[Mix Party] ROMANSICK

Romansick

Storyline by Joongie © 2017

Jane Jung x Mark Lee || Yoon Jooeun x Ji Hansol || Lin Xie x Winwin || Cher x Na Jaemin || Mackenzi Lee x Johnny Seo || Emerald Lee x Kun || Nakamoto Sue x Yuta || Han Jisun x Moon Taeil

Dark, Fantasy, Psychology, Romance

Ficlet-Mix (PG17)

.

The end will come, before we know. The silent rule of love applies.

And so they say, the end will come for us.

.

I

Ketika Mark menyesap kehangatan teh rosebud, lonceng angin yang tergantung di teras berdenting. Mark menengok, Jane Jung yang gaunnya dikibar-kibarkan angin menjulang menatapnya. “Selamat sore,” dia bergumam dengan suara selembut lullaby.

Matanya mencelang, Mark buru-buru bangkit menghampiri. Namun dari balik kakinya, Buster lebih dulu menyalak dan menggonggongi Jane sampai terlonjak mundur. Mark menilik Buster, merunduk guna memasangkan tali kekang ke kalung lehernya lantas menginstruksikan anjing gembala itu tetap tenang. Kemudian Mark kembali menoleh kepada Jane, tersenyum meminta maaf.

“Sepertinya kau masih saja tidak suka padaku, Buster Tua,” cibir Jane, bersedekap memelototi Buster yang mengaing lesu. “Menurutmu cuma kau yang bisa galak?”

“Jane …,” imbau Mark, tersenyum sambil menelengkan kepala, mengodekan Jane supaya duduk di sisinya. “Kemarilah, biar kuseduhkan teh untukmu. Aku juga punya keju dan biskuit kalau kau mau.”

Jane meringis, berlarian kecil dan duduk dalam sentakan cepat. Dia mengagumi cara Mark menuang air dari ketel yang bahkan lebih anggun dari Mrs. Barclay—guru sastra yang katanya masih keturunan jauh bangsawan Inggris. Walau begitu Mark tak lantas kehilangan sisi gagahnya. Urat-urat samar di punggung tangannya menunjukkan betapa keras usahanya menjalankan peternakan seorang diri dalam cuaca ekstrem Skandinavia.

“Kau sudah mengunjungi mereka?” tanya Mark selagi memotong-motong keju.

Jane mengangguk sambil membaui teh yang disajikan; aromanya seperti mawar. “Ya, aku melihat Austin kerepotan mengurus Alanis sebagai ayah baru. Lalu aku mengunjungi Ibu, beliau menghabiskan waktu dengan merajut syal dan sweter untuk Paman Dor. Mereka tampak saling menyayangi, tidak lagi sering bertengkar seperti dulu.”

“Syukurlah,” ungkap Mark, menganggut-anggut mafhum manakala fokus mereka beradu. “Melihat kehidupan mereka berlangsung dengan baik, sepertinya bebanmu jadi berkurang.”

“Sebenarnya belum ….” Jane tertunduk, mencungkil-cungkil kutikula kukunya setiap kali perasaannya gundah. Kemudian dia melanjutkan dalam suara parau, “Mark, apa kau akan baik-baik saja?”

Pertanyaan yang barusan dilisankan bukan hanya membuat Mark terdiam, namun tersentak dalam hati. Pemuda itu meneguk bongkahan yang terbentuk di kerongkongan. Menyadari mata hazel Jane yang biasanya cerah kini melayu membuatnya bersedih. Tetapi, pantang baginya melukis mendung di wajah sehingga Mark menyaringkan suara sebagai kamuflase.

“Bagaimana kalau jalan-jalan?” Mark bangkit, mencantelkan topi gatsby-nya di kepala lantas bergegas menuju ladang. Bertingkahlah senormal mungkin Mark, tekannya lamat-lamat.

“Sungguhkah … kau sudah memaafkanku, Mark? Kau tahu, aku tidak akan bisa pergi bila sesuatu masih menggantung dan aku mengharapkan kepastian,” tutur Jane dari balik punggung Mark, ada desakan dalam suaranya.

Mark mendesah, berbalik menghadap Jane. “Ikutlah denganku dulu, Jane. Tolong,” tegasnya, mengamit tangan Jane yang lesi bersama menuju bukit—tempat yang memiliki pemandangan terbaik.

Meninggalkan sajian yang belum tersentuh dan Buster Tua yang mengantuk, Jane melabuhkan diri pada ayunan tua di puncak bukit. Dari bawah pohon apel yang aroma manisnya memabukkan, keduanya bisa melihat perbukitan hijau bergelombang yang dipenuhi biri-biri dan sapi. Mereka mengembik sambil memamah rerumputan hijau dan Jane menyaksikannya dengan tatapan yang nyaris kosong.

“Kenapa lebih mengkhawatirkanku ketimbang Alanis?”

“Karena aku yakin Austin akan membesarkannya dengan baik. Sejauh yang kukenal dia pria terhangat yang bahkan bertingkah bodoh agar bisa akrab dengan anak kecil,” terang Jane, gurat di wajahnya agak ganjil pun caranya memandang Mark melalui mata nanar. “Sebaliknya kau tidak punya siapa pun, selain ternak-ternakmu yang makmur.”

“Tetap saja, kau ibu yang kejam, Jane. Bagaimana bisa meninggalkan bayi merahmu seperti ini? Rasanya doa-doaku pada Yang Kuasa jadi sia-sia. Doa-doa yang mengharapkan seorang Jane Jung menjalani kehidupan yang bahagia dan berumur panjang.” Mark sadar akan keemosionalan dirinya, ketika refleksinya berkibar-kibar di iris Jane.

Seharusnya ia tak bicara jika hanya mengentalkan kepahitan.

“Ini hukumanku karena mengkhianatimu,” ujar Jane, mengulas senyum yang jelas-jelas hampa. “Kupikir akan baik-baik saja setelah Austin memboyongku ke London. Nyatanya sehari pun aku tidak bisa melupakanmu sampai jadi sakit-sakitan. Aku menikahi laki-laki lain, padahal hatiku masih enggan berganti Tuan.”

“Kau dan aku tahu, kalau kau berada dalam situasi di mana kau tidak kuasa menolak,” sanggah Mark, “berhentilah menyalahkan diri. Demi Tuhan kau tidak bersalah, Jane. Aku bersumpah kekecewaanku tidak lebih besar dari perasaanku untukmu. Lagi pula, aku bukan—”

“Tetap saja Mark … aku mengkhianatimu.”

Mark menyengap, kehilangan kemampuan berbahasa.

“Dan apa yang baru kuketahui dari seorang Mark Lee yang misterius … kau Pemandu Jiwa yang diutus memandu roh yang masih terikat kehidupan dunia sepertiku, ‘kan?” Jane mempertunjukkan sisi magisnya, berpindah tepat di muka Mark secepat lilin ditiup. Didekapnya lelaki yang akan selalu muda itu seerat-eratnya. “Lima belas tahun berlalu dan kau tidak menua. Kau masih sama seperti Mark yang kukenal saat usia delapan belas.”

“Kurasa yang membuat jiwaku terjebak di antara kehidupan dan kematian adalah kau, Mark Lee,” imbuhnya, menyudahi pelukan mereka lantas menangkupkan kedua tangan di dagu Mark. Jane ingin leluasa menatap bola aswad milik Mark. “Sekali saja … izinkan aku mengungkapkan segala yang kusimpan sebagai seorang istri dan ibu yang buruk.”

Sesaat, Mark tercenung. Bersama kekalutan yang bahkan tak terdefinisikan, ia menyanggupi. Mempersilakan Jane menjamah apa pun pada dirinya, termasuk hatinya yang telah lancang mencintai manusia ketika Tuhan mengamanahkan tugas yang seharusnya mengharamkan hasrat duniawi. Barangkali, dirinyalah yang berdosa. Mark berhenti pada pemikiran itu, soal bagaimana Tuhan menguji sekaligus menegurnya dengan menghadirkan cinta melalui Jane.

“Aku mencintaimu, Mark. Kau memiliki hatiku …,” ucap Jane, memicing saat labium mereka bersentuhan. “Selama ini kita saling mencintai, tapi tidak pernah mengungkapkannya dengan benar.”

Mark menggigit bibir dalamnya kuat-kuat, menahan apa pun yang tersangkut di tenggorokan. Sementara Jane mundur, mengulas senyum termanis dan berkata, “Kupikir aku sudah menuntaskan segalanya. Aku benar-benar siap meninggalkan dunia ini, Tuan Pemandu.”

Sebelum Mark sempat bersuara, Jane telah memudar. Terhapus pawana yang turut menerbangkan kelopak bunga apel. Mark bertahan dalam posisinya, menegaskan bahwa perpisahan ini merupakan tugasnya. Meyakinkan bila Jane hanyalah satu dari sekian banyak jiwa yang harus diantarkan serta menepis segala dorongan untuk meraung.

Akan tetapi, cuplikan senyuman terakhir Jane terlampau indah. Sampai Mark merasa tercambuk. Belum pernah Mark merasa sesakit ini dalam berabad-abad kehidupannya. Mark berbalik, menurunkan topi menutupi matanya yang meloloskan bulir-bulir air, yang kemudian menyatu di bawah dagu dan berjatuhan saat bahunya berguncang.

Aku mencintaimu, Jane ….

II

Hansol terjaga lantaran hawa dingin merayap melalui selimut perca yang melingkupinya. Dia meregang, kemudian berbalik dan mendapati dirinya sendirian. Sisi tempat Jooeun berbaring di ranjang terasa dingin. Istrinya pastilah telah terjaga lebih dulu sehingga Hansol lekas beringsut bangkit. Hujan turun semalaman sampai ubin yang dipijaknya serasa bagai es dan ketika Hansol mengintip ke luar jendela, rinai masih mengguyur.

