[Mystic in North America] 01001000 01001001

01001000 01001001

Storyline by Joongie © 2017

Creepy, Thriller || Yuta, Johnny, Mark || Vignette (PG17)

Kitsault Town, Canada.

.

01010000 01101100 01100101 01100001 01110011 01100101 00100000 01000100 01001001 01000101 00101110

.

Yuta menggerutu, berjalan sambil menendangi kerikil. Bule sialan itu pergi setelah marah-marah dan memerasnya, padahal tujuannya masih sejam lebih dari perbatasan Prince Rupert. Dia mengeluarkan ponsel, mengarahkan kamera ke wajahnya yang bersungut-sungut.

“Betisku bisa sebesar lengannya Dwayne Johnson kalau mesti jalan kaki sampai ke Kitsault. Catatan, orang-orang di sini cenderung menghindari pembicaraan soal Kitsault—malah ada yang bersikap keras. Contohnya aku, ditelantarkan taksi brengsek setelah minta harga selangit,” ocehnya, kemudian menyorot kamera ke sekeliling.

Yuta merupakan youtuber sekaligus penulis creepy riddle. Dia biasa mengunggah konten-konten mistis seperti liputan penampakan ataupun aksi uji nyali bersama rekan sejawat. Tetapi bulan lalu dia dapat serentetan pesan misterius, diawali dengan: 01001000 01001001 yang bila diterjemahkan jadi HI. Semua dalam bentuk kode biner, yang semakin hari kian memprovokasi Yuta untuk bertandang ke Kitsault dan melakukan perburuan hantu.

Hi… kalau kau memang punya nyali, lakukan ekspedisi sendirian. Kitsault Town, Canada. Mari bertemu.

Lebih-lebih, dia bernafsu mempecundangi bedebah yang berani menantangnya.

Berulang kali Yuta meyetop taksi, namun semua kompak menolak saat dia menyebutkan tujuan. Mereka enggan ketiban sial, dalihnya. Matahari sedang tinggi-tingginya, dengan jet lag yang belum reda membayangkan jalan kaki sampai ke Kitsault siang bolong begini sudah membuatnya bak diazab. Yuta melepas penat di pohon tulip poplar, daunnya kekuningan dan lumayan teduh untuk menaungi. Namun niat Yuta memuaskan dahaga urung, sewaktu dia melihat Mark bersama keledai yang menarik wagon melintas. Matanya mengekori laju wagon yang lambat selama beberapa saat dan yakin mereka searah.

“Hei! Tunggu sebentar!” imbau Yuta, bergegas menyusul Mark.

“Ada apa?” Mark menoleh sambil menarik tali kekang.

“Boleh aku menumpang?”

“Ke mana?”

“Kitsault, kalau kau tidak keberatan.”

Selintas Yuta bisa lihat napas laki-laki itu tertahan pun caranya memandang jadi berubah. Tapi sejurus kemudian dia mengangguk dan menjawab, “Naiklah.”

Usai menyerukan terima kasih, Yuta bersemangat melompat naik menyempil di antara jerami. Perjalanan sunyi itu cuma diisi suara tapal keledai serta gemerisik pohon sekitar. Gerimis barusan turun dari langit yang cerah—hujan panas istilahnya—sehingga aroma petrichor membaur kencang di udara. Dalam kecanggungan Yuta memerhatikan penampilan Mark; topi boni berkedudukan mantap di kepalanya, mengenakan kemeja tartan dan jumpsuit rombeng khas penggembala.

“Ada urusan apa ke sana?” tanya Mark melebur kecanggungan.

“Seseorang mengundangku ke sana.”

“Bukannya kota itu tanpa penghuni?” herannya.

Yuta mengedikkan bahu lantas berkelakar, “Entahlah, aku juga tidak tahu dia orang atau bukan. Oh ya, aku penasaran kenapa penduduk cenderung menutup akses ke sana, padahal setahuku pemerintah berencana menghidupkan kota itu lagi. Katanya tidak ada hantu, lalu kenapa? Takut dijarah?”

