[Mystic in Europe] Trois Victimes

trois

Written by thehunlulu ©2017

Trois Victimes

Starring by NCT’s Moon Taeil & Ji Hansol Genre Creepy, AU! Length Vignette Rating PG-15

Taeil lebih memilih untuk mati di medan perang daripada harus pulang tanpa membuahkan hasil.

***

Auvergne Mountain, France, 03:25 AM

Taeil tak pernah seceroboh ini.

Diiringi derapan pelan, jemari kurusnya merogoh seluruh isi ransel—yang segaja ia posisikan di depan tubuh—untuk mengais keberadaan baterai senter yang entah ke mana hilangnya. Napasnya berembus tak beraturan, selagi kedua kakinya tetap mengambil langkah untuk menaiki bukit terjal yang jelas-jelas sudah ia lalui sekitar 500 meter dari bawah kaki gunung.

Tidak ada pencahayaan dari manapun. Syukur-syukur kalau bulan di atasnya sedang dalam fase purnama, sehingga alih-alih Taeil cemas karena kehilangan daya senter, ia dapat mengandalkan pendaran remang dari atas langit.

Bodohnya, Taeil baru sadar jika ia tidak dapat menghubungi siapapun karena keterbatasan sinyal—dia juga baru sadar kalau sedang membawa handy talky sebagai pengganti ponsel. Bahkan sepertinya hal buruk juga akan terjadi jika ia memilih untuk menuruni bukit lalu meminjam senter di markas pengungsian.

“Brengsek sekali si kunyuk Hansol! Berani-beraninya dia menukar senter dan mengusirku agar cepat naik untuk mencari korban hilang,” erang Taeil, tampak memicingkan penglihatannya berharap dapat menelisik seisi hutan di tengah gempitanya malam. “Cih, ke mana moto pasukan kita yang digadang-gadang sebagai organisasi pelindung hak-hak pengungsi? Bullshit!

Selaku anggota tim UNHCR—organisasi di bawah naungan PBB yang menangani pengungsi secara global—sudah menjadi hal yang lumrah bagi Taeil untuk bekerjasama dalam menyelamatkan, mencari, dan menyongsong kehidupan para korban bencana alam di seluruh belahan dunia. Namun karena medan yang kurang memadai, pihak PBB hanya mengerahkan tujuh petugas untuk dikirim ke tempat letusan Gunung Auvergne di Prancis. Yang terpenting adalah, seluruh kebutuhan pangan dan sandang dapat terpenuhi sehingga tidak banyak kru yang menganggur di tempat pengungsian.

SREEEK ….

Bukannya Taeil memiliki nyali sekecil biji jagung, namun setelah ia mendengar gesekan semak-semak di antara dua pohon besar di sampingnya, pemuda Moon tersebut langsung terlonjak. Tanpa sadar tangannya mengarahkan senter tanpa cahaya itu ke arah sumber suara.

Tidak ada siapa-siapa.

Kepalanya berputar kesana-kemari, agak waspada. Pupilnya terasa lebih lebar dari biasanya karena berusaha mempertajam penglihatan walau hasilnya nihil. Ia hanya ditemani oleh deru napasnya sendiri.

Juga lolongan minta tolong dari kejauhan.

“Bedebah!”

Segera Taeil bangkit setelah kakinya tidak sengaja tersandung akar pohon yang mencuat dari dalam tanah. Peluhnya mengucur bebas sampai punggungnya basah. Satu-satunya hal yang ia pikirkan hari ini adalah; segera menemukan korban yang hilang dan kembali ke kaki gunung secepat mungkin. Bahkan ia rela tersungkur berkali-kali asalkan dua korban yang nihil presensinya di buku catatan penduduk segera terselamatkan.

Semakin Taeil berjalan memasuki hutan, udara yang melingkupi tubuhnya semakin rendah. Tubuhnya sedikit bergetar dan peluhnya berubah menjadi dingin. Di sela-sela jangkahannya yang panjang, sepasang gendang telinganya masih dapat mendengar bunyi gemerisik dari handy talky yang tersemat di dadanya.

“Moon Taeil melapor, ada suara korban selamat dari dalam hutan.”

Sesaat kemudian sebuah suara menjawab informasi yang diberikan Taeil.

“Tolong agak dipercepat sebelum korban terserang hipotermia. Apa perlu bantuan?”

“Sepertinya iya. Kita hanya butuh tandu,” suara Taeil menjadi serak lantaran tekanan udara yang mulai menipis.

“Baiklah. Obat-obatan dan air bersih, apa kau sudah membawanya?”

