[Mystic in Europe] Rotten Cross

Rotten Cross

LDS, 2017

.

                Tiang listrik Chicago sialan!, umpat Chittaphon di bawah napasnya. Kemudi mobil sewaan dicengkeramnya erat-erat lantaran tidak bisa mencekik orang yang ia kutuk.

                Haverfordwest mungkin kota kecil yang damai, tetapi wilayah itu tetap saja merupakan salah satu titik termistis di Pembrokeshire, lokasi liburan Chittaphon dan Johnny kali ini. Meski berangkat bersama dari Seoul, mereka sepakat untuk berpisah selama tiga hari pertama untuk menjalankan tantangan ‘horor’ tadi—yang ‘si tiang listrik Chicago’ namakan ’72 Jam Mendekati Kematian’. Seru dan mengusik ego jantan Chittaphon, namun sekarang, pemuda Bangkok itu benar-benar menyesal. Apa yang diperolehnya dari permainan sejenis dare ini selain sensasi merinding di belakang leher?

Misi pertama dari Johnny—di Broad Haven, tak jauh dari Haverfordwest—masuk ponsel Chittaphon saat makan siang, bunyinya ‘sewa sebuah mobil, lalu parkirlah di tepi jalan yang menghubungkan Haverfordwest dan Milford Haven dari pukul lima sore sampai jam sepuluh malam; jangan keluar kendaraan atau pergi dari sana sampai jam yang kutentukan’. Kurang kerjaan betul! Memang siapa yang mau bertahan selama lima jam tanpa melakukan apa-apa di pinggir jalan? Lagi pula, baru ia sadari, kehangatan senja Haverfordwest tidak menjangkau perbatasan kotanya. Momen matahari terbenam begitu mengintimidasi dengan siluet ranting pohon gundul yang mirip cakar hewan buas dan warna merah langit yang Chittaphon rasa kelewat gelap. Malam bahkan belum turun, tetapi petang mencekam di jalanan sesepi Lane A4076 sungguh bukan untuk dihabiskan seorang diri.

Angkasa akhirnya berselubung gelap. Lampu mobil dinyalakan, tetapi aura misterius jalanan justru menguat karenanya. Chittaphon bergeser gelisah di jok; sebelah tangan mengeraskan radio selagi tangan yang lain mengetuk-ngetuk kosong sisi kemudi.

‘Menurut mesin pencari, di lane itu sering ditemui biarawan bertudung yang berjalan ke arah Augustine Priory. Bukan manusia. Kalau berjalan, kakinya tertanam dalam di tanah.’

Nah, sialan kan, si tiang listrik ini?

‘Di mana kau sekarang?! Awas saja andai cuma aku yang menjalankan misi ini dan kau bersantai di penginapan!’

Balasan pesan selanjutnya tidak begitu penting, hanya Johnny yang mengirim foto dari lokasi uji nyalinya dan menertawakan ketakutan Chittaphon, membuat si penerima pesan jengkel serta tidak sudi menengok ponsel. Ia lantas bersandar sembari mendesah keras, merenggangkan tubuh sebelum menekan ‘lanjut’, tidak mau dininabobokan balada walau sudah lelah menunggu sekitar satu setengah jam. Dentum musik dance memenuhi rungu; yang mendengarkan baru akan menggoyangkan kepala ikut irama ketika radionya mendadak mati.

Keringat dingin berebut muncul di permukaan kulit Chittaphon. Pemilik dagu runcing itu memencet beberapa tombol pada radionya, berusaha menyalakan, sayang nihil hasil.

“O, ayolah! Di sini sepinya keterlaluan!” teriak Chittaphon frustrasi, entah pada siapa ia mengeluh. Beruntung, otaknya bekerja cepat; ponselnya belum habis daya, maka ia berpindah menikmati daftar putar pada perangkat pintar tersebut. Seraya menghanyutkan diri dalam lagu, suatu pemikiran mampir dalam benak si pemuda.

Hantu yang kakinya tertanam ketika berjalan? Aneh, mereka bukannya tidak punya kaki?

Mempertimbangkan kekonyolan fakta yang disampaikan sahabatnya, Chittaphon berkesimpulan bahwa Johnny barangkali cuma mengerjainya menggunakan omong-kosong mengenai arwah biarawan itu.

Hei, tapi bunyi seretan langkah kaki menuju mobil Chittaphon terdengar begitu nyata.

Sekonyong-konyong, Chittaphon menoleh ke belakang, memicing demi mempertajam penglihatan. Tidak ada siapa-siapa di balik kabut yang tahu-tahu saja menebal. Sempat ia mengerjap beberapa kali; apa ia melewatkan sesuatu? Sepertinya tidak. Ia nyaris bernapas lega, tetapi kesalahan terbesarnya adalah kembali ke posisi duduk awalnya.

Kata kotor menggantung di ujung lidah Chittaphon yang kelu.

Biarawan bertudung!

