[NCTFFI Freelance] Our Love (Oneshot)

OUR LOVE SEQUEL OF LATE APRIL  MOP

Main Cast :

  1. Huang Renjun
  2. Hwang Jiyoung

Genre : School life , romance

Lenght : oneshot

Jiyoung’ s Pov

Sudah seminggu ini aku dan Renjun bisa dikatakan menjadi sepasang kekasih. Aku sendiri pun masih tidak percaya jika Renjun adalah namjachinguku. Setiap hari pun ia selalu memperlakukanku dengan manis. Memang, ada secercah rasa bahagia dalam hatiku ini. Tetapi aku bingung. Bukankah Renjun sebenarnya menyukai Yoon Hana?

“Jiyoung – ah!” aku menoleh begitu mendengar suara Renjun. Kulihat ia membawa sekotak susu dan memberikannya padaku.

“Kau saja yang minum.” Kataku berusaha menolak karena kulihat ia hanya membawa satu. Jika susu itu kuminum, lalu ia minum apa?

“Sudahlah, kau minum saja.” Ia tetap memberikan susu itu padaku dan aku pun juga menerimanya. Ia lalu tersenyum dan duduk di sampingku.

“Kenapa kau dari tadi diam saja? Apa kau sakit?” Renjun memegang dahiku. “Tapi kau tidak panas.” Ia mengernyit lalu sedetik kemudian ia menampilkan senyuman jahil. “Aku tau…kan pasti merindukan aku ya?” Ia lalu mengacak – acak rambutku.

“Uh…kyeopta.” ia masih tersenyum sedangkan aku masih tidak tahu harus merespon apa. Pikiranku masih dipenuhi berbagai pertanyaan. Aku ingin tau alasan Renjun menjadikanku yeojachingunya.

“Renjun – ah.” Aku memanggil namanya pelan dan ia pun menatapku.

“Waeyo, Jiyoung – ah?” ia masih saja tersenyum. Dan jujur, aku meleleh melihat senyumannya itu. Mungkin ini belum saatnya aku bertanya.

“Ani. Aku hanya memanggilmu saja.” Kataku pada akhirnya. Sepertinya aku akan membiarkan semua ini berjalan dahulu sambil menikmatinya.

“Ah…kau pasti terlalu merindukanku. Tak apa, aku mengerti. O ya, bagaimana jika pulang sekolah nanti aku mengantarmu pulang?” tanya Renjun. Hmm..bukankah biasanya ia naik bus? Apa maksudnya mengantarku pulang? “ Jangan khawatir. Aku membawa motor.” Kata Renjun yang seolah dapat membaca pikiranku.

Kringgggg

“Kajja kita ke kelas.” Renjun berjalan dengan tangannya menggandeng tanganku. Jantungku berdegup dengan kencang.

Sesampainya di kelas…

Renjun masih saja menggandeng tanganku. Ia tidak melepaskannya sampai kami pun duduk, ia masih memegang tanganku.

“Ren..Renjun, tanganmu.” Kataku sambil melirik tanganku yang masih digenggam olehnya.

“Cieee….kami mengerti jika kalian adalah sepasang kekasih…tapi jangan mengumbar kemesraan kalian di sini.” Kata Seo Inha.

“Ne…kalian membuatku iri saja.” Kata Kim Yejin.

Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis. Saat ini jantungku masih berdegup dengan kencang. Aku dari tadi berusaha menetralkan degup jantungku. Sepertinya sebentar lagi aku akan terkena sakit jantung karena jantungku terus berdegup dengan tidak normal.

“Chagiya, kenapa kau dari tadi diam saja? Biasanya kau akan memaki – makiku dan memukulku. Kenapa kau sekarang menjadi pendiam?”

“Aku menjadi seperti ini karena dirimu, Huang Renjun.” Kataku dalam hati.

“Ehm…tak apa. Aku hanya sedang malas bicara.” Kataku. Aku ingin tertawa dengan kata – kataku sendiri. Malas bicara apanya? Aku malah ingin berbicara dengan Renjun tapi rasa gugupku ini tidak dapat segera menghilang.

@@@

“Ya! Chagiya, kau mau kemana?” tiba – tiba Renjun memanggilku.

Uuuh…hampir saja aku dapat kabur darinya. Ternyata ia lebih cepat dari yang aku pikirkan.

“Ah..i..itu, aku mau ke toilet dulu.” Kataku berbohong.

“Oh, ya sudah. Aku tunggu di parkiran ya.” Kata Renjun. Aku pun mengangguk lalu segera berlari menuju toilet.

