[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 12)

mylesbianroommate

{ Cast : Jaehyun, Chaeyeon, Yeri, and Eunwoo | Genre : romance, hurt/comfort, college life | Rating : PG-17 }

Previous Chapter

Page 1 | Page 2 | Page 3 | Page 4 | Page 5 | Page 6 | Page 7 | Page 8 | Page 9 | Page 10 | Page 10,5 | Page 11

+++

Cha Eun Woo dikejutkan oleh presensi Jung Jae Hyun yang pagi-pagi sudah berada di hadapan meja kerjanya. Gayanya jelas berbeda dari terakhir kali ia bertemu dengan Jaehyun. Rambutnya memang tetap berwarna pirang, namun ia menyingkirkan poni yang menutupi dahi dan memodelnya seperti laki-laki pada umumnya.

“Kok pulang enggak bilang-bilang, sih?” sambut Eunwoo sembari berjalan menuju meja kerjanya.

Unintented circumstance was happened.” Jaehyun nampak suntuk saat menimpali pertanyaan Eunwoo.

“Lo, ada apa?” Eunwoo memasang raut kebigungan.

“Ini semua salahmu yang tidak pernah merencanakan cara mengakhiri penelitian secara terstruktur dan sistematis.” tukas Jaehyun kesal. Eunwoo masih tidak paham maksud dari perkataan sahabatnya barusan.

“Penyamaranku ketahuan, Cha.” kata Jaehyun.

“Enggak masalah, ‘kan? Lagi pula penelitiannya juga sudah selesai.” balas Eunwoo dengan entengnya. Jaehyun pun dibuat kesal atas respons yang Eunwoo berikan. Pemuda itu lantas beringsut dari tempat duduknya.

You bitch!” Jaehyun mengumpat tepat di muka Eunwoo. Serius, pria itu benar-benar tidak mengerti di mana letak kesalahan dari penuturannya barusan. Toh, bukan salah Eunwoo jika Jaehyun melibatkan perasaan pribadi dalam kegiatan penelitiannya.

“Hei, kau mau ke mana?” tegur Eunwoo saat tungkai Jaehyun hampir sampai ke ambang pintu.

“Cari rokok, kau membuatku stres.” pungkas Jaehyun sekenanya tanpa mengindahkan sahabatnya itu yang masih bingung. 

Baru datang, kok, sudah pergi lagi.

.

.

.

Chaeyeon mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih menempel. Ia mengucek matanya yang terasa berat untuk dibuka. Gadis itu merasakan benjolan tepat di bawah pelupuknya. Itu adalah bekas dari menangis semalaman. Kepalanya menengok sisi kiri dari kamar yang mulai hari ini kembali ia tinggali sendiri.

Serebrumnya pun langsung disambangi bayang-bayang Jihyun yang padahal-kemarin-masih-bersama-sama-dengannya-sebagai-seorang-teman-akrab. Oh tidak, jangan biarkan air mata kembali lolos dari matanya pagi ini. Menangis itu sangat melelahkan dan membuatnya terlihat rapuh—meskipun tak seorang pun menyaksikan tingkah frustasi-sejadi-jadinya yang ia lakukan kemarin, sih.

“Mungkin hari ini aku enggak perlu masuk.” gumam Chaeyeon saat merasakan sekujur tubuhnya terasa lemas saat digerakkan untuk peregangan.

TING! TUNG!

Tiba-tiba ponselnya berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Segera ia meraih benda kotak yang ia letakkan di samping ranjangnya itu. Mata sayunya langsung membeliak saat mendapati kontak siapa yang baru saja mengiriminya pesan itu.

‘Jihyunie just sent you a video.’

Gadis itu langsung membuka pesan dari Jaehyun—yang ia namai Jihyun di daftar kontaknya. Ia menekan tombol play untuk menyaksikan video kiriman Jaehyun. Sejenak Chaeyeon merasa heran dengan visualisasi yang ia saksikan.

“Oh jadi ini bentuk aslinya Jihyun. Aku sudah mencurigai ketampanannya sejak awal. Dasar Jung Chae Yeon bodoh!” gadis lesbian itu merutuk sendiri dalam hati.

