[Ficlet-Mix] Pluralism of The Monochrome

 PLURALISM OF THE MONOCHROME 

Kita adalah sebuah pusat pusaran yang semakin tenggelam ke bagian terdalam

aiveurislin’s © 2017 ; [NCT’s] Lee Jeno, [OC’s] Cheng Zhu, & [SR17B’s] Lucas Wong ; a ficlet-mix [3 ficlets] ; Sad, Friendship, Hurt/Comfort, & School-life ; for teenager


#1
Jejak Hitam di Atas Putih

Bukan salahku jika ia yang tak kutunggu kedatangannya itu muncul. Namun entah mengapa, sikapmu akhir-akhir ini mulai berubah. Kau menjauhiku seakan-akan kita adalah orang asing yang tak sengaja saling mengenal. Padahal kebersamaan ini telah mencapai usia hampir tiga belas tahun. Mustahil rasanya jika mengatakan kita hanya sekadar tahu nama.

Benar begitu bukan?

Lee Jeno, aku ingin kautahu bahwa kau tidak bersalah dan kau juga tidak perlu marah. Kau hanya tidak memiliki kemampuan untuk mengungkapkan, sama sepertiku. Kita hanya berputar-putar di suatu pusaran. Terkadang kita menjadi kebahagiaan untuk satu sama lain, namun ada kalanya kita menjadi alasan duka yang menyelinap di persepsi masing-masing.

Aku tahu diri, begitu juga denganmu. Tapi asal kautahu, Jen, aku tidak mungkin menyalahkan eksistensi Kak Lucas yang kini muncul di tengah-tengah kita. Ini sama sekali bukan kesalahannya. Ketidakjelasan ini murni berasal dari kita, karena kita sama-sama tidak mau jujur satu sama lain.

Kali ini, aku yang berintuisi –lagi. Menampakkan diri di hadapanmu setelah berhari-hari menghindari tatapanmu. Kulihat kau masih tetap menjadi Lee Jeno yang sama. Kebiasaanmu tak banyak berubah. Hanya saja aku merasa janggal dengan situasi ini.

Jujur saja, Jen, apa kau sudah terbiasa dengan absensiku?

“Jeno,” seruku yang tak lantas mengalihkan atensimu dari kertas besar bertuliskan skedul rapat mingguan CRISIS yang tertempel di sisi dinding dekat jendela.

Um,” ucapmu singkat, masih mematut segenap atensi pada benda yang sama. Satu hal yang dapat kusimpulkan bahwa ungkapan singularis itu telah menciutkan niat yang sudah kupupuk berjam-jam lalu. Ingin sekali kulontarkan dengan gamblang retorika ini sambil menerka-nerka apa jawabanmu,

‘Kau ingin bersamaku dalam konteks apa?’

Membisu, lidahku seakan kehilangan kemampuan verba untuk mengucap retorika itu. Sekon demi sekon berlalu hingga timbul seteru antara logika dan nuraniku. Dalam perang batin yang masih meletup ini, kau menoleh lantas membingkaiku dalam sepasang netramu, “Kalau tidak ada yang penting, jangan panggil aku.”

Klausa itu seketika membunuh sejumput niat yang tersisa. Ibarat kilat yang dengan cepat menyambarku di tengah teriknya matahari siang ini, memorak-porandakan susunan aksara yang harus kutelan kembali. Kepercayaanku padamu kini berada di ambang jurang. Rasanya mustahil, namun inilah kenyataan.

“Hei Renjun!” bagai kontradiksi dengan diri lamamu, kau dengan lancang berbalik dan menemui karibmu lantas meninggalkanku dengan kecamuk yang masih bergejolak dalam benakku. Aku tidak mengerti kenapa kau sebejad itu.

Aku perempuan, Jeno. Hargailah aku sedikit.

Kau tahu aku, Jeno. Aku bukan tipikal gadis melankolis. Namun aku juga punya perasaan. Melihatmu yang masih bisa tersenyum legawa seakan kita tak terikat problema ini membuat hatiku remuk. Apa kau tidak pernah berpikir untuk memperjelas eksistensi ‘kita’? Apa kau hanya ingin menahanku dengan label ‘kau dan aku’?

Jika benar demikian, mengapa kau tidak mengajariku berlakon sepertimu agar tidak ada yang merasa terluka di antara kita?


