[NCTFFI Freelance] Sunbae (Chapter 3)

Title     : Sunbae

Cast     : Kim Sejeong

Lee Taeyong

Author : Papau / cerelletta

Genre  : Romance, Angst, School life, a little bit comedy

Rate     : T

Summary         : Seseorang yang mengagumi seorang lainnya lebih dari 4 bulan maka bukan rasa kagum yang ia rasakan, tetapi rasa cinta yang semakin dalam. Dan Sejeong tau, bahwa dia mencintai Lee Taeyong. Lalu bagaimana dengan Taeyong?

Warning          : OOC, typo(s), cerita pasaran

It’s my real story. I’m not copas from another story.

DON’T BE SILET READERS!! PLEASE RCL IF YOU READ THIS FANFICT!!!

.

.

.

.

Park songsaenim baru saja keluar ruangan ketika bel dibunyikan 3 kali, pertanda bahwa sekarang saatnya para murid untuk pulang. Taeyong terlihat santai memasukan buku-bukunya ke dalam tas, sebelum merasakan getaran pada saku celananya. Dengan segera, lelaki bermarga Lee itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan hp-nya dari sana.

“Ne, eomma. Ada apa?”

“….”

Kerutan di dahi Taeyong bertambah. “Malam ini? Kenapa mendadak sekali?”

“….”

Arasseo, aku akan datang nanti malam.”

Tut!

Taeyong mematikan sambungannya, beranjak pergi menemui Jimin dan Sungjae yang sudah menunggunya di depan kelas.

“Kenapa wajah mu murung begitu? Ada masalah?” tanya Jimin melihat raut wajah Taeyong yang berbeda dari biasanya.

“Kau seperti tidak tau saja Jim, kalau Taeyong sudah seperti itu pasti karena eommanya yang menelpon,” jawab Sungjae. Lelaki itu memang menjawab pertanyaan Jimin, tetapi matanya tak lepas memandang seseorang di tengah lapangan.

“Tentang perjodohan itu?” tanya Jimin.

“Kurasa ya,” sahut Taeyong. “Aku pergi duluan.”

Jimin dan Sungjae saling pandang dan sama-sama mengangkat bahu melihat kepergian Taeyong. Mereka berdua – tambah Taehyung – memang sudah tau perihal perjodohan Taeyong, karena memang Taeyong selalu cerita perihal masalanya, begitupun sebaliknya. Tetapi siapa orang beruntung tersebut mereka tak tahu, Taeyong sendiri pun belum pernah melihat siapa perempuan – sialan – yang akan menjadi istrinya kelak. Dan malam ini, sang eomma akan mempertemukan dia dnegan perempuan itu.

“Tapi feeling ku merasa Taeyong akan senang dengan perjodohan ini,” ucap Sungjae menerawang, seakan-akan ia paranormal yang sedang meramalkan masa depan pasiennya.

Jimin menatap temannya aneh. “Sudahlah aku pergi saja. Kau mau ikut?”

Sungjae tersadar dari ritualnya. “Tidak, aku akan menunggu Sooyoung latihan,” jawabnya menunjuk seorang gadis di tengah lapangan.

“Baiklah, aku duluan.”

***

Taeyong menghentikan langkahnya ketika melihat seorang perempuan tengah bersandar di motor hitamnya. Lelaki itu menatap malas dan terus berjalan pelan ke arah motornya tanpa mempedulikan Sejeong yang sekarang tengah tersenyum kepadanya.

Sunbae, kau akan langsung pulang?”

Tak akan ada jawaban dari Taeyong dan Sejeong tau itu. Lelaki itu malah memakai helmnya, ia berusaha untuk naik motornya tetapi tak bisa karena Sejeong menghalangi.

“Bisakah kau minggir?”

Sejeong menggeleng dengan senyuman khasnya. “Jika sunbae bersedia memberi ku tumpangan, aku akan minggir.”

Taeyong memutar mata malas. “Dengar, aku sedang buru-buru sekarang, jadi sebaiknya kau minggir sebelum aku mengusir mu dengan kasar.”

Bukannya merasa takut, Sejeong malah terlihat senang mendengar jawaban Taeyong. Pasalnya Taeyong akan menjadi cerewet ketika berhadapan dengannya dan Sejeong suka mendengar suara Taeyong.

“Lagipula apa kau tak punya teman? Kau selalu saja mengikuti ku kemana-mana.”

Sejeong terdiam. “Aku punya teman…”

Matanya memandang sekeliling.

“Hei Jepang! Kau teman ku kan?” tanyanya kepada seorang perempuan berwajah khas Jepang yang baru saja lewat di dekat mereka.

Perempuan itu – Minatozaki Sana – menghentikan langkahnya. Ia menatap Sejeong bingung. “Aniyo, sejak kapan kita berteman?” tanyanya dan langsung pergi begitu saja membuat Taeyong menyunggingkan smirknya. Sedangkan Sejeong sudah mempout kan bibirnya sedari tadi.

