[Mix Party] C.R.U.S.H

C.R.U.S.H

By : Graenita

Casts :
Iona Young & Jaemin
Milan Russell & Ten
Skylar Park & Jeno
Lin Xie & Winwin
Nikaido Ran & Yuta

Genre :
Slice of Life / Romance / Fantasy / A little bit Horror

Rating :
PG-14

Length :
5 Ficlets

Note :
The OCs aren’t mine

================================

(C) CRYING
(Iona Young & Jaemin)

Sepuluh menit berlalu, dan Jaemin masih duduk terdiam di atas bangku kayu, memandangi Iona yang tak kunjung berhenti menitikkan air mata. Keinginannya untuk memberikan sebuah tisu yang sejak tadi ada di genggamannya mendadak ia urungkan karena gadis berambut lurus tersebut sudah lebih dulu mengeluarkan sapu tangan dari saku jaketnya.

Jaemin hanya tersenyum kecil melihatnya menyeka air mata yang kembali jatuh ke pipinya dengan sedikit kasar. Bahkan ia tak menghilangkan senyumannya ketika ia memiringkan kepala hanya untuk mengamati bagaimana gadis kesayangannya itu menghapus air mata yang tak kunjung berhenti.

Pemandangan yang cukup lucu yang tak sayang bila dilewatkan. Setidaknya menurut Jaemin.

“Semua akan baik-baik saja.”

Akhirnya Jaemin membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu meski ia tahu, apapun yang ia ucapkan tak akan membantu kecuali menambah deras air mata yang mengalir dari mata Iona.

“Tidak ada yang baik-baik saja di sini!” seru Iona di sela isak tangisnya. Sudut matanya tanpa sengaja melihat tangan Jaemin yang menggenggam tisu. Dengan cepat ia mengulurkan tangannya ke arah Jaemin dan merebut tisu tersebut dari Jaemin setelah ia melempar sapu tangannya yang sudah basah ke atas pangkuannya.

“Kau sendiri yang merasa tidak baik-baik saja. Sejak tadi kau yang bertingkah seolah dunia sudah kiamat hanya karena—”

“Diamlah. Kau sama sekali tidak membantu,” Iona menginterupsi perkataan Jaemin dengan ketus.

“Jujur saja, sebenarnya aku ingin membantu, tapi karena kau … Itu,” Jaemin memberi jeda pada kata-katanya. Dagunya bergerak menunjuk ke arah tisu yang kini sudah basah di tangan Iona. “Kau mengambilnya duluan sebelum aku memberikannya padamu.”

Iona tak menanggapi ucapan Jaemin. Ia lebih memilih untuk membiarkan perasaan sedih menguasainya untuk beberapa menit ke depan.

“Hanya karena kematian anak anjing temanmu saja kau sudah seperti ini. Bagaimana nanti kalau kau benar-benar memiliki anjing sendiri suatu saat nanti?”

Sebenarnya ucapan Jaemin terdengar hampir seperti gumaman yang ia kira tak seorang pun bisa mendengarnya. Tak terkecuali Iona yang duduk tepat di sampingnya. Akan tetapi ….

Bug~

“Akh~!”

Jaemin dibuat mengerang kesakitan setelah Iona memukul keras lengannya. Tidak terlalu keras sih, tapi cukup bisa membuat lengannya berkedut nyeri.

“Apa kau mengejekku, hah? Apa karena aku tidak boleh memelihara anjing, kau jadi bisa berbicara seperti itu, hah? Kau benar-benar tidak punya perasaan!”

Alih-alih terkejut atau meminta maaf, Jaemin justru mendengus geli dan berusaha agar ia tidak tertawa. Baiklah, jelas-jelas Iona sedang marah dan reaksi yang ia berikan saat ini bukanlah reaksi yang tepat untuk ditunjukkan pada gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi?

“Dasar Drama Queen,” Jaemin kembali bergumam. Namun, sedetik kemudian ia langsung berdiri dan menjauh dari bangku kayu saat ia melihat tangan Iona bergerak, seolah gadis itu akan kembali memukulnya.

“Kemari kau, Na Jaemin,” erang Iona yang sudah menatap tajam Jaemin.

Awalnya Jaemin hanya berdiri di tempatnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Namun, setelah Iona bangkit dari bangku kayu tersebut dan bersiap untuk kembali menyerangnya, ia langsung memutar tubuh dan berlari menjauh.

