[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 7)

16296017_1394912560539790_891079080_n

My Lesbian Roommate by Mingi Kumiko

{ Cast : Jaehyun, Chaeyeon, Yeri, and Saeron | Genre : romance, hurt/comfort, college life | Rating : PG-17 }

Previous Chapter

Page 1 | Page 2 | Page 3 | Page 4 | Page 5 | Page 6

.

.

.

 

“Chae, aku kebelet pipis.” kata Jaehyun saat gadis itu hendak memulai permainannya lagi. “Enggak apa-apa, kan, kalau kau main sendiri?”

“Oh, oke, deh… Jangan lama-lama, ya?” Chaeyeon mengizinkannya dengan enteng. Buru-buru Jaehyun beranjak dari tempat bermain. Bagaimana pun caranya, kedua gadis yang baru saja ia lihat itu tak boleh bertatap muka dengannya. Kalau sampai itu terjadi, bisa mampus dia.

Dua gadis yang berhasil membuat Jaehyun bagai tersengat listrik itu adalah Yerim—sang mantan kekasih—dan Saeron—gadis centil yang dulunya merupakan mak comblang keduanya hingga bisa sampai berpacaran.

Pemuda Jung itu bersembunyi di balik perosotan khusus anak usia 5 tahun. Tempat yang tak akan mungkin terjangkau oleh dua gadis itu, namun memungkinkan Jaehyun untuk menerawang segala situasi yang tengah terjadi.

Ia terus mengamati pergerakan mereka tanpa berhenti berharap agar dua gadis itu terus melangkah lurus dan turun ke lantai bawah saja.

Jaehyun langsung terlongo saat tiba-tiba Saeron menghentikan laju tungkainya dan menatap ke arah permainan Dance Revolution dengan tatapan intens.

Gadis berkulit mulus itu kemudian mengambil langkah seribu menuju permainan itu. Yerim pun nampak bingung mengapa Saeron berjalan ke arah sana. Namun belum sempat bertanya, ia pun memutuskan untuk mengikuti sahabatnya itu.

Fokus Jaehyun beralih pada Chaeyeon yang masih asyik menginjak-injak lantai yang menyala dan mengikuti irama musik. Namun pandangan teduh milik Jaehyun tak berlangsung lama setelah ia melihat Saeron yang sekonyong-konyong menjambak surai panjang Chaeyeon. Ia ingin berlari dan menghentikannya—tentu saja, mana tega Jaehyun membiarkan teman sekamarnya (yang lucu) itu diperlakukan secara kasar.

Namun Jaehyun tak bisa berbuat apa-apa mengingat tujuannya meninggalkan Chaeyeon pun untuk menghindari Saeron dan Yerim. Gadis yang tengah dijambak rambutnya itu mengaduh kesakitan, ia berusaha melepaskan tangan Saeron dari rambutnya, namun nampaknya tangannya kalah kuat. Wajah Yerim pun berubah panik—hanya panik, tanpa melakukan sebuah pergerakan yang berarti.

Tangan Saeron lantas terlepas dengan sendirinya. Sesaat itu memberikan kelegaan di hati Jaehyun. Namun tidak lagi setelah tamparan keras mendarat dengan cepat di pipi bulat Chaeyeon. Jaehyun kembali dibuat terkejut. Kakinya sudah gatal ingin berlari menghampiri gadis-gadis yang sedang bertengkar itu. Namun ia tak bisa, sungguh. Cemooh saja dia sebagai lelaki pengecut. Tak apa, Jaehyun merasa pantas disebut demikian.

Untungnya Yerim langsung menarik paksa Saeron untuk menjauh dari Chaeyeon. Meski tak tahu apa juntrungan Saeron bertindak demikian, namun Yerim tahu kalau berbuat kasar kepada orang itu tidak baik.

Jaehyun mengutuk suara keras dari lagu yang tengah berkumandang melalui speaker. Gara-gara itu dia jadi tak bisa mendengar segala kalimat sarkasme yang Saeron lontarkan dari kerongkongannya. 

