[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Johnny Tidur

|   Anak Ibu Kost  |

[ Edisi: Johnny Tidur ]

|   Johnny  x  Wendy   |

|  Fluff  |

|   Ficlet   |   Teenagers   |

2017 © Story created by IRISH

‘ cie, yang diajak sama calon mertua buat bikin kue bareng ‘

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

Cie, yang diajak sama calon mertua buat bikin kue bareng.”

BLUSH!

Tanpa bisa berkata-kata, Wendy hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah. Sebab, baru saja sebaris kalimat lancang masuk ke dalam pendengarannya dengan begitu lantang.

Adalah Joy—anak baru di kost-kostan tempat Wendy tinggal—yang semalam tanpa sengaja mendengar ajakan Bibi Seo pada Wendy untuk membuat kue bersama esok hari.

Hey, jangan keras-keras, nanti kalau yang lain dengar bagaimana?” Wendy menggerutu, tapi diam-diam merasa bangga juga.

Sepengetahuan Wendy, Bibi Seo adalah seorang yang tertutup. Dia tidak suka membiarkan sembarang orang masuk ke dalam rumah utama—rumah yang terletak di seberang kost-kostan. Tapi lihat, apa yang terjadi pada Wendy sekarang? Dia jadi orang pertama yang menerima undangan ‘membuat kue’ bersama Bibi Seo.

“Ya, ya, oh, aku dengar Johnny kemarin kuliah malam. Wah, kebetulan sekali nanti kamu bisa melihat dia di rumah.”

Aih, imajinasi Wendy sekarang mengelana. Melihat keseharian Johnny saja sudah membuat Wendy teringat pada imej keren pemuda itu. Dan sekarang masih jam tujuh pagi, sedangkan Wendy sudah siap di depan gerbang kost, menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke rumah utama Bibi Seo—dan YA TUHAN, Wendy mungkin saja bisa melihat sosok seorang Seo Johnny yang masih terlelap!

KRIET!

Wendy tersentak saat mendengar suara gerbang rumah di seberangnya. Tidak lama, muncullah sosok yang Wendy tunggu, Bibi Seo.

“Ah, Wendy? Kenapa masih berdiri di sana? Ayo masuk, Bibi sudah membuat beberapa adonan sejak pagi tadi.” Bibi Seo berkata.

“Ah, iya, aku baru akan menyeberang.” Wendy beralasan, padahal sejak sepuluh menit yang lalu dia berdiri layaknya orang bodoh—dengan ditemani Joy tentu saja.

Mendengar ucapan Wendy, Bibi Seo hanya tersenyum. Sementara Wendy sendiri kemudian merajut langkah memasuki rumah calon mert—tidak, rumah Bibi Seo, maksudnya.

“Johnny pulang larut tadi malam, jadi sekarang dia masih tertidur.” Bibi Seo membuka konversasi.

Aduh, aduh, kenapa harus memberitahu begitu? Apa di mukaku sekarang kelihatan kalau aku jadi pemburu Johnny? Wendy membatin.

“Ah, iya, saya dengar Johnny salah satu mahasiswa pintar di program studinya.” duh, lancang pula mulut Wendy berkelakar. Mana mungkin dia tahu berprestasi tidaknya Johnny padahal mereka beda kampus?

“Benarkah? Bibi bahkan tidak tahu kalau dia kuliah dengan baik. Setiap hari yang Johnny lakukan hanya bermain game dan mengutak-atik komputer saja.” Bibi Seo menyambung kalimat Wendy.

Wendy sendiri mengangguk-angguk paham. Ya, tentu dia tahu benar kalau Johnny hobi mengutak-atik komputer, sebab pemuda itu mengambil jurusan teknik jaringan di kampusnya, jurusan yang membutuhkan otak encer, istilah Wendy.

Berbanding terbalik dengan Wendy yang mengambil jurusan desain grafis yang lebih membutuhkan imajinasi dibandingkan kecerdasan intelektual.

Duh, Wendy, maaf ya, Johnny biasanya tidur di kost—untuk informasi saja, kost milik Bibi Seo adalah kost campuran perempuan-laki-laki sehingga Wendy seringkali bertemu dengan Johnny di kostnya—tapi semalam mungkin dia terlalu lelah.”

Baru saja Wendy hendak membuka mulut hendak menyahuti ucapan Bibi Seo, netra Wendy sudah berpaku pada pemandangan yang berhasil membekukannya.

Ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan! Johnny tidur di sana! Ya Tuhan! Perutnya kelihatan! Wendy menjerit dalam hati, karena sekarang dia berdiri sendirian di ruang tengah rumah Bibi Seo, sedangkan satu meter di depannya, Johnny sedang terlelap di atas kasur yang dibentang di lantai, dengan mengenakan kaos berwarna hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya dan—aih, kenapa pula kaos hitam itu harus tersingkap sampai di bagian perut?

Pikiran Wendy kan tiba-tiba saja berubah jadi mesum!