#2
Kemelud Bidak Catur

Pendar jingga perlahan tersibak, menggoreskan semburat kegelapan yang perlahan menyongsong dari ufuk barat. Matahari nampaknya telah lelah memayungi dunia dan akhirnya mencumbu lautan dan ditelan kegelapan. Biasanya seruanmu-lah yang akan mengingatkanku untuk kembali ke peraduan. Namun hari ini mungkin adalah perkecualian.

“Jen, mau pulang bersama?” kalimat retorika itu meluncur entah dari mana, membuatku sejenak memalingkan atensi dari berkas-berkas yang berserakan di karpet. Aku menoleh lantas mematri parasmu pada kedua bola mataku dan membiarkan beberapa sekon berlalu.

“Kau duluan saja. Aku masih ada pekerjaan,” balasku sarkas, pun pula diselimuti kebohongan. Sungguh ini bukan klausa yang biasa kulontarkan padamu.

‘Maafkan aku, Zhu.’

“Apa tidak bisa ditunda sampai besok? Jangan terlalu memaksa diri. Aku akan meminta Heejin untuk mengambil alih beberapa tugasmu,” tukasmu. Kau mendekat, lalu duduk di dekatku. Kurasakan telapak tanganmu menyentuh bahuku. Saat itu pula ada debaran aneh yang menyerang jantungku tatkala sepasang iris itu kupagut dalam netraku. Jika mata adalah jendela hati, maka aku berharap kau dapat membaca sebuah pinta yang tersirat dalam mataku.

‘Jangan memberiku harapan jika kau tidak menginginkan adanya kita, Zhu.’

Detik demi detik membawa petang kian mengeruh dengan angkuh. Hingga akhirnya kesunyian ini tersingkap kala bunyi notifikasi terdengar. Telapakmu kini teralih dari bahuku menuju saku mantelmu, menjumput ponsel milikmu lantas menilik dengan saksama benda persegi itu. Kulihat rautmu berubah kemudian menatapku kembali dengan sepasang lentera temaram itu.

‘Bisakah kau tidak menunjukkan wajah itu di hadapanku?’

“Jeno, maaf, hari ini kau bisa pulang sendiri kan? Aku baru ingat jika Kak Lucas berjanji menjemputku sore ini dan dia sekarang sedang menungguku di depan gerbang. Kau tidak apa-apa kan aku tinggal?”

Aku tidak tahu badai macam apa yang tengah melanda nuraniku sesaat setelah klausa itu mengudara. Hening menyergap kita kala itu. Terasa aneh, namun tak dapat kutampik sekelebat rasa sakit akan semua itu. Aku hanya menatapmu dalam diam seakan otakku kehilangan sejuta aksara dalam sekejap mata.

‘Zhu, apa aku boleh egois tentang hal ini? Bolehkah aku menarikmu untuk tidak mendekat padanya?’

“Aku masih ingin di sini. Kau bersenang-senanglah dengannya,” ungkapku kemudian berpaling pada berkas yang diapit jemariku. Tak apa jika kau menyebutku pengecut karena mengabaikan eksistensimu. Sungguh, aku tidak ingin peduli dengan umpatan macam apa yang mungkin disuarakan hati kecilmu.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan buat Kak Jeanine khawatir.”

Mematung, aku menatap punggung mungilmu yang semakin menjauh dan lamat ditelan kusen pintu. Aku perlahan tenggelam dalam penyesalan akan presensi segala kontradiksi yang mengelilingi kita, seolah-olah kita adalah kata paling tabu seantero dunia. Peringai arogansiku pun akhirnya roboh, siap digoyahkan angin tanpa halangan apapun.

Asal kautahu saja, Zhu, aku tidak akan menyerah semudah itu.


#3
Topeng Sang Yin

Ada perasaan aneh yang mampir di benakku tatkala hening mengungkungi kita. Sejak memasuki mobil, kau hanya terpekur. Entah apa gerangan yang membuatmu bungkam seribu bahasa dengan tatapan kosong seperti itu. Memang Juliette yang kukenal bukan termasuk gadis yang banyak bicara, namun kau juga bukan sosok yang enggan mengungkapkan perasaanmu, seperti kali ini.

“Ju?”

Kau tak menyahuti seruanku yang lantas mendongkrak grafik kuriositasku mengenai problema yang bergejolak di benakmu. Sikapmu itu menyiratkan sebuah spektrum ambiguitas dalam retinaku, membuatku tertegun lamat laun.

“Juliette?” seruku lagi, agak lebih keras.

