[NCTFFI Freelance] Suaranada Senja (Chapter 7)

Tittle             : Suaranada Senja#7

Author          : Angestita

Lenght           : chaptered

Rating            : PG 13

Genre            : Romance – HGTG – Drama – Sad

Cast                : Mark Lee – (OC) – NCT

FF ini ditulis untuk menghibur. Tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan para tokoh. Tidak berniat untuk mengambil keuntungan dari penulisan ini. Tidak mencontoh karya penulis lainnya dan harap anda bisa melakukan hal yang sama.

Tujuh

-Nada-

Aku keluar dari kelas tepat pukul enam kurang lima menit. Suasana kampus terlihat masih cukup ramai. Ada beberapa kelas yang belum berakhir. Salah satu kelas yang aku maksud adalah kelas milik Mark. Aku tidak tahu siapa yang mengisi kelas itu sekarang. Tapi sepertinya itu pelajaran yang cukup penting.

Mengingat Mark membuatku bermonolog. Ini sudah beberapa hari terlewati setelah hari itu tapi aku belum bersitatap lagi dengannya sejak saat itu. Yang aku temui hanya mobil CRV miliknya yang terparkir dekat parkiran dosen atau teman – teman satu kelasnya. Anak itu seolah tidak menampakkan dirinya atau memang sengaja ingin menghindariku?

Padahal ada yang ingin aku sampaikan salah satunya tentang kejadian sore itu. Bagaimanapun juga aku tak enak hati sudah meninggalkannya di bawah hujan seorang diri setelah menerima bantuan darinya. Kejadian saat hujan itu bahkan tidak berselang lama dari penolakannya atas ajakan makan yang dia minta.

Aku bodoh memang meninggalkan dia kehujanan karena tergesa-gesa memberhentikan taxsi. Aku ingin menghubunginya terlebih dahulu tapi aku takut. Aku ingin mengatakannya langsung dan menjelaskan semuanya. Tapi apa yang harus aku jelaskan? Semuanya sudah jelas. Aku sudah memberikan alasan mengapa aku menolak ajakan makannya.

Tapi rasanya seolah ada yang mengganjal perasaanku. Mungkin ini tentang komentar yang aku baca di postingan instagramku. Aku membaca semuanya. Tentang Jaehyun, Mark dan teman – teman mereka yang usil. Aku tidak tahu mengapa teman – teman mereka mengumpankan aku kepada Jaehyun. Kami bahkan baru bertemu satu kali dan dia adalah anak Fakultas Kedokteran. Bukankah kecil kemungkinan Jaehyun tertarik padaku?

Ah, ini yang membuatku gerah. Mark di tag temannya dalam komentar postingan fotoku, tapi anak itu sama sekali tidak peduli. Apakah notifikasi-nya tidak masuk ke akunnya atau dia tidak tertarik? Mendadak perasaanku menjadi gelisah. Aku takut Mark salah paham. Aku takut dia tidak suka padaku lagi karena telah menolak ajakannya, meninggalkan dia di bawah hujan seorang diri dan melihat komentar ngaco dari teman – teman Jaehyun. Aku tidak ingin hubungan kita berantakkan.

Langkahku sudah tiba di lobby fakultas hukum dekat ruang dosen. Ada beberapa orang yang tengah duduk di lobby sehingga membuatku tidak mengenali mereka satu per satu. Tapi ada seseorang yang melambaikan tangannya ke arahku. Aku sedikit asing dengan orang itu hingga dia menghampiriku.

Dia adalah Jaehyun. Mahasiswa FK UGM. Ada apa gerangan dia datang kemari? Diam – diam aku bisa melihat beberapa tatap mata jatuh ke arah kami. Itu jelas membuatku tidak nyaman.

“Apa kelas ibu sudah selesai?” tanya Jaehyun padaku, nada yang di pakai terlihat ramah dan sopan.

Aku menggangguk sebagai jawaban.

Pria itu tersenyum lagi – lagi lesung pipinya terlihat. Membuatku sedikit menarik sudut bibirku. Ah, lesung pipinya membuat dia terlihat imut. “Apa ibu mau mampir ke Starbuck denganku? Kebetulan kelasku sudah berakhir.”

Sebuah tawaran datang lagi padaku. Membuatku berfikir keras. Aku ingin menolak tapi tidak sampai hati. Cowok ini sudah susah payah datang ke sini hanya untuk mengajakku ke Starbuck.

“Baiklah, tapi hanya sebentar saja ya.” Kataku.

