[Chaptered] Troublemakers (Part 5)

TROUBLEMAKERS [Part 5]
By Graenita

Lee Taeyong | Kim Doyoung | Ten | Jung Jaehyun

=======================

“Selamat malam! Hati-hati di jalan!”

Taeyong membungkuk beberapa kali pada ‘para seniornya’ yang berjalan ke arah pintu belakang cafe. Itu tandanya waktu bekerja mereka telah selesai untuk hari ini. Seperti biasa, ucapan selamat malamnya yang sopan tak mendapatkan balasan apapun dari mereka. Justru aneh bila mereka membalasnya dengan nada bicara yang lembut seperti yang ia dapatkan dari hampir semua pengunjung cafe.

Sambil menghela napas pelan ia menutup pintu belakang dan berjalan kembali ke meja kasir. Tangannya meraih lap bersih dan mulai membersihkan counter sambil sesekali mengedarkan pandangannya ke arah meja pengunjung yang mana ada beberapa pengunjung yang masih duduk di sana menikmati minuman mereka. Perhatiannya teralihkan pada seorang pemuda yang tengah melambaikan tangan ke arahnya. Wajah pemuda bertubuh kurus tersebut tak asing baginya.

Tentu saja tidak asing. Pemuda itu adalah Doyoung, teman sekelasnya. Tapi …, apa yang dilakukannya malam-malam begini?

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Taeyong sesaat setelah ia menghampiri Doyoung yang sepertinya sendirian.

“Menukarkan kupon,” jawab Doyoung sambil tersenyum. Taeyong mengernyitkan keningnya, merasa aneh. Tampaknya ekpresi bingung Taeyong terbaca oleh Doyoung.

“Hei, aku benar-benar ingin menukarkan kupon minuman gratis yang diberikan oleh cafe ini. Tidak selalu, sih. Kebetulan beberapa hari yang lalu sopirku membeli cukup banyak minuman dan mereka memberinya dua kupon ini.” Doyoung mengeluarkan dua kartu berwarna biru dari saku jaketnya dan menyodorkannya pada Taeyong. “Satu kopi hitam yang sangat panas dan satu … Latte. Diminum di sini,” lanjutnya sambil kembali tersenyum.

Kali ini giliran kedua alis Taeyong yang terangkat sempurna. Kopi hitam panas dan Latte?

“Itu semua untukmu? Maksudku …, kau mau meminum semuanya di sini?” Tidak salah bila Taeyong bertanya demikian karena … aneh, kan? Sekarang pikirkan saja. Apakah ada orang yang mau minum satu minuman panas dan satu minuman dingin di waktu yang bersamaan? Setidaknya bila memang ada, itu artinya Doyoung adalah sala satu orang-orang tersebut.

“Kau pikir aku sudah gila? Aku tidak pernah …, maksudku … aku belum pernah minum kopi hitam dan kurasa aku tidak akan pernah mau meminumnya. Kopi itu untuk sopirku yang duduk di sana. Sejak tadi aku sudah mencoba membujuknya agar duduk denganku, tapi dia tetap menolak. Kurasa dia malu duduk denganku,” celoteh Doyoung sambil menunjuk ke arah meja pengunjung dekat pintu masuk di mana Paman Park tengah sibuk membaca sesuatu di ponselnya.

Baiklah, Taeyong salah mengira. Doyoung tidak seaneh itu.

“Kalau begitu tunggu sebentar.”

Taeyong yang sudah memutar tubuhnya dan berniat berjalan ke arah counter terpaksa berhenti karena Doyoung kembali memanggilnya.

“Berikan aku satu Americano dan satu porsi … waffle yang biasa. Itu untuk temanku. Terima kasih.”

Taeyong hanya bisa terkekeh pelan mendengar bagaimana Doyoung mengucapkan semua itu dengan cara bicara yang sangat sopan tapi dengan nada yang sedikit menggelikan. Diayunkannya kakinya ke arah counter dan mulai menyiapkan pesanan Doyoung. Beberapa kali ia keluar masuk dapur untuk memeriksa waffle yang sedang ia buat.

