[Mystic in Europe] On the Nightmare

On The Nightmare

story by ayshry

[NCT’s] Ji Hansol, Nakamoto Yuta

Mystic Spot: Transylvania

AU!, Creepy/Vignette/PG-17

***

Sudut ruangan yang gelap, berlumut pun terasa lembab menjadi tempat dimana seonggok daging bernyawa bersandar. Ia menggigil. Bergetar hebat meski kedua tangannya merengkuh tubuh erat-erat. Tubuh malang itu adalah milik seorang Ji Hansol yang tak ingat sudah berapa lama ia terkurung di dalam ruangan tersebut. Hanya ingatan perihal bagaimana dan kenapa ia bisa terjebak di sana yang tersisa dalam pikirannya.

Ketukan teratur bersamaan denting jeruji besi yang memekakan telinga membuat Hansol semakin awas. Matanya menilik sekitar, was-was. Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi jika suara tersebut kian mendekat. Mati atau kembali disiksa. Dan Hansol harap, yang pertamalah yang akan terjadi padanya. Mengingat tubuh dan pikiran pemuda itu tak lagi sanggup bergumul dengan kesakitan.

Sekon berikutnya, suara pintu besi yang dibuka paksa disambung ribut-ribut dari mereka yang membawa senjata menyeret Hansol ke luar sana. Mengabaikan teriakan yang tanpa sadar menguar dari tenggorokan si pemuda pun rontaan yang kian lama tak lagi bertenaga.

Hansol pun kehilangan kesadaran sementara tubuh malangnya diseret hingga ke hadapan singgasana.

***

Perih yang melanda tak lagi menyiksa. Peluh yang memenuhi tubuh tak lagi terasa. Sedangkan lelah yang berasal dari penantian justru kian menganggu. Sampai kapan segalanya akan terbelenggu?

Namanya Yuta. Nakamoto Yuta; yang kini mewarisi tahta dan memimpin kerajaan. Pada awalnya beliau kerap berbagi kebahagiaan, memperlakukan rakyatnya dengan penuh kebaikan pun menjalin hubungan yang akrab dengan Hansol–yang kini berstatus tahanan. Tetapi, segalanya tak bertahan lama. Perubahan demi perubahan terjadi dengan begitu nyata. Hingga kini, kehancuran pun sudah tampak di pelupuk mata.

Raja Yuta adalah yang terbaik! Raja Yuta sangat mengerti rakyat dan memperlakukannya dengan laik! Oh, Tidak. Kini semuanya tinggal kenangan dan selamat menyambut kehancuran.

Perlakuan raja kini sungguh di luar akal. Demi kemakmuran? Omong kosong! Justru raja beringas itu yang gemar menebar penderitaan; yang selalu menyebabkan kesengsaraan; yang dengan tidak manusiawi melenyapkan siapa saja yang membangkang. Termasuk Hansol. Meksipun yang pemuda itu lakukan hanya ingin meluruskan; ingin membawa negeri kembali kepada kedamaian; ingin membuat rakyat merasakan kebahagiaan. Namun sayang, hal baik tersebut justru di cap penghianat oleh si raja yang telah dibutakan kekuasaan.

Bagi Hansol, semua yang ia lakukan memang penuh pengorbanan. Tekadnya sudah bulat, meski maut yang menantang, Hansol tetap berjuang. Mengingat hubungannya dengan sang raja sudah terjalin sejak kanak-kanak, pemuda itu mengira setidaknya saran darinya akan diterima. Tetapi nihil. Raja benar-benar telah kehilangan belas kasih. Tanpa pandang bulu pun mencoba mendengarkan hingga akhir, lekas ia keluarkan titah untuk menahan Hansol si penghianat dan melakukan penyiksaan demi penyiksaan hingga pengakuan didapat.

Hansol sadar. Perlakukan sang raja yang berlabelkan perdamaian hanya topeng belaka. Ia tahu ada yang salah dari karibnya tersebut. Ada sesuatu yang membuatnya berubah dan gemar berulah. Entahlah, Hansol tak mengetahui asal-usul pastinya. Tetapi, segala bentuk penyiksaan hingga pencabutan nyawa dilakukan demi memenuhi hasratnya. Hasrat iblis kecil yang diam-diam bersemanyam di tubuh sahabatnya.

“Bangun kau, Penghianat!”

Guyuran air dingin membuat Hansol tersadar sepenuhnya. Tubuhnya tak lagi menggigil melainkan mati rasa. Tangannya terikat di atas tiang sementara menopang tubuhnya yang tak berdaya. Hansol mencoba untuk membuka mata lebar-lebar.

“Yuta ….” Susah-payah Hansol melafalkan sebuah nama. Namun yang didapat justru pukulan bertubi-tubi yang diarahkan pada perutnya.