“Chagiya! Jangan lari – lari! Kalau kau jatuh bagaimana?”

Tak kupedulikan suara Renjun. Yang kuperlukan hanya menjauh darinya sebentar saja. “Tenang Jiyoung, tenang…kenapa kau jadi seperti ini?” aku menatap bayangan diriku di cermin. “Tidak..aku tidak boleh begini. Uh…sial!” aku memukul – mukul dadaku karena kesal. “Kenapa jantungku terus berdegup kencang begini?” aku lalu membasuh wajahku dengan air lalu segera keluar dari toilet.

Aku berjalan menuju parkiran sambil menunduk. Aku tak bisa melihat wajah Renjun. Jika aku melihatnya, jantungku ini akan terus menggila.

Duk..

Kepalaku menabrak sesuatu. Aku pun mendongak dan melihat Renjun tersenyum.

“Chagiya, jika kau ingin dipeluk, katakan saja. Kenapa malu – malu begini , eoh?” langsung saja Renjun melingkarkan tangannya untuk memelukku. Oh…tidak. Jika begini, Renjun pasti bisa merasakan degup jantungku. Aku langsung melepaskan diri dari pelukannya.

“Hmm? Kenapa kau melepaskan pelukanku?” ia bertanya padaku.

“Ka..kajja, kita pulang.” Aku ingin segera pulang agar jantungku ini bisa lebih tenang.

“Baiklah kita pulang. Kapan – kapan saja aku akan memelukmu lagi.” Ucap Renjun. Ish..tidak tidak. Aku tidak mau. Dipeluk tadi saja aku sudah hampir kehilangan napas. Bagaimana jika ia memelukku lagi? Bisa – bisa aku langsung mati berdiri!

Aku segera naik ke motor Renjun. Aku baru tau jika ia bisa menyetir karena selama ini ia hanya naik bus ke sekolah.

“Chagiya, ayo pegangan!”

“Shireo!” jawabku cepat.

“Ish..ya sudah.”

Ia segera melajukan motornya. Tak kusangka, ia melajukan motornya dengan cepat. Aku langsung memeluk pinggangnya denga erat.

“Nah, begitu. Kenapa tidak dari tadi saja kau berpegangan?” aku tak menjawab pertanyaan Renjun. Aku lalu segera melepaskan tanganku yang melingkar di pinggangnya itu. Dasar namja! Mencari kesempatan saja.

Setelah itu, tidak ada percakapan diantara kami. Renjun hanya fokus pada jalan, sedangkan aku fokus pada pikiranku sendiri.

“Chagiya, kita sudah sampai.” Tak terasa sudah sampai rumahku. Aku lalu turun dari motornya.

“Gomawo, Renjun  – ah.” Kataku lalu berbalik dan meninggalkannya. Aku berlari masuk ke rumah dan aku mendengar Renjun tertawa.

@@@

Aku mengambil ponselku yang tergeletak di tempat tidurku. Rasanya tubuhku terasa segar setelah mandi.

Ting..

Ada pesan masuk.

Renjun : Chagiya, apa yang sedang kau lakukan?

Ish…kenapa namja ini mengirimiku pesan? Padahal baru saja jantungku kembali normal, sekarang sudah berdegup kencang kembali.

Jiyoung : Bernapas.

Ting…

Cepat sekali ia membalas.

Renjun : Hmmm…saat kau bernapas, jangan lupa memikirkan aku ya. ^-^

Jiyoung : Hei, jangan lupa besok ada test fisika.

Renjun : Ah..iya aku hampir lupa. Jangan lupa belajar, eoh. Sekarang aku juga akan belajar.  

Byeeee ^-^

Aku segera mematikan ponselku dan mengambil buku fisikaku untuk belajar.

@@@

Keesokan paginya…

Aku segera bangun ketika mendengar alarmku berbunyi. Jam 05. 30.

Ting..

Sebuah pesan masuk. Cih….siapa yang mengirim pesan pagi – pagi seperti ini? Langsung saja aku membaca pesan itu.

Renjun : Chagiya, aku sudah ada di bawah.

Aku langsung membelalakkan mataku dan melempar ponselku ke tempat tidur lalu berjalan keluar kamar. Aku langsung menuruni tangga dan melihat Renjun ada di meja makan dengan eomma dan appaku.

“Aigoo…Jiyoung – ah, apa kau tak malu keluar dengan penampilan berantakan seperti itu?” tiba – tiba eomma berkata dan Renjun pun menoleh padaku. Penampilanku acak – acakan?

Oh..tidak! Aku bahkan baru bangun dan tidak menyisir rambutku dulu.

