[NCTFFI Freelance] Suaranada Senja (Chapter 5)

Suaranada Senja#5

Angestita

Romance – AU – HGTG

Chaptered

PG – 13

Mark (NCT) – Nada (OC)

Jung Jaehyun – NCT

5

Mark dan Nada duduk berhadapan di ruang tamu milik wanita itu. Mereka belum melakukan percakapan sejak Mark duduk di kursinya. Mark dan Nada sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Mark yang sibuk mengumpulkan keberaniannya yang hilang dan Nada yang sibuk mengagumi penampilan mahasiswanya itu.

Waktu berjalan cepat. Tiga menit sudah mereka berdiam diri. Ruang tamu berukuran empat meter kali tiga meter itu sedari tadi diselimuti keheningan. Nada sebagai tuan rumah masih terpaku dengan pesona muda yang ditawarkan di hadapannya.

Malam ini Mark memakai jaket bomber berwarna hijau lumut, kaos putih polos dan celana jean hitam. Penampilannya sederhana seperti kebanyakan remaja lainnya tapi di mata Nada cowok satu ini terlihat berbeda. Mungkin Mark kali ini lebih terlihat santai dibandingkan ketika berada di kampus. Atau bisa jadi rambutnya yang dipotong lebih pendek sehingga memberi kesan rapi. Apapun itu di mata Nada, malam ini Mark terlihat keren dan dia suka.

Berbeda dengan Nada, Mark lebih kepada mengendalikan dirinya. Sedari mengirim pesan melalui DM jantungnya sudah bergetar tidak menentu. Perasaan gelisah dan berharap yang datang di waktu yang bersamaan. Hal itu membuat otaknya tersumbat untuk berfikir. Wanita di hadapannya ini seolah memiliki magic yang membuatnya merasa hilang akal.

Tapi kedatangannya ke tempat itu bukan tanpa alasan. Mark diberi tugas oleh teman-temannya untuk mengumpulkan tugas yang Nada berikan beberapa waktu yang lalu Jadi sebaiknya dia segera menyelesaikan tugasnya lalu pulang. Mark yakin jika terlalu lama berada di tempat ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

“Maaf bu mengganggu waktu Anda,” ucap Mark memulai pembicaraan. Nada tersenyum tipis namun masih tetap diam. “Saya diutus teman-teman untuk mengumpulkan tugas yang ibu minta beberapa hari yang lalu.” Imbuh Mark sembari mengeluarkan beberapa bendel kertas dari dalam tas.

Nada menyimak dengan baik ucapan mahasiswanya hingga kerutan samar tercipta di dahi ketika tahu tujuan kedatangan Mark. “Tugasnya bisa dikumpulkan minggu depan.” Ujar Nada tanpa maksud apapun.

Mark tersenyum lembut sembari menyerahkan kertas-kertas itu kepada Nada. “Kami minggu depan ada diklatsar Mapala, bu,” katanya sopan “Jadi, kami tidak bisa masuk kelas selama satu minggu ke depan.”

Nada mengangguk paham dengan wajah polos. Membuat Mark diam-diam mendengus geli. Nada terlihat seperti mahasiswa jika berada di rumah seperti ini. Kaos oblong yang dipadukan denga rok jeans membuat dia terlihat lebih muda. Mark akui dia lebih nyaman melihat wanita itu berpakian demikian.

“Saya terima tugasnya.” Ujar Nada pelan sembari mengambil barang itu dari tangan Mark. “Jadi kalian akan diklatasar di mana?” tanyanya dengan sedikit penasaran. Pasalnya, jika Nada jujur, dia merasa perasaan kecewa ketika mendengar absennya Mark pada kelasnya selama minggu depan. Perasaan bernama kecewa itu menempati hatinya begitu saja. Tanpa permisi tanpa alasan.

“Kita akan mengadakan diklatsar di Gunung Rinjani.” Dengan kalem Mark menjawab pertanyaan dari dosennya itu.

Mendengar jawaban itu membuat Nada membeku di tempatnya duduk. Dia menatap tak percaya pada pemuda yang ada di hadapannya. Gunung Rinjani adalah gunung berapi tertinggi ke dua yang ada di Indonesia. Letaknya di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung itu sempat mengalami gangguan beberapa waktu belakangan ini. Dan mendaki Gunung Rinjani bagi pemula bukan hal yang mudah. Apalagi mengetahui fakta bahwa beberapa waktu ini gunung tersebut sempat mengalami gangguan, Nada tidak habis fikir panitia penyelenggara berani-beraninya membuat keputusan demikian.

