[NCTFFI Freelance] Holding on and Letting Go (Chapter 3)

HOLDING ON AND LETTING GO [3]

Copyright© 2017 by Rijiyo

Cover by Mingi Kumiko

| Multi Chapter | Teen | Slice of Life, Family, Friendship, Romance |

.

 | Illa Kwon [OC] / Mark Lee [NCT] / Jung Jaehyun [NCT] / Lee Taeyong [NCT] |

(Recommended Song : Yoon Mi Rae – Always)

.

Dia adalah cahaya fajar yang sinarnya penuh dengan harapan….

.

.

Sejujurnya, aku tak mengerti kenapa teman sekelasku, atau bahkan seluruh penghuni sekolah, sering membuat kehebohan tentangnya.

Saat istirahat, aku, Taeyong, dan Jaehyun (iya, Jung Jaehyun) duduk bertiga di kafetaria. Kami membicarakan masalah laptopku yang rusak. Taeyong bahkan sedari tadi berceloteh, seakan yang rusak adalah laptopnya. Bagiku, Jaehyun hanyalah cowok biasa yang ramah. Hobinya membaca buku dan bermain gitar. Aku senang bisa mengobrol dengannya dan melupakan orang-orang yang bilang kalau dia kaku.

Sekarang aku mengerti kenapa sebutan Most wanted hampir identik dengan Jung Jaehyun. Caranya bicara, melihat, tersenyum, bahkan bergerak, itu berbeda. Ada semacam candu dalam dirinya yang seakan membuatku ingin melihatnya terus-menerus. Aku tidak percaya aku mengatakan hal ini tapi aku memang terkesan. Mungkin ini sisi menarik Jaehyun yang tidak mengherankan kalau dia punya banyak penggemar.

“Kalau begitu, kapan kamu memperbaiki laptopku?” aku bertanya.

Jaehyun mengunyah selada sebelum menjawab, “Nanti?”

Seketika senyumku merekah. “Serius?”

Jaehyun mengangguk. “Iya, asal kamu punya kopi.”

“Kopi apa? Americano, Peranciso, atau Arabo?”

Kami bertiga tertawa lagi. Taeyong bertepuk tangan. “Aku senang kalian akrab. Yah… meskipun momen ini sangat terlambat.”

Aku cengar-cengir. “Oh ya, rumahmu di mana, Jaehyun?”

“Di Incheon. Kamu di mana?”

“Seoul, tepatnya di Gangnam, 250 meter dari kafe Haru,” jelasku bangga. “Tiway hampir setiap hari main ke rumah, tapi belakangan ini jarang. Kenapa, Way?” Kini giliran aku menatap Taeyong yang hampir menyendok nasi.

“Ti-way?” Alis Jaehyun berkerut.

Taeyong menjentikkan jari. “Yup. Lee Tiway. Yang berani panggil begitu cuma cewek aneh di sampingku ini.”

“Kalau dia panggil aku Poni. Enggak ada maksud lain selain karena aku punya poni.”

“Jadi semacam panggilan sayang?” tebak Jaehyun.

“Wah, jangan begitu, dong. Kesannya lebay. Lebih tepat; panggilan persahatan.” Aku menyenggol pinggang Taeyong yang lagi-lagi sedang menyendok nasi.

“Illana?”

“Eh, tunggu dulu, nama itu terlalu panjang. Panggil Illa saja.”

“Illa, kalau boleh tahu, kenapa enggak dari dulu kamu mengirim naskah buat pentas drama tahunan?”

Aku mengembuskan napas. “Cuma iseng, lagian sebagian besar ide ini dari Tiway.”

Taeyong buru-buru menjelaskan. “Aku begini karena kasihan sama kamu. Masa setiap hari menulis tapi enggak pernah diterbitkan. Masa cuma aku yang disuruh baca?”

“Oh… jadi selama ini kamu enggak suka?”

“Bukannya enggak suka—“

“Kamu ini buku pelajaran enggak suka, dongeng enggak suka. Katanya mau pintar, tapi pintar dari mana?”

