[Mystic in Europe] Vendetta

Vendetta

[NCT] Park Jisung

School-life, Friendship, Family, Creepy, Dark, Angst

Rate : PG-15 || Length : Vignette

Transylvania, Carpathian Mountain, Romania

I just own the plot & story

.

.

.

babyneukdae_61 storyline

Mata ganti mata. Gigi ganti gigi. Nyawa ganti nyawa.

Batu nisan di hadapan Jisung berhasil membuat perasaannya tercampur aduk. Sedih, kecewa, marah dan dendam.

Sedih karena sang sahabat pergi meninggalkannya secepat ini.

Kecewa kepada dirinya sendiri karena ia tidak dapat menjadi sahabat yang baik bahkan sampai detik terakhir hidup sang sahabat.

Marah karena ia tahu bahwa ada seseorang yang mendalangi kematian sahabatnya itu dan ia tahu siapa yang melakukannya.

Dendam karena sebuah nyawa dari seorang yang berharga baginya melayang begitu saja oleh ego si pelaku yang tamak dan merasa berkuasa.

Hujan telah turun membasahi bumi. Namun Jisung tetap memusatkan atensinya pada makam itu, tak peduli surai emasnya dan kemeja hitam serta celana jeans yang ia kenakan menjadi basah oleh air hujan. Baginya, semesta kini turut bersedih dengannya.

Jisung mengusap lembut ukiran nama ‘Zhong Chenle’ pada batu nisan itu sambil tersenyum tipis.

“Aku akan membalasnya untukmu, Chenle. Dia pantas mendapatkannya,” ujar Jisung.

***

Sinar matahari berhasil menembus masuk ke dalam kelas Jisung pagi ini. Meskipun kelas menjadi terang karenanya, suasana kelas itu tetaplah suram, kesuraman terlihat jelas pada air muka penghuni kelas itu, terutama pada mereka yang memiliki hubungan dekat dengan Chenle, Jisung sudah pasti merupakan salah satu dari mereka.

Pikiran Jisung saat ini tidak dapat fokus pada pelajaran, padahal ujian akhir sudah dekat. Namun apalah daya jika hatinya masih merasa gundah. Seribu satu hiburan pun tidak mempan untuk mengembalikan suasana hati dan pikiran fokus Jisung.

Daripada ia ditegur karena melamun di kelas dan tidak memperhatikan penjelasan gurunya, ia memilih untuk berjalan-jalan di luar kelas dengan dalih izin ke kamar kecil.

Jisung menyusuri koridor kelas 2 yang menjadi saksi bisu persahabatannya dengan Chenle. Seberkas memori memaksa masuk ke dalam pikiran Jisung. Semua momennya bersama Chenle tergambar jelas di benaknya. Ia tersenyum getir saat mengingat masa-masa itu.

Namun, Jisung tak larut dalam suasana itu terlalu lama, karena ia berpapasan dengan ‘orang itu’ di ujung koridor.

Ia memasang senyum sok simpati di depan Jisung. Jujur saja, Jisung benci melihat senyum itu.

“Aku turut berdukacita atas kepergian Chenle,” ujar orang itu sendu, seolah-olah ia benar-benar sedih atas kepergian Chenle.

Sudut kiri bibir Jisung tertarik ke atas. Sebuah senyum miring.

“Terima kasih atas bela sungkawamu, Senior,” jawab Jisung tanpa melihat wajah orang itu.

Aku tahu kau senang ketika kau tahu Chenle mati. Karena kau dalangnya.

***

“Kau diam sekali hari ini. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”

Jisung tersadar dari lamunannya setelah mendengar kata-kata itu.

“Ah, tidak ada apa-apa, Yang Mulia Pangeran,” jawab Jisung sambil memberi hormat kepada orang yang ia panggil ‘Yang Mulia Pangeran’ itu.

Sang pangeran–pemuda itu–bergabung dengan Jisung yang sedang melamun di beranda istana.

“Aku sudah mengenalmu sejak aku berusia 5 tahun, Jisung. Jadi aku tahu bagaimana dirimu saat sedang banyak pikiran. Kau tidak dapat membohongiku. Jika ada sesuatu yang kau butuhkan, jangan segan untuk membicarakannya denganku,” ujar sang pangeran.

Jisung menghela nafas sejenak.

“Sebenarnya, ada satu hal yang aku pikirkan,” gumam Jisung pelan, namun pangeran dapat mendengar apa yang Jisung gumamkan.

“Katakanlah,” ujar sang pangeran kalem.

“Jika kau ingin melenyapkan orang lagi, aku akan membantumu, tenang saja. Cukup sebutkan saja identitas orang itu,” lanjutnya.

Jisung terdiam sejenak. Mungkin ini adalah kesempatan terbaiknya untuk balas dendam. Ia pun membisikkan nama orang itu pada telinga sang pangeran.