“Sudah sana, aku harus pergi.”

Taeyong menyenggol Sejeong dengan sengaja. Lelaki berwajah anime itu segera menghidupkan motornya dan berlalu begitu saja, meninggalkan Sejeong yang masih terdiam dengan bibirnya yang mengerucut lucu.

“Teman? Memang apa pentingnya punya teman?” gumamnya pelan.

***

Alunan suara musik terdengar indah di telinga Taeyong yang baru saja memasuki restauran mewah tersebut dengan kedua orang tuanya. Beberapa pelayan terlihat memberi hormat, menyambut kehadiran keluarga Lee, pemilik dari restauran ini. Seorang pelayan terlihat menghampiri Tuan Lee, mereka sedikit berbincang dan akhirnya pelayan tersebut menunjukan meja khusus untuk bos besar mereka.

“Taeyong-ah, saat mereka datang jangan tunjukan wajah dingin mu itu. Setidaknya beri mereka senyuman. Ingat mereka tamu penting kita malam ini.”

Ne, eomma.”

Taeyong melirik ke arah panggung yang terletak di tengah ruangan. Di sana terlihat seorang lelaki tua sedang memainkan piano di temani seorang perempuan yang memainkan biola di depannya. Musik indah itu sedikit menenangkan perasaan Taeyong saat ini. Saking menikmati alunan lagu tersebut, Taeyong sampai tak sadar sedari tadi sang eomma terus memanggil namanya.

“Lee Taeyong!”

Taeyong terperanjat. Bukan karena seruan dari ayahnya, tetapi karena suara perempuan terkekeh di sekitarnya. Matanya menoleh ke arah kanan dan ekspresinya berubah seketika. Di sana, di depannya terlihat Kim Sejeong tengah tertawa kecil memandangnya. Pantas saja dia hafal betul suara itu.

Tunggu!

Untuk apa perempuan itu berada di sini dan dengan santainya ia duduk di hadapan Taeyong? Atau jangan-jangan…

“Taeyong-ah, kenalkan ini adalah Bibi Kim, dia pemilik Panti Asuhan Astra dan perempuan cantik di depan mu itu keponakannya, Kim Sejeong,” ucap sang appa seakan menjawab pertanyaan-pertanyaan di benak Taeyong.

“Dan Sejeong adalah calon istri mu nanti.”

Kalau saja Taeyong sedang minum, mungkin dia sudah tersedak sekarang. Sejujurnya dari awal Taeyong memang tak masalah dengan perjodohan – bodoh – ini, toh sedari kecil hidupnya memang sudah ditentukan oleh kedua orang tuanya itu dan Taeyong senang-senang saja melakukannya. Tapi dari sekian banyak perempuan di luar sana, kenapa harus Sejeong yang menjadi calon istrinya?

Lihatlah wajah Sejeong yang sekarang tengah malu-malu itu, membuat Taeyong bergidik ngeri entah kenapa.

Eomma, bisa kita bicara?”

Nyonya Kim sedikit melirik suaminya, meminta ijin apakah ia boleh berbicara dengan anak mereka? Sebuah anggukan kecil menjawab semuanya.

Taeyong berjalan ke halaman restauran diikuti ibunya dari belakang.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Tae?” tanya ibunya langsung saat mereka sudah berada di tempat sepi.

Eomma, kenapa harus perempuan itu?”

“Wae? Bukankah Sejeong anak yang manis, dia juga cantik Yongie.”

Taeyong mendengus. “Kau hanya tidak tau saja dia di sekolah seperti apa.”

“Wah jadi kalian sudah saling kenal? Itu mempermudah perjodohan ini,” ucap Nyonya Kim tersenyum senang.

Eomma, kau tak me—“

“Dengar, Taeyong.” Nyonya Kim berkata serius membuat Taeyong mengatupkan bibirnya rapat-rapat. “Eomma tau ini akan sangat sulit untuk kalian berdua, tapi eomma sudah berjanji kepada nenek mu dan juga orang tua Sejeong. Ini permintaan terakhir dari mereka, jadi eomma harap kau bisa menjaganya.”

Taeyong dapat melihat ibunya menetikan air mata sebelum pergi meninggalkannya sendirian di sana. Ia terdiam. Pikirannya entah pergi kemana. Matanya melihat Sejeong yang sedang diam menikmati makanannya, tanpa mempedulikan orang-orang dewasa disana yang sedang asik berbincang. Rasanya ingin sekali lelaki Lee itu memukul wajah menyebalkan Sungjae besok pagi. Jadi tolong ingatkan dia untuk memukul Sungjae besok, jika Sungjae bertanya alasannya kenapa? Jawab saja bahwa hidup Taeyong sudah berakhir sejak malam ini.

tbc

Advertisements

2 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Sunbae (Chapter 3)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s