“Tapi aku, kan, sudah berdoa.”

“Memangnya kita tinggal berdoa ‘Ya Tuhan, aku mau pintar. Kabulkanlah doaku’, dan besoknya kamu langsung dapat ranking satu? Kalau caranya kayak gitu, Albert Einsten pun enggak perlu begadang sampai kepalanya botak. Dia tinggal berdoa, habis itu santai-santai sambil makan keripik di kamar.”

“Kan ada keajaiban. Kamu, sih, suka mengkhayal tapi enggak pernah mikirin kalau keajaiban itu masih ada.”

“Yang namanya keajaiban itu baru datang kalau kita mau berusaha. Kalau kamu menunggu keajaiban sambil duduk di depan rumah, memandangi langit, memangku setoples kuaci sambil berharap ada peri-peri cantik yang membawa tongkat. Hellow! Sampai matahari berubah jadi pink, sampai bulan berubah jadi trapesium, sampai Yeri berubah jadi Iron Man, sampai kuping pindah ke dengkul pun enggak bakal pernah ada!”

“Daripada kamu, sukanya berharap, tapi enggak pernah dilakoni. Sama saja bohong.”

“Kita bisa meraih mimpi dengan berharap. Karena berharap adalah satu-satunya penyemangat agar kita yakin kalau mimpi itu bisa kita raih. Sudah puas?”

“Terus kenapa kamu enggak mau menerbitkan buku? Katanya ingin jadi novelis? Setiap hari berharap ketemu Guiyeonni, Stephen King, J.R.R. Tolkien, Nora Roberts… tapi apa? Enggak kesampaian, kan? Soalnya kamu kebanyakan berharap, bisa kekenyangan, ujung-ujungnya muntah. Ingat, kaki kamu masih di tanah, enggak usah kebanyakan terbang. Sayap kamu masih rapuh, sewaktu-waktu bisa patah.”

“Aku juga begitu,” kata Jaehyun yang langsung membuyarkan perdebatan panasku dengan Taeyong. “Aku suka menyanyi dan bermain gitar, tapi melakukannya cuma di depan Mama. Saat Mama bilang aku harus ikut klub musik untuk mengasah bakat, aku menolak. Alasannya, sih, enggak pasti. Mungkin aku masih ragu.”

“Nah!” Aku berseru. “Aku setuju sama Jaehyun. Namanya orang enggak yakin, kan, enggak boleh dipaksa.”

Taeyong bersungut-sungut. “Kupikir cuma Poni yang aneh, tapi aku penasaran kalau Jaehyun diam-diam ketularan.”

“Mau bernyanyi di depan kami?” tanyaku spontan. Aku baru tahu kalau Jaehyun suka menyanyi.

“Aku enggak bawa gitar.”

“Enggak perlu pakai gitar. Please…. Satu lagu saja, atau satu bait.” Aku mengatupkan tangan.

“Oke.” Jaehyun mengangguk dengan sedikit rona merah di pipinya. Dia menatapku intens. “Kamu suka lagu apa?”

Aku dengan semangat berpikir. “Kamu tahu Sung Shi Kyung? Aku suka mendengarkan lagunya, terutama yang Every Moment of You.”

Jaehyun nampak berpikir, kemudian mengangguk mantap. “Aku bisa.”

Istirahat itu ditutup dengan nyanyian Every Moment of You-nya Sung Shi Kyung ala Jung Jae Hyun dan tak lupa dia juga berlagak seperti aktor, lengkap dengan mimik sedih dan suara berat yang mendayu-dayu. Aku dan Taeyong hanya terbahak bercampur air mata sambil tepuk tangan.

.

.

.

“Silakan masuk.”

Jaehyun berjalan di belakangku, kemudian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah. Tak lupa aku mempersilakannya duduk dan membuatkan kopi panas. Sekembalinya dari dapur sambil membawa segelas kopi dan laptop, Jaehyun masih memerhatikan keadaan rumah. Aku membiarkannya seperti itu sejenak sebelum dia memusatkan perhatiannya padaku. Aku duduk di sebelahnya, kemudian berucap,

“Jangan kaget, ya. Rumahku memang kecil, jelek, enggak ada ACnya.”