“Halo, Nona Jung Chae Yeon. Mungkin kau akan berpikir bahwa aku adalah pengecut yang tak berani menemuimu secara langsung dan hanya mampu berinteraksi denganmu melalui video tidak bermutu ini.

“Sebelumnya, perkenalkan… aku Jung Jae Hyun. Aku seorang karyawan di perusahaan yang—haruskah aku mengatakannya dengan jujur? Sebenarnya ini terlalu memalukan, tapi akan tetap kukatakan. Pekerjaanku adalah menangani tugas para mahasiswa yang malas membuat skripsi. Hm, atau biasa disebut joki, mungkin?

“Pertama kali melihatmu, aku bersumpah, tak sama sekali terbesit dalam pikiranku untuk membohongi atau apa. Padahal aku berencana untuk memberitahu semuanya kalau tugasku sudah selesai. Iya, iya, katai saja aku pengecut, brengsek, gila, terserah… aku memang layak disebut begitu.

“Iya, awalnya kupikir tak akan pernah ada kendala dalam proses penelitianku. Sampai akhirnya aku dekat denganmu, tahu sifat dan masa lalumu. Kita berbagi banyak hal, bahkan saat penelitian, hanya kau satu-satunya orang yang aku ajak bicara. Di mataku, kau adalah sosok yang sangat luar biasa. Kuulangi sekali lagi, kau adalah sosok yang sangat luar biasa. Jadi, buang jauh-jauh pikiranmu tentangku yang menganggap kau menjijikkan. Itu sama sekali enggak benar!”

Chaeyeon menghentikan video itu padahal masih menyisakan setengah bagian yang belum ia tonton. Seketika matanya beranak sungai, dadanya terasa sesak. Ia benar-benar dalam kondisi tidak nyaman. Hatinya teriris sembilu, namun ia tak tahu harus menyalahkan siapa. 

Chaeyeon jelas-jelas memiliki perasaan tulus kepada Jihyun. Namun ternyata semua itu semua, sosok Jihyun sesungguhnya tak pernah ada dalam hidupnya. Ia pikir persahabatan akan bisa bertahan lama dan akhirnya Chaeyeon punya seseorang untuk dapat ia jadikan sandaran. Namun ternyata ia salah, Chaeyeon terlalu berharap banyak.

***

Jaehyun menatap nanar embun-embun yang menetes dari segelas afogattonya. Ini sudah gelas ketiga yang ia pesan, omong-omong. Ditemani sepuntung rokok yang ia apit di sela jari, Jaehyun terus memandangi layar ponselnya. Seperti tengah mengantisipasi sesuatu.

Chaeyeon telah membuka pesan darinya dan Jaehyun tidak mungkin salah lihat. Pesan berupa sebuah video pengakuan sejujur-jujurnya dan berasal dari lubuk hati terdalamnya. Awalnya Jaehyun memang berencana menemui Chaeyeon di kampus. Namun ia mengurungkan ide konyol ini karena; pertama, Universitas Deokdoo memiliki jadwal yang tidak menentu. Kedua, amat mustahil jika ia menemui Chaeyeon di asrama dengan tampilan maskulin—mengingat itu merupakan asrama putri. Please, dia ingin benar-benar move on dari dandanan cross dress.

Di bagian terakhir video itu Jaehyun mengajak Chaeyeon untuk bertemu di kafe dekat Universitas Deokdoo. Namun sudah sekitar satu jam menunggu, ia tak sama sekali mendapati presensi Chaeyeon. Sebenarnya Jaehyun bisa maklum apabila gadis itu memutuskan untuk tidak datang. Mungkin dia masih kecewa. Mana ada, sih, orang yang sudi bertatap muka dengan orang yang telah ketahuan memanfaatkan mereka?

***

Selain Jihyun, Chaeyeon sungguh tak memiliki tempat untuk mengutarakan hal yang dirasakan hati terdalamnya. Namun sebenarnya ia salah, karena nyatanya, ada sosok Eunjin yang bersedia mendengar keluh-kesahnya. Gadis lesbian itu terus saja keheranan melihat Chaeyeon yang terus murung saat pertemuan rutin komunitas mereka diadakan.

“Temanmu ke mana? Tumben enggak ikut.” tanya Eunjin.

