[NCTFFI Freelance] Holding on and Letting Go (Chapter 1)

HOLDING ON AND LETTING GO [1]

Copyright © Rijiyo 2017

Cover by Mingi Kumiko

| Multi Chapter | Teen | Slice of Life, Family, Friendship, Romance |

.

 | Illa Kwon [OC] / Mark Lee [NCT] / Jung Jaehyun [NCT] / Lee Taeyong [NCT] |

.

Gadis kecil dengan impiannya akan menjadi wanita mulia dengan berbagai visi….

.

.

Hari itu, tepat pertengahan bulan Juli….

“Cuma ini?”

“Iya, Kakak, kan, kemarin enggak masuk kerja, makanya gajinya agak kurang. Enggak apa-apa, ya?”

“Tapi sepulang sekolah aku mau main PS!”

“Tapi Mark, Kakak memang enggak punya uang. Sisa kemarin, kan, sudah kamu minta buat beli sepatu baru.”

“Aku enggak peduli! Cepat berikan uangmu, Bangsat!”

Aku menghela napas panjang sembari menormalkan debaran jantung yang kian meraung setiap kali Mark membentakku habis-habisan. Aku mengambil uang di saku, kemudian memberikan semua padanya. “Tapi main PS-nya jangan sampai kemalaman, ya?” kataku.

Mark langsung menyahut dengan sumringah. Tanpa pamitan ataupun berterima kasih, Mark melenggang meninggalkanku yang masih duduk di karpet.

Aku telah terbiasa dengan orang yang meninggalkan atau membenciku. Ini benar-benar bukan cerita baru. Aku tahu aku selalu bingung. Selama ini aku masih bingung. Aku tak tahu kenapa masih mau bertahan di situasi menyebalkan seperti ini tanpa cinta dan kasih sayang. Aku heran kenapa tidak dari dulu menyerah karena siapa tahu ada seseorang yang dengan senang hati bersimpati pada gadis menyedihkan sepertiku.

Orang tuaku meninggal tujuh bulan lalu karena kecelakaan. Lebih tepatnya hanya Papaku, karena Mama kandungku sudah meninggal sehari setelah melahirkanku. Lalu, Papa akan bertemu Mama. Karena itu juga aku sempat menangis tersedu. Aku iri. Bagi anak yang hanya mampu mengingat wajah ibunya samar-samar, bercampur-campur dengan hidung, mata, dan rambut orang lain, tersimpanlah rasa penasaran di dalam hati. Bisa jadi aku bukannya kangen karena jejak kehadirannya belum sempat melekat dalam ingatan, melainkan penasaran. Aku hanya ingin melihat Mama.

Papa bekerja di perusahaan otomotif dan membuka cabang di Vancouver. Selama beberapa bulan beliau sangat sibuk di sana hingga meninggalkanku sendirian di Seoul. Dan sepulangnya dari Kanada, Papa membawa dua orang asing yang baru kali itu kulihat. Saat Papa bilang kalau itu calon Mamaku, aku sempat merajuk dan tidak terima Papa menikah lagi. Tapi Papa meyakinkanku terus-menerus kalau Nyonya Heidi adalah wanita baik yang bisa membanjiriku dengan kasih sayang.

Nyonya Heidi punya anak lelaki yang baru lulus SD bernama Mark. Aku selalu mengajaknya bermain karena aku memang ingin punya adik lelaki. Namun karena sikapnya yang selalu angkuh dan seolah-olah menganggapku angin lalu, perlahan-lahan aku merasa kalau Mark tidak menyukaiku.

Aku pernah bertanya kenapa dia benci padaku, dan Mark menjawab kalau dia tidak mau punya Papa baru karena dia masih menyayangi Papa kandungnya. Kalau saja saat itu aku lebih berani, aku akan mengatakan hal yang sama; bahwa sebenarnya aku juga tidak mau punya Mama baru. Aku tidak pernah mengharapkan kehadiran seorang Ibu biarpun aku sudah terlihat seperti anak yang haus kasih sayang. Aku sudah sangat cukup meskipun hanya memiliki orang tua tunggal.