Jaehyun buru-buru menggeleng. “Aku cuma melihat bingkai fotomu.” Jaehyun menunjuk pigura berisikan foto keluargaku.

“Oh… itu Mama, Papa, aku, dan Mark. Tapi orang tuaku meninggal beberapa bulan lalu.” Aku menunjuk wajah Mark. “Kalau itu Adikku, namanya Mark. Dia kelas 1 SMA. Pulangnya masih nanti malam.”

Jaehyun tampak kaget. “Terus?”

“Apanya?”

“Kalau orang tuamu sudah meninggal, bagaimana mungkin….”

“Tenang, aku enggak mungkin bekerja aneh-aneh untuk memenuhi kebutuhan tiap harinya. Aku kerja di kafe Haru sebagai selingan,” jelasku.

“Kata Taeyong, kamu suka menulis cerita, ya?”

“Iya, tapi cuma hobi sejak kecil. Soalnya dulu Papa sering membelikanku DVD dongeng, makanya aku jadi kepikiran membuat cerita kayak gitu.”

“Tulisan kamu sudah banyak?”

“Kalau kuantitas sih banyak, tapi pembacanya cuma Taeyong. Sejauh ini, sih, cuma buat mengisi waktu luang.”

“Kenapa enggak diterbitkan?”

“Coba, deh, kamu pikir. Sekarang sudah 2017, anak kecil pun lebih suka baca novel cinta-cintaan. Jaman sudah melenceng.”

“Cerita adalah hasil imajinasi, dan imajinasi enggak perlu mengikuti jaman, kan?”

Senyum simpul mengembang di wajahku, seolah-olah hendak menjawab pertanyaan klasik yang sudah kuhafal mati jawabannya. “Di umurku, harusnya aku menulis kisah cinta, teenlit ala anak SMA kebanyakan, bukan malah dongeng abal-abal yang enggak bermutu.”

“Enggak perlu mengubah tulisanmu cuma untuk mengikuti selera orang. Toh, kamu menulis, kan, kemuanmu sendiri, kenapa malah mikirin yang lain?”

“Tiway bilang aku aneh, tapi faktanya dia tetap mau jadi sahabatku. Jadinya aku juga mau ceritaku diterima masyarakat meskipun enggak masuk akal.”

“Visimu boleh juga.” Jaehyun mengacak poniku.

“Kamu jangan percaya sama Tiway kalau aku terlalu mengandalkan imajinasi. Aku mengkhayal, kan, demi dongeng. Padahal aku orangnya pasrah sama takdir.”

“Apa, sih, cita-cita kamu?”

“Wah, banyak! Dokter, guru, pemilik klinik kesehatan, wartawan, artis papan atas, majikannya Tiway, dan penyanyi. Waktu kecil, punya cita-cita jadi penulis dongeng terdengar keren. Begitu sudah besar, penulis dongeng terdengar konyol dan enggak keren lagi. Itu juga yang membuatku jadi enggak pede.”

“Dan katamu tadi, kamu tipe orang yang pasrah sama takdir? Jadi kalau misalnya ada takdir buruk, kamu bakal tetap diam?” Jaehyun masih penasaran.

“Jaehyun, siapa, sih, yang bisa mengubah takdir selain Tuhan? Aku cuma hamba, nyawa pun dipinjami. Aku bisa apa?”

“Menerima takdir itu memang bagus, kita diajarkan bekerja keras tanpa mengharapkan apa-apa. Tapi kalau terlalu mengikuti arus, kita enggak ada bedanya dengan parasit yang cuma numpang berpijak, habis itu mati.”

“Di planet bernama Kenyataan ini, aturan mainnya ya begitu. Kalau pun dipaksa mengubah takdir dan Tuhan enggak berkehendak, kan, sama saja percuma.”