Tak membutuhkan waktu lama, Taeyong selesai menyiapkan semua pesanan Doyoung. Dengan sebuah nampan yang berisi satu cangkir kopi hitam panas, satu gelas Latte dingin, satu Americano dingin dan satu porsi waffle berhias krim kocok dan es krim vanilla, Taeyong berjalan ke meja sopir Doyoung. Dengan hati-hati ia meletakkan kopi tersebut ke atas meja dan tersenyum pada pria paruh baya tersebut.

“Selamat menikmati, Paman,” ucapnya sebelum berjalan ke arah meja Doyoung.

“Ini pesananmu,” ujarnya pada Doyoung sambil meletakkan dua minuman dingin dan kudapan manis tersebut ke atas meja.

“Bisa temani aku sebentar.”

Ucapan Doyoung kembali menginterupsi Taeyong yang baru akan mengatakan bahwa ia akan kembali ke tempatnya.

“Apa?”

Doyoung tidak mengatakan apa-apa dan hanya menggerakkan tangannya ke arah kursi kosong yang ada di depannya. Meski ragu, Taeyong pun menuruti Doyoung.

“Ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Taeyong. Tangannya mengusap-usap ujung nampan yang ia letakkan di atas pangkuannya.

Sekali lagi Doyoung tak membuka mulutnya. Tangannya terulur, menggeser Americano ke depan Taeyong dan menarik waffle tepat ke tengah-tengah meja.

“Doyoung ….”

“Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Tuan Lee Taeyong. Bukankah tadi aku sudah bilang kalau Americano dan waffle ini untuk temanku? Seingatku kau adalah temanku. Jadi … nikmatilah sedikit sementara aku … mencurahkan isi hatiku.”

Ha, kini Taeyong tidak tahu harus bagaimana. Curahan hati? Yang benar saja.

Ekspresi tenang Doyoung tiba-tiba berubah frustrasi. Bahkan ia menerjunkan wajahnya ke meja hingga menimbulkan bunyi keras yang memaksa beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka untuk beberapa detik.

“Taeyong, andai aku bisa mencekik Jung Jaehyun, aku ingin sekali melakukannya. Dia … astaga …,” keluh Doyoung.

Jung Jaehyun? Maksudnya … Jaehyun yang itu? Mencekiknya? Memang ada banyak orang yang ingin mencekik pemuda itu, tapi … kenapa tiba-tiba Doyoung ingin mencekiknya?

“Ten. Anak itu dengan polosnya menuruti apapun yang diucapkan Jaehyun. Ini sudah ke-sepuluh kalinya ia kabur dari sekolah dan Ten yang harus membuat alasan. Tingkah bocah sialan itu semakin lama semakin membuatku ingin …, kau bisa meminum minumanmu. Aku sengaja membelikannya untukmu. Dan ini …, makanlah juga. Sampai mana tadi aku? Ah, bocah sialan. Iya, bocah sialan itu. Jung Jaehyun,” Doyoung mengomel sambil sesekali meminum minuman dinginnya.

Taeyong hanya bisa menarik kedua sudut bibirnya ke atas, menampilkan senyum kering. Jadi, ini tentang Jaehyun lagi? Memang benar apa yang dikatakan Doyoung, sih. Tapi setidaknya itu masih normal, kan? Jaehyun hanya melakukan apa yang biasanya ia lakukan pada tahun pertama di sekolah. Hanya sekarang ia memiliki ‘perisai’ yang bisa melindunginya, yaitu Ten. Lucu sekali.

“Paling tidak mereka bisa sedikit akrab,” celetuk Taeyong seraya meminum minuman yang dipesankan Doyoung untuknya dengan pelan.

“Akrab? Kenapa aku merasa Ten sedang dimanfaatkan oleh bocah sialan itu, hah? Wah, andai otaknya tidak sepintar Frankenstein, mungkin aku sudah menendang pantatnya dan menyuruhnya agar menjauh dari Ten,” sahut Doyoung dengan ketus, menancapkan garpu kecil pada waffle dan mencabutnya kembali dengan sedikit dramatis hingga membuat Taeyong hampir terperanjat di kursinya.

