[NCTFFI Freelance] Memini, Cum (Vignette)

MEMINI, CUM

.

Romance, Friendship, Angst, School-life || Vignette || Teen

.

Starring
NCT’s Taeyong & Doyoung, You as Yoo Inha

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot. Poster By : Kyoung © Story Poster Zone

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Namanya Kim Doyoung. Ia adalah teman masa kecilku. Aku mengenalnya sejak lahir. Lelaki bertubuh kecil berwajah imut yang senang tersenyum.

Namanya Lee Taeyong. Ia adalah kekasihku. Aku mengenalnya kurang lebih tiga tahun yang lalu. Tubuhnya tinggi menjulang, dengan suara beratnya yang khas.

Namaku Yoo Inha. Gadis mungil yang merasa hidupnya telah sempurna dengan kehadiran dua pria istimewa dalam kesehariannya.

Setidaknya sampai saat ini.

***

“Inha-ya!

Untuk sejenak langkahku terhenti begitu mendengar suara lelaki itu. Sial, ia menyadari keberadaanku. Detik berikutnya kupercepat langkah menyusuri koridor sekolah untuk kembali menghindarinya. Tetapi sepertinya sia-sia. Derap langkah yang sangat kukenal itu terdengar semakin jelas ke arahku.

“Kumohon berhenti ….”

Suaranya terdengar parau saat mengucapkan dua kata terakhir, seolah-olah ia menanggung beban yang sangat berat. Tangannya menggenggam erat pergelangan tanganku, membuatku mau tidak mau berhenti. Aku membalikkan badan dan melemparkan tatapan kesal padanya. Ia balas menatapku dengan tatapan lelah.

“Ada apa lagi?” tanyaku. Aku akhirnya menunduk, tak berani menatap matanya.

“Bisakah kau berhenti menghindariku?” ucapnya memohon.

Aku tidak menjawab. Kalau boleh jujur, tidak ada yang bisa kulakukan selain menghindarinya. Aku tidak bisa memandang lelaki di hadapanku ini dengan cara yang sama seperti dulu. Cara pandangku terhadapnya telah berubah sejak seminggu yang lalu.

“Maaf, tapi aku menyukaimu, Inha-ya.”

Begitu katanya waktu itu. Menurutmu, apa yang harus kulakukan? Apa respon yang harus kuberikan dalam situasi seperti itu?

“Maafkan aku, Doyoung-ah. Tetapi aku sudah menjadi milik Taeyong.” Demikian jawab yang kuberikan saat itu.

Setelah itu aku pergi meninggalkannya.

Aku dekat dengan Doyoung, sangat dekat. Tetapi kedekatan kami harus diputuskan untuk sejenak karena kupikir aku harus mencegah berkembangnya perasaan berlebihnya terhadapku. Bukankah itu sulit? Bayangkan, bagaimana rasanya menghindari orang yang selama ini kau benar-benar dekat?

Semua ini tidak akan terjadi jika Doyoung tidak mengatakan dua frasa sakral itu. Demi Tuhan, tidak adakah persahabatan tulus antara lelaki dan wanita yang tidak perlu berakhir dengan cinta?

“Inha-ya ….”

Suara Doyoung menyadarkanku sejenak dari lamunanku. “Huh?”

“Jawab aku,” suaranya terdengar lembut, seperti biasa. “Sampai kapan kau akan menghindariku?”

“Maaf, Doyoung-ah.. Sepertinya mulai sekarang aku tidak bisa menemuimu lagi.”

“Mengapa?”

Aku hanya diam. Aku tentu tidak perlu menjawab, ‘kan? Bukankah ia sudah tahu benar jawabannya?

“Karena Taeyong?”

Aku tetap membisu.

Pertanyaan Doyoung selanjutnya membuatku tersentak. “Kau mencintainya?”

Seharusnya aku memberikan sebuah jawaban mantap penuh keyakinan padanya, ‘kan? Seharusnya aku mengangguk tegas, atau bahkan menjawabnya dengan suara yang lantang. Kenyataannya, aku hanya bisa membisu dengan kepala tertunduk sambil menggigit bibir. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutku. Sekuat tenaga aku berjuang menahan air mata agar tidak menetes.

Entah mengapa aku merasa kalau aku memberikan jawaban yang berkenan itu sama artinya dengan aku membohongi perasaanku sendiri.

Doyoung sepertinya memahami perasaanku. Tanpa berkata-kata ia membawaku dalam rengkuhannya. Saat itulah pertahananku runtuh. Tangisku pecah. Di balik pelukannya, air mataku tumpah. Kukeluarkan segala perasaan yang bercampur aduk dalam hati dalam bentuk isakan.

Doyoung tidak perlu berkata apa-apa untuk menenangkanku. Jemarinya dengan lembut menyusuri rambutku. Tangannya mengelus-elus punggungku. Ia memang tidak mengucapkan sepatah kata, namun tindakannya itu sudah cukup bagiku.

