[NCTFFI Freelance] Kita Berbeda (Vignette)

KITA BERBEDA

.

Fantasy, slight!Romance, Sad || Vignette || Teen

.

Starring
NCT’s Doyoung and a girl

.

“Maka saat bulan memberitahumu sesuatu, percayalah.”
–Rise of The Guardian (2012)

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot. Credit poster to NJAEXM @ Poster Channel

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Aku terbangun tanpa tahu siapa diriku, dimana diriku, dan bagaimana aku bisa seperti ini. Tubuhku ringan bagaikan bulu, lemah tak kuasa menahan hempasan angin. Sensasi yang terasa aneh, tapi menyenangkan. Kakiku bergerak bagai tanpa rintangan. Wow, aku benar-benar tak bermassa. Hanya butuh beberapa saat berlatih pengendalian diri, aku bisa berkeliling dunia hanya dengan bantuan angin.

Saat itulah bulan memanggilku.

Namaku Kim Doyoung, begitu ucapnya. Informasi yang berharga, pikirku sebelum kembali beranjak. Namun, perkataan selanjutnya membuatku terdiam.

Katanya aku adalah roh.

Tak beraga.

Frasa itu berhasil memancing gelak tawaku. Yang benar saja, jika aku hanyalah roh, tak mungkin aku masih berkeliaran di dunia fana ini. Alamku pasti sudah berbeda. Nyatanya, aku masih bisa menatap sekelilingku dengan jelas serta mengenali keadaan sekitarku.

Hahaha. Roh? Tak masuk akal.

Ia tidak memberi kesempatan padaku untuk bertanya, karena begitu aku hendak mengajukan pendapat, awan hitam kelam menutup eksistensinya.

Baiklah, belum ada pernyataan lebih lanjut mengenai wujudku. Maka dari itu aku belum percaya sepenuhnya tentang rupaku. Aku yakin aku bukanlah roh. Aku nyata. Aku dapat dilihat, dirasa, dan dikenal.

Itu juga mengapa sampai sekarang aku masih berinteraksi dengan gadis bernama Heidi Lee itu.

***

Diam-diam, kuikuti langkah kakinya. Bukan bermaksud menguntit, tetapi sudah tiga belas jam kami tak berjumpa, dan rasa rindu mulai menyerang. Seperti hari-hari lalu, Heidi tampak cantik dengan seragam sekolahnya. Rambut hitam panjangnya selalu dibiarkan tergerai. Puncak kepalanya diberi sentuhan bando berornamen pita. Manis.

“Heidi!” panggilku. Langkahnya terhenti sejenak, namun ia tak berbalik, malah melanjutkan perjalanannya. Kali ini dengan penambahan kecepatan.

“Tunggu aku!” seruku seraya ikut mempercepat langkah. Dengan bantuan angin, tak butuh usaha keras untuk bisa menyusul derapnya. Bahkan aku bisa terlebih dulu berhenti di hadapannya.

Heidi menatapku sekilas – tatapan kesal. “Minggir,” ujarnya.

Aku balas menatapnya sambil tersenyum jenaka. “Coba saja lewati aku.”

Heidi mematung. Bibirnya mengerucut.

“Kau masih marah padaku, ya?” Aku berceletuk. “Tentang kejadian kemarin, aku minta maaf. Gara-gara tangan bodoh ini,” Aku memukul tanganku sendiri, “uang yang kau tabung untuk membeli es krim mahal itu terbuang. Tangan payah ini tidak dapat memegang benda dengan baik.”

Biar kuperjelas. Kemarin Heidi sedang berbaik hati membelikanku es krim mahal. Aku tahu ia sampai rela menyisihkan uang jajannya hanya untuk mentraktirku. Tetapi dalam kurun dua sekon aku tak sengaja menjatuhkan es krim itu ke tanah, membuatnya teronggok begitu saja.

“Sudahlah,” sahut Heidi lemah.

Kami duduk di bangku terdekat. Membicarakan mentari pagi, sepasang kupu-kupu bersayap jingga, hingga cicit burung gereja. Heidi lebih banyak mendominasi pembicaraan, sementara aku mendengarkan. Aku menyukai gaya gadis itu berceloteh, tangannya yang bergerak, ekspresi wajah yang antusias, dan mata yang berbinar. Heidi mampu membuat sebuah cerita terasa lebih hidup – dan lebih menyenangkan.

“Kim Doyoung. Kau pernah jatuh cinta?”

Satu pertanyaan itu sukses menghadirkan perasaan aneh dalam perutku. Rasanya mual, tapi tak ingin muntah. Pipiku mulai menghangat. Sudut bibir terangkat tanpa bisa kucegah.

“Pernah,” sahutku.

Awalnya aku berpikir pertanyaan yang akan ia lontarkan selanjutnya adalah pada siapa?. Namun, tebakanku kurang tepat. Alih-alih ia bertanya, “Rasanya seperti apa?”

“Rasanya? Memangnya jatuh cinta adalah makanan?” balasku dengan tawa kecil. “Rasanya, seperti …. Bagaimana menjelaskannya, ya? Perasaan senang untuk bertemu orang yang kau sukai setiap hari, meskipun kau terus melihat wajahnya, kau tak akan pernah bosan. Kau selalu punya semangat untuk bangun tiap pagi. Setiap percakapan kecil tidak penting dengannya menjadi sesuatu yang berharga untukmu.”

Heidi tersenyum. “Kedengarannya menyenangkan.”

“Memangnya kau tidak pernah jatuh cinta?”

Gadis itu menggeleng.