“Astaga, bisakah kau berhenti menangis seperti itu?! Kembalilah menjadi Iona yang kukenal! Kau ini menyeramkan sekali!” pekik Jaemin, berusaha menghindar dari tangan Iona yang sejak tadi hampir meraih bagian belakang bajunya.


(R) RUNNING
( Milan Russell & Ten)

“Dia … sangat kuat ….”

Johnny menggumam pelan sambil berdiri di belakang Milan yang sejak tadi mengintip sesuatu dari balik jendela kamarnya. Tentu saja aksi Johnny mengejutkan gadis berambut pirang tersebut hingga hampir berteriak kalau saja Johnny tidak membungkam mulutnya.

Milan berhasil melepaskan tangan Johnny dari wajahnya dan segera menjauh dari jendela.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Milan dengan nada bicara yang sedikit berbisik.

“Mengunjungi rumah sepupuku tercinta yang ….”

“MILAN~!”

Ucapan Johnny terhenti saat seseorang dari arah luar kamar Milan, atau lebih tepatnya … di luar rumah Milan, berteriak memanggil nama Milan dengan suara yang sedikit melengking. Mendadak Milan kembali menempelkan dirinya pada jendela kamar dan membuka sedikit tirai berwarna putih untuk melihat ke arah luar.

Di sana. Di luar sana. Ten tengah berlari-lari mengelilingi rumahnya sambil sesekali melambaikan kedua tangannya ke arah jendela kamar Milan.

“Dia sudah gila, ya?” tanya Johnny yang kembali ikut mengintip.

“Aku juga tidak tahu pasti,” jawab Milan yang sebenarnya sedang menahan tawa.

“Kau pasti juga sudah gila,” desis Johnny yang menyadari bagaimana sepupunya tersebut berusaha untuk tidak tertawa.

Sayang sekali, ucapan Johnny tidak diperhatikan oleh Milan. Gadis bermata indah tersebut sibuk mengamati Ten yang masih saja berlari di luar sana seperti orang gila. Ia yakin, tetangga-tetangganya pasti heran melihat aksi konyol Ten tersebut.

Ia tidak tahu kalau ucapannya yang hanya sekedar lelucon ditanggapi Ten dengan serius.

‘Aku akan makan malam denganmu kalau kau bersedia berlari mengelilingi rumahku di pagi hari sebelum kita berangkat ke kampus bersama-sama.’

Itulah yang Milan katakan pada Ten kemarin. Ia pikir saat itu Ten hanya bercanda saat tertawa dan berkata bahwa ia sanggup melakukannya.

“Kau bisa dituntut karena sudah membuat anak orang menjadi gila seperti itu,” seloroh Johnny seraya berjalan ke arah pintu kamar Milan.

Baiklah. Ucapan Johnny terdengar masuk akal. Dengan cepat Milan berlari ke luar kamarnya dan menabrak bahu sepupunya tersebut begitu saja ketika ia berlari menuruni tangga.

“Mi~ hah … ~lan … Hai!”

Ten yang akhirnya melihat Milan muncul dari dalam rumahnya seraya melambaikan tangan dan bermaksud untuk menghampiri gadis itu. Akan tetapi, salah satu tali sepatunya yang terlepas membuatnya tersandung dan kini ia mendarat di atas jalanan beraspal dengan sedikit dramastis.

Milan yang menyaksikannya langsung berlari kecil menghampirinya dengan wajah khawatir.

“Ten, kau tidak apa-apa?!” pekik Milan sambil membantu Ten bangun.

“Menurutmu?”

Respons tersebut keluar begitu saja karena Ten sudah tidak bisa berpikir jernih. Ia sudah kehabisan napas dan tenaga untuk memberikan reaksi yang sedikit manis pada Milan.

Wow, sorry kalau begitu. Tapi, siapa juga yang menyuruhmu berlari seperti ini? Aku hanya bercanda kemarin,” ucap Milan sambil memberikan sebotol air dingin pada Ten.

“Apa … hah … menyukai seseorang harus semenderita ini, ya?”

Botol air dingin di tangan Milan terlepas begitu saja. Kedua alis mata gadis itu terangkat sempurna.

“Apa?”

Ten sudah tidak sanggup lagi berbicara karena napasnya sudah terengah-engah. Dan suara Johnny dari arah jendela kamar Milan membuat Ten dan Milan saling pandang satu sama lain untuk beberapa detik.

