[NCTFFI Freelance] Our Marriage (Chapter 1)

Storyline by Seoulotus / @Yuni_KNIGHT

Doyoung NCT U as Kim Doyoung & Jin Lovelyz as Kim Yoonhee and others pairing

Rated PG-17 & Genre marriage life, romance, family, alternative universe, sad

Poster by Blackangel@IndoFanfictionsArts

Disclaimer: ini murni dari pemikiran Yuni yang agak sedikit dangkal dan maaf jika ada pihak yang merasa idolnya di buat sebagai antagonis atau semacamnya. Hal ini hanya di lakukan untuk kepentingan cerita saja. Yuni tidak bermaksud untuk menyinggung ataupun menghina fandom manapun.

Previous Chapter

Prologue

Author POV

“Selamat, anda tengah mengandung. Usia kandungan anda satu bulan. Tolong di jaga dengan baik. Trimester pertama rentan mengalami keguguran. Selamat nona Kim.” perkataan dokter masih terngiang-ngiang di benak yeoja itu. Bagaimana ia mengatakan hal ini pada orang ‘itu’?

“Hei, kenapa melamun? Kau sedang memikirkan sesuatu ya, Kim Yoonhee?” yeoja itu tersentak. Dengan cepat ia menoleh dan menatap namja yang merupakan sahabatnya itu.

“Youngjae-yya! Kau mengagetkanku. Kenapa kau suka sekali melakukan itu sih? Nappeun namja.” Youngjae tertawa renyah mendengar sahabat dekatnya mengumpat kepadanya.

“Mian. Kau sepertinya sangat stres belakangan ini. Memangnya kenapa? Apa ada yang mengganggumu?” Yoonhee menggeleng pelan. Tidak mungkin kan dia bilang jika dia tengah berbadan dua.

“Ani, gwenchana. Kau darimana? Dimana Joy?” Youngjae mengangkat bahunya acuh. Yoonhee malah mengerutkan dahi melihat gelagat sahabatnya yang acuh pada keberadaan kekasihnya.

“Nan molla. Dia tidak kelihatan dari tadi pagi. Aku ingin bertanya pada Hayoung, yeoja itu malah menghadiahiku suara desahan erotisnya bersama Junhong.” Yoonhee terkekeh geli mendengar keluhan Youngjae pada Hayoung.

“Oh, kau benci kata itu, kan? Mian, aku tidak sengaja. Yeoja yang suka pergi ke gereja pasti tidak pernah mendengar hal mengerikan seperti itu.” ah masa? Buktinya dirinya sekarang tengah berbadan dua.

“Ani, gwenchana. Ya sudah, aku pergi ya? Annyeong..” yeoja itu berlalu tanpa mendengar jawaban dari namja yang mengobrol dengannya.

“Huh, kebiasaan. Dimana sih Joy? Aku butuh tubuhnya…” namja itu berujar penuh gelisah.

***

Yoonhee merebahkan dirinya di ranjang miliknya. Setelah sampai apartemen, dia hanya menonton acara televisi yang membosankan. Yoonhee meraba sekitar. Ketemu. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada orang itu.

‘Apa kita bisa bertemu? Aku ingin mengatakan sesuatu.’

Yoonhee menunggu sekitar dua puluh menit untuk mendapat balasan dari orang itu.

‘Ya. Nanti sore saja di Friday Cafe.’

Yoonhee melempar ponselnya sembarang arah. Dia lebih memilih memejamkan matanya hingga sore menjelang. Dia merasa orang itu agak menjaga jarak dengannya. Memang sejak dulu begitu. Mereka beda sekolah sampai Universitas. Bahkan sampai Yoonhee menuntut ilmu sebagai seorang dokter pun orang itu tetap pada impiannya pada bidang musik dan semua gemerlap dunia malam.

***

Seorang namja duduk dengan tidak sabaran di kursinya. Hal yang paling membosankan dan menguji kesabaran adalah menunggu seseorang. Dia melirik arloji rolex kesayangannya penuh kesal. Sejak tiga puluh menit lalu ia menunggu seseorang yang meminta janji bertemu dengannya. Dia mengetuk-ngetukkan kaki dan jari tangannya karena bosan.

“Mian. Apa kau menunggu lama?”  namja itu mendongak. Ia mengangguk singkat membenarkan tebakan orang di depannya.

