[Mix Party] Klandestin

114aa2feed64ce7e9ebcdb566efe65a3
[Ficlet-mix] by Lollilachan

Qian Kun – Emerald Lee | Winwin –Lin Xie | Kim Haechan – Iris Geraldine | Lee Taeyong – Kim Danah | Ji Hansol – Yoon Jooeun | Jung Jaehyun – Yoon Ren

Mystery, Thriller, Friendship, AU | PG-13

-o0o-


Emerald Lee & Qian Kun

Koridor panjang dengan lapisan putih pucat di dinding dan bohlam temaram yang menerangi lorong ini sudah sepi sejak satu jam yang lalu. Tidak ada suara selain desahan napas kecewa yang sudah menggaduh dariku. Yang benar saja! Aku sudah belajar mati-matian untuk ikut kelas akselerasi, tetapi tidak ada namaku di daftar itu!

Aku tetap memfokuskan netra kelabuku pada sebuah kertas kusam yang tertempel di dinding sekolah. Berkali-kali aku mencoba untuk tidak menyesal, tetapi usahaku benar-benar tidak berguna. Denyut menyakitkan di kepalaku semakin menjadi saat sengatan demi sengatan kata yang tertulis di atas kertas itu membuat kedua tanganku lunglai di sisi tubuhku.

Beberapa panggilan yang kuterima dari nomor tidak dikenal sudah berhasil kuabaikan. Namun, dering ponsel itu selalu saja muncul tiba-tiba di saat sunyi mulai melanda, suaranya persis seperti radio yang kehilangan sinyal.

Aku sudah meminta Kun untuk menjemputku pukul delapan malam, tapi laki-laki itu benar-benar tidak tampak hingga sekarang. Seluas pandanganku, hanya ada lapangan basket yang remang-remang dan barisan pohon dengan rimbunan daun yang bergoyang.

Kakiku mulai bergerak menuju tengah halaman, menikmati cahaya purnama yang berpendar dan mengakses sebagian lapangan basket. Setelah menyadari sesuatu, sepersekian detik kemudian aku langsung melesat jauh ke gerbang sekolah. Aku baru mengingat bahwa aku lupa membawa ponsel saat terburu-buru ke sekolah pagi tadi.

Dan di sana, ada seorang laki-laki yang datang dengan senyum maut yang menekan sistem sarafku yang seketika berubah panik. Tubuh atletisnya terbungkus kemeja biru muda, rambutnya agak sedikit acak-acakan. Kupikir, Kun datang untuk segera menjemputku. Mendadak semuanya seperti delusi.

Setelah dering ponsel terdengar lagi, kali ini tidak hanya sebatas lantunan radio berkarat yang menenggelamkanku dalam luapan ketakutan. Suara bariton terdengar samar-samar, mengatakan sesuatu padaku.

Run!

Serupa spontanitas yang jelas tidak kumaksudkan,  aku terperangah dan lari menjauhi laki-laki yang datang menghampiriku tadi. Saat tidak sengaja menemukan sosok Kun di balik tembok, dia segera membekap mulutku dan menenangkanku dalam singgasana hangatnya.

“Diamlah, kau aman sekarang.”


Kim Danah & Lee Taeyong

Tahun ini, kami kembali merayakan Halloween sama seperti pasangan lain yang bahagia. Aku mengajak Kim Danah untuk keluar dan melihat beberapa kostum mengerikan hingga kostum lucu yang digunakan untuk memeriahkan berakhirnya musim panas dan menyambut musim dingin serta kegelapan. Beberapa labu yang diisi lampu terang benderang mulai terlihat sepanjang jalan yang kurang terakses cahaya rembulan.

Biasanya, pusat kota akan ramai pada tengah malam dan kebisingan pesta terdengar hingga hamparan nisan di pelosok, membuatku terbangun dan iri untuk tidak melihatnya. Rendaman buah manis dan beberapa camilan lainnya sudah disantap habis oleh para penikmat pesta. Di antara mereka memilih pulang dan melanjutkannya ketika tengah malam.

Kulirik Kim Danah yang tidak bersemangat, matanya menatap sendu orang-orang yang berlalu-lalang melewati kami. Jelas, aku tidak keberatan karena aku datang tanpa kostum dan aku juga merasa biasa-biasa saja saat menghadiri pesta tanpa undangan. Menurutku, Halloween adalah rutinitas untukku dan Kim Danah melihat keberadaan luar.