“Itu Einstein. Franskenstein yang kau sebut tadi …, otaknya sudah rusak dan ada sekrup besar menembus tengkoraknya. Dia adalah salah satu karakter terkenal di film horor,” Taeyong mencoba mengoreksi perkataan Doyoung sambil berusaha menahan senyum gelinya.

“Ya, itu maksudku. Terserahlah.” Doyoung yang masih cemberut mengarahkan pandangannya pada meja kasir dan pintu dapur yang sedikit terbuka. “Apa malam ini kau sendirian?” tanyanya kemudian setelah menyadari tidak ada pelayan lain yang terlihat selain Taeyong.

Pemuda berambut gelap tersebut hanya mengangguk kecil pada Doyoung.

“Kau bisa berhenti bekerja di sini dan fokus pada sekolah. Aku akan meminta ayahku agar memberikan beasiswa untukmu, jadi kau tidak perlu khawatir pada biaya sekolah.”

Itu adalah maksud kedatangan Doyoung di cafe ini yang kedua selain mengadu masalah Jaehyun pada Taeyong. Ia sudah membicarakan masalah ini pada ayahnya beberapa hari yang lalu, dan tampaknya ada lampu hijau dari ayahnya.

Tidak ingin menyinggung perasaan temannya, Taeyong lantas tersenyum dan berkata, “Terima kasih, tapi aku tidak sepintar itu sampai harus mendapatkan beasiswa.”

“Tapi—“

“Yang kubutuhkan saat ini bukan hanya biaya sekolah, tapi juga kebutuhan sehari-hariku. Kebutuhan … pada normalnya. Kau tahu, biaya sewa rumah, listrik, air, makan. Hal-hal wajar yang dimiliki orang lain,” potong Taeyong.

Sambil menghela napas, Doyoung menyandarkan punggungnya pada kursi yang sedang didudukinya. Digeleng-gelengkannya kepalanya. Tampaknya memang sulit membujuk pemuda yang duduk di depannya ini. Tapi entah kenapa itu justru membuatnya diam-diam merasa bangga pada Taeyong. Tunggu sebentar. Doyoung tidak tahu apakah ia merasa bangga atau iba atau kesal terhadap respons Taeyong. Atau mungkin … ketiga perasaan itu bercampur menjadi satu?

“Lee Taeyong, sekarang justru kaulah yang ingin kucekik. Wah, kau … Tepatkah bila aku menyebutmu keren? Sok keren?” seloroh Doyoung sambil tertawa.

oOo

Seungri High School ….

“Ternyata menarik juga ada jam pelajaran kosong seperti ini,” celetuk Ten sesaat setelah salah seorang staf sekolah memberitahu murid kelas 2-3 bahwa guru yang seharusnya mengajar mereka mendadak tidak bisa datang ke sekolah.

Aneh bila semua murid merasa kecewa karena guru mereka tidak masuk karena …, lihatlah mereka. Hampir sebagian besar murid kelas tersebut merayakannya. Ha, ini terdengar normal kalau begitu. Tak terkecuali Ten yang tak berhenti tersenyum lebar sambil menggeliatkan kedua tangannya lebar-lebar.

“Tidak sepenuhnya kosong, Ten. Kita masih punya tugas yang harus selesai besok. Mengerti?” Doyoung menunjukkan buku Kimia yang ada di tangannya, tepatnya menunjukkan salah satu halaman buku yang menampilkan dua puluh soal yang harus mereka kerjakan.

“Tetap saja. Setidaknya saya tidak perlu melihat guru bermata tajam itu hari ini,” elak Ten sambil memainkan kursi yang didudukinya dengan cara mendorong tubuhnya sedikit ke belakang hingga dua kaki kursi bagian depan terangkat.

“Kau, Ten. Hari ini kita memiliki pikiran yang sama.” Doyoung mengangkat tangannya, menunjukkan telapak tangannya di depan Ten. “High five?”

Yeah, high-five! Saya—“

Gubrak!