Pemuda itu menyampirkan sweter di bahu, lalu menyorong sandal. Api di pendiangan telah padam sewaktu Hansol berderap ke dapur, di mana suara tungku meretih ditangkap pendengaran. “Sayang?” panggilnya, melongok berkeliling mencari-cari wujud Jooeun.

Hening. Cuma suara angin yang mengetuk kaca jendela.

Semangkuk sup yang masih mengepul terhidang di meja, lengkap dengan sepotong baguette. Hansol berdecak, lagi-lagi dirinya melewatkan sarapan seorang diri. Dia menuang air dari cerek yang dipanaskan di tungku, menyeduh teh dengan sedikit gula guna menghangatkan lambungnya yang ikut-ikutan menggigil. Dan gumpalan-gumpalan awan putih terbentuk saat dirinya menghela napas.

Kini dia berdiri, usai menyantap sarapan seadanya yang selalu disiapkan Jooeun sebelum berangkat ke ladang di hutan dan istrinya biasa kembali sebelum makan siang. Ada beban di batin Hansol jika memikirkannya. Bagaimana dirinya bisa sampai hati terus menggantungkan kehidupan pada Jooeun. Istrinya yang cantik dan mungil itu bahkan acap kelihatan pucat.

Maka Hansol bertekad, dia harus pergi berburu. Membawa daging segar untuk sang istri, lalu menjual sebagian demi kelangsungan hidup mereka. Hansol bergegas memakai mantel wolnya yang tebal dan meraih senapan. Mungkin dia bisa dapat rusa, kelinci atau malah ayam hutan. Memikirkannya saja membuat perasaan Hansol berangsur hangat.

Gerimis mereda sewaktu Hansol memasuki hutan, capung-capung bersukacita terbang berseliweran di sepanjang jalan. Makin menenteramkan kala cuitan hutan tertangkap pendengaran dan sedikit aroma petrichor tersisa di udara. Kemudian senapan Hansol spontan bersiaga ketika mendengar dengusan rusa, dia berderap hati-hati menelusuri jejak-jejak dangkal di tanah berlumpur.

Hansol tersenyum, tanduk gagah rusa itu mulai mencuat dan langkahnya semakin bersemangat mendaki lereng. Dia mengangkat senjata, menodongkan larasnya dari balik pohon beech yang menyembunyikan keberadaannya. Hansol menarik pelatuk, mengincar kepala si rusa guna melumpuhkannya seketika. Dor! Bau mesiu tercium kencang sehingga burung-burung yang bertengger di batang panik berterbangan.

Tetapi Hansol justru terperangah sewaktu memeriksa hasil buruannya. Rusa itu hilang, bahkan sepercik darah pun tak bersisa padahal jelas-jelas dia menembaknya. Apa yang barusan cuma ilusi? batinnya. Hansol bersandar di pohon poplar, menarik napas sejenak sembari meredakan kebingungan yang ganjil.

“Mungkin karena aku terlalu bersemangat,” gumam Hansol membesarkan hati.

Hansol lantas bergerak, menjajal tebing terjal dengan harapan ada sekawanan belibis di sana. Setiap langkahnya diiringi sensasi familier, dia memandang berkeliling menyadari bila jurang di pucuk sana punya cerita soal hidupnya. Dulu Ji Hansol yang digadang-gadang sebagai titisan Beethoven, malah jadi beban keluarga setelah penyakit aneh merenggut hidupnya. Depresi membuatnya hilang akal, dia menulis surat wasiat kemudian menuju tebing guna mengakhiri hidup. Mayatnya akan dimakan burung pemakan bangkai sehingga keluarganya tidak perlu mengadakan pemakaman, pikirnya kala itu.

Namun kini, Hansol tersenyum lebar. Mengingat perjumpaan pertama mereka, telinganya sayup-sayup menangkap suara kepakan sayap manakala paras jelita Jooeun menyeruak perlahan saat ajal nyaris datang. Tanpa disangka Jooeun malah menghadiahkannya hidup baru sebagai seorang suami.

“Ya Tuhan! Kenapa bahumu bisa terluka separah ini, Jeno?”

Jerit histeris meraup atensi Hansol, hutan yang sepi mendadak riuh. Suara itu milik Jooeun, membuatnya kebingungan mencari-cari dari mana asalnya. Dia mendengar sesuatu di balik belukar—bunyi percakapan yang sekarang jadi berbisik-bisik. Saat disibak, tidak ada seorang pun di sana, cuma hamparan danau yang airnya sebening kaca. Keheranan Hansol semakin menjadi-jadi, seingatnya tak pernah ada danau di sana dan dikepung rawa yang kesannya angker.

“Beruntung tembakannya meleset, jadi aku masih sempat melarikan diri. Mulai sekarang kau harus berhati-hati. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau bertemu dengan mereka,” suara itu terdengar lagi—kali ini vokal laki-laki—bercampur dengan napas yang memburu.

“Lebih baik malam ini kau tinggal bersamaku. Aku akan cari cara agar keberadaanmu tidak sampai diketahui Hansol. Bagaimanapun lukamu harus diobati dan seperti katamu, situasi di sini kemungkinan sedang tidak aman. Dengar Kak, aku tidak mau sampai kehilanganmu.”

Jantung Hansol serta-merta mencelus, sekujur tubuhnya merinding mendengar namanya disebut-sebut. Sudah sah, itu suara istrinya. Dia berang pun merasa dikhianati, kemudian dengan menggebu-gebu mengarungi rawa. Tetapi hasilnya nihil, hanya ada dirinya seorang diri dengan separuh badan dilalap air.

Kepalanya mengentak-entak, dia seperti dipermainkan.

Sekitar lima meter di depannya, dia melihat pergerakan di pinggir jembatan berlumut. Hansol menyipit menembus kabut yang mendadak turun mengepung dan menemukan rusa buruannya terbaring di sana bersama seekor angsa. Darah masih mengalir, bulunya terkelupas dan dagingnya terpapar. Mereka membeku, menyorot Hansol dengan tegang kala kontak mata yang menguntungkan satu pihak terjadi. Laki-laki itu tersenyum puas. Dia menahan napas, mengokang senjata dan membidik dua hewan sial yang kini mendongak gemetaran. Angsa itu menatapnya dengan ironis; tiba-tiba saja dalam kurun sesaat, bukan mata binatang itu yang menatapnya, melainkan mata Jooeun.

Hansol mengerjap, berupaya menepis bayangan tersebut sekaligus perasaan iba dari benaknya. Angsa itu kini berubah kembali menjadi angsa biasa yang sepatutnya dimangsa. Dia mengangkat senapan dan menodongkan larasnya ke arah buruannya. Hansol mengincar kepala rusa itu sekali lagi, tetapi si angsa terbang menghadang persis saat dia menekan pelatuk.

DOR!

Rusa sialan itu berhasil melarikan diri untuk kali kedua meninggalkan angsa yang menggelepar sekarat. Hansol mengumpat sebal sembari merapat ke tepi. Dia akan gagal mengesankan hati sang istri apabila menyerahkan seekor angsa kurus yang cuma bisa jadi makan malam. Tetapi saat akan mengecek hasil buruannya, napasnya justru tersekat di tenggorokan pun senapan yang refleks terlepas dari tangannya.

Di sana, terbaring di jembatan, Jooeun bersimbah darah.

Kepalanya seperti dihantam batu besar. Dia mencengkeram kepala dengan kedua tangan dan matanya terbeliak. Dia menatap ke bawah, darah Jooeun mengalir ke tapak boots-nya. Hansol jatuh berlutut, tangannya gemetar tatkala menyentuh badan Jooeun yang sedingin es. Dia menjadi panik luar biasa, meraung histeris sambil membawa Jooeun dalam pelukan.

Kau sungguh membidik angsa yang tepat, Hansol.

III

Winwin merapatkan pintu sepelan mungkin sampai tak berderit, kemudian berderap seraya menenteng nampan berisi perlengkapan nail art: cat kuku warna-warni, butiran berlian imitasi serta kuas-kuas kecil. Suasananya sunyi, Winwin bisa mendengar bunyi sepatunya yang menapak di ubin. Ruangan itu cuma dipendari lilin yang diposisikan mengelilingi bathub dan cahayanya menimbulkan bayangan-bayangan aneh sewaktu Winwin melangkah.

“Aku bawa hadiah untukmu,” kata Winwin kepada gadisnya yang tergolek di bathub. Rambut Lin Xie yang sewarna tembaga terurai, tampak mengilat ditimpa cahaya lilin. “Sabar sebentar, ya. Biar kuperindah jari-jarimu yang cantik.”

Winwin duduk di sisi Lin Xie sambil menggenggam tangannya yang terkulai. Dia mulai dengan menarik penyumbat bathub, mengeringkan air yang menggenangi badan Lin Xie kemudian menyorongkan jubah mandi. Dalam keadaan pasif dipolesnya kuku Lin Xie dengan telaten, kuasnya berayun-ayun lembut seolah Winwin tengah menciptakan mahakarya. Winwin tersenyum melalui sudut bibirnya, meniup kuku-kuku yang diwarnai cat pastel sampai kering lalu menata batu berlian di atasnya bukanlah perkara sulit.

“Lihatlah, Sayang. Warna butternut ini cocok sekali denganmu,” ujarnya, mengecup telapak tangan Lin Xie lantas menempelkannya ke pipi. Dingin. Tatapan Winwin yang jatuh di paras Lin Xie pun demikian, ngeri seakan bukan orang yang sama.