Kami akhirnya membisu, cukup lama hingga di sini terasa menjengahkan. Suasana jadi canggung akibat perbincangan barusan. Aku mulai ingat tujuan Jaehyun datang untuk memperbaiki laptop. Aku pun  memberikan benda itu padanya. “Kamu butuh apa saja? Obeng, palu, linggis, cangkul, atau bor? Kamu tinggal bilang, nanti kuambilkan.”

“Aku butuh lipstik,” candanya sambil membolak-balik laptopku. Matanya memicing, memeriksa setiap inci yang rusak. Kilatan di matanya perlahan berubah yang tadinya hangat, sekarang serius. Mulutnya mengatup rapat seolah menyimpan tenaga bicaranya untuk berpikir. Aku sempat terpesona, namun aku tahu apa yang kurasakan masih belum pantas. Maka dari itu, setelah lima menit berlalu, barulah Jaehyun membuka suara.

“Laptopmu rusak parah. Aku enggak yakin mau membongkarnya, takut tambah rusak.”

Aku menggaruk tengkuk. “Terus gimana, dong?”

“Dibawa ke tukang servis saja. Kan lebih terjamin?”

Aku menghela napas berat, lalu memasukkan laptopku di tas laptop. “Enggak usah, deh.” Aku tertawa hambar. “Terima kasih.”

“Kamu boleh berterima kasih kalau aku memberimu sesuatu.”

“Tapi setidaknya kamu mau memeriksa laptopku dan mengajakku ngobrol. Mau pulang sekarang atau—aku enggak bermaksud mengusir—kalau masih mau di sini juga enggak pa-pa. Aku senang kalau ada teman bicara.”

“Sepertinya ada telepon di hapemu,” kata Jaehyun sambil melirik ponsel yang kutaruh di atas meja.

Dari Yeri. Aku tersenyum ke Jaehyun. “Sebentar, ya, Jaehyun.” Aku mengembuskan napas lagi, lebih panjang. “Halo?”

“Woi! Ke mana kamu? Kok enggak kerja? Dipecat Paman Bos?” Aku langsung menjauhkan ponsel dari kuping ketika suara Yeri begitu melengking tajam.

“Santailah sedikit, Bu Yeri. By the way, salahku apaan sampai Paman Bos berani main pecat-pecatan?”

“Terus sekarang kamu kenapa enggak masuk? Sakit? Ketabrak truk?”

Aku langsung terpingkal. “Jangan sampai aku ketabrak truk, ketabrak mobil-mobilannya Jisung saja sakitnya minta ampun. Hari ini aku libur soalnya ada urusan mendadak. Tolong bilangin Paman Bos, ya?”

“Iya, tapi memangnya orang macam apa yang punya keperluan sama kamu? Pasti dia sama anehnya kayak kamu, kan? Cowok atau cewek? Jangan-jangan kamu sudah punya pacar, ya? Eh tapi siapa yang mau jadi pacarmu? Hahaha, aku enggak kebayang kalau….”

Aku menjauhkan ponsel sebentar dari kuping, menunggu sayup suara Yeri selesai bicara sambil
sedikit-sedikit mengobrol dengan Jaehyun.

“…. Ill? Sudah diisi, kan? Illa? Gara-gara kamu, aku jadi lembur sendiri, deh.”

Aku buru-buru menyambar ponsel kembali. “Sudah diisi, kok. Ya sudah, aku tutup, ya? Makasih, Yeri. Maaf kamu jadi lebur sendiri. Dadaaah.”

Saat pembicaraan telepon usai, aku dan Jaehyun terkikik. Temanku yang satu ini memang luar biasa. “Dia memang jelmaan Tiway dalam bentuk cewek,” bisikku.

Jaehyun sempat terkekeh. Ia melihat jam tangan, kemudian berujar, “Aku harus pulang.”

“Oh… oke, oke.”

Kami berdiri, aku mengantarnya sampai depan rumah. “Sebentar!” sergahku. “Aku mau pinjamin kamu sesuatu.” Aku berlari ke kamar, membuka lemari kecil di bagian bawah meja belajar dan mengeluarkan bundel tebal berukuran A-4 yang dijilid ring logam.