Dan saat kecelakaan yang merenggut nyawa orang tua kami, Mark jadi semakin membenciku, apalagi yang menyebabkan kecelakaan itu adalah Papa. Saat itu, seingatku Mama-Papa sedang bertengkar dan mereka memutuskan ke luar entah ke mana naik mobil. Namun beberapa jam kemudian aku mendengar kabar kalau mobil mereka masuk jurang karena diduga Papa menyetir ugal-ugalan.

Meskipun awalnya aku sakit hati atas perlakuan Mark, namun lambat laun aku mulai terbiasa dan menganggap itu masalah kecil. Karena biar bagaimanapun, dia akan tetap menjadi adikku yang paling baik.

Aku segera menyiapkan bekal karena tidak punya uang jajan. Dua hari lalu aku sempat tidak masuk kerja karena sakit. Sebenarnya aku punya tabungan, tapi uang-uang itu berencana kugunakan untuk melunasi SPP-ku dan Mark yang melunjak. Aku bahkan menyembunyikannya dari Mark supaya dia tidak minta-minta, apalagi jika alasannya untuk kegiatan tidak bermutu.

Setelahnya aku segera berangkat ke sekolah jalan kaki. Saat pintu rumah kubuka, tahu-tahu Taeyong sudah ada di situ. Seketika wajahku berbinar melihat senyumnya.

“Hai, Tiway!” sapaku ceria.

“Hai, Poni,” ucapnya sambil nyengir. “Yuk berangkat.” Taeyong merangkul leherku dengan tangan kanannya.

“Kok kamu tahu kalau aku malas jalan kaki?” tanyaku sambil naik mobilnya.

“Kita, kan, punya radar.” Taeyong menempelkan kedua telujuknya di atas kepala seolah memperagakan antena. “Kan enak kujemput, biar enggak telat. Nanti kamu dimarahi guru Kim lagi.”

Aku tersenyum. “Makasih, ya. Ongkosnya gimana, nih?”

“Gampang. Cukup traktir aku semangkuk nasi goreng di Tofu sepulang sekolah.”

Senyumku langsung pudar. “Ongkos lain, ada?”

“Kenapa? Bosan, ya, makan di Tofu?”

Aku menggeleng. “Aku enggak punya uang.”

Taeyong langsung terdiam, lalu menggaruk tengkuknya sungkan. “Ya sudah kali ini gratis, free aku yang bayar sampai nanti sepulang sekolah.”

Mataku kembali berbinar. “Serius? Makan di Tofu juga?”

Taeyong mengangguk. Aku balik melingkarkan tanganku di lehernya. “Thanks, Tiway. Besok gratis lagi, ya? Sekalian sedekah.”

Kami berdua terus bercanda sepanjang perjalanan ke sekolah. Aku pernah menawarkan Mark untuk ikut naik mobil jika Taeyong menjemputku, namun Mark menolak karena ia lebih suka jalan kaki ke sekolah yang jaraknya agak jauh dengan sekolahku. Kami sudah bersahabat sejak kelas 5 SD. Taeyong adalah teman lelakiku satu-satunya karena aku memang tidak pandai bergaul dengan lawan jenis. Sebenarnya Taeyong sering mengenalkanku pada teman-temannya, tapi entah kenapa tidak satu pun di antara mereka yang bisa membuatku nyaman.

Tidak setiap hari Taeyong menjemputku. Dia selalu bilang kalau kami punya radar, sehingga dia bisa merasakan kalau ada sesuatu denganku; seperti hari ini. Aku berencana jalan kaki karena tidak punya uang saku, tapi tiba-tiba Taeyong datang. Tahu betul jarak sekolah dengan rumah lumayan jauh, jadi tidak bisa dibayangkan kalau saja aku terlambat les pagi.

“Kemarin tidur jam berapa?”

“Biasalah. Nunggu Mark sambil ngetik. Belakangan ini Mark suka pulang malam, aku takut dia kenapa-napa,” jawabku.