“Kenapa lama sekali? Kau tidak lupa jika aku benci melakukan hal ini, bukan?” yeoja itu mengangguk. Dia duduk dan menatap namja itu. Menghela nafas dan ia berujar pelan.

“Aku hamil.” namja itu terdiam. Jari tangannya yang tengah mengetuk ke meja cafe berhenti di udara.

“Mwo?” namja itu berusaha untuk memperjelas pendengarannya.

“Aku hamil, Kim Doyoung. Aku hamil anakmu.” yeoja itu berujar pelan, lebih mirip mencicit. Namja itu —Doyoung—, terpaku menatap mata bulat yeoja itu. Berusaha mencari kebohongan atau sedikit tatapan canda di sana. Tapi nihil. Hanya ada tatapan keseriusan yang terpancar.

“Kau serius? Kau hamil? Kita hanya melakukan itu sekali. Bagaimana mungkin… tidak. Kau pasti hanya bercanda.” Doyoung tertawa hampa. Mencoba untuk mengingkari apa yang terjadi.

“Aku tidak pernah bercanda, Kim Doyoung. Aku selalu serius denganmu. Aku mengatakannya padamu karena ku pikir kau berhak mengetahuinya. Kau ayahnya.” Yoonhee beranjak dari duduknya dan berlalu dari cafe itu. Meninggalkan Doyoung yang masih terdiam mendengar kejutan yang di berikan yeoja itu padanya.

***

Yoonhee memasuki apartemennya dengan lesu. Ia baru pulang dari apotik untuk membeli obat yang di suruh dokter. Hari ini rasanya melelahkan sekali. Apa mungkin karena kehamilannya? Itu mungkin saja terjadi, mengingat jika ini adalah trimester awal kehamilan. Yoonhee menguap. Ia jadi lebih mudah mengantuk di pagi dan sore hari sekarang. Padahal dulu ia selalu tidur di tengah malam.

‘Tring tring tring~’

Yoonhee membuka ponsel yang ada di genggamannya. Ia mengangkat panggilan tanpa melihat siapa yang meneleponnya.

“Yeoboseoyo…”

“Kau dimana?” Yoonhee melebarkan matanya mendengar suara Doyoung.

“Aku di apartemenku. Waeyo?” Yoonhee masih mampu mendengar suara desahan nafas kasar di seberang telepon.

“Siap-siaplah. Kita akan ke rumah orang tuamu. Aku akan menikahimu.” Yoonhee lantas berdiri dari duduknya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Ia ingin memastikan bahwa telinganya baik-baik saja.

“Kau.. apa yang kau lakukan? Aku—”

“Kau merasa sudah cukup mampu untuk mengurus bayi itu sendirian? Kau pasti perlu aku untuk mengurusnya. Bersiaplah.” sambungan terputus. Yoonhee menatap ponsel di tangannya hampa.

Ia memikirkan bagaimana reaksi ayahnya nanti jika mengetahui perihal kehamilannya? Penyakit ayahnya pasti kambuh dan kemungkinan terkena serangan jantung akan semakin besar. Bagaimana dengan ibunya? Beliau pasti merasa kecewa karena Yoonhee tidak bisa menjaga kepercayaannya.

Yoonhee terdiam hingga suara bel apartemennya terdengar. Doyoung masuk setelah Yoonhee membuka pintunya. Yoonhee langsung mencercanya dengan banyak pertanyaan.

“Kau gila? Apa kata eomma dan appa-ku setelah tahu aku hamil?” Doyoung hanya diam. Dia memilih duduk di sofa dan mengusap wajahnya kasar.

“Walau mereka marah sekalipun, itu tidak akan merubah apapun. Marah bukanlah solusi.” Yoonhee mendesah kasar. Doyoung menatap Yoonhee dingin.

“Aku tidak mau. Biarkan semuanya seperti ini. Aku tidak ingin appa dan eomma tahu keadaanku. Pulanglah dan kejarlah impianmu itu. Aku mau tidur.” Yoonhee menarik tubuh Doyoung untuk pergi dari apartemennya. Doyoung tidak bergerak sama sekali.

“Aku tidak akan pergi. Aku harus bertanggung jawab atas kehamilanmu. Jadi kita harus menemui orang tuamu.” Yoonhee membelalak kesal karena ucapan ringan Doyoung.