“Hm…, dia sudah enggak tinggal seasrama denganku lagi.” Chaeyeon membalas dengan menyertakan senyuman tipis. Saat itu juga Eunjin langsung terheran. Sorot mata kawannya itu berubah sendu. 

Pasti ada yang enggak beres.

“Ada sesuatu yang memberatkan hatimu, ya?” Eunjin menggeladikkan tangannya untuk menggenggam jemari-jemari lentik milik Chaeyeon.

“Aku mau cerita… tapi enggak di sini.” kata Chaeyeon dengan pelupuk yang sudah siap meloloskan buliran kristal bening, namun kuat-kuat ia tahan.

Raut Eunjin berubah panik. Pasti ada hal besar yang baru saja dialami sahabatnya itu. Setelah pamit pulang terlebih dahulu dengan alasan ada mata kuliah dadakan, Eunjin pun segera melangkahkan tungkai menuju pintu kafe sambil menggandeng tangan Chaeyeon.

Gadis Jung itu memilih menceritakan masalahnya di asrama. Pertama, ia adalah tipikal orang yang susah menahan air mata untuk tidak jatuh saat bercerita kisah sedih. Kedua, mereka baru saja bohong kepada anggota komunitas. Takutnya apabila Chaeyeon dan Eunjin ketahuan berada di tempat nongkrong lain—dan bukannya kuliah—mereka pasti bakal jadi bahan gunjingan selama kurang lebih dua minggu di komunitas.

“Aku setidak berhak itu, ya, untuk punya seseorang untuk yang membuatku merasa nyaman? Hiks.” tanya Chaeyeon sambil sesenggukan setelah ia menjelaskan semua peristiwa yang terjadi tempo hari. Eunjin dibuat terdiam, masih sibuk memilah-milah kata yang tepat untuk ia utarakan pada Chaeyeon.

“Mungkin dia enggak ada maksud untuk menipumu…” jawab Eunjin yang sebisa mungkin tak menyulut gejolak emosi di dalam hati Chaeyeon. Ia ingin sahabatnya itu tetap berperasangka baik.

“Tapi rasanya sakit sekali, Eunjin…” tandas Chaeyeon. Eunjin yang tak tahu harus dengan kata apa lagi untuk menimpali pun membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Ia berusaha menenangkan hati Chaeyeon yang tengah kalut.

“Bagaimana kalau ternyata kau jatuh cinta padanya?” celetuk Eunjin yang langsung membuat Chaeyeon tertegun.

“Mana mungkin. Dia, kan, laki-laki. Sedangkan aku…” Gadis Jung itu langsung menundukkan kepala, tak kuasa merampungkan kalimat. Bahkan ia sendiri pun merasa ada yang salah dengan dirinya. 

Apa lagi yang membuat Chaeyeon mengalami tekanan batin atas orientasi seksualnya kalau bukan makian bertubi-tubi yang dilayangkan keluarga Kim Sae Rin terhadapnya?

“Percayalah, Chae… semua yang telah terjadi merupakan bagian dari takdirmu. Tak peduli pada siapa pun kau tertarik, bahkan meski kau telah bersumpah untuk tidak menyukai laki-laki seumur hidupmu karena masa lalu yang kelam itu. Begitulah hati, terkadang mampu mengalahkan pikiran serta keyakinan di dalam diri.”  

T B C

panjangan dikittt

jangan lupa komen ya ;)))

Advertisements

6 thoughts on “[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 12)

  1. Ini pertanyaan bodoh sih, tapi masa lalu chaeyeon itu udh pernah dibongkar bukan ya? Hehe agak2 lupa

    Jujur ff ni gejolaknya lebih kerasa dari ff2mu yg sebelumnya. Suka! Cuman ada bbrp kata ganti yg kurang bervariasi aja, misalnya ‘gadis lesbian itu’ pdhal kan ini sdh merujuk ke eunjin sama chaeyeon tapi kata gantinya masih sama.

    Keep writing!

    Liked by 1 person

  2. Wah beruntung udah update, kirain bakal lama dan lebih pendek. Kasian bener si jaeh nunggu lama2 tapi chaenya gak nongol.. Aish nonton kek sampai akhir gini kan jadi penasaran. Keep writing yah, nunggu bangeeeett nih

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s