“Kan aku sudah bilang, kurangi main laptop, nanti mata kamu sakit. Enggak lucu kalau besok tahu-tahu kamu sudah pakai kaca mata.”

Aku mengangkat kedua jempol. “Siap, Pak Tiway!”

Setiap malam aku memang hobi menulis cerita sambil menunggu Mark pulang soalnya dia suka marah-marah kalau melihatku tidur duluan. Belakangan ini Mark sering pulang terlambat, katanya main PS, tapi sebenarnya aku tidak langsung percaya karena terkadang aku melihatnya berjalan sempoyongan. Aku takut dia sudah berani mabuk dan mulai menanamkan pergaulan bebas, karena aku masih sangat tidak siap kalau Mark terbawa arus buruk di usinya yang masih 17 tahun.

Oh ya, Taeyong adalah cowok yang suka membaca ceritaku. Taeyong bilang cerita fiksiku bagus-bagus dan sudah seharusnya diterbitkan. Tapi aku ragu, jika memikirkan antara selera penerbit dan selera teman, aku yakin hasilnya akan beda jauh. Taeyong mungkin hanya kasihan melihat kertas bekas tulisanku yang terkumpul di mana-mana atau file yang menggunung di laptop. Namun sejauh ini aku masih belum ingin menerbitkannya.

Sesampainya di sekolah, aku langsung duduk di bangku sebelah Seulgi. Sepuluh menit berlalu dan les pagi pun dimulai. Dua bulan sebelum ujian, les pagi wajib untuk siswa kelas tiga agar—paling tidak—menemukan kemudahan saat ujian nanti. Aku selalu berdoa supaya les pagi ini lancar, karena aku bertekad harus bisa lulus dengan nilai baik supaya nanti mudah mencari pekerjaan dan tentunya tidak terbebani lagi tentang biaya sekolah Mark.

.

.

.

“Jadi ke Tofu?” cegat Taeyong saat aku baru ke luar kelas untuk istirahat.

Aku mengangguk. “Tapi aku enggak bisa lama-lama, soalnya aku harus bekerja.”

“Iya, aku tahu, Poni. Tapi sebelum kerja harus makan dulu, kan? Biar kuat dan tahan lama,” ujar Taeyong. Kami berjalan ke kafetaria.

“Mau kubelikan apa?” tawar Taeyong.

Aku menggeleng. “Aku sudah bawa bekal,” ucapku sambil memperlihatkan kotak bekal biru muda yang sedari tadi kubawa.

“Minumnya mana?” kejar Taeyong.

Setelah mengecek kalau tanganku hanya membawa kotak bekal, dan setelah mengingat kalau di tas tidak ada botol minuman, akhinya aku sadar kalau aku lupa tidak membawa air. “Kamu mau beliin?”

“Tentu. Biar enggak tersedak.”

“Makasih, Tiway.”

Taeyong itu cowok baik, aku tahu itu. Dia selalu ada dan mengerti diriku. Terkadang aku berpikir darimana dia datang karena kehadirannya di hidupku benar-benar seperti kejutan. Aku bahkan sudah lupa kapan kami sepakat menjadi sahabat. Aku dan Taeyong juga seperti langit dan bumi. Kalau Taeyong raja, maka akulah pembantunya. Untung orang tuanya tidak melarang kami bersahabat karena biasanya orang kaya hanya boleh bergaul dengan sesama konglomerat, itulah kenapa seringkali aku minder jika berpikir tentang persahabatan kami.

Saat istirahat sudah usai, kami kembali ke kelas. Aku merasa bosan dan ingin bekerja, setidaknya aku harus segera mengisi dompet. Mark suka meminta uangku untuk bermain PS seharian dan entah kenapa aku tidak pernah bisa menolak. Aku bingung kenapa sampai detik ini tidak sanggup memarahi Mark sedikit pun atas semua perbuatannya. Apa karena Mark itu adik—angkat—ku?