Aku terdiam – dengan iris yang tak henti memandang gadis bergaris Lee itu. Mempertanyakan pernyataannya yang – akunya – belum pernah jatuh cinta. Benarkah? Mungkinkah tak ada barang seorang yang pernah mengisi hatinya?

Heidi masih membisu, sementara aku larut dalam pikiran. Kicau burung merpati mengisi keheningan.

“Aku suka padamu,” ujarku tanpa sadar. Sekon berikutnya, barulah aku menyadari terucapnya frasa keramat itu dan mataku membulat. Seraya merutuki diri, kugigit bibir bawahku yang lancang.

Reaksi Heidi Lee hampir serupa, menoleh dan menatapku penuh tanda tanya. Maniknya berkedip beberapa kali.

Pertanyaan sejak kapan? adalah respon pertamanya setelah sesaat kecanggungan menyelimuti.

“Entahlah.” Aku menjawab sambil memainkan buku jari. “Mungkin sejak mengenalmu?”

“Terima kasih,” sahutnya dengan senyum. Perlu kuberitahu, Heidi Lee mempunyai senyum yang hangat.

“Untuk apa?”

“Untuk menyukaiku.”

Mau tak mau aku balas tersenyum.

“Kau sendiri?” Aku melontarkan pertanyaan atas dasar kuriositas. “Bagaimana perasaanmu terhadapku?”

Ia mengulur waktu dengan menggigiti kuku jari, sebelum akhirnya berucap, “Aku pun menyukaimu – “

Belum sempat aku menari karena bahagia, Heidi melanjutkan kalimatnya.

“ – sebagai teman.”

Kalimat yang sukses membuat senyumku memudar.

“Maksudku, aku senang dengan keberadaanmu. Walau terkadang aku kesal padamu layaknya kemarin, tetapi bercengkrama denganmu terasa menyenangkan. Kau adalah teman pertama yang kurasa nyaman sebagai tempat berbagi pengalaman. Kau harus tahu, Doyoung-ah, setiap malam aku bersyukur pada Tuhan atas kebersamaan kita,” lanjutnya. “Tapi, kita tak bisa selamanya bersama.”

Aku menoleh, tidak mengerti. Keningku berkerut samar. Setelah semua kebahagiaan yang telah kami lalui, mengapa masih ada penghalang dalam relasi kami?

“Kenapa?” Kata itu akhirnya meluncur dari mulutku.

“Karena kita berbeda,” jawabnya setelah menghela napas panjang. “Aku manusia. Aku bisa merasa, melihat, mendengar. Begitu pula sebaliknya. Orang dapat merasakan kehadiranku, dapat melihatku, menyentuhku. Sedangkan kau hanyalah roh. Kau mungkin dapat merasakan kehadiran orang lain, tetapi mereka tak tahu kau ada. Kau bisa mendengar mereka, menatap mereka, tetapi bagi mereka kau tak ada. Mengerti maksudku?”

Tidak! jeritku dalam hati. Tidak mungkin! Mungkin mereka tak menyadari presensiku karena aku terlalu cepat – ya, siapa yang dapat mengalahkan kecepatan angin? Tapi bukan berarti aku tak ada, ‘kan?

Barulah satu demi satu memori bermunculan di benakku. Adegan demi adegan berputar layaknya tayangan. Orang-orang yang tidak menjawab ketika kutanya, tak menoleh begitu kupanggil, dan es krim itu …. Bukan tanganku yang bodoh, tetapi memang aku tak bisa menggenggam apapun.

Roh tidak bisa memegang atau menyentuh sesuatu, ya ‘kan?

“Lalu … kau ….” Aku menatapnya, masih tidak mengerti. Berjuta pertanyaan berkecamuk di otakku, tak tahu yang mana yang harus kukeluarkan pertama. “Bagaimana kau tahu kehadiranku?”

Ia mengangkat bahu dan tersenyum. “Entah. Kupikir itu adalah suatu anugerah. Mungkin kita memang ditakdirkan untuk bertemu dan mengenal satu sama lain, hanya saja tak bisa selamanya bersama.”

Hatiku mencelos mendengar kata-katanya. Jadi, perbedaan wujud inilah yang menghalangi kebersamaan kami? Begitu?

Kalau benar, mengapa? Mengapa kami dipertemukan kalau akhirnya tidak bisa bersama? Mengapa kami harus mengenal bila kami tak bisa saling memiliki?

Huft …. Percuma. Aku tak akan kuasa melawan takdir.

Sebuah helaan napas keluar dari mulutku. “Heidi Lee,” panggilku.

Ia menoleh. “Hmm?”

Aku membasahi bibir bawah. “Meski berbeda wujud, kita tetap berteman, ‘kan? Lagipula, di dunia ini hanya kau yang dapat menyadari kehadiranku.”

Bola kepala Heidi naik turun dengan tegas. “Tentu saja!” jawabnya yakin, membuat kedua sudut bibirku terangkat.

***

Walau berbeda wujud, walau tak bisa saling memiliki, aku bersyukur atas kebersamaan kami. Aku bersyukur pernah mengenal Heidi, berbagi kisah dengannya, bercengkrama dengannya. Tak apa, ini sudah cukup membahagiakan.

Mungkin hari itu aku disadarkan akan wujudku yang berbeda. Hari itulah aku benar-benar menyadari bahwa aku memanglah roh, tak beraga. Hari itu pula aku belajar untuk menerima kenyataan.

Teringat akan bulan yang memberitahu wujudku, satu pelajaran yang dapat kupetik.

Maka saat bulan memberitahumu sesuatu, percayalah.

-fin-

A/N

A little review won’t be hard, right? 🙂

Advertisements

One thought on “[NCTFFI Freelance] Kita Berbeda (Vignette)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s