Jari-jari Winwin yang kurus perlahan menjelajahi wajah Lin Xie. Gadisnya kelihatan nyenyak, kelopak matanya menutup sempurna dengan damai. Dia menambatkan ibu jari di bibir Lin Xie yang kering juga pudar ronanya, lalu dengan halus Winwin mengecupnya di saat ingatan-ingatan akan malam yang merah itu meletup-letup dalam benak.

Malam ketika mereka kembali dari West 40th Street dengan kecemburuan menyelimutinya seperti api yang menghanguskan. Tidak ada yang lebih ingin Winwin lakukan selain meledak, membiarkan emosi mengambil alih dirinya tanpa berpikir lagi.

Dasar perempuan murahan!” Winwin menghardik, membuat Lin Xie kaget hingga kontan menyorotnya tajam lantas melanjutkan dengan jijik, “Berapa banyak tip yang diberi Bajingan itu? Seratus? Dua ratus? Selanjutnya apa? Kau akan tidur dengannya, bukan?!

Demi Tuhan, apa yang kaubicarakan, Win?” Lin Xie mendekat dengan alis melengkung ke atas, terheran-heran akan tabiat buruk kekasihnya. “Jelas-jelas kau tahu kalau Jackson cuma pelanggan di kelab. Aku cuma menyajikan minuman lalu mengobrol sebentar dengannya. Kenapa berlebihan sekali?

“Berlebihan katamu?” Winwin mencengkeram bahu Lin Xie lalu mendesaknya ke tembok tinggi di gang tergelap di pinggiran Manhattan. “Kau tertawa-tawa bersamanya, memandangnya sebagai pria dan menurutmu aku tidak tahu!

Ada apa denganmu?” Lin Xie menghempaskan kuasa Winwin, balik mendorong pemuda bertampang polos yang perangainya mendadak bak kesetanan. Sekon berikutnya, otaknya menyimpulkan praduga dengan ketidakpercayaan. “Jangan bilang kau … memakai barang itu lagi. Apa aku benar?

Winwin bergeming, membuang muka memandang aspal yang sama pekatnya. Raungan sirine polisi mengisi kesunyian yang tanpa sengaja diciptakan. Kendati lalu-lalang polisi merupakan hal biasa di kehidupan malam kota New York, tetap saja rahang Winwin menegang dan pandangannya jadi waswas. Dan sepertinya dugaan Lin Xie tepat, bahkan gadis itu merasa letih seletih-letihnya kala membaca gelagat Winwin.

Jawab aku, Win!” desak Lin Xie, wajahnya berubah geram.

Aku memakainya bukan karena ingin, tapi aku butuh!” Winwin yang berang menghantamkan tinju ke tembok, jari-jarinya mengucurkan darah. Berbulan-bulan dia meredam sakaw yang membuat fisik dan psikisnya meradang; kondisi yang tidak mampu dielaknya.

Kau sudah janji akan meninggalkan barang haram itu! Kau sudah janji akan hidup dengan lebih baik bersamaku!” Walau bentakan keluar dari bibirnya, Lin Xie tidak kuasa menghentikan turunnya air mata. “Sudah kubilang harusnya kau direhab, Win!

Dan ketika aku ditahan di sana kau akan berkencan dengan pria lain? Jangan harap, Lin Xie!” Winwin kian sinting. Mata sipitnya semakin menyipit menaruh curiga pada ekspresi muram sang kekasih.

Lin Xie meneguk kecewa, mencampakkan kalung emas dengan liontin batu safir—hadiah dari Winwin—yang menjuntai di lehernya ke tanah. “Aku menyerah padamu. Kita sudahi saja semua ini. Aku terlalu lelah menghadapimu … aku ingin punya kehidupan yang normal, kekasih yang normal dan segala sesuatu yang normal,” tandasnya, berlalu sambil menjunjung kedua tangan.

Winwin trenyuh, tetapi sejurus kemudian dia menyusul dengan langkah cepat dan pasti. Mengamuk serta memukul tengkuk Lin Xie hingga tersungkur, bahkan kejinya lagi dia mencucukkan suntik berisi bius dosis tinggi—yang telah dipersiapkan sebelumnya—ke lengan si gadis. “Memangnya kau punya izin dariku? Dasar sial!

WINWIN KAU—” Lin Xie mencoba melanjutkan, namun lidahnya makin kelu. Terdengar suara dari mulutnya, tetapi tak sanggup membentuknya jadi satu kata yang jelas. Sebelum usaha terakhirnya berhasil, dunia telah menggelap dan sunyi.

Kolase-kolase ingatan itu pecah sewaktu Winwin bangkit sembari membopong Lin Xie yang telah dipakaikan gaun. Dibaringkannya tubuh sang kekasih di ranjang bertabur mawar dengan hati-hati. Kemudian membuka kotak make up milik Lin Xie dan mulai merias wajahnya bak boneka. Mulai dari membubuhkan bedak, melukis eyeshadow, meronai pipi, bahkan memulas lipstik dilakukannya sampai Lin Xie layak disebut pengantin.

Cantik, senandikanya sambil mengusap pipi Lin Xie yang kembali tampak hidup.

“Sudah kubilang, kau cuma milikku Lin Xie.” Winwin menilik kekasihnya sewaktu tangannya meraih stoples dari nakas, berisi organ jantung Lin Xie yang diawetkan. Dia mengecupnya seraya berbisik, “Selamanya, kau milikku.”

Winwin tidak menyesal, dia justru … puas.

IV

Namanya Jaemin.

Tujuh tahun berlalu sejak pertama kali Cher memujanya. Dia indah. Hidungnya mencuat tinggi, garis wajahnya halus, dan alisnya tumbuh lebat. Tetapi bagian favorit Cher adalah matanya yang pekat juga tajam. Sering diidamkannya bahwa kelak sekelumit refleksinya akan mengisi ruang di sana.

Sahih, terpendamlah afeksi Cher kepada Jaemin. Degap jantung yang tiada mampu dinetralisir jadi saksinya. Ketika senyum terulas di bibir Jaemin, baskara pun kalah terang. Namun, tatkala lara hinggap pada romannya, sembilu turut dirasakan Cher. Dialah pengagum rahasia, yang kerap berangan perasaannya akan dibisikkan angin malam.

Tetapi Tuhan membangun tabir kokoh di antara keduanya. Dipisahkan dua alam yang divergen. Ketika di daratan sana Jaemin melaju dengan langkah, dari bawah sini Cher justru mengayuh … ekor yang disesalkan tak punya kuasa berubah jadi kaki. Tidak seperti fiksi para manusia, naik ke daratan bagi putri duyung berarti mati kering.

“Seandainya aku terlahir di atas sana, alangkah baiknya,” desahnya, kesahan yang Tuhan pun pasti muak mendengarnya. Sudah kodratnya lahir sebagai duyung.

Kerap terdengar kisah dari negeri seberang perihal putri dari Raja Triton yang berhasil menukar ekor dengan sepasang kaki. Entah bagaimana hikayat pastinya, ada yang mengatakan sang Putri berhasil memenangkan hati Pangeran. Namun lainnya menyebutkan Putri malang itu justru patah hati, bunuh diri lantas membuih.

Dan apalah daya Cher, dara naif tanpa sepercik pigmen biru mengaliri diri. Kaum dari strata rendah sepertinya acap diganjar petuah apabila mengutarakan mimpi. Bagai pungguk merindukan bulan, katanya. Mendambakan Pangeran sungguh muluk agaknya. Jadi, silakan tuding kemuskilan cinta yang jadi biang keladi kemajenunannya esok.

Kini hasratnya membulat. Selepas menyambangi syaman termahsyur di seberang samudra, dia mencoba yakin. Separuh jiwanya dipertarukan pada dua kebolehjadian, berhasil atau lenyap. Cher menanti momen saat bulan dan matahari berada dalam suatu garis lurus, ia akan menarik air sehingga menghasilkan gelombang pasang. Akan ada dua kali pasang–surut dalam dua belas jam yang dapat dimanfaatkan.

Kendi mungil berisi racikan magis segera ditenggak Cher. Dia percaya langit akan menurunkan restu. Iba akan ratapannya selama badar. Ketika ombak pasang sampai, dia mengepakkan ekor sekuat-kuatnya lalu melencit ke udara dan sengaja jatuh menimpa Jaemin. Pemuda itu ternganga, fisiknya kaku dan gelagatnya tergagau mendapati sosok Cher yang tidak biasa.

Seperti mimpi, pandangan mereka bertaut. Cher merasakan kedut otot Jaemin yang menahan bobotnya. “Sadarkah kau bila manikmu sanggup membuat rembulan rendah diri?” ungkapnya, yang seperti racauan bagi Jaemin.

Si pemuda ter-“huh” dengan mimik limbung. Dan kealpaan Jaemin dimanfaatkan Cher untuk menindihnya, lantaran waktunya sempit. “Maaf … ombak yang kencang tadi mendamparkanku. Bisakah kaukembalikan aku ke laut, Tuan?” mohonnya merayu memanja. “Tidak usah takut. Aku tidak akan mencelakaimu.”

“Te-tentu,” gagap Jaemin. Diafragmanya naik-turun, sedang embus napasnya membelai wajah Cher dalam jarak yang begitu dekat.

Cher tahu, perasaan takut menyertai langkah Jaemin, tapi pemuda itu terlalu lihai menabiri. Dia berfokus pada laut tanpa selayang pun melirik kemolekan tubuh Cher. Tiba di ujung langkah, Jaemin memandang Cher sungkan seakan mempersilakan melalui isyarat. Barangkali akal sehatnya masih enggan mengakui nyatanya Cher.

