[NCTFFI Freelance] Dyre (Chapter 5)

DYRE

Genre  : School Life, Friendship, Love, Comedy, Drama

Main Cast       : [NCT’s] Johnny Seo, Jung Hana (OC), Choi Yora (OC)

Rating : Teen

Summary        : Dyre is another word for love

Toko Buku

.

.

.

Hari ini tak seperti biasa.

Yah, matahari bahkan sudah terbit sejak pukul 7 tadi-saat ia bertemu dengan Mark dan Hana ditoko roti ibunya-.

Sekarang sudah pukul 9 tepat saat Ia menilik jam tangan yang ia pakai.

Rasanya ingin tiba-tiba saja punya kekuatan terbang seperti yang dilakukan Tuan Flying Dutch Man, untuk cepat-cepat tiba ditoko roti ibunya dan mendinginkan badannya segera didalam.

“Halo?” tanya Yora ditengah perjalanannya kepada seseorang yang beberapa detik lalu sukses membuat ponsel pintarnya melantunkan lagu milik Moon Taeil-Because Of You yang Ia setel sebagai nada panggilan diponsel pintarnya.

“Ra! Kamu mau gak temenin aku ke toko buku?!” tanya seseorang yang dimaksud, terdengar seperti pekikan ditelinga Yora.

“Aduh, Na pelanin dikit dong suara kamu, sama Mark aja bisa lembut gitu, kenapa sama aku selalu teriak-teriak gini si? Apalagi kalau minta sesuatu seperti ini. Aku belum tuli tau!” ada penekanan dikalimat terakhir yang Yora ucapkan sambil mendekatkan ponselnya kemulutnya.

“Hehe, maaf deh, abis aku antusias banget nih. Kamu tau kan, jadi kamu mau ga?” Hana bertanya ulang, kali ini dengan suara sedikit lembut sesuai instruksi Yora.

“Hmm mau deh” singkat Yora seiring selesainya pembicaraan singkatnya dengan Hana.

Sesampainya di toko buku, kurang lebih 15 menit gadis berkuncir kuda degan rambut hitam pekat yang ia biarkan terhembus semilir angin ditengah musim panas itu menunggu di kursi halte tepat disamping toko buku yang Hana maksud.

Wajar saja Ia menunggu hampir selama itu.

Dari ketiganya, Yora lah yang paling rajin datang lebih awal kalau diajak untuk bertemu.

Yora baru saja mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Hana dari tas selempang mini yang ia kenakan.

Tak sebrapa lama, manikya menemukan sebuah bus berawarna biru berhenti tepat didepan halte bis dimana Yora berada sekarang.

Ia sudah hampir sumringah karena mengira Hana datang sebelum Yora mati kepanasan dihalte bis.

Tapi raut mukanya berubah jadi sedikit tidak percaya karena yang ia lihat bukanlah Hana.

“Kak Johnny?” mata Yora dibuat semakin membulat saat Johnny sekarang malah berdiri didepan Yora.

“Selamat siang Choi Yora!” sapa pria yang tingginya sama seperti menara Namsan menurut Yora sambil mengangkat salah satu telapak tangannya memberi salam tepat didepan Yora.

“Ko bisa disini juga? Kenapa gak naik mobil pribadi kaya biasa?” tanya Yora tanpa membalas sapaan dari pria yang lagi-lagi harus diakuinya lebih tua 3 tahun darinya.

“Hey, kalau disapa itu, balas dulu dong” ujar Johnny dengan nada suara yang dibuat agar terdengar lembut atau tepatnya terdengar menjijikan dirungu Yora sembari mengacak-acak poni Yora yang sudah susah payah ia atur agar terlihat rapi.

“Selamat siang juga, Kak. Eh serius! Kakak kok bisa tahu aku disini” ulang Yora bertanya pada Johnny sambil merapikan poninya yang berantakan karena ulah kakak sepupu Yoo Raein-sahabatnya-.

“Emangnya gak boleh ya?” tanya Johnny yang sekarang duduk disamping Yora, mengangkat sebelah alisnya.

“Boleh aja sih…duh Hana lama banget lagi datangya, kupikir yang turun tadi Hana” gumam Yora seolah ingin cepat-cepat menjauh dari pria berambut kecoklatan itu.

“Kamu lagi nungguin Hana, ya? Hmm kayanya dia gak bakal dateng deh, gimana kalau kamu temenin aku aja? Kebetulan aku juga mau beli buku, nih” ujung bibir Johnny seraya tersenyum saat Ia berhasil mencuri pandang pada gadis yang menurutnya hari ini bahkan terlihat 1000x lebih imut.

“B-boleh deh” aduh, Yora yang bodoh, kenapa ia malah menerima tawaran Johnny yang ia dapati sekarang tersenyum manis khas milik pria keturunan Chicago-Korea kepadanya.

Padahal Ia bisa saja menolak dan pura-pura bilang kalau ibunya menyuruhnya untuk segera pulang dan membantu pekerjaan di toko roti.

“Oke! Kalo gitu masuk yuk, panas nih” ujar Johnny mengipas-kipaskan ujung kaus nya dan meninggalkan Yora selangkah dibelakangnya yang tanpa sadar diam-diam tertawa pelan melihat tingkah konyol Johnny.

.

.

.

Mereka sama-sama sibuk melihat-lihat buku, saat ponsel Yora lagi-lagi berdering.

Ia medapati ada nama Jung Hana yang tertera nyata dilayar ponselnya.