Maka dengan berat hati wanita itu mencoba tersenyum, “Semoga perjalananmu menyenangkan. Jaga kesehatan, jangan lupa makan dan istirahat. Patuhi peraturan yang ada. Jangan membantah senior. Tapi jika kamu mengalami cedera harus segera lapor agar tidak parah. Berdoalah sepanjang jalan agar selamat.” Sederet kalimat itu keluar dari mulutnya begitu saja. Seperti seorang kekasih yang sedang menasehati pacarnya.

Beberapa saat Mark hanya terpaku mendengar penuturan dosennya. Dia tidak percaya Nada akan menasehatinya seperti itu. Perhatian kecil yang Nada berikan membuat hatinya meletup bahagia.

“Baik bu saya akan mengikuti nasehat ibu.”

Nada yang masih belum ikhlas dengan kepergian Mark hanya bisa mengimbuhi dengan nada sedih, “Pulanglah dengan selamat.”

5

Perhatian yang di berikan Nada melalui ucapannya membekas dalam ingatannya. Ucapannya memang bukan disampaikan secara gamblang tetapi ada perhatian yang tersirat di dalamnya. Mark dapat melihat gurat kekhawatiran dan ketulusan dalam tatapan itu. Ah, Mark sudah lama tidak mendapat tatapan seperti itu. Walaupun sudah lama dia tidak mendapati perasaan itu, dia tidak merasa asing. Dia tahu dirinya merindukan perhatian seperti yang Nada berikan.

Jadi ketika perasaan itu datang kepadanya, dia sangat senang. Setidaknya masih ada orang yang benar-benar perhatian kepadanya. Sekalipun itu datangnya dari orang asing. Tapi, bagi Mark, Nada tidak lagi sosok asing. Wanita cantik itu perlahan-lahan sudah menempati sudut hatinya. Mungkin masih dalam bentuk rasa tertarik tapi dia tidak tahu bagaimana jika besok hari.

Perjalanan perasaan itu dia nikmati, selama perjalanan pulang. Tak heran jika senyum tersungging di bibirnya. Melukis sebuah senyum nan indah. Menambah tampan wajah rupawannya. Jika ada gadis yang melihatnya pasti akan jatuh hati di waktu itu juga. Kebahagian itu benar-benar terlukis dengan indah. Seindah sinar bulan di luar sana.

Menjelang malam setelah menata perlengkapan selama satu minggu untuk diklatsar Mark masuk ke dalam selimut. Dia tidak segera terlelap tidur melainkan masih sibuk dengan pikiran absurdnya. Hingga sebuah notificasi masuk ke dalam ponsel miliknya. Tangan pemuda itu segera meraih ponsel yang terletak di nakas dan melihat pesan yang masuk.

Suaranada_Senja        ; Selamat berjuang! Semoga kamu diterima sebagai anggota Mapala.

Dua kali dia membaca pesan yang masuk di Instagramnya. Pesan itu dari Nada. Wanita yang dia temui tadi. Berisi sebuah nasehat. Dia mengulanginya sekali lagi namun pesan itu tidak berubah. Karena hal itu senyum terbit di bibir tipis milik Mark. Sedikit gemetar jemarinya membalas pesan tersebut, singkat saja namun mampu membuat si penerima tersenyum bahagia.

5

Nada keluar dari kelas yang dia ajar dua menit setelah jam berakhir. Jika biasanya dia akan mampir ke perpustakaan kali ini tidak. Dia langsung kembali ke ruang dosen. Kebetulan kelasnya berakhir saat jam makan siang mulai. Banyak mahasiswa yang berlalu lalang sepanjang koridor dan tentu saja diam-diam Nada menjadi pusat perhatian. Mungkin karena statusnya yang dosen cantik atau karena hari itu Nada terlihat bahagia.

Iya, sudah sejak semalam senyum di bibirnya tidak ingin luntur. Dia memang sedang bahagia. Mungkin karena semalam kakak sepupunya memberi kabar bahwa dia sudah melahirkan bayi perempuan. Atau mungkin karena Mark yang membalas pesan yang dia kirimkan. Akhir-akhir ini banyak yang terjadi dan semua hal itu membuatnya bahagia.

