[Mystic in Europe] 99th

99th

Written by Rijiyo

Poster by Asha Iriza Art

.

Creepy, Sad, AU! | Vignette | Teen

.

Starring Zhong Chen Le [NCT]  as Al

Leap Castle, Ireland

.

.

Andai kau sadar arti pelitamu….

.

.

Tahukah kamu, kita hidup 80 mili detik di masa lampau? Otak membutuhkan waktu 80 mili detik untuk memproses informasi. Sebab itulah kita selalu terlambat dalam segala hal.

Malam ini Al bertengkar dengan sahabatnya lagi. Hampir setiap hari dia memang selalu begini, seperti kebiasaan yang tak bisa ditawar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain  melihatnya dalam sunyi. Al sering bercerita padaku tentang sahabat-sahabatnya yang sering melukainya, menusuknya dari belakang, atau bahkan berusaha membunuhnya. Bahkan katanya, di sekolah dia sering dibully karena dianggap kurang pintar untuk ukuran siswa SMA Roscrea. Ironis sekali, harusnya mereka punya alasan yang lebih berkelas sebagai bentuk penolakan atas kehadiran Al.

Karena frustrasi itulah Al mengajakku ke luar rumah. Bukan kejar-kejaran atau melihatnya bermain rugby. Tapi dia mengajakku jalan-jalan keliling kota. Sudah lama sekali Al tidak mengajakku menikmati udara malam Tipperary. Dia bahkan belum melepas seragamnya sedari tadi, tapi menurutku dia cocok memakai seragam yang dipadukan dengan jubah panjang hitam.

“Sebenarnya aku masih bingung. Kenapa yang namanya sahabat itu susah dicari? Kenapa orang-orang di dunia ini hanya mementingkan diri sendiri? Kalau seperti ini, mending kiamat saja.”

Al baik, tapi selalu dikelilingi kebencian. Hari-hari menyakitkan sering dilaluinya sendirian, terkadang saking terlukanya ia sampai tidak mau bercerita dan menghindariku seperti es batu yang menggelincir di tangan, terlalu licin dan dingin untuk ditangkap. Saat itulah aku ingin merengkuh kesedihannya dan meleburkannya dalam gelap, bersedia menjadi penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudera terkelam, menjadi sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama namun terasa ada. Al adalah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup, setetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam kasih sayang tak bermuara, cahaya kecil yang memupuskan segala batasan dan alasan. Aku bersedia menjadi sahabatnya kalau ia mau, bahkan ketika dia berpikir kalau ini aku tidak masuk akal.

Atau lebih tepatnya, dari dulu aku sudah menganggap Al sahabatku meskipun ia takkan pernah bisa menyadarinya. Aku hanya tidak mau Al bersedih, tapi aku juga tak ingin ia berubah dan melepaskan diri dari kurungan benak lalu melenggang menjadi makhluk mandiri yang lupa kulit.

“Nah, berhubung kita sudah melewati lembah Bit gunung Iblis dan pegunungan Slieve Bloom, kita sekalian pergi ke Roscrea, yuk? Kita sekarang di persimpangan jalan raya M7 di Dublin dan Limerick, dan N62 antara Athlone Horse dan Jockey. Um… kamu mau istirahat dulu atau bagaimana? Kita sudah berjalan cukup jauh dari Tipperary, omong-omong.”

Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. Sebenarnya aku lapar, tapi tidak apalah, yang penting sekarang adalah kebahagiaan Al. Waktu bergulir tergesa malam ini. Langit malam terasa lebih muram meskipun ada rembulan, lebih gelap meskipun dibanjiri lintang. Ada awan kelabu membola pekat di pucuk-pucuk Tipperary dan hanya menyisakan separuh bulan yang sinarnya masih menyapu halus siluet perkotaan.

“Oh iya, bagaimana kalau kita ke Kastil Leap? Dari dulu aku ingin ke sana, katanya tempatnya angker. Bahkan ada yang bilang kalau di situ setiap malam ada ular raksasa yang dianggap penjaga kastil.” Al terkekeh. “Jaman sudah digital, tapi masih ada saja yang percaya takhayul.”

