[Ficlet-Mix] Illogical Experiences

Illogical Experiences

Birthday ficlet-mix by aiveurislin; babyneukdae_61; iamsayaaa

[NCT] Jeno

Genre: Supernatural, Fantasy, Friendship, Comedy | Duration: 3 Ficlets | Rating: PG

~~~

[1]

“Kita bertemu lagi, Lee Jeno.”

Jeno mengalihkan pandangannya kepada sesosok pemuda berpakaian seragam almamater yang sama dengannya. Sudah lama Jeno tak bertemu dengan sang pemuda. Di relung hati Jeno yang terdalam, ia merindukan pemuda itu. Orang yang selama 10 tahun menjadi sahabatnya. Kini, takdir mempertemukan dua pemuda itu dalam sebuah reuni kecil, yang hanya dihadiri oleh Jeno dan pemuda itu. Tak ada yang dapat menghadiri reuni ini selain mereka, karena hanya Jeno yang diizinkan untuk menemui pemuda itu.

“Apa kabar, Jen?”

Kedua sudut bibir Jeno tertarik ke atas, membentuk senyum bulan sabit.

“Kabarku baik, Jaem. Tak terasa sudah satu setengah tahun, ya. Aku senang dapat bertemu denganmu lagi.”

Jaemin–pemuda itu–tersenyum mendengar kalimat yang Jeno lontarkan.

“Padahal aku hendak mengunjungimu sepulang sekolah nanti, ternyata kau yang mengunjungiku duluan. Sepertinya aku merepotkanmu, Jaemin,” ujar Jeno.

“Tidak apa, Jen. Demi sahabatku, aku pasti melakukannya. Lagi pula hari ini kan ulang tahunmu,” jawab Jaemin sambil terkekeh kecil. Pemuda Na itu ternyata masih ingat hari ulang tahun Jeno. “Selamat ulang tahun, ya,” ujar Jaemin.

Jeno pun merangkul sahabatnya itu. Ia bahagia, karena ia dapat bertemu dengan sahabatnya setelah satu setengah tahun berpisah. Ia bahagia, karena Jaemin tak lupa dengan hari ulang tahunnya.

Namun, sepasang manik gelap milik Jeno yang biasanya berbinar, sejak dua bulan yang lalu kehilangan binarnya. Seperti mutiara hitam yang secara ajaib berubah menjadi abu. Tatapannya tidak menampakkan sedikitpun gairah kehidupan di dalamnya, padahal jiwanya masih bersemayam dalam raga.

“Kau tidak apa-apa, sobat?” tanya Jaemin.

Bibir pemuda Lee itu terkatup, enggan mengeluarkan sepatah kata.

“Kau tak mampu menceritakannya? Aku mengerti. Lagi pula, aku mengamati semua yang berkaitan dengan kalian,” ujar Jaemin.

Jaemin tahu, bahwa hati Jeno sangat sakit ketika melihat Rachel bersama dengan Lucas. Jaemin bahkan dapat melihat belati tak kasat mata menusuk hati Jeno. Jaemin tahu, bahwa Lucas menyukai Rachel, bahkan sebelum Jaemin pergi. Karena itulah, sebelum Jaemin pergi, ia menitipkan Rachel kepada Jeno. Menurutnya, Jeno adalah orang terbaik yang dapat menjaga Rachel. Namun, Rachel mengkhianatinya. Jaemin sungguh tahu semua itu, karena ikatan antara Jaemin dan Jeno kuat.

“Bagaimana kalau kita ke atap? Kita memutar ulang kenangan-kenangan kita,” usul Jaemin.

Jeno mengangguk menyetujui. Mereka pun menaiki anak tangga menuju atap sekolah. Tak butuh waktu yang lama untuk tiba di sana.

Dwimanik milik Jaemin menangkap panorama dari atas atap sekolah, yang sudah lama ia rindukan.

“Maafkan aku tidak menepati janjiku, Jaem,” ujar Jeno dengan suara yang mungkin hanya ia yang dapat dengar.

“Maaf aku tidak dapat menjaga Rachel untukmu. Aku tahu kau akan kecewa kepadaku,” lanjutnya.

Namun Jaemin tahu apa yang Jeno katakan.

“Bukan salahmu, Tuan Lee. Ini salah Rachel sendiri. Dia tak dapat membedakan siapa yang mencintainya dengan tulus dan siapa yang hanya menjadikannya kenangan sesaat,” ujar Jaemin. Namun hal itu tetap tidak dapat membuat Jeno tenang. Rasa kehilangan dan rasa bersalah masih menguasainya. Kehilangan seorang gadis yang dicintai. Merasa bersalah terhadap seorang sahabat yang menitipkan mutiaranya kepadanya.

Come on, dude. It’s your birthday. Aku ingin sahabatku bahagia di hari ulang tahunnya,” bujuk Jaemin.

Keheningan pun mendominasi mereka. Menunggu Jeno selesai bergumul dengan pikiran dan hatinya, juga menunggu Jaemin untuk angkat bicara lagi.

“Baiklah kalau begitu, aku akan memberimu jalan keluar. Anggap saja ini sebagai hadiah ulang tahunmu,” ujar Jaemin.

“Bagaimana caranya, Jaem?”

“Ikutlah bersamaku. Dengan kau ikut bersamaku, Rachel akan sadar. Dan dengan ini persahabatan kita takkan terhalang lagi,” ujarnya.

Jeno terdiam sejenak. Setelah itu ia mengangguk menyetujui. Baginya, dengan melakukan ini, ia akan bebas dari kekang yang mencekiknya selama ini.

Jaemin berjalan ke tepi atap, diikuti oleh Jeno. Jeno tahu apa yang harus ia lakukan.

Tak lama kemudian, Jeno merasa bahwa tubuhnya melayang, bersama dengan segala kenangan yang ia miliki.

***

Pertahanan Rachel  roboh  sudah ketika ia melihat apa yang terjadi setelah ia berhasil menembus keramaian orang yang mengerumuni halaman depan gedung A sekolahnya. Kakinya melemas seketika sehingga tak dapat menahan berat badannya. Pikirannya mengatakan bahwa semuanya sudah terlanjur terjadi, namun hatinya masih berteriak tak terima. Dalam pergumulan antara pikiran dan hatinya itu, Rachel terdiam tak percaya. Kedua maniknya menatap tubuh yang lemas tak berdaya dengan bersimbah darah.

Ia tak percaya, ia harus kehilangan satu lagi orang yang ia sayangi. Hatinya bertanya-tanya, belum puaskah maut setelah merenggut nyawa Jaemin, sehingga nyawa Jeno pun direnggut pula.

