[NCTFFI Freelance] Zodiac Love Story #Aquarius (Series)

Zodiak Love Story

 #Aquarius

.

Author :: Rijiyo

Cast :: [NCT’s] Lee Jeno as Jeno & [OC’s] Rheeya  

Genre :: Romance, Friendship

Length :: Oneshoot

Rating :: Teen

.

“…. No one can guess Aquarius, but actually what he wants can be much more difficult to guess.” – Aquarian

.

.

“Memangnya seperti apa tipemu?” tanya Jeno.

“Kurang tahu. Kayak Papa, mungkin?”

“Yang punya kumis dan uban?”

Aku menjitak kepalanya. “Maksudku, yang penyayang dan pengertian seperti Papa. Kenapa, sih?”

Jeno mengendikkan bahu. “Cuma tanya.”

Aku dan Jeno adalah sahabat sejak SMP (sekarang kami baru naik kelas 2 SMA—DAN KAMI SELALU DITEMPATKAN DI KELAS YANG SAMA). Bukannya tidak suka—well, bisa menjadi sahabat Jeno adalah berkah bagiku—tapi karena setiap hari selalu ada cewek yang membenciku karena kedekatanku dengannya, makanya aku jadi risih. Awalnya aku malah menjadi-jadi dan sok menempel pada Jeno, namun para fans fanatik itu ternyata juga bisa murka layaknya dewa yang lupa tidak disembah. Mereka pernah mengirimiku boneka usang yang di kepalanya terdapat coretan spidol bertuliskan “Jauhi Jeno-ku”.

Jeno-ku?

Memangnya mereka yang melahirkan Jeno?

Aku suka kesal jika mengingat tingkah mereka yang lebay. Kalau mereka pacarnya Jeno, sih, tidak masalah. Tapi mereka BUKAN SIAPA-SIAPANYA JENO. Aku selalu mengadu pada Jeno tentang terror demi terror itu hingga akhirnya Jeno yang bilang sendiri pada fans-nya agar berhenti menggangguku. Namun—bukannya takut atau menjauh—mereka tetap menerorku meskipun tidak seekstrim dulu. Tapi toh, Jeno selalu ada di sampingku, makanya aku sudah tidak takut. Kalau pun parah, aku  tinggal melaporkannya pada kepala sekolah dan mereka akan segera dikeluarkan dari sini. HAHAHA.

Kalau dipikir-pikir, siapa, sih, yang tidak tertarik pada Lee Jeno? Dia memang bukan cowok paling ganteng, tapi—menurut penelitian para ahli yang sudah dicek di ITB—Jeno punya senyuman maut yang bisa membuat semua cewek melayang—ralat!—tidak semua cewek, karena pengecualian untuk aku. Kali pertama aku mengenalnya di tahun pertama SMP, cowok itu tak lebih dari seseorang yang terlalu banyak pamer senyum; pada senior, dia tersenyum; pada guru, dia tersenyum; pada penjaga kantin; dia tersenyum; pada tukang kebun di sekolah, dia tersenyum. Aku tidak heran jika suatu hari nanti melihatnya tersenyum pada tong sampah.

“Oh ya, katanya nanti ada cewek yang jadi bintang tamu di acara pentas drama kita,” ujar Jeno sambil merapikan kabel-kabel di aula klub drama, dibantu Renjun dan Donghyuk.

Aku dan Jeno ikut klub drama. Dua minggu ke depan sekolah kami mengadakan pentas drama untuk menyambut musim panas. Aku dan rekan-rekan se-klub ditugaskan untuk mengurus keperluan pentas. Sedari tadi aku dan Jeno sibuk membersihkan aula yang habis dibuat latihan teater. Dan apa kata Jeno barusan? Akan ada cewek yang jadi bintang tamu?

“Nanti kamu naksir?” godaku.

“Kalau dia sesuai tipeku, aku mungkin bakalan naksir. Tapi kalau nanti kutembak, dia bakal posesif enggak, ya?”

Aku tertawa renyah. “Ketemu saja belum. Pikiran kamu kejauhan.”