“Percuma kita ada di sini, mereka tidak akan melihat kita,” rintih gadis itu menunduk dan menahan genangan hangat yang bertahan di pelupuk matanya. Aku mencoba untuk tidak terbawa keadaan dan menariknya ke lokasi yang sepi. Aku memanfaatkan waktuku untuk melihat aliran air matanya turun tanpa permisi, alih-alih membuatku semakin tertekan.

Tidak ada yang mau mati dengan cara mengenaskan, begitu yang ada dalam lipatan otakku. Aku nyaris bersimbah pilu setelah menyaksikan luka mendalam yang bersarang semenjak lima tahun belakang. Hampir memprotes pada takdir yang membuat kami harus menjadi bayangan di malam hari.

Aku memeluknya erat seraya berbisik, “Mari kita pulang dan berhentilah menangis.” Setelah itu langkahku yang lambat membawa kami ke hamparan padang rumput dengan nisan yang berbaris rapi. Sebelum berpisah, aku sempat tersenyum tipis saat tangis Kim Danah yang mulai mereda.

Kemudian aku memasuki salah satu gundukan tanah yang dihiasi dengan nisan bertuliskan ‘Lee Taeyong’. Aku akan datang Halloween tahun depan dan berjanji tidak akan menyesali takdirku. Kim Danah, gadis yang kucintai itu juga ikut damai dalam ‘tempat tidur’nya.


Iris Geraldine & Kim Haechan

Badai telah menyulap rumah pohon kami menjadi kepingan yang tak berguna. Bisa-bisa Iris memarahiku habis-habisan. Mungkin, aku dapat memanfaatkan cuaca yang tengah menyelimuti kota. Hujan deras mengguyur dan menyerbu bumi tiada ampun. Angin ribut menggulung patahan ranting dan melontarkannya tepat di depan pintu rumahku.

“HAECHAN!” Belum lama aku berspekulasi tentangnya, gadis itu sudah datang dengan wajah sangar sebanding dengan singa yang kelaparan. “ALBUMKU ADA DI RUMAH POHON! SEKARANG KAU KE MANAKAN?” pekiknya mengalahkan lolongan petir yang menggelegar. “Badai yang mengajaknya pergi, salahkan saja mereka, bukan aku,” jawabku ala kadarnya. Responsku semakin mengganaskan bakteri pemarah yang tengah hidup dalam dirinya.

“Aku tidak mau tahu! Album Limitless sengaja dikutinggalkan di rumah pohon kemarin sore. Kau harus mencarinya! Sampai k-e-t-e-m-u!” Iris menekankan tiap huruf pada kata terakhir yang diucapkannya dengan dramatis.

Aku tidak bisa melawan permintaannya, atau aku akan berada dalam neraka. Seharian, aku dan Iris duduk di gazebo sambil menerawang tiap senti patahan kayu rumah pohon kami yang tidak lagi layak dihuni. Seberkas boneka beruang sudah berhamburan dan tiba-tiba gemuk karena obesitas air hujan. Melihat itu, Iris semakin berteriak histeris kala mengingat beberapa barangnya ia percayakan untuk kujaga.

Sampai malam, aku masih setia mencari album miliknya yang kuyakini sudah dibawa badai pergi. Jika ketemu pun, pasti tidak akan berwujud utuh lagi. Kulihat Iris sudah terlelap dan menyandarkan punggungnya pada dinding. Wajahnya yang damai, sangat berbeda saat ia sadar. Kekeke, andai dia menjadikanku aktor dalam mimpinya.

Hati nuraniku berkata: jagalah Iris sampai besok pagi dan hadiahkan dia sebuah album yang baru. Aku tersenyum lebar menyadari itu, kemudian lengkungan bulan sabit di bibirku lenyap saat bisikan dari hati nurani itu tidak berlangsung lebih dari tiga detik. Sangat tidak mungkin mengantarnya pulang dalam keadaan tidur pulas seperti itu, aku membawanya masuk dan membiarkannya tidur di sofa yang empuk.

Knock… knock…

Mustahil ada seseorang yang berani mengetuk pintu rumahku dalam badai yang masih meraung-raung. Letupan petir yang beruntun membuat kengerian dan kepanikan menjalari aliran darahku dalam proporsi pekat. Setelah tiga kali ketukan berjeda agak lama, ketukan yang semakin keras menyusulnya.