“Bisakah kalian berkencan saja?! Berhentilah bertingkah seperti pasangan di film-film!”


(U) UNSPOKEN WORDS
( Skylar Park & Jeno)

Sky termenung. Kepalanya tertunduk. Ia sama sekali tak memiliki kekuatan sedikit pun untuk menegakkan kepalanya. Kedua matanya pun terpejam. Sungguh, ia tidak ingin membiarkan air mata sialan itu jatuh dari pelupuk matanya. Tapi karena hatinya yang begitu berkecamuk, akhirnya pertahanannya hancur. Titik-titik air mata meluncur begitu saja ke pipinya.

Ia mencoba menggigit bibir bawahnya agar ia tidak terisak. Namun, lagi-lagi gagal. Kini suara isak tangis pelan lolos dari bibir mungilnya. Tangannya terangkat menutupi kedua matanya agar air matanya berhenti mengalir.

Cara yang sia-sia.

Sky tahu itu.

Air matanya tak akan berhenti dengan mudah. Ia tahu itu.

“Bisakah kau tidak pergi?” keluhnya dengan suara serak. Tangannya yang gemetar masih menutupi kedua matanya. Ia merasakan sedikit perasaan hangat ketika sepasang tangan mendarat lembut di kedua bahunya yang terguncang lemah karena isakan tangisnya.

“Tapi aku harus.”

Suara berat yang satu bulan ini menjadi alunan lagu terindah baginya terdengar. Entah kenapa suara itu justru semakin membuatnya ingin menangis lebih kencang lagi.

“Bisakah … kau tidak pergi? Aku mohon,” ucap Sky lemah

 “Tempatku bukan di sini.”

Ucapan itu membuat Sky seketika menegakkan kepalanya untuk memandang seorang pemuda yang sejak tadi berdiri tepat di hadapannya. Matanya yang berkaca-kaca memandang sendu ke arah pemuda tersebut.

“Jeno ….”

“Senang rasanya bisa bertemu denganmu dan menghabiskan waktu bersamamu di atap rumah. Aku akan mengingatnya,” ucap pemuda yang dipanggil Sky dengan nama Jeno tersebut.

“Jeno ….”

Sky ingin membantah semua yang diucapkan Jeno karena ia tidak bisa merasa senang saat ini. Tapi ketika kedua matanya melihat bagaimana sepasang sayap berwarna putih bergerak pelan dari balik punggung Jeno, ia mengatupkan bibirnya. Air mata kembali mengalir deras.

Ia tidak bisa membantahnya. Ia tidak memiliki kekuatan untuk membantah apapun yang dikatakan Jeno saat ini.

Mengapa sepasang sayap itu harus ada?

Mengapa Jeno harus muncul sebagai sebuah makhluk asing yang tidak bisa ia anggap seperti manusia biasa?

Pertanyaan-pertanyaan itu kembali menampar wajah Sky agar ia segera terbangun dan berhenti mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah ia dapatkan. Ya, sesuatu itu sudah ada tepat di hadapannya.

Jeno.

Manusia bersayap yang tiba-tiba muncul di atap rumahnya ketika ia sendirian di atas sana sebulan yang lalu

“Terima kasih sudah menyembunyikanku dari orang-orang yang curiga dengan keberadaanku di atap rumahmu. Kau sudah menjagaku dengan sangat baik. Aku tidak tahu apakah manusia lain di tempatmu juga memiliki hati yang baik sepertimu. Tapi yang jelas, kau adalah manusia paling baik yang pernah kutemui,” ucap Jeno seraya menyunggingkan senyum hangatnya.

Mata Sky tanpa sengaja melihat bagaimana matahari di ufuk barat perlahan mulai redup sinarnya. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Waktunya semakin sedikit. Waktunya untuk bersama Jeno semakin berkurang.

“Satu hari lagi. Tetaplah di sini sehari lagi saja, ya?” Suara Sky terdengar begitu memilukan.

Meski tetap tersenyum, sorot mata Jeno berubah menjadi sedih saat melihat bagaimana Sky memohon padanya. Tangannya bergerak pelan, menggenggam jemari dingin Sky.

“Andai aku bisa, aku akan tinggal di sini selamanya. Bersamamu. Bersama teman yang ….,” Jeno memberi jeda pada kata-katanya dan ekspresi wajahnya sedikit terkejut, seolah ia baru saja mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak ingin ia katakan.