Jeno tersenyum. “Soalnya aku sudah lama jomblo. Kangen rasanya punya pacar.”

“Ya cari di Myeongdong, banyak. Ada yang seksi, gemuk, kaya, menor,” selorohku.

“Tapi kalau dipikir-pikir, kok, bisa aku jomblo? Padahal aku, kan, ganteng. Bagaimana kalau aku jadi jejaka tua?”

Aku memutar bola mata malas.

Tiba-tiba Jeno menyenggol lenganku. “Kalau aku memang enggak punya jodoh, enggak masalah. Kan, masih ada kamu.”

“Maksudnya?”

“Ya aku, kan, bisa menikah sama kamu.”

Aku mengembuskan napas panjang, kemudian menjitak kepalanya dengan ujung mikrofon. “Ogah!”

Jeno adalah cowok konyol dan paling apa adanya yang pernah kukenal. Aku tahu aku mengatakan hal yang agak menjurus ke hati, tapi aku memang terkesan. Jeno sering gonta-ganti cewek buat teman kencan, namun tidak ada niatan untuk menembaknya. Alasannya adalah “Aku takut dia posesif”, “aku takut dia cemburuan”, “aku takut dia terlalu manja”, dan blablabla. Menurutku hal itu wajar, mana ada cewek yang tidak begitu pada pasangannya? Mungkin karena Jeno punya aturan sendiri, bebas, dia terbang ke mana pun yang dia mau.

Namun, bagaimanapun juga, aku senang. Bukan sekedar senang. Tapi SANGAT SENANG. Jangan dihitung sudah berapa banyak capslock yang ikut berandil untuk menggambarkan perasaanku. Jeno adalah sahabatku dan aku bangga bisa menjadi sahabatnya.

.

.

.

Iya, benar dugaanku. Kemarin cewek itu datang ke sekolah. Tubuhnya bahenol (untung tidak punya ekor), berambut panjang (semoga tidak ada kutunya), giginya lumayan putih (iya, LUMAYAN PUTIH. Karena kemarin saat ketemu dengannya di aula klub drama, aku menemukan seenggok (?) kulit sambal yang menempel di gigi depannya. Ugh, itu menjijikkan, Bung), kulitnya kinclong seperti habis direndam di kolam ikan koi-koi (kalau aku menyebut kolam ikan piranha, kalian akan membayangkan kulitnya korengan), lumayan tinggi (kalau dia ketinggian, harga diri Jeno bisa terlukai karena melihat fakta kalau ada cewek yang lebih tinggi darinya), dan sepertinya apa yang kusebutkan tadi lebih cocok dianggap penghinaan daripada narasi.

Tapi teman-teman, ketahuilah kalau aku tidak iri. Sama sekali tidak iri dengan semua kelebihan yang dia miliki. Aku juga punya rambut panjang, kulitku kinclong, gigiku putih-bersih, parasku limited karena campuran dari beberapa keturunan (well, Mamaku Belanda tulen, Papaku Korea asli, sedangkan Nenekku punya darah Taiwan), tinggi semampai dan aku lumayan pintar (Mmm… itu semua menurut Renjun, lho. Entah dia bohong atau tidak jujur). Aku hanya takjub karena Jeno langsung pedekate dengannya. Aku jadi heran, sejak kapan Jeno jadi agresif begitu?

“Rheeya!”

Seseorang meneriakiku dari belakang. Aku melambai semangat. “Hai, Sanha!”

“Kamu ngapain bawa sapu sebesar itu? Buat nyapu jalanan?” tanyanya sambil menatap sapu yang kubawa.

“Buat terbang. Aku, kan, Neneknya Harry Potter.”

Aku dan Sanha terkekeh. Kalian tidak usah ikutan terkekeh, karena sebenarnya ini tidak lucu sama sekali.

Aku dan Yoon Sanha juga dekat. Tidak dekat-dekat amat, sih, tapi kami berteman. Mungkin sejak aku ikut klub drama, saat itu Sanha meminjam pulpenku dan menghilangkannya. Aku mengadu pada Jeno dengan berurai air mata (well, aku bukan cewek dermawan yang dengan senang hati akan meminjamkan peralatan sekolahnya pada orang lain, apalagi pulpen). Sanha itu imut dan tinggi. Iya, dia sangaaaaaaaaaaaat tinggi sampai aku heran apakah setiap hari pekerjaannya itu makan tiang?