Dan Cher mendadak merengkuh Jaemin lebih kuat. “Ketahuilah bila aku melakukannya semata karena aku mencintaimu,” lafalnya sebelum membelit leher Jaemin ikut jatuh ke laut, lantas menenggelamkannya sampai ke dasar.

Jaemin kontan memberontak, berupaya mengayuh kakinya ke permukaan. Namun tak lama letih menderanya, sebab pasokan oksigen kian menipis. Dalam ketidakberdayaannya, Cher beraksi menguasai legit bibir Jaemin. Menyalurkan efek magis dari ramuan yang ditenggaknya tadi. Jaemin cuma bisa pasrah menatapnya putus asa.

Pendaran cahaya keemasan menyelubungi awak Jaemin, sekon kemudian raga ringkihnya digulung gelombang. Berputar bersama gelembung nan lambat laun mengubah sepasang kaki menjadi ekor kehijauan. Separuh dari nyawa yang dikorbankan Cher untuknya tak sia-sia. Sah, sekarang Jaemin sebangsa dengannya.

Sayup terdengar senandung sonor sewaktu kesadaran Jaemin perlahan-lahan kembali. Dia mengerjap lemah sewaktu paras jelita seorang gadis tahu-tahu tercogok, tersenyum serta lembut membelai wajahnya. Kepalanya pening menelaah keberadaannya kini, sejauh yang dirasa semua basah. Jaemin memicing lagi, mereka-reka mimpi atau nyatakah semua ini saat sekelebat ingatan mengejutkan menerjang kepala.

“KAU!” Jaemin terkesiap keras, dia baru akan meloncat ketika menyadari kegilaan lain yang tak kalah mencengangkan. Astaga, Tuhan! Ekor bersisik hijau terang telah melalap kakinya. “Apa yang terjadi pada kakiku? Kau apakan sampai jadi begini!”

Jaemin kalang kabut, tersadar akan keberadaannya yang terkepung air.

Sedang Cher yang dibentak tergopoh-gopoh menyusulnya. “Kau sudah jadi kaumku. Bangsa duyung. Kenapa harus heran kalau punya ekor?” timpanya tanpa perasaan bersalah.

“Apa ka—”

Cher merapat, menggenggam tangan Jaemin dengan sungguh-sungguh. Eboni maniknya bergelora memerangkap refleksi Jaemin. Tatapannya menggetarkan sampai tiada kalimat penegah sanggup dilontarkan Jaemin. Perlakuan itu bak mengikis nyalinya, melumpuhkan akal sehatnya barang sejenak.

“Berhubung kau sudah siuman. Bagaimana kalau besok kita menikah? Aku akan mengundang teman-temanku untuk berkumpul di Suncheonman senja besok. Dan sore ini aku akan membuat tiara, juga menganyam alga untukmu,” beber Cher antusias, seakan-akan mereka pasangan kekasih yang tengah menanti hari sakral. “Kehendak langit begitu cakap, bukan?”

Dan Jaemin tercengang akan entengnya Cher menjelaskan segalanya tanpa butuh persetujuannya. Tidakkah duyung sinting itu sadar bila dia baru saja menculiknya dan sekarang berniat mengawininya secara paksa? GILA!

Ini bukan kehendak Tuhan, lebih-lebih nafsu biadab.

“Sinting! Jangan bicara seolah-olah aku dengan senang hati menuruti kemauanmu!” Jaemin meledak, hilang kesabaran untuk menahan makian-makian yang beruntutan terlompat, “Siapa bilang aku sudi jadi suamimu? Jangan mimpi! Yang kaulakukan cuma merusak hidupku!”

“Aku ….”

“Jangan sentuh aku!”

Kuasa Cher yang semula terulur hendak menjamah Jaemin kemudian surut. Rahangnya yang mendongak teratur lingsir. “Jadi, apa yang harus kulakukan dengan perasaan yang tidak berbalas ini?”

“Itu bukan urusanku,” sergah Jaemin, kemudian dengan kasar menepuk-nepuk ekornya. “Urusanku adalah ini. Aku tidak mau tahu, kembalikan wujudku jadi manusia. Bagaimanapun caranya, terserah!”

“Sungguh, sampai hati kau bicara begitu? Atas semua yang kukorbankan dan afeksiku padamu. Bertahun-tahun aku memendamnya … dan ini yang kuterima?” Kenelangsaan terukir di figur Cher ketika tanya disudahi. Giginya bergemeretak menyiratkan emosi. “Aku bersedia menukarkan segalanya untuk cinta ini. Aku sudah gila karenamu, Jaemin ….”

Dahi Jaemin mengernyit, kepalanya sakit. “Itu bukan cinta, melainkan obsesi!”

“Ini cinta! Buktikan kalau kau ragu!” Cher bersikeras, sebutir kristal bergulir jatuh ketika dia merenggut tangan Jaemin ke dada. “Tuhan yang jadi saksi bila tiap simfoninya menyerukan namaku. Tidak bisakah kaurasakan itu?”

“Kumohon, Nona! Tidak sepatutnya aku berada di sini, tempatku di daratan sana. Cinta juga tak sesederhana anganmu,” sanggah Jaemin seraya menghempaskan genggaman Cher. “Sejak awal ini sudah tidak benar.”

Cher terduduk lemas, tersedu lantas meraung. Jaemin memandangnya iba, tapi tak banyak yang sanggup diperbuat. Dia juga sudah nyaris gila. Tetapi sungguh, menurutnya cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipergunakan pada segala pasal. Cher yang meratapi nasib cintanya, membuatnya bak terimpit langit dan bumi. Ke atas salah, ke bawah salah.

“Aku akan ke permukaan ….”

“Jangan.”

Gemetar tangan Jaemin sewaktu Cher menahannya dengan roman sendu yang sukar ditafsirkan. Lalu gadis itu bicara walau tersekat, “Kau bisa mati kalau bersua manusia di atas sana. Tubuhmu juga tidak boleh kering. Dan … bilamana Pangeranku tak terpaut hatinya. Apa lagi yang bisa kuupayakan?”

Jaemin makin tidak mengerti, gadis itu bicara berbelit-belit. Hening menguasai. Mata mereka bertemu pada titik di mana pijarnya tak berkutik. Jaemin tak tahu, ke mana lajunya bahasa yang dia pahami sampai bibirnya betah terkatup. Lekumnya naik-turun, gugup bercampur takut saat Cher menyunggingkan senyum.

“Kau ingin jadi manusia lagi, ‘kan?”

“Tanpa bertanya pun kau tahu,” sambut Jaemin, susah payah meredam simpati.

“Baik, kalau memang begitu agaknya,” suaranya bergetar. Cher menjangkau sesuatu dari balik tilam kerang. “Mungkin, sekarang pun tetap aku yang harus mengalah.”

Sementara fokus Jaemin tetap awas, mengamati gerak-gerik Cher yang mencurigakan. Dan alangkah terkejutnya dia sewaktu gadis itu tanpa ba-bi-bu langsung menancapkan trisula ke dadanya sendiri. Sigap Jaemin menyambar tubuh Cher yang mulai oleng. Bukan main dalamnya trisula itu bersarang di rusuknya, sampai tersembur bongkahan merah segar dari bibirnya. Jaemin panik, dia berusaha mencabutnya tetapi Cher justru membenamkannya semakin dalam.

“A-apa yang kaulakukan, Nona!”

“Kelak, bawalah jasadku pada Ursula di negeri seberang. Tukarkan tubuh nistaku ini dengan sepasang kaki yang kau inginkan lebih dari aku.” Cher tersenyum pasrah saat tangannya terulur meraba paras Jaemin untuk terakhir kali. Air di sekitar mereka berubah merah pun kristal-kristal yang menitik dari matanya. “Toh, aku juga akan mati bila kau tak membalas cintaku. Biarlah lenyap cinta ini beriring atmaku. Aku lebih tidak sanggup … melihatmu bercinta dengan … gadis lain ….”

“TIDAK, NONA! KAU TIDAK BOLEH BEGINI!”

Massa bergerombol saling berbisik, bergunjing perihal nahas di tepi dermaga. Fajar tadi persisnya ketika pemuda itu menceburkan diri menembus brutal gelombang. Anyar kejadian menyebar ke seantero desa mengabarkan bila putra dari Tuan Na—untuk kesekian kalinya—mencoba mengakhiri hidup.

Jaemin nan lesi itu baru saja dievakuasi regu penyelamat. Pandangannya kosong seakan raganya sudah di nirwana. Jerit histeris ibunya tiada sanggup memanggil sukmanya berhimpun. Lelaki malang nan mengenaskan bertabur luka di awaknya. Darah di sana-sini hasil kecamuk karang di kala silam.

Kini dia tenang dalam lelap.

“Anak yang malang. Aku ingat betul, dulu dia anak yang periang dan santun dalam bersikap. Tapi mau bilang apa lagi? Semenjak kekasihnya meninggal, kejiwaannya mulai terganggu. Kau ingat kejadian beberapa tahun lalu, ‘kan?”

“Tentu. Tepat di tanggal yang sama, kekasihnya juga tewas tenggelam di dermaga ini. Dan sejak itu dia bersikeras kalau Cher tidak mati, melainkan menjelma jadi putri duyung dan menemuinya setiap malam. Padahal yang dilakukannya cuma melamun di bibir dermaga seperti orang dungu. Jaemin sudah jadi korban delusi.”