.

.

.

“Aku pernah baca di koran kalau benteng ini punya sejarah panjang dan tragis. Ada persaingan sengit di klan O’Carroll, yah… bayangkan saja bagaimana sakitnya ketika diharuskan bertarung melawan saudara sendiri. Dan aku merasa kastil ini tidak menyeramkan sama sekali,” jelasnya. Yah, lumayan aku dapat tambahan ilmu, meskipun sebenarnya masih belum paham. Al adalah anak cerdas, dia tahu hampir segala hal, bahkan tempat yang belum pernah ia kunjungi.

“Banyak orang dipenjara dan dieksekusi sampai mati di benteng, itu adalah salah satu alasan mengapa benteng ini dianggap berhantu. Mereka juga bilang salah satu makhluk paling menakutkan yang berada di dalam benteng adalah It. Namanya aneh, ya, Jen?”

Aku mengangguk.

“It ini adalah makhluk kecil, seukuran domba dan memiliki wajah membusuk. Katanya kalau It sudah muncul, pasti disertai bau belerang dan bau mayat yang menyengat. Katanya di sini ada ular raksasa, tapi sayangnya ular itu cuma menampakkan diri pada orang-orang tertentu. Ada juga Elementals.”

Apa itu Elementals? Otakku tidak sampai ke sana.

Kami memandangi kastil tua nan legendaris ini cukup lama. Kastil kokoh yang katanya berhantu. Semua berpadu dalam keharmonisan emosi yang membuatku tiba-tiba merasa ganjal. Konyol, hanya itulah yang kupikirkan. Sebagai anak yang selalu mendapat beasiswa di sekolah, aku yakin kalau Al juga membenci hal-hal irasional seperti ini.

Sebuah keadaan aneh yang sulit kupahami tiba-tiba membelit, membuatku terus menatap sekeliling dengan waspada. Banyak yang bilang kalau aku punya indera ke enam, tapi mungkin lebih tepatnya aku punya indera ke tujuh karena suara gemerisik semak popi dan embusan angin malam seakan berbisik supaya kami segera pergi dari sini. Aku menutup mata dua detik lalu membukanya lagi, mendapati ada sosok yang keluar dari kastil dan berjalan mendekat. Aku ingin bilang pada Al kalau keadaan sedang tidak beres, tapi sosok itu sudah terlanjur mengajak Al bicara duluan.

“Kenapa malam-malam keluyuran?” Bocah lelaki berbaju ala Irlandia era 60-an yang mungkin seumuran dengan Al itu bertanya.

“Kami hanya jalan-jalan. Kamu sendiri sedang apa di sini? Tidak takut?” tanya Al dengan ramah.

Aku tak tergerak untuk mendesak, sabar menunggu tanpa mengeluarkan sepotong pun kata. Tak juga gumaman-gumaman pendek tanda mendengarkan. Hanya harapan supaya keadaan ini tak perlu berlanjut.

“Aku sedang bermain. Mau ikut?”

“Bermain di tempat seseram ini?” Al takjub. Dia menatapku. “Jeno, anak ini sedang main. Bagaimana kalau kita kenalan? Siapa tahu kita bisa berteman baik nantinya.”

Sebelum aku menjawab, Al sudah bertanya lagi pada anak itu, “Memangnya kastil ini aman? Kudengar tempat ini angker.”

Bocah itu tersenyum. “Tepat di bawah garis bujur 7° 48 ‘27,77 “W. Lintang 53° 1 ‘41.04 “N. Kakak sudah sampai di Kastil Leap, Co Offaly. Tempat yang dikhususkan bagi mereka yang menghargai persahabatan.”

Mendengar kata ‘Sahabat’, aku tahu Al langsung tertarik. Kini pikiranku mulai dirajam pertanyaan, siapa dia?

Bagiku, sosok itu tampak seperti manusia biasa—dengan tubuh berbias cahaya bulan yang berpendar kebiruan sehingga menimbulkan kemilau di kulitnya. Namun aku menyadari ada yang aneh dari auranya, terutama kilatan di matanya yang seolah menyapulenyapkan segala jejak dan bayang. Dia hanya ilusi.