“Chagiya, kau cantik kok setelah bangun tidur. Wajahmu cantik natural.” Kata Renjun dengan senyumannya. Tidak..tidak! Aku segera berlari masuk ke kamar. Mau apa ia pagi – pagi datang ke rumahku? Mengganggu ketenangku saja. Tak berlama – lama lagi, aku segera mengambil handuk dan mandi.

Skip….

Setelah mandi aku lalu menyisir rambutku dan mengikatnya. Aku memakai sedikit bedak juga. Tak lupa aku mengambil tasku lalu keluar dari kamar.

“Eomma.” Aku memanggil eomma yang berada di dapur.

“Waeyo?”

“Kenapa namja itu ada di sini?” aku menunjuk Renjun.

“Tentu saja untuk menjemputmu, sayang. Dia kan namjachingumu. Sudahlah jangan lama – lama di sini. Cepat berangkat!” kata eomma sambil mendorongku pelan.

“Ne. Aku berangkat dulu eomma.”

Aku pun berjalan menuju ruang tamu. Di sana ada Renjun dan appa.

“Aigoo…putri appa sudah besar ternyata. Sudah punya namjachingu.” Kata appa sambil tersenyum lebar dan seketika pipiku terasa panas.

“Chagiya, apa kau sudah siap berangkat?” tanya Renjun dan aku pun mengangguk. Appa juga sudah siap dengan setelan kantornya.

“Baiklah, appa, aku berangkat dulu.” Kataku pada appa lalu memeluknya.

“Hati – hati, sayang. Ingat, jadilah yeoja yang baik untuk namjachingumu itu, eoh?”  bisik appa. Uh…..apa saja yang sudah namja ini katakan pada appa dan eomma?

“Abeoji, kami berangkat dulu.” Kata Renjun berpamitan pada appa. Ish….apa – apaan namja ini? Sejak kapan ia memanggil appaku menjadi abeoji?

Aku dan Renjun pun segera naik motornya dan berangkat menuju sekolah.

@@@

“Jiyoung – ah!” aku menoleh begitu mendengar seseorang memanggilku. Ternyata Yoon Hana. Tumben sekali…

“Aku terkejut begitu mengetahui kau menjadi yeojachingu Renjun. Ternyata selama ini kau menyukai Renjun ya?” tanya Hana. Aku pun bingung menjawab apa. Memang aku menyukai Renjun. Tapi bukankah Renjun menyukai Hana?

“Ahahaha, aku juga terkejut menjadi yeojachingu Renjun.” Jawabku. Bagaimana tidak terkejut? Waktu itu kan niatku hanya main – main. Kenapa jadi sungguhan seperti ini?

“Ya sudah, aku kembali ke kelasku dulu ya. Selamat untukmu!” kata Hana lalu meninggalkanku sendiri di depan kelasku.

@@@

Saat ini sedang berlangsung pelajaran sejarah. Sedari tadi aku memperhatikan pelajaran sedangkan di sebelahku, Renjun sudah tertidur dari tadi. Aku menatapnya sejenak. Mungkin ia mengantuk karena bangun terlalu pagi untuk menjemputku tadi. Aku pun tersenyum tipis menatapnya dan mengelus rambutnya. Setelah itu aku kembali memperhatikan pelajaran.

“Seongsaengnim akan membagi kalian dalam kelompok. 1 kelompok berisi  2 orang. Hm…biar tidak susah, pasangan sebangku kalian akan menjadi kelompok kalian. “ kata seongsaengnim.

“Yessss! Akhirnya aku sekelompok denganmu.” Tiba – tiba Renjun berucap dan membuatku terkejut. Bukankah tadi ia tidur?

“Tugas kalian adalah mereview pelajaran yang sudah seongsaengnim jelaskan tadi. Tugas ini dikumpulkan 3 hari lagi.” Lanjut Min seongsaengnim. Aku lalu menoleh pada Renjun. Ia menampilkan wajah terkejutnya.

“Waeyo?” tanyaku.

“Mati aku…tadi aku tertidur saat pelajaran Min seongsaengnim.” Kata Renjun. Aku tertawa. Siapa suruh dia tadi tidur? Hahahaha

“Salahmu sendiri kau tidur. Hahahaha kau lucu.” Kataku sambil tertawa.

“Chagiya, kalau tertawa, kau semakin cantik.”

Aku langsung menghentikan tawaku.

“Kapan kita akan mengerjakan tugas ini?” tanyaku untuk mengalihkan perkataannya.

“Ehm…bagaimana jika nanti sore di rumahmu? Sekalian aku bisa makan malam dengan eomma dan appamu.” Ei…untuk apa?