V

Good morning,” bisik Johnny, lembut menyibak poni Kenzi. Dia berjongkok di tepi ranjang, mengamati kekasihnya mengulat dengan tampang berseri-seri. “Time to wake up, Sugar.”

“Tidak usah sok manis, Johnny. Aku geli,” tukas Kenzi, duduk lantas menimpukkan bantal kepada Johnny. Dia mengucir rambut ke atas sewaktu Johnny mendadak melingkarkan tangan di pinggulnya. “Sudah menyelinap ke rumah orang seenaknya, sekarang malah curi-curi kesempatan.”

Johnny meringis, cuek bermanja ria menyesap aroma fougere dari ceruk leher Kenzi nan khas—lembut, menenangkan pikiran sekaligus candu. Berdasar kesepakatan tak tertulis, cara agar Johnny berhenti jadi parasit cuma satu. Kenzi menoleh lantas mengecup bibir kekasihnya selayang sebelum tubuhnya makin mengerdil direngkuh Johnny.

Brioche, omelet beserta secangkir kopi hangat telah siap di meja bersama Johnny, menanti Kenzi menamatkan ritual feminim pagi hari. Johnny selalu suka memainkan rambut Kenzi yang lembap seperti sekarang, dia nyaris tidak bisa makan dengan tenang. Kekasihnya memang usil, kekanakan tetapi super perhatian.

“Pelan-pelan saja makannya, nanti lipstikmu jadi berlepotan,” celetuk Johnny mengomentari cara Kenzi melahap sepotong besar brioche, lalu menghapus selai di sudut bibirnya dengan jempol. “Remahnya sampai ke mana-mana.”

Kenzi mengulum senyum, memandang Johnny menyeruput kopi dengan khidmat. Matanya menyipit merespons jatuhnya sinar mentari pada retina. Kenzi menyebutnya “artistik”. Otot-otot bisep yang menyembul di lengan Johnny yang terpanggang matahari membuatnya serupa patung Discobolus hidup. Oh, tentunya tidak, dia bukan model apalagi binaragawan, melainkan pesulap amatir.

Senjang akan visualnya memang.

Adalah impian Johnny sejak cilik, jadi pesulap hebat seperti David Copperfield. Kenzi tahu betul, sebab mereka telah bersama jauh sebelum mengenal huruf. Dan Johnny akan terbang ke Miami mengikuti audisi pencarian bakat. Antusiasnya menceritakan skenario penampilan bahkan selagi mengendarai Audi menuju tempat Kenzi bekerja.

“Aku akan muncul seperti Kaito Kid, mengibaskan jubahku sehingga burung-burung berhamburan ke luar. Bagaimana kalau musik latarnya memakai lagu Closer dari The Chainsmokers? Lagunya energik dan aku bisa sedikit menari,” tuturnya, mengayunkan badan mengikuti irama dari balik kemudi.

Seraya melepas sabuk pengaman Kenzi menyahut, “Itu akan jadi menarik, kurasa.”

Tapi Johnny menahannya, menautkan jemari mereka dan menatapnya dalam secercah kegundahan. “Janji padaku kau akan baik-baik saja saat aku pergi. Sarapan dengan benar dan tidak menunda makan siang,” ujarnya bercampur helaan napas.

Kenzi menyanggupi, memboyong Johnny masuk ke bakery sewaktu Mr. Duncan menyambutnya dengan heboh. Meledakkan confetti sekaligus menyerukan dukungan kepada pelanggan setia—yang merupakan kekasih pegawai teladan bulan ini. Johnny menerima banyak tepukan, kalimat-kalimat penyemangat serta harapan. Senyumnya tulus dan lebar, Kenzi bisa melihat Johnny nyaris menitikkan air mata.

Dengan bangga beberapa trik sulap dia pamerkan—trik-trik yang khatam di kepala Kenzi. Bola merah yang bisa membelah diri, cola yang berubah bening, atau membengkokkan sendok. Kenzi mendesah, ada sensasi janggal bergelayut dalam relung sewaktu menyaksikan keceriaan yang membaur di tiap sudut.

“Untukmu.” Johnny membakar tisu yang segera berubah jadi mawar, mengejutkan Kenzi dari lamunan. “Kau sedih akan berpisah denganku, ya?” tudingnya, menyentil hidung Kenzi secara bergurau.

“Buat apa sedih? Toh, kau yang akan merindukanku lebih dulu,” cibir Kenzi, merampas mawar dari Johnny lantas mendudu ke dapur. “Lagi pula aku tidak yakin kau akan lolos kalau cuma pakai trik yang itu-itu saja dan ujung-ujungnya akan pulang lebih cepat.”

Johnny menyusul, merangkul bahu Kenzi seerat-eratnya sembari bergumam, “Kalau akan rindu kenapa tidak langsung bilang saja, sih? Dasar keras kepala, memangnya aku tidak tahu?”

“Dengar ya, Mackenzi Lee,” imbuhnya, membalikkan badan Kenzi lantas menatapnya intens sembari menangkupkan tangan di wajah gadisnya. “Kali ini akan aku tunjukkan trik menghilang paling spektakuler dan aku akan muncul di televisi.”

“Cuma menghilang saja, ‘kan? Tidak melibatkan pisau atau senjata tajam lain?” Kenzi menyerap hangat sentuhan Johnny yang berbekas di pipi. “Butuh waktu berbulan-bulan agar tanganmu sembuh, ingat itu?”

Johnny mengamini, tersenyum juga mengecup kening Kenzi. Dia menyibak lengan baju, menekan tombol arloji digital besarnya dan mengerjap melihat layar kecil itu: 11:15 A.M. Waktunya menipis. Johnny bergegas mengumpulkan apa pun yang perlu dibawa, sebab dia harus siap di bandara setidaknya satu jam sebelum keberangkatan.

Kenzi mengantarnya ke ruas jalan, tempat mobil diparkir. Mr. Duncan serta istrinya diam-diam membungkuskan roti sebagai bekal perjalanan, Johnny melambai sambil menyerukan terima kasih. Sedang Kenzi bersandar pada pintu mobil, mengantuk-antukkan ujung sneakers ke aspal. Johnny menyadarinya, dia melesat meraih pinggang Kenzi kemudian melumat bibirnya. Panjang dan dalam seakan seisi dunia perlu tahu bahwa keduanya pasangan yang akan segera merindu.

“Aku mencintaimu,” ungkap Johnny, suaranya rendah dan halus menggelitik telinga Kenzi. Masih dengan senyum khasnya, dia masuk dan menyalakan mobil yang segera melaju mengejar waktu. Meninggalkan Kenzi jauh di belakang, semakin mengecil lalu hilang dari pantulan spion.

Kenzi menarik napas dalam-dalam, kembali ke bakery seperti wanita tua yang terseok. Bekerja adalah cara jitu membunuh sepi, jadi dia bersegera mengangkat loyang-loyang berisi roti panggang. Hangat dan berbau manis, mengundang pelanggan menyemuti toko kecil di sudut kota Laval. Roti kebanggan keluarga Duncan memang telah tersohor sampai ke pelosok Quebec.

Jari-jarinya yang lentik berselubung krim sewaktu memoles cheese cake untuk Misa—pelanggan belia mereka yang kebetulan berulang tahun. Dia menyelimutinya dengan fondant biru, sisanya dibentuk menyerupai karakter Frozen dan—aah! Kenzi memekik, lantaran api blow torch yang seharusnya mengkaramelkan gula malah memanggang telunjuknya. Sejenak pikirannya melayang pada Johnny dan mawarnya.

Bagaimana laki-laki itu bisa tahan bermain api?

“Mackenzi!” Dalam sentakan cepat Mr. Duncan menggebrak pintu, lalu tanpa ba-bi-bu menyeret Kenzi bersamanya. Pipi gempal bosnya yang biasanya memerah ramah, kini tegang dan serius sewaktu tangannya gemetar menunjuk siaran berita di televisi.

Pesawat sipil dalam penerbangan menuju Miami ditembak jatuh. Laporan terkini turut merilis daftar penumpang, jantung Kenzi berpacu kencang kala satu per satu nama korban disebutkan. Matanya spontan dipejamkan dan tangannya menyatu di bawah dagu, dalam hati Kenzi berdoa keras-keras memohon Tuhan sedikit berbelas kasih. Detik selanjutnya, tulangnya serasa meleleh saat nama itu sampai ke telinga: Johnny Seo, 24 Tahun, Kanada.

“Mana mungkin … Johnny …,” suaranya kian menyerupai racauan. Darah tidak lagi mengalir ke otaknya dan nyawa Kenzi bak dicabut paksa. Dia menekan kepalanya yang berdentam-dentam sebelum tersungkur tak sadarkan diri.

Akan aku tunjukkan trik menghilang paling spektakuler dan aku akan muncul di televisi ….

Mark menghampiri Kenzi yang terbaring dengan gaun tidur lusuh. Matanya menyorot prihatin, kakaknya yang jelita kini tidak lebih dari olok-olok dan gunjingan. Rambutnya menggimbal, tubuhnya dekil dan bergalon-galon air mata telah dia tumpahkan. Tiap kali orang-orang itu menghubunginya, kakaknya selalu berada di sini, toko roti yang tidak lagi difungsikan.

“Kakak, tolong …. Sepuluh tahun berlalu. Dia tidak akan kembali sekeras apa pun kau mencari,” mohon Mark berlutut sambil memeluk Kenzi yang merintih lemas dihantam kenyataan yang dielaknya satu dekade. “Sudah waktunya mengikhlaskan Johnny.”

