[Mystic in Europe] The Lost Boy

THE LOST BOY

by Juliahwang

Lee Jeno & Mark Lee

Genre: Creepy, Mistery, AU! Rating: PG-15 Length: Vignette Mystic Spot: Hoia Baciu Forest

Namanya Lee Jeno dan waktunya untuk menghilang telah tiba.

.

.

.

Sekolah Menengah Internasional di Romania setiap tahunnya akan mengadakan pertukaran pelajar untuk seluruh murid-murid di penjuru bumi. Mulai dari benua Asia, Amerika, Eropa bahkan Australia juga tak absen mengirim murid-murid pilihan mereka.

Jeno adalah yang terpilih tahun ini. Mewakili sekolahnya dan menggeser beberapa kandidat dari Korea Selatan demi melanjutkan pendidikan di salah satu sekolah ternama tersebut. Jujur, Jeno mengutuk dirinya yang kelewat pintar. Begitu malas saat mengetahui dirinya lah yang akan dikirim menuju negara asing yang akan menjadi tempatnya selama beberapa bulan.

Paginya terasa hampa tanpa teman-teman di sekolahnya. Masih hari pertama di negeri orang membuatnya seakan menjauh karena di sini bukanlah tempatnya. Hanya dirinya berwajah Asia di antara wajah-wajah asing dengan rambut pirang dan kulit pucat yang sedikit memerah. Jangan lupakan bintik-bintik di sebagian pipi mereka seperti kebanyakan gen orang Barat.

Wajah Asia yang ia temui ketika menginjakkan kaki di sekolah barunya bisa ia hitung dengan jari. Mungkin ada sekitar lima orang dan tak ada yang mau mendekatinya barang sejengkal pun. Napasnya naik-turun sambil mengumpat dalam hati.

Masa perkenalan lancar tanpa gangguan. Setidaknya, teman-teman di kelasnya ramah-ramah dan sangat menerima dirinya di sana. Ia duduk di sebelah seorang pria berambut cokelat. Katanya, ia seorang belasteran Kanada-Korea. Namanya Mark Lee dan setidaknya ia cukup beruntung bersama pria yang hobi menebar senyum tipis dengan tulang pipinya yang besar.

Menjadi murid pindahan tentu membuat daya gerak begitu juga bahasanya sedikit terganggu. Melakukan pelajaran biasa di kelas cukup melelahkan untuknya. Romania bukan negara yang mengutamakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari, jadi mau tak mau, Jeno harus memasang telinga lebar-lebar ketika para guru berbicara. Mereka berbicara sangat cepat dengan aksen yang tentu berbeda.

Jeno menyukai pelajaran Sejarah. Apa pun bentuknya, Jeno sangat suka ketika harus mengenal tempat-tempat masa lampau dengan cerita di dalamnya. Mark bilang kalau guru yang mengajar Sejarah adalah guru yang paling ia suka, karena biasanya sang guru akan mengajak mereka belajar di luar sekolah layaknya study tour.

Inilah saatnya. Sang guru memberikan tenggat waktu setengah jam untuk mereka bersiap-siap. Jeno sekali lagi merasa beruntung berada disisi Mark. Pria itu sangat membantunya dalam mengerjakan semuanya.

Ransel besarnya berisi perlengkapan sekolah. Air putih dalam botol tak pernah ia lupakan juga. Mereka bersiap untuk pergi. Tapi, lagi-lagi tepukan pelan di bahunya membuatnya menoleh intens.

“Kau sudah membawa senter?” Itu Mark. Dengan alis terangkat, ia nampak lelah. Jeno curiga bahwa sebelumnya ia tak tidur karena kantung matanya begitu kentara di bawah sinar matahari. “For what?

Mark hanya mengangkat bahunya. “Kudengar kunjungan kita kali ini bukanlah tempat-tempat semacam museum atau gedung bersejarah. Jaga-jaga saja karena sepertinya kita akan menelusuri hutan.” Jeno hanya mengerutkan keningnya bingung. Mengeluarkan ponsel dan juga menunjuk gantungan kunci ranselnya. “Jangan terlihat seperti orang purba, Mark. Di ponsel kita ada senter dan gantungan kunciku juga terdapat senter, ya, walaupun sinarnya begitu kecil.”

Pria bertulang pipi besar itu hanya mengangguk paham sambil terkekeh. Jeno hanya bisa menggeleng lalu menyambar lengan Mark dengan cepat. “Ayo, kurasa semua sudah berkumpul di halaman.”

.

.