Belum sempat mengangkat tangannya dan ber-high five dengan Doyoung, Ten lebih dulu terjungkal ke belakang bersama dengan kursinya karena ia terlalu kuat mendorong tubuhnya. Tentu saja tingkahnya membuat semua teman-temannya menoleh ke arah bangkunya dan menertawakannya. Tak terkecuali Doyoung yang masih terkejut melihat teman sebangkunya tiba-tiba jatuh begitu saja ke lantai kelas.

“Apa kau tidak bisa sehari saja tidak bertingkah ceroboh?” gumam Jaehyun yang tidak habis pikir Ten bisa melakukan hal konyol seperti itu.

Lalu apa yang akan dilakukan Jaehyun? Bangkit dari kursinya dan menolong Ten? Tentu tidak. Ia masih damai di bangkunya, bahkan dengan santainya kembali fokus pada ponselnya. Sebut saja, ia terlalu sayang pada tenaganya bila hanya untuk menolong Ten yang bangkunya berjarak kurang dari satu meter darinya. Toh, Doyoung juga sudah membantu Ten walaupun ia masih bisa mendengar tawa tertahan dari pemuda bertubuh tinggi tersebut.

“Bisa ikut denganku?”

Jaehyun mendongakkan kepalanya dan melihat Taeyong berdiri di samping bangku mereka. Oh, ia baru ingat. Sejak tadi ia tidak melihat sosok pemuda kurus tersebut.

“Kau berbicara padaku?” Jaehyun melontarkan pertanyaan lain sebagai respons sebelum kembali fokus pada ponselnya.

“Setidaknya itu yang bisa kulakukan daripada aku harus menyeretmu keluar dari kelas ini,” sahut Taeyong tenang. Tanpa menunggu jawaban dari temannya tersebut, ia langsung melangkahkan kakinya keluar dari kelas.

Keyakinannya bahwa Jaehyun akan mengikutinya keluar tidak kuat, sih. Ia tahu bagaimana sifat Jaehyun. Semua orang tahu sifat pemuda itu. Akan tetapi, ketika  ia baru akan mengira ajakannya yang lebih terkesan seperti perintah itu tidak berhasil, suara derap langkah seseorang terdengar olehnya.

“Aku tidak mau berkomentar apa-apa,” kata Jaehyun setelah membawa dirinya berjalan di samping Taeyong. Ekspresi datar khasnya tercetak begitu jelas di wajahnya.

“Baguslah karena aku juga tidak berniat bertanya apapun padamu,” sahut Taeyong geli.

Jaehyun hanya memutar bola matanya jengah. Sisa perjalanan mereka yang menuju ke arah ruang guru mereka habiskan dengan mulut terkunci. Sesekali Taeyong sibuk membalas sapaan beberapa murid kelas lain sementara Jaehyun hanya meluncurkan sorot maja tajam dan ekspresi yang sama sekali tak bersahabat pada murid-murid lainnya yang mencoba menyapanya. Perbedaan kontras, iya.

“Kau menjebakku?” tanya Jaehyun tidak percaya sesaat setelah mereka keluar dari ruang guru dengan dua kardus besar yang berisi buku-buku tebal.

“Bila dilihat sekilas, memang begitu,” jawab Taeyong ringan sambil sedikit membenarkan letak kardus yang ada di pelukannya tersebut. “Perhatikan saja jalanmu. Ini cukup berat,” lanjutnya seraya menggerakkan dahunya ke arah tangga yang harus mereka lalui.

Jaehyun tidak percaya ia dimanfaatkan seperti ini. Ia pikir mereka akan melakukan sesuatu yang biasa-biasa saja—baiklah, mengangkat kardus besar dan cukup berat ini memang hal biasa. Tapi ia tidak diberitahu dari awal! Konyol bila tadi ia menolak dan pergi keluar begitu saja dari kantor guru setelah mendengar apa yang harus ia lakukan terhadap kardus-kardus tersebut. Ha, dia memang seseorang yang bisa disebut pemberontak, tapi dia tidak cukup bodoh untuk melakukan hal tersebut secara terang-terangan. Toh, ini hanya kardus berisi buku-buku tebal.

Tampaknya ucapan Taeyong beberapa detik lalu harus ia perhatikan karena ia hampir saja tersandung saat menaiki anak tangga yang ada di depannya. Untung saja kardus yang ada di pelukannya tidak terjatuh dan menghamburkan semua isinya. Sambil menggerutu dalam hati, ia melangkahkan kakinya dengan hati-hati.

