[Mystic in Europe] A Wait on The Dock

A Fanfiction by Mingi Kumiko

|| NCT’s Taeyong & Doyoung | AU! psychology, angst, creepy | PG-17 ||

“Doyoung, apa kau tahu bagaimana rasanya pergi dari dunia ini?”

.

.

.

Sudah hari Jumat ya? Wah, aku tidak menyangka akan datang secepat ini. Tapi masih pagi, belum saatnya aku meluapkan seluruh kebahagiaan karena hari terbaik dalam tujuh hariku telah datang.

Tiap pagi, aku biasa membersihkan rumah terlebih dahulu. Tak sekadar menghilangkan debu-debu yang menempel pada koleksi guci ayah, namun aku juga memastikan bahwa lantai telah mengkilap hingga mampu merefleksikan paras tiap penghuni rumah yang menelungkupkan kepalanya.

.

.

.

“Ibu tidak perlu khawatir, Taeyong hanya duduk dan menikmati semilir angin di dermaga. Ia tidak sama sekali melakukan hal yang mencurigakan.” samar-samar kudengar suara pertikaian ayah dan ibu. Meski intonasi ayah rendah, namun tetap bisa kudengar sanggahan ibu dengan suara paraunya.

“Dia tetaplah anak yang harus kita awasi, Yah… kita tak boleh membiarkannya berbuat aneh-aneh. Bagaimana jika nanti tetangga tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya?”

Persis setelah serebralku berhasil mencerna tiap frasa yang ibu ucapkan, aliran darahku pun serasa berhenti. Apakah perkataan ibu barusan adalah ungkapan lain untuk mengatakan bahwa ibu malu memiliki anak sepertiku?

Tapi… apa salahku?

Kupikir dengan menjadi anak yang rajin membersihkan rumah akan membuat kedua orang tuaku bangga. Aku bahagia memiliki ibu dan ayah. Sebagai rasa terima kasihku, aku selalu berusaha meringankan beban mereka.

Saat ibuku bilang tak sanggup membiayai pendidikanku di sekolah menengah, aku dengan polosnya mengangguk dan menerima kenyataan itu. Kala itu ibu menangis, air muka menyesal jelas tergurat di wajah cantiknya. Namun aku dengan hangat mendekapnya, mengatakan bahwa tidak masalah jika harus belajar sendiri di rumah. Aku tetap bersyukur memiliki mereka bagaimana pun keadaannya.

Namun sepertinya mereka tidak.

.

.

.

Aku tak memiliki sisa kesabaran untuk menunggu sore hari datang. Kuputuskan untuk menerjang pintu dan berlari sekencang-kencangnya menuju dermaga. Ayah sedang pergi bekerja, sedangkan ibu ada di belakang untuk membereskan cucian. Jadi tak ada seorang pun yang menghalangiku untuk keluar rumah seperti minggu-minggu sebelumnya.

Sesampainya di dermaga, manikku pun langsung di sambut dengan lautan biru yang membentang luas. Tak kulihat satu pun kapal yang bertambat di sana. Mungkin karena ini bukan musim liburan, jadi tak banyak kapal pesiar yang beroperasi. 

Tak lagi mengejutkan apabila aku mendapati suasana sepi seperti ini. Hanya semilir angin laut menerpa wajah dan membuat beberapa helai suraiku berterbangan.

“Wah, tumben sekali datangmu siang-siang begini?” aku sudah punya firasat dia akan datang untuk menyambut kehadiranku. Kini ia telah duduk di sampingku, seakan ingin melakukan hal yang sama—merasakan embusan angin.

“Doyoung, apa kau tahu bagaimana rasanya pergi dari dunia ini?” pertanyaanku yang tiba-tiba membuat kepalanya sontak mendongak.

“Kupikir itu bukan masalah besar. Dengar-dengar, kau bisa terlahir kembali dan menjadi sosok yang baru.” papar Doyoung.

“Benarkah? Apakah seseorang itu akan lebih baik dari sebelumnya?”

“Entahlah, kemungkinan begitu. Mau kubuat kau merasakannya?” jawab Doyoung disusul dengan seringai tipis dari sebelah sudut bibirnya.

“Apakah rasanya bakal lebih menyenangkan daripada saat kita mendayung perahu untuk mencari kura-kura?” aku tak kuasa menahan raut semringahku saat Doyoung lagi-lagi hendak memberitahuku jawaban dari segala kuriositas di kepalaku.

“Ingat saat kau bilang kalau berenang menyusuri lautan perbatasan hingga kita sampai Jepang adalah hal yang paling seru? Mungkin itu tak ada apa-apanya.” 

Mendengar ucapan Doyoung, mataku pun langsung berbinar.

“Ayo, kita lakukan sekarang!” aku mencengkeram erat lengannya, membuat gestur membujuk.

“Kau tidak lihat kalau aku cuma datang dengan tangan kosong?”

“Kita tetap bisa melakukannya, kok!” aku berusaha menyanggah. Kukeluarkan sebuah benda dari kantungku untuk kutunjukkan pada Doyoung. 

