[NCTFFI Freelance] Late April Mop (Oneshot)

LATE APRIL MOP

(NCT Freelance)

By : ElHwang

Main Cast :
1. Huang Renjun
2. Hwang Jiyoung

Genre :  Romance

Lenght : Oneshot

“Ah…molla. Pokoknya kau yang harus mengalah padaku.” Kata seorang yeoja dengan melipatkan tangannya di depan dada.

” Ya! Kau saja. Aku dulu yang melihat kursi ini.” Kata seorang namja yang tak mau mengalah juga.

” Apa kau tak tau istilah ladies first? Intinya kau harus mengalah pada yeoja.” Yeoja ini meninggikan suaranya.

Hwang Jiyoung dan Huang Renjun…2 orang ini memang sepertinya tak akan pernah bisa akur. Masalah sekecil apapun akan mereka perebutkan. Seperti pagi ini…mereka berdua berebut kursi paling depan.

” Ya! Jiyoung-ssi! Singkirkan tasmu dari kursi ini.”  Si pemuda Huang berusaha memindahkan tas milik Hwang Jiyoung.

” Sudah kubilang berapa kali padamu Huang Renjun? Ini kursiku. Kau yang seorang namja harus mengalah padaku.”

“Cih…aku tak peduli kau yeoja apa bukan. Cepat minggir!”

“Ya! Ya! Bukankah kalian berdua dapat duduk bersama? Kenapa harus ribut seperti ini, eoh? Tinggal duduk berdua saja apa susahnya?” Kata Kim Yejin yang terlihat jengah karena pertengkaran yang sangat tidak penting ini.

“ANDWE!!!” Hwang Jiyoung dan Huang Renjun berteriak bersamaan.

“Melihat namja ini saja aku sudah muak. Bagaimana aku harus duduk dengannya? Ini sangat tidak lucu!” Kata Jiyoung sambil mengalihkan pandangannya.

Si pemuda Huang pun tak mau kalah. Lantas ia menjawab perkataan Jiyoung.

” Kau pikir aku lelucon? Sudahlah bukan ide buruk jika kita duduk bersama daripada bertengkar seperti ini. Aku sudah bosan bertengkar denganmu. Dasar cerewet!” Si pemuda Huang ini pun segera membuang tas Jiyoung dengan sembarangan dan segera duduk di kursinya.

“Ya!!! Apa yang kau lakukan, eoh? Dasar namja tak tau diri!” Jiyoung berteriak dengan marah.

Tak terasa bel masuk pun berbunyi dan Lee seongsaengnim pun masuk ke kelas.

” Ada apa ini? Sepertinya kalian berdua bertengkar lagi.” Kata Lee seongsaengnim sambil memandang dua insan yang menjadi tersangka keributan kelas pagi ini.

” Namja itu mengambil kursiku.” Kata Jiyoung dengan nada yang agak pelan tetapi masih dapat didengar oleh Renjun.

“Mwo? Aku mengambil kursimu? Enak saja. Kau yang mengambilnya.” Balas Renjun.

” Sudah, sudah. Jiyoung-ah, kau duduk saja dengan Renjun.” Lee seongsaengnim berusaha menengahi mereka berdua.

” Tapi seongsaengnim…” Jiyoung berusaha menampilkan wajah sesedih mungkin.

” Tak ada tapi – tapi. Cepat duduk! Aku akan membagikan nilai ulangan biologi kalian.” Kata Lee seongsaengnim dengan tegas lalu segera berjalan menuju mejanya.

Sedangkan Hwang Jiyoung tampak sangat terpaksa duduk dengan Renjun. Ia menaruh tasnya dengan kasar lalu menaruh kepalanya di atas meja dengan posisi membuang muka dari Renjun.

” Hei, sudahlah…kenapa kau harus marah? Duduk denganku bukanlah sesuatu yang buruk juga kan?” Kata Renjun dengan suara yang pelan. Nyaris seperti membisikkan sesuatu pada Jiyoung.