Mark menggeleng. “Kau tidak banyak tahu soal kota ini.”

“Makanya aku bertanya.”

“Memang ada baiknya kaudengarkan saran mereka. Pulang dan urungkan niatmu. Jangan gegabah, kau tidak pernah tahu apa yang akan kautemui. Satu-dua memunculkan diri, tapi lainnya? Tidak terduga besar energinya,” saran Mark ambigu.

“Kalimatmu rumit,” tukas Yuta yang alisnya terjungkit tajam. “Kalau memang ada hantu justru bagus, ‘kan? Perjalananku kemari jadi tidak sia-sia, setidaknya ada yang bisa kutunjukkan kepada follower-ku selain kota tak terurus.”

“Lagi pula tidak ada yang bisa dilakukan hantu selain melayang menembus tembok, mengeluarkan suara bising, dan menggerakkan benda. Aku sudah khatam dengan semua itu. Malah kadang hantu itu cuma ketakutan manusia dan perwujudannya cenderung cuma ilusi yang diciptakan otak,” Yuta bersesumbar sambil mengetuk-ngetukkan telunjuk ke pelipis.

Mark tersenyum samar, tidak merespons dan kembali memandang jalan sembari melecut keledainya untuk mengentak aspal lebih cepat.

Welcome to Kitsault,” gumam Yuta membaca plang berlumut yang membentang di atas kepala. Dia disambut pemandangan asri, menyejukkan melihat pohon-pohon rindang berjajar di sepanjang jalan. Saking sunyinya, pemuda itu bisa mendengar derapnya sendiri.

“Aku sudah sampai. Kalian bisa lihat, ‘kan? Sepi seperti perkiraan.”

Yuta mengarahkan kamera ke berbagai objek: rumah-rumah lapuk, pekarangan berselubung ilalang, serta beberapa gedung terbengkalai yang tampaknya dibangun awal tahun 2000—sedikit banyak dia mengorek informasi bahwa Kitsault pernah dijual senilai 5,7 juta USD untuk dibangun lagi pada tahun 2004. Dulu Kitsault dihuni sekitar 1200 pekerja yang menetap untuk menambang molibdenum. Tetapi kejayaannya berlangsung dua tahun saja, sebab harga molibdenum mendadak terjun bebas dan perusahaan Phelps Dodge gulung tikar. Pabrik ditutup sementara penduduk terpaksa angkat kaki.

Singkatnya begitu yang Yuta tahu.

Berdasar instruksi dari si Anonim, Yuta akan bermalam di rumah nomor enam di blog empat. Semuanya berselimut debu, lantainya kotor, sampah dedaunan berserak di teras dan ruangannya berbau apak. Tapi satu yang mencuri atensi Yuta, ruang makan yang kental akan nuansa Asia. Tudung serta sumpit berkarat yang berserakan di kabinet dapur, menuntunnya pada kesimpulan bahwa pernah ada keluarga Asia yang menempatinya.

Beberapa bohlam putus, kendati demikian rumah ini masih dialiri listrik dan air. Yuta bertelanjang, menyalakan shower dan membasuh bau peluh. Air yang dikucurkan keruh berbau logam, pun menyerupai lumpur. Tetapi keanehan terjadi, air yang berwarna kecokelatan justru berubah kental dan merah saat mengalir di ubin. Yuta terkesiap memeriksa diri sementara bau anyir kian menguar.

Yuta mendengus lalu tersenyum mafhum. “Oh … mulai main-main, ya?”

Sambil melilit handuk, dia menyalakan kamera infrared. Menyorot pojok-pojok ruangan—yang biasanya rawan penampakan. Nihil. Selintas orbs pun tidak tertangkap. Yuta mendesah sebal, mengaduk-aduk isi ransel mencari setelan training. Kalau mereka main kucing-kucingan, itu berarti Yuta harus berburu. Pantang baginya pulang dengan tangan kosong setelah semua biaya yang dikeluarkan.

