[NCTFFI Freelance] Goodbye Flight (Oneshot)

GOODBYE FLIGHT

.

Romance, Angst, Drama || Oneshot || Teenager

.

Starring
NCT’s Doyoung & Kun, AirlyAeri’s OC Emerald Lee

.

“Menangislah kalau kau mau.”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot. Credit poster to littlejungg @ poster

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Keheningan masih menyelimuti tatkala sepasang insan duduk berhadapan, dengan sebuah meja bundar kecil sebagai pengantara. Tak sepenuhnya hening; terdengar alunan tembang dari acara live-music yang disuguhkan kafe tempat mereka berada. Hanya saja, di antara mereka tak terjalin konversasi sama sekali.

Sekitar tiga ratus detik yang lalu, Kim Doyoung baru saja mengutarakan pada Emerald Lee, gadis di hadapannya, mengenai diterimanya ia sebagai siswa sebuah sekolah musik di Austria melalui jalur beasiswa. Doyoung tak menjelaskan secara berbelit-belit. Hanya beberapa hal singkat dan seperlunya karena ia tahu Emma – demikian panggilan gadis itu – adalah seseorang yang cerdas dan cepat tanggap. Bahkan setelah Doyoung selesai menjelaskan pun Emma tak memberi perubahan mimik yang berarti. Ia hanya mengangguk sesekali, kemudian dengan dagu yang bertopang pada siku ia menyimak perkataan Doyoung sungguh-sungguh, tanpa sekali pun menyela.

“Jadi,” pungkas Emma setelah menghela napas. Gadis itu memutuskan untuk menjadi pihak pertama yang memecah kebisuan tak nyaman tersebut. “Kapan kau akan berangkat?”

“Akhir pekan ini. Urusan VISA, paspor, akomodasi, dan perlengkapanku telah siap. Aku hanya perlu berangkat,” jawab Doyoung.

Kabar yang mengejutkan, tetapi lagi-lagi Emma memilih untuk tidak merespon secara berlebihan. Hei, ia tentulah harus bisa menjaga ekspresi di depan mantan kekasih.

“Tadi kau bilang empat tahun untuk mendapat gelar sarjana. Setelah itu, apa kau akan kembali?”

Doyoung menundukkan kepala. “Aku … tidak bisa berjanji.”

“Mengapa?”

“Mungkin … aku tak akan kembali.”

Kalimat terakhir yang diucapkan Doyoung sukses membuat Emma kembali dalam mode membisunya.

“Jangan khawatir,” Lelaki Kim itu mencoba mengulas senyum, “Aku akan senantiasa menghubungimu serta memberimu kabar dari sana.”

Dwaesseo,” balas Emma dengan mengibaskan tangan. “Mungkin ini adalah jalan yang terbaik agar kita punya waktu untuk menata perasaan kita masing-masing. Mungkin dengan tak saling bertemu selama beberapa saat akan membuat perasaan kita lebih baik. Tidakkah kau juga berpikir demikian?”

Doyoung menganggukkan kepala pelan. “Ya, kita bisa mengambil sudut pandang itu.”

Emma melirik sekilas jam putih yang melingkar manis di pergelangan tangannya, lantas mulai bersiap-siap; memasukkan ponsel serta dompetnya ke dalam tas tangan. “Ada yang masih ingin kau sampaikan? Aku harus pergi. Jadwal kuliahku dimulai tiga puluh menit lagi.”

Setelah menyesap cappuccino latte yang ia pesan, barulah Doyoung menjawab, “Kau akan datang ke bandara untuk mengantarku nanti, ‘kan?”

“Entahlah ….” Emma mengangkat bahu.

“Kuharap engkau datang.”

Emma tak merespon. Sebaliknya, ia bangkit berdiri dan bermaksud untuk segera beranjak dari kafe tersebut. Namun, panggilan Doyoung mengurungkan niatnya sejenak.

“Emerald Lee.”

Emma berbalik, lantas melemparkan tatapan Ada apa? pada sang lelaki.

“Terima kasih.”