Aku memang gadis yang bodoh. Aku memang mencintai Taeyong. Tetapi tak bisa kupungkiri ada sedikit perasaan yang berbeda yang kurasakan terhadap Doyoung sekarang. Aku belum berani mendeskripsikannya secara jelas.

Tetapi sepertinya … aku menyayanginya.

“Yoo Inha!”

Suara berat itu …

Cepat-cepat aku melepaskan diri dari dekapan Doyoung. Terlambat. Taeyong sudah menatap kami dengan tatapan yang sulit diartikan. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal.

Tangisku makin menjadi ketika diperhadapkan pada situasi ini. Untuk kesekian kalinya aku mengutuk perasaan sialan yang berani-beraninya singgah di hatiku. Perasaan tidak bisa merasa puas, menginginkan sesuatu yang lebih, tanpa pernah peduli akan akibatnya. Perasaan bodoh yang mengakibatkan aku harus merelakan banyak hal: hubunganku dengan Taeyong, persahabatanku dengan Doyoung, dan juga persahabatan Taeyong dengan Doyoung.

Doyoung membawaku bersembunyi di balik punggungnya. Dengan takut-takut kugenggam ujung seragamnya.

“Taeyong-ah. Maaf, tapi aku mencintai Inha,” aku Doyoung.

Kalimat terakhir itu membuat Taeyong makin murka. Kilatan amarah jelas terlihat di matanya. Lelaki tinggi itu menyilangkan tangan di depan dada.

“Jadi selama ini kalian pacaran? Di belakangku? Hah?! Sudah berapa lama? Sudah berapa lama kalian peluk-pelukan seperti ini? Sayang-sayangan seperti ini? Apakah perlu sekalian kita rayakan bersama-sama?”

Tanganku terangkat menutup mulut untuk menahan suara isakan. Tidak … bukan seperti itu … Taeyong salah paham ….

Doyoung maju selangkah. “Bukan seperti itu, Taeyong-ah. Kau ‘kan sahabatku, kami – “

Mata Taeyong membulat. “Sahabat? Sahabat kau bilang?!” Untuk sepersekian detik ia tersenyum sinis.

“Aku tidak butuh sahabat pengkhianat SEPERTIMU!” desis Taeyong tajam sambil menatap Doyoung.

“Yoo Inha, pulang sekarang juga,” perintah Taeyong. Ia meraih pergelangan tanganku dan menariknya, memaksaku untuk mengikuti dirinya.

***

Perjalanan dari sekolah menuju rumahku kami habiskan dengan kebisuan. Suasana dalam mobil Taeyong diliputi oleh keheningan yang mencekam. Taeyong sibuk berkonsentrasi menyetir, sementara aku tidak berani membuka percakapan dengannya. Gelombang rasa bersalah terus-menerus menghantamku, seolah-olah mengatakan bahwa aku tidak lain hanyalah seorang gadis bodoh yang tidak berguna.

Di depan rumahku, Taeyong menghentikan mobilnya. Aku hendak turun, tetapi Taeyong menahan tanganku, memintaku untuk tinggal barang sejenak. Akhirnya aku pun menurut.

“Sudah berapa lama kau menyukai dirinya?”

Pertanyaan itu tak langsung kujawab. Aku berusaha mengulur waktu dengan memainkan buku jari, seraya otakku berputar berusaha mengingat kapan perasaan tersebut pertama kali muncul.

“Sekitar minggu lalu. Saat ia menyatakan perasaannya padaku,” jawabku serak.

Taeyong menoleh sejenak. “Ia bilang kalau dia menyukaimu?”

Ralat, ia mencintaiku, kataku dalam hati. Tapi aku hanya mengangguk.

Terdengar suara helaan napas dari mulut Taeyong.

“Inha-ya ….”

“Hmm?”

“Kita putus saja, ya? Aku tidak bisa melanjutkan hubungan dengan orang yang sudah tidak mencintai diriku.”

Akhirnya satu kata keramat itu keluar. Putus. Aku tidak kaget mendengar Taeyong mengatakan kata keramat itu. Ia berhak mengatakannya. Aku bukanlah gadis yang tepat untuknya. Aku hanya akan terus menyakiti perasaannya bila hubungan ini terus dipertahankan.

Akhirnya, aku mengangguk.

Jadi, inikah akhir dari hubungan satu setengah tahun kami?

Tangan Taeyong terulur untuk mengangkat daguku, memintaku untuk menatapnya. Bodoh. Begitu manikku bertemu dengannya, kristal bening itu keluar begitu saja tanpa bisa kucegah. Dengan lembut jemari Taeyong bergerak untuk menghapus air mata yang turun.

“Jangan menangis. Kita mungkin tidak ditakdirkan untuk menjadi sepasang kekasih. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa bersahabat, ‘kan?”

Terdengar jelas suara Taeyong yang bergetar ketika mengucapkan kata-kata itu.

Tak ada jawaban lain yang bisa kuberikan selain sebuah anggukan.

Taeyong mendekatkan wajahnya padaku, dan memberikan sebuah kecupan manis di dahi. Mungkin itu adalah sebuah kenang-kenangan, kecupan lembut terakhir yang dapat ia berikan padaku sebagai seorang kekasih.