“Iya. Kau bilang aku adalah temanmu. Bukankah meninggalkan teman adalah sesuatu yang jahat? Kau tidak seharusnya meninggalkan temanmu seperti ini!”

Meski samar, senyum Jeno kini terkesan getir. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya ketika Sky menyebut kata teman.

“Sky … aku ….”

Belum selesai Jeno berbicara, liontin berbentuk kubus yang menggantung di lehernya mengeluarkan sinar berwarna putih yang cukup terang. Cahaya itu berpendar beberapa kali. Hal tersebut sontak membuat Jeno dan Sky terkejut.

Tangan Jeno melepaskan jemari Sky ketika kedua sayap putihnya kembali bergerak dan kini ia pun mengepakkan sayapnya lebar-lebar. Perlahan tubuhnya melayang.

“Kau adalah … teman yang … sangat berarti, Sky.”


(S) SNACK
( Lin Xie & Winwin)

Hampir lima belas menit Winwin berdiri di rak yang berisi tumpukan beragam jenis makanan ringan yang ada di dalam toko dekat apartemennya. Ia tidak tahu apa yang harus ia beli.

Ia menegakkan kepalanya untuk melihat sekitar. Tak ada siapa pun di dalam toko kecuali kasir yang entah bagaimana bisa tertidur di kursinya. Ia mendengus pelan sambil kembali mengarahkan pandangannya pada tumpukan makanan ringan yang ada di hadapannya.

“Tahu begini, aku tidak perlu keluar dari apartemen dan tidur saja tadi,” keluhnya seraya memasukkan beberapa bungkus keripik dan kue kering ke dalam keranjang belanjanya. Ia menyeret kakinya ke arah lemari pendingin yang tak jauh darinya.

Tangannya baru akan terulur untuk membuka lemari pendingin tersebut ketika sudut matanya menangkap sosok seorang gadis berpakaian serba hijau yang berdiri di depan rak berisi makanan ringan. Secara spontan ia menoleh ke arah gadis itu dan tanpa sadar ia menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.

“Hai.”

Rasanya Winwin ingin menampar bibirnya sendiri karena sudah lancang menyapa gadis manis itu dengan sedikit lantang.

Well, setidaknya sapaannya tidak terbuang sia-sia karena gadis itu menoleh dengan anggun ke arahnya. Winwin hampir menjatuhkan keranjang belanjanya ketika ia mendapatkan senyuman manis dari gadis itu.

Astaga, masih ada ya makhluk seindah dia di dunia ini?

“Apa kau bisa membantuku?”

Tak butuh waktu lama bagi Winwin untuk berpikir apa ia harus membantu gadis itu atau tidak karena kini ia mengayunkan kakinya ke arah gadis itu.

“Apa yang bisa kubantu?”

“Aku sedang mencari kue kering cokelat. Sejak kemarin aku tidak bisa menemukannya di sini,” ujar gadis itu.

Winwin langsung mengarahkan matanya ke rak dan mengamati satu per satu tumpukan kue kering beraneka rasa di sana. Memang tidak ada yang rasa cokelat di sana.

“Sebentar. Biar aku bertanya pada kasir dulu.”

Winwin seraya berjalan ke arah meja kasir yang mana ia dibuat heran karena ia tak menemukan siapa pun di sana. Ke mana perginya kasir yang tadi?

“Permisi!”

Winwin terpaksa meninggikan suaranya karena sudah hampir beberapa detik tak ada tanda-tanda munculnya kasir tersebut.

“Permi—“

“Kenapa kau berteriak-teriak?”

Tepukan keras di bahunya membuat Winwin tersentak. Dalam hati ia mendesis kesal karena kasir tersebut muncul tiba-tiba seperti itu seperti hantu.

“Paman, apa stok kue kering cokelat yang ada di rak yang itu sudah habis?” tanyanya sambil menunjuk ke arah deretan rak berisi makanan ringan.

“Aku tidak lagi menyediakan kue kering cokelat.”

“Tapi gadis itu—“

“Gadis?”

Winwin menunjuk ke arah rak yang tadi ia sebutkan sambil menoleh ke belakang. Ia terpaksa mengernyitkan kening karena di sana tidak ada siapa-siapa.

“Apa dia sudah pergi?” gumamnya pelan.

“Siapa yang kau maksud?”