“Aku tidak bisa nanti sore. Aku ingin istirahat. Nanti saja sepulang sekolah di perpustakaan. Bagaimana?” aku memutuskan untuk mengerjakannya di perpustakaan saja. Aku ingin istirahat saat di rumah nanti.

“Baiklah. Tapi aku harus ijin dulu kepada pelatih basket kalau hari ini aku tidak bisa ikut latihan.” Katanya dan aku pun mengangguk.

@@@

Sepulang sekolah aku langsung berjalan menuju perpustakaan. Sedangkan Renjun pergi menemui pelatih basketnya. Aku mencari tempat di dekat jendela agar tidak terlalu bosan dengan pemandangan buku – buku di sini. Setelah itu, aku segera mengambil buku catatan sejarahku yang ada di tas dan membacanya. Tak lupa aku juga menyiapkan kertas yang akan kutulisi hasil diskusiku dengan Renjun. Hanya tinggal menunggu Renjun saja.

Hmmm…kemana Renjun? Kenapa lama sekali? Aku menatap jam yang melingkar  di tanganku. Sudah 15 menit aku berada di sini. Apa pelatihnya tidak mengijinkannya? Ini salahku sih…karena aku ingin istirahat saat di rumah sehingga Renjun harus merelakan dirinya tidak ikut latihan basket karena mengerjakan tugas denganku.

Karena sudah tidak sabar, aku segera mengambil ponselku dan mengirimkan pesan pada Renjun.

Jiyoung : Renjun – ah, kau di mana?

Send

Aku menunggu balasan dari Renjun. Aku langsung menatap ponselku lagi ketika ada tulisan read di layar ponselku.

5 menit…

Kenapa ia hanya membaca pesanku? Kenapa ia tidak membalasnya? Sebenarnya kemana namja ini? Akhirnya aku membereskan buku catatan dan kertas ke dalam tasku. Aku lalu keluar dari perpustakaan dan berjalan menuju lapangan basket.

Hmmm? Kenapa lapangan basket ini sepi? Bukankah biasanya ada latihan basket di sini? Aku menatap sekeliling lapangan basket. Tiba – tiba netraku menangkap sesuatu. Aku langsung membelalakkan mataku. Kenapa Renjun bersama Hana? Ia sedang tertawa bersama Hana di kursi penonton. Kenapa tiba – tiba hatiku sakit? Jadi begini…ia tidak membalas pesanku karena ternyata ia sedang bersama Hana. Jadi selama ini ia mempermainkanku? Aku segera berlari meninggalkan Renjun dan Hana dengan air mata yang sudah tumpah.

Aku menunggu bus di halte dengan menangis. Aku tak percaya Renjun begitu. Aku segera mengambil ponselku dan mengirimkan pesan pada Renjun.

Jiyoung : Aku sudah pulang.

Send

Tidak lama, bus yang kutunggu pun datang. Aku lalu segera naik ke bus.

@@@

Normal Pov

Renjun sedang berbicara dengan Hana di kursi penonton lapangan basket.

“Bagaimana kabarmu, Renjun – ah? Kulihat kau sangat bahagia ketika Jiyoung menjadi yeojachingumu.” Kata Hana dan Renjun pun tersenyum.

“Tentu saja aku bahagia karena Jiyoung adalah cinta pertamaku.” Jawab Renjun dengan senyum yang semakin lebar hingga menampakkan eye smilenya. Renjun pun mengecek ponselnya. Ada pesan dari Jiyoung tapi sedetik kemudian, ponselnya mati karena baterainya habis. Ia lalu memasukkan ponselnya lagi ke saku celananya.

“Apa kau setuju untuk membantuku?” tanya Renjun.

“Eoh, tentang rencanamu waktu itu kan? Kejutan untuk ulangtahun Jiyoung.” Renjun pun mengangguk. “Tentu saja aku setuju.”

Tiba – tiba Renjun melihat seorang yeoja yang mirip dengan Jiyoung. Wajahnya berubah panik.

“Waeyo Renjun – ah?” tanya Hana yang ikut bingung juga.

“Aku barusan melihat seseorang yang mirip Jiyoung.” Kata Renjun.

“Hmmm? Jiyoung? Mungkin kau terlalu merindukannya saja makanya kau jadi seperti melihatnya.” Kata Hana karena ia tidak melihat Jiyoung di sini.

“Ah..bisa juga. Ya sudah, aku ke perpustakaan dulu ya. Jiyoung menungguku di sana.” Kata Renjun dan Hana pun mengangguk.