Tanpa bisa dikontrol, jantung Wendy melompat tidak karuan. Mendengar deru nafas Seo Johnny yang sedang tertidur, melihat wajah polos pemuda itu juga melihat perutnya yang terekspos—ah, stop, Wen!—sungguh membuat Wendy tidak tahan untuk tidak menjerit keras-keras.

“Bibi, biar aku bantu membawa bahan-bahan kuenya.” cepat-cepat Wendy menyingkirkan pikiran kotor yang hampir saja mendominasi benaknya, gadis itu kemudian melangkah ke dapur, membantu Bibi Seo membawa beberapa waskom berisi adonan yang rupanya sudah Bibi Seo siapkan sebelumnya.

“Kita buat kuenya di ruang tengah saja, ya, sambil menonton televisi.”

“Ah, iya…” Wendy mengiyakan, tapi sekon selanjutnya gadis itu sadar kalau ruang tengah adalah ruang yang sama dengan tempat Johnny sekarang tidur.

Sontak langkah Wendy terasa berat. Bagaimana dia bisa fokus menonton televisi kalau Johnny saja tidur di ruang kosong yang ada di depan benda tersebut? Bisa-bisa, cuma Johnny yang Wendy pandangi tanpa bisa berkedip.

“Aduh, Johnny, memalukan sekali dilihat Wendy masih tidur begini.” Bibi Seo seolah sadar pada pandangan Wendy yang sejak tadi tertuju pada Johnny.

Hey, Johnny, ayo bangun, ada Wendy. Kalau mau lanjut tidur, di kamar saja, ibu mau membuat kue dengan Wendy di sini.”

Aduh, Bibi Seo kenapa harus bilang kalau ada aku, sih? Nanti Johnny pikir aku sengaja cari perhatian dan datang ke rumahnya! Duh, mana insiden instagr*m kemarin juga masih malu-maluin.

Wendy hanya bisa memamerkan senyum getir saja, ya, memang Bibi Seo tidak tahu apa yang kemarin terjadi pada Wendy dan Johnny. Kalau saja Bibi Seo tahu, mungkin keadaannya tidak akan sehangat dan sewelcome ini.

Hng? Wendy?” suara parau Johnny terdengar, pemuda itu kemudian membuka sedikit matanya, memandang ke arah Wendy yang masih berdiri mematung.

“Ah… Wendy,” lagi-lagi Johnny menggumam dengan suara parau—suara yang membuat jantung Wendy melompat tidak karuan lagi!—nya.

Pemuda itu kemudian meregangkan tubuhnya, sementara Wendy mengatur emosi. Pelan-pelan dia melangkah ke arah ruang kosong yang Bibi Seo sediakan, tangannya bergerak meletakkan waskom yang sejak tadi ada di tangan sebelum dia kemudian duduk bersila di sebelah Bibi Seo.

“Johnny, ayo bangun,” Bibi Seo menepuk-nepuk pelan pipi anak sulungnya itu. Duh, lagi-lagi jantung Wendy berolahraga karenanya.

“Iya, iya,” vokal Johnny terdengar, pemuda itu kemudian memaksa dirinya untuk bangkit, sementara manik Wendy masih bersarang padanya.

Astaga ya Tuhan! Bagaimana dia bisa terlihat setampan itu saat bangun tidur?! Untuk ke sekian kalinya batin Wendy menjerit.

Imajinasinya kembali berkeliaran ketika melihat wajah Johnny yang baru saja terbangun, belum lagi pemuda itu langsung merapikan surainya yang tadi teracak-acak dengan begitu seksi—catat, seksi itu dalam pandangan Wendy.

“Eh, Wendy, kamu mimisan!”

Duh, sepertinya pagi ini Wendy terlalu banyak memperhatikan Seo Johnny.

FIN

IRISH’s Fingernotes:

Enggak tau kenapa, kalau tengah malem bawaannya bikin fluff itu enak :v sama mantepnya kayak bikin horror/thriller, WKWK, emang dasarnya demen ngetik tengah malem sih (tapi engga jam satu juga, Rish, inget besok masih ada rutinitas)

Dan yeah, setelah kemarin ada drabblenya si anak ibu kost ini, entah kenapa ada ide lagi buat lanjutin insiden instagramnya Wendy, LOLOLOLOL. Idenya mencungul akibat mendekati hari lebaran dan biasanya banyak yang bikin kue gitu di rumah.

Di sini ada yang diajakin calon mertua buat bikin rengginang bareng enggak? WKWKWK.

Contact Me  ]

instagram wattpad wordpress

 

Advertisements

5 thoughts on “[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Johnny Tidur

  1. HANJIR WENDY SEGITUNYA BANGET SAMPE MIMISAN HAHAHAHAHA //dibuang//

    Aku senyam-senyum sendiri baca ini. Apalagi pas Wendy ungkit-ungkit insiden instagram xD Dan Johnny, mau merem, melek, napas, tidur, makan, tetep ganteng emang 😀

    Like

  2. Yaampun baper gue thor baca beginian jadi bayangin kalo gue jadi mbak wendy😂 lanjut terus ff nya author. Fighting!! 😁😁

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s