Jiyoung’s Pov

” Hei, sudahlah…kenapa kau harus marah? Duduk denganku bukanlah sesuatu yang buruk juga kan?”

Aku mendengar Renjun berbicara. Apa katanya? Bukan sesuatu yang buruk? Bagiku ini sangat buruk. Tentu saja karena dia seseorang yang dulu kusukai. Tapi sejak dia menyukai yeoja lain, aku pun berusaha untuk tak menyukainya lagi dan malah berusaha menjauhinya.

” Apa katamu? Bukan sesuatu yang buruk kau bilang? Aku sangat tidak ingin berurusan denganmu. Sudah cukup waktu itu kau melempar bola basketmu mengenai kepalaku. Jika kau memang dendam padaku katakan saja!”  Kataku

” Siapa yang dendam padamu? Bukankah waktu itu sudah kukatakan padamu jika aku tak sengaja dan juga…bukankah aku sudah meminta maaf padamu?” Renjun menatapku dengan intens.

Jujur…selama ini sebenarnya aku masih menyukainya. Tapi ketika mengingat dia menyukai Yoon Hana membuatku kembali sakit hati.

Flashback

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah dengan memegang sebuah surat. Ya…hari ini aku akan berusaha mengungkapkan perasaanku pada Renjun. Meskipun aku yeoja…tapi tak apa. Aku tetap akan berusaha. Jika aku tak mengatakannya sekarang, selamanya dia tidak akan tau perasaanku padanya. Aku sudah memiliki tekad yang kuat untuk menyatakan perasaanku ini padanya. Aku mencari – carinya dari tadi. Kemana dia? Ketika netraku melihat ke area taman sekolah, aku melihat Renjun. Tak sengaja ia pun menolehkan kepalanya kearahku sehingga tatapan kami bertemu. Ia tersenyum kearahku dan aku pun membalasnya. Ia menghampiriku..jantungku berdegup dengan kencang….

“Renjun-ssi!”

“Jiyoung-ssi!”

Kami berbicara bersamaan.

“Ada apa Renjun-ssi?” Aku bertanya padanya. Mungkin ada yang ingin dia sampaikan padaku.

“Ani, kau saja yang duluan berbicara.”

“Ani, ani…kau saja.” Aku menyuruhnya untuk berbicara dulu…mungkin ada hal penting yang ingin ia bicarakan.

“Baiklah. Apa kau kenal Yoon Hana? Kulihat kemarin kau berbicara dengannya di perpustakaan.” Aku mengernyit mendengar pertanyaan Renjun. Untuk apa dia bertanya tentang Yoon Hana? Aku tidak terlalu mengenalnya sih…kemarin saja aku kebetulan membantunya mencari buku.

“Memangnya ada apa kau mencari Yoon Hana?” Tanyaku pada Renjun. Segera kusembunyikan surat cinta yang akan kuberikan pada Renjun kebelakang tubuhku.

“Ah itu…aku akan memberitahumu tapi jangan kau katakan pada siapapun ya.” Kata Renjun dan aku pun hanya menganggukkan kepalaku.

“Baiklah…begini, sebenarnya aku menyukai Yoon Hana. Karena kemarin kulihat kau dekat dengan Yoon Hana, maka aku ingin bertanya – tanya tentangnya padamu.” Kata Renjun sambil tersenyum.

Seketika aku merasa duniaku runtuh. Bagaimana bisa Renjun menyukai Yoon Hana? Lalu bagaimana dengan perasaanku?

” Mi..mianhe..sebenarnya aku tak terlalu mengenal Yoon Hana.Kebetulan kemarin ia memintaku untuk membantunya mencari buku di perpustakaan.” Jawabku.

Aku ingin segera pergi dari hadapannya karena saat ini mataku sudah berkaca – kaca. Aku tak mau Renjun tau bahwa aku sebenarnya akan menyatakan perasaanku padanya. IA TIDAK BOLEH TAU!

“Ah..ya sudah jika kau tidak terlalu mengenalnya.” Kata Renjun. Ada gurat kecewa yang kulihat dari wajahnya.