“Kau tata buku-buku itu di rak yang ada di sana,” perintah Taeyong setelah mereka berada di ruang perpustakaan yang cukup sepi. Tentu saja sepi. Ini kan masih jam pelajaran.

Alih-alih menuruti apa kata Taeyong, Jaehyun justru meletakkan kardusnya ke atas meja yang cukup lebar dan panjang dengan kasar. Tatapan matanya yang dingin begitu lurus ke arah Taeyong yang sudah lebih dulu mengeluarkan buku-buku dari dalam kardus yang menatanya dengan hati-hati di rak yang ada di depannya.

“Lakukan saja sendiri,” ucap Jaehyun dengan ketus.

“Kalau kau keluar dari sini, kau akan mendapatkan hukuman yang sedikit keras dari biasanya. Itu yang kudengar tadi dari Pak Kim.”

Ucapan Taeyong berhasil menghentikan langkah Jaehyun yang memang akan mengarah pada pintu perpustakaan.

“Setidaknya kau berterima kasih padaku karena aku tidak memberitahu Pak Kim tentang apa yang sudah kau lakukan pada Ten akhir-akhir ini. Jendela kelas yang ada di samping bangku Ten bisa dijadikan barang bukti,” lanjut Taeyong, menghentikan gerak tangannya dan memutar tubuhnya untuk melihat Jaehyun. Ia lantas menyandarkan tubuhnya pada rak tersebut dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Jaehyun mendengus pelan dan membalas tatapan Taeyong.

“Apa yang saat ini kulakukan sama persis dengan apa yang sudah kau lakukan pada Ten. Kau memanfaatkan keluguannya untuk kepentingan pribadimu dan aku memanfaatkan ke— entahlah, aku tidak tahu harus menyebutmu apa, tapi yang jelas aku memanfaatkanmu untuk kepentingan sekolah, bukan kepentingan pribadiku. Cukup adil, kan?”

Decakan pelan lolos dari bibir Jaehyun ketika ia merasa ia tidak bisa lagi membalas Taeyong. Ini aneh. Taeyong adalah orang kedua setelah Ten yang sulit ia lawan. Tidak. Doyoung juga. Mereka bertiga … menyebalkan sekali!

“Aku tidak akan ke mana-mana. Tapi aku tidak mau menata buku-buku itu,” ujar Jaehyun kemudian sambil duduk di atas meja yang ada di belakangnya.

Cukup adil bagi Jaehyun untuk saat ini. Bila Taeyong masih tetap bersikeras menyuruhnya menata buku-buku itu, ia akan langsung menghajarnya. Ya, ia tidak peduli bila setelah itu ia akan kembali mendapatkan hukuman skors seperti tahun pertamanya dulu.

Beberapa menit berlalu dan Taeyong masih berkutat dengan buku-buku tersebut. Sementara Jaehyun …, ini sudah ke-lima kalinya ia menguap. Bahkan kini ia sudah duduk bersila di atas meja sambil bertopang dagu.

Cukup bosan dan ia ingin keluar dari perpustakaan ini. Tapi ia tidak bisa karena ia sudah terlanjur mengatakan pada Taeyong ia akan tetap di sini sampai semuanya selesai. Kau ini bodoh sekali, Jung Jaehyun!

“Apa mereka selalu begitu padamu?” Jaehyun membuat topik pembicaraan setelah hampir lima belas menit suasana di dalam perpustakaan ini terkesan begitu sunyi seperti pemakaman.

“Mereka siapa?” tanya Taeyong yang tak berniat menoleh ke Jaehyun dan tetap menata buku-buku yang baru ia keluarka dari kardus yang dibawa Jaehyun tadi.

“Orang-orang yang bekerja di cafe yang sama denganmu. Apa mereka selalu bertingkah seperti orang brengsek? Aku melihat semuanya waktu itu,” Jaehyun memperjelas pertanyaannya. Jari-jari tangannya memutar-mutar tidak jelas di atas permukaan sepatunya.