“Semua kebutuhan obat dan air bersih sudah tersedia di dalam ranselku. Oh ya, sebagai informasi, tolong bawa satu petugas lagi karena medan di sini begitu curam dan terjal. Kemungkinan untuk menggotong korban menggunakan tandu akan sedikit sulit dilakukan.”

Taeil agaknya sedikit merasa lega karena rekan satu timnya—Hansol—masih dapat diajak berpikir rasional, mengingat seringnya terjadi kesalahpahaman di antara mereka.

“Di mana lokasimu sekarang?”

Taeil merogoh saku celananya dengan cepat, kemudian menekan lampu kecil yang ada di kompas digital miliknya. “Aku berjalan ke arah timur laut,” ujarnya sambil menendang batu berukuran sedang ke arah kanan dengan serampangan. Batu tersebut menggelinding jatuh tanpa menimbulkan suara. “Lewati jalan dengan jurang yang berada di kananmu. Tolong hati-hati karena akan ada banyak jebakan menanti,” tutup Taeil sambil tertawa, agak bergurau.

Persetan dengan senter mati yang masih berada di genggamannya, fokus Taeil hanya tertuju pada lolongan minta tolong yang berubah menjadi sebuah rintihan. Ia berhenti setelah melanjutkan kurang lebih sepuluh langkah. Seperti rintihan seorang wanita, begitu asumsi Taeil. Walau tidak ada sedikitpun penerangan, Taeil dapat merasakan kehadiran seseorang yang tak jauh dari tempatnya berada.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Em—

DEG!

Sekujur tubuh Taeil membeku. Atmosfer berubah lebih dingin, bulu kuduknya meremang tanpa permisi.

Sebuah tangan berhasil menggapai pergelangan kakinya.

Pikiran Taeil berkecamuk hebat. Satu sisi berharap agar rekan-rekannya segera menyusul ke dalam hutan, sedangkan di sisi lain, ia bersyukur karena satu korban berhasil ditemukan.

“Permisi …,” Taeil membuka suara dengan getir. Tubuhnya berjongkok seraya tangannya meraba-raba sebuah tangan yang mencengkeramnya erat. Ini masih gelap, ia tidak bisa memastikan apakah wanita yang terkapar di atas tanah itu sehat walafiat atau terluka di sekujur tubuhnya.

“Anda selamat, jangan khawatir.”

Tidak ada respons yang Taeil terima setelahnya.

Dikarenakan tidak dapat menggunakan indera penglihatannya untuk sementara, pemuda itu memilih untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dialami korban tersebut.

Mungkin pendengarannya sedikit bermasalah karena efek letusan dan trauma, begitu asumsinya.

“S’il vous plaît je ….”

“It’s okay, Miss, you’ve already safe.” Walaupun Taeil sama sekali tidak memiliki bekal berbahasa Prancis, namun sedikit banyak ia mengerti kalimat-kalimat yang biasa dilontarkan oleh kebanyakan korban bencana. Seperti ‘please, help me’ dalam bahasa Inggris, ‘bitte hilf mir’ dalam bahasa Jerman, atau kalimat yang baru saja dikatakan sang wanita dalam bahasa Prancis.

Dengan tenang, Taeil membantu korban tersebut untuk pindah ke tempat yang lebih landai. Taeil tidak menyuruh untuk duduk ataupun membopongnya, karena ada kemungkinan korban tersebut mengalami patah tulang—atau yang lebih fatal, patah tulang rusuk yang menyebabkan kematian jika si penderita duduk dengan posisi 90 derajat.

Tangannya cukup mahir untuk menemukan kotak P3K dari dalam tasnya, kemudian ia duduk di samping wanita yang sedang terbaring itu. Taeil cukup cakap dalam melakukan aktivitas yang berkaitan dengan pertolongan pertama, namun tidak dengan strateginya saat mencari korban hilang. Hari ini, sebuah keberuntungan seperti berpihak pada dirinya karena Taeil berhasil menemukan korban dalam keadaan selamat dengan kurun waktu kurang dari dua puluh menit.

Wanita itu mendesis samar, kemudian dilanjut merintih saat Taeil mengusap luka pada sekujur tangannya menggunakan kapas dan cairan alkohol. Indera penciuman Taeil tidak buruk, karena bau anyir darah sedari tadi menerobos masuk ke dalam hidungnya. Juga jemari kurusnya yang bersentuhan dengan cairan kental saat Taeil berusaha melepaskan cengkeraman sang wanita dari pergelangan kakinya.

“Ini akan sedikit perih, tapi dengan begini, anda tidak akan mengalami infeksi. Bersabarlah, sebentar lagi kru yang lain akan datang.”

