[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 9)

mylesbianroommate

My Lesbian Roommate by Mingi Kumiko

{ Jaehyun & Chaeyeon | romance, hurt/comfort, college life | PG-17 }

Previous Chapter

Page 1 | Page 2 | Page 3 | Page 4 | Page 5 | Page 6 | Page 7 | Page 8

.

.

.

“Maaf karena tidak bisa menahan perasaanku, Ji… aku sudah berusaha.”

Hati Jaehyun seakan hendak meledak saking terkejutnya. Chaeyeon menyukainya—yang sedang menyamar sebagai seorang gadis? Ini memilukan dan tak pernah sekali pun terbesit di pikirannya.

Tapi melihat air mata Chaeyeon terus berderai, benak Jaehyun pun mulai disambangi perasaan tidak nyaman. Entah karena ia tak tahu harus berbuat apa atau karena masih terkejut tentang fakta mencengangkan itu, Jaehyun tidak tahu.

Hingga sebuah dorongan yang tak ia mengerti dari mana datangnya, membuat Jaehyun seketika melangkahkan kaki untuk mengikis jaraknya dengan Chaeyeon. Ia dekap gadis yang hatinya tengah bersedih itu lantas membuka kancing jaketnya untuk berbagi kehangatan dengan Chaeyeon.

“Tidak ada yang salah, Chae… seluruh makhluk hidup di bumi ini, bahkan penghuni Uranus pun, pasti akan kesulitan menahan diri untuk tidak jatuh ke dalam pesonaku.” Jaehyun malah mengucapkan hal konyol. Namun itu justru berhasil membuat sungai kecil di pelupuk Chaeyeon berhenti mengalir.

Gadis itu melepaskan diri dari pelukan sahabatnya.

“Kau enggak marah, Ji?” tanya Chaeyeon. Bukannya menjawab, Jaehyun malah menggeladikkan tangan untuk meraih pipi milik gadis itu. Menyeka air mata yang membuat wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Sepasang maniknya menyusuri tiap jemang dari paras jelita itu. Hingga terukirlah seulas senyum dari bibir Jaehyun.

Jaehyun lagi-lagi merasa bahwa tubuhnya sedang lepas kendali. Ia memajukan wajahnya pelan-pelan, kemudian memberikan sebuah sapuan lembut di bibir gadis itu dengan bibirnya. Sentuhan itu sontak membuat Chaeyeon membelalakkan mata.

Jihyun menciumku?

Setelah sekitar lima detik memejamkan mata seraya merasakan bibirnya yang sedang menyatu dengan milik seorang gadis, Jaehyun pun langsung seketika tersadar kalau apa yang sedang ia lakukan ini tidak benar. Buru-buru ia mengendurkan bibirnya yang membulat dan melebarkan jarak wajahnya dengan Chaeyeon.

“Maaf…” ucap Jaehyun dengan napas yang tersengal. Ia tak bisa menekan detak jantungnya yang berpacu hebat.

Chaeyeon bergetar saat menyentuhkan ujung jemarinya ke bagian bibir. Gadis itu terlihat amat terkejut.

“Maaf, aku cuma bermaksud meyakinkanmu bahwa enggak ada hal yang perlu kau khawatirkan. Kau tak perlu repot-repot menghindariku dan menyiksa dirimu sendiri.” celoteh Pemuda Jung itu lagi dan berhasil mengembangkan seulas senyum dari kedua sudut bibir Chaeyeon.

“Ayo, segera pulang…” Jaehyun kembali meraih jari-jari lentik itu untuk ia genggam dan menuntunnya berjalan menuju asrama.

Tanpa Chaeyeon tahu, hati Jaehyun masih sulit menyetabilkan detak jantungnya. Pipinya terasa panas. Bahkan dinginnya angin malam tak bisa mengatasinya.

***

Pagi ini terasa berbeda dari kemarin dan beberapa hari yang lalu. Tentu saja, karena Chaeyeon tak perlu lagi buru-buru berangkat sebelum teman sekamarnya itu bangun. Bahkan pagi ini ia sengaja mengabaikan ponselnya yang bergetar sebagai alarm dan melanjutkan tidur pulasnya.