“Baiklah…aku pergi dulu ya.” Kataku. Aku langsung berbalik dan meninggalkan Renjun sambil meremas surat yang ada di tanganku ini.

@@@

Sejak saat itu aku berusaha tidak pernah menyapa Renjun lagi. Aku selalu menghindar darinya. Pernah suatu saat ia menyapaku…aku tetap diam saja dan segera pergi darinya. Dan suatu hari saat kejadian itu terjadi…

Flashback

Aku berjalan menuju lapangan bola basket. Kudengar dari Haeyoung, Renjun sedang bermain bola basket di lapangan. Tentu saja aku ingin melihatnya. Bagaimana pun meskipun ia menyukai Yoon Hana, aku masih menyukainya.

Aku duduk di kursi penonton. Aku duduk paling belakang agar Renjun tak melihatku. Renjun semakin keren ketika ia berhasil memasukkan bola ke ring basket. Aku ikut tersenyum melihat ia tersenyum bahagia. Tetapi kulihat Yoon Hana berjalan ke tengah lapangan dan memberikan sebotol air mineral pada Renjun. Seketika senyumku menghilang dari wajahku. Kenapa Yoon Hana harus ada di sini? Kulihat Renjun semakin tersenyum bahagia ketika melihat kedatangan Hana.

Percuma aku ada di sini. Percuma aku menyukai Renjun jika Renjun saja menyukai Hana. Aku bahkan tak berarti apa – apa baginya. Kulihat ke tengah lapangan, Renjun sudah mulai bermain lagi dan Hana menyemangatinya di pinggir lapangan. Aku semakin muak. Cukup sudah…

Aku berdiri dan berniat meninggalkan lapangan basket ini.

“Hwang Jiyoung!”

Kudengar seseorang memanggilku dan membuatku menoleh. Kulihat Hana melambai – lambaikan tangannya padaku. Aku segera memasang wajah normal dan menghampirinya. Sebenarnya aku malas untuk ke sana. Aku malas untuk melihat Renjun dengan Hana.

“Waeyo Hana-ssi?”

“Ah..tidak apa – apa. Aku hanya memanggilmu. Ngomong – ngomong, apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Hana padaku dengan senyum mengembang di wajahnya.

“Aku hanya sedang ingin menonton basket sebentar saja sebelum pulang.” Jawabku.

“Oooh begitu. Ya sudah,ayo kita nonton bersama! Tapi kulihat, tadi kau mau pulang ya?” Tanya Hana.

” Ne, aku mau pu…”

“JIYOUNG -SSI AWAS!!!!”

Belum aku menyelesaikan perkataanku. Aku segera menoleh dan segera saja sebuah bola basket menghantam kepalaku. Aku jatuh tersungkur dan kulihat semua orang datang menghampiriku.

“Gwaenchanhayo Jiyoung – ssi? Mianhe..aku tak sengaja.” Renjun mengulurkan tangannya padaku untuk membantuku berdiri. Jantungku jadi berdegup kencang. Kepalaku yang tadinya sakit menjadi mati rasa. Aku segera bangun sendiri tanpa mau dibantu Renjun.

“Jadi, kau yang melempar bola itu, Renjun – ssi?” Aku berusaha untuk tak gugup di depan Renjun karena di sini ada Hana.

“Ne..mianhe Jiyoung – ssi. Jeongmal mianhe.” Kata Renjun tampak bersalah.

“Ah…molla molla. Aku marah padamu!” Kataku lalu segera berbalik untuk meninggalkan Renjun. Aku berpikir, mungkin ini salah satu cara untuk menghentikan perasaanku padanya dengan cara membencinya. Aku sudah muak melihatnya dengan Hana.

“Jiyoung – ssi! Mianhe.”

Aku mendengar Renjun berteriak memanggilku. Aku tetap berjalan meskipun berat untuk tak menoleh. Jujur, saat ini aku ingin berlari dan memeluknya sambil mengatakan aku baik – baik saja. Tapi tak boleh…aku tak boleh melakukannya.