Jaehyun menerima bundel yang kusodorkan padanya. “Itu kumpulan dongeng yang kuketik sebelum laptopku rusak, habis itu aku cetak dan kujilid sendiri. Ceritanya memang enggak secerdik Sherlock Holmes dan enggak semenarik Harry Potter, tapi itu murni buatanku. Omong-omong, kamu orang kedua yang kupinjami selain Tiway. Silakan kamu baca kalau berminat. Kamu bisa kembalikan kapan-kapan, yang penting jangan sampai hilang atau rusak, ya?”

Setelah menatapku, Jaehyun mengelus sampul depan bundel itu dengan hati-hati.

Aku melanjutkan, “Sebenarnya aku enggak yakin mau meminjamkannya ke orang selain Tiway, apalagi kamu baru kukenal tadi pagi. Kamu bisa dipercaya, kan? Aku yakin kamu cowok baik-baik.”

“Terima kasih.” Jaehyun tersenyum lebar. Entah aku berhalusinasi atau apa, karena aku baru saja merasakan debaran aneh yang melintas di jantung.

“Pokoknya jaga baik-baik, ya?” alihku. “Jangan kapok main ke sini.”

Jaehyun berjalan ke beranda. Saat sudah dua langkah, dia berbalik dan melambai padaku sambil tersenyum lebih lebar hingga matanya menyipit. Aku pun balas melambai dengan perasaan bahagia yang tiba-tiba melambung.

.

.

.

Malam harinya, aku tidak bisa tidur. Aku terus membolak-balikkan tubuhku ke sana kemari seperti daging panggang. Kenapa aku bisa begitu ceroboh memberikan ceritaku ke cowok yang bahkan baru kukenal tadi pagi? Bagaimana kalau dia menganggap ceritaku terlalu konyol, kemudian memperlihatkan dongengku ke seluruh warga sekolah keesokan paginya? Bagaimana kalau kedatanganku ke sekolah langsung disambut teriakan heboh sekaligus penuh makian, terutama dari para anggota jurnalis yang bakat menulisnya sudah selangit?

Aku mengacak rambutku frustrasi sambil sesekali meraung tidak jelas.

.

.

.

Dari kejauhan aku seketika bisa mengenali sosok itu. Tubuh yang menjulang tinggi dengan  rambut cokelat berkilau. Di punggungnya tergandul ransel hitam dengan emblem huruf mandarin warna putih yang dijahit di tengah-tengah. Jaehyun tampak mencolok saat berkumpul bersama teman-temannya karena kulitnya paling putih. Aku reflek tersenyum dan melangkah mendekat. Sejak tadi aku mencarinya, kupikir dia akan menjelek-jelekkan namaku di seantero sekolah, tapi ternyata tidak begitu. Ternyata benar kata Taeyong kalau Jung Jaehyun itu cowok baik-baik.

“Hai, Jaehood….”

“Hai, Ill—Jaehood?”

Aku terkekeh. “Habisnya kamu ganteng, sih, kayak Robin Hood. Enggak pa-pa, kan, kalau kupanggil Jaehood?”

Jaehyun tertawa renyah sambil mengacak poniku. “Boleh. Kamu baru datang?”

“He-eh. Bareng Tiway, tapi dia masuk kelas duluan. Aku daritadi nyariin kamu, takut kalau dongengku kamu sebarin ke anak-anak.” Aku mendadak manyun.

 “Rencananya memang begitu, tapi enggak jadi soalnya kasihan sama kamu.”

Aku manyun lagi. “Tumben aku ketemu kamu di sini. Biasanya aku enggak pernah lihat kamu kayak anak pengangguran di depan kelas.”

Jaehyun menebarkan pandangannya ke sekitar, kemudian mengangkat bahu sekilas. “Aku di sini cuma kebetulan. Enggak terlalu suka nongkrong-nongkrong. Lagian di kelasku masih ada anak piket, takut menganggu.”