Bukannya sok tahu, meski tak pandai membaca gerak bibir, namun sorot tajam Saeron serta wajah merah padamnya sudah cukup menjelaskan bahwa Saeron tengah dibakar emosi kali ini.

Tak sepintas pun ide yang terbesit di otaknya mengenai penyebab Saeron berbuat seperti itu. Semuanya masih menjadi teka-teki.

Meski sudah berada dalam pegangan Yerim, namun tiba-tiba Saeron kembali maju. Ia sontak mendorong Chaeyeon dan membuat gadis itu terdorong dan hampir oleng. 

Setelah pus, Saeron pun mengajak Yerim untuk pergi. Mengakhiri segala penyiksaan kejam yang diberikannya pada Chaeyeon. Gadis itu langsung menelungkup. Telapak tangannya menutupi wajah. Sudah jelas Chaeyeon menangis. Pada saat itu juga hati Jaehyun serasa tersayat sembiri.

Maaf karena tak bisa melindungimu…

Karena penasaran, Jaehyun pun mengeluarkan ponselnya. Ia berniat melihat profil SNS milik Saeron. Barangkali ia menemukan sebuah petunjuk.

“Pantas saja!” seru Jaehyun saat ia melihat foto yang diunggah Saeron sebulan yang lalu. Di foto itu ia sedang ber-selca dengan seorang gadis berambut panjang dan tak kalah cantik darinya dengan caption “Senangnya karena Saerin eonnie sudah kembali ke sisi kami.”

“Tidak salah lagi! Pasti karena itu.”

Jaehyun menengadahkan wajahnya dengan raut sendu. Suasana hatinya jadi ikutan buruk. Ditambah saat melihat Chaeyeon yang mati-matian menyeka air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan. Gadis itu bahkan memukul-mukul dadanya—yang Jaehyun yakin sangat sesak—agar ia bisa berhenti mengeluarkan air mata.

Nampaknya sekarang adalah waktu yang tepat bagi Jaehyun untuk kembali. Sebisa mungkin ia coba bereskpresi biasa saja. Beranggapan bahwa tak ada hal buruk yang terjadi barusan.

“Maaf lama.” ujarnya enteng.

“I, iya, enggak apa-apa…” balas Chaeyeon dengan suaranya yang parau. Wajahnya merah sekali dan matanya berubah sembap dalam waktu singkat.

“Ya ampun, Chae… masa hanya karena kalah dalam permainan kaya begini, kau menangis, sih? Huh, cemen!” oceh Jaehyun. Dia tidak tahu dengan mengatakan hal seperti ini akan berhasil memperbaiki mood Chaeyeon atau tidak. Namun apa salahnya mencoba.

“Soalnya aku enggak pernah kalah, Ji… ternyata rasanya menyakitkan, ya?”

Jaehyun diam-diam tersenyum. Gadis itu menanggapi gurauannya. Ia sedikit bisa merasa lega sekarang.

“Beli kopi, yuk? Aku yang traktir. Waktu itu, kan, enggak jadi gara-gara kau diganggu oleh toolman itu.” ajak Jaehyun.

“Tapi koinnya belum habis.” elak Chaeyeon.

“Simpan saja buat nanti. Kalau kita main-main ke sini lagi.”

Secara jelas Jaehyun tahu bahwa Chaeyeon kehilangan mood untuk bermain. Maka dari itu ia ingin membawa gadis itu ke suatu tempat yang bisa membuatnya sedikit rileks.

“Oke, deh. Yuk!” ucap Chaeyeon.

Mereka kembali berjalan beriringan. Chaeyeon terus saja diam dan mengerucutkan bibir. Ya ampun, Jaehyun benar-benar tak kuasa melihatnya. Gadis semanis dia tidak sepatutnya menerima perlakuan kasar seperti itu.