Sesampainya Renjun di perpustakaan, ia mencari – cari Jiyoung. Tetapi ia tidak menemuka Jiyoung di sana. Ia akhirnya berjalan menuju meja penjaga perpustakaan. Kebetulan hari ini yang bertugas menjaga perpustakaan adalah Mark.

“Hyung, apa kau melihat Jiyoung?” tanya Renjun pada Mark.

“Hmm? Yeojachingumu? Tadi ia memang ada di sini sendirian tetapi ia lalu pulang.” Jelas Mark pada Renjun.

“Ah..gomawo hyung. O ya, Hana mencarimu lho, hyung.” Kata Renjun sambil tersenyum menggoda Mark.

“Ish..sudahlah sana cari pacarmu.” Kata Mark dengan wajah memerah.

Renjun pun akhirnya memutuskan untuk pulang saja dan berniat mengirimkan pesan pada Jiyoung nanti sore.

@@@

Sesampainya di rumah, Jiyoung segera berlari menuju kamarnya. Ia melepas dan melemparkan tasnya dengan asal lalu merebahkan tubunya di tempat tidur.

“Nappeun….dasar nappeun namja!” Jiyoung memukul – mukul boneka beruangnya sebagai pelampiasannya pada Renjun. Jiyoung melihat ponselnya.

“Bahkan ia tak membaca pesanku!” Jiyoung berteriak. “Nappeun! Aku benci padanya!” kata Jiyoung dan tidak lama ia sudah terlelap sambil sesenggukan.

@@@

Jiyoung’s Pov

Setelah mandi, aku mengecek ponselku dan ternyata ada pesan dari Renjun.

Renjun : Chagiya, kenapa kau tadi tiba – tiba pulang?

Aku malas membalas pesannya itu. Tapi akhirnya kubalas juga.

Jiyoung : Kau sendiri, kenapa tadi hanya membaca pesanku? Kenapa tidak membalas?

Ting…

Cepat sekali ia membalasnya.

Renjun : Mianhe T_T tadi baterai ponselku habis.

Cih…alasan apa itu? Bukankah tadi ia bersama Hana sehingga tidak membalas pesanku?

Renjun : Chagiya, tadi kau cantik sekali saat rambutmu kau ikat. Besok, ikat rambutmu lagi, eoh. Aku menyukainya.

Blush…pipiku langsung memanas. Tidak..kali ini aku tak boleh luluh akan rayuannya.

Jiyoung : Tidak janji

Renjun : Baiklah…sebaiknya kau istirahat, eoh. Byeeee

Bahkan ia tidak pernah mengatakan jika ia menyukaiku. Selama ini memang ia mengatakan kata – kata yang manis untukku. Tapi menurutku ia sama sekali tak pernah mengucapkan jika dia menyukaiku. Mungin benar….ia hanya mempermainkanku.

@@@

Keesokan paginya, Renjun sudah ada di meja makan seperti kemarin bersama eomma dan appa.

“Good morning, chagiya!” ia menyapaku dengan senyum lebar dan aku hanya menampilkan wajah datar.

“Ya! Balaslah sapaan namjachingumu itu.” Kata eomma.

“Ne. Selamat pagi.” Ucapku dengan nada datar.

“Ish….anak ini!” kata eomma. Aku sedang tidak mood melihat Renjun. Hatiku sudah terlanjur sakit. Mungkin beberapa hari kedepan aku akan memutuskannya saja.

“Ya sudah. Kajja kita berangkat!” ajak Renjun padaku.

@@@

Waktu istirahat, Renjun langsung berjalan keluar kelas tanpa mengatakan apa pun padaku. Kemana namja itu? Aku berjalan menuju kantin sendirian. Aku hanya membeli jus lalu duduk dan bermain ponsel. Tak sengaja aku melihat Renjun dengan Hana di sudut kantin. Ish….jadi ini kelakuannya. Aku segera berjalan meninggalkan kantin.

@@@

Hari ini aku tak banyak bicara pada Renjun. Aku sangat sangat kesal padanya. Bisa dikatakan aku ini sedang sakit hati.

“Chagiya, kenapa dari tadi kau diam saja?” tanya Renjun padaku. “Apa kau sakit? Kau bahkan tidak tertawa sama sekali.”

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku sengaja agar ia peka terhadap apa yang aku rasakan.

“Mianhe chagiya, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku ada urusan.” Kata Renjun dengan wajah bersalah.

“Kau tidak usah mengantarku selamanya pun aku juga tidak masalah.” Kataku dengan datar lalu meninggalkannya. Aku terus berjalan hingga saat ada belokan aku berbelok dan berhenti. Aku agak menyesal dengan perkataanku barusan. Mungkin saja kata – kataku terlalu kasar padanya.