Singkatnya, bel pulang berbunyi. Aku bergegas memasukkan buku ke tas dan berjalan ke luar kelas. Taeyong menghampiriku dari belakang. “Tofu Doru-Doru?”

“Pasti. Hewan di perutku sudah konser, nih,” candaku. “Lima dua piring, ya?”

“Ayayay, Kapten Poni.”

.

.

.

Tofu adalah rumah makan dimsum faforit kami. Hampir setiap minggu kami selalu ke sini, kami bahkan sudah akrab dengan beberapa pegawainya. Tidak terlalu mewah dan menunya murah-murah, itulah salah satu alasan kenapa kami suka ke sini.

“Empat piring dimsum. Dua untuk Ksatria Tiway dan dua untuk Kapten Poni.”

“Bukan Kapten Poni. Tapi Ratu Poni Rimba Utara.”

Melihat pegawai yang memasang ekspresi bingung, aku dan Taeyong malah terkikik. Taeyong selalu memanggilku poni karena aku berponi, sedangkan aku memanggilnya Tiway karena diambil dari dua silabel namanya; Tae dan Yong. Jika dibaca dalam alphabet Latin, TY berbunyi Tiway. Konyol sekali, kan? Terima kasih.

Untuk Kapten Poni, itu adalah tokoh fiktif yang kuciptakan di salah satu cerpen. Bukan seorang kapten berponi, melainkan ketua dalam komunitas hewan berjenis kuda. Ada Pangeran Pegasus, Raja Zebra, dan Kapten Poni. Taeyong sering tertawa ketika membaca ceritaku tentang hewan-hewan itu yang berjudul “H Community” dan berulang kali bilang kalau imajinasiku terlalu liar.

“Oh ya, sekolah kita mau mengadakan drama tahunan. Sudah tahu kabarnya?” kata Taeyong di sela-sela kunyahan bubur.

“Enggak tahu,” jawabku. “Kali ini apa temanya?”

“Aku juga kurang tahu, sih, soalnya beritanya masih simpang siur. Ada yang bilang Snow White, Gojoseon, Gumiho, Ratu Yi Hae Won—“

“Cerita klise,” komentarku.

“Aku tahu. Aku ingin sekolah kita memberikan pentas drama yang unik, enggak mainstream.”

Aku mengendikkan bahu. “Terus?”

“Aku cuma menunggu kapan casting-nya. Aku mau ikut peran.”

“Kalau enggak keterima?”

“Pasti keterima lah. Siapa yang mau menolak pesona Ksatria Tiway—Ill, gimana kalau kamu coba daftar jadi scriptwritter, siapa tahu keterima. Kamu, kan, jago membuat cerita.”

“Masalahnya, cerpenku itu enggak realistis. Siapa yang mau casting jadi hewan-hewanan? Yang ada anak-anak bakal melempari wajahku dengan telur.”

“Justru itu yang unik. Kapan lagi anak SMA mengangkat tema fabel?”

“Iya, tapi Tiway, kamu ingat-ingat dulu, deh, kalau sekarang sudah 2018. Gengsi antar sesama semakin tinggi. Mereka pasti mengincar peran yang dianggap cantik atau ganteng, enggak mungkin mau jadi manusia setengah keledai.”

“Gimana kalau kamu coba dulu? Kebetulan ketua dramanya temanku. Aku akan bilang padanya kalau kamu mampu membuat naskah.”

Aku menyuapkan sesendok terakhir dimsum. Kemudian menggeleng. “Enggak, ah. Aku lebih suka membuat cerita buat kubaca sendiri.”

“Kalau kamu seperti ini terus, buat apa capek-capek menulis sampai jam dua pagi? Tunjukkan pada mereka kalau kamu mampu, hitung-hitung biar agak famous.”

Aku kembali menimang-nimang. Dari kecil aku memang hobi menulis cerita, terutama dongeng binatang. Tapi aku tidak punya keinginan untuk mempublikasikan ceritaku, bukan karena malu, tapi karena menurutku dunia khayalan yang kuciptakan takkan masuk akal di pikiran orang lain. Bahkan Taeyong seringkali bertanya ulang padaku bagaimana alur dongeng yang kubuat, itulah kenapa aku memilih menyimpannya karena tidak mau membuat mereka terjerumus dalam fantasi konyol ala Illa.