“Untuk?”

“Semuanya.”

***

Emma tidak dapat mendeskripsikan apa yang ia rasakan sekarang. Pertama, mengetahui bahwa Doyoung ingin bertemu dirinya saja sudah membuat perasannya tak keruan. Meski hubungan mereka telah usai sejak cukup lama, tetapi tak bisa dipungkiri sebagian kecil hatinya masih terpaut pada lelaji Kim itu, membuatnya terkadang dilanda gulana. Emma memang tidak menunjukkannya di depan Doyoung, akan tetapi itu adalah tindakan yang dilakukan dengan usaha keras. Meski terlihat tanpa ekspresi, sebenarnya di dalam Emma sedang galau.

Ditambah lagi dengan kabar kepergian Doyoung yang entah sampai kapan. Kabar yang sukses menambah porak-poranda hati sang gadis. Satu sisi, ini adalah awal yang baik; dengan distansi yang bermil-mil jauhnya tentu membuat mereka makin mudah untuk menata perasaan masing-masing, untuk bebas dari rasa gundah yang kerap melanda. Di sisi lain, apa yang harus Emma lakukan kala ia merindukan pria itu? Apa yang harus Emma perbuat apabila ia butuh bertemu Doyoung, butuh sentuhan Doyoung, butuh pelukan serta penghiburan Doyoung? Hubungan mereka memang telah berakhir, tetapi bukan berarti mereka tak lagi saling membutuhkan, ‘kan?

Bila ditilik lebih lanjut, sejujurnya Emma belum siap melepas Doyoung.

Pada saat seperti ini, hanya ada sesosok pria lain yang muncul dalam benaknya.

Emma pun mengambil ponsel, lantas mencari nama pria tersebut dalam daftar nomor telepon yang ia simpan.

“Kun-ah. Kau ada di mana sekarang? Di rumah? Oke, aku akan ke sana.”

***

Waktu berlalu begitu cepat, hingga tibalah hari keberangkatan Doyoung. Kalau mau jujur, sebenarnya Emma enggan untuk menunjukkan presensi terakhir di depan mantan kekasihnya. Bukannya malas karena ini adalah hari libur, melainkan Emma sendiri tak yakin apakah perasaannya siap untuk melepas Doyoung atau tidak. Ia takut bila ia ikut mengantar, setelah pemuda itu pergi malah perasaannya bertambah kacau.

Kalau untuk sehari saja ia ingin menjadi egois, boleh, ‘kan?

Tetapi Emma mencoba untuk memikirkan sisi Doyoung. Membayangkan bagaimana lelaki itu menunggu kedatangannya bahkan hingga menit-menit terakhir sebelum keberangkatan. Membayangkan rasa kekecewaan yang akan Doyoung rasakan saat menerima kenyataan bahwa Emma tak datang untuk memberi salam terakhir.

Baiklah, Emerald Lee. Sepertinya kau harus berangkat.

Tak yakin dengan gejolak hati yang akan mengguncangnya kelak, Emma memutuskan untuk pergi dengan didampingi oleh Qian Kun. Emma adalah gadis rasional, asal tahu saja. Namun, segala hal yang berhubungan dengan Kim Doyoung akan membuatnya perlahan menjadi kehilangan akal sehat. Emma butuh Kun yang memastikan ia dapat pulang sampai ke rumah dengan selamat setelah meninggalkan airport kelak karena tanpa lelaki itu, Emma tak yakin perasaan hatinya akan merelakan ia untuk segera pulang ke rumah.

Dan di sinilah mereka bertiga, 45 menit sebelum jam keberangkatan Doyoung, baru saja mengurus check-in pemuda Kim itu.

“Maaf karena aku membawanya,” ujar Emma sambil melirik Kun yang duduk satu meter dari mereka berdua. Pemuda asal Cina itu sepertinya memberi waktu bagi Emma dan Doyoung untuk membicarakan urusan pribadi. “Aku membutuhkannya karena aku harus kembali ke rumah dengan selamat,” lanjut Emma.