Jaehyun mengangguk. “Aku tunggu di sini ya.” Ujarnya lagi.

Aku hanya tertawa pelan, dia terlihat sangat menggemaskan saat mengatakan hal seperti itu. Aku bergegas masuk ke dalam ruang dosen dan absen sore. Hari ini kebetulan aku tidak membawa mobil. Jadi kebetulan sekali. Lima belas menit kemudian kita berdua sudah ada di parkiran mobil.

Jaehyun menghampiri sebuah mobil Pajero Sport berwarna putih berplat AB 07 JHY. Dengan sopan pemuda itu membukakan pintu untukku. Ah, sudah lama sekali hal ini tidak terjadi. Dan sore itu aku merasa asing dengan diriku sendiri.

Tujuh

Starbuck pilihan kita tidak jauh dari lokasi UGM. Cafe yang kami datangi sedikit ramai banyak dari mereka adalah pasangan kekasih. Jaehyun berjalan tepat di depanku, membuatku terhalang memandang keseluruhan pengunjung cafe.

Jaehyun memiliki tubuh tinggi ramping dengan perawakan yang sedikit berisi dan gagah. Wajahnya yang tampan apalagi dengan lesung pipi mencuri perhatian banyak orang. Apalagi almet yang dia pakai menandakan dia salah satu mahasiswa UGM.

“Duduk di sana saja ya,” ucap Jaehyun memutuskan lamunanku. Dia menunjuk sebuah bangku kosong yang terletak di dekat pintu. Tapi fokus pandangan kita teralihkan kepada seseorang. Aku terpaku sebagian dari perasaanku berubah kian keruh.

Tentu saja aku terkejut melihat keberadaannya di sini. Aku memang ingin bertemu tapi tidak dengan cara seperti ini. Perasaanku kiaan kalut ketika Jaehyun merangkul pundakku dan mengantarku ke arah meja yang masih kosong. Dam bodohnya aku menurut. Di iringi tatapan mata dingin dan tajam dari pemuda itu, aku duduk kaku di salah satu bangku.

“Mau pesan apa?” Jaehyun bertanya sembari meletakkan tasnya di kursi.

Aku memandang wajahnya sekilas, tersenyum kecut, berusaha menggali kesadaranku lebih dalam. “Ikut kamu saja.” Hanya itu yang keluar dari mulutku. Semuanya konsentrasi dan perasaanku sudah teralihkan kepada pemuda yang kini sudah berdiri dari tempat duduknya.

Jaehyun menepuk pundakku, “Tunggu sebentar ya.” Dan pria itu meninggalkan aku sendirian.

Mataku masih fokus ke arah Mark yang kini sudah melangkah meninggalkan tempat ini. Perasaan kehilangan semakin terasa seiring langkah Mark yang kian menjauh. Aku ingin mengejarnya dan menjelaskan semuanya. Tapi itu mustahil. Aku harus tahu diri. Dan mengejarnya mungkin akan memperkeruh masalah.

Tujuh

-Normal-

Mark benar – benar menghilang setelah kejadian itu. Tidak ada mobil CR-V dengan plat AB 02 MRK yang parkir di sebelah parkiran dosen lagi. Mark juga absen di kelas milik Nada.

“Dia ikut muncak dengan kakak tingkat bu,” ujar Jaemin ketika Nada bertanya alasan ketidak hadiran Mark dalam kelasnya. Entaah itu memang perasaannya saja atau bukan Mark sengaja menghindarinya. Dan ikut mendaki gunung bersama kakak tingkat adalah salah satu alasan yang tepat.

Selama kepergian Mark, Nada berusaha menghindari Jaehyun semampunya. Menolak ajakan makan, jalan hingga ajakan sebagai pasangan dalam pesta Diesnatalis. Nada memang sudah bertekat untuk tidak memberikan perhatian yang lebih kepada pemuda itu. Dia tidak ingin menjadi pembohong.

Malam itu Nada datang ke pesta Ulang Tahun UGM seorang diri. Berbeda dengan dosen – dosen lainnya yang sudah memiliki pasangan baik itu pasangan hidup maupun hanya seorang pacar. Nada yang datang seorang diri tentu saja menjadi perbincangan hangat anak – anak hukum baik dari angkatan paling kecil hingga tingkat teratas.

Selain karena keputusannya untuk datang seorang diri ke Diesnatalis kampus Nada juga menjadi bahan gosip karena penampilannya yang mempesona. Malam itu dia memang tampil cantik dengan gaun merah hati off shoulder. Acara yang bertempat di Grha Sabha Pramana itu terlihat sangat meriah. Hampir semua dosen, dekan dan rektor hadir di ruangan itu. Nada tidak begitu mengenal orang-orang disana tetapi demi kesopan dia datang ke acara itu.