“Ayo, di sana banyak anak-anak. Mereka semua bersahabat. Siapa tahu mereka juga bisa menjadi sahabatmu,” ajak anak itu yang bahkan dari tadi tidak memberitahukan namanya.

“Namaku Haechan,” pungkasnya.

Dia bisa membaca pikiranku.

Al mengelus kepalaku. “Sepertinya tempat ini menarik. Artikel tentang keangkeran itu ternyata bohong. Iya, kan, Jeno?”

Aku hanya bisa berkedip. Aku ingin menahan Al, namun aku tak punya percaya
diri yang cukup untuk itu. Angin dingin yang berembus menyentuh kulitku seolah menembusi pori, memasuki nadi, dan meninggalkan rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuh.

“Aku sudah punya 98 sahabat di dalam sana,” kata Haechan.

“Benarkah?” Mata Al langsung berbinar.

Al membutuhkan sahabat.

Diarunginya perasaan itu tanpa lelah seperti menaklukkan jeram-jeram. Namun sosok yang dicarinya hadir serupa kabut. Hubungan yang tak pernah melahirkan sepenggal tawa maupun sekeping cerita. Ada dan tiada seperti kabut malam yang tak tergenggam. Dan entah kenapa, Al selalu memilih untuk tetap memercayainya. Merapuh dengan sukarela.

“Haechan?”

“Ya?”

“Bolehkah aku jadi sahabatmu yang ke-99?”

.

.

.

Al sempat mengajakku, tapi aku memilih menunggunya di depan kastil. Al mulai masuk, berjalan di belakang Haechan dengan pandangan menghampa. Al terlihat seperti anak yang pulang ke rumah setelah perjalanan teramat jauh. Sebelumnya ia sudah mengatakan, “Aku segera kembali, kamu jangan cemas” dan hanya kata-kata itulah yang bisa kudekap sebagai janji.

Rembulan yang gelap mengusir pekat malam itu, tiba-tiba hanya nampak sepertiga bagian, karena ada awan hitam yang menutupinya. Aku mencerca pikir tentang hal yang baru saja dilakukan Al untuk mengikuti Haechan. Aku masih memerhatikannya tanpa berkedip dan perutku langsung mual saat kulihat Haechan mulai mengubah wujudnya menjadi sosok mengerikan. Bau belerang seketika menguar.

Dalam sekejap, lamunanku lenyap diganti oleh kesiap. Seekor ular raksasa, menjulang setinggi pepohonan dengan mata kuning nyalang sebesar kolam, telah menghapus sosok Haechan. Ketika ular itu semakin mendekati Al, seluruh semak ikut bergerak. Aku pun tersadar, hutan tempatku berada kini tak lain adalah tubuh ular itu sendiri. Aku bisa melihat kehadiran makhluk lain; hewan-hewan menyerupai serigala, domba, kelelawar, monyet bermata merah menyala. Mereka bergerak bersama-sama, bagian dari ular yang sama, dan fokus mereka hanya padaku.

Kastil gelap itu memanjang seperti terowongan tak berujung. Ada larik-larik di sekujur dinding yang membuat kastil ini tampak hidup. Aku langsung berlari menghampiri Al saat ular itu mulai merambati tubuhnya. Namun, langkahku tinggal sejengkal saat ular itu menelan kepala Al dari belakang hingga hanya leher dan tubuhnya yang tersisa. Al langsung tergeletak tak berdaya, dan kemudian pintu tertutup rapat.

Keadaan langsung berubah. Rembulan yang tadi nampak sebagian, kini kembali penuh, menyorotkan sinar untuk Bumi—dan untukku juga. Aku mendobrak gerbang itu dengan tubuhku. Mataku berkaca-kaca. Pusaran angin mengangkat daun-daun kering, debu, dan tanah, yang kemudian menerpa wajahku. Mendadak, aku menggigil.