Doyoung memberi sebuah anggukan kecil. “Aku mengerti. Setidaknya terima kasih sudah datang.”

“Kau ….” Emma mengangkat kepala, memberi tatapan lurus pada mantan kekasihnya. “Ada yang ingin kau bicarakan denganku?”

“Kau sendiri?”

Emma menggelengkan kepala. “Tidak ada. Aku bahkan tidak tahu mengapa pada akhirnya aku kemari di tengah hatiku yang sebenarnya enggan.”

Doyoung mengukir sebuah senyum. “Sebenarnya aku punya banyak hal yang ingin disampaikan, tetapi aku tak tahu harus mulai dari mana.”

“Katakan saja.”

Jeda beberapa sekon saat Doyoung mencoba merangkai frasa yang bercampur aduk dalam benaknya. Pria itu berusaha memilah mana yang harus ia katakan terlebih dahulu serta bagaimana ia harus mengatakannya. Semua terlalu membingungkan.

Tak tahu apa yang harus ia lakukan, Doyoung pun menarik Emma dalam dekapannya. Doyoung tahu gadis itu terkejut dari punggungnya yang menegang, tetapi ia tak peduli.

“Jaga dirimu baik-baik,” ucap Doyoung. “Aku tak bilang bahwa aku berharap kau melupakanku, tetapi kalau kau bisa menemukan pria lain yang bisa menggantikan posisiku di hatimu, aku sangat bersyukur.”

Mwoya ….” Emma melepaskan diri dari pelukan Doyoung. “Hanya itu?”

“Hmm. Hanya itu.”

Sedikit membingungkan bagi Emma, tetapi gadis itu memutuskan untuk tak bertanya lebih lanjut dan menyimpan kuriositasnya dalam hati.

Doyoung bangkit berdiri, menghampiri Kun dan terlihat berbincang untuk beberapa saat. Emma hanya menatap mereka dari distansi beberapa meter.

Jjalga ….”

Doyoung memberi lambaian perpisahan terakhir pada dua rekannya sebelum melangkah masuk ke gerbang keberangkatan. Emma membalas lambaiannya, tanpa menyadari bahwa satu demi satu kristal bening perlahan mengalir menuruni pipi.

Mungkin kalau tak ada Kun yang saat itu langsung merangkulnya, tangis Emma akan pecah saat itu juga.

***

Qian Kun bukanlah tipe pemuda penikmat siaran berita di televisi. Ia lebih menikmati siaran olahraga atau bahkan opera sabun yang alur ceritanya kurang lebih mirip dibandingkan berita terkini. Geli, memang, mengingat ia adalah lelaki yang umumnya tertarik dengan liputan terhangat dan aktual.

Namun, untuk kali ini ia mengalah. Jarang-jarangnya Papa pulang ke rumah akibat urusan kerja, biarlah hari ini beliau menikmati televisi beserta siaran favoritnya – yang tentu saja berbeda jauh dengan selera Kun. Kun memutuskan untuk ikut menonton bersama ayahnya. Bukan apa-apa, jika itu bisa menjadi jembatan kedekatan antara ayah dan anak, bisa menjadi sarana pelepas rindunya dengan sang ayah, maka Kun tak keberatan.

Toh menonton berita selama tiga puluh menit tak ada salahnya, ‘kan?

Namun, berita pertama yang ia saksikan membuyarkan fokusnya.

PESAWAT JURUSAN KOREA-AUSTRIA DIKABARKAN MENGHILANG.

Untuk sepersekian sekon jantungnya bagai berhenti berdetak. Dwimaniknya membulat, memastikan bahwa ia tak salah membaca atau tak keliru mendengar. Pikirannya serta-merta membawanya pada sosok Kim Doyoung, yang beberapa jam lalu masih memberinya dua tepukan di bahu. Hubungannya dengan Doyoung memang tidak dekat, tetapi untuk suatu alasan yang tak terjelaskan Kun teringat akan pemuda tersebut.

Apa Doyoung juga menjadi salah satu korban?