~~~

[2]

Legenda mengatakan, jika kau tidak dapat tidur di malam hari, itu karena kau tengah terjaga di mimpi orang lain. Jadi, begitu jarum pendek dan panjang sepakat bertemu di angka dua pada jam beker di kamarnya, Jeno memutuskan untuk mencari tahu. Langkahnya membawanya ke kamar sang sepupu di lantai dua. Jenaa—gadis bermata sayu itu tengah terlelap di tempat tidurnya. Selimut menutupi tubuhnya sampai ke dada, sementara tubuhnya bergelung ke kanan sembari memeluk bantal guling. Dan di dalam tidurnya, Jenaa bermimpi.

“Jeno, jangan.”

Jeno tersenyum, agaknya lega karena akhirnya menemukan biang keladi dari masalah sulit tidurnya. Pemuda itu mendekati sang gadis perlahan, lantas kembali mengulas senyum kala wajah di hadapannya memasang ekspresi seolah menahan sesuatu. Keningnya mengerut dan kedua alisnya hampir bersatu di satu titik. Sementara kepalanya menggeleng tertahan, menimbulkan bunyi gesekan pada permukaan bantal.

Please, Jen. Jangan lakukan.”

Gumaman itu terasa semakin jelas saja. Terlebih tak ada bunyi-bunyian apapun di malam yang hampir sunyi itu. Kecuali bunyi detak jam yang jarum panjangnya kini telah singgah di angka empat dan debaran jantungnya yang tiba-tiba menimbulkan desir ganjil.

“Jangan, Jen. Aku mohon.”