***

Tok tok tok…

Tiga ketukan di pintu kamar. Sejujurnya aku sedang dalam perasaan yang buruk untuk menerima kunjungan siapapun ke kamarku. Namun ketika terdengar tiga ketukan selanjutnya, mau tidak mau aku harus membuka pintu kamar. Dengan malas kuangkat badanku dari tempat tidur menuju pintu.

“Siapa? – “

Keterkejutanku tak bisa kusembunyikan begitu aku menyadari sosok di hadapanku. Kim Doyoung. Sorot matanya yang sendu, senyuman sedihnya, membuat hatiku terasa makin pilu melihat itu semua.

“Sedang apa kau – “

Ia memotong perkataanku. “Boleh aku masuk?”

Mau tidak mau aku menggeser posisi berdiriku, memberi jalan padanya untuk memasuki kamarku. Ia duduk dengan manis di sebelah tepi tempat tidur. Aku ikut duduk di sebelahnya.

Untuk sejenak, keheningan kembali menyelimuti kami berdua.

“Maaf,” ujarnya

Aku menoleh. “Untuk apa?”

“Untuk semuanya.”

Aku hanya mengangguk.

Doyoung menggeser sedikit posisi duduknya agar bisa menatapku. “Yoo Inha, bukankah aku adalah pria yang egois?”

“Huh?”

“Rasanya tidak cukup bagiku untuk mendapatkanmu hanya sebagai seorang sahabat. Aku menginginkan yang lebih. Aku juga ingin menjadi orang yang istimewa bagimu. Ambisi itulah yang menyebabkan perasaan ini muncul tanpa bisa kucegah.”

Kuberikan sebuah senyum pengertian padanya. “Aku tahu.”

“Kau mau memaafkanku?”

Beberapa saat, aku terdiam. Hanya helaan napas yang terdengar. Jujur, memaafkannya saat ini bukanlah sebuah tindakan yang mudah dilakukan. Ia telah membuat hubunganku dengan Taeyong berakhir seperti ini. Dan sebagai seorang sahabat, ia juga telah menyakiti perasaan Taeyong.

Tapi aku sadar, aku pun turut ambil bagian dalam segala kekacauan ini.

Jadi akhirnya, aku mengangguk.

“Bagaimana dengan Taeyong?” tanyanya. “Apakah ia – “

“Hubunganku dengan Taeyong telah berakhir.”

Untuk sejenak, matanya membulat. Ia terkejut, pasti, namun tidak berkata apa-apa. Sepertinya ia memberikanku kesempatan untuk melanjutkan.

“Aku bukanlah gadis yang tepat untuknya. Kurasa aku hanya akan menyakiti perasaannya jika hubungan ini terus dipertahankan. Lagipula ia bilang ia tidak bisa terus melanjutkan hubungan dengan seorang gadis yang sudah tidak mencintainya.”

Untuk sesaat, keheningan menyelimuti kami berdua.

“Inha-ya ….”

“Hmm?”

“Kau mencintaiku?”

Dengan kepala tetap tertunduk, aku menggeleng pelan. “Aku belum berani menyatakan dengan jelas seperti apa perasaanku terhadapmu yang sebenarnya. Tetapi mungkin, kalau boleh dibilang, aku memang menyukaimu.”

Doyoung tersenyum. “Terima kasih.”

“Untuk?”

“Untuk tidak membiarkanku merasakan perasaan ini sendirian.”

Aku tersenyum.

“Tapi Doyoung-ah ….”

“Hmm?”

“Aku … aku pikir aku belum siap untuk menjalin hubungan dulu dengan siapapun. Maksudku, lebih baik kita bersahabat dulu saja.”

Doyoung mengelus puncak kepalaku lembut. “Aku tahu. Makanya sejak tadi aku tidak berkata apa-apa soal menjalin hubungan.”

“Jadi kita tetap bersahabat, kan?”

Doyoung mengangguk. “Tentu.”

“Begitu pula kau dengan Taeyong, ‘kan?”

“Ya.”

Dengan bibir yang tetap menyunggingkan senyum, kuulurkan jari kelingking tangan kananku padanya. Untuk sejenak Doyoung menatapku bingung.

Pingky promise,” terangku.

Paham, Doyoung mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingkingku. Setelah itu kami tertawa kecil.

-FIN-

Advertisements

2 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Memini, Cum (Vignette)

  1. Arrrgghh aku frustasi baca ini :’D Emang ya di dunia ini nggak ada persahabatan yang murni antara cowok dan cewek, aduh 😥 Inha, oh Inha, senangnya direbutin cogan 😀 Untung cowoknya sama2 perhatian, sini mz Tiway sama Jiyo aja, relakan Inha dengan Doyoung. Btw kak Gece pernah mengalami hal ini kah? //plakk//

    Pokoknya Ji suka banget baca ff ini ❤ ❤ Ditunggu karya selanjutnya kak Ce :******

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s