“Oh, orang itu. Dahulu dia memang temanku, namun kini aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Perilakunya lebih mirip bajingan untuk disebut sebagai teman, namun dia lebih hina daripada bajingan. Tenang saja, aku akan membereskannya. Kau harus datang di hari yang kutentukan jika kau ingin menonton sebuah hiburan yang bagus,” jelas sang pangeran.

Jisung menatap lekat mata sang pangeran, lalu tersenyum.

“Terima kasih banyak, Kak Jaemin,” ujarnya.

***

Pemuda itu dibawa ke hadapan kedua pangeran setelah satu minggu ditahan oleh orang suruhan kedua pangeran itu. Meskipun statusnya adalah tawanan kerajaan, ia tetap tak punya sopan santun ataupun rasa takut sama sekali.

“Apa maumu, Park Jisung?! Beraninya kau menjadikan seniormu sebagai tawanan! Kau hanya siswa pindahan yang tidak dapat beradaptasi, dan kau tak ada bedanya dengan sahabat kunyukmu yang sudah meninggal itu!” bentak tawanan itu tanpa rasa hormat kepada pangeran sama sekali.

Jisung tersenyum miring.

“Untuk apa aku harus takut? Ini daerah kekuasaanku dan Kak Jaemin. Jadi, aturan main yang berlaku adalah aturan kami, bukan aturanmu”

“Aku tak peduli kau adalah seniorku dan aku adalah siswa pindahan. Dan benar, aku dan Chenle memang sama persis dan tak ada bedanya. Kami sama-sama mempunyai martabat sebagai manusia, sementara kau? Perilakumu lebih mirip bajingan daripada siswa, senior ataupun teman. Bahkan, kau lebih hina daripada bajingan,” ujar Jisung. Sorot matanya setajam mata elang saat mengatakan itu.

“Lalu, apa mauku? Yang kuinginkan, kau membayar kematian Chenle. Kau pikir, kau dapat membeli nyawa seorang manusia dengan uang? Tentu saja tidak. Nyawa manusia yang lenyap harus dibayar dengan yang senilai pula, yaitu dengan nyawa juga,” lanjutnya.

Jaemin pun angkat bicara.

“Seorang yang telah memandang hina sebuah nyawa, harus mati dengan hina pula,” ujarnya.

Tawanan itu digiring oleh pengawal kerajaan menuju lapangan untuk disiksa bersama dengan tawanan lain. Jaemin mengajak Jisung untuk ikut dengannya ke lapangan tempat para tawanan akan disiksa. Kebanyakan para tawanan itu adalah mereka yang membangkang dan memberontak kepada pemerintah, kebanyakan dari mereka pula bahkan telah membuat onar dan membuat banyak korban jiwa melayang.

“Ayo. Kau mau melewatkan hiburan yang bagus?” ujar Jaemin.

“Tentu saja tidak, Kak,” jawab Jisung sambil mengikuti Jaemin dari belakang.

Mereka sampai di lapangan. Jaemin berkeliling melihat para tawanan disiksa dan Jisung mengikuti Jaemin, sementara manik hazelnya fokus kepada tawanan yang ditangkap atas permintaannya sendiri.

Kakak kelas Jisung. Dalang dari kecelakaan yang menimpa Chenle dan malpraktek di rumah sakit tempat Chenle dirawat sehingga nyawa Chenle tidak terselamatkan. Netranya memandang hina tawanan itu.

“Kau pantas mendapatkannya, bajingan,” batinnya.

Begitu kejamnya para tawanan itu diperlakukan. Pertama-tama mereka dicambuk, kemudian tubuh mereka disayat dengan pedang, lalu luka bekas sayatan itu ditaburi dengan garam sehingga luka itu semakin terasa perih. Setelah itu tubuh mereka diikat pada sebuah tiang, kemudian mereka dibakar hidup-hidup. Bahkan, tubuh mereka masih disiram dengan minyak yang membuat api semakin menjalar ke tubuh mereka.

Sementara Jaemin dan Jisung tersenyum puas di ujung sana.

Sungguh, kekejaman Vlad tepes memang diturunkan kepada generasinya. Mulai dari anak-anaknya, paman Jaemin dan Jisung, juga ibu mereka–yang keduanya menikah dengan pria Asia, sehingga Vlad Tepes mempunyai cucu dengan darah campuran–hingga kepada kedua cucunya, Jaemin dan Jisung.

Jisung melihat kakak kelasnya–tawanannya–itu masih dapat hidup setelah tubuhnya dibakar, meski fisiknya sudah sangat lemah.  Sepertinya Jisung belum puas dengan penyiksaan yang terbilang cukup kejam ini. Yang ia inginkan adalah–

“Kak, biar aku yang membereskan tawanan itu, dia punya urusan denganku juga,” pinta Jisung kepada Jaemin.

