaftaran anggota baru Mapala. Kami menyempatkan mampir di salah satu café hingga senja muncul. Menghabiskan satu dua cangkit kopi pahit dan beberapa potong cake membuatku bosan dan memutuskan untuk pulang.

Niat awal memang ingin pulang tapi ditengah jalan ada kejadian menarik. Saat itu masih lampu merah. Sembari menunggu lampu berubah menjadi hijau aku mengamati sekitar. Dari situlah mataku menangkap pemandangan yang menarik.

Di ujung sana tidak jauh dari perempatan. Seseorang tengah berjalan sembari mendorong motor maticnya. Roda belakang motor itu kempis dan pastinya tidak bisa dinaiki. Mendorong kendaraan roda dua itu adalah salah satu cara yang tepat agar bisa sampai bengkel motor. Ditengah keramaian dan kesibukan kota pemandangan demikian terlihat sangat kontras. Samasekali tidak ada orang yang peduli. Padahal hari mulai gelap.

Lampu berubah hijau. Memaksaku melajukan mobil dengan pelan melewati orang itu. Ini kali pertama aku menemui kejadian seperti ini dan hatiku dengan mudah tergerak untuk membantu orang tadi. Tapi kenangan kemarin masih membekas dibenaknya. Siapasih yang tidak sebal setengah mati dimarahi dihari pertama sekolah karena masalah terlambat setengah jam masuk kelas?

Barang sebentar aku menimbang keputusan yang aku ambil sembari menepikan mobil dan mencari tempat berhenti yang tepat. Di otakku ada dua pilihan berat. Menolong atau tidak. Dan pilihan pertama membuatku tergerak untuk segera turun  dari mobil.

Dia masih jauh dari tempatku berdiri dan aku tidak berniat menghampirinya. Biarkan saja dia lewat terlebih dahulu baru aku tawarkan bantuan. Sembari menunggu aku diam-diam melihat ke arahnya. Wajahnya yang putih terlihat lusuh dan berkeringat mempertegas bahwa sebenarnya dia sudah lelah membawa motor itu pulang kerumah atau bengkel.

Ketika jarak kita hanya dua atau tiga langkah saja. Dia terlihat terkejut menadapati keberadaanku. Aku mencoba tersenyum kecil. “Rodanya kenapa, bu?’ tanyaku mencoba sopan.

Masabodohlah dengan kejadian buruk kemarin. Toh, itu aku yang salah.

Wanita itu menghentikan jalannya di tepi jalan. Dia terlihat tersenyum canggung, “Kempis terkena paku di jalan tadi.” Jawabnya lirih.

Aku mengangguk, berjalan mendekati dia sembari menatap roda motor yang kempis itu. Memang ada bekas paku menancap dipermukaan ban roda. “Ini harus diganti semuanya.” Gumamku tanpa sadar.

“Iya, harus diganti tapi daritadi nggak ada bengkel buka.” Jawab wanita itu putus asa.

Dalam hati aku membenarkan ucapan wanita ini. Bengkel dijam sesore ini memang jarang ada yang masih buka.

 “Rumah ibu masih jauh?” tanyaku lagi ketika keheningan menyelimuti kita.

Aku melihat dia mengangguk pelan, “Sekitar dua km lagi darisini.” Jawabnya.

Berjalan dua km dengan mendorong motor dan membawa ransel kerja seperti ini kayaknya bukan pilihan yang bagus. Bisa-bisa sampai rumah remuk tubuhnya. Besok masih ada jam masuk kampus lagi.

“Coba saya lihat didepan sana masih ada bengkel yang buka atau tidak. Ibu lebih baik duduk di pos itu sembari menunggu.” Aku mencoba mengusulkan sebuah bantuan yang masih logis.

Wanita itu memandang ke arahku ragu, mungkin dia takut aku membohonginya. Astaga, manamungkin aku bohong dengan dosenku sendiri? Aku masih waras ya! Bagaimanapun juga aku masih punya hati untuk menolong orang yang kesusahan.

“Ibu percaya saja dengan saya.” Tegasku lagi. Aku pergi setelah memastikan dia menunggu dengan benar di pos yang aku tunjuk tadi.

Aku pergi mengecek ke adaan sekitar sepuluh menit. Di depan sana sekitar satu setengah km dari sini ada bengkel yang masih buka dan aku sudah meminta tolong kebapak-bapaknya untuk membenarkan motor milik dosenku.

“Ini harus ditinggal semalam di bengkel. Rusaknya parah, besok pagi baru bisa diambil.” Kata bapak-bapak itu ketika melihat kondisi motor milik dia.

