[Mystic in North America] End of the Game

End of The Game

By son nocta

NCT’s Haechan, Mark, Chenle, Jisung

Mystery, Dark | Ficlet | PG-17

New Orleans

Pembaca yang budiman, kusarankan untuk tidak mencela.

*

“Kota Kematian? Memangnya ada ya tempat seperti itu?” Mark menyembunyikan seluruh jemarinya di dalam kantung celana. Sangat kentara bahwa ia tengah menutupi rasa meremang di sekujur tubuhnya. Begitupun tiga anak laki-laki lain, mereka saling memandang satu sama lain dengan keringat dingin di sekujur pelipis.

Haechan yang merasa dirinya mengalami pubertas terlalu awal, kemudian menyesali akan apa yang telah ia ceritakan beberapa saat lalu. Sebuah cerita terkait pemakaman tua di New Orleans. Tapi, baginya itulah yang pantas ia sampaikan.

Sesuai dengan kesepakatan terkait urban legend di saat tengah malam Jumat. Mereka akan berkumpul di sebuah tempat tak berpenghuni pada waktu itu. Lantas bercerita secara bergiliran, dari malam Jumat ke malam Jumat lainnya. Menceritakan legenda di sekitar tempat tinggal mereka dan mendapatkan konsekuensi apabila legenda tersebut tak cukup membuat yang lain ketakutan.

Konsekuensinya tidak lain adalah pergi ke lokasi kejadian di mana legenda itu diceritakan.

Maka, permainan sesungguhnya menjadi; siapa yang mampu membual dengan baik dan meyakinkan.

Chenle yang duduk mendempet di dekat Jisung membisik, “Kau tahu, ini jelas terdengar menakutkan.”

Yeah, kau bisa lihat aku sedang menahan buang air kecil.”

Keduanya bermain lidah di saat Haechan masih melanjutkan serangkaian alur kematian para pejuang Perang Dunia ke II yang dimakamkan di New Orleans. Hingga kisah penulis bernama James Joyce dan Oscar Wilde sang penyair di Paris tak luput dari jangkaunnya, yang barangkali hanya ia gunakan untuk memperpanjang cerita.

“Mungkin ini hanya asumsiku, tapi apa kalian bisa melihat bagaimana cara anak itu membohongi kita?” Mark berbicara sangat pelan.

“Sebuah omong kosong yang panjang dengan dikaitkan hal-hal mistis, agar kita mempercayainya?” tebak Chenle.

“Tepat!”

Haechan berdeham, seketika yang lain bergidik dan menatap anak laki-laki itu dengan mata berair. “Kalian tahu, sejak awal aku hanya berbasa-basi. Tapi kalian sudah setakut ini dan berusaha untuk mencari alibi agar aku menjadi pihak yang kalah. Jujur saja, aku merasa bersalah.”

Akan tetapi, apa yang mereka lihat bukanlah sepenuhnya rasa kasihan dari Haechan. Melainkan dirinya yang mengeluarkan sebuah boneka menyeramkan dengan tusukan jarum di sekitar tubuhnya. Salah satu dari dwimanik boneka itu sangat bersinar dan menyimpan misteri bagi ketiga temannya, begitu pun air muka Haechan.

“Bagaimana jika kita rubah jalan permainannya?” Haechan bermain dengan salah satu jarum pentul pada boneka tadi. “Ah, menurutku tidak perlu ada kesepakatan sih untuk ini.”

Saat itu Haechan menetapkan sebuah peraturan baru di mana yang terlihat ketakutan akan bertahan di dalam ruangan. Itu jelas bukan posisi aman, Haechan yang terkenal pandai membual pasti merencanakan hal lain. Dengan menjadikan teman-temannya tumbal, mungkin?

Sehingga apa yang berlaku adalah; nyawamu di tangan wajahmu.

“Di kapling 337, seorang gadis kecil hidup dengan ibu tirinya. Sang ibu tiri adalah seseorang yang pandai membuat boneka perempuan. Semua boneka itu sangat cantik dengan dipadu gaun-gaun ghotic.” Sekilas Haechan menyeringai saat kepalanya perlahan mendongak. Ia mengalihkan pandangan ke sudut ruangan, “Tapi, siapa sangka kecantikan itu tak sepenuhnya kecantikan yang beliau inginkan.”