Tapi…ngomong – ngomong, kemana Renjun? Akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya saja diam – diam. Aku terus berjalan mengikutinya sampai akhirnya Renjun berhenti di taman belakang sekolah. Apa? Kenapa ada Hana juga di situ?

Sudah cukup! Ternyata memang benar jika selama ini Renjun hanya mempermainkanku. Tekadku semakin kuat untuk memutuskannya. Aku segera berbalik meninggalkannya lalu pulang.

@@@

Renjun : Chagiya! Apa kau pulang dengan selamat?

Renjun mengirimiku pesan.

Jiyoung : Ne.

Renjun : Apa kau sudah makan?

Jiyoung : Ne.

Renjun : Kenapa dari tadi hanya membalas ne? Apa kau baik – baik saja.

Jiyoung : Ani.

Renjun : Ha? Kau kenapa? Apa kau sakit?

Jiyoung : Aku merubah jawabanku karena kau protes kenapa aku hanya menjawab ne. Sekarang aku menjawab lain, kau terkejut.

Renjun : Oh…jadi kau baik – baik saja? Aku kira kau ada apa – apa.

Aku hanya membaca pesan Renjun dan tidak berniat membalasnya. Aku tak baik – baik saja Renjun. Kau tau..hatiku sakit karena dirimu.

@@@

Keesokan harinya, aku bangun seperti biasanya dan aku melihat tidak ada Renjun di meja makan. Apa namja itu benar – benar tidak akan menjemputku?

“Kemana namjachingumu itu? Apa ita tidak menjemputmu?” tanya appa dan aku hanya menggeleng tidak tau.

“Tidak biasanya Renjun tidak menjemputmu. Mungkin ia sakit. Teleponlah dia.” Kata eomma.

“Biar saja. Dia tidak menjemputku aku pun tak masalah.” Jawabku.

“O ya…saengil chukkae Jiyoung – ah!” tiba – tiba eomma mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Aku terkejut. Bahkan aku pun tak ingat jika hari ini aku berulang tahun.

“Saengil chukkae!!! Putri appa sudah besar ternyata. “

Eomma dan appa pun memelukku.

“O ya, eomma ambil kuenya dulu.” Eomma segera berjalan menuju dapur dan tidak lama membawa kue yang besar berwarna ungu.

“Gomawo eomma, appa.” Kataku dengan bahagia.

“O ya, nanti pulang sekolah, ajaklah namjachingumu itu mampir ke sini. Supaya kita bisa memakan kue ini bersama – sama.” Kata eomma. Padahal hari ini aku berniat untuk memutuskan hubunganku dengan Renjun.

“Ya sudah, aku berangkat dulu, eomma, appa.” Aku lalu berpamitan dan segera berangkat ke sekolah agar tidak terlambat.

@@@

Sesampainya di kelas, aku tidak melihat Renjun. Aku hanya melihat tasnya saja. Kemana namja itu?

“Jiyoung – ah! Kulihat tadi Renjun bersama Hana di taman belakang sekolah. Kenapa ia jadi bersama Hana?” tanya Yejin padaku. Apa Yejin serius?  Baru saja aku menginjakkan kakiku ke kelas, aku sudah mendapat berita ini. Aku segera melesat menuju taman belakang sekolah.

Sesampainya di sana, benar saja…Renjun bersama dengan Hana dan di tangannya terdapat sebuah kue ulang tahun yang cantik. Aku baru ingat jika ulang tahun Hana sama dengan ulang tahunku. Air mataku langsung menetes. Jadi…Renjun mengingat ulang tahun Hana dan tidak mengingat ulang tahunku. Bahkan ia belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku.

Aku lalu berjalan menghampiri Renjun.

“Renjun – ah! Kita putus saja.” Kataku. Renjun pun menoleh dan tampak terkejut aku berada di sini.

“Ji…Jiyoung – ah.” Bahkan ia tidak memanggilku chagiya. “Kenapa tiba – tiba kau berbicara seperti itu?” tanya Renjun dengan wajah terkejutnya.

“Karena aku merasa kau hanya mempermainkan aku dan berbahagialah saja dengan Hana.” Kataku lalu segera berbalik dan meninggalkan mereka berdua dengan menangis.

@@@

Normal Pov

“Renjun – ah, sepertinya Jiyoung salah paham padamu. Cepat kau kejar dia!” kata Hana pada Renjun.

“A…aku harus bagaimana?”

“Cepat kejar dia!”