Aku ingin berceletuk: pantas saja. Hampir setiap hari aku jarang melihatnya di sekolah. Aku tahu  ia sibuk mengurus ini-itu atau diikutkan lomba sana-sini yang mengharuskannya tidak masuk sekolah. Aku bahkan sempat curiga jangan-jangan Jaehyun sebetulnya kabur karena terlalu depresi menghadapi kesibukan yang tidak ada bedanya dengan pegawai kantor.

“Nanti sepulang sekolah kita ke Tofu, yuk? Aku ajak Tiway juga,” ucapku.

“Tofu?”

“Ah, itu restoran dimsum kesukaanku. Enggak terlalu jauh dari sekolah, kok. Mau, kan?”

“Tergantung siapa yang bayar.”

“Wah, rupanya omongan kamu perlu di reboisasi.”

.

.

.

Sayangnya Taeyong tidak mau ikut karena ada rapat klub dance. Jadilah hanya aku dan Jaehyun yang ke Tofu. Pertama kali ke Tofu tanpa Taeyong, makanya atmosfer di sini terasa aneh. Rumah makan bubur yang tidak terlalu besar dengan dinding keramik itu tampak padat. Orang-orang berderet memilih makanan yang disajikan prasmanan. Aku langsung menarik tangan Jaehyun untuk duduk berhadapan di kursi yang ada di samping jendela. Jaehyun menolehkan kepalanya ke sana kemari, sepertinya dia punya kebiasaan memerhatikan detail, seperti apa yang pernah dilakukannya kemarin di rumahku.

Kami memesan dua bubur, namun satu ukuran jumbo khusus untukku. Saat bubur itu sudah dihidangkan, aku buru-buru mengambil sendok. Kulihat Jaehyun terpana memandangi buburku yang hampir tumpah saking jumbonya.

“Kamu ini kecil, tapi, kok muat makan sebanyak itu?”

“Ususku di mana-mana. Kalau tanganku dibelah, ketemunya juga usus,” selorohku, lalu menyeruput lemon squash.

“Terus semua makanan itu larinya ke mana?”

“Ke otak. Aku, kan, juga perlu banyak asupan kalori buat mengkhayal.”

Jaehyun langsung berdecak kagum. “Kamu memang hebat. Aku pernah bikin cerita, ya semacam cerpen, tapi jadinya malah enggak keruan soalnya berhenti di tengah jalan. Apa istilahnya? Writter….”

Writter’s block,” koreksiku. “Aku juga sering kena penyakit itu. Tapi tenang, aku punya banyak jurus supaya enggak kambuh: bobok, makan mi kuah, jalan-jalan, nonton tivi, main game, dan mendengarkan musik.”

“Cewek-cewek pasti ngiri sama kamu,” komentar Jaehyun lagi.

Spontan, tawaku menyembur. “Sore ini aku bisa bilang kalau ucapan kamu ada benarnya, bukan karena faktor makanku. Tapi…,” Aku mencoba menelan tawa, “justru karena cowok yang lagi makan sama aku.”

“Maksud kamu?”

“Aku baru sadar aku sedang makan sama the most wanted limited edition guy yang dipuja-puja dan diperebutkan hampir semua cewek di Korea.”

Jaehyun tersenyum hingga lesung pipitnya nampak. “Apa, sih. Enggak penting.”

“Memang. Tapi lucu saja. Karena kayaknya cuma aku satu-satunya yang enggak sadar betapa berharganya kesempatan ini… setidaknya dari kacamata mereka.”

Kami saling tersenyum, kemudian melanjutkan makan bubur.

“Oh ya, aku mau bilang kalau aku suka sama dongeng-dongeng kamu. Aku sudah baca semuanya,” ulas Jaehyun.

“Terus? Komentarin, dong.”

“Bagus.”

“Cuma itu?”

“Hm.”

Mendadak aku merasa gugup dan mati gaya. Taeyong sering memujiku perkara dongeng dan aku biasa-biasa saja. Tapi sekalinya Jaehyun memuji, aku, kok, jadi salah tingkah begini?

