[Mystic in Europe] Translucence

Translucence

By Joieland

NCT Qian Kun – Jung Jaehyun | PG 13 | Ficlet

.

Ancient Ram Inn, England

.

Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Kun terbangun karena suara jam weker yang sengaja ia atur pukul enam. Jam itu mengeluarkan bunyi yang konstan dan menyebalkan—mirip bedebah, ucap Kun suatu kali—dan cukup ampuh untuk membuat sang pemilik menegakkan tubuh walau terpaksa. Setelah mematikan alarm tanpa mengumpat, Kun lantas mengambil handuk yang menggantung di belakang pintu kamarnya dan masuk ke kamar mandi. Mendadak Kun terkejut saat melihat jemarinya sendiri yang masih memegang kenop pintu.

“Kenapa semuanya hitam?”

Sembari meringis, Kun menyikat jari-jari tangannya dengan sikat lembut yang biasa ia gunakan untuk mencuci pakaian. Ada aroma mengganggu yang keluar saat kotoran itu berjatuhan ke wastafel dan Kun bersusah payah menahan diri agar tidak memuntahkan sisa makan malamnya.

“Kenapa kau membersihkan tanganmu alih-alih isi kepalamu, Kun?”

Kun menghentikan kegiatannya menggosok kuku. Ia tahu persis siapa yang mengatakan hal itu tanpa perlu berpikir dan itu sungguh membuat telinganya memerah. Lamat-lamat ia menatap cermin yang ada di hadapannya sambil mengacungkan sikat.

“Percayalah, aku selalu membersihkannya namun kotoran selalu datang dua kali lebih cepat.”

Kemudian dengan tenang, Kun kembali berkutat membersihkan jemarinya. Menit demi menit berepitisi hingga sepuluh kali dan Kun masih berkonsentrasi dengan kegiatan menyikat jari kukunya.

Hingga jari-jari itu berdarah.

.

.

Di kedai sandwich dekat kediaman Kun, semua orang mengenalnya dan bahkan tidak perlu menanyakan apa yang akan Kun pesan. King sandwich dengan double cheese dan segelas susu menjadi santapan pertamanya di setiap pagi. Biasanya ia melahap menu itu kurang dari sepuluh kali gigitan, tapi tidak hari itu.

Ada seseorang yang berdiri di depannya hingga membuat jeda sunyi yang cukup lama.

“Jae?” Kun menyeka sudut bibirnya dengan telunjuk, barangkali ada saus tomat yang menempel.

“Hai, Kun. Makanmu lahap juga.” Pria yang disapa Jae itu tersenyum tipis kemudian mengambil posisi di seberang Kun. Kun mengangguk dua kali.

“Aku melewatkan makan malamku, jadi beginilah. Kau sudah memesan sesuatu?”

Jae menggeleng.

“Aku tidak lapar.”

“Baiklah kalau begitu.”

Kun memilih untuk menyelesaikan sarapannya dalam diam. Mengobrol sambil makan bukanlah kebiasaannya, namun Jae tidak tahu hal itu.

Sepertinya.

“Kun, kita sudah lama tidak jalan-jalan ke tempat yang jauh berdua. Sejak lulus kuliah, kita disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Kau tidak bosan?”

Ada setitik raut tak suka yang ditunjukkan Kun kalau Jae kembali menyela kegiatannya mengisi perut. Mulutnya saat ini sedang penuh dengan makanan, jadi ia hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Bagaimana kalau ke Ancient Ram Inn?”

Alis Kun lantas bertaut dan ia mencoba untuk terlihat tidak terlalu terkejut, “bukannya kau bilang ke tempat yang jauh? Kenapa dari semua tempat, kau memilih tempat itu? Kupikir kau akan mengusulkan untuk ke Finlandia atau Kanada.”

Jae tersenyum lalu tertawa kecil, “aku hanya penasaran, Kun. Kudengar di sana menyeramkan.”

“Baiklah, lagipula akhir pekan ini aku sedang tidak ada janji.”

Jae mengacungkan jempolnya dengan senyum yang lebar dan dibalas Kun dengan hal serupa. Terlihat jelas kalau kelima ruas jari tangan kiri Kun semuanya dibalut dengan plester luka.

.

.

.