Kringgggg

Tiba – tiba bel masuk berbunyi. Renjun tidak jadi mengejar Jiyoung. Ia melangkahkan kakinya menuju kelas.

“Kuharap kau segera menjelaskan padanya tentang yang sesungguhnya.” Kata Hana lalu menepuk punggung Renjun dan Renjun pun mengangguk.

@@@

Renjun’s Pov

Sepanjang pelajaran berlangsung, Jiyoung sama sekali tidak berbicara padaku. Ini salah paham! Aku harus segera menjelaskan padanya tentang apa yang terjadi.

Kringgg…

Jam pergantian pelajaran pun berbunyi. Jiyoung langsung berjalan meninggalkanku sambil menenteng baju olahraganya.

Skip…

Kali ini guru olahraga kami tidak masuk jadi kami boleh bebas bermain. Kulihat Jiyoung hanya duduk – duduk saja. Aku memutuskan untuk menghampirinya. Begitu melihatku, ia segera berlari tetapi ia lalu menginjak tali sepatunya sendiri dan jatuh. Lututnya berdarah. Tanpa babibu lagi, aku segera menggendongnya ke ruang kesehatan. Jiyoung memberontak.

“Turunkan aku!”

Aku tetap menggendongnya ke ruang kesehatan. Setelah sampai, aku lalu mendudukkan Jiyoung pada tempat tidur ruang kesehatan dan aku pun segera mencari obat untuk mengobati luka Jiyoung.

“Aku bisa melakukannya sendiri.” Kata Jiyoung sambil menyingkirkan tanganku dari lututnya.

“Sudahlah….kau diam saja dulu.” Kataku lalu melanjutkan mengobati luka Jiyoung. “Nah, sudah selesai.” Kataku.

Jiyoung pun lalu turun dari tempat tidur dan hendak pergi tetapi segera kutahan lengannya.

“Waeyo? Lepaskan tangamu dari lenganku.” Kata Jiyoung dengan matanya yang tak mau menatapku.

“Kita perlu bicara Jiyoung – ah. Kau sudah salah paham padaku.” Kataku.

“Salah paham? Bukankah selama ini sudah jelas? Kau hanya mempermainkanku kan? Yang kau sukai adalah Hana. Kenapa malah menjadikanku yeojachingumu? Aku tau kau tidak membalas pesanku karena kau bertemu Hana di lapangan basket. Dan juga….kau lebih tau ulang tahun Hana daripada ulang tahunku yang adalah yeojachingumu. Tapi sekarang aku sudah memutuskanmu.” Kata Jiyoung panjang lebar sambil menahan air matanya.

Aku pun memeluknya. Ia meronta.

“Lepaskan aku Renjun! Jujur, aku menyukaimu tapi aku masih punya hati. Aku tak mau kau mempermainkan aku.” Kata Jiyoung dengan sesenggukan. Jadi…selama ini Jiyoung juga menyukaiku?

“Ji..Jiyoung – ah, kau menyukaiku?” tanyaku untuk memastikan. Jiyoung pun mengangguk.

“Ini semua salah paham. Berilah aku kesempatan untuk menjelaskannya padamu.” Kataku. “Jujur…aku juga menyukaimu. Bahkan kau adalah cinta pertamaku Jiyoung – ah.”

“A..apa? bukankah kau yang mengatakan padaku jika kau menyukai Hana?” tanya Jiyoung dengan wajah bingung. Aku masih memeluknya saat ini dan ia pun sudah tidak meronta lagi.

“Ani. Aku tak pernah menyukai Hana. Waktu itu aku mengatakan jika ku menyukai Hana karena aku ingin tau reaksimu. Apa kau menyukaiku juga atau tidak. Aku juga hanya asal menyebut nama Hana.” Jelasku. Ya…waktu itu aku ingin mengetahui reaksi Jiyoung apakah dia menyukaiku atau tidak. Tapi sepertinya yeoja itu biasa saja dengan pernyataanku.

“Jin..Jinjja? Kau tau, pada waktu kau mengatakan jika kau menyukai Hana, hari itu aku ingin mengutarakan perasaanku padamu. Tapi karena kau mengatakan itu, aku tidak jadi mengutarakan perasaanku padamu. Hatiku sudah terlanjur sakit.” Jelas Jiyoung yang membuatku terkejut. Jadi selama ini……pabo…dasar Renjun pabo!

“Aku semakin sakit hati padamu ketika melihatmu dengan Hana. Saat kau tidak sengaja melemparkan bola basket itu mengenaiku, hari itu aku memutuskan untuk melupakanmu saja dan menjauhimu.” Lanjut Jiyoung.

