[Mystic in North America] You Never Walk Alone

YOU-NEVER-WAL-ALONE

You Never Walk Alone

 [NCT’s] Na Jaemin & Lee Jeno| Creepy, Friendship | Ficlet | T | Yucatan, Mexico

.

I just own the plot

.

“Mungkin jika dewa sudah mengijinkan dan ya kau tahu kau tak akan berjalan sendirian Bung ada banyak yang seperti aku kan, meskipun tidak se-asik diriku hehehe.”

.

Semenjak kecil, diriku selalu suka dengan kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa dan sejarah manusia. Tanpa pernah menyadari bahwa ternyata memang ada kehidupan itu di masa lalu. Dan aku mulai percaya bahwa kehidupan itu ada ketika aku berteman dengan dia. Namanya Jeno. Aku menegnalnya sudah lama sekali, sejak umurku tiga tahun. Kami sebaya. Pertama kali melihatnya ketika dia dengan lacang memainkan boneka ayah nemo, aku menghampirinya, duduk di sebelahnya, dan mencoba mengambil boneka itu dari tangannya. Aku mendapat bonekanya, dia menangis, aku berteriak ketika wajahnya tiba-tiba retak. Mengerikan. Ibu datang dan menggendongku, Jeno mengikuti kami. Aku takut dan bersembunyi pada ibu. Dan ketika aku mengarahkan pandanganku ke belakang Jeno sudah tidak ada.

“Ibu. Apa ibu tadi melihat ada teman disana?”

Ibu terawa, “Tidak ada apa-apa disana sayang.”

.

Kami bermain bersama, dia satu-satunya temanku. Karena ketika aku memperkenalkan Jeno ke orang lain, mereka pasti akan menghindariku. Maka dari itu aku sangat percaya bahwa Jeno adalah sahabat terbaikku dan tak akan pernah menyakitiku. Aku sekarang berada di sekolah, yang dimana hanya berada anak-anak sepertiku disana. Aku bahagia disini. Semua teman disini mau menerimaku menjadi ‘teman’ dan lebih bahagia lagi jika mereka juga tahu keberadaan Jeno. Main, makan, olahraga, belajar dan tanpa ibadah, itulah kegiatanku disini. Oh, ya Jeno punya banyak teman disini. Aku juga banyak mendapat teman baru.

.

Hampir delapan tahun di sekolah ini, dan dengan kegiatan yang itu-itu saja, tidak mengubah persahabatanku dengan Jeno. Sampai dimana di sering memperlihatkan rupa rusak itu kehadapanku. Dan dia selalu mengakhirinya dengan kata maaf. Aku tahu pemuda itu menyimpan sesuatu yang aku seharusnya tidak perlu tahu, tapi Jeno sahabatku jadi aku perlu dan harus tahu. Lama-kelamaan persahabatan kami semakin renggang, sampai pada titik yang mengharuskan kita untuk pura-pura tidak mengenal satu sama lain yang aku pun tidak tahu apa alasanya. Minggu pertama di Desember, tepatnya hari Selasa, hari dimana Jeno memutuskan untuk pindah ruangan. Aku sempat bertanya pada petugas tapi mereka hanya diam, dan berkata “Lebih baik kau menyiapkan semuanya.”

.

Kupikir permasalahan akan mudah bila diselesaikan tanpa amarah, dan ya semua orang menyadari itu, tapi jika permasalahannya saja kau tak tahu bagaimana cara menyelesaikanya. Aku tidak tahu dia berada di pihak yang mana, kalau dia sebagai pihak yang dirugikan dan yang merugikan akan meminta maaf maka dia akan memaafkannya sebelum orang itu meminta maaf dan sebaliknya.

“Jeno! sebenarnya ada apa?”

“Apa maksudmu?”

“Menghindariku, sengaja pindah ruangan, pura-pura tidak kenal! sebetulnya apa maumu?”

“Jika kau ingin tahu, akan kubuktikan tanggal 21 nanti! jika sekarang aku tidak bisa. Tidak perlu tanya mengapa!”

Jeno pergi meninggalkanku. Aku tidak akan pernah menggantikan label sahabat menjadi musuh. Karena aku yakin Jeno tidak akan menyakitiku dan aku tahu betul itu

.

Setiap hari aku selalu menunggu. Menunggu Jeno. Sampai hampir seluruh wajah Jeno rusak. Aku tak tahu itu efek apa, yang jelas wajahnya benar-benar mengerikan, sampai sebangsa Jeno pun dibuat takut olehnya. Dan ya tiba saatnya, saat dimana dia akan menceritakan semua kepadaku, sahabatnya. Dia datang dengan aura yang berbeda dari Jeno yang kukenal. Dia benar-benar berubah.

“Kupikir sudah saatnya mengatakan semua.”

“Iya, mengatakan kebenaran yang membuat sahabatku akan tercengang dan menganggapku bukan sahabatnya lagi. Jaem aku adalah keturunan suku maya yang dibunuh beratus-ratus tahun yang lalu dan ini saatnya aku kembali untuk menjadi persembahan bagi dewa yang kami anut. Dan terima kasih sudah menjadi sahabatku, maafkan juga semua perlakuan yang benar-benar kekanakan, aku tahu aku bodoh, membiarkan sahabatku merasa tidak mempunyai ‘sahabat’ dan malah yang katanya ‘sahabat’ itu menyakiti sahabatnya.”

“Jen tapi kau akan kembali ‘kan?

“Mungkin jika dewa sudah mengijinkan dan ya kau tahu kau tak akan berjalan sendirian Bung ada banyak yang seperti aku kan, meskipun tidak se-asik diriku hehehe.”

Jeno pergi, pergi untuk meninggalkan sahabatnya, aku Na Jaemin.

end-

Advertisements

6 thoughts on “[Mystic in North America] You Never Walk Alone

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s