[Mystic in Europe] MIRROR STATUES

MIRROR STATUES
A Vignette by Graenita

Main Cast : Park Jisung
Genre : Mystery, Dark  | Length : Vignette   | Rating : PG-13

Elizabeth Queen Forest

*

Mereka bilang ada mitos lama yang terkadang susah untuk diterima oleh akal sehat orang-orang yang hidup di era modern seperti sekarang ini.

Dan itulah yang dirasakan Park Jisung ….

Gerutuan demi gerutuan masih Jisung keluarkan meski tanpa sadar ia membawa dirinya masuk ke tengah hutan. Kekesalannya pada teman-temannya yang tiba-tiba saja berpisah dengannya setelah mereka menyeberangi sebuah jembatan kayu di atas sungai kecil cukup besar. Oh, mungkin Jisung beranggapan mereka sudah meninggalkannya karena sejak dua jam yang lalu ia sama sekali tidak mendengar suara mereka yang bisa saja meneriaki namanya. Berharap saja telinganya tidak rusak secara mendadak karena sejak tadi yang ia dengar hanyalah suara-suara aneh yang sudah pasti berasal dari hewan-hewan kecil di hutan ini.

Pada poin ini, Jisung menyesal sudah membiarkan dirinya ikut teman-temannya yang gila, yang dengan bodohnya membuatnya penasaran dengan desas-desus sebuah mitos lama di daerah tempat tinggal mereka. Ya, mitos tentang seorang penyihir yang suka melenyapkan anak kecil di tengah malam. Meskipun sudah tinggal di Skotlandia sejak dua tahun yang lalu, Jisung masih tidak bisa langsung percaya pada mitos aneh dan konyol itu.

Penyihir? Di jaman sekarang? Yang benar saja.

Anak laki-laki berusia enam belas tahun itu mendongakkan kepalanya dan menghela napas pelan. Setidaknya bulan di atas sana masih bisa sedikit membantunya untuk melihat sekitar. Andai saja tidak ada bulan malam ini, mungkin ia sudah berteriak ketakutan hingga pita suaranya putus. Baiklah, bukan berarti saat ini ia tidak ketakutan. Di satu sisi, ia benar-benar ingin berlari dan berteriak minta tolong meski ia tidak yakin ada orang yang mendengarnya karena … hei, lihat saja jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Oh, dan di sisi lain, dia adalah Park Jisung, anak laki-laki yang tidak mudah merasa takut. Setidaknya begitu.

Langkah Jisung mendadak terhenti dan ia seketika terduduk lemas di tempatnya setelah kedua matanya menangkap sesuatu berbentuk postur sempurna seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Dengan kesal ia mengumpat dan menendang kerikil yang ada di dekat kakinya. Frustrasi, ia mengacak-acak rambut pirangnya.

Mirror statues … baiklah. Kenapa aku bisa sampai lupa dengan benda-benda itu?” keluhnya sambil berusaha berdiri. Untuk beberapa detik ia memandang patung kaca yang ada di depannya. Kemudian matanya beralih pada patung-patung kaca lainnya yang jaraknya tidak terlalu jauh satu sama lain. Ia tidak tahu benda-benda yang biasanya menarik di siang hari tersebut justru terlihat cukup menyeramkan di malam hari. Mereka semua … seperti makhluk tembus pandang yang sedang memerhatikannya. Ditambah pohon-pohon besar yang ada di hutan ini yang justru membuat semuanya semakin mengerikan.

Ini memang bukan pertama kalinya ia mengunjungi Elizabeth Queen Forest, tapi jujur saja …, mengeksplorasi tempat ini di malam hari meski dalam keadaan terpaksa seperti yang ia alami sekarang adalah sesuatu yang pertama kali ia lakukan seumur hidup. Dan Jisung benar-benar membenci situasi seperti ini. Oh, itu belum udara lembab yang sejak tadi hirup. Mungkin karena sore tadi diguyur hujan, makanya sekarang temperatur udaranya sedikit aneh.

“Park Jisung, bukankah kau sudah puluhan kali keluar masuk hutan ini? Kenapa sekarang kau hanya berputar-putar saja?” gumamnya. Tangannya menyibak rambut bagian depannya yang mulai membuatnya kesal karena berulangkali hampir menutupi pandangannya.

Andai saja ponselnya bisa ia gunakan untuk menghubungi keluarga atau salah satu teman-teman gilanya itu. Tetapi pengandaian itu hanyalah harapan kosong karena ia tahu dengan sangat baik bahwa sekalinya ia masuk ke hutan ini, ia tidak akan menemukan sinyal telepon.

Beberapa saat kemudian ia kembali melangkah, sesekali terperanjat dan mengelus dada setiap kali ia hampir menabrakkan dirinya ke patung kaca. Tangannya yang ia masukkan ke dalam saku jaket terasa kebas seiring dengan rasa putus asa yang semakin kuat ketika ia tak menemukan sungai dan jembatan kayu yang ia lewati tadi.