Bicara tentang Doyoung, tentu ada satu pihak lagi yang terkait. Emerald Lee.

Kun menelan ludah. Apa gadis itu sudah melihat berita? Apa yang gadis itu pikirkan?

Tanpa pikir panjang lagi, Kun segera beranjak dari tempat duduknya. Dengan hanya butuh kurang dari lima menit untuk mempersiapkan diri, ia segera tancap gas dengan sepeda motor menuju rumah sahabatnya.

Sekuat-kuatnya seorang Emerald Lee, ia juga punya titik depresi. Kun tahu itu. Dan Kun rasa saat ini Emma butuh seseorang untuk menopangnya.

Berkat aksi ngebut-ngebutan serta salip-menyalipnya di jalan, Kun tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumah Emma. Ia menemukan Emma sedang berada di kamarnya, tampak serius mengerjakan sesuatu di meja belajar.

“Emerald Lee.”

Gadis itu terkejut untuk beberapa saat ketika menyadari presensi Kun. Ia menolah, dan meski sekilas, Kun dapat menangkap indra penglihatan Emma yang berkaca-kaca. Kantung matanya pun membengkak.

“Oh, Kun-ah,” sahut Emma. Suaranya bergetar, meski gadis itu menyunggingkan sebuah senyum. Kun tahu, itu adalah senyum yang amat dipaksakan.

“Ada apa tiba-tiba datang? Kenapa tak bilang terlebh dahulu?”

Kun memutuskan untuk langsung ke topiknya. “Kau sudah melihat berita?”

Jeda untuk beberapa saat sementara ekspresi Emma tambah muram. Namun hanya sesaat, setelahnya gadis itu kembali memaksakan raut cerah. “Kau mau minum apa? Jus jeruk? Kurasa aku masih punya yang dingin di kulkas.”

Bahkan Emma terlihat enggan dekat-dekat dengan Kun karena gadis itu terlihat hendak akan meninggalkan Kun dalam kamar. Mungkin langkah gadis itu akan terus berlanjut apabila Kun tak menahan pergelangan tangannya.

“Kau baik-baik saja?” tembak Kun.

“Ya,” jawab Emma cepat – terlalu cepat. Gadis Lee itu hendak beranjak lagi, tetapi Kun tak mau melepas genggamannya.

“Aku tanya sekali lagi, Emerald Lee. Kau baik-baik saja?”

Bersahabat dengan Emma untuk waktu yang lama membuat Kun mengenal mana senyum Emma yang tulus, senyum kegembiraan dari hati, serta senyum yang dipaksakan padahal sebenarnya hati ingin menjerit.

Emma tak langsung menjawab. Ia hanya menundukkan kepala dan membiarkan keheningan menyesakkan menyelimuti untuk beberapa saat.

Ani. Angwaenchanha,” lirih Emma akhirnya. Ia mengangkat kepala, dan menatap Kun dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

“Ya, aku sudah menyaksikan semua. Berita tentang hilangnya pesawat yang dinaiki Doyoung, aku sudah tahu. Terkejut? Tentu saja. Sedih? Sedikit. Tapi aku bisa apa? Lagipula kalau mau ditilik lebih lanjut, ini adalah takdir terbaik karena berarti aku bisa melupakannya lebih cepat. Bagaimana pun ia – “

Kata-kata Emma terpotong ketika dalam sekali tarik Kun membawa Emma dalam pelukannya. Pemuda itu mendekap Emma erat, sangat erat, hingga di titik gadis itu merasa tenggelam di balik lengannya.

“Berhenti bersikap sok kuat, Emma-ya,” ucap Kun lembut tepat di telinga Emma. “Menangislah kalau kau mau.”

Emma tak ingin menangis. Serius. Emma tak mau menjadi wanita cengeng yang histeris akan kepergian mantan kekasih. Berita yang ia dengar memang memilukan, tetapi ia mau menjadi gadis rasional yang kuat seperti biasanya. Kepergian Doyoung bukanlah akhir dari segalanya. Ya, karena itu ia tak boleh menangis.