“TUTUP MULUT BUSUKMU ITU!”

Suara keras tersebut menggema. Dan Hansol sadar jika hanya ada ia dan karibnya yang telah berubah di sana. Tanpa pengawal, tanpa dayang-dayang, tanpa manusia lainnya. Artinya, sang ajal sudah dekat. Penyiksaan akan hilang, berganti rasa damai yang seharunya datang.

Damai? Apakah Hansol lupa jika kematian tak lebih baik daripada mendapat penyiksaan yang tak berkesudahan?

“Aku tak tahu pada akhirnya kau akan menjadi penghianat, Ji Hansol. Kukira kau—“

“Aku tidak berkhianat!” potong Hansol tegas. Meski suaranya bergetar, namun ia berusaha agar tak tampak lemah. “Kau yang harusnya sadar, Yuta!”

“AKU RAJAMU, KEPARAT!”

“Kau sahabatku sebelum menjadi raja. Tidak ingatkah, kau?”

Ck, seangkuh itukah kau lantaran pernah menjadi orang kepercayaanku? Jika kutahu kau akan berkhianat, maka tidak akan sudi aku menjalin pertemanan denganmu.”

Hansol terkekeh, mencemooh apa yang baru menguar dari bibir Raja Yuta: kebohongan. Sebuah kebohongan yang entah sejak kapan menjadi kebiasaan. Seperti pembantaian yang dilakukan demi mencapai kenikmatan. Dasar iblis.

“Oh, kau tertawa? Lihat! Bagaimana aku memberikan kebahagiaan padamu, Hansol! Seharusnya kau lebih menurut dan tidak banyak bicara. Sayang sekali, kau lebih suka membantah dan berbicara omong kosong. Membuatku pusing saja.”

“Bahagia katamu? Kau yang bahagia, bukan? Melihat orang lain tersiksa, menjerit memohon ampunan, berteriak kesakitan, menangis tanpa tahu bagaimana menghentikan! Iblis! Aku masih bertanya-tanya, hal apa yang bisa membuatmu berubah sedemikian rupa. Kau … kau bukan sosok seorang pemimpin yang diimpikan. Sadarlah! Rakyatmu kesusahaan. Kau hanya menambah sengsara. Tak bisakah berhenti mencari kesenangan untuk dirimu semata? Pikirkan mereka di luar sana yang—“

“Mereka hanya budak-budak tak berdaya.” Yuta mendesis. Jarak yang ada kini sudah terkikis. Menarik sebuah belati dari sarungnya yang terbuat dari kulit binatang, ia tempelkan ujungnya pada kulit Hansol yang tak berbalut kain. “Mereka milikku. Mereka ada hanya untukku. Hidup dan mati mereka berada di tanganku. Terutama bagi mereka yang tak mau mendengarkanku. Dan hal itu berlaku untukmu juga! Kau masih hidup hingga detik ini karena kekuasaanku, karena aku masih menganggapmu sahabat sebelum kau membelot dan berusaha memusnahkanku.”

“Aku tak pernah memiliki pemikiran seperti itu!”

“Pembohong!” Sayatan panjang diukir pada punggung Hansol. Menyisakan cairan kental merah nan anyir yang mengalir dari celah luka menganga. Hansol menjerit tertahan. Tak siap dengan serangan yang tiba-tiba, matanya terpejam. “Sudah saatnya untuk menjemput ajalmu, Hansol. Kau akan bergabung bersama para penghianat lainnya di neraka sana dan—“

“KAU YANG SEHARUSNYA DIBUANG KE NERAKA, YUTA!”

“DIAM KAU!”

Bersamaan dengan lantangnya suara Yuta, benda mengilap nan tajam itu kini bersarang di dada Hansol. Yuta terbahak. Melihat sahabatnya menjerit kesakitan, sang pemuda justru merasakan kepuasan yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata. Sekon berikutnya, lekas ia tarik belati tersebut lalu menikam sisi kanan leher Hansol.

“Untuk kedamaian, kupersembahkan jiwa penghianat ini kepadamu.”

Hansol yang sekarat tak lagi mampu berujar. Tatapnya pun perlahan memudar. Namun, masih ada sisa napas putus-putus yang membuatnya tetap tersadar.

Antara hidup dan mati, pemuda itu menyaksikan sesuatu yang tak seharusnya tertangkap mata. Yuta yang tertawa lantang pun raut bahagianya yang anehnya terlihat menakutkan. Yuta perlahan mendekatkan diri pada sumber genangan darah yang mengalir dari leher Hansol. Gumanan-gumanan menelusup telinga Hansol dengan penuh ketidakjelasaan. Entah karena nyawanya yang tinggal beberapa waktu sebelum lenyap, atau inderanya yang berkurang fungsi sebelum menemui ajal, Hansol pun tak begitu mengerti keadaannya kini. Hingga rasa terbakar pun perih yang amat menyiksa membuatnya berteriak di sisa-sisa kekuatan yang ada. Ketika taring panjang itu melesak kulitnya, menusuk dagingnya, lantas sesuatu seakan menyedot habis darahnya tanpa ampun. Sekon berikutnya, Hansol yang kehabisan darah pun terkulai tanpa nyawa.