Entah apa yang tengah dimimpikan Jenaa hingga peluh mulai nampak pada permukaan kulitnya. Berkali-kali memerintahkan sang empunya nama untuk tidak melakukan sesuatu. Well, Jeno tak punya bayangan, gerangan apa yang mungkin terjadi. Mungkin Jeno tengah menjahilinya dengan mengulurkan ulat bulu sebesar ibu jari atau tiba-tiba Jeno bermulut ember dengan mengumumkan pada dunia bahwa Jenaa menyukai Kak Mark. Well, siapa yang tahu.

Lantas, begitu Jeno membuka jendela di kamar itu, angin malam yang dingin menyambutnya—malam yang gelap merayap menggapai nalurinya yang siaga. Dwimaniknya menelusuri pemandangan di luar hingga terfokus pada satu titik. Hamparan rumput di bawah sana seolah memanggilnya untuk berbaring setelah gagal terlelap semalaman—mengundangnya untuk datang saat itu juga bagaimana pun caranya.

“Sepertinya rebahan di rumput enak juga,” katanya pada diri sendiri.

Lalu dengan sigap menaiki benda persegi tersebut dan duduk di ambangnya. Sementara kakinya berayun ke depan dan belakang—berpijak pada ruang kosong—matanya berganti fokus ke jam dinding berbentuk burung di kamar itu.

“Sial sudah setengah tiga. Aku harus cepat tidur.”

Tanpa pikir dua kali, Jeno melemparkan tubuhnya keluar jendela, bersamaan dengan teriakan Jenaa yang mengisi malam lantas berakhir dengan bunyi gedebug yang sangat keras.

“JENO, JANGAN!”

BRUGGG

Tubuh Jeno tergeletak tak berdaya. Sementara cairan kental mulai menggenang di sudut bibirnya, satu sosok berbaju putih mendekatinya perlahan.

“Jen, bangun. Kenapa tidur di lantai? Astaga, ngiler lagi.”