Dadanya mulai terasa sesak. Satu efek yang ia benci ketika ia mulai tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia tidak ingin merasa takut, tapi keadaan gelap dan sunyi yang ada di sekitarnya ini sungguh menakutkan. Ya, semua orang boleh menganggapnya anak pemberani, tapi mereka semua harusnya mengerti, bagaimana pun juga ia hanyalah seorang anak-anak yang pasti memiliki rasa takut.

“Jisung, berpikir. Berpikir. Berpikir ….”

Meski tidak membantu banyak, setidaknya kata-kata itu sedikit menenangkannya. Akan tetapi, itu tidak bertahan lama karena suara seekor burung atau apapun itu yang terbang di atas pohon mengejutkannya. Spontan ia meringkuk di bawah pohon dengan kedua tangan yang menutupi kedua telinganya dan memejamkan matanya.

Ini terlalu menyeramkan. Sangat menyeramkan. Jisung tidak bisa lagi menahannya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia langsung berdiri dan berlari sekencang yang ia bisa. Memang tidak ada tujuan jelas ke mana kakinya akan membawanya, tapi yang jelas … ia harus segera keluar dari hutan ini. Berulangkali ia menyeka kedua matanya yang mulai berhias genangan air mata. Ia merindukan ayah dan ibunya yang malam ini pasti sedang menunggu kepulangannya.  Ia ingin bertemu dengan mereka dan memeluk mereka erat-erat, mengatakan bahwa ia sangat ketakutan.

“Tidak ada! Jembatannya tidak ada! Aku tidak bisa menemukannya!” Jisung berteriak frustrasi, melempar tangannya ke udara. Napasnya terengah-engah. Kedua kakinya terasa lemas dan tidak bisa ia paksa untuk berlari lagi.

“Mitos sialan!” keluhnya sambil duduk bersandar di pohon besar yang ada di dekatnya.

Air matanya mulai menetes dan isak tangisnya pun terdengar. Kedua matanya menerawang jauh, menangkap apa pun yang bisa dijangkau meski itu membuatnya semakin bergidik ngeri. Setiap kali ia menghentikan gerakan matanya pada salah satu patung-patung yang terbuat dari kaca tersebut yang tak jauh dari tempatnya, ia selalu merasa ada pergerakan di sana. Seolah mereka bergerak dengan sendirinya. Akan tetapi, saat ia mencoba menajamkan penglihatannya, patung-patung itu tak bergerak.

“Aku ingin keluar dari sini.”

Jisung menyeka air matanya. Perlahan ia berdiri dan kembali memandang sekitar. Masih gelap dan sunyi, tentu saja. Ia ingin mencoba mengembalikan akal sehatnya dan berpikir sedikit lebih jernih. Ia tidak bisa menunggu sampai matahari terbit karena ….

Mitos itu.

Tidak bisa Jisung pungkiri, hal tersebut adalah satu dari beberapa alasan yang membuatnya ketakutan malam ini. Walaupun ia menyangkal mitos tentang penyihir tersebut dengan lantang, tetap saja ia merasa ngeri.

Bagaimana kalau mitos itu benar? Bagaimana kalau memang ada penyihir di hutan ini? Bagaimana wujud penyihir tersebut? Mempunyai sapu terbang? Tongkat sihir? Berjubah? Berwajah seram? Bagaimana kalau penyihir itu memang suka melenyapkan anak kecil yang sudah diincarnya? Bagaimana kalau penyihir itu menemukannya sendirian di tengah hutan? Bukankah ia adalah sasaran empuk yang bisa dilenyapkan hanya dalam hitungan kurang dari dua detik?

Pertanyaan-pertanyaan itu menggelayut di pikirannya ketika Jisung mencoba melangkah, menjauh dari pohon yang sejak tadi disandarinya. Berulangkali ia menoleh ke sana kemari, jemarinya meremas ujung jaket yang ia pakai dengan gelisah. Kali ini, sekuat apapun ia mencoba menenangkan pikirannya, suara-suara aneh yang datang dari segala arah selalu berhasil mengganggu konsentrasinya.

Beberapa saat kemudian …, entah itu karena ia terlalu sibuk mengamati sekitarnya atau tidak bisa memandang lurus ke depan dengan teliti, tiba-tiba saja ia menabrak sesuatu yang ada di depannya hingga ia terpental ke belakang. Spontan ia berteriak saat melihat pantulan dirinya dari ….

“Patung kaca. Patung kaca. Astaga, aku baru saja menabrak patung kaca. Lagi? Sial!”

Disentuhnya dadanya yang bergemuruh kencang. Ini gila. Ini sudah sangat gila!

Mulai sekarang ia membenci hutan ini. Ia benci Elizabeth Queen Forest. Masa bodoh dengan kebiasaannya yang suka keluar masuk hutan ini bersama teman-temannya hanya untuk bermain. Masa bodoh dengan sungai kecil yang menjadi tempat favoritnya di hutan ini. Setelah keluar dari hutan ini, ia tidak akan pernah lagi datang kemari. Ia tidak akan mau lagi menginjakkan kaki di tempat ini. Tidak akan. Tidak akan!