“Memangnya siapa, sih, ketua drama-nya? Aku lupa.”

“Jung Jaehyun. Anak kelas 3-1.”

.

.

.

Sepulang dari Tofu, aku diantar Taeyong ke kafe Haru, tempatku kerja sampingan. Aku dan Taeyong berpisah di depan pintu. Aku bergegas masuk ke kafe karena sudah terlambat dua menit. Aku segera menguncir rambut dan ganti baju. Yeri melihatku di ambang pintu saat aku tengah memotong odeng. Matanya berkerut.

“Tumben telat. Habis meet and greet sama Obama?” tanyanya.

“Habis kencan sama Lee Min Ho.”

Di Haru, aku sangat dekat dengan Kim Yeri. Cewek berambut panjang itu bertugas sebagai kasir, kadang menjadi pengawas jika Paman Bos tidak ada. Yeri seumuran denganku dan dia juga menjalani kerja sampingan karena ia hidup sendiri di Seoul. Mama Papanya kerja di Jepang dan pulang hanya seminggu sebulan.

“Aku dengar dari Taeyong kalau kamu mau daftar jadi scriptwriter di sekolah?” Yeri mendekatiku.

Aku tergelak. “Bullshit, tuh, anak. Bilang iya aja belum.”

Yeri juga dekat dengan Taeyong karena dua bulan lalu aku mengenalkan mereka.

“Kamu, kan, suka membuat cerita. Kan lumayan idemu enggak sia-sia,” katanya. “Aku malah dari dulu ingin menjadi penulis terkenal, tapi kemampuan sastraku sangat payah. Aku masih ingat dulu sempat dimarahi Papa karena ujian sastraku dapat 3. Gara-gara itu aku jadi enggak boleh main dan Mama jadi semakin cerewet. Katanya, ‘Yeri, kamu harus belajar sastra biar lebih pintar sedikit’, atau ‘Yeri, sastra itu penting buat masa depan. Biar suamimu betah sama kamu’. Nah sekarang bayangkan deh, apa hubungannya belajar sastra sama membahagiakan suami?”

“Yeri, kamu itu lebih cerewet dari tiga guru Sejarahku dijadikan satu. Serius.”

“Pokoknya kayak gitu, deh. Ampun aku. Saking terkekangnya karena dua minggu enggak dibolehin keluar rumah, aku sampai bela-belain membersihkan rumah, cuci piring, sekolah jalan kaki, enggak jajan berhari-hari, enggak pernah ketemuan sama kak Sehun, cuci baju pakai tangan, sampai persiapan klub pariwisata pun aku berbekal sendiri. Duh, enggak kebayang Kim Yeri melakukan hal itu. Tapi setelahnya, Mama-Papa percaya lagi sama aku.”

“Tapi kamu juga lebih rajin dari tiga tukang kebun dijadikan satu.”

“Aku serius, nih.”

“Iya, aku juga serius.”

Yeri langsung tertawa. “Kok kita berasa gila?”

“Ya enggak pa-pa, biar ramai kafe kita. Setiap hari cuma nyetel lagu mellow, jadi pengin tidur.”

“Tapi aku dukung banget kalau misalnya kamu pengin jadi penulis naskah. Ceritamu, kan, unik-unik.”

“Dari mana kamu tahu ceritaku unik sedangkan kamu enggak pernah baca?”

Yeri mendakatiku sambil nyengir. “Dari penampilan penulisnya, kan, sudah kelihatan.”

“Oh….” Aku mengangguk. “Tapi, bukannya unik itu bahasa halus dari aneh, ya?”

Yeri melongo. “Kamu itu enggak aneh, Illa.”

“Terus apa?”

“Enggak jelas.”