Acara sudah berlangsung hampir satu jam tetapi wanita itu tidak kunjung bertemu dengan teman-teman Mark Lee. Mereka semua sepertinya tidak hadir. Ketika acara mulai memasuki acara inti, panitia acara menghentikan barang sepuluh menit, sepertinya akan ada sesuatu penting yang ingin disampaikan.

Saat itu Nada tengah mengobrol dengan Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan, beliau datang dengan putranya, “Anak saya baru saja pulang dari London. Jadi saya ajak kesini saja,” terang dia pada Nada. Menurut gosip yang beredar pria ganteng yang ada di hadapannya ini tidak punya istri alias duda. Nah, lalu urusannya dengan dia apa?

“Saya ingin memperkenalkan putra saya ke Anda, sebentar saya panggilkan dia,” imbuh pria mapan di hadapannya dengan sopan. Pria itu kemudian memanggil seseorang pria dengan balutan jas hitam dan kemeja putih tanpa dasi. Sesaat Nada merasa terjungkal dari tempatnya duduk. Bagaimana mungkin cowok yang ada di hadapannya ini sangat tampan. Ah ralat mendekati senpurna.

Pemuda di hadapannya tersenyum dengan lembut, “Nama saya Taeyong Pratama, salam kenal Ms,” ucapnya sopan.

Nada yakin pipinya sudah berubah merah saat ini. Berada di hadapan dua pria tampan dengan wajah yang hampir mirip seperti ini seolah melihat masa depan.

Demi mencegah kecanggungan Nada sontak berdehem halus, “Hallo, nama saya Suaranada Senja salam kenal,” balas Nada sopan.

“It’s a beautiful name,” puji Taeyong sopan.

“Terimakasih,”

“Taeyong ini anaknya hamble tapi dia belum punya pacar. Padahal di sudah bekerja sebagai karyawan di Barclays. Saya jadi takut anak saya nggak laku,” pria tampan di sebelah Taeyong berujar santai.

Namun berbeda dengan Nada yang mendengarnya, wanita itu tentu saja terkejut, bagaimana tidak, cowok tampan dan mapan kayak Taeyong belum punya pacar? Apa jangan-jangan….

Pikiran ngaco Nada terputus oleh suara MC yang sudah kembali ke atas panggung. Wanita itu terlihat sedikit gugup daripada tadi. Dia mulai berceloteh seperti biasanya namun tidak seceria awal. Hingga pada akhirnya wanita itu mengucapkan kegelisahannya.

“Kita barusaja mendapat berita duka dari Sekretariat MAPALA UGM, bahwa tiga mahasiswa UGM yang mendaki di Gunung Raung hilang dari jalur pendakian karena hujan lebat,” Nada yang mendengar penjelasan dari MC mendadak merasa sesak. Semua kebahagiannya hilang sudah. Wanita itu merasa jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Tanpa dia sadari tangannya sudah saling meremas satu sama lain.

“Ke tiga mahasiswa itu adalah Danura Yuta Prasetya, Stevanus Johnny dan Mark Lee,” ada hening panjang sebelum ruangan yang luas itu heboh. Ke tiga pria yang di sebutkan oleh MC tadi memang masuk ke dalam orang-orang most wanted  fakultas maupun angkatan.

Sempurna sudah luka yang ada di hati wanita itu. Nama Mark Lee di sebut dengan jelas. Dia termasuk mahasiswa yang hilang di jalur pendakian. Orang yang dia cari selama satu minggu ini. Orang yang diam-diam merayapi hatinya, membuatnya goyah, dan rapuh.

“Mark bodoh!” maki Nada di dalam hati. Tanpa sepatah kata atau salam perpisahan Nada bergegas keluar dari ruangan itu. Berlari menuruni tangga, hingga tanpa dia sadari ujung hak sepatunya tidak sempurna menampak di anak tangga. Nada terjatuh dengan keras ke bawah tangga. Untung saja tempat itu sepi hingga tak satu pun orang yang melihatnya.

Lututnya berdarah kakinya terkilir dan sepatunya rusak. Nasibnya benar-benar buruk malam itu. Rasanya sakit tapi tidak sesakit hatinya. Dia menangis pelan entah karena rasa sakit akibat lukanya, sakit karena Mark atau karena ke dua hal tersebut. Wanita itu tidak peduli jika make up-nya berantakkan. Dia tidak peduli jika bajunya akan rusak. Yang dia pedulikam saat ini adalah dia ingin menangis.

