[NCTFFI Freelance] Zodiac Love Story #Cancer (Series)

Zodiak Love Story

 #Cancer

.

Author :: Rijiyo

Cast :: [NCT’s] Huang Ren Jun as Renjun

Genre :: Friendship, Family

Length :: Oneshoot

Rating :: General

.

“….Cancer maybe not the first person who makes you laugh, but he’ll be the first to see you cry.” – Cancerian

.

Hari ini, saat makan malam, Chenle terlihat tidak berselera. Wajahnya murung dan bibirnya mengerucut. Ia hanya mengaduk-aduk sup hingga bibi Taeyeon menegurnya. Renjun menyadari hal itu, namun ia pura-pura tidak lihat. Saat makan malam usai, saat itulah Renjun mulai mencari tahu apa yang terjadi pada Chenle. Awalnya Chenle tidak mau mengaku, bahkan cowok itu memarahi Renjun dengan bilang kalau Renjun suka ikut campur. Renjun sempat sakit hati mendengarnya, namun ia berusaha bersabar karena tahu ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.

“Cerita dong, Le. Kita, kan, janji nggak bakal ada rahasia,” bujuk Renjun.

“Percuma kalau aku bilang, kamu pasti bakal nggak peduli.”

“Ya aku pastinya peduli lah. Kita, kan, sahabat, apa pun yang kamu lakukan aku pasti peduli.”

“Terus kalau aku bilang besok aku mau diadopsi, apa kamu masih peduli?”

Oh… jadi alasan Chenle murung karena ia mau diadopsi? Senyum Renjun langsung mengembang setelah paham apa yang terjadi. “Selamat, ya. Akhirnya kamu bakal punya Mama Papa.”

“Aku nggak peduli sama mereka. Aku mau menolak, tapi bibi Taeyeon memarahiku. Nggak tahu deh, belakangan ini bibi Taeyeon galak sekali padaku. Padahal sebentar lagi aku mau pergi, bukannya dimanjain atau apa, malah diomelin terus,” racaunya.

“Kenapa kamu menolak? Harusnya kamu senang. Katanya kamu ingin punya keluarga?”

“Iya, sih. Tapi aku nggak mau pisah sama kamu. Boleh nggak, ya, kalau aku bawa kamu juga ke rumah baruku? Soalnya kamu pasti bakal kesepian kalau kutinggal,” kata Chenle dengan raut serius.

Renjun tertawa. “Percaya diri sekali. Lagian temanku masih banyak, kamu nggak usah khawatir.”

“Tapi kak Mark sama Donghyuk, kan, masih suka usil. Nanti nggak ada yang ngebelain kamu.”

Renjun tersenyum lagi, lalu memeluk Chenle beberapa detik. Chenle langsung kaget karena baru kali ini ia dipeluk cowok. “Apaan sih, kamu homo, ya?” ujarnya setengah ketus setengan malu.

“Kamu jangan nakal-nakal, ya, di sana. Jangan sering menumpahkan gula, nanti kamu dimarahi Mamamu kalau nggak nurut. Oh iya, jangan suka nyanyi-nyanyi, suaramu enak sih, tapi lagu yang kamu nyanyikan itu sering nggak jelas.”

Mata Chenle kembali berkaca-kaca. “Kamu juga, ya. Aku doakan semoga kamu cepat diadopsi. Omong-omong, sayang sekali kita bukan anak kembar.” Air mata Chenle akhirnya keluar. Dari bayi, mereka memang sudah bersahabat. Bahkan bibi Taeyeon bilang kalau Renjun dan Chenle ditemukan dalam usia lima bulan di depan panti. Mereka dimasukkan di kotak dengan kertas yang ditempelkan di kotak itu yang bertuliskan nama mereka.

“Memangnya kenapa?” tanya Renjun sambil menghapus air mata Chenle.

“Ya kan enak, kalau kita anak kembar aku bakal bilang sama Mama Papaku kalau aku nggak bisa pisah jauh-jauh dari saudaraku. Pasti mereka bakalan bawa kamu juga biar Renjun dan Chenle bisa selalu bersama. Iya, kan?”

Tak bisa dipungkiri, detik itu juga Renjun langsung ikutan menangis.