Jeno baru mengenal Romania dalam sehari. Belum sempat pergi jalan-jalan ke tempat wisatanya (Ia menunggu janji Mark yang katanya akan mengajaknya berkeliling) apalagi harus memahani semua jalanan di negara itu. Mereka melewati beberapa jalan berliku dan memasuki kawasan hutan. Walau terlihat biasa saja dari pintu masuknya, beberapa murid terlihat tegang dengan mimik mengejutkan. Mrs. Walker terlihat sibuk dengan berkas-berkasnya dan Mark di sampingnya seakan tak peduli sambil mendengarkan musik dari headset dikedua telinganya.

Ia menoleh ke jendela bus sekolah. Mencoba menikmati perjalanannya dengan bersiul tenang. Suara dehaman kecil membuyarkan atensinya. Mendapati Mrs. Walker telah berdiri menjulang di depan sambil memberikan beberapa pengumuman terkait study tour kali ini.

“Kita sudah memasuki kawasan Hoia Baciu Forest. Dilarang untuk berpencar dari rombongan. Satu persatu dari kalian akan saya absen terlebih dahulu. Jika terjadi sesuatu, Tuan Will akan mengantarkan kalian kembali ke bus.” Sambil menunjuk sang supir bus yang hanya mengangguk sambil mengintip dari balik spion bus, Mrs. Walker kembali melanjutkan kalimatnya. “Perlu saya tekankan kepada kalian sekali lagi. Study tour kali ini akan membahas cerita ‘mistis kuno’ dari hutan Hoia Baciu. Kalian bisa membuka halaman pertama dari laporan yang saya berikan pagi tadi sebelum berangkat. Di sana sudah tertera segala hal mengenai hutan ini. Ingat, jangan coba-coba melakukan hal aneh selama perjalanan berlangsung. Dengarkan saya, ikuti perintah dan kita akan pulang dengan selamat.”

Ocehan panjang Mrs. Walker membawa suasana janggal di dalam bus. Kalimat terakhirnya langsung di garis bawahi oleh Jeno. Merasa aneh karena angin seketika berembus membuat bulu kuduknya meremang.

“Apa katanya? Dia mengajak anak-anak yang belum berusia tujuh belas tahun ke tempat angker seperti ini?! Apa dia sudah gila?” Jeno melotot sambil berbisik ke arah Mark yang hanya menunjukkan wajah pucat pasinya setelah mendengar itu semua. Kasak-kusuk terdengar menggema sepenjuru bus. Anak-anak lain pasti berpikiran sama dengan mereka berdua. Ini sama saja dengan percobaan bunuh diri.

.

.

Tak ada kejadian aneh selama study tour berlangsung. Semua tetap tenang selama Mrs. Walker menjelaskan seluk-beluk hutan yang menurut Jeno tidak ada istimewanya. Ia tak pernah mau jauh-jauh dari Mark. Entah karena takut atau memang Jeno harus mendengarkan sang guru agar selamat.

Beberapa bagian hutan tak nampak aneh. Hanya saja tadi mereka melewati bagian hutan dengan hiasan pohon-pohon dengan batang yang terkilir. Pikiran fantasinya seketika muncul seperti… mungkin saja ada raksasa yang memelintir pohon-pohon sedemikian rupa untuk menarik perhatian. Tapi, pada kenyataan tidak seperti itu.

Tujuan mereka hanya sampai bagian depan saja. Masih ada perjalanan panjang untuk masuk ke tengah hutan dan Mrs. Walker menyudahi itu semua. Jeno tentu mengikuti walau setengah hati. Matahari rasanya ingin cepat-cepat terbenam. Membawa hawa dingin yang menyeruak hingga mampu membuat mereka menggigil.

Hutan mulai gelap dan dalam kegelapan itulah suara-suara aneh seketika terdengar. Menjadi yang paling terakhir bersama Mark, perasaan Jeno mulai tak enak. Langkahnya semakin berat dan gendang telinganya mulai mendengar suara seseorang berbisik.

Jeno menggeleng keras berusaha melawan. Melihat semua rombongan telah jauh dari jarak pandangnya. Ia merasa seseorang mengguncang tubuhnya. Menyipit di tengah keremangan dan mendapati Mark mulai panik sambil terus menyebut namanya.

Semakin lama, Jeno merasa seseorang telah mempermainkan dirinya. Ia meremas lengan Mark sambil merintih agar memanggil bala bantuan. Mark enggan untuk meninggalkan Jeno sendiri, tapi saat melihat pria itu memohon dengan keringat dingin, Mark langsung berlari dengan kecepatan penuh.