Uh-oh. Rupanya itu Jenaa, lengkap dengan seragam sekolah melekat pas di badan ditambah mata merah akibat begadang semalaman, gadis itu mengguncang-guncangkan tubuh sang sepupu yang baru terjun bebas dari tempat tidur.

~~~

[3]

Menjadi seorang grim reaper –manusia biasa menyebut kami sebagai ‘malaikat maut’, terbilang bukanlah suatu anugerah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Daripada menyebutnya sebagai kutukan, aku lebih suka berdalih jika aku masih punya suatu utang di kehidupan sebelumnya dan mencabut nyawa adalah kesempatanku untuk membayar utang tersebut.

Menjadi grim reaper juga bukan hal yang mudah. Setelah melintasi batas surga dan neraka, kami akan tiba di Akademi Langit yang akan memilah kami sesuai divisi yang pantas untuk kami tempati. Konon katanya, seorang pendosa besar –sepertiku- akan ditempatkan dibawah naungan Departemen Roh Suci Divisi Pencabutan Arwah setelah menjalani pelatihan selama kurun waktu tertentu, tergantung subdivisi mana tempat kau akan ditugaskan.

“Jadi, ini adalah kehidupan keduamu sebagai pencabut nyawa. Benar begitu?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari seorang rekan grim reaper yang juga seorang gadis kala menyesap cup kopinya sembari duduk menjajariku. Ia menoleh lantas menyodorkan cup kopi lainnya kepadaku. Aku pun menerimanya dan menyeruput isi cup tersebut.

“Rupanya cerita itu sampai ke telingamu juga, ya. Memang benar. Kenyataan bahwa aku mengetahui identitas kehidupan laluku sebagai seorang petinggi elemen es bernama Albert Romeo dan manusia biasa bernama Lee Jeno bahkan mengejutkan diriku sendiri. Karena kau pun tahu jika kita tidak bisa mengingat apapun setelah memasuki Kerajaan Langit. Namun itu semua justru tidak berlaku padaku,” ulasku membalasnya. Gadis itu nampak berpikir keras lantas mengangguk. Ah, benar. Sebagai seorang pencabut nyawa, tentunya ia tidak sebodoh makhluk lain untuk bisa mengerti ucapanku ‘kan?

“Lalu apa dosamu sampai-sampai kau harus menjadi grim reaper senior yang menjabat selama dua periode kehidupanmu?” sepertinya ulasanku mengenai kehidupan masa lalu spontan mendongkrak grafik kuriositasnya. Aku membenarkan letak topiku lalu menyeruput lagi isi cup kopiku, memberi seutas jeda yang membuat hening seketika menyergap kami kala itu.

“Aku tidak bisa menceritakan detailnya. Mungkin menurut Tuhan, dosaku di kehidupan pertama terlalu besar sehingga sulit untuk dimaafkan. Kau tahu ‘kan, seorang pendosa besar seperti kita akan diberi pilihan, apakah kita akan menebus dosa tersebut dengan menjadi pencabut nyawa atau ditenggelamkan di neraka terdalam,” jelasku lagi. Gadis itu tersenyum lantas melempar dengan akurat cup kopinya yang sudah kosong ke tempat sampah.

“Jika kau diberi kesempatan untuk mengingat tentang masa lalumu serta dosa apa yang kauperbuat, apa kau akan menerima tawaran itu?”

Ia terdiam. Benakku pun kini menerka-nerka klausa macam apa yang akan kau jadikan balasan, “Meskipun mungkin nantinya aku akan menyesal, kupikir tidak ada salahnya. Aku juga ingin tahu berapa kali lagi aku bisa merasakan hidup sebagai makhluk-Nya sebelum arwahku di tempatkan, entah di surga ataupun neraka. Kita memiliki empat kesempatan untuk hidup dan aku berharap setidaknya aku masih memiliki satu kesempatan untuk menjadi hamba-Nya yang berbudi.”

Hening kembali menyergap dan sejamang fokusku hanya mematut parasnya. Memerhatikannya dalam diam, aku merasakan hal ganjil kini menerjang otakku, seolah-olah kilas balik menuntunku untuk mengetahui suatu hal lain yang masih tersembunyi. Aku seperti pernah mendengar kalimat itu, entah kapan dan di mana.

“Kau tahu, aku merasa kita saling mengenal di kehidupan sebelumnya. Ketika pertama kali aku melihatmu, ada suatu ingatan aneh yang muncul dan kebetulan kau ada di sana. Entah apa kau memerhatikan atau tidak, kita masing-masing memiliki bros perak dengan motif yang sama namun bertolak belakang. Bros-ku berbentuk kepingan salju dengan pernik matahari di sisi kanan atasnya, sementara milikmu berbentuk matahari dengan pernik kepingan salju di sisi kirinya. Apalagi hanya kita dari divisi ini yang memiliki bros perak sejak lulus dari Akademi Langit. Tidakkah kau penasaran?” tandasku pada akhirnya.

“Mungkin saja kita saling berkait, atau jangan-jangan kau ada di kehidupanku sebelumnya.”

Aku hanya terkekeh mendengar simpulanmu. Bagiku terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kita terikat satu sama lain dalam permainan Tuhan. Namun aku juga tidak bisa se-skeptis itu untuk meniadakan kemungkinan yang ada, “Aku berharap kau bisa menemukan kembali ingatanmu dan tidak menyesali keputusan Tuhan. Karena Dia sangat suka mempermainkan takdir, asal kautahu saja.”

Aku menandaskan isi cup kopiku yang sudah tinggal seperempat, lantas bangkit dan melempar cup tersebut ke tempat sampah, “Baiklah, sebaiknya kita bersiap-siap. Hanya tinggal sembilan puluh detik lagi sebelum waktu kematian. Sepertinya arwah satu keluarga akan menjadi tugas terakhir kita hari ini.”

Gadis itu berdiri pun merapikan pakaiannya, memosisikan dirinya di sisi kananku. Setelah itu kami membuka amplop berisi kertas bertuliskan nama arwah yang menjadi tanggung jawab terakhir kami untuk hari ini. Dua nama menjadi tanggung jawabku dan dua nama lainnya menjadi tanggung jawabnya.

“Apa kau mau tahu siapa namamu dalam ingatanku? Asal kautahu saja, namamu indah sekali, sampai-sampai aku tidak bisa berhenti menyebutnya dalam mimpiku. Namamu… Anastasia Juliette.”

fin.

Advertisements

3 thoughts on “[Ficlet-Mix] Illogical Experiences

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s