“Kau mengatakan sesuatu dengan begitu mudah. Kau fikir pernikahan itu sebuah permainan? Setelah kau bosan, kau bisa melepasnya dengan mudah. Pernikahan juga bukan hanya tentang kita berdua. Tapi keluargamu dan keluargaku. Dan bayi ini bukan mainan yang bisa di buang kapan saja.” Yoonhee mengeraskan wajahnya. Doyoung menatap wajah yeoja itu datar.

“Jangan banyak melakukan argumen denganku. Aku benci harus berdebat denganmu. Kita sudah terlambat. Ayo.” Doyoung menarik pergelangan tangan Yoonhee cepat.

“Lepas. Kau tidak bisa memaksaku.” Yoonhee berontak saat ia dan Doyoung ada di dalam lift. Doyoung tetap diam dengan ekspresi datarnya.

“Aku tidak memaksamu. Bayi itu yang memaksaku untuk bertanggung jawab.” Yoonhee terdiam.

Akhirnya ia tidak berontak sama sekali dan diam setelahnya hingga sampai ke rumah orang tuanya di Gwangju.

***

“Ini semua salahmu. Kenapa kau tidak ingin bertemu appa-mu? Masalah ini akan selesai jika kita mengatakannya pada orang tuamu.” Doyoung terduduk di pantai. Yoonhee malah menunduk lesu. Mereka sudah sampai di Gwangju, tapi tiba-tiba Yoonhee kabur hingga sampai di pantai tempat dulu mereka sering main saat masih kecil.

“Lalu apa? Kau akan di pukuli oppa-ku dan appa. Mereka juga pasti akan kecewa padaku. Apalagi orang tuamu. Gong Myung oppa bahkan rela tidak menggapai impiannya untuk memastikan kau menggapai mimpimu. Kau ingin menghancurkan semua itu?” Yoonhee menoleh pada Doyoung.

“Perutmu pasti makin membesar. Kita tidak bisa menyembunyikannya terus. Appa mu itu seorang pengusaha. Apa kata orang dan media jika putri seorang pengusaha hamil di luar nikah? Apa yang akan kau katakan?” Yoonhee terdiam. Dia tidak pernah memikirkannya sepanjang namja itu berfikir.

“Lalu mau bagaimana? Aku… terlalu takut untuk melakukan aborsi. Aku juga tidak ingin menambah dosaku dengan perbuatan laknat lagi. Jadi harus apa?” Yoonhee meneteskan air mata. Ia amat frustasi menghadapi masalah ini.

“Kau juga putra seorang pengusaha. Kita tetap akan hancur jika kita melangkah ataupun mundur.” lanjut gadis itu pelan.

“Mian. Jika aku tidak mabuk dan menarikmu saat itu, kau tidak akan hamil seperti ini.” Doyoung berujar pelan. Ia terlampau frustasi menghadapi masalah berat ini.

“Aku yang salah. Kenapa aku harus datang ke pesta yang di buat Momo dan Ten. Padahal jelas-jelas aku tidak kuat minum. Tapi, aku malah datang dan seperti inilah akhirnya.” Doyoung terdiam melihat Yoonhee yang menyalahkan dirinya sendiri.

“Aku pergi, Doyoung. Tidak perlu menemui orang tuaku. Kita hanya akan membuat mereka malu nanti. Pernikahan juga tidak seperti yang kau bayangkan, Doyoung.” Yoonhee berlalu. Rambut sepinggangnya berurai kala angin laut menerpanya.

Doyoung hanya diam. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Masalahnya sangat rumit untuk mereka hadapi sendiri.

***

Jongin menunggu di depan pintu apartemen adiknya. Dia sudah tidak pulang selama dua minggu dan ibu mereka sangat khawatir. Berulang kali Jongin membuka pintu apartemen, tapi kodenya telah di ganti. Ia terduduk karena lelah menunggu.

“Jongin hyung…” Jongin menoleh dan tersenyum melihat tetangganya di Gwangju ada di sini.

“Doyoung? Kau disini?” Doyoung mengangguk. Ia menjabat tangan Jongin sopan.

“Aku ingin ke apartemen temanku. Dia di lantai atas. Aku melihatmu jadi aku menyapamu. Oh ya, hyung. Ada yang ingin ku katakan padamu.” Doyoung berusaha untuk tenang.

“Ya, katakan saja.” Doyoung jadi makin tegang.

“Bagaimana kalau di apartemen temanku saja?” Jongin mengangguk. Mereka akhirnya pergi ke apartemen teman Doyoung yang ada atas.