“Kulihat Jeno daritadi lagi main sama Jeon Ha Jin.”

“Jeon Ha Jin?”

“Itu, lho… cewek yang bakal jadi MC. Kamu enggak cemburu?”

Ooohh… jadi namanya Jeon Ha Jin? Namanya Korea sekali. Jangan-jangan dia adiknya Jeon Jungkook? Soalnya seniorku itu pernah cerita kalau dia punya adik yang hilang. Dan…. “—Cemburu?”

Sanha mengangguk lugu. “Kayaknya sekarang Jeno bakal lebih perhatian sama Ha Jin.”

Aku tertawa hambar. “Mungkin sudah saatnya Jeno punya pacar.”

Sanha mendekatiku, aku mundur beberapa langkah hingga akhirnya tubuhku membentur tembok. “Berarti kamu sudah enggak punya bodyguard?”

“Maksudnya?”

“Jeno, kan, satpam kamu. Nah, berhubung sekarang dia lagi cememew sama cewek lain, artinya boleh, dong, kalau aku juga cememew sama kamu?”

Cememew—siapa pun boleh berteman sama aku, kok. Enggak harus takut sama Jeno.”

“Bukan mendekati dalam artian teman. Tapi lebih dari itu.”

“Sanha, kalau kamu berbelit-belit, sapu ini bakal kupukulkan ke kepalamu sampai patah jadi dua.”

“Mungkin ini yang membuatmu jomblo. Kamu galak, sih.”

Lho, anak ini. Bukannya tadi membicarakan cememew, sekarang tiba-tiba bilang kalau aku galak—GALAK?

“Yoon Sanha. Aku enggak bakal marah soalnya kita enggak dekat, tapi aku enggak galak, oke?” Aku mengembuskan napas. “Sekarang mau kamu apa? Langsung ngomong ke intinya.”

“Aku mau ngomong kalau kamu harus siap-siap ditinggal Jeno. Ah, bukan. Tapi diduakan Jeno. Itu saja.”

Sanha melengos meninggalkanku. Dan anak itu mulutnya mungkin perlu disumpal pakai lap mobil. Bagaimana mungkin dia bilang kalau aku mau diduakan Jeno? Aku tertawa hambar. Meski diseratuskan pun aku tidak peduli. Selagi Jeno selalu ada di sisiku, semuanya tidak masalah.

.

.

.

“Rencananya aku mau nembak dia. Menurutmu terlalu cepat enggak, sih?”

Sesudah membereskan aula klub drama, aku dan Jeno pulang telat karena masih mau ngobrol. Jeno bilang ada hal penting yang harus dibicarakannya denganku, makanya dia melarangku pulang duluan. Jeno memang tipe cowok yang tidak bisa menyembunyikan sesuatu. Kami duduk berdua di bangku penonton ditemani sebungkus snack pemberian Donghyuk.

Aku mengendikkan bahu. “Saranku, sih, mending kamu enggak usah terburu-buru. Cewek itu enggak suka cowok agresif, sekalipun dia memang suka sama kamu.”

“Jadi?”

“Jadi… yeah, kamu perlu pikir-pikir lagi kalau mau pacaran.”

Jeno memiringkan kepala. “Maksudmu?”

Aku balas menatapnya. “Maksudku, ya, begitu.”

Jeno, apa benar kamu akan mengabaikanku kalau sudah punya pacar?

“Ha Jin itu cewek baik. Tahu enggak, kami juga punya hobi yang sama. Kupikir dia cewek sok feminin yang membosankan. Tapi ternyata dia penuh kejutan.”

“Masa?”

“Hm. Aku sudah sering mengajaknya pulang bareng. Maaf, ya, aku jadi jarang main denganmu.” Jeno mengacak rambutku.