Untuk beberapa detik tangan Taeyong membeku di deretan buku-buku yang sudah ia tata rapi sebelum kembali bergerak normal. Tak ada jawaban dari Taeyong.

“Apa karena mereka lebih tua dari kita jadi mereka bisa berbuat seenaknya? Mereka merasa paling kuat dan berkuasa hanya karena kita lebih muda dari mereka? Aturan alam macam apa itu?” Jaehyun kembali berkata.

“Sepertinya kau memiliki masalah dengan orang-orang yang lebih tua darimu,” timpal Taeyong setelah memastikan semua buku sudah tertata di rak. Ia seraya berbalik dan memandang Jaehyun.

“Tidak. Bukan aku yang memiliki masalah dengan mereka. Tapi mereka yang bermasalah. Mereka semua. Mereka semua yang lebih tua dariku.”

Nada bicara Jaehyun terdengar melemah di bagian akhir kata-katanya. Pandangannya pun tampak kosong untuk beberapa detik sebelum ia mendengus pelan dan kembali memasang wajah datarnya.

“Semua sudah selesai. Kita bisa kembali ke kelas,” ucap Taeyong seraya melipat dua kardus tersebut dan melemparnya ke arah Jaehyun. “Kembalikan itu semua ke ruang guru dulu.”

Jaehyun mendesis kesal dan menendang salah satu kursi di dekatnya hingga terdorong ke arah Taeyong yang tengah berjalan ke pintu. Taeyong hanya menanggapinya dengan senyum tipis dari balik punggungnya.

oOo

Guys!” pekik Ten sambil mengayuh sepedanya dengan kecepatan cukup tinggi ke arah Doyoung, Taeyong dan Jaehyun yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. Ia hampir saja menabrak Jaehyun. Sebenarnya roda sepedanya sudah menyentuh kaki Jaehyun dan mendapat tatapan tajam dari teman sekelasnya tersebut. Andai Doyoung tidak segera menarik tas Ten hingga pemilik tas tersebut tersentak ke arahnya dan hampir terjatuh dari sepeda, mungkin Jaehyun sudah memukulnya.

“Dia tidak sengaja melakukannya!” seru Doyoung kesal melihat temperamen Jaehyun yang buruk. “Wah, anak ini benar-benar, ya.”

Melihat Doyoung dan Jaehyun yang kelihatannya seperti akan terlibat dalam perseteruan, Ten langsung membawa sepedanya tepat di tengah-tengah dua pemuda yang jauh lebih tinggi darinya tersebut.

Guys, guys, I’m okay. You don’t need to fight like this. Come on, Guys. It’s not like I just got hurt or something. Can you stop? Hey.”

Mendengar Ten berbicara dalam bahasa Inggris, Doyoung dan Jaehyun langsung memandang Ten—atau menunduk, lebih tepatnya, mengingat postur tubuh Ten yang pendek—sambil mengernyitkan kening mereka.

“Bicaralah dengan bahasa yang kumengerti, Cebol,” gumam Jaehyun seraya mengayunkan kakinya, meninggalkan ketiga teman sekelasnya begitu saja.

Cebol? Apa itu?” Ten menoleh pada Doyoung dan Taeyong yang berusaha menahan tawa mereka.

Belum sempat mereka berdua menjawabnya, terdengar suara klakson mobil dari seberang jalan. Oh, Paman Park sudah menunggu Doyoung di sana.

“Aku pulang dulu, ya! Sampai jumpa besok!” Doyoung seraya melambaikan tangannya dan berlari ke arah mobil.

Taeyong menghela napas panjang. Selalu seperti ini. Mereka berempat selalu keluar dari sekolah hampir bersamaan seperti ini. Doyoung dan Jaehyun selalu beradu bicara tentang Ten dan Ten yan selalu berusaha melerai mereka. Dan dirinya hanya berdiri di sana menyaksikan pemandangan menggelikan tersebut.

“Taeyong, saya juga harus pergi dulu. Ada yang harus saya temui setelah ini. Sampai jumpa besok~!”

