[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 2)

My Lesbian Roommate by Mingi Kumiko

{ Main cast : Jaehyun & Chaeyeon | Other cast : Cha Eun Woo, Yeri, & Kim Sae Ron | Genre : romance, drama, college life | Rating : PG-17 }

“Ini menarik! Ada dua Nona Jung di dalam satu kamar yang sama.”

Previous Chapter

Page 1

.

.

.

Sebelum benar-benar berangkat untuk bertugas, Eunwoo dan Jaehyun mengadakan sebuah rapat kecil di kedai jjajangmyun yang sering mereka kunjungi bersama.

“Kau pasti bisa, Jae!” seru Eunwoo dengan bibir yang berlepotan dengan saus kacang hitam. Tak seperti pagi tadi—di mana wajahnya terus ditekuk, kali ini Jaehyun menunjukkan raut yang santai dan bersahabat seperti biasanya.

“Apakah dia tak akan curiga dengan penyamaranku?”

“Kau, sih, ogah-ogahan saat kusuruh melihat cermin. You have to know how adorable your look is.” Eunwoo lagi-lagi coba menggoda Jaehyun.

“Sialan.” umpat Pemuda Jung itu pada sang kawan.

Mereka pun selesai menyantap semangkuk besar jjajangmyun. Setelah meneguk segelas soju dan membersihkan mulut mereka yang kotor karena saus, Eunwoo tiba-tiba menyodorkan sebuah benda kecil berbentuk silinder.

“Sebagai seorang gadis, kau harus selalu menjaga kelembapan bibir.” kata Eunwoo.

Jaehyun menganga dengan sangat lebar karena perilaku Eunwoo. Ia tahu kalau sahabatnya itu memang menggilai profesionalitas dalam bekerja. Namun dengan memberinya lipstik, ia merasa Eunwoo telah berlebihan.

“Kurasa ada yang salah dengan serebralmu.” cibir Jaehyun.

“Ayolah, kantungi saja… siapa tahu kau membutuhkannya.” Eunwoo merutuk. Sambil menggeleng heran, Jaehyun pun mengambil lipstik pemberian Eunwoo dan menaruhnya di saku celana.

Eunwoo memberi tahu bahwa Jaehyun harus segera sampai di asrama barunya. Karena akan terlihat mencurigkan jika Pemuda Jung itu berangkat sendiri menggunakan mobil, maka Eunwoo pun mengantarkan Jaehyun berangkat. Sepanjang perjalanan, pria yang bertugas menyetir mobil itu susah payah menahan tawa. Melihat Jaehyun berpakaian seperti wanita dan menguncir rambutnya seperti karakter manga membuatnya terlihat sangat lucu.

tbac03

You bitch!” Jaehyun melontari Eunwoo dengan umpatan. Tentu saja tak nyaman dipandangi dengan sorot seperti itu. Menyadari bahwa temannya itu tak suka, Eunwoo pun langsung mengatupkan bibir dan sekuat tenaga menahan agar tawanya tak pecah.

Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, mereka pun akhirnya sampai di asrama putri milik Universitas Deokdoo.

“Sudah ada orang yang akan menyambutmu di pintu depan. Mau aku temani atau kau ke sana sendiri?” tanya Eunwoo.

“Tidak perlu, deh. Hari ini aku tak mau melihat wajahmu lama-lama. Aku muak!” sahut Jaehyun disertai sarkasme. Eunwoo balas tertawa, ia tahu kalau Jaehyun tidak serius bicara begitu.

“Oke, good luck!” tandas Eunwoo seraya menepuk pundak Jaehyun, bermaksud memberinya semangat.

Jaehyun segera melangkahkan tungkai setelah mengambil kopernya dari bagasi mobil milik Eunwoo. Di bawah penerangan yang minim, lelaki (yang menyamar menjadi seorang perempuan) itu menyeret kopernya menuju pintu depan sesuai arahan dari Eunwoo.

Annyeong haseyo…” sapa Jaehyun tatkala ia mendapati seorang wanita paruh baya tengah berdiri dengan tegap di sebelah plakat.

“Apakah kau Nona Jung Ji Hyun?” tanya wanita itu ramah. Mata Jaehyun terbelalak untuk sepersekian sekon.

Pasti ulah Cha Eun Woo lagi!

Sungguh menggelikan mendengar nama itu disebut. Namun ia tak dapat berbuat apa-apa selain mengangguk polos. Bagaimana pun ia harus bertingkah layaknya mahasiswi berusia dua puluh tahun—padahal ini usianya empat tahun yang lalu.

“Aku Baek Min Soo. Mari, kuantar ke ruanganmu.” masih dengan nada bersahabat, wanita itu berbalik dan diikuti oleh Jaehyun di belakangnya. Entah sejak kapan Pemuda Jung itu mendapati jantungnya yang terus berdegup. Atmosfir di koridor asrama sungguh menegangkan.