” Jiyoung – ssi!” Aku mendengar Renjun terus berteriak memanggilku dan ia ternyata mengejarku.

“Mianhe Jiyoung – ssi! Aku benar – benar tak sengaja.” Renjun terlihat sangat merasa bersalah. Jangan Renjun! Jangan menunjukkan wajah itu padaku!

” Lagipula kau pasti baik – baik saja kan. Hanya terkena bola sedikit saja tidak akan memengaruhi kepalamu kan.” Renjun tersenyum bercanda. Kau kira aku lelucon, Renjun? Kukira kau benar – benar merasa bersalah.

“Cukup! Aku tak mau mendengar permintaan maafmu. Mulai sekarang, jangan bicara lagi padaku lagi.” Aku benar – benar berbalik dan meninggalkannya.

Flashback End

@@@

Aku selalu mengacuhkannya mulai saat itu. Tetapi ia jadi sering datang menghampiriku dan berusaha membantuku.

Flashback

“Annyeonghaseo Jiyoung – ssi!”

Aku segera menoleh pada Renjun yang memanggilku. Sudah seminggu ini ia selalu menghampiriku. Entah hanya berbasa basi atau bertanya sesuatu padaku meskipun pada akhirnya hanya kuacuhkan.

” Ya! Jiyoung – ssi! ” ia mengguncang – guncang pundakku.

“Waeyo? Bukankah sudah kukatakan padamu jika aku tak mau berbicara lagi denganmu?” Kataku dengan tak menatapnya sama sekali

“Ish…kau ini kenapa sih? Apa karena kepalamu terbentur bola basket kau jadi berubah seperti ini?” Tanya Renjun dengan wajah bercandanya.

“Aku tak apa – apa. Sudahlah, sana minggir. Aku bosan melihatmu terus.” Jawabku

” Bosan? Kau bosan melihat wajah tampanku ini? Aneh sekali.” Ei….terlalu percaya diri sekali namja itu.

” Ish..percaya diri sekali.” Jawabku dan Renjun  tertawa.

“Tapi kau mengakui kan jika aku tampan?” Tanya Renjun. Aku menoleh sekilas padanya dan kembali melanjutkan acara membacaku.

” Ya! Jawab aku!” Kata Renjun

“Untuk apa aku menjawab pertanyaan konyolmu itu? Dasar tidak penting!”

“Dasar yeoja aneh!” Ia balas mengataiku. Apa dia bilang? Yeoja aneh? Awas kau! Aku menutup bukuku dan memukulannya pada kepalanya.

“Ya! Ya! Ini sakit! Ish…yeoja ini.” Renjun memegang kepalanya kesakitan. Biar saja.

“Hanya dipukul buku begitu saja sakit. Kepalamu pasti baik – baik saja kan.” Aku meniru perkataannya saat ia tidak sengaja melempar bola basketnya itu mengenai kepalaku.

” Enak saja kau bilang baik – baik saja. Ini sakit!” Katanya.

“Sudahlah…jangan berlebihan begitu. Kau tidak lupa ingatan kan?” Kataku sambil tertawa lalu meninggalkannya.

” Ya! Jiyoung – ssi! Ish… dasar yeoja itu…” aku mendengarnya mengumpatku. Biar saja. Aku tak peduli.

Sejak saat itu, aku menjadi sering bertengkar dengannya. Bukan bertengkar sih sebenarnya tapi ribut.

“Ahjumma, aku pesan ramyunnya satu ya.” Aku berkata pada Ahn ahjumma.

“Aku juga mau ramyun, ahjumma. Aku pesan satu dan yeoja ini yang akan membayarnya.” Aku langsung menoleh mendengar suara Renjun.

“Ya! Enak saja. Bayar sendiri!” Kataku sambil memukulinya dengan tanganku.

“A..a…sakit! Dasar yeoja! Suka sekali memukul.” Katanya

“Biar saja. Dasar namja aneh!” Aku balas mengatainya.