.

.

.

.

.

“Renjun, kakak mau diadopsi,” kata Airish sambil menyandarkan kepalanya di bahu Renjun. “Kamu nggak kaget?”

Renjun terkekeh. “Ya kaget lah. Terus kakak senang?”

“Senang, sih, senang. Tapi masalahnya aku sudah 18 tahun. Mendingan si Jaemin, Hina, Ningning, atau kamu yang diadopsi. Aku sudah besar, tinggal di sini sampai tua pun nggak masalah,” beber Airish dengan suara gemetar.

“Kok malah bilang gitu? Katanya tadi senang?”

“Tapi aku maunya kamu yang diadopsi, Renjun. Kamu pasti kesepian, kan, saat ditinggal Chenle? Aku nggak mau lihat kamu murung terus.”

Renjun menghela napas sambil memandang langit sore yang mulai menguning. Sejuknya hawa di taman belakang panti membuat kedua bocah itu semakin terbawa suasana. “Renjun, aku nggak mau diadopsi. Aku kasihan sama kamu….”

“Kasian sama aku atau karena takut nggak bisa ketemu lagi sama kak Mark?”

Airish langsung mengangkat kepalanya dengan pipi merona dan meninju lengan Renjun. “Dari bayi aku sudah dibuang di sini sama orang tuaku, tinggal di panti membuatku merasa lebih berharga. Aku takut di rumah baruku nanti malah bakal dijadiin pembantu atau disiksa. Kan serem.”

Renjun kini malah tertawa. “Hidup ini bukan drama, Kak. Kalau niatnya memang seperti itu, kenapa juga mereka nggak buka sayembara buat mencari pelayan? Kita memang anak buangan, tapi bukan berarti kita nggak berguna.”

Mata Airish berkaca-kaca. Oke, Airish mengaku, ia memang takut tidak bisa bertemu Mark lagi, tapi ia juga kasihan pada Renjun karena Renjun itu anak pendiam dan satu-satunya teman yang paling mengerti dirinya adalah Zhong Chenle. Airish pun sadar setelah Chenle pergi dari panti, Renjun jadi berkali-kali lipat lebih pendiam. Bicara dan tertawanya lebih sedikit. Airish sempat membicarakan hal ini dengan bibi Taeyeon, tapi mereka tentunya tak akan bisa memaksa setiap orang tua yang datang ke panti untuk segera mengadopsi Renjun, kan?

“Jun, kamu jaga diri baik-baik, ya? Kalau Donghyuk masih suka iseng, kamu harus telepon aku biar kubunuh dia,” ucap Airish dengan air mata mengalir.

Renjun tertawa samar hingga gingsulnya kelihatan, lalu menghapus air mata Airish. “Tenang saja, Kak. Kalau pun aku nggak bakal ada yang mengadopsi, itu nggak masalah. Panti ini sudah kuanggap rumah. Nanti kalau sudah besar, aku akan membantu bibi Taeyeon merawat adek-adek yang masih kecil.”

Airish menangis semakin tersedu. “Kamu itu sudah besar, mau sebesar apa lagi?”

Renjun berusaha menahannya, tapi sialnya air mata itu lagi-lagi ikutan muncul tatkala ia melihat orang yang disayanginya menangis.

“Renjun, jangan murung lagi, ya? Padahal kamu kalau tertawa kan ganteng, malah gantengnya melebihi Mark.”

“Masa?”

“Iya. Serius.”

“Ya sudah deh, kalau gitu mulai sekarang aku bakalan ketawa terus biar kakak bisa suka sama aku.”

Mereka berdua terkekeh. Airish sesekali mencubit pipi Renjun hingga cowok itu mengaduh.

.

.

.

.

.

Pagi ini penghuni panti ramainya bukan main. Renjun yang baru bangun tidur pun jadi ikutan kelabakan. Cowok itu tidak tahu apa yang terjadi, yang ada ia malah melihat bibi Taeyeon dan dua orang asing yang sedang keresahan di ruang tamu. Renjun mau bertanya ada apa, tapi takut dikiranya hal itu tidak sopan. Maka saat ia bertemu Mark di depan tangga, ia langsung bertanya.

“Kak, ada apa, sih?”