“Ah ya, Kak?” kau agak terkejut dan langsung menoleh. Siratmu menyerobot arah pandangku dengan sisa-sisa kekosongan. Sepasang lenganku pun terulur, meliuk di sisi tubuhmu kala menarik seutas sabuk yang belum kaupakai sejak tadi.

“Sepertinya kau tidak senang aku di sini,” ungkapku berkecil hati. Agaknya kesimpulan singkat itu mendobrak kesadaranmu cukup kuat. Binar yang selalu ada di dwimanikmu kembali bersinar. Kulihat kau menyangkalnya, dibuktikan dengan kesepuluh anggota jemarimu yang kompak bergerak ke kanan dan ke kiri, “Tidak, sama sekali tidak, Kak Lucas. Aku hanya mengkhawatirkan Jeno. Kami tidak bisa pulang bersama hari ini. Ia sering pulang terlambat jika kami tidak bersama.”

Tidak, Juliette. Jangan sebut namanya di hadapanku.

“Kalian sepertinya sangat dekat ya? Kau juga membawanya saat menjemputku dan Shandy di bandara kemarin,” tukasku lagi.

Kau mengulas senyum simpul sesaat setelahnya. Sungguh suatu respons yang tak kuduga-duga, “Ah, itu wajar, Kak. Kami sudah terbiasa bersama sejak kecil dan aku sering meminta bantuannya. Dia laki-laki pertama yang menjadi temanku.”

Tidak, Juliette. Aku tidak ingin membahas kesan akan presensinya dalam hatimu. Aku tidak siap kalah darinya untuk hari ini.

Dengan sejumput keraguan, kuraih pergelangan tanganmu, merasakan sejenak debaran jantungku yang meletup-letup kecil layaknya kupu-kupu beterbangan dalam abdomenku, “Kalau begitu, sore ini, kau mau kemana? Starbucks? Baskin Robins?” tanyaku mengubah topik konversasi kita.

“Pizza! Pizza!” balasmu dengan riang yang sontak membuatku mengulas senyum lebar. Kau pun ikut mematri senyum manis yang begitu indah terbias di sepasang fokusku.

Ya, Juliette. Seperti itu. Acuhkan aku, abaikan dia. Biarkan keegoisanku ini memenangkan hatimu untuk kali ini dan seterusnya.

 

–finish.

 

Advertisements

17 thoughts on “[Ficlet-Mix] Pluralism of The Monochrome

  1. Masya Allah……………… indah sekali tulisanmu Bin~
    sebenernya retorika itu apa sih? kalimat yg to the point apa gimana? maklum ya aku sudah lama tidak menjamah buku seusai UN, ingin kulupakan semuanya dan memulai lembaran baru /GAK/
    ehhh anjir anjir lucas baru juga dipublish udah jadi PHO. terus, terus… jeno sama jeanine ini statusnya apa???
    oke, pesan moralnya : yang mencintai duluan bakal kalah sama yang nembak duluan. HUUU JENO SIH KELAMAAN DIAMBIL ORANG KAAANN
    terus, terus, aku juga tidak mau mengabaikan filosofi dari setiap sub judul. gila gila, superrrr !!! biarpun enggak semua bisa aku tebak juntrungannya sih, asal menerka aja di mana letak nyambungnya. maaf yaaa emang lely biasanya bikin FF receh enggak pernah yang sampe deep begini HWAHAHAHA
    oke bin, nice as always and keep writing

    Like

    • Hai Kak Lel 😀
      Retorika itu semacam gaya bahasa, Kak. Cara ngungkapin sesuatu gitu. Waah selamat membuka lembaran baru ya Kak Lel. Hidupkan selalu semboyan datang, kerjakan, lupakan wkwkwk
      Salahkeun mengapa mas lucas itu sebangsat itu yaampun berani-beraninya ngerusak list bias T.T /mianee jenoyaa/ jeanine-jeno itu siblings kok kak wkwkwk walaupun jeanine incest sama adeknya xD
      LAH KOK BENER BANGET SI KAK T.T jeno semedi dulu sana biar dapet pencerahan buat nembak duluan wkwkwk
      Sub-sub judulnya emang sengaja bertema monokrom ko kak. Bikos monokrom is human dan setiap manusia pasti ada sisi hitam-putihnya 🙂
      Sip, Kaklel juga yaa. Keep doing best too 😉 ❤

      Liked by 1 person

  2. ‘Kau ingin bersamaku dalam konteks apa?’

    ^bikin greget ya Allah:( apalagi waktu Jenonya ternyata mau begitu tapi akhirnya nahan gara2 si Ju.