“Itu. Gadis berpakaian serba hijau yang tadi mencari kue kering cokelat. Dia meminta bantuanku karena ia tidak bisa menemukan kue itu di sana,” jawab Winwin sambil berusaha mencari sosok gadis berwajah manis yang tadi.

Anehnya, kasir toko tersebut menghela napas.

“Sejak tadi kau berbicara sendiri di sana. Kupikir kau orang gila.”

“Apa? Aku berbicara sendiri? Paman, tadi itu—“

“Namanya Lin Xie. Dia seorang perawat di rumah sakit yang ada di seberang jalan depan sana. Kue kering cokelat kesukaannya memang cokelat,” potong kasir tersebut sambil memeriksa sesuatu di ponselnya.

“Lin Xie?” Sejenak Winwin terpana. Namun, sesaat kemudian ia kembali mengernyitkan kening. “Tapi kenapa Paman bilang aku berbicara sendiri tadi?”

“Oh, perawat itu sudah meninggal seminggu yang lalu. Ia tertabrak mobil di depan toko ini saat ingin membeli kue kering cokelat yang kau maksud tadi. Tadi kau pasti … bertemu dengan arwahnya yang masih gentayangan. Aku sudah terbiasa sih dengan kemunculannya di sini. Kau orang baru di daerah sini, ya?”

Seketika Winwin menjatuhkan keranjang belanjanya. Ekspresi terkejut dan tidak percaya begitu kentara di wajahnya.


(H) HAMBURGER
(Nikaido Ran & Yuta)

Ran berlari kecil memasuki sebuah rumah makan cepat saji yang ada di depan gedung kantor tempatnya bekerja. Waktu jam makan siang sudah hampir habis. Oh, lebih tepatnya kurang tiga menit lagi. Sial, bukan?

Semua pekerjaannya yang menumpuk membuatnya lupa akan jam makan siangnya sendiri dan kini ia disuruh untuk membelikan bosnya makan siang di luar. Mungkin masalah tidak akan rumit bila bosnya tidak begitu ketat dan menyebalkan. Tapi fakta yang ada ….

“Dia akan membunuhku bila aku terlambat satu menit saja. Dasar orang aneh,” gerutunya sambil menerobos masuk ke dalam rumah makan tersebut dan memesan satu buah hamburger dan satu teriyaki rice box pada pelayan rumah makan tersebut.

“Maaf, bisa lebih cepat sedikit tidak?” pinta Ran tanpa peduli bila ia akan mendapat lirikan ketus dari pelayan tersebut.

Well, pada akhirnya ia memang mendapatkannya. Pelayan memandangnya dengan sedikit keras. Ran, kau pikir membuatkan pesanan pelanggan itu semudah membalikkan telapak tangan? Di mana otakmu, hah?

“Terima kasih!”

Ran langsung berterima kasih setelah menerima pesanannya beberapa saat kemudian. Tanpa memikirkan kedua kakinya yang sudah pegal karena high heels-nya, ia langsung melesat keluar dan kembali berlari kecil menuju gedung tempatnya bekerja.

“Sial! Satu menit lagi! Dan aku masih harus naik lift yang sudah pasti akan memakan waktu lebih dari satu menit untuk sampai ke ruang kerja bos sialan itu.”

Ran terus menggerutu sepanjang perjalanannya kembali ke kantor. Ia bahkan berteriak-teriak seperti gadis gila saat menyuruh beberapa pegawai kantor yang kebetulan menghalangi larinya. Baiklah, urusan minta maaf pada mereka bisa diselesaikan nanti setelah pulang kerja. Saat ini hidup matinya ada di kedua tangannya.

Maksud Ran … di hamburger dan teriyaki rice box ini.

“Besok-besok tolong lift-nya diperbaiki! Kotak besi sialan!” erang Ran sesaat setelah keluar dari lift yang mengantarnya ke lantai lima. Lantai di mana ruang kerja bosnya berada.

Persetan dengan rambutnya yang kini sudah berantakan.

Persetan dengan kemeja hitamnya yang sudah tak rapi lagi.

“Makan siang Anda sudah datang!”

Sebenarnya Ran tidak perlu berteriak seperti itu mengingat ia sudah berada di dalam ruang kerja bosnya. Napasnya terengah-engah. Kedua kakinya sedikit gemetar.

“Pak, makan siang Anda,” ujarnya dengan nada bicara yang sedikit pelan. Matanya turun ke arah papan nama yang terbuat dari kaca yang ada di atas meja kerja bosnya itu.