Dan Ten selalu menjadi orang terakhir yang pergi. Taeyong hanya bisa mengulas senyum melihat ketiga teman sekelasnya pergi dengan cara khas mereka masing-masing. Sebuah pengalaman baru yang tengah ia nikmati setelah sebelumnya terasa sepi karena ia selalu pulang sendiri tanpa ada orang-orang di dekatnya seperti mereka.

Ten memarkir sepedanya di dekat deretan mobil-mobil mewah yang terparkir rapi di dekat gedung. Ia hanya terkekeh menyadari satu-satunya kendaraan yang tak mahal dan mengkilap adalah sepedanya.

“Sepeda saya yang paling mahal di sini,” celetuknya sembari berjalan masuk ke gedung yang ada di depannya.

Gedung tersebut tidak terlalu tinggi dan jaraknya cukup dekat dengan sebuah rumah sakit terkenal di Seoul. Suasananya pun tenang dan sejuk karena banyak pohon yang mengelilingi gedung bercat hijau pastel. Staf keamannya pun ramah. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa Ten menyukai tempat ini.

“Ruang B~ Ruang B~ Ruang B~”

Nada lagu tak jelas ia lantunkan setelah ia berada di lantai dua. Ia mendadak harus berhenti karena dari lorong yang ada di dekatnya tampak kerumunan orang yang berjalan ke arahnya. Ia perlahan menepi dan memberi jalan bagi mereka.

“Semoga hari Anda semua menyenangkan. Meski itu sulit untuk beberapa waktu ke depan,” gumamnya pelan sambil mengulas senyum tipis dan kembali berjalan ke lorong yang tadi dilalui oleh orang-orang tersebut.

Tulisan ‘RUANG B’ terpampang cukup jelas di atas sebuah pintu kaca. Ten kembali tersenyum melihatnya. Ditariknya napas dalam-dalam sebelum membuka pintu kaca tebal yang ada di depannya dengan sedikit tenaga.

Matanya memandang satu per satu loker kaca tembus pandang yang ada di semua dinding ruangan tersebut hingga sebuah loker kaca bernomor “B291” membuatnya berhenti melangkah.

Hyung, saya datang,” ucapnya pelan pada loker kaca sambil menundukkan kepala beberapa detik. Diambilnya sebuah bunga lili berwarna putih kecil yang dibungkus plastik bening dan ditempelkannya bunga tersebut pada tepi loker kaca dengan menggunakan selotip transparan.

“Bunganya indah. Tapi bagi saya, Hyung yang lebih indah, hehehehehe. Hyung, bagaimana kabarmu? Maaf, saya tidak bisa kemari bersama Ibu kemarin. Tugas sekolah saya … cukup banyak.”

Senyum Ten merekah memandang sebuah bingkai cantik berukuran kecil dengan sebuah foto seorang pemuda berambut hitam yang memiliki senyum seperti dirinya di dalamnya. Di dekat foto tersebut berdiri sebuah patung anak kecil dengan sepasang sayap berwarna putih gading. Dan di belakang patung mungil tersebut, ada sebuah guci keramik berukuran sedang dan berwarna biru muda dengan beberapa ukiran cantik.

Di sana, di dalam guci indah tersebut, terdapat abu jenazah seseorang yang dipanggil Ten dengan sebutan Hyung. Ya, abu jenazah tersebut adalah milik kakak Ten yang meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan saat mengikuti kegiatan universitas di pegunungan. Seorang kakak yang sangat dekat dengan Ten meski sebelumnya mereka jarang bertemu karena Ten saat itu masih tinggal di Thailand.

“Saya rasa saya sudah mengatakan ini ratusan kali. I miss you, Hyung,” ucapnya sambil tetap tersenyum lebar.

Tidak. Ia tidak sepenuhnya tersenyum lebar. Bibirnya bisa mengulas senyum manis seperti itu, tapi tidak untuk matanya. Ada genangan air mata yang perlahan bisa turun mengalir ke pipinya. Sorot matanya tampak begitu sedih saat ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari foto kakaknya.

Hyung, saya masih ketakutan seperti dulu. Saya ….,” Ia memberi jeda pada kata-katanya untuk menyeka air mata yang baru saja meluncur ke pipinya. “ Saya … masih merasa sesak napas dan gemetar saat ada orang-orang yang … memojokkan saya seperti waktu itu.”