Aku berdecak. “Paling-paling kalau kamu beneran lupa, kamu harus datang ke rumah jam empat pagi dan bersujud di depanku.”

Jeno memandang jendela. “Aku pasti tahu posisi, kok. Aku akan berusaha membagi waktu dengan kamu dan Ha Jin.”

Seharusnya aku yang tahu posisi. Karena entah kenapa, aku merasa tidak rela. Aku benar-benar takut kamu meninggalkanku, Jeno.

“Kayaknya aku harus kenalin kamu ke Ha Jin. Dia pasti cocok sama kamu,” tutur Jeno.

Aku mengangguk (sok) antusias. “Boleh, boleh. Coba kutebak, dia pasti enggak selucu aku, kan?”

“Dia memang enggak seberapa seru, tapi aku nyaman di sampingnya. Kan sudah kubilang kalau dia penuh kejutan.”

“Lalu?”

“Lalu apa?”

“Kapan kamu nembak?”

Jeno memandang atap. “Kapan, ya?” Kemudian mengendikkan bahu cuek. “Enggak tahu.”

Baguslah kalau tidak tahu. Bodohnya. Kok, bisa aku tiba-tiba berpikir seperti ini? Maksudku—kembali ke awal—aku bukanlah cewek yang gampang jatuh cinta hanya karena senyuman cowok, atau tingkah gentleman. Dari kemarin—tepatnya sejak bertemu Sanha—aku jadi banyak berpikir. Apakah Jeno akan begini… apakah Jeno akan begitu… apakah Jeno blablabla. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku memang cemas.

“Setelah sekian lama jomblo, akhirnya ada calon pacar. Bagaimana perasaanmu, Rheey?”

Bagaimana perasaanku?

Ah, memang benar apa kata orang kalau perasaan adalah sesuatu yang paling menyeramkan. Aku bahkan tidak tahu perasaanku saat ini seperti apa. Perasaanku pada Jeno, lebih tepatnya. Aku sudah memikirkannya ulang… apa yang terjadi? Kenapa bisa begini? Ada apa denganku? Kenapa hatiku sakit? Kenapa aku mau menangis? Kenapa aku jadi ingin memeluk Jeno? Kenapa aku merasa semua ini tidak adil?

Semua ini terlalu ambigu.

“Pastinya aku senanglah. Kapan lagi Jeno punya pacar secantik Ha Jin?”

.

.

.

Sekarang adalah Hari-H. Aku, Sanha, Donghyuk, Hina, dan anak-anak lain sudah bersiap. Aku dan Sanha bertugas sebagai penata kabel, sedangkan Jeno—aku benar-benar tidak menyangka—menjadi MC dengan Ha Jin. Cowok itu mengarahkan acara dengan baik, fans fanatiknya pasti akan bertambah. Jeno bilang dia mau mengenalkanku pada Ha Jin, tapi akhirnya tidak jadi karena dia sendiri terlalu sibuk menghabiskan waktunya dengan Ha Jin. Aku menganggap hal ini masa bodoh, dan sepertinya aku tidak boleh terlalu menggampangkan, karena bisa jadi di sini yang sebenarnya bodoh adalah aku. Iya, AKU.

Aku sudah tahu perasaanku dan masih tidak mau mengakuinya. Entah aku yang terlalu percaya diri atau terlalu pintar, tapi aku memang tidak mau kehilangannya. Kehilangan Jeno.

Nah, aku gila, kan?

“Rheey, Jeno cocok, ya, sama Ha Jin?” Sanha menyenggol sikutku. Aku melongok dari backstage, kemudian mendecih.

Jeno terlihat miliaran kali lebih ganteng. Rambutnya dikasih gel dan disisir ke atas. Memakai jas hitam dengan kaus putih di dalamnya. Sepatunya mengkilap, bahkan aroma jeruknya bisa tercium dari sini. Sedangkan Jeon Ha Jin memakai long dress merah jambu dan rambutnya tergerai bebas. Kurasa dia juga memakai gincu. Meskipun tidak terlalu merah, tapi sangat tidak cocok dengannya. Jeno bisa jijik dengan cewek berlipstik seperti itu… ah, tapi Jeno, kan, menyukai Ha Jin, jadinya urusan bergincu atau tidak itu belakangan. YANG PENTING CANTIK.