    Aku ngomong apasi ya ga jelas 😂😂

    Btw, helloo 00Line’s squad!!

    Like

    • Andaikan itu menjadi kata yang sempat terucap
      ^lebay mode on. Jeno kurang keberanian sih. Jadi kesel kan ((lah yang nulis siapa emang??))

      Haloo, Bintan 00’liner too. Nice to know you 😀

      Liked by 1 person

    • Waah, nggak kok. Masih banyak kosa kata ambigunya. Masih butuh belajar 🙂

      Karakter Jeno sebenarnya ga dingin kok. Cuma dia marah aja sama dirinya sendiri dan ngelampiasin lewat sikapnya.

      Like

  3. Wooaah. Keren banget sumpah gaya bahasa sama diksi yang kamu pakai. Udah kayak baca novel sastra.
    Dan dari comment section di atas aku baru tahu kalo kamu 00’s line ya? Gila! Aku jadi minder banget hehehe.

    Disini kisahnya Ju-Jeno pelik banget ya. Saling mengharapkan tapi ga saling mengutarakan. Huh, mau nunggu sampe kapan hari dah kalian? Dasar anak-anak jaman sekarang. /berasa tua/
    Dan satu lagi, haduuuh itu presiden kebangsatan SMROOKIES (Re: Lucas) kenapa berasa cocok banget jadi orang ketiga. Huh, sebal (?) jadi bimbang aku.

    Oke. Sorry commentku jadi sepanjang jalan kenangan begini. Pokoknya, semangat terus bikin fiksinya ya 🙂

    Oh ya, salam kenal. Aku Minerva 97L 🙂

    Like

    • Halo, ini ga sebagus itu kok hehehe. Masih banyak kekurangannya, apalagi banyak kalimat ambigu :’) dan aku juga minder sekarang udah banyak penulis muda dibawah 00line yang lebih berbakat. Tapi ga ada kata terlambat buat terus belajar kan? 😀

      Yap, bener. Mereka terlena sama status teman (sangat) dekat. Jadi saat orang lain datang, keduanya saling merasa kehilangan. Di sini ada nasihat tersirat kalau tindakan ga akan berarti apa-apa kalau tidak diucapkan, begitu pula sebaliknya. Karena manusia masing-masing berbeda pemahamannya 🙂
      Waah, kok sama si xD mas lucas emang kelewat bangsat T.T yaampun sampe sekarang ga percaya kalo dia 99liner. He looks like 96liner T.T

      Sip kak, you too. Keep doing great work, Kak Minerva ((waah nama kakak mengingatkanku sama oc-ku sendiri. Namanya kebetulan Minerva juga wkwkwk))

      Like

  4. I’ll gear this review to 2 types of people: current Zune owners who are coensdnriig an upgrade, and people trying to decide between a Zune and an iPod. (There are other players worth considering out there, like the Sony Walkman X, but I hope this gives you enough info to make an informed decision of the Zune vs players other than the iPod line as well.)

    Like

  5. BINTAN

    astaga diksi kamu…………… luar biasa cantik. tbh aku tidak mengenal nct, siapa jeno siapa lucas, yang kukenal hanya taeyong HAHAHAHA tapi somehow aku bisa menikmati tulisan ini karena tata kalimat dan diksinya. mengalir banget, mengalir. apa ya… kayak prosa gitu, sih, kalau aku ngeliatnya, hehehe. kaya bahasa dan implisit. i love your writing style 🙂

    buat isi ceritanya ha.ha.ha.ha. aku ingin menangis saja. tema-tema highschool life, unrequited love, friendzone dan begini-begini tuh emang deket banget ya sama kehidupan sehari-hari, jadi bisa direfleksikan sendiri dan bikin…. galaw.

    nice work, bintan. keep it up! ❤

    Like

    • WAA KAK EVIN

      adudu makasi, tapi ini ga secantik itu kok. Masih banyak kekurangannya. It’s okay kak, dulu aku juga kenalnya Taeyong doang kok xD waah makasih banget kak, aku juga suka gaya nulis kakak yang bisa nambah kosa kataku 😀

      Yap kak, satu suara hehe. Mungkin karena saking geregetnya sama tema-tema keseharian gitu kita jadi ngerasa ambil bagian di ceritanya. Dan damn, bawaannya pengen maki-maki yang jadi pemainnya (berasa nonton sinetron aja wkwkwk)

      Thanks a lot, kak 😀 😉

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s