Wajah miliknya terlihat semakin keruh, tampak jelas dia bimbang ingin meninggalkan motornya atau tidak. Aku menarik tangannya pelan mencoba menjauhi bapak-bapak tersebut. Dia tentu saja sedikit terkejut. Ini untuk kali pertama kami bersentuhan dan rasanya dingin. Sedingin cuaca disekitar kami.

“Saya sarankan ibu meninggalkan saja motornya di bengkel bapak-bapak itu. Lagipula, ibu tidak ingin mendorong sampai rumahkan?” tanyaku memastikan keputusannya nanti.

“Saya takut motor saya hilang.” Jawabnya lirih.

Mendengar jawaban itu aku hanya mendengus pelan. Dasar wanita kuno. “Jangan berpikiran buruk terhadap orang, bu.” Aku mencoba menegur sikap kekanak-kanakkannya. Raut mukanya berubah semakin asam setelah aku melontarkan ucapan tadi.

“Saya bukannya tidak percaya dengan dia. Tapi saya hanya waspada saja.” Bantah wanita itu tegas. Jadi selain memliki sifat galak dan kekanak-kanakkan, wanita ini ternyata keras kepala. Ini kali pertama aku menghadapi wanita seperti yang ada dihadapanku.

Aku menghela nafas lelah, “Jadi mau ibu bagaimana sekarang?” tanyaku pada akhirnya. Ada perasaan jengkel yang tersirat didalam hati. Sekalipun rasanya hanya secuil. Tapi jika masalah ini tidak segera diselesaikan, tidak ada yang bisa menjamin tidak akan terjadi adu mulut diantara kita.

Wanita itu terdiam cukup lama sebelum menghampiri bapak-bapak yang sedari tadi menunggu kita. “Ya sudah pak. Motor saya bawa bapak saja. Besok saya ambil di bengkel bapak.” Ucapnya dengan sedih, akhirnya dia membuat keputusan yang rasional.

Aku hanya mampu mendengus lega. Setelah menyerahkan kunci motor dan motor itu dibawa pergi oleh bapak-bapak tadi. Kita kembali terdiam dengan pandangan mata menatap lalu lintas yang masih ramai. Tiba-tiba suasana canggung menggigit jarak diantara kami.

Sebenarnya, aku ingin pulang sekarang tapi aku tidak sampai hati membiarkan wanita ini pulang jalan kaki sendiri. Aku tidak bisa membiarkan wanita berada dalam posisi yang susah. Maka aku beranikan diri menawarkan bantuan pulang.

 “Tapi, apa kamu baik-baik saja?” tanyanya ragu-ragu. Aku hanya mengangguk lelah. Ayolah ini sudah malam dan aku tidak ingin menanggung resiko mengantar seorang wanita pulang larut malam. “Baiklah… antar sampai gangnya saja.” Pinta wanita itu ketika kita memasuki mobil.

“Saya akan antar sampai rumah ibu saja. Ini sudah malam. Tidak baik untuk perempuan berjalan seorang diri.” Tolakku sopan. Samasekali tidak berniat apapun tapi sepertinya berbeda dengan dirinya. Ucapanku membuat rona wajahnya berubah menjadi merah muda.

Entah mengapa aku ingin tersenyum, lucu sekali melihat wanita yang usianya jauh diatasmu merona karena perkataan yang sederhana. “Rumah ibu yang sebelah mana?” tanyaku ketika mobil yang aku kendarai sudah memasuki gang perumahannya.

“Disebelah kiri, rumah nomer 08 yang warna merah.” Balasnya pelan

Aku memarkirkan mobil di sebuah rumah dengan taman kecil yang dirawat dengan rapi. Rumah itu terlihat minimalis namun elegan. “Kamu nggak mau mampir? Saya buatkan jus dulu.” Ajak dia dengan nada malu-malu.

Aku hanya tersenyum lembut dan menggeleng pelan. Mungkin lain kali aku akan mampir. Yang pasti tidak sekarang. Ini sudah malam hari dan mampir di rumah wanita, bukan pilihan bagus. Walaupun dia dosenku, aku masih punya sopan santun.

“Oh, okey. Makasih atas bantuannya, Mark Lee.”

“Sama-sama…”

“Namaku Suaranada Senja.” Potongnya ketika aku menggantungkan ucapanku tadi. Iya, aku belum tahu siapa namanya dan ketika mendengarnya mengatakan namanya secara langsung membuatku tersenyum lebar.

“Nama panggilan?”

“Nada.” Jawabnya pelan “Oh, ya. Jangan panggil saya ibu kalau diluar kampus. Panggil kakak saja nggak papa. Selisih kita nggak sampai sepuluh tahun.” Ungkap wanita itu. “Sekali lagi makasih Mark Lee.”

Dan dia pergi meninggalkan hatiku yang berdebar dengan sendirinya.