“Ish…ya sudah. Jangan lupa bayar ramyunku ya. Aku tunggu di sana.” Ia segera meninggalkanku dan berjalan dengan santainya. Akhirnya dengan terpaksa aku membayar ramyunnya juga.

Flashback End

@@@

Jadi begitulah…awal dari aku dan Renjun menjadi sering saling mengatai seperti ini.

Aku melihat jam yang melingkar di tanganku. Kenapa pelajaran ini terasa lama sekali, eoh?

“Ya! Jiyoung – ssi!” Aku menoleh mendengar suara Renjun yang berbisik memanggilku.

“Mwo?”

Ia lalu memberiku kertas yang sudah ia tulisi sesuatu. Aku membukanya.

DASAR JELEK ㅋㅋㅋㅋㅋ:P

Kurang ajar…dia mengataiku jelek. Langsung kuremas kertas itu dan aku kembali mendengarkan pelajaran.

“Dasar yeoja jelek!” Ia berbisik kepadaku.

“Ish…kau juga jelek. Jangan mengataiku jelek.”

” Ngomong – ngomong, apa itu di wajahmu? ” ia menatapku intens.

“Apa? Memangnya ada apa di wajahku?” Tanyaku sambil memegang wajahku.

“Itu di pipimu.” Katanya sambil menunjuk pipiku.

“Ada apa di pipiku?” Tanyaku.

“Itu…”

“Iya…ada apa?” aku menjadi bingung sendiri. Sebenarnya ada apa di wajahku.

“April mop. Hahahahaha kau tertipu.”

Kurang ajar!!!! Aku sudah tertipu olehnya.

Kringgggg

Tiba – tiba jam istirahat berbunyi. Aku segera berdiri dan mencoret wajah Renjun dengan spidol hitam lalu aku segera berlari meninggalkannya.

Aku tertawa…mungkin saat ini ia mengejarku untuk membalasku. Biar saja. Hahahaha

@@@

Hari ini aku masuk sekolah seperti biasa. Aku menunggu bus di halte. Aku memakai earphoneku dan menyalakan lagu.

“DOR!!!”

“Huaaaa!!!!” aku berteriak

Renjun mengagetiku. Hampir saja aku melempar ponsel yang ada di tanganku ini.

“Hahahaha kau kaget.” Ia tertawa terbahak – bahak. “Aku tak menyangka yeoja sepertimu bisa kaget juga.” Ia tertawa bahagia.

Tiba – tiba sebuah ide jahil terlintas di kepalaku.

” Huang Renjun!” Aku memanggil namanya dengan lembut. Ia menghentikan tawanya dan menoleh ke arahku.

“Mwo?”

“Ada yang ingin kukatakan padamu.” Aku menundukkan kepalaku.

“Ada apa? Kau ingin mengatakan apa?” Ia menatapku intens

“Sebenarnya…aku menyukaimu. Sudah lama aku menyukaimu. Maukah kau jadi namjachinguku?” Aku melihat wajahnya. Ia nampak kaget dengan pertanyaanku.

“Hahahahaha!!! April mop! Kena kau!!!” Aku tertawa terbahak – bahak. Reaksi wajahnya sungguh lucu.

“Hahahaha kau percaya ya? Hahaha aku tak menyangka.” Aku terus tertawa sampai hampir menangis.

“Jiyoung – ah.” Tiba – tiba ia memanggilku dengan akrab. Kenapa tiba – tiba…

“Aku tak menganggap pertanyaanmu barusan sebagai lelucon. Lagipula april mop sudah berlalu. Aku akan menjawab pertanyaanmu. Ne…aku mau jadi namjachingumu.” Seketika aku berhenti tertawa. A..apa ini? Kenapa jadi seperti ini?

“Ren..Renjun – ssi?”

“Waeyo chagia? Kau kaget? Tapi aku sungguh – sungguh. Sayang sekali hari ini sudah tidak april mop…jadi pertanyaanmu tadi kuanggap serius. Jadi…sekarang kita pacaran kan.” Renjun tampak mengelurakan smirknya.

Matilah aku….

End

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s