[NCTFFI Freelance] The Last Rain (Vignette)

the last rain.

Vignette fiction written by hansekyung.

Staring Dong Winwin and Choi Sooyeon.

Special guest; Ji Hansol, Seo Youngho (Johny), Jung Jaehyun, and Nakamoto Yuta

hurt.

Happy reading~

______

Sorry that this break up was done so poorly too.
Because I let you go without knowing anything
.”

______

Dua jam pelajaran telah berlalu, kelas Winwin dibubarkan. Sesuai rencana Winwin akan berada di sekolah lebih lama untuk menghadiri kelas tambahan. Menanggapi bahasa koreanya yang ugal-ugalan, Youngho dan Yuta merasa sedikit iba sehingga hanya dengan tiga anggota mereka membentuk kelas kecil. Rasa iba itu sungguh wajar kalau menelusuri bahwa Youngho dan Yuta juga orang asing di kota sebesar Seoul ini.

Youngho dan Winwin telah sampai di kelas namun Yuta masih menyantap makan siangnya di kantin. Oleh karena itu pelajaran belum bisa dimulai. Keduanya berbincang-bincang, membicarakan berbagai hal, salah satunya tentang Sooyeon. Youngho yang menyinggungnya terlebih dahulu.

“Win, Sooyeon tidak masuk. Mau menjenguknya?”

“Tidak Kak Johny, nanti malam kakak perempuanku ada waktu luang. Kami hendak videocall.”

“Sore?” Yuta tiba-tiba datang, kemudian menyahut Winwin dengan logat menyindir.

“Tidak bisa, ujian hampir dekat.” Jawab Winwin, seolah menegaskan tidak menyanggupi ajakan Youngho serta desakan Yuta.

Kelas lantas dimulai setelah percakapan tegang tiga murid sekolah menengah atas itu menemui ujungnya. Winwin membuka catatan di hari sebelumnya lalu Youngho mulai menulis materi baru.

***

Rintik gerimis masih mengguyur  akan tetapi Jaehyun dan Youngho tetap memantapkan niat untuk menjenguk Sooyeon. Aroma kue beras yang tercium dari luar sengaja dibawa oleh keduanya sebagai oleh-oleh. Dua hari absen di sekolah dengan alasan sakit tentu bukan main-main. Bahkan Sooyeon belum pernah absen satu hari saja selama dua tahun bersekolah di SMA Internasional Neo.

Jaehyun menekan bel, tak lama muncul adik kandung Sooyeon dari balik pintu. Mempersilahkan keduanya masuk ke dalam. Jaehyun dan Youngho lantas mengutarakan alasan datang kemari, tidak lupa juga memberikan kue beras yang telah mereka bawa. Adik Sooyeon kemudian membiarkan Jaehyun dan Youngho masuk ke dalam kamarnya.

Annyeong.” Sapa Jaehyun begitu melihat Sooyeon duduk di ranjangnya dengan secangkir susu coklat.

“Sooyeon-ya.” Youngho ikut menyapa.

“Ah, kalian?” Sooyeon meletakkan gelas, mencoba berdiri untuk menyapa mereka. Ia menyeret dua kursi sebagai tempat duduk bagi Jaehyun dan Youngho kemudian percakapan dimulai.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Sudah sangat lebih baik, hanya saja badanku masih menggigil sehingga hari ini aku absen lagi dari sekolah. Oh ya bagaimana, bagaimana dengan… Bagaimana dengan pertandingan basket kalian?”

“Maksudmu Winwin?” Sontak pertanyaan Jaehyun yang langsung pada intinya membuat Sooyeon sedikit gelagapan. Yang ditanya kemudian hanya menjawab dengan anggukan.

Suara pintu diketuk, muncul adik Sooyeon secara tiba-tiba. Menghentikan sejenak obrolan mereka, mengantarkan dua gelas coklat panas beserta camilan kecil dan kue beras yang mereka bawa. Setelah ia keluar, obrolan kembali berlanjut.

Youngho menceritakan secara ringkas situasi antara dirinya dengan Winwin saat ini termasuk kejadian ketika jam tambahan tadi sepulang sekolah. Rasa-rasanya Sooyeon seperti sudah terbiasa dengan cerita semacam ini. Hampir dua minggu ini teman-teman terdekat Winwin bertanya-tanya perihal ada apa antara pria kurus itu dengan Sooyeon hingga hubungan mereka serenggang jembatan yang hampir roboh. Tak ada gerak-gerik keakraban di antara mereka berdua. Terakhir kali di ruang basket Sooyeon hanya duduk tanpa memberi semangat kepada Winwin yang saat itu beradu basket dengan tim Chittapon.

“Cobalah berbicara lagi kepada Winwin. Setidaknya apabila ada masalah cobalah untuk menyelesaikannya.” Jaehyun memberi saran.

“Tidak, aku sudah mencoba menjelaskan. Mungkin ini ujungnya.”

“Sebenarnya ada apa? Kami semua bingung, kalian tiba-tiba saling menjauh. Masalah apa di antara kalian? Masalah besar?” Penasaran, Youngho mengutarakan tanda tanyanya terhadap Sooyeon diikuti anggukan oleh Jaehyun.

***

Di tengah lapangan hijau di mana saat ini berdiri sosok Hansol dengan seragam khas SMA Neo. Hari ini adalah hari kelulusan siswa kelas dua belas. Beberapa siswa melanjutkan kuliah di luar Seoul termasuk Hansol sehingga Sooyeon merasa sedikit sedih karena itu bermakna ia akan berpisah dengan kakak atau mungkin senior sekaligus sahabat terbaiknya.

