[Ficlet] Udal Cuain

Angelina Triaf ©2017 Present

Udal Cuain

Taeil – Hansol – Seulgi | Hurt/Comfort | G | Ficlet

Even though hurt it’s okay, because I love you.

0o0

Seulgi jadi ingat bagaimana tekstur lembut pasir kala menyentuh telapak kaki. Saat itu sore hari, beberapa jam sebelum senja menjemput malam. Boleh saja musim panas, tapi angin tetap terasa sejuk di kulit. Satu dari sekian hal yang membuatnya senang; ia tidak sendiri, ada Hansol yang duduk tepat di sampingnya, menatap deburan ombak yang sama.

Dulu Hansol masih berambut gelap. Matanya yang lebih bulat dari orang Korea kebanyakan berhasil menarik atensi si jelita. Walau dengan awal yang buruk―well, siapa juga yang ingin bilang tertabrak dan ketumpahan kopi panas sebagai sesuatu yang baik, ternyata tak menjadikan hal itu sebuah perkara besar. Cerita mengatakan bahwa mereka bersama, mengikuti takdir yang berjalan.

Kembali lagi pada senja di bibir pantai. Romantisme Hansol akan semakin memuncak jika didukung suasana yang tepat. Jujur saja, pikiran Hansol soal cinta sudah tak dapat diobati lagi. Ia sangat memuja wanita―dalam konteks baik―dan sebisa mungkin memperlakukan mereka dengan penuh kasih.

Hal tersebut yang membuat Seulgi semakin hilang ditelan gelombang dan hanya menjadikan Hansol sebagai satu-satunya prioritas. Apalagi ketika kepalanya memutar kembali kepingan memori yang sebisa mungkin dihilangkan. Seulgi tetap tak mampu, ia sudah menyerah, memutuskan pasrah.

Fakta yang berbunyi kejam, kutukan yang terus menghantui. Ditinggalkan tak lantas membuat ia membenci Hansol. Berkebalikan dengan yang semestinya terjadi. Perasaan Seulgi semakin membuncah, gabungan rindu dan putus asa. Pria itu berhasil membawa seluruh hati dan jiwanya, lalu bagaimana Seulgi bisa pergi jika demikian?

Ketika jemari mereka bertautan, kedua pasang mata saling memandang penuh cinta. Semua masih tergambar jelas, sulit untuk dihilangkan begitu saja. Benar, sangat sulit bagi Seulgi untuk berjuang seorang diri.

Seulgi masih membutuhkan Hansol, apa pun yang terjadi.

“Seulgi, masih di sini?”

Karena itulah, jarum jam yang berputar tak lagi dihiraukan. Waktu tak lagi berharga, dan kewarasan jadi sesuatu yang tak memiliki nilai.

“Aku menunggu Hansol, siapa tahu ia pulang hari ini.”

Taeil tak menyalahkan Seulgi, pun dengan Hansol. Ia hanya menyesali takdir mereka. Takdir yang datang pada hari berselimut badai. Sebuah sesal lantaran tak seharusnya ia masih hidup dan menyebabkan orang lain menderita.

Duduk di samping Seulgi, Taeil ikut menatap pada satu arah; senja yang sama, di bibir pantai yang sama.

“Iya, bisa jadi Hansol pulang hari ini.”

Entah mengharapkan orang yang selamat setelah hanyut ditelan gelombang bisa disebut sebuah pengharapan atau hanya sekadar kekonyolan hidup. Yang jelas, rindu masih menguar di semesta, dan cinta masih akan terus ada untuk siapa pun yang percaya.

Setidaknya itulah menurut Seulgi.

FIN

  • I just miss to write something so forgive me for this nonsense fic u.u
Advertisements

6 thoughts on “[Ficlet] Udal Cuain

    • thanks for reading^^ 94 adalah line dewa kakji dan semua so kiyowo plus nistaable apalagi simbah taeil yang lagi diem aja bikin gemes xD seulgi tabah kok, hansol sudah tenang di alam sana :’)

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s