“Chae, bangun…” sebuah suara berat sekaligus guncangan pada pundak sontak membuat perjalanan Chaeyeon di alam bawah sadar tergugah. Ia lantas mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih menempel. Samar-samar ia menangkap refleksi seseorang di depannya. Chaeyeon pun langsung bangkit saat menyadari bahwa itu adalah Jaehyun.

“Kenapa kau mengenakan itu?” heran Chaeyeon sambil menunjuk celemek yang membalut tubuhnya.

“Aku baru saja masak, lo!” seru Jaehyun dengan riang. 

“Wah, tumben?” mata sayu Chaeyeon sontak melebar.

“Cuma nasi goreng, sih…”

“Mana, mana? Aku mau coba!”

“Masa langsung makan, sih? Harusnya kau mandi dulu, sana…” katanya. Tiba-tiba Chaeyeon meraih tangan Jaehyun. Pria itu langsung terkejut saat Chaeyeon menempelkan pipinya pada lengannya dan bergelayut manja.

“Sepertinya aku enggak enak badan.” ucap Chaeyeon yang lantas membuat Jaehyun panik.

“Pasti karena kau kena angin malam.” Sebelah tangan Jaehyun menyentuh dahi gadis itu. Dan yang ia dapati adalah suhu tubuh Chaeyeon yang lumayan tinggi.

“Kayaknya aku skip dulu, deh, di mata kuliah hari ini.”

“Ya sudah, aku ambilkan sarapan, kemudian minum obat, ya?” ucap Jaehyun yang direspons dengan anggukan patuh oleh Chaeyeon.

Tak perlu menunggu lama untuk menunggu Jaehyun kembali. Sekarang telah ada sepiring nasi goreng kimchi dan segelas air putih di tangannya. Pemuda itu lantas mengambil salah satu sisi ranjang Chaeyeon untuk ia duduki.

“Buka mulutmu…” Jaehyun bersiap menyiduk sesendok nasi goreng buatannya untuk ia arahkan ke mulut Chaeyeon. Untunglah detakan jantung bukan merupakan jenis suara berfrekuensi tinggi. Kalau tidak, bisa ketahuan oleh Jaehyun kalau hati Chaeyeon benar-benar dibuat berdebar oleh kebaikan hatinya.

Kalau begini caranya, bagaimana mungkin aku tak terbawa perasaan?!

Chaeyeon membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari kawannya itu. Ia mengunyah dengan antusias. Ini adalah kali pertama Jihyun memasak, dan ia merasa beruntung karena bisa mencoba rasa masakannya.

“Kimchinya pas.” Chaeyeon berkomentar tanpa diminta.

“Ini, kan, kimchi yang kau beli di supermarket.” Jaehyun memberi tanggapan.

“Tetap saja, Ji… kalau tidak pintar-pintar mengolah, kan, pasti rasanya enggak akan seenak ini.”

“Kau pintar sekali, ya, memuji orang?” Jaehyun tanpa sadar menggeladikkan tangannya untuk mengelus pucuk kepala Chaeyeon. Iya tersenyum meski tipis, kenapa gadis di hadapannya ini membuat hatinya merasa nyaman?

Semua nasi di piring pun habis tak bersisa. Jaehyun meletakkan piring itu di atas meja dan berganti meraih gelas untuk ia berikan pada Chaeyeon. Tiba-tiba hidung Gadis Jung itu terasa gatal. Ia pun menutup sebagian mulut dan hidungnya untuk bersiap-siap bersin.

“Ah choo!” Chaeyeon berhasil mengeluarkan jutaan bakteri dari dalam hidungnya.

PYAR!

Sebuah suara pecahan kaca menyapa telinganya, ia pun lekas menoleh kawan di sebelahnya. “Semangat sekali, ya, bersinmu…” Jaehyun menggelengkan kepala, pura-pura memasang wajah heran.

Omo, maaf…” Chaeyeon langsung panik dan lekas membusungkan tubuhnya untuk meraih pecahan-pecahan kaca di lantai. Namun sebelum ia sempat meraihnya, Jaehyun buru-buru menghalau.

“Tunggu, jangan disentuh.” kata Jaehyun yang mau tak mau harus ia turuti.