***

Alunan nada mengelilingi ruangan terdengar mendayu. Seakan menjadi candu, menyatu dengan hening yang kini perlahan menjauh. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah peti yang dihiasi bunga warna-warni; indah sekaligus mencekam.

Sementara nada demi nada masih terus menggema, peti di tengah ruangan tiba-tiba bergetar lantas tutupnya melayang jauh. Menubruk langit-langit sebelum menghantam lantai dengan kuatnya.

Derit pintu menutup alunan nada yang indah, menelusup memecah suram disusul ketukan kaki teratur. Sosok berjubah itu memasuki ruangan dengan senyum miring yang mendominasi ekspresi. Mendekati peti dengan percaya diri, ia lekas membuka tudung yang menutupi kepalanya lalu menatap seseorang yang masih terbaring di dalam peti; damai pun penuh ketenangan. Sekon berikutnya, ia ulurkan tangan lantas mengelus wajah pucat itu penuh kelembutan. Lalu, ia alihkan genggaman pada tangan yang sedingin es dan terbukalah mata yang tadinya menutup seakan tak bisa membuka lagi.

Mata merah itu menatap dengan bengis. Ia menyeringai sedangkan si jubah tertawa lantang lantarsberkata dengan girang:

“Selamat kembali kawan. Penantian panjang tak pernah berakhir sia-sia, ‘kan? Bersyukurlah pada labeh persahabatan yang kau tanam sejak lama, aku jadi tak bisa membiarkan jasadmu digerogoti serangga-serangga menjijikkan di dalam tanah. Karena kita sudah ditakdirkan untuk selalu bersama. Dari dulu, hingga sekarang. Dari pertemanan meski diakhiri dengan penghianatan. Benar bukan, Hansol?”

Hansol mendesis. Dari celah bibirnya terpampanglah sepasang taring nan runcing yang sebelumnya tidak pernah ada.

“Apa yang kau lakukan padaku, Bangsat?!”

-Fin.

Setelah sekian lama tida bersua di sini dan akhirnya bisa nulis fic lagi itu rasanya …………. lebih bahagia dari denger kabar Hansol debut (padal belum tau dih itu kang risol atu bakal debut apa engga huvt)

Loveya~

-mbaay.

Advertisements

4 thoughts on “[Mystic in Europe] On the Nightmare

  1. Kaaaay… Sejujurnya…. Agak ndak ngerti dengan endingnya… Sik ini gmn maksudnya hantunya hansol gentayangan ke yuta kah? Or begimana?
    But kak.. Gils gils aku salut sama cara kakak deskripsiin gimana penyiksaan yg diterima si hansol itu… Pas bagian sayat2an aku beneran meringis. Gila… Ngeri banget. Yuta udh kek iblis bgt di sini.

    Keep writing kaay 👍

    Like

  2. Kaaaay… Sejujurnya…. Agak ndak ngerti dengan endingnya… Sik ini gmn maksudnya hantunya hansol gentayangan ke yuta kah? Or begimana?
    But kak.. Gils gils aku salut sama cara kakak deskripsiin gimana penyiksaan yg diterima si hansol itu… Pas bagian sayat2an aku beneran meringis. Gila… Ngeri banget. Yuta udh kek iblis bgt di sini.

    Keep writing kaay 👍👍

    Like

  3. AYEY
    MBAAY TIDA SIA SIA AKU NGIRIM VN TENTANG NASIB HANSOL KEMAREN AYEY /digiles/

    Well, hm….. Kenapa mbaay tega bener duh gusti, kang risol beloman debut udah nista ae bhai aku suka gapaham sama mbaay kadang emang, bukannya dimanjain eh malah disayat sayat kaya gini. Iye dah sementang yuta wis debut jadine doi menistakan Hansol dengan sebegininya whai…………..

    Sumpah aku kaget waktu si hansol tetiba melek gitu. Sik deh, ini tempat yg dieksekusi yang ada kisah tentang peti terbang bukan si? Yang terbang buat nyari2 rumah si pembunuh😂 ((Jan sok iye lu don))

    Yha pokoknya fix lah, kemaren mas tae yang diterkam werewolf, sekarang si hansol yang jadi werewolf. DIA WEREWOLF ATAU DRACULA SIH?! JANGAN JANGAN YANG KEMAREN NYERANG MAS IL ADALAH JURUS SERIBU BAYANGAN HANSOL………

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s