Setibanya Nada di meja kerjanya, wanita cantik itu dibuat terkejut, pasalnya di atas meja sudah ada sebuah tas makan berwarna soft-pink. Dengan sedikit penasaran dia membuka tas makan tersebut dan melihat isinya. Dalam tas makan tersebut ada dua buah kotak makan dan sebuah botol minuman. Dia tidak merasa memesan sesuatu untuk makan siangnya. Tapi kenapa tas makan itu bisa ada di meja kerjanya? Siapa yang mengirim ini untuknya?

Sebelumnya Nada mendapat sekotak bunga sekarang dia mendapat satu tas makan siang. Dua-duanya dia tidak mengenal si pengirim. Tapi yang lalu ada sebuah notes yang berisi sebuah inisial dari si pengirim. Maka dengan harapan yang sama, Nada mencari secarik kertas yang mungkin bisa membuatnya mengetahui si pengirim.

Kertas itu ada di bawah kotak makan. Di tulis dengan rapi di sebuah kertas berwarna merah hati. Tulisan di sana berbunyi, ‘Semoga Anda menikmati makan siangnya. Dari J-J’

Nada menghela nafas dengan berat, menaruh kembali kertas tersebut ke dalam tas. Dengan enggan dia membuka kotak makan yang di kirim oleh J-J tersebut dan memakannya. Makanannya terlihat enak namun di lidah Nada terasa hambar. Dalam hati dia bergumam siapa yang mengirim hal-hal seperti ini?

5

“Iya ma hari minggu besok Nada pergi ke rumah kak Sabrina,” Nada berkata sembari melangkah menuju kelasnya. Tangan kirinya membawa tas dan tangan kanannya memegang ponsel.

Satu minggu berlalu semenjak Nada mendapat kabar bahwa kakak sepupunya melahirkan dan dia belum sempat mengunjungi saudaranya itu. Padahal kakak sepupunya tinggal di Solo. Jarak Yogyakarta-Solo sekitar 62 km dan bisa di tempuh dengan kendaraan pribadi sekitar dua jam. Tidak banyak memakan waktu tapi Nada sibuk akhir-akhir ini.

“Maaf ma, Nada nggak akan mengulangi lagi,” ucap Nada dengan sedikit penyesalan. “Nada janji akan datang ke Solo. Maaf, ma telefonnya Nada putus ya. Nada sebentar lagi mau masuk kelas.”

Setelah menyelesaikan telefonnya dengan mama, Nada kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas tempatnya mengajar. Saat di persimpangan jalan, matanya menangkap bayangan seorang pria yang dia tunggu selama satu minggu ini.

Mark sedang berjalan seorang diri menuju ke arahnya. Mereka sepertinya satu arah. Nada mulai berdebar di tempatnya berdiri. Kali ini dia tidak sanggup menghindarinya lagi. Dengan senyum lebar Mark menyapa Nada saat jarak mereka tidak terlalu jauh. Nada sebenarnya ingin melonjak senang tapi dia sadar diri sekarang statusnya adalah dosen. Demi menjaga keprofesionalannya Nada membalas senyum Mark dengan senyum sopan.

“Siang Bu Nada,” sapa Mark sopan.

Nada mengangguk pelan, “Siang Mark.” Balas Nada seadanya. “Omong-omong bagaimana perjalananmu?” Dia bertanya sembari tetap menjaga jarak. Bagaimanapun dia tetap ingin menjaga keprofesionalannya.

“Baik. Sangat baik malah. Ibu harus mencobanya lain waktu.” Jawab Mark kalem.

“Aku tidak suka naik gunung,” Tolak Nada spontan. “Tapi, kalau puncak bukit aku akan mencobanya.”

Mark terkekeh pelan mendengar jawaban dari lawan bicaranya. Mereka kembali terdiam untuk beberapa saat sebelum Mark kembali berkata, “By the way, saya ingin merayakan kesuksesan saya diterima sebagai anggota resmi Mapala. Apakah ibu berkenan hadir?” takut-takut pemuda itu mengutarakan niatnya.

Nada menghentikan langkahnya. Dia terkejut mendengar tawaran yang Mark. Ada jeda panjang sebelum manik matanya menatap lawan bicaranya. “Sebagai dosen atau tamu lainnya?” sebenarnya dia tidak ada niat bertanya demikian. Tapi diundang secara non-formal oleh mahasiswanya seperti ini membuatnya sedikit sungkan.

“Sebagai kakak,” tegas Mark berkata. “Jadi, apa Anda berkenan datang hari minggu besok?” ulang Mark, nadanya sedikit memohon.