“Gawat! Ningning hilang!”

“Hah? Kok bisa?”

Gila kali, ya. Padahal Renjun baru bangun, belum cuci muka, mulutnya masih bau jigong, tapi sudah dihadapkan masalah semacam ini.

Mark mengusap wajahnya, frustrasi. “Hari ini Ningning mau diadopsi. Tapi dia nggak mau, makanya kabur dari panti. Kami sudah mencarinya di mana-mana, tapi nggak ketemu. Kamu, sih, dibangunin dari tadi malah tambah ngebo.”

Kalau suasana sedang santai, Renjun pasti akan tertawa mendengar teguran Mark, tapi kali ini lain masalahnya. Ningning yang dikenal menggemaskan dan baru naik kelas 5 SD itu menghilang entah ke mana. Renjun jadi bingung dengan anak-anak di panti ini, banyak di antara mereka yang justru merasa kecewa jika diadopsi. Kalau boleh jujur, Renjun juga tidak begitu memikirkan apakah dia akan diadopsi atau tidak nantinya karena biar bagaimanapun, dia sudah nyaman berada di sini.

“Kak Mark!” teriak Donghyuk sambil menghampiri Mark dan Renjun. Wajahnya sangat cemas dan baru kali ini Renjun melihat Donghyuk dengan ekspresi seperti itu. “Ningning udah ketemu, belum? Aku udah keliling komplek, tapi dia nggak ada. Mana uangku tadi jatuh di jalan, nggak tahu deh sekarang di mana.”

“Renjun, kamu cari Ningning juga, ya. Oh iya, cuci muka dulu, gih. Belekmu masih nyangkut,” ujar Mark, kemudian pergi bersama Donghyuk.

Sesudah cuci muka, Renjun langsung ke luar panti untuk mencari Ningning. Di mulai dari halaman depan panti, gang di ujung komplek, hingga jalan raya. Renjun sesekali meneriakkan nama Ningning hingga tak sedikit orang yang menatapnya bingung. Sebenarnya Renjun malu melakukannya, apalagi dia juga belum mandi. Badannya masih bau kasur dan ia lupa sikat gigi. Ugh, Renjun yakin kalau pagi ini dia tidak terlihat ganteng.

Masih belum habis kesedihan Renjun tentang Airish dan Chenle, kini dia malah dihadapkan masalah baru yang lebih rumit. Sebenarnya Renjun agak kecewa karena Ninging anak perempuan yang paling ia sayangi melebihi anak-anak lainnya, selain karena imut, Ningning juga anak yang selalu memuji lukisannya. Walaupun banyak yang bilang lukisan Renjun jelek, sebanyak itu pula Ningning akan mengelak kalau lukisan Renjun tak beda jauh dengan milik Pablo Picasso.

“Ningning!” Renjun melewati toko-toko dan gedung yang belum jadi sambil terus meneriakkan nama Ningning. Bahkan ia memberanikan diri bertanya pada orang-orang, namun sialnya, mereka semua tidak ada yang tahu.

Hingga kemudian instingnya mengambil alih. Renjun mengingat kira-kira tempat apa yang sering didatangi Ningning. Cewek itu menyukai es krim dan mungkinkah ia bersembunyi di kedai es krim terdekat? Ah, tidak mungkin.

Ningning suka main rugby dengan Jisung dan mungkinkah dia tengah bersembunyi di bukit? Ah, mustahil. Ningning tidak mungkin berani ke tempat sejauh itu.

Renjun mencoba mengumpulkan semua ingatannya tentang Ningning.

Setelah lima menit berdiri di depan toko roti, Renjun pun memilih kembali ke panti. Entah kenapa instingnya sedari tadi mengatakan kalau Ningning tidak mungkin jauh dari panti. Di sana, semua orang masih panik. Bahkan orang tua baru Ningning juga masih terlihat shock, apalagi bibi Taeyeon yang tak henti-hentinya menenangkan sepasang suami istri itu. Renjun menghela napas, lesu. Sudah lima belas menit ia berkutat mencari Ningning di dalam panti, namun tak nampak sedikit pun tanda-tanda jika bocah perempuan itu berada di sana. Rasanya Renjun ingin menangis. Cowok itu tak mungkin bisa hidup tenang jika Ningning belum ditemukan hari ini.