“Itu kalau kau bisa keluar dari hutan ini, Anak Muda.”

Jisung seketika menegakkan kepalanya dan membelalakkan matanya setelah mendengar sebuah suara. Diedarkannya pandangannya ke segala arah, mencoba mencari siapa yang baru saja berbicara padanya.

“S-siapa itu?”

“Seharusnya kau tidak membenci tempat ini, Nak.”

Suara itu terdengar begitu dekat dengannya, tapi ia tidak bisa menemukan siapa-siapa. Namun, ketika ia mencoba melihat sesuatu yang bergerak dari arah kanan, tiba-tiba ia dikejutkan oleh patung kaca di depannya yang bergerak sendiri. Tak pelak apa yang sedang dilihatnya membuatnya terkejut bukan main dan berusaha menjauhkan diri.

Patung kaca setinggi pria dewasa tersebut awalnya hanya mengayunkan kedua tangannya dan menggerak-gerakkan kepalanya, tapi perlahan sesuatu terjadi pada patung tersebut. Patung tersebut berubah wujud menjadi seorang manusia dengan pakaian serba hitam dengan sebuah topi hitam yang menutupi rambut hitamnya. Wajahnya putih pucat, bola matanya berwarna hitam pekat dan postur tubuhnya tinggi dan sangat kurus. Seringai tipis di sudut bibirnya membuatnya tampak lebih menyeramkan.

“Tidakkah kau berpikir untuk menyusul teman-teman kecilmu itu?” Suara pria tersebut terdengar begitu berat dan sedikit berbisik.

Seketika Jisung membeku di tempatnya. Teman-temannya? Apa maksudnya?

“Oh, sebelum itu, aku ingin mengenalkanmu dengan teman-temanku. Lihat mereka.” Pria tersebut mengayunkan tangan panjangnya.

Jisung tidak tahu kapan ia akan pingsan atau mungkin ia berharap agar segera pingsan dan tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh pria bertopi hitam tersebut. Di sana, atau lebih tepatnya … patung-patung kaca yang jumlahnya lumayan banyak dan tersebar di mana-mana mulai menunjukkan pergerakan yang sama seperti sebelum pria menyeramkan ini muncul. Dan yang membuatnya menarik napas dalam-dalam adalah semua patung tersebut berubah wujud seperti pria yang ada di depannya. Ia seperti melihat orang yang sama dalam jumlah yang … banyak.

“Ayah … Ibu ….,” Jisung mulai merintih. Ia memutar tubuhnya dan mulai merangkak jauh. Tidak peduli pada celananya yang kotor karena tanah. Namun, sesuatu membuatnya kedua kakinya membeku seperti es. Dingin dan kaku hingga ia tak bisa bergerak. Tidak hanya itu saja. Rasa dingin tersebut menjalar sampai ke ujung tangannya. Kini seluruh tubuhnya membeku kecuali kedua bola matanya yang masih bisa ia gerakkan.

“Bukankah seharusnya anak-anak harus tinggal di dalam rumah ketika malam tiba? Mereka harusnya tidur di bawah selimut yang tebal dan hangat setelah mendapat ciuman selamat malam dari orang tua mereka. Tapi apa yang kalian lakukan? Kau dan teman-temanmu … masuk ke dalam hutan hanya untuk bermain. Itu salah, Nak.”

Air mata Jisung menetes deras. Ia ingin berteriak, tapi ia tak bisa mengeluarkan suara apa-apa. Matanya bahkan hanya terbelalak lebar saat pria tersebut duduk di hadapannya sambil menunjukkan tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit berwarna hitam.

“Lihat jari tengah dan telunjukku. Sebentar lagi kau bisa bergabung dengan teman-temanmu.”

Tidak.

Tidak boleh!

Jisung tidak boleh menatap jari tangan pria tersebut!

Tapi ….

 

-THE END-

First of all, jangan tanya kenapa judul sama storyline-nya nggak nyambung. jawabannya simple : Karena aku jarang (atau mungkin tepatnya NGGAK BISA BIKIN CERITA HORROR/CREEPY atau sejenisnya hahahahaha) Jadi,maafaja ya kalo mungkin nggak ada feels sama sekali. At least, I tried xD

Thank you ^^

Advertisements

One thought on “[Mystic in Europe] MIRROR STATUES

  1. Kak, seriusan deh ini kereen bangeet, ngebayangin klo aku yg di posisi jisung pas malem2 di tengah hutan mana sendirian pula bnr bnr.. duh pokoknya bikin merinding juga deh kak (Y) Salam kenal sebelumnya, aku pembaca Baru, ggra Baru Suka NCT baru2 ini jdi iseng2 mampir terus ke web ini…

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s