VI

Tubuhnya lesi berbalut pasir, sedang gaun chiffon-nya basah ditarik ulur gelombang. Pagi itu muram. Mendung kelam menggelayuti langit, pun Emma yang merebah bak seonggok jasad. Berbotol-botol bir menyampah di sisi Emma. Segalanya kacau; janji yang rusak, hati yang remuk dan tangisan pecah. Sarafnya gemetaran, hipotermia nyaris merenggutnya.

Emma bangkit terhuyung, nanar memandang vila yang menjulang megah di bibir Lac Léman. Seandainya kebenaran tak mencogok, mustahil adanya guncangan yang membuat dunianya retak. Permukaan solid di bawah kakinya tak lebih dari ilusi saat ingatan soal kejadian semalam menari-nari dalam angan, seperti toksin yang merebak perlahan-lahan.

Matanya memejam. Hatinya menggeram.

Bisnis? Saat bulan madu begini?” Kedua alis Emma bertaut kontra.

Kun mengangguk santai, memasang kancing terakhir kemeja sambil memerhatikan penampilan dalam cermin. “Proyek besar begini mana mungkin ditolak, ‘kan? Aku akan kembali petang besok,” tuturnya, berbalik menghadap Emma yang bersungut-sungut.

Kau sudah menghabiskan seluruh hidupmu dengan bekerja, Kun. Ini bulan madu kita, harusnya kau bersantai dan pikirkan tentang kita saja,” tegah Emma, memegang erat-erat lengan Kun agar tak beranjak. “Aku sudah menyiapkan jadwal. Mengunjungi labirin di The Old Town, naik gondola lalu mendaki di Saleve dan segala agenda pengantin baru.

Sayang,” panggil Kun selembut-lembutnya, tangannya terulur mengusap bahu Emma. “Ingat kenapa ayahmu memercayakan posisi ini padaku, bukan? Aku ingin mengesankan beliau. Jadi sekali ini izinkan aku, ya?

Dering ponsel memecah senyap.

Lihat? Kolegaku sudah menelepon,” lanjut Kun, melirik ponsel yang berdering dalam saku. “Aku janji akan menuruti apa pun maumu besok. Candle light dinner, berkemah atau apa saja yang sudah kausiapkan.”

Emma bergeming, berat tapi akhirnya menjengitkan kepala beriring helaan napas. Butuh pelukan panjang agar Emma bersedia melepas Kun meninggalkannya sendirian di vila yang luas dan sepi. Saking ingin berbaktinya sampai sebegitunya, batin Emma ketika menuang kopi dari cerek. Ia meneguknya berseling kunyahan biskuit sembari memandang hamparan danau dari balkon.

Apa asyiknya disajikan panorama indah kalau tidak bisa bermesraan bersama suami? Kehidupan pengantin baru apanya kalau begini? Emma tertunduk lesu dalam topangan dagu.

Kejenuhan kontan mengambil alih. Emma bergegas bangkit, mencampakkan apron dan menendang lepas sandal rumah, lantas mengeluyur ke kamar. Dalam bathub bertabur mawar, Emma merileksasi diri sekaligus merencanakan apa yang akan diperbuatnya seharian nanti. Otaknya otomatis menyusun skenario, ratatouille dengan terung dan zucchini jelas sempurna jadi santapan.

Tentu, ia pilih bergulat dengan hobinya. Memasak.

Mengenakan dress baby blue tertutup serta topi fedora—yang akan melindunginya dari sengatan udara musim panas—Emma mengendarai sepeda melaluite rumah-rumah bata khas pedesaan. Kilang anggur tua yang awet beroperasi memikat minat Emma, ia berhenti untuk memotret sebentar. Kayuhan lantas bersambung, Emma menyusup ke gang-gang kecil dan singgah membeli sayuran serta keju kesukaan Kun di kios Mrs. Borton.

Sendirian saja?” Mrs. Borton yang tangan keriputnya telaten menumpuk kubis dalam peti kayu tersenyum memandang Emma. “Mana pria tampan yang selalu kau gandeng? Bukannya tadi kalian pergi bersama?

Emma mengernyit bingung di tengah aksi memilah terung. “Tidak, kok. Suamiku sedang ada urusan, jadi hari ini aku jalan-jalan sendirian. Mungkin Anda salah mengenali orang,” terangnya, lantas menyerahkan sekantong sayur untuk dibayar.

Mrs. Borton tercenung, kening sampai hidungnya yang mungil ikut berkerut. Berselang semenit ia mengedikkan bahu menyerah. “Kurasa kau benar, Nona. Lagi pula yang kulihat tadi memakai terusan jingga dan rambutnya dikepang,” katanya, lalu memberikan apel ekstra untuk sang pelanggan. “Kuberikan bonus spesial, buatlah jadi apple pie untuk suamimu.

Ide brilian. Terpikir oleh Emma sewaktu menyambut sekantong belanjaan sambil merunduk santun, bahwa ia belum pernah menghidangkan apple pie untuk Kun. “Merci villmahl,” ungkapnya, menyuarakan terima kasih dalam bahasa lokal.

Kini segunung sayuran menyesaki keranjangnya, Emma memutar sepeda menuju kedai La Moustache, yang katanya punya es krim terbaik se-Jenewa. Memandang bangunan-bangunan eksotis pun antik—yang memberinya gambaran soal kehidupan masa lalu—serta keramahan penduduk membuatnya tidak pernah bosan menjelajahi kota cantik di Swiss itu. Udaranya segar dan jauh dari kebisingan, sebab letaknya yang persis di kaki gunung Alpen.

Emma tersenyum girang, mengeluarkan ponsel untuk memotret es krim cantiknya—yang disajikan berbentuk mawar—saat ekor matanya menangkap kehadiran Kun. Prianya melabuhkan diri dalam naungan pohon oak, memutar-mutar ponsel di tangan seperti sedang menanti seseorang.

Kliennya ke mana?” gumam Emma celingukan mencari orang yang memungkinkan. Ia lalu berderap mendekat dan melambai menyapa Kun, “Saya—

Namun, mata Emma mencelang dan lambaiannya refleks melayu. Usai datangnya perempuan yang tahu-tahu mengecup lantas bergumul mesra dengan suaminya. Berterusan jingga dan rambutnya dikepang dua. Es krim dalam genggaman Emma jatuh, ia membekap mulut lantaran syok. Perempuan itu … Cruella Tan. Emma ingat betul, dialah orang yang mencomblangkan dirinya dan Kun.

Ta-tapi kenapa mereka begitu?

Kau yakin tidak masalah kita begini?” tanya Cruella seraya menghapus lembut jejak krim di bibir Kun dengan menciumnya. “Aku mulai bosan kalau kucing-kucingan begini terus. Aku juga ingin orang-orang tahu kalau yang kau cintai itu aku.”

Selama Emma tidak tahu, kita aman,” jawab Kun, membimbing Cruella merebahkan kepala di bahunya. “Sabarlah sebentar lagi. Aku juga sudah muak hidup dengannya. Cara dia memaksaku hidup jadi herbivora benar-benar menjengkelkan. Butuh momen yang tepat untuk meninggalkannya, agar semuanya berjalan mulus dan aku bisa menikahimu tanpa gonjang-ganjing.

Tapi kapan? Memangnya semudah itu menyingkirkannya?

Kun terkikik, sembari mengantukkan jidatnya dengan Cruella, ia memperjelas, “Tuan Putri lemah sepertinya mana mungkin bisa melawan. Dia dungu dan gampang ditipu, kita bisa saja membuat kematiannya nanti sebagai kecelakaan tunggal. Cuma itu satu-satunya cara agar sahamnya jatuh padaku dan Pak Tua itu tetap memercayaiku.”

Cruella mendesah mengamini. “Pokoknya jangan sampai kau punya anak dengannya. Aku tidak mau mengurus anakmu dari wanita lain,” ancamnya melalui cubitan gemas di pinggang Kun.

Kenapa sekhawatir itu, sih? Yang kucintai itu cuma kau, Cruella Tan.”

Kini tangan Emma terkepal kuat dan dihantamkan ke meja. Tuan Putri yang dungu kata si Bangsat itu? Emma tertawa sinis ketika memandang penampilannya dalam kaca, auranya menantang dengan lipstik marun mengisi bibir. Belum pernah Emma berdandan seglamor ini bahkan di hari pernikahannya yang bahagia. Ini membuatnya berbeda.

Kun menganjakkan ponselnya saat Emma datang dalam balutan gaun malam yang menyingkap beberapa bagian tubuhnya. Istrinya menawarkan steik dan Kun mengangguk sambil menatap Emma dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Tumben sekali mau memasak steik. Bukannya kau vegetarian?” herannya.

“Aku juga harus memikirkanmu sekali-sekali, ‘kan?” sahut Emma, menyiram saus ke steik lalu menuang wine untuk Kun. “Ini daging kesukaanmu dan dipanggang medium rare, sesuai seleramu.”

Kembali mereka berpandangan, Emma duduk di kursinya sewaktu Kun mulai melahap sajiannya. Rasa penasarannya membuncah, apa yang akan terjadi selanjutnya? Dan kepala Kun mulai pening, seisi dunia berguncang dalam pandangannya. Reaksinya ternyata lebih cepat, Kun memelototkan mata saat sadar istrinya telah meracuninya. Lelaki itu tersungkur ke tanah, menggelepar tak berdaya ketika Emma menjulang di hadapannya dengan wajah penuh dendam.

Emma berjongkok mendekat, dalam sisa-sisa kesadarannya Kun bisa melihat gambar yang dipampang dalam ponsel. Itu tubuh Cruella yang dicincang, kepalanya dijadikan kaldu untuk saus sementara dagingnya dimasak jadi steik. “Kk … kau …!”