Renjun pun melangkah ke kamarnya. Ia juga masih tidak tahu kenapa malah masuk ke kamar, sudah jelas kalau Ningning tidak mungkin ke sini, kan?

Krok srek.

Suara apa itu? tanya Renjun dalam hati. Baru saja dua langkah masuk, tapi ia sudah mendengar suara gemerisik yang arahnya pun ia tidak tahu dari mana. Renjun seketika merinding, namun cepat-cepat menanamkan asumsi jika suara itu mungkin saja berasal dari cicak, atau tikus yang mengerat. Karena takut, Renjun pun berniat ke luar kamar, namun suara itu malah terdengar semakin keras. Malah kini seperti ditambah isakan kecil. Renjun meneguk ludah, lalu matanya mengelilingi setiap sudut kamar, berusaha mencari sumber suara.

Terdorong rasa curiga, Renjun memberanikan diri mendekati kasurnya. Ia berjongkok. Dengan sangat hati-hati ia menarik selimut yang menutupi kolong ranjangnya, bahkan Renjun sudah menyiapkan antisipasi kalau-kalau yang dilihatnya nanti adalah siluman, maka Renjun tak akan segan-segan menjerit dan segera melapor pada bibi Taeyeon kalau sekarang panti ini sudah angker.

Srek.

Renjun menahan napas ketika selimut telah tersibak sepenuhnya. Di dalam sana, seorang anak perempuan yang rambutnya dikuncir dua balas menatapnya dengan mata basah.

“Kak Renjun?” tanyanya setengah terisak.

Renjun hampir tidak memercayai penglihatannya. Maksudnya, gadis yang tengah meringkuk di bawah kolong tempat tidurnya ini adalah sosok yang tengah membuat seluruh penghuni panti kalang-kabut tak keruan.

“Ningning, kamu ngapain di sini? Ayo keluar,” suruh Renjun.

Ningning menggeleng. “Nggak mau. Ningning nggak mau pergi sama mereka. Ningning mau tetap di sini sama teman-teman.”

“Ya tapi kenapa ngumpet di sini? Kan gelap, banyak debunya. Semuanya lagi nyari kamu, Ning.”

Ningning meneguk ludah. Ia masih bersikeras akan sikapnya. “Pokoknya Ningning nggak mau ke luar.”

Renjun mengulurkan tangannya. “Ayo, ikut kak Renjun.”

Cepat-cepat Ningning menggeleng. “Ningning nggak mau!”

Renjun tersenyum. “Kamu tahu, Ning. Dari dulu kak Renjun pengin banget punya Mama Papa. Pasti enak kalau kita sudah punya orang tua sendiri, bisa sekolah, makan, dan main sepuasnya. Apalagi Mama baru kamu cantik, lho. Kenapa bukan aku yang diadopsi, ya?”

Ningning menatapnya kosong. “Ya sudah bilang aja sama bibi Taeyeon kalau kak Renjun mau menggantikan Ningning, biar Ningning nggak jadi pergi.”

“Memangnya nggak apa-apa kalau kak Renjun pergi dari panti?”

“Nggak apa-apa. Ningning kan masih punya Jisung, kak Jaemin, kak Mark, Lami, kak Donghyuk, kak Jeno, sama kak Lea.”

“Terus kalau satu per satu dari mereka juga diadopsi, Ningning mau sama siapa nantinya?”

Pertanyaan Renjun kali ini serasa menampar pipi Ningning. Perempuan itu jadi ingin menangis lebih kencang. Melihat Ningning yang semakin lesu, Renjun kembali mengulurkan tangannya. “Ayo, kamu harus keluar. Kan kasihan Mama Papa-mu cemas.”

“Nggak mau.” Ningning mulai menangis lagi. Suaranya amat parau yang membuat Renjun semakin iba.

“Ningning, kamu nggak boleh begini. Semua yang ada di sini itu sayaaaaang sekali sama Ningning, makanya Ningning nggak boleh buat kami cemas, oke?”

Ningning masih menangis.