Tak ada yang salah jika kau melihat Jeno saat ini. Ia masih sama tapi isi kepalanya tidak. Wajahnya pucat pasi dengan tatapan kosong. Berdiri mematung sampai akhirnya berbalik masuk ke tengah hutan.

Suara-suara asing terdengar menggema. Ketika Jeno kembali sadar, ia langsung mengumpat mendapati dirinya telah berdiri entah di mana. Yang terakhir kali ia ingat adalah dirinya yang kesakitan dan Mark berlari meminta pertolongan. Dan berakhir di tengah hutan bukanlah kehendaknya.

Jeno harus keluar dari tempat itu. Harus. Ketika ingatannya kembali pada pukul empat sore, pada saat Mark menyuruhnya membawa senter, ia langsung mengeluarkan ponselnya. Seperti kebanyakan peristiwa, tersesat di tengah hutan, tak tahu arah jalan pulang dan sinyal ponsel yang sama sekali tidak ada. Lengkap sudah.

Ia mencoba untuk tetap tenang. Semakin langkahnya bergerak menginjak ranting-rating pohon, membuat suara berisik di keheningan yang mencekam, semakin Jeno frustasi akan semua. Jujur saja, ia belum siap untuk menemui ajal. Ayah dan ibunya telah menunggu di Korea sana dengan bangganya. Mark belum menepati janji untuk mengajaknya berkeliling dan pikiran-pikiran aneh menghantui isi kepalanya.

Menangis bukanlah jalan keluar. Tapi hari ini ia sendiri di tengah hutan dan menangis adalah saat yang tepat. Gemerisik suara daun yang bergesekan tertiup angin semakin membuat suasana menyeramkan. Tibalah Jeno di sebuah area tandus tanpa pepohonan. Mendekatinya secara perlahan tanpa suara. Kegelapan yang menyelimuti seakan seperti sosok yang siap untuk menelannya hidup-hidup. Sambil terus berharap tak menemukan sosok-sosok aneh nantinya.

Area itu tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil. Semacam lingkaran tanpa ada apa pun di tengahnya. Jeno memberanikan diri untuk berdiri di tengah-tengah. Merasakan sensasi aneh yang mulai menyerang.

Muncul teriakan, suara tawa, dan berbagai aktivitas lainnya setelah itu. Membuat suasana hutan yang tadinya sepi mencekam kini berubah seperti pasar malam. Jeno melihat banyak orang di sana. Berjalan dengan santai tanpa melirik Jeno yang terlihat kebingungan. Orang-orang itu memakai pakaian yang senada. Dengan wajah barat khas Romania dan pucat pasi. Mereka hanya diam dan sibuk sendiri. Ketika Jeno menghentikan salah seorang, ia terkejut bukan main melihat perwujudan mengerikannya.

Ia berlari dan terus berlari. Tak ada yang ia pikirkan selain keluar dari hutan dan pulang ke asrama. Ingin menangis lagi rasanya susah. Beberapa kali tersandung hingga lututnya mengeluarkan darah segar. Suara-suara kembali menghantuinya. Bayangan-bayangan aneh banyak bermunculan di balik pohon atau semak. Jeno berteriak kencang-kencang. Memanggil siapapun yang sekiranya mendengar.

Hutan itu tak berujung, pikir Jeno tanpa menghentikan langkahnya. Ketika ia tiba di daerah tandus itu lagi, sesosok gadis kecil muncul tiba-tiba di hadapannya.

“Ce vrei să mergi acasă?”

“What?”

Gadis kecil itu hanya menatapnya lurus. Menunjuk ke arah selatan sambil kembali berucap, “Urmaţi-l şi vei primi!” Jeno rasanya hampir gila dan mulai berteriak tak karuan. Ia kembali berlari meninggalkan si gadis kecil ke arah selatan seperti yang gadis itu tunjukkan. Raganya nampak lelah. Ingin rasanya ia menyelesaikan ini semua. Nampak sekali keputusasaan di wajahnya kini.

Tanpa Jeno rasakan, ia ambruk seketika. Tak lagi memikirkan hidup-mati dan berserah. Suara lengkingan menemaninya ke alam mimpi. Putus asa akan raganya yang sekarang entah di mana.

oOOOo

Waktu telah berjalan cukup cepat. Tahun-tahun telah berlalu dan cerita mengenai Hoia Baciu tak pernah usai. Hilangnya remaja enam belas tahun dahulu menambah misteri ke-angkeran hutan itu. Lee Jeno tak ingin dikenang. Menghilangnya dirinya tak ingin dibahas.