Jumat ketiga belas merupakan waktu keramat, tanggal terkutuk yang diyakini Yuta akan membawa peruntungan. Adrenalinnya bergejolak saat menyisir kota hantu itu sendirian. Malam semakin mencekam, angin menderakkan batang-batang pohon dengan cara tak biasa. Apalagi sedari tadi dia merasa ada mata yang mengawasi dari balik punggungnya, tapi saat ditengok tidak seorang pun di sana. Yuta menyipit lagi, pohon berkeluk-keluk di belakangnya tampak bergerak. Sepintas dia melihat seseorang di sana, mengenakan jin lusuh dan kemeja kedodoran.

“Halo?” serunya sambil menyorot dengan senter.

Laki-laki itu berbalik, separuh wajahnya ditelan bayangan dan samar-samar tampak tersenyum, memamerkan bibirnya yang menghitam. Yuta mengerjap, sosok itu kembali berupa pohon yang berayun pelan.

Lonely… I Mr. Lonely

I have nobody for my own

I’ve been forgotten, yes, forgotten

Senandung sayup-sayup terdengar, Yuta melongok ke segala arah. Nyanyian itu kian lirih bercampur isak tangis yang berasal dari rumah tempatnya menginap. Lampu ruang tamu menyala, siluet kehangatan keluarga menari juga bersenda gurau sambil memasang piringan hitam muncul di jendela. Yuta berusaha merekam, tapi kameranya mendadak malfungsi.

Dia mencoba tenang, menelan bongkahan di kerongkongan selagi kembali ke rumah. Tepat ketika pintu dibuka, segala keriuhan sirna berganti perasaan merinding. Lampu tiba-tiba meledak, Yuta tergagau waswas dalam kegelitaan. Ponselnya bergetar, berduyun-duyun pesan masuk: 01001000 01001001. Disusul komputer yang mendadak menyala, layarnya biru dan dipenuhi barisan kode biner.

“Cuma segini saja trikmu?” tantang Yuta.

Bunyi pintu dihempas bak merespons. Dalam keremangan yang mendebarkan, dia mendengar langkah yang diseret-seret. Yuta kontan mengarahkan senter ke arah pintu. Muncul di sana Johnny yang separuh mukanya hancur, berjalan dengan kaki yang bengkok. Urat di lehernya terpapar, berbelatung dan bau anyirnya membuat mual. Yang paling mengerikan adalah senyumnya, bibir hitam yang robek sampai ke pipi itu tersenyum sinis.

“Kau ….” Sontak Yuta terperenyak, kameranya terhempas. Dia menyeret tubuhnya mundur dengan susah payah. “Kau itu apa? Apa maumu?”

“Kau harus mati …,” suaranya menggema dan Johnny berpindah ke hadapan Yuta lebih cepat dari kedipan. “Kau harus mati setelah apa yang kaulakukan padaku.”

“Aku tidak mengerti apa yang kaubicarakan, hantu sial!”

Yuta berusaha meraih kamera, tetapi Johnny sigap melayangkan benda itu ke dinding. “KAU HARUS MATI!” hardiknya, datang mencekik leher Yuta lalu mengangkat tubuhnya. “Kau adalah reinkarnasi Nakamoto Ryota, orang yang bertanggung jawab atas kematianku!”

“Ap-apa mak—ugh ….”

Desas-desus mengatakan alasan matinya pertambangan Kitsault adalah kutukan. 1981 tepatnya pembunuhan—yang disamarkan sebagai kecelakaan—terjadi. Seo In Ha dan putranya Seo Johnny tewas dalam uji coba TNT untuk memperluas galian tambang. Dalangnya adalah sang mandor, Nakamoto Ryota. Tubuh mereka remuk, teriakan sekarat diabaikan dan mayat mereka tidak pernah diketemukan.

“Kau juga membuat ibu serta adikku menangis darah sampai mati,” kecamnya, menghempaskan badan Yuta ke rak tua sampai foto-foto lawas berterbangan.