“Kenapa mereka memilih Ningning? Soalnya Ningning itu paling cantik, baik, dan pintar. Beda sama kak Renjun yang suka bangun kesiangan, makanya dari dulu kak Renjun nggak ada yang ngadopsi soalnya mereka nggak mau punya anak pemalas. Beda sama Ningning yang selalu jadi kesayangan bibi.”

Ningning mulai menghentikan tangisannya.

“Ningning dulu juga pernah bilang kalau Ningning iri sama kak Airish yang diadopsi duluan. Bahkan saat itu Ningning ngotot mau ikut kak Airish, Ningning sampai menangis dan nggak mau makan. Terus sekarang kenapa nggak mau?”

“….”

“Ayo. Kita keluar sama-sama,” pungkas Renjun dengan lembut.

“Tapi… tapi Ningning takut dimarahi bibi Taeyeon,” katanya sambil sesenggukan.

“Enggak, kok. Nanti Ningning diam saja, biar kak Renjun yang jelasin semuanya.”

Renjun masih mengulurkan tangannya. Perlahan Ningning mulai meraih jemari putih itu hingga tangan mereka saling menggenggam. Dengan telaten, Renjun menunggu Ningning keluar dari bawah kolong tempat tidur. Keringatnya bercucuran dan kakinya sangat kebas.

Mereka berdua berjalan menuju ruang utama. Di situ ada Mark dan Donghyuk yang tengah minum susu kaleng karena haus. Dua cowok itu menatap Renjun dan Ningning bergantian. Entah mereka sedang lola atau apa karena baru enam detik kemudian Donghyuk menyemprotkan susunya ke wajah Mark saking kagetnya. Sedangkan Mark ingin misuh-misuh saat itu juga.

“Ya ampun, Ningning! Kamu dari mana?” tanya Donghyuk kelewat bahagia. Donghyuk dari tadi sudah capek karena bibi Taeyeon terus menegurnya yang tak kunjung menemukan Ningning.

Bukannya menjawab, Ningning malah bersembunyi di belakang tubuh Renjun.

“Mana bibi Taeyeon?” tanya Renjun.

“Di luar,” jawab Mark sambil tak henti-hentinya menatap Ningning. Padahal tadi dirinya sudah mengelilingi seluruh ruangan di panti dan hasilnya nihil. Tapi Renjun—yang bahkan baru bangun tidur, belum sikat gigi dan belum mandi—langsung bisa menemukan Ningning kurang dari satu jam. Mungkin Renjun punya jampi-jampi, pikirnya sok dramatis.

Renjun dan Ningning pun menghampiri bibi Taeyeon di beranda panti. Bibi Taeyeon tampak kaget sekali dan langsung menghampiri mereka berdua. Anak-anak panti juga langsung menghela napas lega karena Ningning tidak jadi menghilang.

Renjun juga tersenyum lega seolah dia adalah pahlawan. Renjun bangga bisa membahagiakan bibi Taeyeon meskipun saat ini ia tidak percaya diri untuk tertawa lebar-lebar (takut bau jigongnya menguar) dan, yeah, sebenarnya Renjun sangat feminin untuk ukuran cowok. Tapi—sekali lagi—ia senang bisa menemukan Ningning. Mama Papa baru Ningning mengelus rambutnya yang membuat Renjun semakin senang. Dan saat mereka sekeluarga akan meninggalkan panti, Ningning langsung berlari ke pelukan Renjun dengan berurai air mata.

“Kak Renjun….”

“Kamu nggak boleh nakal sama Tuan Choi dan Nyonya Choi, ya? Nggak boleh cengeng, dan harus mandiri,” nasihat Renjun.

Setelah itu, Ningning melepas pelukannya dengan berat hati. Donghyuk sempat menangis melihat adegan ini, tapi Mark yang ada di sebelahnya langsung menyikut pinggangnya sambil bilang kalau cowok itu tidak boleh menangis. Namun saat Donghyuk sudah menghapus air matanya, dia malah melihat Mark mewek. Kan rese.