Aku mengacungkan pisau yang kuambil di atas panci, lalu melotot ke Yeri. Cewek itu hanya tertawa dan kembali ke meja kasir karena ada pelanggan yang mau membayar pesanan. Banyak yang bilang Yeri lebih tua dariku karena sikapnya yang terkesan cerewet, padahal kami seumuran. Bahkan kata Paman Bos, Yeri lebih cocok jadi Kakakku.

Tiba-tiba kembali terlintas di kepalaku tentang lowongan menjadi penulis naskah. Aku mau-mau saja membuat cerita, tapi cerita yang kutulis tak bisa lepas dari dongeng dan fantasi. Aku tidak bisa membuat kisah romantis, horror, sci-fi, atau aliran berat lainnya. Mungkin karena dari kecil Papa suka membelikanku buku dan DVD dongeng, makanya otakku selalu terisi dengan hal-hal imajinatif layaknya pemikiran anak kecil.

Dan untuk ketua drama bernama Jung Jaehyun itu… aku tidak yakin. Seingatku, dia adalah wakil ketua OSIS dan pernah ikut kampanye dengan kak Hansol tahun lalu. Selain itu aku tidak tahu karena aku tidak dekat dengannya dan kemungkinan besar dia tak mengenalku sama sekali.

.

.

.

Malam harinya aku mengetik cerita di laptop sembari menunggu Mark pulang. Sudah hampir jam sepuluh tapi aku masih tidak merasakan kedatangannya, aku juga sudah menyiapkan air panas dan lauk supaya Mark bisa langsung makan sesudah mandi. Aku melanjutkan ceritaku berjudul H Community yang sampai di halaman 41. Sebagian ada yang kutulis di buku , sebagian di laptop—

Brakk!

Aku langsung berjingkat. Itu pasti Mark.

Aku bergegas ke ruang tamu. Kudapati Mark berjalan tergopoh-gopoh dan terduduk di sofa. Dia melempar tasnya ke arahku lalu menutup mata.

“Mark, kamu mabuk lagi?” tanyaku setengah gemetar.

“Buatkan ayam goreng.”

“Mark, Kakak sudah—“

“BUATKAN AKU AYAM GORENG!” teriaknya.

“Kakak enggak punya uang, tadi uang kerjanya sudah kubuat beli lauk kesukaanmu, jamur goreng.”

“SIAPA SURUH MEMBUAT JAMUR GORENG? AKU MAU AYAM GORENG!” Mark berdiri dan mendorong tubuhku hingga aku terjatuh.

Ketika melihat Mark berjalan ke kamarku, aku langsung mengikutinya. Dia menggeledahi meja belajar dan lemariku seperti orang kerasukan. Hidungnya memerah dan seragamnya berantakan.

“Kamu cari apa?”

“Kamu pasti punya uang meskipun cuma satu won. Tadi aku kalah main PS dan anak-anak mengajakku minum,” ucapnya bangga sambil terus mengeluarkan bajuku satu per satu.

“Terus kenapa kamu mau? Kan Kakak sudah bilang jangan mabuk.”

Mark berbalik badan untuk membalas tatapanku. “Memangnya kamu siapa sampai berani mengaturku?”

Tenggorokanku tercekat. “…. Karena aku Kakakmu.”

Mark tertawa mengejek. “Tapi aku enggak pernah merasa kalau aku Adikmu.” Kemudian dia kembali mengacak-acak kamarku.

“Mark, aku enggak punya—“

“KAMU SEMBUNYIKAN DI MANA UANGNYA?!” Amarahnya kembali memuncak.

Kini aku mendekatinya dan menahan tangannya. “Kamu berbaringlah di kasur, biar kuambilkan air putih dulu.”

“AKU ENGGAK BUTUH AIR PUTIH, AKU BUTUH UANG! KAMU MENYIMPANNYA DI MANA?”

Mark membanting perabot kamarku, melempar boneka, menarik-narik selimut, menendang ranjang, hingga akhirnya berhenti di sebelah meja belajar. Napasnya terengah. Matanya kembali bersirobok dengan manikku. “Di mana?” tanyanya lirih seolah kehilangan oksigen.