Apa aku yakin… itu hanya sebatas patahan ranting yang terlontar di depan pintu rumahku?


Yoon Jooeun & Ji Hansol

Aku–maksudku kami–terpejam sesekali saat sang pengemudi mengendarai mobil dengan mulus. Aku agak terganggu saat memanggilnya ‘Sang Pengemudi’, karena bila dianalisis dari caranya berpakaian, intuisiku berkata bahwa ia seorang preman. Lebih dari lima belas kalung buatan suku maya, topi koboi yang sama sekali tidak sinkron dengan properti di  lehernya, serta rantai yang menggantung pada saku celana.

Jooeun sudah bergidik ngeri beberapa kali dan tanpa ia sadari, sang pengemudi meliriknya lewat cermin yang sengaja disiapkan olehnya sendiri. Bermotif bunga-bunga dan ukiran aneh yang sangat tidak cocok dengan dirinya. Mungkin hanya sekadar media untuk mempermudah bersua. Karena jika aku bertanya mengapa ia membawa cermin itu, jelas kami sudah melakukan sebuah percakapan. Aku tidak mau menanyakan hal yang tidak berbobot.

“Saya tidak pernah berpikir Anda adalah anak dari Nona Castarica,” celetuk sang pengemudi tanpa menyelipkan selengkung tipis pun senyuman, aku melihatnya dari cermin itu. “Beliau tidak pernah bercerita tentang Anda setahun belakang.”

Perjalanan kami dipenuhi jejalan pertanyaan dan sesak napas tersembunyi dari Jooeun yang tak tahan dengan bau anyir di dalam mobil. Beberapa kali ia terbatuk dan mendesakku untuk segera membukakan jendela, entah itu untuk menghirup udara bebas atau malah mengeluarkan isi perutnya.

Setelah sampai, rumah semacam istana itu tergelar di atas lapangan dengan alas keramik. Dan belum sempat kukatakan ucapan terima kasih, mobil itu sudah lenyap dari pandanganku. Niatku untuk pulang setelah tiga tahun merantau semata hanya untuk memperkenalkan Jooeun pada keluargaku. Ketika kami masuk, tanpa aba-aba pintu terbuka dengan sendirinya.

Lampu yang memancarkan sinar menyilaukan mata tidak bertahan lama,  tiba-tiba mati dan kegelapan menyelimuti. Jooeun mengeluh tentang genangan yang mengelilingi kami. Warnanya hitam ketika dalam kegelapan, saat kulihat dalam-dalam dan penuh penghayatan, ternyata serupa warna mawar merah yang merekah.

Bau yang sama saat di dalam mobil ikut bekerja sama membuat kami ketakutan. Sang pengemudi itu berada di depan Jooeun dan sekarang tengah menyanderanya. Mati kutu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti ada yang menyalakan kulkas raksasa dengan suhu minus ratusan derajat yang membuatku mati membeku.

“Anda datang terlambat sekali. Sekarang adalah hari peringatan satu tahun kematian Nona Castarica. Harusnya Anda ikut merasakan kematian yang pedih itu.” Bersamaan dengan berakhirnya ucapan sang pengemudi, Jooeun terjatuh dari cengkaramannya, ikut tergenang darah yang mulai menyebar luas.


Yoon Ren & Jung Jaehyun

Laki-laki tampan itu masih sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Terlihat keren bagaimana pun caraku untuk melihatnya, dia tetap berwibawa. Jung Jaehyun, aku menemukan beberapa berkas tentangnya  saat menyelinap masuk ke dalam ruang Tata Usaha pada malam hari di mana para staf tengah merampungkan naskah mimpi yang terketik bebas dalam imaji.

Seorang pribadi yang andal dalam memecahkan masalah, otak yang genius dan senyum yang tidak pernah pudar selalu menjadi nilai plus untuknya. Sekarang, aku sedang memerhatikannya dari ambang pintu kelas. Jung Jaehyun masih tetap sama, duduk di bangku paling belakang dan fokus pada guru yang memaparkan materi.

“Di mana Yoon Ren? Apa kalian melihatnya?” tanya Gyu Ri Seonsaengnim sambil memandang heran bangkuku yang berdebu tipis, kemudian angin membawanya pergi. Aku terperangah, segaris kernyitan tipis membentuk di dahiku. “Yoon Ren, gadis itu sedang koma karena kecelakaan bus yang ditumpanginya. Kemarin, saya diberitahu oleh ayahnya. Beliau meminta doa dari kita semua,” kulihat Seolhyun menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.