Sesaat kemudian, handy talky Taeil bergemerisik.

“Moon Taeil, di mana posisimu sekarang?”

Itu suara Hansol.

“Seperti di depan sebuah—“ Taeil menggantungkan kalimatnya, beralih menajamkan pandangan dan meraba-raba tembok besar yang digunakannya untuk bersandar. “—pondok? Atau gereja? Eh, sebuah gereja katedral berukuran kecil.”

“Satu orang korban berhasil menuruni bukit dengan luka dan lapisan abu di sekujur tubuhnya, apa kau menemukan satu korban lain?”

“Ya, aku baru saja menemukannya. Seorang wanita yang—jika didengar dari suaranya—ia berumur sekitar awal dua puluhan. Ia terluka parah dan aku—“

“Apa korbannya ada tiga?” sela Hansol penuh penekanan di seberang sana. “Hanya ada dua penduduk yang hilang menurut catatan setempat, yang satu pria dan yang satunya lagi wanita. Sedangkan yang baru saja datang ke tenda pengungsian adalah seorang wanita.”

DEG!

Wanita.

Secara harfiah, pikiran seorang Moon Taeil sekarang sudah melalang buana sampai kepada asumsi-asumsi tidak masuk akal, khayal, dan tidak rasional. Namun apakah dengan demikian ia harus meninggalkan seorang wanita yang jelas-jelas harapan hidupnya bergantung pada Taeil—satu-satunya orang yang berhasil menemukannya?

Tidak bisa.

Ia lebih memilih untuk mati di medan perang daripada harus pulang tanpa membuahkan hasil.

“Gurauanmu sangat kampungan,” lontar Taeil setelah tangannya merapikan obat-obatan dan memasukkan botol alkohol ke dalam kotak P3K. “Jelas-jelas orang yang sedang kuselamatkan adalah wanita. Mungkin pihak administrasi penduduk melupakan satu korban lagi, siapa yang tahu. Dan mungkin jika aku melanjutkan pencarian sampai ke bibir kawah, ada banyak sekali korban yang belum disadari kehilangannya.”

Di seberang sana, Hansol tampak mengemban oksigen dalam-dalam. “Kita memang tidak bekerja hanya di bawah kendali informasi yang diberikan, namun ada baiknya kau cepat selamatkan wanita itu.” Hansol menjeda perkataannya, sedangkan Taeil memutar bola matanya jengah. “Kau tadi di mana? Di depan sebuah gereja katedral?”

“Ya, di depan gereja katedral. Cepat kemari, wanita ini bicaranya agak terbata-bata, dia butuh oksigen.”

Tanpa menjawab, koneksi Hansol terputus.

Taeil meraba-raba permukaan tanah, mencoba mencari sebuah batu dengan permukaan halus sebagai bantal untuk wanita tersebut. Ia harus meneggak setidaknya tiga teguk air agar lebih tenang.

Namun tiba-tiba, saat Taeil menunduk untuk mencari botol air mineral di dalam tas, ia menangkap—melalui ujung penglihatannya—seberkas sinar kemerahan yang tersorot ke arahnya. Siapa yang pagi-pagi buta begini bermain laser, pikir Taeil.

“Moon Taeil!”

Taeil nyaris terlonjak saat lengkingan Hansol tertangkap rungu. Sontak pemuda yang sedari tadi berkutat dengan barang-barang yang ada di dalam tasnya mengalihkan pandang. Samar-samar ia menangkap presensi Hansol yang berdiri seorang diri sambil mengarahkan lampu senter ke wajahnya.

Taeil menyipit, mengayunkan tangannya agar Hansol segera mendekat.

Sekonyong-konyong Hansol mendelik. “CEPAT PERGI DARI SITU!”

DEG!

Taeil mengalihkan pandangannya. Wanita yang baru saja terbaring lemah di atas tanah kini duduk tegap, pandangan mereka bertemu.

Kedua matanya berkilat merah.

Melotot tajam ke arah Taeil.

Sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu berwarna abu-abu pekat, dengan kedua taring yang mengintip dari balik mulutnya.

GRASHHH!!!

.

.

.

Jumlah korban keseluruhan: 3 orang.