“Bagaimana? Apa rasanya senikmat saat kau mencumbunya?”

VII

Burung sialan itu berkerumun lagi. Yuta mengamati gagak yang bertengger di ranting kurus pohon ek. Paruhnya runcing, bulunya kelam dan mata yang seukuran biji lada itu mengintimidasi. Mereka bisa mengintai berjam-jam, mengusik ketenteraman Yuta melalui gelagat-gelagat misterius. Seolah-olah menantinya jadi bangkai.

“Yuta!” Aiko perlu menaikkan intonasi dan mengetuk pintu keras-keras agar dapat atensi cucunya. “Makan malam sudah siap. Mari turun dan makan bersama.”

Yuta menoleh lantas menjengit, selintas nyala api senja menyapu parasnya. Dia mendahului Aiko yang tergopoh-gopoh menuju ruang makan. Selagi neneknya turun, Yuta menata tiga pasang piring dan gelas dengan simetris. Menu makan malam hari ini kare kesukaan Yuta, masih mengepul ketika dituangkan di atas nasi. Aiko terhenyak ketika Yuta tiba-tiba menyodorkan piring ketiga; Nenek lupa mengisinya, katanya.

Makan malam—selalu—berlangsung sepi, tidak ada perbincangan maupun candaan hangat. Yuta menyengap, memandang adiknya Sue yang melamunkan piringnya tanpa gairah. Tidak ada yang salah dengan masakan Aiko, hanya saja rumah ini sudah lama kehilangan kesan hidup. Aiko mendesah lelah, kerut-kerut kesabaran di wajahnya semakin banyak setiap kali memikirkan cucunya.

“Obatmu hari ini sudah, ‘kan?” selidik Aiko sewaktu Yuta meninggalkan meja makan.

“Sudah,” sahutnya dingin, berlalu menuju ruang baca.

Sue di sana lebih dulu, bersimpuh di atas permadani sambil menyerakkan isi kotak mainan. Yuta mengembuskan napas dalam, meraih buku dari rak untuk dibaca dalam sorot lampu tua temaram. Sudut matanya mengawasi Sue, adiknya berfantasi minum teh bersama boneka-boneka yang didudukkan mengitari meja plastik. Adiknya yang cantik dan lugu, sekaligus rapuh untuk digenggam. Dia tersenyum getir.

“Yuta?”

Pemuda itu tersentak, saat sadar neneknya sudah berdiri menatapnya. “Kenapa Nenek pucat begitu?” dia bertanya sembari mengamati mimik Aiko.

“Tidak apa-apa. Cuma sedikit lelah,” sanggahnya melepas cemas lalu menyibak rambut Yuta dengan sayang. “Nenek mau istirahat sebentar. Kalau ada apa-apa langsung bangunkan saja, ya?”

Dengan anggukan kaku Yuta menyetujui. Matanya mengiringi kepergian Aiko, kala memerhatikan lebih teliti neneknya kelihatan beda. Rona kulitnya tidak terlihat sehat, dia bahkan menyandarkan tubuh rentanya dalam topangan beberapa bantal sebelum melayari mimpi. Susah payah Yuta bernapas ketika merapatkan pintu juga menampik cengkeraman ketakutan di dada.

Koakan gagak dari jendela serta-merta menggagaukan Yuta. Dia melotot sinis dan menemukan Taeyong muncul di sana dengan kaus oblong penuh oli. Pemuda bertampang keras itu menyapa dengan seringai khas, tapi Yuta buru-buru melengos—bersikap tak pernah melihat si Bedebah. Dia mendudu ke kamar Sue, mengintip apa yang tengah dikerjakan adik kesayangannya.

Sepi.

Kamar itu rapi dan dingin. Tidak ada kegaduhan yang dibuat Sue ketika melompat-lompat di ranjang. Ruangan itu bak ditelan kegelapan, menyimpan segala rahasia pada sisi kelam tak terjangkau pandang. Yuta merasa tersesat di tempat paling asing, sementara Sue duduk meringkuk tersembunyi dalam bayangan.

Gadis itu seperti ketakutan setengah mati.

“Kau itu cuma benalu di keluarga ini,” hasut Taeyong, merangkul pundak Yuta yang merinding. Beriring mekarnya senyuman licik dia membumbui, “Si Penyakitan yang tidak ada gunanya. Adikmu saja membencimu. Aku berani bertaruh, nenekmu pastilah diam-diam berharap kau segera mati ketimbang menggelontorkan uang untuk pengobatanmu yang tidak ada habisnya.”

“Keparat!” Yuta murka, menerjang Taeyong sampai tersungkur di kakinya. “Iblis sepertimulah yang layak mati!”

Alih-alih jera, Taeyong justru terpingkal akan reaksi Yuta. Kemudian tawa girangnya berubah datar saat bangkit dan berseru, “Aku punya cara menyembuhkanmu! Tidakkah kau tertarik? Asal kau mau mengikuti kataku, aku jamin kesengsaraan ini akan berakhir.”

Semula Yuta teguh menolak, namun Taeyong yang serupa iblis piawai menggodanya. Dia merapat, bisikan-bisikan di telinga Yuta semakin jelas seiring Taeyong membimbingnya ke arah gudang. Di balik patung kepala rusa terdapat loker yang dilengkapi engsel kuningan kuno. Ada senapan tersuruk di dalamnya, milik mendiang kakeknya yang gemar berburu.

“Bagus,” puji Taeyong, menepuk pelan bahu tegang Yuta.

Mereka meninggalkan gudang menuju kamar Aiko yang saking nyenyaknya tak lagi mendengar pijakan-pijakan yang menderitkan lantai kayu. Di sana Yuta berdiri mendengar kelanjutan instruksi Taeyong. “Untuk mengetahui isi hati seseorang, kau perlu melihatnya langsung. Kau tahu apa yang harus dilakukan, bukan?” tuturnya, mengarahkan moncong senapan ke dada Aiko.

Yuta meneguk bongkahan di rakungnya, keringat dingin membutir di pelipis tatkala matanya berserobok dengan pandangan Taeyong yang bernafsu. Telunjuknya yang tertambat pada pelatuk senapan gemetaran, Taeyong terus mendesak. Yuta menggeram dan terkejut menemukan Sue berlinangan air mata sambil memeluk boneka unicorn favoritnya. Adiknya tersedu di seberang tempat tidur, berlutut menegah niatan sang kakak.

Yuta mulai merasa kepalanya berdentam-dentam, puzzle-puzzle de javu dalam benaknya serentak menyatu meletupkan ingatan mencekam beberapa tahun lalu.  “Kalau ada yang harus mati lagi, itu kau …,” lisannya dengan sorot bengis. Senapan lantas ditodongkan kepada Taeyong, Yuta melirik Sue sekilas. “Cukup sekali aku jadi pembunuh.”

“Tapi, bagaimana? Aku adalah kau, Nakamoto Yuta,” gertak Taeyong, tertawa renyah memindahkan laras senapan ke dahinya. “Tidak ada cara untuk membunuhku. Kau lupa kalau aku ini kebal? Apa pun yang kaulakukan akan sia-sia, Tolol!”

Tetapi senyum yang tak kalah mengerikan terbit dari bibir Yuta, pun matanya yang pekat jadi tenang sekaligus menakutkan. Jiwa iblis yang terkubur baru saja dibangkitkan, dengan segera senapan berganti arah ke kepalanya. “Karena itu kau akan mati bersamaku, Keparat. Ini akan jadi akhir dari dua iblis.”

DOR! Peluru meletus melubangi kepala Yuta, dia tersungkur menumpahkan darah di lantai. Sakit, gelap dan dingin datang bersamaan. Bersama sisa kesadarannya dia bisa melihat sosok Taeyong terbaring di sisinya, dengan luka yang sama, dengan penderitaan yang sama. Dan rintihan Taeyong yang memuaskan itu kini bercampur jerit histeris neneknya yang melompat turun dari ranjang.

Jangan khawatir, Nek ….

Setidaknya … aku berhasil lepas dari jerat skizofrenia sialan ini.

VIII

Tidak banyak yang bisa kami lakukan, kalimat itu menghantui Taeil. Insomnia menyiksanya bahkan sampai fajar menyingsing. Taeil duduk di dapur berteman susu hangat, meninting-ninting cincin kawin ke mug sembari berpikir: berapa banyak pagi yang tersisa untuknya? Dia menyeruput susunya di sela helaan panjang. Dari balik punggungnya dia mendengar langkah mendekat, Jisun, istrinya datang memeluk lantas menumpukan dagu di bahunya.

“Insomnia lagi?” gumamnya menahan kuap.

Taeil berdeham mengiakan, berbalik menghadap Jisun dan mengagumi kecantikan natural wanitanya. “Tidurlah lagi kalau masih mengantuk. Tidak ada gunanya bangun subuh begini dan … aku baik-baik saja,” pintanya tak sampai hati.

“Tidur sendirian di ranjang sebesar itu? Yang benar saja,” cela Jisun, meregang sebentar kemudian meraih teko untuk merebus air. “Aku mau buat kopi, mandi lalu belanja ke pasar. Mau jadi kuliku hari ini?”

Taeil meringis dan bergurau, “Kau punya dua tangan yang kuat.”

Jadi ketika keluar dari apartemen, mereka berpisah arah. Jisun belanja ke pasar, sementara Taeil menikmati pagi dengan jalan-jalan di sekitar. Sekarang akhir pekan sehingga ramai orang di jalanan, bersepeda, jogging atau sekadar menikmati pagi sepertinya. Taeil mengedarkan pandang memerhatikan satu-dua anak kecil berkejaran. Riang juga bebas tanpa beban.