Entah bisikan dari mana yang mengilhaminya, tiba-tiba menggeladikkan tangan dan meraih ujung jari Chaeyeon untuk ia genggam. Perlahan jemarinya pun menelusup ke ruas-ruas jari mungil itu dan kemudian bertambah erat. 

Chaeyeon cuma tersenyum, namun entah mengapa sentuhan itu membuatnya merasa hangat. Seakan luka yang menggores hatinya perlahan hilang, digantikan perasaan nyaman dan terlindungi.

Gadis itu memutar kepalanya untuk menoleh ke arah seseorang yang tengah menggenggam tangannya. Merasa diperhatikan terus menerus, Jaehyun pun akhirnya ikut menoleh. Mata mereka bersirobok dan membuat Chaeyeon refleks mengembangkan senyum tersipunya. Jaehyun pun balas tersenyum, dan sepertinya kupu-kupu dalam perutnya sedang berterbangan dengan riang.

Jaehyun tak dapat menjelaskan penyebab debaran yang semakin lama semakin kencang di dalam dadanya saat ini. Semuanya terasa tiba-tiba dan terjadi begitu saja. Kedua tangan itu masih saling bertaut, bahkan pegangannya semakin erat satu sama lain. Ini hari yang indah, setidaknya sampai Jaehyun menyadari bahwa ia sedang merasakan bahagia di dalam kebohongan yang ia buat sendiri.

Masih tetap bergamit, laju tungkai Chaeyeon tiba-tiba berhenti dan otomatis membuat rekannya itu melakukan hal yang sama. Arah pandangnya menghadap depan, ke sebuah kios es krim yang memancarkan lampu amat terang. Jaehyun melihat ada seorang anak kecil yang merengek sambil berusaha meraih etalase yang digunakan untuk menyimpan contong dan wadah plastik.

Mereka berdua menarik otot mata ke samping, didapatilah sepasang suami dan istri yang tengah tertegun tanpa melakukan apa-apa. Chaeyeon akhirnya paham. Segera ia lepas genggaman tangan Jaehyun untuk menghampiri anak kecil itu. Gadis itu lantas menyentuhkan lututnya ke lantai agar posisinya sejajar dengan anak kecil itu.

Hati Jaehyun dibuat berdesir saat melihat pemandangan menentramkan di depannya. Bagaimana tidak, Chaeyeon dengan takzim mengelus pucuk kepala anak lelaki itu. Mengajaknya ngobrol dengan senyum yang amat jelita. Ia kemudian berdiri, mengarahkan jari lentiknya ke beberapa jenis es krim. Penjaga kios itu lantas meletakkan dua sekop es krim rasa kiwi dan rasberi ke atas contong dan memberikannya kepada Chaeyeon. Gadis itu menyerahkan beberapa lembar uang pada wanita itu dan membiarkan anak kecil yang tidak ia kenal itu mengambilnya.

Wajah anak itu menorehkan kebahagiaan. Segera ia berlari menghampiri ayah dan ibunya yang berdiri tanpa bisa berbuat apa-apa di depan toko roti. Karena merasa sangat berterima kasih, kedua orang tua itu pun datang menghampiri Chaeyeon dengan air muka sedikit sayu.

“Es krim itu sangat mahal dan kami tak punya cukup uang untuk membelinya. Terima kasih, Nona… kami tak akan pernah lupa dengan kebaikanmu.” Sang ibu berucap dengan raut penuh penghargaan untuk Chaeyeon.

Seulas senyum terkulum dari kedua sudut bibir Chaeyeon, “Sama-sama, eommo-nim. Sesekali dia harus mendapat apa yang dia mau. Oh iya, boleh kutahu namanya?” Gadis itu mencolek gemas dagu anak kecil yang sedang menjilati es krim di tangannya itu. Lucu sekali melihatnya makan dengan hati gembira.

“Namanya Do Jae Woon.”

Annyeong, Jaewoonie…” Chaeyeon memainkan pipi Jaewoon dengan gemas.

Karena telah merasa terlalu lama diam, Jaehyun pun akhirnya menghampiri tiga orang yang tengah berbincang-bincang ringan itu.