***

‘Buk!’

“Jadi kau menghamili Yoonhee?! Ku kira kau namja baik-baik. Tapi-” Doyoung menyeka darah di ujung bibirnya. Dia berlutut di hadapan Jongin. Temannya yang melihat hal itu hanya bisa diam. Itu bukan urusannya.

“Maafkan aku, hyung. Yoonhee melarangku untuk mengatakan ini pada keluarganya. Tapi aku—” Doyoung tidak bisa melanjutkan ucapannya.

“Tapi kau tidak ingin mengatakannya karena kau ingin lepas tanggung jawab, kan?” Doyoung menggeleng keras. Ia malah ingin memberitahu keluarga Yoonhee. Dia akan bertanggung jawab.

“Tidak hyung. Aku tidak akan lepas tanggung jawab. Aku akan menikahinya. Aku—” Doyoung terdiam kala kerah jaketnya di tarik oleh Jongin.

“Aku mengenal keluargamu dan hyung-mu dengan baik. Bahkan aku mengenalmu sejak kau kecil. Kau dan Yoonhee besar di lingkungan yang sama walau tidak dekat. Kau—” Jongin melepas kerah jaket Doyoung begitu saja. Ia mengacak rambutnya frustasi.

“Apa kau tidak berpikir tentang karma? Saudara yeoja mu juga akan mendapat balasan yang sama suatu saat nanti. Aku selalu menjaga yeodongsaeng ku dengan baik, tapi—” Jongin terduduk lemas. Ia bahkan tidak mampu berpikir lagi.

“Ku mohon maafkan aku, hyung. Aku memang salah dengan menghamilinya. Aku namja brengsek, hyung. Kau bisa lakukan apapun padaku. Tapi jangan marahi Yoonhee. Dia tidak salah. Aku yang salah.” Doyoung memegang tangan Jongin penuh harap.

Jongin hanya diam. Dia tidak berniat melihat wajah orang yang merusak masa depan adiknya.

***

‘Tok tok tok~’

Yoonhee membuka pintu apartemennya. Ia terkejut melihat kakaknya yang berdiri dengan tatapan tajam dan wajah Doyoung yang lebam. Seketika Yoonhee di tarik oleh kakaknya kuat. Dia bingung setengah mati. Bahkan sampai di mobil milik kakaknya pun ia masih bingung.

Yoonhee terkejut melihat ia dan Doyoung di turunkan di rumah orang tuanya di Gwangju. Yoonhee bertanya pada kakaknya.

“Oppa ada apa ini? Kenapa membawa kami ke rumah? Kenapa?” Jongin menatap tajam adik perempuannya itu dan berujar sinis.

“Pikirkan resikonya sebelum kau berbuat. Kau sudah mencoreng nama keluarga.” otak encer Yoonhee langsung bekerja dengan cepat. Ia mengerti sekarang. Doyoung pasti sudah memberitahu kakaknya.

Saat sampai di rumah dan orang tuanya berkumpul, Jongin melempar Yoonhee sampai Yoonhee terduduk.

“Bunuh saja dia, appa. Dia sudah membuat malu keluarga.” kedua orang tuanya menatap putra kedua mereka bingung. Ibunya memeluk Yoonhee yang menangis ketakutan melihat tatapan bengis kakaknya dengan Doyoung di samping Jongin yang penuh luka lebam.

“Apa maksudmu, Jongin-ah? Membuat malu keluarga apa?” ayahnya bertanya bingung. Jongin malah melempar Doyoung hingga namja itu di tahan oleh ayah Yoonhee.

“Dia hamil, appa. Namja inilah yang menghamilinya.” Jongin berteriak marah di depan seluruh keluarganya. Bahkan paman dan bibinya terkejut mendengar ucapan Jongin itu.

To be continue

Maaf kalo lamaaaaa banget update-nya di wp resmi nctffi ini soalnya aku jarang buka wordpress sekarang, coz lebih seneng ngeliatin wp dibanding wordpress. Yah denger kabar NCT 127 bakal comeback jadi kepikiran sama blog ini deh -_- /ngomong aja males yun, pake ngeles lagi?/ udah ah baca ya dan tolong apresiasi fict abal yuni yang gak seberapa bagusnya ini…

/*kaburbawasimasduyung*/

Advertisements

One thought on “[NCTFFI Freelance] Our Marriage (Chapter 1)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s