Sekolah itu kembali mengadakan study tour ke daerah hutan. Membawa kenangan lama yang sangat membekas bagi Tuan Will yang kini telah dimakan usia dan masih setia mengantar anak-anak untuk bepergian dengan bus kuningnya. Mark Lee kini tak muda lagi. Bukan bocah berumur belasan yang masih ingin bermain. Ia mengenang kawan lamanya ketika menjelajahi hutan kembali. Menggantikan Mrs. Walker untuk mengajar Sejarah di sekolahnya.

Sebuah bayangan di balik pohon membuat matanya membulat sempurna. Alih-alih berlari ketakutan, ia malah mendekati bayangan itu dengan cepat. Ia melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kawan lamanya yang menghilang dahulu telah berdiri di hadapannya. Tatapannya kosong dan tak berubah. Bukan berubah lagi, itu Jeno yang sama ketika ia menghilang. Dari ujung kaki hingga kepala. Dan dia tak menua seperti Mark.

“Jeno….”

Pria itu nampak bingung. Tangannya terulur mencengkram bahu Mark. Sensasi aneh segera menyelimuti saat itu juga.

“Siapa kau?”

-fin

Advertisements

9 thoughts on “[Mystic in Europe] The Lost Boy

  1. Kak sumpah aku mau nangis,huhuhuhuhuhu Jeno yang hilang kok aku yang takut yah? Itu arti bahasa romaninya apa y? Aduh pokoknya nice fiksi,kakak berhasil buat future wife-nya Mark merinding 🙂

    Like

    • Halo.
      Loh kok nangis sih astaga padahal ini gak ada sedih-sedihnya 😅
      Tenang jan takut, Jeno gak ilang kok cuma mau main-main ke alam sana aja XD hehe

      Iya itu bahasa romania.
      Klo yg ini “Ce vrei să mergi acasă?” itu artinya “Apa kamu ingin pulang?” trus klo yg ini “Urmaţi-l şi vei primi!” artinya klo gasalah “Ikuti itu dan kau akan menemukannya!” begitu

      Huhu makasih udh mampir dan sempetin komen ^^

      Salam,
      Juls.

      Like

  2. Asli kak ini dari awal sampe akhir bikin penasaran, terus Jeno yang tiba2 tersesat di hutan tak berujung—apa kamu diculik mbak kunti, Jen? 😂😂
    Dan yaampun Mark ngeliat arwah Jeno kah? Atau Jeno yang dikirim dari masa lalu makannya dia tetep awet muda gitu ga menua kaya Mark hwhwhwhwhw :’))

    Nice fic kak! Keep writing! ❤️

    Ps; tolong kapan kapan Jeno dibungkus pake kertas gado-gado biar ga lepas gitu aja /menggelinding/

    Like

    • Halo.
      Kamu namanya Dona gak sih? Aku lupa yalord maapkeun diriku nak :”(

      Hihi jan bawa-bawa mba kunti ntar beneran lagi 😅
      Ayo ditebak-tebak itu Jeno kenapa soalnya aku bener-bener murni ngambil dari urband legendnya sih Hoia Baciu sih jadi si Jeno ini menghilang bertahun-tahun dan dibawa ke alam sana, trus bisa balik lagi pada akhirnya tapi gak menua. Trus lupa ingatan gitu ceritanya persis sama kisah nyatanya disana.

      And last, makasih banyak say udah sempetin mampir dan komen ^^
      Iya nanti pankapan Jeno tak bungkus pake karet sekalian 😂

      Salam,
      Juls.

      Liked by 1 person

  3. Hai Kakjuls (ikutan manggil begitu) huwaaaaaaaaaaa aku setengah baper setengah merinding setengah nyesek juga baca ini :’v Kenapa Jeno bisa hilang di hutan itu? Terus pertanyaan Jeno yg terakhir itu jleb banget, kerasa kripi nya :’v

    Btw salam kenal kak. Ji, 00 line ^^

    Like

    • Halo Ji! ^^
      Salam kenal dan cinta dariku juga~
      Panggil aja gitu gpp kok biar makin deket kita hehe

      Nah kok ini malah baper habis baca xD
      Mungkin Jeno adalah yang terpilih hilang selanjutnya hoho namanya juga urband legend, jan cari masalah intinya /plak

      Terimakasih udh mampir baca dan sempetin komen ya ❤

      Salam,
      Juls.

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s