Eum, ya. Aku bisa mengingat kejadian tragis itu, napasku sekarang tengah mengudara jauh di gerbang langit di mana awan-awan kelabu pekat berkumpul saling bersatu padu, degup jantungku sedang bergema di ambang pintu surga sambil menjerit dan merintih, serta ragaku … terbujur kaku di ruangan beraroma kloroform. Suara elektrokardiograf mulai mengisi lorong-lorong sunyi di telingaku, serupa sebuah tuts piano yang ditekan lama.

Aku tersadar dari lamunanku saat warga kelas menundukkan kepala, berdoa untukku. Seketika semuanya bubar saat guru lain memberi kabar pada kelasku … tentang kematianku. Tangis mereka tiba-tiba pecah saat Gyu Ri Seonsaengnim yang memulainya. Jung Jaehyun, laki-laki itu termenung dalam aliran keheningan. Tak sempat kuhitung tetes cairan yang terjun dari matanya, lalu kepalanya menoleh pada kursi kosong dengan nama ‘Yoon Ren’.

Jung Jaehyun, dia tahu perihal aku menyukainya sejak kelas 10. Aku membentuk sebuah pola pikir di mana yang kuduga bahwa hanya akan ada aku yang menyukainya dan dia yang mengabaikanku. Tetapi ternyata aku salah, ada banyak kemungkinan yang lahir dari pola pikir bodohku itu: tangis yang tersembunyi, senyum yang menjadi topeng, dan figur yang berdiri tegar.

Jung Jaehyun, tak apa, aku lebih leluasa memandangimu saat dalam keadaan seperti ini. Entah mengapa aku menjadi bebas dan terlepas, apakah mungkin … karena kau yang menangisi kepergianku? Sebelum aku semakin memudar dan menyerupai uap kopi yang mengepul, bisakah kau memutuskan untuk ikut denganku? Pada dunia yang gulita tanpa secercah cahaya.


Lin Xie & Winwin

“Delapan … sembilan … sepuluh!”

Aku mendegar suara Lin Xie menyelesaikan hitungannya. Kami bersepakat bermain dalam kondisi gelap dan rumah yang sepi. Lin Xie menginginkan kami memainkannya dengan penuh penghayatan. Karena pada dasarnya, ia selalu percaya pada mitos tentang hide and seek yang kurasa agak horor dari kebanyakan permainan yang serupa.

Peti mati. Sialan, aku tidak punya tempat yang cocok untuk menjadi lokasi aman dari Lin Xie. Gadis itu pasti mengandalkan matanya yang teliti dan pendengarannya yang tajam. Sekali saja terdengar suara gesekan, aku bisa ketahuan. Dan aku akan menjadi pelayannya seharian karena kalah dalam permainan bodoh ini.

Mungkin aku bisa mencari tempat lain untuk bersembunyi selain peti mati. Peti mati ini gagal digunakan dalam proses pemakaman orangtuaku, karena penutupnya sulit dibuka saat akan memasukkan jasad ayah. Tuan Vernon meminta peti yang lain dan meletakkan peti ini dalam gudang tanpa penghalangku untuk memasukinya.

Aku mengeluarkan sedikit tenaga untuk menendang pelan penutup peti agar terbuka. Berkali-kali kucoba, tetapi nihil … tidak berhasil. Benar, penutup peti ini sangat rapat. Padahal aku menutupnya sendiri dari dalam, apakah ada yang menekan petinya dari luar? Kunyatakan bahwa usahaku gagal untuk membebaskan diri, terdiam dalam ruangan sempit dan pengap.

Bau kayu menguar hebat, membuat hidungku terimpit dan sulit memenjarakan sedikit udara untuk berhuni di paru-paruku. Sekitar satu jam aku terbujur pada peti mati tanpa oksigen yang mencukupi. Samar-samar terdengar teriakan Lin Xie memanggil namaku, dia juga sempat datang ke gudang karena aku mendengar sedikit langkah kakinya. Napasku mulai putus-putus, keringatku sudah mengucur dan membanjiri kausku.