“Aku enggak punya.”

FUCKING LIAR!”

Brakk!

Mataku langsung terbelalak sempurna. Tepat saat Mark berteriak, tangan kanannya mengambil laptop dan membantingnya ke lantai. Laptop itu terjatuh dan layarnya langsung gelap. Isi kepalaku mendadak kabur. Keadaan di sekitarku seolah berubah pekat. Pelupuk mataku memanas. Tanganku gemetar. Bukan karena laptop itu harganya jutaan atau karena laptop itu pemberian terakhir Papa.

Tapi karena di laptop itu ada ratusan file dongeng yang kuketik sejak empat tahun lalu.

.

.

.

.

.

_Tbc_

Advertisements

8 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Holding on and Letting Go (Chapter 1)

  1. Hai Kak Ji, mel mau komen XD

    First ; gak nyangka si Mark dijadiin antagonis gitu. Kan dia unyu2 kayak anak anjing, eh singa. Jadi, dalam bayanganku rada susah gitu imajinasinya. Padahal ya sebenarnya terserah yg nulis sih ya, kan ini gak ada sangkut pautnya dg persepsi pembaca, hehe Tapi, aku jadi tertarik nih, soalnya biasanya kan Markeu selalu jadi anak sekolah yg tipe2 teacher pet gitu wkwkwkwkw

    Second ; kenapa begitu kata radar muncul mel langsung keinget Perahu Kertas ya. Terus kata Kapten, Illanya yg suka nulis dongeng dan sifatnya rada sableng //pliss mel sadar diri// mengingatkanku pada Kugi, hehehehe Sebenarnya basic storynya jauh beda, cuma karakter Illa jadi mengingatkanku sama Kugi Kak Ji. So, itu kesan yg muncul saat mel baca sih, hehe

    Third ; mel kurang yakin, tapi tadi udah dicek di KBBI, “faforit” itu yg bener “favorit” kan, ya?

    dan akhirnya, teruntuk Illa yg malang krn punya adek kayak Mark, sini paketin adekmu biar mel rawat. Dijamin aman dan tentram wkwkwkwkw Oke, segitu aja, ditunggu nextnya… XD

    Dadahhhh …. XD

    Liked by 1 person

    • Hai Amel ❤ Gak nyangka kamu bakal baca ff chapter super receh kayak gini :v

      First : Nah, jujur ya, sebenernya aku malah mau jadiin si Haechan yg kayak gitu (kan Haechan terkenal karena keevilannya). Tapi apalah daya, kalau kubuat Haechan, takutnya jadinya malah lawak HAHA Jadi aku bersyukur soalnya menurutku (dari sekian anak-anak Dream yang masuk seleksi) Mark lolos karena paling memenuhi kriteria. #Krikk

      Second : Mel, tahu nggak sih, aku udah nebak kalau pecinta perahu kertas pastinya langsung salpok sama ini. Hehehe aku juga udah publish ff ini di beberapa grup fb, alhamdulilah banyak yang ngira Illa mirip karakternya Kugy. Bayangin aja deh, aku dulu juga penggemar beratnya Keenan, pastinya setiap kita habis lihat film / baca buku kan pastinya jadi kepingin membuat cerita itu namun dengan persepsi / jalan yang lain. Jadi, eh mel, kamu kan yg udah jago nih, yg namanya pinjem karakter gitu boleh gak sih? Soalnya Illa di sini karakternya kubuat nyerempet kayak tokoh namanya Bodhi di Supernova, bukan Kugy hehehe

      Makasih Mel sudah baca ❤

      Liked by 1 person

      • Ya salammmm jago dari Vancouver Kak Ji, mel aja masih meraba2 dalam gelap wkwkwkwkw
        Ya kalo pinjem karakternya sih menurutku gpp, yg namanya ngefans pasti penginlah bikin skenario sendiri dari karakter favorit. Yg gak boleh menurutku ya pake karakter Bodhi terus diaku jadi milik Kak Ji, hehe

        Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s