[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 13)

mylesbianroommate

{ Cast : Jaehyun, Chaeyeon, Yeri, and Eunwoo | Genre : romance, hurt/comfort, college life | Rating : PG-17 }

Previous Chapter

Page 1 | Page 2 | Page 3 | Page 4 | Page 5 | Page 6 | Page 7 | Page 8 | Page 9 | Page 10 | Page 10,5 | Page 11| Page 12

+++

Eunwoo bukanlah orang yang baru mengenal Jaehyun dalam kurun waktu singkat. Kalau sedang tidak ditugaskan melakukan survei, mereka berdua akan menghabiskan waktu bersama. Baik itu di ruang kerja maupun di luar kantor.

Melihat raut sarkatis yang Jaehyun torehkan mengingatkan Eunwoo pada peristiwa yang terjadi satu bulan yang lalu. Saat ia memutuskan untuk tidak lagi menghubungi Yerim karena sudah lelah terikat dalam sebuah hubungan. 

Jaehyun memang begitu, baginya tidak ada masalah yang perlu dipikir dalam-dalam kecuali masalah perempuan. Karena ia tak punya sesuatu yang perlu dikhawatirkan dalam urusan pekerjaan. Begitu pula dengan urusan keluarga. Orang tuanya di Incheon masih sehat-sehat saja. Bahkan ayahnya masih bisa bekerja dan gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kau murung karena Jung Chae Yeon?” celetuk Eunwoo menggugah lamunan Jaehyun di depan komputer.

“Hah, aku?” Jaehyun mengangkat sebelah alisnya heran. Eunwoo pun menarik kursinya agar ia bisa memposisikan diri di sebelah pemuda itu.

“Kudengar dari Saeron, Yerim menangis semalaman dan terus murung karena perkataanmu beberapa hari yang lalu.” Eunwoo membuat topik baru untuk ia perbincangkan.

“Aku cuma berusaha memberinya kejelasan, seperti apa yang selama ini ia minta.” tandas Jaehyun.

“Kenapa tiba-tiba kau melakukannya? Padahal, kan, sebelum-sebelumnya kau enggak pernah mempedulikan itu. Bahkan terkadang kau menikmati keberadaannya yang mengganggumu. Maksudku…, bahkan saat kau sudah mulai tidak acuh pada Yerim, kau tetap menanggapinya. Semacam, sudah tak ada kesempatan bagi Yerim untuk diterima di hatimu. Namun kau tetap tak rela jika ia berhenti menyukaimu. Dan kalau boleh jujur, kau jadi besar kepala saat gadis itu mengemis cintamu. Kenapa?”

Penuturan Eunwoo sontak membuat Jaehyun terhenyak. Ucapan sahabatnya itu sedikit banyak telah membuka pikirannya. “Apakah aku seketerlaluan itu?”

“Eh? Bukan, bukan. Oke, kau memang salah karena sudah meninggalkan Yerim dengan alasan yang konyol—bosan. Tapi mari tak mempermasalahkan itu. Tindakanmu yang tiba-tiba melepaskan Yerim dan membuatnya tak lagi mengemis cintamu—yang tanpa sadar kau jadikan hiburan untuk diri sendiri—pasti memiliki alasan, ‘kan? Pasti ada suatu hal yang menggerakkanmu untuk melakukan itu, ‘kan?”

Ya, sepertinya persahabatan yang terjalin antara Eunwoo dan Jaehyun benar-benar sudah mendalam. Buktinya dia bisa sampai memahami seluk-beluk dari perasaan yang ada di dalam hati pemuda itu—padahal Jaehyun tidak paham dengan kekhawatiran apa yang mengganjal dalam benaknya sendiri.

“Kita buat jadi sederhana saja, deh. Kau menyukai Jung Chae Yeon, ‘kan?” tukas Eunwoo yang langsung menggurat air muka terkejut pada wajah Jaehyun. Matanya membeliak dan pikirannya langsung porak-poranda.

“Yang benar saja?!” Jaehyun berseru.

“Kalau bukan perasaan semacam itu, lalu apa, dong?” balas Eunwoo. Jaehyun bungkam, tak kuasa menanggapi.

“Mungkinkah, aku?” kata Jaehyun. Eunwoo mengendikkan bahu, karena awalnya ia cuma bertujuan menenangkan hati Jaehyun yang sedang kalut. Mau dibawa ke mana perasaan itu, selebihnya urusannya sendiri.

***

“Masa, sih, aku suka sama dia?” gumam Jaehyun. Sudah sekitar empat jam—semenjak ia sampai di apartemen setelah jam kerjanya berakhir—ia terus menyatroni dirinya sendiri dengan pertanyaan itu. Ini semua salah Eunwoo yang pakai acara memberinya kuliah mengenai urusan perasaan. 

Cih, lagaknya sudah seperti yang berhasil dalam percintaan saja. Apa Eunwoo tidak ingat kalau dia juga tidak kunjung memberi Saeron kepastian tentang hubungan mereka?