Saat aku berhasil membukanya, aku tidak lagi di dalam gudang. Aku berdiri dan melihat tubuhku sendiri dengan keadaan mata terpejam kuat, di dalam tanah yang gelap. Sapuan angin membelai nisanku, membuatku ikut bergabung menjadi tembus pandang.

Fin

Advertisements

3 thoughts on “[Mix Party] Klandestin

  1. Halo, Lala! Maaf baru sempet baca dan komen!

    1. Kun x Emerald: To be honest nih, this was a rough start, in my opinion. Eksekusinya agak kacau karena there was lack of description. Kenapa Kun bilang semuanya udah aman? Berarti dia tau dong apa yang sebenernya terjadi di sana? Terus apa yang bakal terjadi selanjutnya di antara Kun dan Emerald? Luckily di sini vibe horrornya masih kerasa.

    2. Taeyong x Danah: Ini lebih berat di angst daripada horrornya ya? Heu tapi sedih juga sih, mungkin kalo hantu bisa berkomunikasi sama kita mereka bakal curhat mereka ngerasa kesepian, wkwkwk…

    3. Haechan x Iris: First of all, aku mau tanya apakah di sini kamu emang sengaja memusatkan horrornya di ending aja? Sebenernya nggak jelek, sih, cuma kebetulan horrornya juga nggak begitu kerasa dan terkesan kaya angin lalu, jadi cerita ini agak blur genrenya. Mau bilang friendship juga di sepanjang cerita Iris marah-marah mulu sama Haechan.
    Waktu kamu nulis “…Sampai k-e-t-e-m-u!” kamu bilang Iris ngucapin ini dengan penuh penekanan, tapi kesannya malah kaya orang lagi mengeja. It’d be better kalo kamu nulisnya “Sampai KE-TE-MU!” instead. Jadi dipisah per suku kata dan menggunakan huruf kapital seluruhnya, biar lebih kerasa penekannya.
    Terus aku bingung nih. Di sini, kamu bilang kalo badainya belum kelar juga sampe malam, dan aku asumsikan badainya tuh emang parah dan mengerikan, buktinya sampe bisa bikin rumah pohon Haechan-Iris beserta seluruh isinya hancur lebur nggak karuan. Tapi di tengah-tengah ada bagian di mana mereka berdua duduk-duduk asyik di gazebo, which means mereka di luar rumah, bernyali banget berarti ya di tengah-tengah badai berani keluar rumah, wkwkwk… Apalagi kamu juga menyatakan: “Mustahil ada seseorang yang berani mengetuk pintu rumahku dalam badai yang masih meraung-raung.”

    4. Hansol x Jooeun: Ini aku masih belum paham sebenernya cerita ini pake point of view siapa. Aku itu merujuk pada siapa? Hansol? Terus si pengemudi ini siapa? Motif si pengemudi ngebunuh Jooeun juga kurang jelas. Kenapa dia ngebunuh Jooeun? Karena Jooeun anak dari Castarica? Castarica siapanya si pengemudi? Kenapa dia sebegitu hancurnya waktu Castarica mati? Btw, karena kamu bilang Castarica itu ibunya Jooeun, then it should be Nyonya Castarica instead.

    5. Jaehyun x Ren: Sama kaya cerita 2, ini juga jatuhnya angst ketimbang horror ya. Cuma yang ini angstnya lebih kerasa dan lebih nyesek.

    6. Winwin x Lin Xie: Out of all, ini yang horrornya paling kerasa. Dari awal vibenya udah nggak enak, terus eksekusinya juga bagus. E btw itu Winwin kok bisa dikuburin hidup-hidup pelakunya siapa? Lin Xie atau makhluk tak kasat mata? Hahaha…

    Overall, in my opinion, nggak semua cerita fit into the genre and concept. Yang bener-bener pas itu cerita 1, 4, dan 6. Cerita 2 dan 5 lebih berat di angst, dan fakta kalo mereka hantu terkesan cuma jadi pelengkap aja. Cerita 3, as I’ve said, kurang spesifik genrenya dan horrornya cuma sambil lalu aja. Selain itu, meski diawali dengan cerita yang bikin rancu, tapi cerita terakhir bisa mengakhiri ficlet mix ini dengan lebih mulus. Maaf kalo aku kesannya menggurui dan perfeksionis ya, semoga masukan dariku nggak menyinggung. Aku tahu kamu pasti bisa improve tulisanmu jadi lebih baik lagi. Keep writing, Lala!

    Liked by 2 people

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s