NAKAMOTO YUTA.

Kudoakan kau akan tersedak makan semua ini nanti.

Kesabaran Ran sudah habis setelah bosnya yang sejak tadi duduk di atas kursi kerja dan membelakanginya tak kunjung berbalik ke arahnya. Dengan kasar ia mendaratkan dua makanan cepat saji itu ke atas meja.

“Ayolah. Aku sudah ….”

Belum selesai ia melontarkan keluhannya, kursi itu berputar ke arahnya. Sosok Yuta yang berkacamata langsung menyambutnya. Meski kesal, ia masih merasa kagum dan berdebar-debar setiap kali memandang Yuta seperti itu.

Kemeja putih dan berdasi. Tatanan rambut yang rapi dengan sebagian rambut yang menghiasi kening. Kacamata. Oh, dan jangan lupakan wajah tampannya. Astaga.

Halo, Ran. Kau sedang kesal padanya. Berhentilah mengaguminya sesaat saja.

“Kau berantakan sekali.”

Yuta tampak terkejut melihat penampilan Ran yang hampir mirip gelandangan itu. Ia seraya bangkit dari kursinya dan mengamati gadis itu. Alis matanya terangkat setelah menyadari kedua kaki Ran yang gemetar, rambut Ran yang berantakan dan keringat yang menghiasi kening dan leher Ran.

“Lain kali suruh anak buahmu yang lain saja bila kau ingin makan sesuatu. Tidak. Lain kali suruh anak buahmu yang lain saja bila kau ingin membunuh seseorang. Aku … sudah tidak bisa memberikan toleransi padamu. Mengerti?” ucap Ran terengah-engah.

“Aku tadi hanya bercanda,” ujar Yuta yang merasa sedikit bersalah melihat kondisi Ran, kekasihnya.

“Oh, bercanda?” desis Ran kesal. “Apa kau lupa kalau kekasihmu ini tidak suka dengan leluconmu?”

Yuta, hari ini kau dalam bahaya.


==== FIN ====

Note :

Mungkin kalo Njel nggak kasih tahu, aku juga pasti lupa sama PR ini. Jadi, thanks Njel ya hahahaha.

Sorry buat yang punya OC di atas kalo nggak sesuai sama karakter-karakter asli buatan kalian. *bows

Nggak tahu deh gimana plot di masing-masing ficlet di atas. mungkin semuanya ngawur dan ga jelas.

thanks for reading, guys.

Kalo ada yg salah, tolong dikritik ye ^^

Advertisements

3 thoughts on “[Mix Party] C.R.U.S.H

  1. Hai kak Graenita ^^ Ji komenin atu-atu ya 😀

    1. Sebenarnya Ji masih bingung sama inti ceritanya Iona & Jaemin. Serius, Ji masih enggak tahu. Maaf ya kak, mungkin Ji lagi lemot 😀
    2. Nah ini dia kesukaanku. TEN!!!! Awalnya sedih lho, kirain Milan cuma manfaatin Ten, eh diam-diam mereka cuma nge-drama. Kata-katanya Johnny merusak suasana banget, Ji sampai terjungkal /plakk
    3. Jeno >.< Enggak tahu kenapa ngakak loh baca yg ini, apalagi pas bayangin wajah begonya Winwin kalo ternyata daritadi dia ngomong sendiri dikira orang gila :'v
    5. Lha ternyata RAN & YUTA itu PACARAN?????

    Kok cuma segini ya komenku? Enggak ada faedahnya lagi -.,- Tapi serius ini bagus banget!! Fighting kak Graenita ^^

    -Sekian dari Jiyo-

    Liked by 1 person

    • hai Ji. Nggak cuman kamu kok yang bingung, aku juga hahaha. Jujur semua ficlet-nya rada absurd (malah absurdnya kebangetan) soalnya ga bisa mikir blas mau bikin apa.
      Sorry kalo udah bikin bingung hehehe,

      mungkin penjelasan cukup singkat tentang yang jaemin sama iona itu : si iona-nya nangis abis liat puppy temennya mati. jaemin coba nenangin tapi gagal hahahaha

      Like

      • Oh gitu 😀 Apalagi ada kalimat “Astaga, bisakah kau berhenti menangis seperti itu?! Kembalilah menjadi Iona yang kukenal! Kau ini menyeramkan sekali!” => Aku berasa horor malah 😀

        Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s