“Tapi Chaeyeon sudah benar-benar benci padaku.” timpalnya sembari menghadap layar ponsel dengan tatapan pilu. Hampir setiap hari—sejak momen tertangkap basah jika dia adalah seorang lelaki tulen—Jaehyun mengirim pesan berupa sapaan dan permintaan maaf kepada Chaeyeon. Namun gadis itu tidak pernah membacanya. Sekalinya membaca, itu adalah pesan video yang dikirim oleh Jaehyun. Itu pun belum tentu Chaeyeon sudi melihatnya.

Alih-alih menyerah, Jaehyun terus saja melampiaskan penyesalannya dengan mengirimi Chaeyeon pesan. Yang biasanya sehari sekali dan hanya di waktu pagi saja, sekarang malamnya ia juga berniat mengirimi pesan.

21.05 Selamat malam

21.06 Bagaimana kuliahmu hari ini?

21.07 Semangat ya untuk besok 🙂

“Apa aku coba telepon saja, ya… biar kelihatan jantan sedikit.” Jaehyun kembali bermonolog. Segera ia menekan opsi panggilan dan menyandingkan ponselnya ke telinga kanan.

.

.

.

Chaeyeon tahu benar siapa orang yang membuat ponselnya berdentang tiga kali barusan. Tapi meskipun tahu, ia enggan memeriksanya. Padahal di dalam hati kecilnya ingin. Hingga beberapa jenak kemudian ponselnya bergetar lebih lama dari biasanya. Itu tandanya ada panggilan masuk. Buru-buru ia meraih benda tipis yang diletakannya di meja itu. Saat melihat ke layar, ia mendapati orang yang sama, orang yang pesannya terus ia abaikan sejak beberapa hari yang lalu.

Kali ini Chaeyeon memutuskan untuk kembali tak mengacuhkannya. Ia tak habis pikir dengan motif lelaki itu terus menghubunginya. Memangnya apa lagi yang perlu ia bicarakan? Semuanya sudah jelas, Jung Jae Hyun cuma ingin memanfaatkannya.

Tapi di dalam hati Chaeyeon masih tersimpan seonggok keraguan. Bahkan sepanjang hari, hanya bayang-bayang Jihyun yang terus terlintas dalam pikirannya. Senyumnya, canda tawanya, apakah semua itu hanyalah sandiwara? Tidak adakah sejemang pun iktikad tulus di sudut hatinya?

“Kau enggak akan tahu jawabannya kalau cuma diam begini, Chae!” gadis itu mendengus kesal. Kembali ia raih ponselnya dan membuka pesan yang masih terpampang di bilah notifikasi. Saat membuka chat room, banyak sekali terlihat pesan di sebelah kanan—bahkan hampir satu layar penuh. Kebanyakan isinya adalah permintaan maaf dan sapaan akrab antarteman.

“Bahkan dia masih bersikap seolah dia adalah Jihyun.” gumam Chaeyeon sembari menggerak-gerakkan ibu jarinya menuju pesan paling atas. Ia baru ingat jika video chat yang Jaehyun kirim baru ia lihat setengah. Gadis itu menarik napas berat, bersiap memutar video itu untuk melihat sisanya.

“Aku sangat menyesal, sungguh… maafkan aku kalau hatimu jadi terluka karena penyamaranku. Aku memang bodoh karena enggak sama sekali memikirkan akan bagaimana jadinya perasaanmu nanti saat tahu sudah kubohongi.

“Mungkin niat awalku memang bersandiwara. Tapi lama-kelamaan, interaksi denganmu sudah menjadi kebiasaan bagiku. Yang palsu hanyalah gestur kemayuku. Saat aku bilang akan melindungimu, aku bersungguh-sungguh mengatakannya. Aku bahkan tahu saat kau ditampar oleh Saeron, hatiku begitu miris melihatnya. Kau mendapat hukuman atas tindakan yang tidak kau lakukan. Kau bahkan tidak berniat jahat. Memangnya apa yang salah dengan perasaan cintamu kepada Kim Sae Rin? Maaf karena aku tidak bisa melakukan apa-apa waktu itu.

“Kau sangat cantik dan mengagumkan. Kau adalah gadis yang kuat dan mengajariku banyak hal. Ya ampun, aku bahkan masih sangat ingat awal pertemuan kita. Kau pasti merasa kesepian dalam waktu yang lama. Hatiku bergetar saat kau menyambutku dengan senyuman riang. Kau sangat tulus dan meneduhkan. Aku selalu nyaman saat berada di dekatmu.

