[Taeil’s Birthday] Cinema

Cinema

Author:SnowDrop

Cast: MoonTaeil, Ashley (OC)

Genre: Au, Romance, Hurt

Length: Ficlet

Rating: PG-13

“Apakah setelah ini kisah kita akan diceritakan orang lain? Siapa yang jadi pemeran berikutnya? Apakah aku hanya akan menjadi cameo? Haruskah aku hanya duduk dikursiku?”

.

.

.

Tak peduli dengan derasnya guyuran hujan yang tengah menari-nari dibawah langit malam kota Seoul, tak peduli dengan jalanan becek sepanjang gang yang tengah ku lewati, tak peduli dengan dinginnya air hujan yang tengah menjamah tubuhku, karena yang aku pikirkan hanyalah bayangan seorang gadis yang sejak dua puluh menit lalu kuabaikan panggilan dan pesan masuk darinya.

Brukk!

Argh, persetan dengan semuanya. Kenapa juga aku harus terpeleset dan…oh lihat bajuku yang dipenuhi lumpur, menjengkelkan. Padahal ini bukan pertama kalinya aku melewati jalan ini, tapi rasanya terasa lebih jauh.

Yeah, akhirnya aku tiba didepan sebuah rumah yang cukup mewah yang menjadi tempat tujuanku. Seharusnya seseorang tengah berdiri menungguku disana. Hasilnya yang kudapati hanya gerbang menjulang tinggi yang telah terkunci. Tak berhenti disitu, aku berusaha menekan bel berharap seseorang akan datang membuka pintu. Tapi nihil, sepertinya takkan ada seorangpun yang datang karena lampu ditiap ruangan sudah mati selain lampu teras dan taman.

“Sial sialsialTaeil! Kau dalam masalah besar!”

Kau mungkin tengah berbaring di kamarmu atau merutukiku disuatu tempat dengan keras. Yeah, aku terlambat. Dan aku telah membuatmu marah. Lagi. Andai saja kau menunggu lebih lama, andai saja kau lebih bersabar, andai saja…andai saja… Bodoh. Terus saja berandai-andai!

.

.

.

Sepuluh menit telah berlalu, dan hanya nyanyian hujan satu-satunya yang mengusik keheningan di antara kami berdua. Dia masih marah dan itu membuat nyaliku sedikit menciut.

“Ashley,soal semalam aku minta maaf”

“Kau tahu aku benci saat kau mengatakan maaf. Rasanya itu seperti main-main saja setelah kau mengatakannya ribuan kali. Lagipula, untuk apa?”

Shit! Dia begitu rumit. Seperti rumus matematika yang sulit dipecahkan. Sebenarnya apa yang ada dalam pikirannya. Aku bahkan tidak pandai dalam soal hitungan. Ah, mungkin ini waktu tepat untuk memberikan ‘ini’ padanya.

“Kau tahu, tanpa sadar kau selalu menggunakan uang dalam menghalangi kemarahanku. Kau memberiku banyak hadiah ini dan itu. Dan tanpa sadar aku membencinya. Karena yang aku butuhkan adalah waktumu. Harus dengan apa aku bisa mendapatkannya?”

Ashley kembali bersuara sembari memainkan cangkir Lattesaat melihat pergerakan tanganku yang merogoh sesuatu di dalam saku jaket. Refleks, tanganku urung mengeluarkannya dari dalam saku.

“Jadi, selama ini kau tidak suka semua hadiahku?”

“Ya. Apalagi saat aku memintamu datang, tapi yang datang hanyalah sebuah kotak besar dengan surat permintaan maaf didalamnya. Padahal aku selalu berharap kau bisa datang saat aku membutuhkanmu”

“Itu karena-“

“Kau sibuk bekerja. Jadi, kau tak punya banyakwaktu luang. Benar begitu? Kalau itu alasanmu seharusnya kau berpikir dua kali saat kau menyatakan perasaanmu. Aku jadi ragu selama ini siapa yang aku kencani”

“Ashley, ini semua demi-“

Dan Ashley pergi tanpa mendegarkan penjelasanku Harusnya aku menahannya untuk tidak pergi. Tapi yang kulakukan hanya memandanginya yang perlahan mulai menghilang dari pandanganku. Sesuatu dalam diriku tiba-tiba berbisik untuk berhenti. Berhenti untuk sesuatu yang menyulitkanmu. Berhenti untuk sesuatu yang sulit kau genggam. Berhenti dari sesuatu yang membuatmu lelah. Tentu, aku lelah untuk membuatnya paham. Dan alasan yang membuatku tetap bertahan hanyalah sebuah perasaan yang orang bilang cinta.

Yeah, saat kau dihadapanku aku seperti sedang menonton bioskop. Sebuah cerita fiksi yang sulit ditebak alur ceritanya. Bahkan saat film selesai diputar, gambar-gambar itu terus terjebak dalam pikiranku.

Dan aku menatap nanar pada sebuah kotak kecil berwarna merah yang baru saja kukeluarkan dari dalam saku. Aku membukanya, dan sebuah cincin hasil kerja kerasku sekarang malah jadi tak berarti apapun. Apa aku baru saja ditolak?

Lima belas menit yang lalu kita saling duduk berhadapan. Apakah setelah ini kisah kita akan diceritakan orang lain? Siapa yang jadi pemeran berikutnya? Apakah aku hanya akan menjadi cameo? Haruskah aku hanya duduk dikursiku?

-FIN-

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s