Dulu dia juga begitu, lincah dan sulit duduk diam.

Hampir sebulan sejak dokter memberinya vonis yang menyakitkan hati. Pengobatan berbulan-bulan tidak membuahkan hasil ketika kertas putih dibentangkan di meja periksa. Dokter bicara dengan hati-hati, mengatakan kemungkinan dirinya tak akan berumur panjang. Saat itu dia dan istrinya saling memandang pedih, tidak bersuara karena dunia mereka terlanjur karam.

Taeil kembali menyusuri jalur pedestrian yang membawanya ke gedung bioskop tua. Lalu mengitarinya menuju taman kota dengan panorama hijau menyegarkan. Dia menghirup udara pagi, paru-parunya terasa sejuk. Musim semi selalu menjanjikan cuaca yang paling sesuai, cerah namun tak terlalu menyengat. Dan Taeil menghilangkan penat dengan berlabuh pada bangku panjang di depan air mancur.

Berjam-jam dia duduk di sana, menolak untuk berbincang dan terus melamun.

Baru setelah sinar matahari mengusiknya, Taeil beranjak pulang. Rupanya Jisun kembali lebih dulu, tapi belanjaan dibiarkan berserakan di pintu depan. Dia berderap mencari tahu, lalu melihat Jisun duduk dengan wajah yang menunduk di meja. Salah satu tangannya menyangga kepala, sementara lainnya terjulur di hadapannya. Tubuhnya terguncang-guncang karena tangis.

Belum pernah Taeil melihatnya begini dan itu mengejutkan. Merasa tidak mampu melakukan apa pun dalam kenelangsaan ini, Taeil mundur teratur. Dia melangkah di koridor dengan tertatih-tatih, dadanya berdenyut sehingga Taeil buru-buru menelan pil yang selalu siap di sakunya. Dia berpikir, mungkin Jisun butuh waktu sendiri dan memutuskan untuk mengendap di bistro.

Laki-laki itu memesan pancake tanpa topping, piringnya sepi tak menggairahkan. Sendirian di sana, Taeil menghitung-hitung waktunya yang kian menyusut serta kesedihan Jisun yang akan segera jadi janda. Napasnya mendadak tersengal seperti tercekik. Matanya berangsur basah.

Dia harus berbuat sesuatu, meninggalkan kenangan berharga misalnya.

Sekarang hampir jam sebelas, aktivitas penduduk mulai menggeliat di pusat kota. Taeil bergegas pulang, menunjukkan kepada istrinya bahwa dia tak semenyedihkan itu. Ucapan dokter bisa salah, karena kuasa tertinggi tetap punya Tuhan. Ini termasuk caranya memupuk semangat.

Akan tetapi, badannya menegang saat menyeberang jalan. Dari kaca transparan di lobi dia melihat istrinya memeluk laki-laki lain. Jisun jarang menangis saat bersamanya, namun kini dia begitu mudahnya menunjukkan sisi lemahnya pada lelaki lain yang mendekapnya erat. Sekilas orang akan berpikir mereka adalah pasangan, tapi tidak bagi Taeil. Sumbu emosinya terbakar, darahnya mendidih dan wajahnya merot-merot saat memergoki pasangan selingkuh itu.

“JISUN!” imbaunya keras.

Sang istri dan laki-laki itu terlonjak gelagapan, Jisun berusaha menyentuhnya, namun Taeil segera menampik. “Dengarkan aku, Sayang. Ini tidak seperti yang kaupikirkan. Aku bisa jelaskan, jangan terbawa emosi dulu. Itu tidak baik untuk keseha—”

Emosi Taeil terlanjur meluap-luap bagai air yang dijerang terlalu lama dan mendidih berkepanjangan. Dia menunjuk geram pada Jisun dan selingkuhannya sambil menghardik, “Perempuan sialan! Keterlalu … an … berbu… at ….”

Belum sempat mencapai klimaks, lidah Taeil serasa kelu dan bicaranya mirip racauan. Terjangan rasa sakit membuatnya limbung, dia mencengkeram dada lantas mengejang menahan nyeri hebat. Taeil kesulitan bernapas, penglihatannya kabur dan kebekuan merayapi anggota geraknya. Dia masih mencoba bangkit, tapi yang terjadi … Taeil tersungkur lantaran jantungnya kembali berulah.

“Jangan gila, Jisun! Itu tidak mungkin dilakukan!”

“Aku mohon, Bu. Aku butuh izinmu.”

Dalam gulita telinga Taeil menajam, dua wanita penting di hidupnya bersitegang. Satu di antara mereka terisak-isak, dia coba membuka mata tapi kelopaknya seakan melekat kuat. Taeil merasa semakin tidak berdaya, jatuh ke lubang hitam tanpa dasar. Perwujudan ketakutan bercampur keputusasaan yang mencengkeramnya dari dalam. Lagi pula dunia ini sudah memuakkan, tinggal menunggu waktunya sampai sang Malaikat memanen nyawa.

Pada suatu masa, Taeil menyadari segenap inderanya kembali mampu mengenali rangsangan. Dia bisa mendengar desis oksigen yang mengalir melalui kanula hijau di hidungnya, juga suara robotik dari monitor jantung. Venanya pedih, seseorang tengah menekan pergelangan tangannya dan menginjeksi cairan yang langsung mengaliri arteri.

Taeil mengerjap perlahan-lahan, sampai kunang-kunang yang serasa hinggap di retinanya mulai menyingkir. Putih. Silau. Lampu yang terpasang di plafon menyengat matanya. Sekali lagi, matanya terpicing. Taeil mencoba lebih tenang, menarik napas panjang sampai dadanya menjadi ringan.

“Taeil? Kau sudah sadar? Kau dengar Ibu, Nak?” Wajah risau perempuan paruh baya menyeruak dalam pandangan Taeil. Ibunya lalu membelai kepalanya dengan perasaan haru. “Oh … syukurlah. Terima kasih, Tuhan.”

Dia berhasil lolos dari kematian? Taeil terpekur nyaris tidak bisa percaya. Dia mengamati seisi ruangan, kemudian dengan lirih bertanya, “Jisun mana?”

Hening. Ibunya membeku.

Dua pekan berlalu sejak sadarnya Taeil, fisiknya jauh membaik dan dokter bilang dia akan segera sembuh. Namun yang mengusik batinnya, Jisun yang tak sekalipun mencogok batang hidungnya. Dia menghela napas pelan dan memejamkan mata usai merampungkan dokumen permohonan cerai. Keputusan berat yang terpaksa ditempuh, mengingat kejadian terakhir kali dan kemungkinan bahwa Jisun kabur bersama selingkuhannya.

“Apa yang kaukerjakan, Nak?” sapa ibunya yang melangkah masuk sambil menenteng sekeranjang buah. “Kenapa tidak memanggil suster kalau mau turun?”

Taeil tersenyum masam. “Ibu belum menjawab pertanyaanku waktu itu. Di mana dia sekarang? Surat cerai ini perlu dikirimkan kepadanya,” desaknya sambil menunjuk berlembar-lembar kertas di meja.

Ibunya bertingkah sama. Menegang dan menunjukkan gelagat ganjil. Kepanikan tercetak jelas di wajahnya ketika mata mereka berserobok. Pertama kali di hidupnya Taeil menyaksikan ibunya mendesah sebegitu kerasnya, kemudian dengan enggan mengeluarkan sesuatu dari nakas.

“Jisun, dia …,” kalimatnya seperti sengaja digantung, ibunya menempelkan telapak tangan ke dada Taeil lantas melanjutkan, “… ada di sini. Dekat dengan hatimu.”

“Bu, jangan bercanda,” tukas Taeil, kerutan di keningnya bertambah dalam.

Dan ibunya dengan berat hati meletakkan koran di meja. Berita utama memuat kecelakaan tunggal yang dialami wanita muda di jembatan Mapo. Korban Han Jisun tewas ditempat, diduga mengemudi dalam keadaan mabuk. Taeil spontan menyentuh dadanya yang berkedut kencang seiring jatuhnya air mata penyesalan.

Sesungguhnya, laki-laki yang memeluk Jisun hari itu adalah dokter bedah sekaligus koleganya. Jisun menanyakan kemungkinan soal pendonor hidup, namun mendapat tentangan keras. Dia begitu putus asa melihat Taeil kesakitan, akalnya mulai tidak waras. Iba melihatnya, sang Dokter refleks merangkul Jisun dan menepuk-nepuk pelan punggungnya. Persis sewaktu kesalahpahaman Taeil bermula.

Fin

Sorry for the longpost, here’s a potato.

Finally, hukumanku kelar! Ficlet-mix yang naudzubillah absurdnya, yep I know. Maafkan untuk setiap ekspektasi yang patah dan kekecewaan atas segala kekurangan cerita ini. Bukannya jadi pembuka yang manis, malah jadi Dark Tales. So sorry buat kengkawan yang OC-nya aku nistakan sedemikian rupa, mohon ikhlaskan. Apalah daya hayati, cuma seonggok Joongie yang tulisannya banyakan retjceh dan gampang nebaknya. LOL! XD

Sebenernya tajuknya sih “Ficlet-mix” tapi kenyataannya terselip “Vignette” … hmmzzzz, sorry, I’m trying to do my best, but … I just can’t … (T.T)a

By the way, thank you sudah menerimaku jadi bagian NCTFFI! Penyambutan yang bikin speechless dan staff yang pada humble, love, love, love! XD ❤

XOXO,

Joongie

Advertisements

6 thoughts on “[Mix Party] ROMANSICK

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s