“Wah, bagaimana bisa benda itu ada dalam kantungmu?” ia menatapku dengan pandangan penuh penghargaan. Namun daripada menggubris, aku lebih memilih diam. Aku yakin sejatinya ia tak seberapa memerlukan jawaban.

Aku sangat menyukai Doyoung. Selain tampan, dia juga sangat pintar. Doyoung adalah orang pertama yang bersedia mengajakku bicara duluan. Tidak seperti orang yang kukenal kebanyakan, mereka selalu menatapku dengan sorot jijik meski aku belum melontarkan satu patah pun kata.

Pertemuan pertama kami adalah di dermaga ini. Ia datang menghampiriku yang kala itu tengah terduduk sendiri di dermaga. Saat itu aku yang jenuh karena terus-terusan di kurung di kamar mencoba keluar rumah dengan cara membobol jendela. Aku bukannya ingin kabur. Hanya saja aku bosan terus-terusan berbaring di kasur tanpa ada kegiatan.

Baru saja ia memberitahuku suatu hal yang sangat menarik. Katanya aku bisa terlahir kembali! Aku menginginkannya. 

Karena diriku yang sekarang agaknya belum bisa membuat ibu dan ayahku bahagia.

“Cara memakainya dengan menusukkan benda ini ke perut, kan?” tanyaku sambil menatap lamat-lamat multi tool di tanganku.

“Bagaimana kalau menyayat nadi hingga membentuk pola terlebih dahulu? Setidaknya luangkanlah waktu untuk memiliki sebuah permainan.” Doyoung memberi saran.

“Ide yang bagus…” ujarnya yang tanpa pikir panjang langsung kuturuti. Kugoreskan pisau bergerigi ke area tulang pengumpilku hingga cairan merah pekat mengucur dari kulit.

“Kok, rasanya cenat-cenut, sih?” tanyaku pada Doyoung.

“Kau terlalu pelan menggoresnya, bodoh!” jawabnya dengan cemoohan. “Kalau kau keburu ingin mati, langsung tancapkan saja ke perutmu. Tapi jangan sampai salah tempat. Tusuklah dengan agak ke dalam, oke?”

“Di mana? Di sini?” aku mulai mengarahkan pisau berukuran paling besar dan tajam ke area di bawah pusarku.

“Kurang naik sedikit.”

“Ah, oke…”

SREKK!!!

Aku yang awalnya cuma berniat menancapkan pisau ke ulu hati pun kini berubah pikiran. Kugerakkan pisau ke kanan dan kiri agar sobek sekalian.

Setelah ini, sebuah perjalanan yang menyenangkan akan menyambutku. Aku akan pergi dari dunia ini.

Pandanganku memburam, kesadaranku yang mulai hilang disertai dengan presensi Doyoung yang perlahan enyah dari penglihatanku… dan semoga pula dari kehidupanku.

Karena keberadaannya, kan, yang membuat orang tuaku selalu gelisah?

– end –

maaf ya kalau jelek dan engga jelas 😦

ini mungkin emang jauh dari genre urban legend. duh gimana ya, googling sampe ke dalem-dalem tetep ga nemu kisah semacam itu di pembrokeshire. terus aku baca-baca juga kalo pembrokeshire itu paling terkenal dengan pemandangan dermaganya.

makasih untuk yang sudah mau baca dan meramaikan event ini ~~ terakhir, jangan lupa komen ya ^^

Advertisements

8 thoughts on “[Mystic in Europe] A Wait on The Dock

  1. KAKLEL APAKAH INI EFEK ABIS NGELIAT PREWEDNYA MAS ONG JADINE AMARAHKU TERSALURKAN LEWAT SAYAT-SAYATAN TAEYONG? /salahdon/ /digiles/
    aduh kak, itu ga salah si Taeyong milih buat bunuh diri? :’) yakin ga butuh simbah buat ngilangin depresimu, mas? :’)

    nice fic kak! keep writing ❤

    Liked by 1 person

    • lahh enggak XD efek dikejar deadline, apaan sih…….. baik2 sahaja aku melihat foto mas Ong :’v
      itu Taeyong dibegoin sama Doyoung percaya aja tauk dehh mungkin otaknya tertinggal seperti Ong Seong Woo wkwkwk
      makasih yaaa sudah baca ^^

      Like

  2. Meskipun gak horor, tapi ff ini tetep memicu adrenalin. Btw, karakternya Tiway hampir mirip sama Lele di Mistik Yurop punyaku,, cuma di sini tiway lebih kelihatan depresi akut ya, sampai dengan begonya dia nggambar pola di nadi pake piso ~0~ Terus juga perutnya disobek sendiri itu ya tuhan /_\ Sini mas Doyoung ikut sama Jiyo aja, ntar tak cemplungin ke brantas bisa impas, ‘kay?? //LALU IKUTAN NYEMPLUNG//

    Sebenernya udah baca ff ini dari tempo hari, tapi seperti yang sudah-sudah, diriku ini males banget komen kalau lagi gak mood komen HAHA //gak nanya//

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s