Aku semakin tak menyangka dengan apa yang dikatakan Jiyoung.

“Jiyoung – ah, kau tau. Pada hari itu aku sangat merasa bersalah padamu. Aku takut kau jadi membenciku.” Kataku. Aku sangat takut seseorang yang kusukai menjadi membenciku. “Tapi kebetulan sekali waktu itu kau menyatakan perasaanmu saat sesudah april mop meskipun kau menganggapnya sebagai lelucon. Tetapi pada saat itu aku merasa sangat senang. Aku menerimamu menjadi yeojachinguku karena ingin membuatmu menyukaiku.” Kataku.

“Jin….jinjja?” tanya Jiyoung dan aku pun mengangguk.

“Tetapi selama kita menjadi sepasang kekasih, aku merasa sedih karena selama ini kau seperti mengacuhkanku dan merasa risih dengan keberadaanku.”

Jiyoung’s Pov

“Tetapi selama kita menjadi sepasang kekasih, aku merasa sedih karena selama ini kau seperti mengacuhkanku dan merasa risih dengan keberadaanku.”

Aku tertegun mendengar perkataan Renjun. Jadi selama ini Renjun merasa sedih atas sikapku. Aku tak menyangka.

“Renjun – ah, aku seperti itu karena aku sendiri tak percaya jika kau menjadi namjachinguku. Aku selalu merasa gugup dan jantungku berdegup kencang setiap kali ada di dekatmu.” Jelasku. Aku tak mau lagi ada salah paham diantara aku dan Renjun.

Renjun pun tersenyum…

“Dan kau tau Jiyoung – ah, beberapa hari ini aku selalu menemui Hana karena aku meminta bantuannya untuk memberikan kejutan saat ulang tahunmu. Aku bahkan tak tahu jika Hana juga berulang tahun hari ini. Tetapi ternyata kau tiba – tiba datang dan memutuskanku. Seketika aku merasa hatiku seperti tertusuk belati. Sangat sakit. Dan kau tau, kue yang aku pegang tadi pagi itu akan aku berikan padamu. Lagipula Hana sudah berpacaran dengan Mark hyung. Apa kau tidak tau?” Kata Renjun.

Aku semakin merasa bersalah pada Renjun.

“Mianhe Renjun – ah. Jeongmal mianhe. Aku sudah salam paham padamu.” Aku pun tak kuasa menahan tangisku. Aku menangis dalam pelukan Renjun. “Mianhe Renjun – ah, aku menyesal telah salah paham padamu.”

Aku merasakan Renjun mengusap rambutku.

“Ne. Aku juga minta maaf padamu karena sebagai namja, aku tidak berani untuk mengutarakan perasaanku padamu.” Kata Renjun dan aku pun mengangguk.

“Sejak kapan kau menyukaiku Renjun  – ah?” tanyaku.

“Ehmm…sejak kita menjadi pasangan saat pidato upacara penerimaan siswa waktu itu.” Kata Renjun. Oh…aku tak menyangka. Pada hari itu juga aku mulai menyukainya.

“Kau tau Renjun…pada hari itu juga aku menyukaimu.” Kataku.

“Jinjja? Maafkan aku karena kau harus merasa salah paham karena aku yang tak kunjung mengutarakan perasaanku. Maaf juga karena aku tak pernah mengatakan aku menyukaimu. Ani…..aku mencintaimu.” Kata Renjun.

“Jadi…apakah kau mau jadi namjachinguku lagi?” tanyaku. Aku membuang rasa maluku. Meskipun aku yeoja, aku yang mengutarakan perasaanku.

“Ani…aku saja yang mengatakannya karena aku namja.”

“Hwang Jiyoung…maukah kau menjadi yeojachinguku?” tanya Renjun dengan kesungguhan di matanya.

“Ne. Aku mau.” Jawabku sambil tersenyum bahagia. Tentu saja aku bahagia

Renjun semakin mempererat pelukannya padaku.

Akhirnya….tidak ada lagi salah paham diantara kita. Aku bahagia karena pada akhirnya aku dan dia bisa bersama.

“Renjun – ah, nanti sepulang sekolah, eomma mengajakmu untuk ke rumahku. Kita rayakan ulang tahunku bersama – sama di rumahku.” Kataku.

“Ne. Bagaimana jika aku mengajak orang tuaku juga? Mungkin mereka akan menjodohkan kita.” Kata Renjun sambil tersenyum sedangkan pipiku langsung memerah.

“Iiish…kau ini.” Aku memukul lengannya pelan.

END

Advertisements

One thought on “[NCTFFI Freelance] Our Love (Oneshot)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s