“Jadi beli kopi, tidak?” bisiknya lirih.

“Oh, iya, aku lupa. Maaf.”

Chaeyeon akhirnya pamit kepada Nyonya dan Tuan Do. Tak lupa ia lambaikan tangan sebagai salam perpisahan kepada Jaewoon. Ia pun kembali berjalan beriringan bersama Jaehyun untuk menuju kedai kopi.

“Katanya kau benci lak-laki? Anak kecil itu, kan, tadi laki-laki. Kalau pada ayahnya, aku bisa merasa kau sedikit enggan menatap matanya.” Jaehyun berceletuk sembari menunggu green tea latte dan americano mereka sampai.

“Kalau lihat anak kecil, mau laki-laki atau perempuan, aku pasti teringat calon adikku. Andai saja kejadian itu tidak pernah ada—”

“Kurasa kau enggak perlu meneruskannya. Maaf, lagi-lagi memaksamu kembali menceritakan hal-hal pelik.” Jaehyun menyela ujaran Chaeyeon yang belum rampung. Namun setidaknya itulah tindakan terbaik yang bisa ia lakukan. Mana tega Jaehyun membuat Chaeyeon menitikkan air mata untuk kedua kalinya di hari ini?

tbc…

pertama-tama, please jangan nge-judge Saeron jahat atau seenaknya sendiri. Menurutku wajar kalau seseorang benci sama pihak yang udah buat anggota keluarganya jadi punya perilaku menyimpang. oke, kita anggap saja kelurganya Saeron adalah homophobic. Biarpun dala kondisi ini Chaeyeon engga bisa disalahin juga ya kan? mungkin caranya Saeron untuk melampiaskan kebencian aja yang salah. Dan sejujurnya aku engga paham dari tadi ini ngomong apa /DIGAMPAR/

okeyy makasih udah baca, jangan lupa voment yoww thanks ^^

Sama yang suka 101, hayuk lah mampir eheyy

PRODUCE 101 Fan Fiction by undefined
♥ Read ♥
Struggle『kang daniel』
♥ Read ♥
Advertisements

22 thoughts on “[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 7)

  1. kasian si Chae 😦
    sampai dijambak gtu 😦
    dakuh ga tahan liatnya 😦 /nangis di pojokkan/

    daebak lel ~
    waiting next chap XD
    keep writing 😉

    Liked by 1 person

  2. Aku kok makin iba sama Chaeyeon? Jadi Saeron dan Chaeyeon itu bertengkar di arena bermain? Kok gk malu ya ? 😀 Mbalel, kalo bisa, kuy lah adegan Jae-Yeon nya jangan manis2 gitu. Kan aku sebagai Jaehyun stan merasa tersakiti #krikk

    Mbalel, kadang aku kepikiran nih, kan sampai sejauh ini chaeyeon masih gak tau kalau jae itu cowok, naj gimana kalau chaeyeon tiba2 iseng tanya tentang menstruasi. Kan Jaehyun gk pernah tuh beli pembalut atau apa, makanya lambat laun curiga dan aku gk ngerti ini ngetik apa #krikk (2)

    Pokoknya semangat buat mbalel ❤ ❤ Sempat salpok sama covernya yg balik kayak dulu :v (apaan sih ji -_-)

    Wokeh segitu aja. Yg tabah buat Chaeyeon ya. Aku setuju, meskipun dia benci laki2, tapi bukan berarti anak kecil juga patut dibenci :))))))

    Liked by 1 person

    • Ehh ji, kuceritain deh.. jdi kemarin aku ke ayam nelongso, udah enak2 makan gitu ya, tiba2 ada bapak2 keker ngedatengin meja belakangku. Dateng2 ngomelin cewek yg kayaknya istrinya. Sumpah ya mereka berantem pake sarkasme, bahkan sampe tampar2an. Diliatin lah jelas sama orang2 tapi mereka ttp ngelanjutin cekcok mereka.