Tetapi mengapa hati serta kelenjar air matanya tak mau menaati akal sehatnya? Mengapa semakin ia memerintahkan untuk tegar, semakin hatinya terasa sakit dan air matanya mengalir deras tak mau berhenti?

Mengapa ia membiarkan diri untuk terisak dalam pelukan Kun? Hei, Emerald Lee! Berhenti menangis!

Kun mengangkat tangan untuk mengelus surai panjang gadis itu dengan lembut. Tindakan itulah yang membuat Emma bagai tak dapat menghentikan tangisnya. Bahkan yang awalnya hanya sebuah isakan kecil lama-lama berkembang menjadi raungan. Emma melepaskan semua rasa sesak di dadanya dengan tangisan serta cengkraman pada bagian belakang baju Kun.

Ya, Doyoung adalah mantan kekasih. Hubungan mereka sudah berakhir cukup lama. Seharusnya keduanya sudah bisa merelakan satu sama lain menjalani kehidupan mereka masing-masing. Taka da lagi hubungan yang mengikat mereka. Meski Emma dan Doyoung memutuskan untuk tetap berteman meski hubungan romansa mereka telah berakhir, tetapi tak semestinya keduanya masih terikat secara perasaan.

Namun, tak bisa dipungkiri, masih ada sebersit rasa sayang terhadap Doyoung yang tertinggal di hati Emma. Gadis itu memang tak mengharapkan hubungan mereka akan kembali seperti dulu, tetapi rasa sayang serta rasa cinta itulah yang menyebabkan Emma tak dapat melepas Doyoung sepenuhnya. Hubungan mereka telah usai, tetapi Emma masih dilanda cemburu seandainya Doyoung terlihat akrab dengan gadis lain – hanya sesekali, kalau akal sehatnya sedang kalah dengan hatinya.

Mengapa? Karena Emma masih cinta pada Doyoung.

Itulah sebabnya, mendengar berita yang begitu tiba-tiba ini, hati Emma terasa pilu. Ia tidak siap atas kepergian Doyoung yang mendadak dan abadi. Ia tak tahu apa yang akan terjadi seandainya ia harus hidup tanpa melihat Doyoung di sepanjang sisa hidupnya. Ia ingin marah, baik pada takdir maupun pada hatinya yang terkadang tidak sinkron dengan akal sehat.

Ia punya Kun, sahabat sejak kecil yang juga menyayanginya. Emma tahu itu. Bahkan kalau mau jujur pun ia juga punya rasa sayang pada Kun. Hanya saja, tanpa Doyoung, hidupnya tetap akan terasa berbeda.

Emma sudah lelah menangis. Jauh sebelum Kun datang ke rumahnya, ia juga sudah menghabiskan waktu untuk menangis, bahkan sampai meninju bantal dan menendang guling. Ia lelah, baik secara fisik maupun secara emosi.

“Jangan khawatir,” ujar Kun lembut, “mulai sekarang aku akan menjagamu. Aku akan melindungimu. Mungkin aku tak dapat menggantikan posisi Doyoung sepenuhnya di hatimu, tetapi aku akan berusaha. Dan aku pastikan, kau akan aman bersamaku. Oke, Emma-ya?”

Emma mengangguk pelan. Ia tahu tak akan mudah menyerahkan hatinya sepenuhnya pada Kun, tetapi ia akan berusaha. Pemuda itu sudah menyerahkan seluruhnya untuk dirinya. Yang Emma perlu lakukan hanyalah percaya pada Kun. Hanya itu.

Percaya bahwa perlahan Kun akan menyembuhkan luka menganga dalam hatinya.

.

Epilog

Bro.”

Doyoung menepuk pundak Kun dua kali. Kun memang bisa dibilang adalah rivalnya dalam merebut hati Emma – meski Doyoung tak suka dengan istilah kompetisi dalam urusan cinta – namun untuk kali ini Doyoung memutuskan untuk memberi senyum terbaiknya pada pemuda asal Cina tersebut.