Sosok itu tampak kecil, wajahnya tak jelas karena dia—sesuai namanya—mengenakan jubah bertudung yang menutup separuh muka. Ditambah, waktu itu pencahayaan sangat kurang, memperburuk kesan yang menyelimuti ‘hantu’ ini. Kaku, Chittaphon tak mampu melepaskan anak matanya dari si sosok misterius, betapapun inginnya dia. Sosok itu bertambah dekat, berjalan lambat di sisi yang berseberangan dari mobil, dan kepala Chittaphon berputar mengikuti pandangannya.

K-k-kakinya tidak tertanam!

                Manusiakah? Arwahkah? Lentera yang dipegang sosok biarawan itu bergerak ke kanan-kiri dengan hampa, seolah mengatakan ‘coba tebak’. Johnny bilang biarawan bertudungnya Haverfordwest kakinya tertanam di tanah; ini?

                Manusia?

                Tidak lama, sosok itu menghilang ke dalam kabut. Secara impulsif, telapak Chittaphon menggerakkan persneling, memutar setir perlahan mengikuti sosok tadi, tetapi setelah ‘memasuki’ kabut yang sama, Chittaphon tidak mendapati orang itu lagi. Jalan lurus di hadapan berujung pada reruntuhan biara zaman pertengahan, Augustine Priory, yang menguatkan dugaan mengenai hantu biarawan bertudung.

                Belum pernah Chittaphon mengemudi dalam kondisi setengah sadar begini. Sesuatu seakan mendorongnya menyeberangi batas yang ia sendiri takut melangkahi. Apa dia sudah terjebak untuk masuk ke lain dunia? Rasa penasaran akan sang biarawan menjeratnya dan sulit baginya lepas. Mobil begitu saja melaju menuju Augustine Priory, tidak berharap sang biarawan ada di sana … hanya ingin tahu.

                Beberapa meter dari kawasan biara lawas, Chittaphon menemukan biarawan bertudung itu lagi. Ia sontak menginjak rem keras-keras, inersia menyentaknya ke depan.

                Buat apa aku mengikutinya?!, Baru ia sadar akibat yang mungkin menyertai sikap gegabahnya, Tidak, tidak, dia tak boleh tahu aku di sini.

                Chittaphon harus mengerti bahwa batin tak selamanya sejalan dengan kaki. Lihat saja bagaimana ia akhirnya membuka pintu mobil dan mengendap hati-hati menuju lingkungan reruntuhan. Jantungnya berdegup tak karuan dalam proses ini. Biarawan itu, semakin Chittaphon dekati, memang semakin terlihat seperti manusia, sayangnya itu tak mengurangi kegentaran sekaligus keingintahuannya. Lebih masuk akal kalau biarawan itu benar-benar hantu biarawan …

                … tapi manusia? Di bangunan tua?

                “Tolong ….”

                Suara anak-anak?

                “Tolong ….”

                Si biarawan masuk ke area reruntuhan. Chittaphon mengintip ke dalam; suara lemah anak-anak makin jelas tertangkap.

                Apa yang Chittaphon saksikan selanjutnya lebih mengganggu dari cerita hantu Haverfordwest yang Johnny bombardirkan.

Dikelilingi dinding bata biara yang tak utuh, terdapat sebuah lingkaran merah besar, terukir bintang di tengah-tengah. Di atas gambar bintang bergaris tengah kurang lebih lima meter itu, duduk melingkar sejumlah anak, mata mereka ditutup kain hitam, tangan dan kaki diikat, mulut tersumpal, ada juga yang tersumpal sebagian sehingga masih bisa berteriak.

Biarawan bertudung itu mengeluarkan pistol dari balik jubahnya.

Satu letusan. Satu kepala anak berdarah, berlubang, dan anak itu jatuh. Dua, tiga, empat, sepuluh. Biarawan bertudung itu menyanyikan sebuah lagu dalam bahasa Latin—mungkin?—sembari membunuhi anak-anak malang itu.

Chittaphon gemetar.

Panggil polisi!

Tapi si biarawan bertudung, tepat setelah anak terakhir tumbang, menoleh ke arahnya dan menyeringai.

Lari!

Tapi kaki Chittaphon tak sejalan dengan benak.

Biarawan bertudung itu menghampirinya dalam langkah lambat, moncong pistolnya terarah ke kepala Chittaphon.

TAMAT

Advertisements

4 thoughts on “[Mystic in Europe] Rotten Cross

  1. gemash ya sama kak liana, endingnya kenapa ngegantung banget :’) /lalu digiles/
    sempet mikir si biarawan itu Johnny—atau valak?—yang mau ngajak Ten buat masuk ke lingkaran mereka………nobody knows. hanya Chittaphon dan si biarawan yang tau /.\

    nice fic kak! keep writing! ❤

    Like

  2. Suda saatnya kak li bikin novel yang beginian😊 dan bodohnya aku yang ngga tau kalo ‘tiang listrik Chicago’ itu panggilan sayangnya Ten ke Johny malah kukira tiang listrik beneran 😂

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s