Tiba-tiba seseoraang datang menghampirinya, berlutut di hadapannya, dan mengulurkan sapu tangan. “Jangan menangis,” tuturnya lembut. Nada tidak menoleh dia semakin menunduk. Dia tidaak suka melihat orang lain mengetahui kerapuhannya.

“Apa rasanya sakit mari saya bantu,” tutur pria itu. Nada yang dia pakai masih sama lembut dan menenangkan. Nada tidak bergerak. Masih sama. Terisak dan menunduk dalam-dalam.

Ada hembusan nafas berat yang ada di hadapannya. Sebelum pria itu memutuskan untuk menarik tangan Nada dan meletakkan sapu tangannya di tangan wanita itu. Dengan perlahan dan hati-hati pria itu membenarkan letak kaki si wanita. Melepas sepasang sepatu hak tingginya dan meniup luka yang sedikit lebar di lutut itu.

Nada tidak meringis walau rasanya ingin meringis. Semuanya larut dalam tangisannya. Dia tidak peduli apa kata orang lagi, nyatanya, rasanya benar-benar sakit. Seperti barusaja di putus cinta. Padahal mereka tidak benar-benar saling mengenal. Semuanya tidak semudah itu.

Waktu berjalan cukup lama hingga Nada merasa lelah untuk menangis. Tangisnya memang berhenti tapi tidak dengan apa yang ada di hati. Wanita itu mengusap air matanya dengan punggung tangan. Melupakan begitu sapa sapu tangan halus yang ada di tangannya.

Ketika dia medonggak untuk melihat orang yang sudah membantunya. Wanita itu tertegun. Perasaan malu hinggap di hatinya. Dia tidak tahu malam itu dia benar-benar sial. Rasanya ingin kabur saja. Tapi kakinya sakit di gerakkan. Jadi, bagaimana dia bisa berjalan?

“Mari saya bantu berjalan?” tawaran yang membantu.

Ada hening panjang sebelum kepalanya mengangguk setuju. Dia butuh pertolongan untuk ke mobilnya terparkir. Bodoh, seharusnya dia hati-hati. Jika seperti ini semuanya jadi repot. Orang-orang tidak bersalah harus mengantarnya.

Mengantarnya sampai rumah!

Tujuh

TBC

Advertisements

2 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Suaranada Senja (Chapter 7)

  1. Uwaaaaah akhirnya yg ditunggu-tunggu rilis juga hehe ceritanya makin seru ❤ Meskipun aku agak cenat cenut gegara bayangin Jaehyun yg lumayan pendiam itu jadi agak agresif di sini :') Dan aku udah bisa nebak sih kalau anak rektor yg mau dikenalin ke nada itu si Tiway, soalnya Nada langsung terpesona. Siapa lagi yg bisa bikin cewek klepek-klepek pada pandangan pertama selain taeyong?? /apaan sih ji -_-/

    Dan Mark….. Whai dia harus hilang?? Aku gk kepikiran loh dia bakalan kayak gitu. Mana ada nama Stevanus Johnny dan Danura Yuta Prasetya hanjai aku ngakak :'v

    Dan siapa sih yg nolongin nada pas jatuh itu??? Jaehyun atau taeyong??? Btw Nada kasihan deh meskipun menurutku karakternya keras dan agak keras kepala :'v Habisnya dia mau ditolong, tapi sempet nolak. Mungkin gini ya kalau orang terlalu shock. Udah deh ngaku aja kalau kamu suka sama Mark. Aku ikhlas kok, biar nada gk deket2 lagi sama jaehyun /pulang ji/

    Dan aku punya koreksi terkait penggunaan Nada POV. Itu pakai sudut pandang "Aku" selaku tokoh utama kan? Tapi di situ aku nemu ada kata "kita". Nah aku pernah dikasih tau sama guru bahasa Indo, kalau pakai sudut pandang orang pertama itu cukup pakai aku dan dia. Kalau pakai "kita" atau "kamu", itu sudah merupakan sudut pandang orang kedua. Jadi lebih baik dikasih italic jika menggunakan kata "kita" atau "kamu" untuk penggunaan sudut pandang orang pertama.

    Mungkin segitu dulu. Maaf ya kalau aku cerewet, dan aku gk bermaksud menggurui. Ditunggu kelanjutannya tita ❤ Fighting!

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s