Nada menarik sebuah senyum, “Maaf saya tidak bisa datang. Hari minggu ini saya akan pergi ke Solo.” Tolak Nada halus.

Perasaan kecewa jelas kentara dari paras tampan yang berdiri di hadapan Nada. Pemuda itu mencoba tersenyum lembut. “Baiklah, mungkin lain waktu ibu bisa datang ke acara saya.” Ujar pemuda itu tetap tenang.

“Maaf.”

“Tidak apa-apa,” Kata Mark “Maaf bu, saya masuk kelas terlebih dahulu. Permisi.”

Nada melihat kepergian Mark dengan pandangan bersalah. Sebenarnya dia kecewa menolak ajakan pemuda itu namun dia tidak berani mengambil keputusan dengan bertemu di luar jam kuliah dengan mahasiswanya untuk urusan pribadi seperti ini. Apalagi besok dia sudah janji akan mengunjungi kediaman kakaknya di Solo. Dengan lunglai Nada melanjutkan perjalanannya.

5

Hujan turun sore itu saat Nada keluar dari taxsi. Tungkainya bergegas berjalan menuju Baby Shop yang ada di Jalan Affandi. Nada menghabiskan waktu satu jam berada di toko tersebut. Dia benar-benar lupa waktu karena tertarik dengan barang-barang lucu dan imut yang ada di sana. Karena itu barang yang dia beli sangat banyak. Baik itu baby head band, selimut, baju, sepatu hingga beberapa mainan turut dia beli. Sepertinya cuaca buruk tidak mempengaruhi semangat belanjanya.

Setelah menyelesaikan pembayaran dan mengambil barang yang dia beli, Nada keluar dari Baby Shop dengan dua tas plastik besar. Wanita cantik itu memutuskan menepi di pinggir toko sembari menunggu taxsi lewat. Tempias hujan mengenai sebagian bahunya dan lengan bajunya. Membuat kain itu sempurna menempel ke kulitnya.

Hujan kian deras seiring waktu berlalu. Membuat Nada kesusahan melindungi dirinya dan barang bawaannya dari tetesan air hujan. Taxsi yang dia tunggu pun tak kunjung datang. Padahal sudah dua puluh menit berlalu. Nada menimbang-nimbang untuk menuju ke halte bus Trans Jogja daripada menunggu taxsi terlalu lama.

Tapi sebelum kakinya bergerak untuk menerabas hujan, tiba-tiba ada sebuah payung yang melindungi tubuhnya. Nada tentu saja terkejut, spontan dia menoleh ke arah samping tubuhnya. Sebuah senyum menyapa indera penglihatan milik wanita itu, membuat dia susah bernafas.

Dunia sekitar mereka seolah berhenti. Suara hujan yang beringsik diiringi bunyi klakson kendaraan berubah menjadi kesunyian. Semua fokus yang wanita itu miliki jatuh ke pemilik senyum itu. Tubuhnya membeku diikuti laju jantungnya yang meningkat. Hingga samar-samar dia bisa mendengar bunyi degupnya. Sungguh, apakah ini yang dinamakan takdir? Mereka bertemu di bawah hujan seperti ini…

TBC

Terimakasih untuk Rijiyo (Shifta Andreina) untuk cover dan sarannya.

Advertisements

4 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Suaranada Senja (Chapter 5)

  1. Nah ini dia yg dari kemarin udah kutunggu kyaaaaaaaaaaa akhirnya Nada & MMark kembali 😀 Ini J-J pastinya Jung Jaehyun kan? WOI JAEHYUN, ENGGAK USAH SOK MANIS SAMA CEWEK! Tulung ya tulung, aku gak kuat kalau Jepri jadi cowok manis kayak gini. Mending tuh si Mark aja yg cinlok sama Nada, Jaehyun plis gak usah ikut-ikutan plis -.,-

    Ciee mark keterima jadi Mapala cieeeeeeeeeeeeee. Dan btw di sini Nada & Mark sama-sama gengsi ya, jadinya rada emesh-emesh gimana gitu :v

    Dan adegan yang terakhir, dibawah payung, pas hujan, cuma berdua AW SO SWEET SO FLUFFY <3<3 ❤ ❤

    Fighting Tita ^^ Duh kata-kata terakhirnya bikin baver so much deh, apalagi itu disebutin nama panjangku sekalian HAHA. Pokoknya semangat nulisnya ❤ ❤ ❤

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s