2

Malam ini tepat pukul sepuluh malam aku menyelesaikan tugas kuliah. Sejenak aku menghabiskan sisa waktuku dengan berdiri di balkon kamar. Sekedar untuk melihat mahakarya Tuhan nan elok bernama bulan dan bintang. Namun tak kutemui salah satu diantara mereka disana. Langit tampaknya sedang bersedih. Sayang sekali perasaan alam dan manusia kadang tak selalu beriringan.

Ruang kamarku terlepas dari bagian rumah utama. Terletak dibagian tengah dan diatas bar. Sederhananya kamarku jauh dari jangkauan orang rumah. Jadi apabila malam tiba, suasana semakin sepi dan senyap. Tidak ada suara siaran televise hanya sesekali terdengar percakapan orang-orang dibawah. Tapi itu tadi ketika jam menjukkan pukul delapan malam. Di jam semalam ini, semua orang pasti sudah ada diatas pembaringan.

Tapi sayang itu tidak berlaku untukku. Nyatanya berada di balkon kamar lebih membuat nyaman daripada diatas pembaringan. Aku tidak pernah merasa tidur adalah hal yang paling enak tapi bukan berarti tidak enak juga. Semua orang butuh tidur seperti halnya aku. Hanya saja aku ingin menutup malam dengan kesendirian yang lebih lama.

Ini bukan kali pertama. Sudah berkali-kali.Bertahun-tahun. Dan selama itu tak ada seorangpun yang menegurku. Mungkin mereka tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu. Bagiku perhatian mereka bukan hal yang penting. Setiap orang punya kesibukan masing-masing. Aku pun tidak jauh berbeda. Aku fikir ini bukan masalah yang besar. Sayangnya yang terjadi tidak semulus itu.

Kenyataannya beberapa masalah memperlukan banyak perhatian dari orang-orang terdekat. Membutuhkan banyak support dan saran. Hal sederhana yang kerap dilupakan oleh orang-orang. Mereka terlanjur berfikir bahwa ‘dia mampu mengatasinya’. Andaipun begitu akan lebih mudah menjalaninya apabila ada dukungan dari orang terdekat ‘kan?

Sayangnya tidak pernah kutemukan tempat dimana ada perhatian yang cukup diberikan kepadaku. Baik dalam pelukan papa ataupun mommy. Tidak ada tempat yang membuatku benar-benar ingin bertahan disana. Mungkin belum aku temukan tempat yang sebenarnya. Dan selama itu aku hanya melampiaskan dengan berteman dalam sepi. Karena sepi adalah sahabat yang tidak pernah meninggalkan kita.

Sebahagia-bahagianya hidup persentasi kesepian lebih banyak jumlahnya.

Dari situlah aku mulai mencari-cari tempat yang tepat. Beberapa orang datang bergantian memberi kenangan dan kesempatan. Yang bersambut perasaan hampa yang kian ada.

Hingga kakiku berpijak di kota ini. Semuanya tetap sama. Tapi aku berharap setidaknya disinilah tempat aku menghabiskan banyak hal berharga. Karena sebenarnya aku lelah. Lelah menghadapi orang-orang baru.

Namun tak semua orang baru tampak menjengkelkan. Ada orang-orang baru yang tetap berkesan. Mungkin dari mereka perasaan kesepianku akan terobati. Dari waktu yang akan kami habiskan nanti. Dan semoga disini kutemukan jawabanku.

Jeno, Haechan, Jaemin teman-teman satu kelasku,

Dan satu orang asing yang mampu membuatku tersenyum. Si wanita galak yang kekanak-kanakkan dank eras kepala. Dosen mudaku, Suaranada Senja.

Semoga kalian bisa menjadi hal yang akan aku ingat.

Pukul sebelas lewat sebelas menit. Aku memutuskan untuk berbaring. Kusudahi waktu kesendirianku. Aku harus segera tidur agar besok tidak terlambat ke kampus.

Agar tidak dimarahi oleh dosen lagi. Ayolah, cukup sekali saja dimarahi dosen. Aku bukan kerbau yang mengulangi hal yang sama. Jadi, selamat malam masa depan, dimanapun kamu berada…

2

TBC

Advertisements

2 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Suaranada Senja (Chapter 2)

  1. Wah Mark perhatian banget sampe dianterin ke bengkel segala 😀 Aku suka banget setiap paragraf di bagian ke 2, banyak motivasinya meskipun masih banyak kata-kata yg nggak sesuai EYD tapi its oke lah :’v Terus ini ada bau-bau falling in love si Mark muehehehehe, ga papa lah biar kayak Yuni & Rafi /plakk

    Semangat nulisnya kak ^^ Ditunggu kelanjutannya ❤ ❤ ❤

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s