Kita memang selalu terlambat dalam segala hal karena pada dasarnya, kita hidup 80 mili detik di masa lampau. Sebab itulah kita mengetahui segalanya 80 mili detik setelah kejadian itu berlangsung. Salah kalau ada yang bilang “tidak ada kata terlambat”. Seharusnya aku tidak menyia-nyiakan kemampuan indera ke tujuhku untuk melarang Al supaya tidak mengikuti Haechan yang ternyata jelmaan dari ular raksasa penjaga kastil.

Hingga akhirnya aku menyerah. Kutumpahkan seluruh air mataku di depan gerbang. Entah sampai kapan aku mampu menunggu Al keluar dari sini. Duduk dan diam. Namun Bumi di bawah kakinya seolah memekar tanpa tepi, mengacaukan semua peta, semua yang kuketahui, dan aku menjadi sangat kecil. Tak berdaya. Aku tahu Al tersiksa selama ini, hampir setiap hari aku melihatnya menangis atas nama persahabatan. Untungnya Al tidak sampai gila karena ceceran derita yang terkumpul di hidupnya.

Dan sebenarnya, aku mengerti. Aku tahu saat seseorang berkata aku mengerti apa yang dia rasakan itu memang sangat menyebalkan, tapi sungguh, aku benar-benar mengerti perasaannya. Karena pada dasarnya, aku sangat menyayangi Al lebih dari yang dia tahu.

Dan seandainya aku bisa tahu 80 mili detik lebih awal.

“Ya ampun, kenapa ada Si Kecil di sini? Kamu tidak punya rumah, ya? Ayo, biar Kakek yang merawatmu mulai sekarang,” kata seseorang sambil menggendongku.

Kita memang tak pernah tahu apa yang dirindukan sampai sesuatu itu tiba di depan mata. Kita tak pernah menyadari ketidaklengkapan hingga bersua dengan kepingan diri yang tersesat dalam ruang waktu. Dan aku percaya kalau setelah ini, tidak akan ada yang mengeluh dan menangis seharian di depanku. Tidak akan ada cowok sok tahu yang sangat merindukan kehadiran sahabat di sisinya. Bayangan Al saat tertawa, marah, hingga menangis terus berkelebat di kepalaku.

Akhirnya Sang Pencipta mengambil salah satu insannya, kembali ke pangkuannya dan aku yakin Al merasa lebih aman di sana. Dan kembali kudapat diriku tertambat dalam ruang dan waktu yang membeku, tempat segala kenangan tentangku dan Al dikristalkan.

Aku begitu berharap, cahaya rembulan malam ini akan terus menjadi sinar terang dalam jiwa para manusia agar mereka bisa lebih menghargai kehadiran seseorang di sisinya. Manusia yang selalu hidup di benang perbatasan antara waras dan gila, kata mutiara dan umpatan durjana, atau keyakinan dan ketidakpedulian. Lautan manusia lain hidup nyaman di area ‘wajar-wajar saja’. Sedangkan aku hanya bisa memandangi Al layaknya gelandangan di ujung bukit sampah. Seperti Pluto nan beku memandangi Bumi nan biru.

Tapi intinya kita sama-sama makhluk. Atau… bukan? Ah, tahu apa aku tentang kehidupan? Aku tidak tahu apa-apa.

Karena aku hanya seekor anjing.

.

.

.

.

.

Di dunia ini persahabatan memang tidak ada. Sahabat baru terlahir kalau kita sudah mati. Karena dengan mati itulah kita akan dihidupkan kembali sebagai makhluk yang mulia, yang dibebaskan Tuhan untuk mencari persahabatan yang abadi.

Di luar, bulan tersenyum garang, semak-semak rodhodendron berayun seolah menjadi saksi bisu kepergian Al. Di sana, masih banyak Haechan-Haechan yang lain. Mereka bisa saja menyamar lagi untuk mencari sahabat baru di dunia semu. Tunggulah,
dia hanya selangkah dari bibir jurangmu.

Jadi, siapkah kalian menjadi sahabatnya yang ke-100?

.

.

.

.

.

_Fin_

Alhamdulilah selesai :’v Ji tahu masih banyak diksi yang rancu dan gagal creepy soalnya ini baru pertama kali huwaaaaaaaaaaaaa T_T

Advertisements

4 thoughts on “[Mystic in Europe] 99th

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s