Selembar foto jatuh ke wajah Yuta, potret keluarga Johnny yang ditetesi darah yang mengalir dari hidungnya. “Aku bahkan tidak ingat kehidupanku yang sebelumnya! Menurutmu ini adil? Kenapa tidak balaskan dendammu pada Ryota? Aku Yuta, bukan Ryota!”

“Karena kau yang mengurung jiwaku di kota ini! Satu-satunya cara bagiku untuk balas dendam adalah membuatmu menginjakkan kaki kembali ke Kitsault.” Intonasinya meninggi, aura kelam semakin mengungkung Johnny.

“Semua yang kaulakukan tidak lebih dari gertakan. Mau mengguncang psikisku? Jangan harap. Satu-satunya yang mengerikan darimu cuma wujudmu,” sergah Yuta, dia menunduk meludahkan darah bercampur liur. Mimiknya satiris.

“Bukannya hantu tidak bisa membunuh manusia?” Yuta lalu bangkit, tertawa sambil mengusap darah yang masih mengucur dengan punggung tangan. “Kau mungkin bisa menyakitiku, tapi tidak pernah ada hantu yang benar-benar berhasil membunuh manusia.”

“Aku memang tidak bisa, tapi kau bisa.”

“Jangan bilang ….”

Johnny mengulas senyum, pun foto-foto yang berserakan berubah menyeringai. Detik itu sekujur badan Yuta mengejang, matanya membelalak ketika Johnny semakin mengikis jarak. Jiwa mereka bersentuhan dalam satu titik temu. Dia berhasil merasuki Yuta, menggerakkan badannya bak boneka. Mengeluarkan pistol dari nakas, lantas menodongkan moncongnya ke pelipis.

Peluru segera meletus. Yuta tersungkur, menggelepar sekarat terekam kamera.

Dari balik pohon perdu di pekarangan, Mark menyaksikan segalanya dalam desah. “Sudah kubilang, ‘kan?” gumamnya, berlalu menghampiri keledainya yang dititipkan pada Ten.

“Dia membunuh manusia lagi?” Ten penasaran, kemudian seolah bermonolog dia melanjutkan, “Astaga, dendamnya itu benar-benar. Berarti penduduk kota ini jadi bertambah, ‘kan?”

Mark mengamini. “Dia akan jadi tetangga baru kita. Penghuni rumah nomor enam. Johnny itu … sepertinya benar-benar ingin menjadikan tempat ini sebagai kota hantu.”

“Sebenarnya menurutku, dia lebih mirip hantu kesepian.” Ten terkikik.

—Fin—

Plz notiz, ini cuma fiksi alias ngarang banget dan kenyataannya aku memang ga tahu bagaimana respons penduduk sana soal turis-turis yang datang mau uji nyali di Kitsault. Jadi kalau ada yang ga bener atau salah dalam penyampaiannya, I’m so sorry.

Dan sumpah ini absurd banget, aku malu. Sekian. /-\

Advertisements

9 thoughts on “[Mystic in North America] 01001000 01001001

  1. WAW!
    PERCAYALAH KAK, AKU HAMPIR MEPERCAYAI SEMUA INI DAN TERNYATA INI HANYALAH IMAJINASI SEMATA?!
    Tak apa, overall jalan ceritanya bagus kok, kusuka kyaaaa 😍😍😍
    Keep writing, Kak! ☺☺☺

    Liked by 1 person

  2. KAK AKU KEMBALI SESUAI JANJIKU SEBELUMNYA /lalu digebuk karena baliknya kelamaan/
    pertama, aku mau acungi jempol dulu buat kak ikke soalnya eksekusinya bagus banget huhuhuuu TT_TT suasana seremnya dapet banget (atau emang aku yang parnoan?) waktu yuta di kamar mandi dan tiba2 air shower berubah jadi…….darah?
    terus itu juga ada si om johnny jadi arwah gentayangan astagaaaa kak ntar ada yang ngambek loh @berlyvirgiyani /gelinding/

    nice fic kak! keep writing! ❤

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s