Aku menghela napas. Kok, dadaku jadi sesak begini, ya? Atau jangan-jangan aku patah hati lagi? Atau karena parfum Sanha yang terlalu menyengat? Atau malah bau ketiakku sendiri?

Untunglah aku masih bisa fokus bekerja meskipun separuh isi otakku adalah makian. Iya, dari tadi rasanya aku mau memaki. Aku ingin memaki siapapun yang kutemui; Ha Jin, Jeno, Sanha, bahkan tong sampah (karena dia hanya diam setelah kutendangi. Bukankah itu menyebalkan, Bung?). Aku bahkan tidak kuat mendengar suara Jeno dari mikrofon. Apalagi jika dia dan Ha Jin ngomong “Silakan beri tepuk tangan” atau “Terima kasih” atau blablabla. Duh, rasanya aku ingin menyetrum mereka dengan kabel.

“Aku mau bilang sesuatu.”

Jeno berkata setelah menyudahi acara. Aku tidak mau menebak. Mending aku mati saja daripada mendengar hal ini. Iya, aku harus mati. Saat aku melilitkan kabel itu di tangan, Sanha mencegahnya.

“Kamu ngapain? Jeno mau ngomong, tuh,” ucapnya sambil melepas kabel-kabel itu dan melemparnya ke lantai.

“Sanha, maukah kamu menusuk telingaku pakai kayu biar tuli?”

“Hah?”

“Lupakan.”

Aku duduk di kursi dengan lemas. Sayang sekali kepala sekolah melarang pulang sebelum jam dua siang.

“Sebenarnya aku sedang suka dengan seseorang. Aku ingin mengatakannya sekarang.”

Aku meneguk ludah susah payah.

“Aku menyukainya karena dia baik. Selalu menemani hariku dan membuatku tersenyum.”

Selalu menemani harinya dan membuatnya tersenyum? Apakah itu aku?

“Dia cewek paling cantik yang pernah kukenal. Pintar dan baik.”

Itu pasti aku. Meskipun aku tidak yakin diriku cantik dan pintar, tapi itu pasti aku. Aku yang selalu menemani Jeno, suka dan duka, jatuh dan bangun, semuanya. Aku mengetahui hampir segalanya tentangnya. Aku paling mengerti dirinya selain Ibunya. Aku bisa membuatnya tersenyum meskipun sebenarnya aku tidak lucu. Aku adalah cewek yang selalu ada di samping Jeno meskipun aku tahu apa yang kupikirkan sekarang takkan ada gunanya. Sekalipun aku menjelma jadi gadis paling baik dan cantik seantero jagat, aku yakin kalau persepsiku pasti salah. Jeno tidak mungkin menyukaiku meskipun aku yakin kalau apa yang kurasakan ini benar.

“Namanya adalah….”

Iya, aku sudah tahu namanya. Tidak perlu mengumumkannya keras-keras karena aku sudah bisa menebak. Ini sangat menyebalkan, sungguh. Bisakah aku berubah jadi orang gila paling bodoh dan tuli? Bisakah aku menghilang dan berakhir dengan melemparkan diri ke gunung Himalaya dan bertapa ribuan tahun di sana agar Dewa menghilangkan perasaan sepihak yang konyol ini? Kenapa aku tidak menaruh perasaanku pada Sanha, atau cowok lain? Kenapa harus dengan Jeno? KENAPA HARUS DENGAN JENO?

Dia itu sahabatku dan tidak sepantasnya aku melahirkan perasaan ini.

“Namanya Jeon Ha Jin.”

Tepukan riuh tiba-tiba menghujam telingku seperti kembang api di malam tahun baru. Haruskah aku ikutan bertepuk tangan dan berlarian ke sana sambil mengucapkan selamat?