Buru-buru Yora mengangkat telpon dari Hana karena sudah siap menyemprotkan umpatan-umpatan yang sering Ia dengar dari kartun kesukaannya-spongebob-pada sahabatnya karena tega membiarkan Yora ditoko buku sekarang bersama Johnny.

Hana hanya terkekeh mendengar sahabatnya itu benar-benar mengumpat yang malah menurutnya itu terdengar lucu di rungu Hana.

Well, sebenarnya, semua ini memang rencana Hana dan Mark-saat ditoko roti pagi tadi-sebagai ucapan terima kasih mereka karena berkat Yora, mereka bisa Jadian.

Persetan! Yora benar- benar kesal karena Hana cuma pura-pura minta ditemani dan malah menyuruh kak Johnny yang datang.

Setelah Yora sudah merasa lega dan Hana yang dengan lapang dada menerima omelan sahabatnya lewat telepon itu, pembicaraan mereka pun berakhir.

Johnny segera memanggil Yora yang masih berada diujung salah satu rak buku toko itu untuk segera menghampirinya karena sekarang pria bercelana pendek dan kaus raglan itu hendak meminta pendapat pada Yora.

“Kakak serius mau beli buku ini?” tanya Yora tertawa sinis karena tidak percaya bahwa Johnny akan memilih buku berJudul ILMU ASTRONOMI untuk dibeli.

Padahal tadinya Yora berpikir, pria yang terlihat seperti pamannya itu bisa saja membeli buku ILMU MELUCU agar sesuai kepribadiannya yang konyol.

“Ini bukan buat aku, kok. Lagian mana paham aku belajar soal bintang jatuh atau black hole yang katanya kalau kita masuk kesana gak bakal bisa balik lagi” ujar Johnny sok pintar mengutarakan teori tentang astronomi yang ada dikepalanya sekarang.

“Gak ada yang namanya bintang jatuh, kak, itu meteor” ujar Yora bijak seolah ingin mendapat pengakuan bahwa Ia lah yang paling ahli ketimbang Johnny yang Cuma bisa menebak.

“Nah, tuh kamu tahu, kalau gitu, nih buat kamu aja! Kamu suka pelajaran astronomi, kan?” tanya Johnny tanpa ingin medapat awaban atas pertanyaannya dan langsung memberi buku itu pada Yora dan berjalan duluan menuju kasir.

“B-buat aku? T-tapi uang ku cuma cukup buat pulang aja, gimana aku mau pulang kalau aku beli buku ini…” ujar Yora ragu.

Lebih ragu daripada saat melihat tebal halaman buku yang ada ditagannya mencapai 300 halaman.

Itu sih bukan hal susah baginya, toh Yora bisa membaca buku yang tebal halamannya bisa lebih dari itu.

“Tenang aja, aku yang bayar” pungkas Johnny sambil mengeluarkan kartu kreditnya dan mengambil kembali buku yang Yora pegang untuk terlebih dahulu dibayar.

.

.

.

“Kak, makasih ya, tapi kok, Kakak bisa tahu aku suka belajar ilmu beginian?” tanya Yora yang duduk disamping Johnny dihalte bis, sepulang nya dari toko buku.

“Taulah, Hana yang kasih tahu” jawab pria itu santai sambil tersenyum sebelum Ia ingin mencekik lehernya sendiri karena perkataannya yang terlalu jujur.

“Apa? Jung Hana kasih tau kakak? Dia bilang apalagi soal aku ke kakak?! Wah awas aja tuh anak besok disekolah kalau ketemu…bakal aku jadiin adonan roti beneran terus aku kasih mama supaya dioven!” omel Yora berkali-kali sambil meremas-remas buku yang masih berplastik press rapih dibarengi tertawaan geli Johnny yang malah terhibur melihat kelakuan Yora.

“Kamu lucu banget ya, Ra, aku jadi makin suka” ucap Johnny tidak bisa membendung rasa gemasnya dan melampiaskannya dengan kembali mengacak-acak poni Yora.

“Kakak bilang apa barusan? Kakak suka aku…?” tanya Yora yang mengesampigkan poninya yang lagi-lagi berantakan dan memandang dalam-dalam waJah gembira Johnny yang masih saja tertawa itu menunggu jawaban pasti Johnny.

“Ehh…aku…ah gak taulah, duh bisnya udah datang ayo cepat naik!” ujar Johnny yang sekarang jadi salah tingkah dan refleks menggandeng Yora untuk masuk kedalam bis.

“Kak, kakak kenapa bisa suka sama aku?” pertanyaan itu terdengar kembali, kali ini rasanya kerongkongan Johnny seperti tertusuk pedang goblin dan membuatnya adi sulit untuk berbicara setelah mendengar pertanyaan polos Yora.

“Aku suka kamu…soalnya kamu manis, kamu juga unik, kamu itu…satu-satunya cewek yang sabar kalau aku gangguin, selain itu, kamu juga mirip sama istrinya plankton, pinter, oh bukan cerdas tepatnya” jelas Johnny yang tadinya berpikir kalau pujian itu bakal membuat Yora tersipu malu atau kagum dan membalas perasaan Johnny dengan sebuah kecupan manis dipipi Johnny.

Tapi sayang, terkadang harapan  tak sesuai dugaan.

“Jadi selama ini Kakak kira aku bukan manusia, tapi komputer yang bahkan gak jelas cakep atau gak parasnya?!” pekik Yora, kali ini dibarengi tinjuan khas anggota taekwondo yang sudah bersabuk hitam itu.

tbc

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s