Isak tangis pun terdengar di ruangan tersebut. Bodohnya, Ten justru tak bisa mengendalikan diri dan berakhir dengan menangis sesenggukan seperti anak kecil yang terluka karena terjatuh. Kedua bahunya berguncang seiring dengan isak tangisnya yang menderu. Bahkan mungkin kedua tangannya yang sejak tadi menyeka air matanya tak berguna lagi karena tangisnya tak kunjung berhenti.

Ingatannya berjalan mundur pada kenangan buruk yang membuatnya trauma hingga sekarang. Kenangan di saat ia sama sekali belum bisa berbahasa Korea dan harus berinteraksi dengan teman-teman barunya di SMP. Ada sekelompok seniornya yang suka mengerjainya dan memojokkannya di belakang sekolah. Ejekan demi ejekan mereka lontarkan padanya. Ia masih ingat bagaimana mereka menarik kerah seragamnya dan meludahinya tanpa alasan yang jelas.

Dirinya yang dulu masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sekitar mengalami guncangan yang cukup hebat karena perlakuan seniornya di setiap jam pulang sekolah. Minimnya bahasa Korea yang ia miliki membuatnya tak bisa mengadu pada sekolah dan keadaan orang tuanya yang saat itu sangat sibuk bekerja memaksanya untuk memendam semuanya sendirian. Satu-satunya orang yang membuatnya berani membuka mulut untuk mengatakan yang sebenarnya adalah kakaknya hingga akhirnya sekolahnya pun mengetahuinya dan menghukum senior-seniornya tersebut.

Akan tetapi …, bukan itu yang membuatnya merasa trauma, melainkan karena pelecehan secara fisik yang dilakukan oleh mereka ketika ia pulang terlambat dari sekolah. Tidak. Ten tidak mau kembali mengingat bagaimana kelamnya masa lalunya itu.

Terlalu menyakitkan dan ia tidak ingin hal tersebut merusak hari-harinya sekarang.

I have close friends, Hyung. I don’t know if they treat me like their close friends or not, but I always feel  so comfortable when they’re around. I feel so happy talking with them. Ah, one more thing. You said you wanna see me dating a girl in high school,  right? Honestly, I wanna do it, but … at this time …, I just wanna focus on school first. I didn’t know 2nd grade’s subjects in high school would be this hard tho. There are so many homeworks that I have to do, like almost everyday. Bahkan saat satu tugas belum selesai, ada tugas lain lagi. But, trust me, suatu saat nanti saya akan kencan dengan seorang gadis yang cantik dan pintar. Saya akan membawanya kemari dan mengenalkannya padamu. Tapi ….”

Seperti itulah tangisan Ten terhenti dengan sendirinya seiring ia mulai bercerita panjang lebar mengenai sekolahnya dan hal-hal semacam itu di depan loker penyimpanan abu jenazah kakaknya. Ia juga tak lupa menyebutkan nama Doyoung, Jaehyun dan Taeyong, lengkap dengan sifat mereka dan kenapa ia suka berteman dengan mereka.

Ten, kau adalah pemuda yang manis dan berhati lembut, selembut awan putih di langit Seoul siang ini. Tetaplah ceria dan membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarmu. Termasuk tiga teman yang kau sebut sebagai teman dekat itu. Ada kalanya mereka mungkin membutuhkan senyum manismu yang lebar, kepolosanmu dan pikiran positifmu untuk membantu mereka mengurangi beban yang mungkin terasa berat di kedua bahu mereka.

Suatu saat nanti, Ten.

Suatu hari nanti.

Lihat dan tunggu saja.

-to be continued-

 Ada yang masih inget sama ff ini nggak ya? 😀

Advertisements

4 thoughts on “[Chaptered] Troublemakers (Part 5)

  1. Aku nunggu lanjutan ff ini lama bgt. Ampe lupa ama crita sbelumnya. Updatenya jgn lama2 y thor, nunggunya ampe jamuran. Critanya makin keren. Lanjutkan!!!

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s