“Tentu saja, Jisung. Balaskan dendammu dan Chenle padanya dengan tanganmu,” jawab Jaemin mengizinkan.

–menghabisi nyawa bajingan itu dengan tangannya sendiri.

Jisung mengambil pedang yang dihadiahkan oleh mendiang ayahnya, kemudian ia melangkah dengan mantap ke arah tawanannya itu.

Tawanan itu menatap Jisung dengan takut, tak seperti pada saat ia dihadapkan kepada kedua pangeran sebelum disiksa. Sementara Jisung–sekali lagi–memandang hina tawanan itu.

“Kau pikir, nyawa manusia semurah itu, hmm? Kau tidak dapat membeli nyawa manusia dengan uang, karena yang senilai dengan nyawa manusia adalah nyawa manusia pula,” geram Jisung, kemudian ia menghunuskan pedang itu hingga tembus, tepat di dada tawanan itu.

Tak perlu menunggu lama, tawanan itu sudah tak bernyawa.

***

Jisung telah selesai menabur bunga di atas makam Chenle, sementara Jaemin berjongkok menghadap pada batu nisan Chenle.

“Dendammu telah kami balaskan. Semoga kau tenang di sana,” gumam Jaemin.

Jisung pun menghampiri Jaemin.

“Terima kasih, Kak,” ujar Jisung.

“Apapun untuk sepupuku,” jawab Jaemin. “Bagaimana jika kita pulang?”

“Setelah aku meletakkan dua buket bunga ini, Kak”

Jisung menaruh sebuket bunga krisan di depan batu nisan Chenle, kemudian ia mengusap lembut ukiran nama ‘Zhong Chenle’ pada batu nisan itu.

Jisung kemudian berjalan melewati lima makam setelah makam Chenle. Kemudian, ia menaruh sebuket bunga lily jingga di depan batu nisan bertuliskan nama ‘Lee Jeno’.

“Bunga ini cocok untukmu, Senior,” ujar Jisung sinis.

Kedua cucu Vlad Tepes itu pun meninggalkan taman pemakaman.

FIN

*oke ini telat banget huhuhuu

*writer block, pusing laporan, pusing UKK huaaa /gosah curhat sini ren–”/

*gadapet feel creepynya, malah lebih ke gore nya wakakaaka

*maapin yak kanjel kaeka daku telat sekali /nangis dipelukan Jaemin/ /ditampol jaeminstan/

*review yoo review hehehe

Advertisements

3 thoughts on “[Mystic in Europe] Vendetta

  1. KYAAAAAAAAAAAAAAAA LAUREEEEEEEEEEEEN APA YANG DIRIMU LAKUKAN PADA ANAK-ANAK DREAM???? SAKING SAVAGE-NYA, AKU SAMPE SUSAH BAYANGIN GIMANA JISUNG, JAEM, & JENO JADI PERAN KAYAK GINI HUWAAAAAAAAAAAA OTOKE??????

    Pas aku baca author note : “*gadapet feel creepynya, malah lebih ke gore nya wakakaaka” => jujur aku agak tersindir, secara aku juga gk nemu feel creepy di sini, malah lebih ke gore wkwkwk. Tapi serius, berhubung di bayanganku mereka semua masih cimit-cimit kayak di Cewing gam, jadinya ini cukup memicu adrenalin. Apalagi pas icung menusuk Jeno itu subhanallah banget ya dedek :’v

    Btw aku baru mudeng kalau ini kisah tentang kerajaan. Jaem jadi pangeran, aduuuuuuuuuuh pasti ganteng ❤ ❤ ❤

    Keep writting Ren sayang :* Maaf komenku kepanjangan HAHA

    Liked by 1 person

    • yang kulakukan hanya sedikit mencampurkan amortentia dengan boraks dan formalin jiyo ku XD /eh/

      nah emang aku juga pas udah baca ulang fic aku sebelum ku draft, aku mikir ini dimana creepynya astatang :’)
      aku juga sebenernya bingung mau nulis ceritanya kek begimana berhubung mereka masih kiyowo kiyowo tetapi sesuai kocokan arisan [undian :v] cast ku itu jisung, jadi yaaa begitulah ff inilah yang kuhasilkan dengan imajinasi gilaku tentang si maknae imut (dan bersuara berat :’)) bisa punya dendam membekas ampe mau bales dendam pake bunuh2an :’)
      Hehehe Jaem bukan hanya pangeran Transylvania melainkan pangeran kita dan pangerannya Rachel juga ❤ ❤ dan dia sudah ganteng dari lahir, tapi sayangnya kubuat berkepribadian kejam [tetapi sayang sama icung] begitu :'3 XD

      Tengkyu dah mampir ke sini yaa jiyo XD gapapa setidaknya daku punya hiburan /eh/

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s