Aku cepat-cepat mengalihkan pikiran bodoh. “Aku sudah menyiapkan nama pena, seperti yang kamu tahu: Poni Kwon. Tapi ya gitu, aku masih enggak pede. Naskahku kamu tolak saja aku agak sakit hati, gimana kalau penerbitnya juga menolak?”

“Sayangnya tema pentas drama kali ini Kolosal, memang sangat menyimpang dari kebiasaan kamu. Kalau temanya dongeng, pasti naskahmu langsung kuterima. Tapi dongeng kamu memang bagus.”

Mukaku semakin memerah. Aku tersadar, satu hal langka telah terjadi padaku: aku sungguhan salah tingkah. “Kamu jangan terlalu banyak memuji. Nanti kalau aku overdosis karena terlalu senang, gimana?” Ketika Jaehyun tertawa mendengar celetukanku, aku jadi punya kepercayaan diri lagi dan jantungku kembali normal.

“Kapan-kapan kamu juga harus main ke rumah. Nanti kukenalin keluargaku.”

Perkataan Jaehyun kali ini membuatku langsung tersedak. “Keluarga?”

“Iya. Aku enggak ngelamar kamu, kok. Cuma ngenalin.”

Aduh, masa kurang dari satu jam aku sudah salah tingkah berkali-kali? Aku pun hanya bisa mengangguk pelan sambil makan bubur semakin lahap.

“Kamu terakhir makan kapan, sih?”

“Aku suka nyanyian kamu. Kamu cocok jadi vokalis, kenapa enggak ikut klub musik bareng Doyoung?”

“Aku malu. Enggak biasa menyanyi di depan umum.”

“Justru itu. Kamu nyanyi di depanku saja aku senang, apalagi kalau menyanyi di hadapan anak-anak,” aku terkekeh sendiri. Aku merasa wajahku kembali memanas, dan omonganku terdengar ngaco.

.

.

.

Kami pulang bareng naik bus. Jaehyun juga mengantarku sampai di depan rumah. Aku sempat menawarinya masuk, tapi ia menolak, katanya tidak sopan karena sudah malam. Ah, hari ini aku lupa tidak bekerja lagi. Karena terlalu asyik menghabiskan waktu dengan Jaehyun, aku sampai tidak ingat harus mencari uang di Haru. Besok Yeri pasti akan mengomel habis-habisan.

“Aku punya sesuatu buat kamu,” ucapnya sebelum pergi.

“Apa?”

Sialan. Aku gugup lagi.

Jaehyun mengeluarkan bundelan kertas dari tasnya lalu memberikannya padaku. Aku langsung mematung sepersekian detik hingga setetes air mata hampir jatuh dari pelupuk mata. Aku menerima benda itu dengan tangan gemetar. Aku tidak menyangka bisa mendapat hadiah seindah ini darinya.

“Terima kasih, Jaehood. Kamu… baik sekali.” Suaraku semakin mengecil karena tenggorokanku tercekat.

“Hadiahnya memang enggak mahal. Tapi kuharap ini cukup buat kamu dan hobi-hobi kamu.”

“Seumur hidup belum pernah ada yang beliin aku buku dan pena secantik ini. Terima kasih, ya…. Terima kasih banyak.” Tahu-tahu air mataku membasahi sampul buku. Aku buru-buru menyekanya. “Aduh, maaf. Bukunya kena.”

Jaehyun mengelus rambutku dengan lembut. “Cerita kamu memang bagus, lucu, unik, inspiratif. Makanya aku sengaja beliin buku dan pena supaya kamu semakin giat menulis. Mulai sekarang aku janji bakal jadi pembaca setia cerpen kamu selain Taeyong.”

Tak ada yang bisa menahanku untuk memeluk Jaehyun, tidak juga diriku sendiri. Namun pelukan spontan itu hanya berlangsung dua detik karena aku langsung beringsut mundur dengan muka merah padam. Betapa bodohnya tingkahku. “Makasih,” bisikku lirih.