Tidak. Bahkan air mata ini tiba-tiba mengalir. Pantaskah aku menangis? Sahabatku baru saja nembak cewek dan tidak seharusnya aku begini. Sahabat macam apa aku? Aku memukul kepalaku sendiri menggunakan mikrofon cadangan beberapa kali hingga kepalaku pening. Sanha menghentikan aksi anarkis dadakan ini dengan khawatir. Aku masih tidak percaya. Bagaimana mungkin Jeno bisa menyukai cewek secepat itu? Memangnya Ha Jin tahu makanan kesukaan Jeno? Apa yang paling ditakuti Jeno? Warna favorit Jeno? Ha Jin masih tidak tahu apa-apa, dia takkan bisa menjaga Jeno dengan baik.

Aku sangat berharap bisa pergi dari sini. Aku bahkan tidak punya keberanian untuk menatap Jeno. Tidak juga Ha Jin dan semua orang. Aku merasa kecil. Malu pada diriku sendiri.

.

.

.

Sebulan telah berlalu. Maksudnya, sebulan sejak Jeno dan Ha Jin pacaran. Awalnya aku memang sakit hati, bahkan sempat menangis. Sejak Jeno punya pacar, aku jadi semakin dekat dengan Sanha. Bukan sebagai pelampiasan (aku tidak sejahat itu, bro), tapi untuk teman main kalau aku lagi sendirian. Well, sekarang aku tidak boleh terlalu menempel pada Jeno. Yeah, ada senangnya juga, sih, karena para fans fanatik itu gantian meneror Ha Jin.

Sore ini, cuaca mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun salju. Aku mengeratkan syal dan jaket. Aku sendiri sedang berdiri di halte untuk menunggu bus. Tadinya Sanha menawari pulang bareng, tapi aku menolak karena malas diantar siapapun. Aku mengembuskan napasku yang berasap, kemudian ada bus yang berhenti di depan. Sekali lagi, aku harus kuat. Ini juga pilihanku sebulan lalu, memilih memendam perasaan ini sampai dia hilang dengan sendirinya. Ini memang bukan kali pertama aku merasakannya, tapi aku menganggap jatuh cinta pada Jeno adalah sesuatu yang paling berkesan. Apa mungkin ini efek samping jatuh cinta pada sahabat sendiri?

Jika aku merindukan Jeno, aku cukup memutar kembali memori-memori lucu nan bahagia bersamanya, detik-detik yang kuhabiskan untuk meratapi kebiasaan Jeno yang suka berganti teman kencan dan mengatasi keburukannya yang suka kentut sembarangan. Aku tahu, selama ini aku tahu. Rasa ini akan selalu ada.

Aku melangkahkan kakiku menuju bus. Namun tiba-tiba ada sosok yang menghalagi jalanku. Aku mendongak, merasakan kembali sensasi bertemu pandang dengannya. “Kamu lupa tidak pakai kaus tangan lagi,” tegurnya sambil tersenyum.

Aku pun balik tersenyum. “Kamu tahu, kan, kalau aku harus gantian dengan Kakakku. Kami berdua sama-sama suka warna pastel, omong-omong.”

Jeno meraih tangan kananku dan dimasukannya ke kantong jaket.

Aku menggigit bibir. “Kenapa memasukkan tanganku ke jaket?”

Saat itu kami berdua masuk ke bus. Sepertinya sore ini akan jadi sore terindah, tepatnya setelah aku menganggap kalau Jeno sudah melupakanku.

“Karena aku enggak mungkin membiarkan sahabatku kedinginan.”

Lagi-lagi aku tersenyum. Iya, mungkin apa yang dikatakannya itu benar. Jantungku langsung berdebum. Aku tahu aku berlebihan lagi. Aku sadar. Aku tahu posisi. Aku akan tetap menjaga jarak meskipun kami sahabat.

…. Karena sampai kapanpun perasaan ini takkan pernah mati. Iya, kan, Jeno?

.

.

.

.

.

_Fin_

Advertisements

3 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Zodiac Love Story #Aquarius (Series)

  1. baru tau di ITB ada jurusan baru………………….
    ahhh ini keren, narasinya lucuuuuu
    ga papa kok sad ending, aku tau rasanya :” karena kisah cinta enggak selalu berujung bahagia /LAH BAPER/

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s