“Badanmu tinggi sekali, ya, nak…” celetuk Nyonya Baek tiba-tiba. Jahyun menelan ludah, meskipun dari awal ia tahu kalau perawakan jangkungnya akan mengundang kecurigaan orang-orang. Maka dari itu ia sampai repot-repot memasukkan tiga buah kaus kaki pada masing-masing behanya yang berukuran B cup.

“Iya, kebetulan ayah saya adalah seorang binaragawan.” alibi Jaehyun dibalas anggukan paham oleh Nyonya Baek. Diam-diam ia mengembuskan napas lega. Semoga setelah ini wanita itu tak berceletuk aneh-aneh lagi.

Baek Min Soo menjelaskan berbagai fasilitas yang dimiliki oleh asrama, jadwal harian, hingga peristiwa umum yang sering terjadi di sana. Jaehyun mendengarkannya sambil manggut-manggut.

Nyonya Baek menghentikan laju tungkainya di sebuah kamar dengan pintu bernomor 213. Wanita berkacamata itu mengetuk pintu. Tanpa perlu menunggu lama, decitan engselnya terdengar dan munculah sosok berkulit putih pucat dari ambang pintu.

Annyeong haseyo, seonsaengnim.” sapanya dengan ceria. Seakan gadis itu telah akrab dengan Nyonya Baek.

“Kau tentu telah membaca suratnya, kan, Nona Jung?” tanya wanita tersebut dan disambut dengan anggukan semangat.

“Apakah dia sudah datang, seonsaengnim?”

Nyonya Baek membalas pertanyaan gadis itu dengan anggukan. Ia pun memutar kepala untuk menoleh. Beberapa jenak kemudian, wajahnya langsung berseri. Diambilnya langkah seribu untuk menghampiri Jaehyun.

“Halo, aku Jung Chae Yeon!” seru gadis itu. Secara tiba-tiba ia meraih lengan Jaehyun untuk ia cengkeram.

“Proporsi tubuhmu sangat unik! Dan kau juga cantik.” ocehnya sebelum Jaehyun sempat membalas upaya gadis bernama Chaeyeon itu memperkenalkan diri.

“Ayo, ayo, segera masuk!” Chayeon meraih koper yang Jaehyun bawa dan membawanya masuk ke kamar.

Jaehyun dibuat terlongo dengan reaksi berlebihan gadis itu. Ia pikir lesbian adalah kaum yang cenderung menutup diri. Namun sepertinya Chaeyeon bertingkah selaiknya gadis normal.

“Terima kasih sudah mengantar saya.” ucap Jaehyun pada Nyonya Baek. Kini Chaeyeon tengah berada di sebelahnya. Gadis itu hendak memberi salam jika Nyonya Baek hendak pamit meninggalkan mereka.

“Jangan lupa, besok pagi kau harus ke ruangan tata usaha untuk melengkapi beberapa data, Nona Jung Ji Hyun.” Nyonya Baek berpesan.

Ye, kamsa hamnida.” balas Jaehyun seraya membungkuk dengan takzim, diikuti dengan Chaeyeon.

Punggung Nyonya Baek perlahan hilang dari pandangan mereka seiring semakin jauhnya langkah yang ia tapaki. Chaeyeon kembali memfokuskan arah pandang ke kawan barunya. Ia bermaksud memberi ucapan sambutan untuk kedua kalinya.

“Wah, marga kita sama-sama Jung. Ini menarik! Ada dua Nona Jung di dalam satu kamar yang sama.” oceh Chaeyeon. Karena tak memiliki ide untuk menimpali ujarannya, Jaehyun pun cuma balas tersenyum (sok) manis.

Kepribadian Jung Chae Yeon adalah hal yang tak pernah Jaehyun antisipasi sebelumnya. Ia begitu ceria dan bersemangat. Membuatnya penasaran dengan alasan gadis itu sampai bisa memiliki orientasi seksual menyimpang. Namun ini sudah terlalu malam untuk memusingkan hal semacam itu.

“Ceritakan sedikit tentang dirimu, dong…” pinta Chaeyeon.

“Aku?” Jaehyun memasang ekspresi terkejut. Empunya pertanyaan pun mengangguk. Ia telah menopang dagu, bersiap mendengarkan ucapan yang terlontar darinya.

“Aku… hm, aku mahasiswi jurusan matematika.” jawab Jaehyun sekenanya.

“Serius?!” sela Chaeyeon, dan lagi-lagi gadis itu menunjukkan muka antusias. Jaehyun tersenyum tipis, tapi kalau boleh jujur, lelaki itu menganggap ekspresi Chaeyeon lumayan menggemaskan.

“Sama, dong!” serunya.