“Si gadis kecil diminta mengorbankan satu bola matanya untuk digantikan dengan bola mata boneka. Dan, dari situlah kutukan terjadi secara beruntun. Gadis tersebut dianggap sebagai kutukan, karena presensinya membuat penduduk New Orleans kehilangan nyawa satu persatu. Secara tragis. Seperti direncanakan.”

Bulu kuduk Mark berdiri tegap, di saat seperti ini rasanya ia perlu penerangan yang tidak sekedar satu buah lilin di tengah-tengah mereka. Ia merasakan setiap sudut ruangan hendak menghimpit dan menerkam tubuhnya.

“Hey, Mark. Wajahmu itu sangat buruk, kau tahu. Bukankah hal semacam ini tidak lebih dari sekedar lelucon bagimu?” kelakar Haechan. Tidak, dia lebih seperti menghujam rasa percaya diri Mark secara perlahan, seiring ia mencabut satu jarum pentul.

Sebuah telapak tangan teracung ke atas, bergetar dan dipenuhi peluh dingin. Mark menjadi orang pertama yang mengaku kalah dalam permainan.

“Ya ampun, aku masih seperempat jalan, lho.”

Diam-diam Chenle dan Jisung saling menarik ujung kaos mereka. Sekelebat bayangan hitam yang muncul di balik tubuh Haechan terlihat begitu nyata. Bukan lagi refleksi bentuk tubuh mereka lantaran remang-remang cahaya lilin. Tapi, bayangan itu seperti mempunyai tuan lain, yang tengah memegang sebuah kapak dan siap melayangkannya.

Ah, kau mengacaukan narasiku saja, Mark Lee. Sampai di mana tadi?” Haechan menjetik jari, mengabaikan Mark yang entah mengapa hilang ditelan kegelapan.

“O, sejak gadis itu dianggap sebagai kutukan. Para penduduk membantai sang ibu tiri serta menganggap kapling 337 tidak pernah ada. Karena, mereka pikir—jika gadis tersebut diakui kehadirannya, maka semakin banyak penduduk yang berada di ambang kematian.

“Dan, coba tebak boneka apa yang kubawa ini,” lengan Haechan bergerak menggoyang-goyangkan benda di tangannya, “coba tebak apa yang bisa ia lakukan, setelah kembarannya tiada?”

Sorot mata lelaki itu mencalang, seperti bukan dia yang sesungguhnya. Jika saja mereka sadar, itu sudah terjadi sejak Haechan mengajak teman-temannya pergi bermalam di hotel dekat New Orleans. Kendati ada motel yang justru lebih baik dari tempat pilihannya. Tapi siapa sangka ketiga anak lelaki tersebut terbawa arus untuk melakukan uji nyali seperti apa yang Haechan pinta.

Bodoh sekali memang, tapi semua sudah terjadi.

Haechan melingkarkan jari pada leher boneka di tangannya, seiring Chenle dan Jisung saling menyambar leher satu sama lain. Cengkraman itu semakin erat ketika Haechan hanya menyisakan ruang untuk tersengal bagi kedua temannya.

DAMN, HAECHAN STO—“

Dan kutukan itu pun belum berakhir.

Pembaca yang budiman, ini adalah sebuah permainan di mana kau akan mendapat jadwal malam Jumatmu, dan memilih destinasi wisata serta sejarah urban yang akan kau ceritakan. Tapi, kusarankan untuk membawa tour guide jika kalian memilih kota kematian seperti New Orleans. Karena, terlalu romantis rasanya jika harus memutus nyawa dengan hanya bersama teman-teman kalian, bukan begitu?

Aku Haechan, sampai jumpa.

Fin.

a/n :

  • I feel so sorry kalau jadi se-absurd ini, nggak tau kenapa aku selalu punya perasaan gak enak kalau nulis hal mistis (but, this is the first time). Heheh.
  • Inspired by anime : Another dan novel Girls in The Dark.
  • Semisal nggak mudeng sama maksud cerita, silakan isi di comment section.

notes was edited by admin.

Advertisements

5 thoughts on “[Mystic in North America] End of the Game

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s