“Sampai!” seru Jae saat mereka tiba di depan Ancient Ram Inn, tempat yang digadang-gadang sebagai tempat wisata mistis yang menyuguhkan tantangan pemacu adrenalin bagi pengunjung. Banyak cerita legenda menarik yang berkembang mengenai tempat ini hingga membuat turis mancanegara ikut berdatangan demi merasakan pengalaman horor yang tidak serupa dengan milik negara mereka sendiri.

Berbeda dengan Jae, Kun tampak tak seantusias itu. Tak ada seruan atau kata-kata yang ia keluarkan, bahkan sorot matanya pun menyiratkan kalau bangunan tua yang ada di hadapannya itu bukanlah sesuatu hal yang istimewa.

“Sesenang itukah kau berada di tempat ini, Jae?”

Nada suara itu terlalu dingin hingga mengalahkan semilir angin di awal musim semi. Jae menatap Kun yang tengah menatap dirinya, dan detik berikutnya sebuah seringai terukir di bibir Jae.

“Bagaimana kalau aku sudah bertemu dengannya, Kun?”

Kun membalas seringaian itu dengan sebuah tawa kecil dan Jae terlihat terganggu dengan hal itu. Kun memulai langkahnya masuk ke dalam Ancient Ram Inn, abai pada Jae yang kini kesal setengah mati.

“Baguslah kalau kalian sudah bertemu, berarti aku tak perlu repot-repot mengenalkannya padamu.”

“Aku melihatmu membunuhnya, Qian Kun! Kenapa kau terlihat begitu santai? Bedebah!”

Teriakan marah dari Jae nyatanya tak membawa pengaruh apapun bagi Kun. Alih-alih balas berteriak, Kun justru terlihat lebih tenang dari sebelumnya.

“Teman lamamu ini memang seorang bedebah, apa kau baru mengetahuinya?”

Tatapan Kun lurus dan tajam seakan bisa mengoyak kedua iris milik Jae. Jae merilis sederet umpatan dari balik mulutnya untuk Kun. Semakin ia mengatakannya, semakin naik pula amarahnya hingga kini nampaknya melebihi ubun-ubunnya sendiri.

“Kenapa kau membunuh gadis itu, Kun? Kau lupa kalau dia adikku? HAH?”

“Karena dia sudah melihatku membunuhmu.”

Bagai tersambar petir di siang bolong, Jae terlalu terkejut sampai ia gagal melanjutkan sumpah serapahnya. Ia ingin mencekik Kun, namun tangannya tak sanggup menggapai. Kun menunjuk sebuah lubang di lantai yang tepat berada di depan kakinya dengan senyum merekah.

“Aku membuang mayat kalian di sana.”

“Kun—“

“Fakta yang harus kau tahu adalah; pertama, tempat ini adalah tempat kesukaanku. Kedua, aku tidak suka tertangkap basah saat sedang melenyapkan orang-orang yang menghambat kesenanganku. Ketiga, sebelum kau datang menghampiriku di waktu sarapan tanpa alas kaki, aku SEMPAT lupa kalau aku juga sudah melenyapkanmu.”

Tanpa sanggup bertanya apapun lagi, Jae memilih pergi dari hadapan Kun diikuti oleh aroma amis yang tiba-tiba menguar dari lubang di lantai yang ditunjuk oleh Kun sebelumnya. Kun menatap lubang itu lamat-lamat, kemudian ia mengangkat wajahnya lalu menatap kalian.

“Aku tidak suka kalian membaca cerita ini. Karena kalian sudah mengetahui semuanya, kurasa kalian menjadi yang berikutnya.”

END

Advertisements

2 thoughts on “[Mystic in Europe] Translucence

  1. ASELI KAGET SAMA ENDINGNYA ASTAGAAAA
    pengen aku lanjutin gini nih, “Untuk yang menulis kisahku, kurasa kau juga harus menjadi targetku selanjutnya.” /pulang don/
    di awal udah ngerasa kalo Jae ini dedemit, tapi waktu mereka ketemu di tempat makan langsung berubah pikiran “oh, orang nih kayanya ya.” tapi waktu mau nyampe ending, ternyata si Kun ini dulunya pembunuh astagaa, tenggelamkan sahaja pemuda Qian itu tenggelamkan!! /lalu pergi/

    nice fic kak! keep writing ya! 😉 ❤

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s