Pemuda Jung itu lantas beranjak menuju ke belakang—yang entah hendak melakukan apa di sana. Sampai akhirnya ia kembali datang dengan membawa gelas baru berisi penuh air putih.

“Nih, jangan disenggol lagi…” Jaehyun menyodorkan gelas itu pada sang kawan. Chaeyeon melongo untuk beberapa saat. Namun karena tenggorokannya sudah hampir kering, ia pun menampik pikiran liar itu dan buru-buru meneguk air pemberian Jaehyun.

Jaehyun lantas berjongkok untuk menjamah serpihan-serpihan gelas yang telah terpencar di lantai. Melihat itu, Chaeyeon tak dapat menahan diri untuk tetap diam. Ia letakkan gelas yang telah ia teguk habis isinya hingga kosong itu ke atas meja lantas kembali membungkukkan badan untuk membantu Jaehyun membereskan pecahan kaca itu.

“Aku bilang, kan, enggak perlu… nanti tanganmu berdarah.” Jaehyun kembali mencekal tangan Chaeyeon agar tak ikut membantu dan melanjutkan istirahatnya saja. Tangan mungil gadis itu pun dipegang dengan erat agar tak lagi dapat berkutik.

Chaeyeon dibuat tidak terima atas tindakan Jaehyun. Gadis itu menarik otot matanya dan bersiap memberikan tatapan tajam ke arah kawannya itu. Jaehyun mendongak, bermaksud menegaskan sekali lagi bahwa Chaeyeon tak perlu repot-repot membantunya.

Namun saat kedua pasang obsidian mereka bertemu, baik Chaeyeon maupun Jaehyun pun seakan terkunci oleh tatapan intens yang dipancarkan masing-masing dari mereka. Masih dengan tangan yang bergamit, keduanya benar-benar dihadapkan dengan situasi yang canggung—untuk kesekian kalinya. Satu hal yang tak bisa dipungkiri, meski dari awal tak pernah memikirkan yang aneh-aneh, namun apabila detak jantung sudah tak lagi dikondisikan oleh diri sendiri, maka apa pun bisa terjadi.

Contohnya seperti saat ini, entah dapat ide dari mana, namun perlahan wajah Chaeyeon terus melongok, matanya menutup sedikit demi sedikit. Sedangkan Jaehyun hanya bergeming, tak sejemang pun beranjak dari posisinya. Hingga akhirnya sebuah sentuhan lembut mendarat di bibirnya dan membuat kelopaknya ikut menutup. Sebuah ciuman yang sehangat malam kemarin. 

Ah, Jaehyun jadi tahu bagaimana perasaan Chaeyeon kemarin saat ia tiba-tiba menciumnya.

Mulai sadar bahwa apa yang sedang ia lakukan saat ini sungguh tak bisa dibenarkan, Chaeyeon pun sekonyong-konyong menarik wajahnya. Ia segera merebahkan dirinya di atas kasur dan bergelung kemul, sebisa mungkin mengupayakan agar wajahnya yang bersemu merah tidak terlihat oleh Jaehyun.

Keduanya salah tingkah, namun reaksi yang ditunjukkan berbeda. Jaehyun kembali melanjutkan aktivitasnya memunguti pecahan gelas. Tanpa sadar ia terus terkekeh mengingat kejadian barusan. Bukannya aneh, ia malah menganggap hal itu lucu. Chaeyeon menggemaskan sekali kalau sudah salah tingkah.

Jaehyun kemudian beranjak setelah lama berjongkok dan sudah memastikan bahwa tak ada kaca yang tersisa di lantai—karena pasti akan sakit sekali kalau telapak kaki sampai terkena dan Jaehyun tak mau mati muda karena tetanus juga, omong-omong.

Pemuda itu yakin bahwa motif Chaeyeon membalut seluruh tubuhnya dengan selimut bukan benar-benar untuk istirahat. Akhirnya ia dengan iseng memukul selimutnya seraya kembali berjalan menuju dapur.

Terlalu banyak kenangan mengesankan yang telah ia lalui bersama Chaeyeon. Apakah ia mampu pergi begitu saja tanpa berpamitan?