“Aku enggak tahu apa reaksimu setelah mendengar ini dari mulutku. Cheesy, ya? Hehehe, maaf. Masih banyak hal yang ingin kusampaikan padamu. Aku juga ingin meminta maaf secara langsung. Aku ingin menemuimu di kampus, tapi itu enggak mungkin bisa. Kau lihat, kan, aku seorang laki-laki tulen sekarang. Jadi, bagaimana kalau kita ketemuan? Aku akan menunggumu di kafe dekat kampus sore nanti. Tolong sempatkan waktumu, ya…”

Buliran air mata akhirnya lolos dari pelupuk Chaeyeon. Setelah menonton video itu sampai habis, bayang-bayang Jihyun pun kembali menyambangi serebrumnya. Kerinduan kembali berkecamuk dalam hatinya, kerinduan untuk Jihyun yang sudah tak lagi berada di sampingnya dan mungkin tak akan bisa kembali untuk selama-lamanya.

T B C

mellow banget ini part enggak ngerti deh T_T

jangan lupa komen yaaa ^^

Advertisements

6 thoughts on “[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 13)

  1. Oke, karena part ini rudah rilis, aku langsung buru-buru baca part sebelumnya & maaf aku komen di sini aja ya buat dua part hehehehehe //tetiba baper bayangin Jaehyun di Cherry Bomb//

    Aku awalnya sempet mbrabak (bahasa Indonya apa ya? Hampir nangis, mungkin?) pas baca part 12, terutama saat Jaehyun ngasih video tapi sayangnya Chae cuma nonton setengah. Itu pun gk terlalu diambil hati sama dia. Jadinya aku kesel banget pas itu. Sebenernya aku kesel sama dua-duanya, sih, soalnya menurutku mereka gengsian xD Mereka tuh baik, tapi gk bisa peka sama perasaannya sendiri. Duh geregetan aku :’v

    Terus di part ini menurutku gk semellow sebelumnya sih, cuma iya, ini memang mellow. Tapi lebih mellow ringan (?) kali ya xD Apalagi ini singkat banget mbalel :3 Aku berasa baca ficlet series 😀 Terus ini kenapa Eunwoo jadi jutaan kali lebih ganteng di pikiranku ya? Apalagi pas dia nasehatin Jaehyun dengan songongnya itu bikin aku kepingin muah muah :* Secara dari kemarin-kemarin aku kangen sama dia wkwkwkwk

    Dan menurutku Jaehyun jantan kok di sini meskipun dia bilang “…. biar jantan sedikit….” wkwkwkwk Emang ya namanya orang bingung, plus malu, plus gk mau dianggap ikut campur urusan orang lain. Mau minta maaf juga kesannya percuma, apalagi kalau pihak yang selama ini jadi target udah tau niatan awal Jaehyun //ciaelah bahasanya amburadul banget ini//

    Syudahlah mbalel. Diriku gk bisa berkata apa-apa lagi xD Terus ini endingnya kenapa terkesan pasrahan gini sih? Ayo dong mbalel bikin yg lebih greget. Kayak Introvert Squad gitu loh. FF itu sampai aku masukin ke daftar rekomendasi di blog saking sukanya wkwkwkwk //ini malah curhat//pulang ji//

    sekian…….. ❤

    Liked by 1 person

    • subhanallah komenmu panjang sekali sampe bisa dijadikan ficlet sendiri tapi aku seneng kok bacanya hehe
      mbrabak itu bahasa indonya berkaca2 wkwk
      eanjirr aku malu sampe dimasukinn daftar rekomendasi wkwkwk makasih looo :3

      Like

  2. Hai, Lel! Akhirnya aku balik lagi setelah sekian lama tenggelam di lautan projek akhir dosen /curhat/

    Ya Allah ini kenapa jadi mellow mellow begini yaa. Ayo dong Chae coba buka hatimu!
    Jae, harus tetep di gas (?) ya ngedeketin Chaeyeon biar luluh + dimaafin.
    Aku juga gemes ini mereka berdua kok nggak ndang (?) peka sama perasaan masing-masing. Hehehehe.

    Ditunggu next chapter nya ya. Semoga mereka berdua udah mulai menyadari perasaannya. Nyesek liatnya kalo mellow mellow terus. Hehehehe

    Liked by 1 person

    • kak minerva ~~ bogosipda ~~
      sukses ya kak projek akhirnya huhuhu
      maklum kak, satunya lesbi, satunya engga pernah niat kalo pacaran. tapi hati orang siapa yang tau kan :v
      makasih kak udah mampir 🙂

      Liked by 1 person

  3. Gyaaahh.. Bulan puasa gini pas tengah hari pula.. Rasanya tuh semriwing padahal belum minum.. Pas cek eh jreng! Jreng! Chapter tercintrong nongol. Wah! Wah! Chaeyeon mulai rindu rindu aja nih ama jae.. Ugh, ku kira akan berlanjut atau gimana gituh eh taunya tbc T,T /lebai/ ehem semangat yah ngelanjutin ff-nya! Yah walau reader yang belum lama, tapi berkat ff ini aku jadi penasaran ngelirik ff nct lainnya.. Ditunggu yah nextnya.. Mmuaah* mmuah* /efek siang hari/

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s