Ada sedetik mata kami berdua bertemu. Dalam waktu yang sedemikian singkat, aku merasakan banyak. Aku merasa akan bertemu dengannya lagi. Aku merasa ada ledakan besar yang terjadi dalam hidupku. Aku merasa telah memasuki sebuah zaman baru yang belum sempat kuberi judul, tapi aku merasakannya. Sebuah perasaan halus serupa bisikan peri dalam mimpi, tapi aku mendengarnya. Jelas.

Kami diam bergeming, antara rikuh dan tak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya kedatangan Mark memecah keheningan itu. Mark langsung melengos masuk rumah tanpa melihat kami. Aku tersenyum pada Jaehyun.

“Jaehood, dia Adikku, Mark.”

“Adiknya ganteng, pantas saja Kakaknya cantik,” kata Jaehyun yang membuatku agak tersipu. “Oh ya, kapan-kapan kita main bareng lagi, yuk?”

“Ke mana?”

“Kamu maunya ke mana? Pantai? Taman bermain? Lotte World? Bioskop?”

“Rumah.”

“Rumah?”

“Yap. Rumah. Enggak usah aneh-aneh, main di rumahku saja gratis.”

“Aku nemu cewek rumahan, nih.”

Aku meninju lengannya dengan pipi semakin merona. “Terima kasih sudah mengantar sampai rumah, dan terima kasih hadiahnya.”

“Sama-sama.” Jaehyun mengacak poniku sambil tersenyum kecil.

.

.

.

“Besok aku mau ke pesta. Kunci saja pintunya kalau jam sepuluh aku masih belum pulang,” kata Mark sambil menyendok ramen. Malam ini kami makan malam bersama, tumben.

“Di mana?”

“Bukan urusanmu.”

“Kalau begitu, siapa yang mengadakan pesta?”

“Pacarku ulang tahun, dia merayakannya dan menyewa gedung. Aku cuma minta uang buat ongkos.”

“Berapa?”

“30 ribu won.”

“Buat apa uang sebanyak itu? Biaya naik bus mungkin cuma 6 won.”

“Kamu pikir aku sudi datang ke sana kayak gelandangan yang enggak punya uang? Pacarku itu anak orang kaya, dan apa pendapatnya kalau aku ke sana enggak bawa apa-apa?”

“Tapi Kakak enggak punya uang sebanyak itu. 10 won saja, ya?”

“Enggak usah nawar, pokoknya harus 30 ribu won. Memangnya enggak pernah digaji, ya? Kalau gitu, mending keluar aja dari Haru, cari pekerjaan lain yang gajinya lebih banyak. Kalau begini terus, kapan kita bisa kaya? Adikmu, kan, cuma aku, apa susahnya, sih, ngeluarin uang?!”

“Justru itu, Adikku cuma kamu, makanya Kakak hemat buat SPP dan keperluan sekolah kamu. Kakak, kan, masih sekolah, Kakak juga harus melunasi SPP yang melunjak.”

“Kalau begitu, jual aja kalung emasmu. Pasti hasilnya banyak.”

Aku memandangi kalung emas berbentuk sayap pemberian Papa di ulang tahunku yang ke sebelas. Aku mengembuskan napas. “Kalung ini kalau dijual enggak seberapa,” kataku.

“Enggak pa-pa buat tambahan, daripada ongkosku cuma 10 ribu won.”

Tanpa berpikir panjang, aku langsung melepas kalung itu dan memberikannya pada Mark. “Ini. Jual saja kalau kamu mau.”

Mark menganga. “Serius?”

“Kalung ini pemberian Papa. Selagi ini buat kepentingan kamu, makanya enggak pa-pa.”

Mark langsung menyahutnya dengan mata berbinar. “Nah, gitu, dong. Baru Kakak yang baik.” Tanpa menghabiskan makan malam, Mark langsung berderap ke kamarnya, meninggalkanku sendirian dengan piring yang masih penuh.

Pesta. Tiba-tiba perasaanku cemas. Menu makan malam seakan membuatku tidak berselera lagi. Pikiranku berkecamuk tentang berbagai hal yang kemungkinan terjadi di pesta; gelap, bebas, ramai, mewah, dan… mabuk.

.

.

.

.

.

_Tbc_

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s