 _ tbc _

apaan ini njayy kok maksa banget itu kissunya? sori kalo makin ke sini kesannya ngga realistis, terlalu sinetron, dan berbelit-belit. oke, anggap saja chaeyeon itu lola, saking bapernya sampe engga sadar kalo tenaga cowoknya jaehyun keluar pas megangin tangannya, bhay!

Advertisements

11 thoughts on “[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 9)

  1. tunggu” ini knp Chaeyeonnya mendadak jadi absurd gini lel?! :’v

    mungkinkah karena Jaehyun yg main nyosor” ja tanpa permisi? :’v
    jadinya Chaeyeon ketagihan buat nyium si Jahe(?)

    duhh lel rasanya virus Jaeyeon shipper ini mulai menggerogoti pikiranku lel :”
    ga kebayang klo harus tamat disaat mereka lg mesra”ny T^T

    ditunggu selanjutnya lel :”
    ku harap penutupny ga sepahit makan pare lel /dibalang/

    Like

  2. baper aku mah, kalo di drama2 ini udah adegan yg lagi adem ayem, castnya pada rukun sejahtera tapi penontonnya udah tahu ke belankangnya itu pasti nanti ada masalah///ngomong apa kamu mel///
    beneran ini aku dicekokin jae-yeon terus2an, parah-parah, mel tak sanggup, wkwkwkwkwkw
    lha terus ya, pas mereka pelukan chaeyeon gak ngrasa gitu dadanya jae rata. eh tapi kan udah pake pengganjal mungkin ya, wkwkwkwkw udah lah, mel suka sih sejauh ini, tapi paling entaran chaeyeon ngejauhin jaehyun dulu setelah tahu kalau jaehyun itu cowok. terus2 mas eunwoo kok gak nongol2, terus aku kebablasan bikin skenarion sendiri, hehe
    Oke, Dadahhhh… XD

    Liked by 1 person

  3. Ett… sudah main ciom ciom ya ini berdua. Huh, jadi gemas!

    Sudah Jae.. buka semua penyamaranmu! Buka wig dan penyumpal dadamu lalu berteriaklah dengan lantang untuk meyakinkan Chaeyeon. “Chae, aku laki-laki. Aku memang pencinta wanita… Namun ku bukan buaya…” /napa malah nyanyi, sih?/ /haduh/

    Plis, buat Yerim move on, ke Eunwoo kek atau lainnya. Aku tidak rela kalo kebahagiaan ini lenyap di tengah jalan 😦 /apaan dah/

    Yasudah, Lel. Kutunggu next chapternya yaa. Semangat

    Liked by 1 person

  4. Ya allah ya robbi ya tuhanku :’v Kok aku ikut baper ya? Iya sih, siapa yg bisa menghalau pesona Jae meskipun dia jadi cewek sekalipun? Gk pernah kebayang pas adegan malam itu mereka bakal kisseu :’v Kirain cuma sekedar pelukan atau apa gitu :’v Jadi ikutan senang kalau Jaeyeon senang, oke lah gapapa demi kelancaran ff, aku bakal nahan sakit //plakk// GAK GITU JI//

    Kok jadi kepingin punya pacar kayak Jaehyun ya? Apalagi pas sakit gitu kan cewek emang lagi manja-manjanya. Sayangnya Jaehyun jauuuuuuuuuuuuuuh di sana, kalau di Malang udah kuculik & kukunci di rumah biar gk ada yg ambil.

    Enggak sinetron kok mbalel, ini kan ff //ngacir//
    Pokoknya ini bagus. Enggak bohong, mulai awal sampai akhir aku baper terus bawaannya, padahal udah antisipasi di chapter ini pasti makin banyak adegan romansenya wkwkwkwk Jadinya ya terima takdir aja. Dan aku gk tahu ini lagi nulis apa, berasa otak lagi melayang sama Jaeyeon //alay mode on//

    Like

  5. Menarik banget deh.. Uduh chae kayanya udah ngecanduin jaeh deh, gile dia langsung nyosor aee.. Yelah insting liar. Itu artinya traumanya bisa sembuh yah, guudd.. Tapi rasanya hubungan ini bakal kandas gegara yerim. /author siapa sih?/

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s