 

— fin —


  • Trois Victimes dalam bahasa Prancis artinya ‘Tiga Korban’.
  • Gunung Auvergne terkenal dengan kisahnya yang menceritakan tentang keberadaan manusia serigala (werewolf). Konon katanya, jaman dahulu ada seorang pria yang pernah menjadi korban manusia serigala.
  • Sebenernya Gunung Auvergne itu enggak serem seperti yang aku jabarin kok, malah gunungnya bagus, punya banyak penduduk, ada tempat penginapan, rekreasi, sama jalur kereta api juga, pokoknya bertolak belakang banget suasananya sama ceritanya Taeil XD
  • Singkat cerita waktu aku riset tentang kisah mistik di Gunung Auvergne, nggak ada sama sekali web yang nyeritain sisi kelam gunung itu (atau emang akunya yang enggak mahir searching), sampe akhirnya ada satu web bahasa inggris yang bisa dijadiin refrensi huhuhu ((puja simbah ajaib)). Dan ternyata ceritanya nggeletek banget: di sana pernah ada werewolf. END. ((kzl ga sih wkwkwk))
  • Terakhir, mind to review? 😉
Advertisements

15 thoughts on “[Mystic in Europe] Trois Victimes

  1. wowowowowooooooo moon tae adalah korban ketigaaaa
    bisa nemu beginian ya di prancis. aku senang kamu mengembalikan sisi horor manusia serigala yg belakangan terkikis romance
    suka juga gimana cara kamu membangun suasana dan bikin kita tegang >< keep writing ya!!!

    Liked by 1 person

    • salah moon tae sendiri ya kak dah tau senter mati masih aja nekat xD jadi korban kan akhirnya wkwkwk..
      wah tambah serem kayanya nih kalo dibikin love triangle antara taeil, si mbak werewolf sama hansol /.\ hihihi…

      btw makasi kak liana suda mampir dimari! keep writing juga buat kakak! ❤

      Like

  2. Pertanyaanku cuma satu: HANSOL SELAMAT GA DON? /dibuang/ simbah gaselamet sih gapapa wong dia punya banyak nyawa koq habis modyar yo entar juga bangkit lagi dari kubur /semoga budir tyda melihat/

    Unch unch mbasri jan gegelak mba sementang srigala jadinya galakgalak dih kesian simbah jantungan entar metong gimanaaaa? Duh, budir terancam ngejanda lagi dongse ini /dibuang

    Wis ah aku wis mampir sebenere telat sih waks yogapapayo timbang ga samasekali bubay don salam tayang buat masjihanyangtydakunjungdebut.

    Liked by 1 person

    • GA KAK, HANSOLNYA METONG PISAN GEGARA MBASRI LEBIH MEMILIH TAEIL KETIMBANG DIA /gelinding/

      wah budir @janedoe319 sepertinya ada pengganggu diantara kerukunan hubungan anda dengan mas il hehehehe :)) simbah wes wafat kak, masa mau metong lagi ya kesian budir pacarnya mati dua kali /ga

      tengkyu mbaay—yang abis ini nikah, amin—suda mampir dimari he he semoga mas hansol cepetan debut teros momong risol bersama sang istri mwah ❤

      Like

    • hujan makan mie kuah aja kak jangan bayangin taeil yang tiba2 mati di tengah hutan hehehehe XD ati2 digentayangin loh wkwkwk…

      btw makasi suda mampir ya kak! 😉 ❤

      Like

  3. Sepertinya keputusan yang salah baca ini di tempat tidur dengan semua lampu udah mati. Siyal, aku merinding skrg. Literally merinding. Membayangkan di kolong tempat tidurku ada manusia serigala bersemayam.

    But, don… Gila kamu jago bgt eksekusi plotnya hwhwhwhw… Dari sebuah legenda bisa kamu ubah plot ke fanfic dan jadinya lit banget! Mana permainan kata2nya bagus lagi jd seakan pembaca berada di gunung tersebut jg hahaha..
    Nice fic don! 👍

    Liked by 1 person

    • halo kak gece, salam jinjja yerobun untuk kita semua 🙂

      sekarang coba cek kolong kasurnya kak, sapa tau ada cahaya merah juga hiiiiiiiiiiii jangan turun kasur nanti kakinya dipegang sama si mba serigala hiiiiiii /tjokoep don/

      hehehe makasih apresiasinya kak ^^ nantikan legenda kisah cintaku dengan mark lee ya he he /dibuang/ makasih juga suda mampir dimari mwah ❤ salam jinjja yerobun untuk kita semua (2)

      Like

  4. Hai salam kenal
    Ga sengaja nemu fic ini *bahasanyakogaenakaya* dan ternyata
    UWOOOOOOOWWWWWWWWWWWWW keren bgt bgt bgt
    Aku kira si mba macam makhluk” bergentayangan (a.k.a hantu)
    Ternyata eh ternyata, makhluk jadi”an toh
    Keren” ^_^
    Sukses bikin merinding d tengah malem

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s