      Lek gak manis trs piye? Didadino thriller a???

      Aku juga udah mikir sih, kapan jae menstruasinya. Tapi kok mls bahas ini, otakku mampet gitu lol

      tapi coba deh kamu flashback, kebersamaan mereka belum nyampe sebulan dan di chap awal eunwoo udah bilang “survei ini cuma akan berlangsung kurang lebih satu atau dua mingguan, kurang lebih?”
      Pun kalau misalnya Jihyun emang mens.. ga ada ngefeknya juga. Ini kan kubikin latarnya di Korea, trs mereka bukan muslim. Pasti ga mencolok lah haidnya ^^ beda kalo ff wattpad, agak rasa lokal gitu latarnya di Indonesia trs ada ceritanya Jaehyun sholat malam ngedoain mantan istrinya hahaha XD sumpah aku pernah baca ff kaya gini 😂😂

      Makasih ya udah komen hehehe 💕💕

      Like

  3. Udah upload toh? bru lihat. hehe, ceritanya makin seru. mana ada cewe2 berantem lagi. gak malu apa ya? btw aku masih gagal paham sama alasan saeron jambak2 chaeyeon. trus saerin eonni syp nya?
    okay, ku tunggu next chapternyaaa…. keep writing kak. maaf sebelumnya udah sok akrab :v salam kenal kak, aku fira 00L 🙂

    Like

    • kan tadi jae udah bermonolog setelah liat IGnya Saeron yg memiliki caption ttg Saerin eonnie yang udah kembali ke sisi keluarganya. Itu ungkapan tersirat buat menjabarkan kalau Saerin itu adalah kakaknya Saeron yang sempet jadi lesbian dan pacaran sama Chaeyeon. Mangkannya Saeron benci sama Chae, karena keluarganya itu homophobic dan menentang kalau Saerin jadi lesbian. Kan sekarang Saerin udah sembuh, tapi Saeron masih dendam sama Chae. Maaf kalau kurang jelas 🙂
      makasih ya udah mampir.. hehe salam kenal fira ~ aku lely 99line ^^

      Liked by 1 person

      • Hello kak! Maaf beberapa chap lalu aku cuma nyider .-. tenang, nanti aku backtrack kok. Pas scene Saeron jambak Chae aku sempet bingung. Ini nggak ada angin nggak ada hujan mendadak psycho aja si Saeron ini -_- Dan ternyata si Chae adl mantan kakanya /oh pantes jadi ganas gitu/

        Like

      • oh iyaa…. haha, aku aja yang baca nya kurang jelas kak 🙂 oh, jadi gitu… kasian atuh Chaeyeon yang jadi korbannya Saeron. semoga Jae bisa nyembuhin ‘kelesbianan’ nya Chaeyeon/apaan sih/(?) hahaaha… okay kak, sama-sama~

        Liked by 1 person

  4. kyaaa update juga >_<
    iih kasian banget chayeon d gebukin, gak tega aku :"v tp di sisi lain senang hubungan nya chaeyeon sm jaehyun makin dekat, moga2 yerim buka sebagai pihak ketiga :p

    Like

  5. no, tdk akan menjudge saeron kok, bagiku wajar lah, cuma mungkin kurang dewasa aja, wkwkwkwk
    oke, alurnya maju dg santai tp mantap, jadi kesingkap satu2 kan hubungan antar tokohnya. cuma eunwoo nih yg belum andil banyak, wkwkwk terus kirain tadinya itu saeron pacarnya wonwoo tahu gak. tapi hubungannya jae-chae masih jalan di tempat ae, mel menunggu yg itu, wkwkwk
    ddahhhh… xd

    Liked by 1 person

    • alasan pake saeron karena dia emang masih cimit wkwkwk XD yerim juga cimit sih tapi kumelihat strongnya dia menghadapi haters, sepertinya dia lumayan mature hihi ~
      saeron pacarnya wonwoo? hmmm… benar tidak ya ~~
      makasih mel udah baca 🙂

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s