Sooyeon dan Hansol masih berdiri tegak dengan saling berhadapan. Hansol melihat dengan jelas mata Sooyeon yang berkaca-kaca, seperti sebuah banjir yang ditahan bendungan kuat.

“Apakah sesulit itu hidup tanpaku?” Hansol akhirnya merobohkan bendungan itu, membuat banjir besar keluar dari kedua mata Sooyeon. Banjir air mata.

“Sol-a, kau bisa kuliah di Seoul. Tetaplah menjadi jerapahku.” Memohon dengan sangat, Sooyeon menggenggam erat kedua tangan Hansol.

“Maka dari itu belajarlah dengan giat lalu susul aku di Amerika, bagaimana?” Ucapannya dengan maksud menghibur justru membuat Sooyeon semakin menangis. Hansol mengacak-acak rambut Sooyeon kemudian mulai mengusap air matanya.

Sebagai salam perpisahan terakhir, Hansol memberi pelukan manis untuk Sooyeon. Gadis itu menyambut pelukan Hansol dengan perasaan berat, berat menghadapi perpisahan. Beberapa detik berlalu kemudian pelukan Hansol mulai merenggang. Gerimis juga tiba-tiba turun tanpa perkiraan. Saat itu, Sooyeon dapat melihat Hansol mulai menjauh darinya, hilang hingga bayangan terakhir.

Namun saat itu pula Sooyeon tidak menyadari kalau Winwin menjadi penonton setia dari episode pertama hingga episode terakhir perpisahannya dengan senior yang jelas-jelas Winwin kenal betul siapa dia. Ia tidak pernah merasakan cemburu berlebihan seperti saat ini karena Sooyeon sering mengatakan bahwa baginya, Hansol hanyalah seorang kakak tiri sekaligus sahabatnya. Namun kali ini berbeda. Cemburu, marah, serta kecewa bercampur menjadi satu.

Alasan kekecewaan Winwin?

Sooyeon mengusap air matanya kemudian berbalik untuk kembali ke kelas sekaligus berlindung dari gerimis dan baru menyadari ada Winwin di sana. Berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, menatap Sooyeon dengan tatapan penuh makna. Tidak tahu mesti berbuat apa, gadis itu mendekati Winwin dengan harapan tidak ada apa-apa dengan boyfriend-nya itu.

“Win, kau menungguku ya? Maaf ya aku menyusahkanmu, mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa ditinggalkan Hansol begini.”

“Kak Hansol, sangat berarti ya?” Winwin mengajukan pertanyaan yang sedikit mengejutkan bagi Sooyeon. Tidak biasanya Winwin menunjukkan kuriositasnya terhadap hubungan Sooyeon dengan Hansol.

“Ya? Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau bahkan tahu jawabannya bukan?”

“Itu, Sooyeon-a, sepertinya kamu lebih membutuhkan Kak Hansol daripada aku. Kamu, kamu bebas sekarang.” Tanpa mendengarkan respon Sooyeon, Winwin membalikkan badannya kemudian berlalu begitu saja setelah selesai dengan kata-katanya. Sooyeon bingung dengan sikap Winwin yang tiba-tiba berubah.

***

Dua belas bulan berlalu begitu cepat, tahun ini SMA Neo menambah catatan prestasi murid-muridnya. Dalam upacara wisuda disebutkan bahwa murid yang diterima untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri meningkat 6% dari tahun lalu. Sekolah merasa begitu puas meskipun kenaikannya tidak begitu banyak.

Beberapa murid saling memberi pelukan perpisahan. Ada yang menangis karena berpikir akan merindukan kenangan manis di sekolah tersebut, ada juga yang bahagia karena mendapatkan universitas yang baik. Begitulah gambaran singkatnya.

Sooyeon, Jaehyun, dan Youngho berkumpul di halaman. Mengambil beberapa foto sebagai kenangan hari terakhir di sekolah, pasalnya mereka bertiga hendak melanjutkan kuliah di universitas yang berbeda. Sooyeon dan Youngho pergi ke Amerika akan tetapi Youngho melanjutkan kuliahnya di kampung halamannya−Chicago sedangkan Jaehyun berpikir untuk melanjutkan kuliah di Korea meskipun ayahnya memberi tawaran untuk kuliah ke Eropa.

“Youngho-ya, lalu untuk apa kau belajar bahasa korea kalau akhirnya kamu akan kembali ke Chicago?” Tanya Sooyeon di sela-sela keasikan melihat hasil foto yang mereka ambil.

“Yakinlah aku akan kembali lagi ke Korea suatu saat nanti, lihat saja!” Youngho menjawab dengan tegas kemudian mereka kembali larut dalam keasyikan berfoto.

Yuta yang tiba-tiba datang bersama Winwin menginterupsi keseruan diantara mereka. “Selamat ya! Kita semua lulus dengan nilai yang sangat baik!”

Jaehyun menyahut. “Kita akan saling merindukan sepertinya.”

“Iya, kau juga selamat ya Yuta.” Imbuh Sooyeon, menanggapi Yuta. “Ku dengar kau ingin melanjutkan kuliah di Amerika, selamat.” Winwin buka mulut.

“Oh? Iya, terima kasih Win.”

Aku mengikuti kemauanmu Win. Aku menyusul Hansol ke Amerika, karena aku bebas.

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s