Sebenarnya pemuda itu cuma berpura-pura terkejut dengan jawaban yang Chaeyeon lontarkan untuk semua pertanyaannya. Semua informasi tentang gadis itu telah terlebih dahulu ia baca kemarin malam. Fotonya pun telah ia amati. Namun satu hal yang membuat Jaehyun terkejut, Chaeyeon jauh lebih imut saat dilihat secara langsung daripada melalui foto.

“Kalau begitu, besok kita ke kampus bersama, ya? Nanti akan aku kenalkan kau pada teman-teman lainnya.” ajak Chaeyeon.

“O, oke…”

Masih dengan wajah yang dihiasi senyum mengembang, Chaeyeon memposisikan kepalanya senyaman mungkin di atas bantal yang empuk.

“Kau pasti lelah karena baru saja datang.” celetuk Chaeyeon saat menyadari Jaehyun yang mulai enggan bicara terlalu banyak. “Istirihatlah dengan cepat. Besok pagi Baek seonsaengnim menyuruhmu ke ruang tata usaha, ‘kan?”

“Iya juga, sih…” pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Punya kebiasaan sebelum tidur? Cuci muka, kek, atau mungkin pakai masker mentimun?” tanya Chaeyeon lagi.

Seringai tipis terkulum dari sebelah bibir Jaehyun. Cara Chaeyeon bertanya sangatlah lucu.

“Hahaha, tidak…”

“Kau lebih cepat terlelap saat lampunya dimatikan atau dinyalakan?”

“Keduanya tak masalah, asal ada guling.”

Mendengarnya, Chaeyeon pun langsung menghampiri ranjang milik Jaehyun yang berjarak beberapa langkah dari ranjangnya untuk menyerahkan guling.

“Kenapa kau membawanya ke mari?” bingung Jaehyun seraya menatap benda empuk itu di tangan Chaeyeon.

“Di kamar ini cuma ada satu guling. Jadi ini, pakailah.” gadis itu menyodorkan guling itu kepada Jaehyun dan membuatnya seketika terhenyak,

Eung, enggak masalah juga, sih, kalau tidak ada. Kau saja yang pakai.”

Serius, Jaehyun jadi menyesal setelah bilang bahwa ia tak bisa tidur tanpa guling dan membuat Chaeyeon harus repot-repot memberikan miliknya.

Andwae, andwae… kau adalah roommate pertamaku, akan aku lakukan apa pun agar kau nyaman berada di sini. Pakailah, tidur yang nyenyak, oke?” Chaeyeon menepuk-nepuk pundak teman sekamarnya itu dengan pelan lantas kembali ke ranjangnya.

“Terima kasih, Chaeyeon.” ucap Jaehyun yang masih terpaku dengan perhatian berlebih yang Chaeyeon tujukan padanya.

“Sama-sama. Call me whenever you need me. Ah, apa kau butuh lebih banyak selimut?”

“Tidak usah…” sekali lagi Jaehyun menolak tawaran baik Chaeyeon. Gadis itu pun memutuskan untuk tak bertanya lagi.

Sejatinya Jaehyun belum terlalu mengantuk. Jam segini, saat sedang senggang, biasanya ia menghabiskan waktu dengan menikmati secangkir kopi—dan kadang merokok. Jaehyun memang seorang perokok, namun ia hanya melakukan itu saat sedang ingin saja.

Ditambah dengan cuping telinganya yang merasa sedikit perih karena baru saja dipasangi anting. Jaehyun terakhir kali menggunakan tindik saat berada di tingkat dua SMA—waktu itu cuma coba-coba dan cuma menggunakannya sebentar. Karena sudah lama tak menindik telinganya, lubang masuk anting-anting itu pun akhirnya tertutup dan membuatnya harus menembak ulang. Sakit, sih… tapi tidak masalah. Demi penyamaran yang meyakinkan, apa pun akan ia lakukan.

Jaljayo, chingu-ya!” ucap Chaeyeon yang membuat lamunan Jaehyun sontak terpecah. Gadis itu lantas mematikan lampu. Diam-diam ia tersenyum, lagi-lagi gadis lesbian itu membuatnya terkesan dengan tingkah dan cara bicaranya.

to be continued…

hyahaha anjayy kok makin ngaco gini /DIBUANG

udah agak panjangan ya, guys… mayanlah selisih 400 kata dari yang kemarin eheyy ~~

aku mau tanya dong, sejauh ini… menurut kalian tata bahasanya gimana? Pas dengan alurnya apa terlalu baku? Apa kudu aku ganti lo-gue gitu ya? wkwkwk ~ soalnya abis tiap nulis ini aku selalu laper. Kayak susah banget ngolah katanya astagaaa /gak bakal ada yang ngirimin lu pizza hut juga lel/

makasih untuk yang sudah mau baca (dan jangan protes sama foto Lucy yang tetiba nongol) ^^ jangan lupa tinggalkan jejak yaaaa 🙂

Advertisements

35 thoughts on “[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 2)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s