Gue titip Emma, ya?”

Kun mengangguk. “Tanpa lo bilang demikian pun gue bakal jaga dia.”

“Ketika gue nggak ada nanti, jangan buat dia nangis. Emma itu orangnya memang terlihat kuat, kalau dia sedang sedih dia nggak akan nunjukin kalau dia sedih. Gue harap lo bisa jadi orang yang peka terhadap perasaan dia, dan menjadi orang pertama yang menghibur dia. Oke?”

-fin-

A/N

Hai Kak Airly… Sebelumnya saya mau bilang minta maaf karena make Emma tanpa izin hihihi waktu itu cuma izinnya untuk wawancara dia aja, tapi ga bilang mau make di ff hahaha miyaneyo ya kaak…

Terus.. maap banget kalau dia terlihat sangat OOC di sini hwhwhw I tried my best to suit her into my plot tp entahlah hwhwhw maap ya kak yaaa..

Anyway, mind to review? J

Advertisements

6 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Goodbye Flight (Oneshot)

  1. Kacau nih hatiku. Parah.

    Padahal aku lagi sedih, terus orangnya sensitifan, terus sukanya nonton drama yang nangis-nangis, dan jadilah: AKU NYESEK BENERAN SEDIH BENERAN GECE HUHUHUHUHU KIM DOYOUNG JANGAN PERGIIIIIII

    Hhhhh aku kok berasa banget kehilangan mamas duyung duh gusti…. Padahal aku lagi berusaha mau bikin duyung sama emma balikan, tapi… tapi… tapi…… Secercah perasaan kecil milik emma yang harus diabaikan untuk beberapa waktu belakangan, kini harus ditenggelamkan dengan sekuat tenaga demi kim doyoung yang pergi dengan abadi………

    OKE FIX BAPER OKEBYE AKU MAU MOJOK AJA SAMA MAS DUYUNG. HUHUHUHUHUHU.

    Terus bahasa gaulnya si kun saa duyung oke juga tuh. Kapan2 gaul barenglah nongkri di Bogor /plak

    Btw pantesan aku kaget gece minta izin kemarin, taunya tadi liat ini berasa mau keluar matanya wkwkwkw

    Keep writing gece q! Unch! Mwa!

    Liked by 1 person

    • wahahaha maafkan kak bkin kakak tambah baper wkwkwkwkwk
      iyaaaaa.. ini bgmn kah kelanjutan cinta segitiganya? siapa yg akan emma pilih? wkwkwkwk but thanks ya kak sdh mau minjemin emma…

      ajakin gih kak nongkrong wkwkwkwk ajarin bahasa gaoel yg lain jg haha thanks kak wes mampir ❤ ❤

      Like

  2. AKU-BAPER. TITIK.

    Emma bukan aku, bukan siapa-siapaku, aku juga gak terlalu ngefans sama Doyoung, tapi tapi tapi entah kenapa hati ini ikut teriris, gak kebayang gimana perasaannya kak Airly wkwkwkwk Gk nyangka aja si Doyoung bakal meninggal, padahal tadi aku jga lagi sedih gegara berita Jupe meninggal, lah ini sekarang malah Doyoung yg meninggal //plakk

    Dan aku suka epilognya masa :’) Gahoel banget bahasanya, berasa mereka berdua bisa diajak bukber di ancol sambil ngopi //plakk// apaan sih ji -_-//

    Nice fic kakce ❤ ❤ ❤

    -Sekian-

    Liked by 1 person

    • hai jiyo pertama2 thanks bgt udh mampir ke ff ini hahahahaha…
      yesh aku bahagia wes bkin hati kalian berdua tersayat-sayat /tawa jahat/ bhaks tp iya sih pas kubaca ulang jg baperin ini….

      makasih udh mampir sayyy

      Like

  3. HAAA INI BAPER SIH FIX T.T

    tapi ceritanya kerennn, pertama kali mampir ke web ini dan baca ff pertama kali di web ini dan ga ngebosenin, jd pengen baca yang lain lagiii

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s