Sebelum Ningning masuk ke mobil, Renjun sudah pergi ke kamarnya. Renjun bilang kalau ia mau mandi karena hari sudah menjelang siang dan bibi Taeyeon selalu merah kalau anak-anaknya mandi lebih dari jam sepuluh. Tapi ironisnya, justru saat tidak ada siapa-siapa, Renjun malah berani mengeluarkan air mata. Renjun ingin sekali menangis saat tadi Ningning memeluknya, tapi anehnya Renjun malu, apalagi ditonton orang banyak. Dan sebenarnya, tujuannya ke kamar bukan untuk sikat gigi, mandi, atau kembali tidur, melainkan ia mencari tempat untuk menumpahkan luapan perasaan yang sedari tadi ia tahan.

Ia akan merindukan Ningning. Bukan hanya Ningning, tapi Airish dan Chenle juga. Selalu. Selamanya.

Huang Renjun terisak dalam kesendirian di lantai atas kamarnya, ditemani hangatnya suasana musim semi, dan cahaya ramah mentari pagi.

Saat deru mobil Tuan Choi terdengar semakin menjauh, saat itulah Renjun bisa merasakan kalau Ningning sudah tidak berada di panti lagi.

.

.

.

.

.

_Fin_

Advertisements

14 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Zodiac Love Story #Cancer (Series)

  1. Why so sad… huweeeeeeeeee T-T #saveRenjunlife #Renjundeservesmorelove

    Kak Ji, kirain ini bakal romance kayak yg biasanya, terus kenapa itu oi, mba taeng jadi bibi, ngakak ini mah. Ya terus, ini nyambung sih menurutku, cancer kan emang paling sensitif, perasa, moody dan sebagainya. Mood swing mereka udah kayak ombak di tengah laut, naik turun, ganas XD
    Tapi, ini membawakan sisi cancer yg sangat peduli dg sekitar, relate sih, kan diriku juga punya temen yg cancer wkwkwkwkw //gaada yg nanya juga///

    oya, betewe, itu mark belum ada yg ngadopsi kan, mel siap nampung mas mark. hayukkk langsung ke capil aja ngurus surat-surat. eh, kalo ngadopsi emang ke capil, bukannya ke capil itu mo nikah yak? ya udahlah, nikah langsung aja, daripada repot //bobo sana mel, udah malem//

    Dadahhh kak ji XD

    Liked by 1 person

    • Haee dedek Amel kesayangan Jiyo :* /plakk

      Sekarang Taeyon udah enggak jadi kakak, melainkan bibi soalnya sudah memasuki usia tante-tante /dikaplok/ Btw, Mel, Ji juga cancer loh… jadi intinya aku sedang memuji diri sendiri /GAK/ Aku cuma nurut artikel kok mel, kalo nurut sifatku sendiri kan nanti bukan zodiak love story, tapi Jiyo love story #krikk

      Iya, silakan semuanya boleh diadopsi. Ambil 2 gratis 1. Boleh dinego, asalkan jangan dicipok.

      Makasih sudah baca & komen ya Mel ❤ ❤ ❤

      Liked by 1 person

  2. Bacanya sambil mewek tapi pas mewek tiba-tiba ketawa gara2 mark sama haechan. Ihh…keren kak ceritanya kasihan renjun sini aku adopsi ajah hehehehe. Btw kak aku kok macam pernah baca yah yang adegan renjun sama ningning? Y udalah ngga penting juga yang jelas i love this story 🙂 keep writing y kak ryjiyo 🙂

    Liked by 1 person

  3. FF rasa lokal WKWKWK
    aku cancer tapi ga ngerti aku gini juga apa gak……. iya kali ya, hahaha
    mau review apa ya~~~ kok aku mager >///< udah gak pernah bikin FF XD
    kupikir awalnya ini bromance karena ada Lele x Renjun ~ ternyuataahhh
    gini ya nyeseknya anak panti kalo satu per satu temennya diadopsi, sumpah nyesek juga ya pasti 😦
    oke dehh pokoknya ini bagusss engga kalah sama yg romance2 hahaha kutunggu zodiac lainnya 🙂

    Liked by 1 person

    • Weh kita samaan, Ji juga Cancer wkwkwkwkwk /peluk/

      Enggak perlu direview mbalel, sampeyan seliweran di NCTFFI aja aku udah seneng /plakk/ dibakar massal/

      Makasih dah baca & komen mbalel ❤ ❤

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s