[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Johnny vs Nando

|   Anak Ibu Kost  |

[ Edisi: Johnny vs Nando ]

|   Johnny  x  Wendy   |

|  introducing Fernandio Seo  |

|  Fluff x Slice of Life  |

|   Series   |   Teenagers   |

2017 © Story created by IRISH

‘ ada, dua orang kembar yang secara penampilan dan kelakuan berbanding terbalik, siapa lagi kalau bukan Johnny dan Nando?‘

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

Dasarnya, Wendy sudah kehilangn rasa malu. Beberapa menit yang lalu dia baru saja dikhawatirkan oleh Bibi Seo karena mendadak mimisan—sebenarnya, penyebab mimisan itu Johnny sih, tapi Wendy mana mungkin mau memberitahu Bibi Seo?—dan sekarang, Wendy seolah tahu diri, karena Wendy sadar kalau sejak tadi Johnny sudah curi-curi pandang ke arahnya.

Well, Wendy sekarang sedang sibuk menggunakan mixer untuk mencampur adonan kue yang diajarkan Bibi Seo padanya, sementara di atas kasurnya—catat, Wendy duduk di ruang tengah kediaman Bibi Seo, yang artinya dia ada di ruangan yang sama dengan Johnny—Johnny sedang memainkan ponsel.

“Wendy hati-hati, jangan sampai adonannya terlalu mengembang.” pesan Bibi Seo terdengar dari dapur, wanita paruh baya itu sedang menyiapkan adonan lainnya di sana.

“Iya, Bibi Seo.” jawab Wendy, iseng-iseng netranya bergerak melirik ke arah Johnny, dan benar saja pandang mereka kemudian bertemu. Wendy memang bukan ahlinya menafsirkan pandangan mata seseorang, sih. Jadi gadis itu sedikit kesulitan untuk memahami apa maksud pandangan Johnny sekarang padanya.

Aduh, belum-belum jantung Wendy sudah berdentum tidak karuan. Kenapa Johnny harus terlihat begitu seksi saat bangun tidur dengan rambut acak-acakan begitu? Lama-lama Wendy tidak hanya terkena mimisan tapi mungkin juga gagal jantung.

“Mandilah, lalu sarapan, tadi aku membawa menu sarapan yang dibuat Lisa di kamar.” merasa canggung karena terus beradu pandang, Wendy akhirnya berinisiatif untuk membuka konversasi.

Johnny sendiri menaikkan alisnya saat mendengar vokal Wendy, pemuda itu kemudian menghembuskan nafas dan mengangguk.

“Iya, sebentar lagi,” jawabnya sambil mengukir sebuah senyum.

Johnny tidak seramah kemarin, Wendy menarik kesimpulan. Tapi gadis itu tidak mau gegabah menjudge Johnny hanya karena satu kalimat yang pemuda itu ucapkan. Ada banyak kemungkinan yang membuatnya berkata seperti itu: malu karena wajah baru bangun tidurnya ketahuan oleh Wendy, contohnya.

“Semalam pulang jam berapa?” Wendy kemudian bertanya, sebenarnya menanyakan jam pulang Johnny adalah hal yang memalukan bagi Wendy, takut Johnny teringat pada insiden kemarin.

Dan juga, Wendy tidak menelepon Johnny semalam, sebab di jam delapan malam Wendy sudah terkapar tidak berdaya di atas kasurnya di kamar kost.

“Jam setengah dua, saat aku datang Nando sudah bersiap keluar.” Johnny menuturkan, pemuda itu merapikan surainya sementara maniknya masih bersarang pada Wendy.

“Ah, Nando masih bekerja sambilan?” tanya Wendy, teringat pada Fernandio Seo—adik Johnny yang usianya terpaut delapan menit dari pemuda itu—yang juga tengah menempuh pendidikan di universitas.

“Iya, semester barunya baru di mulai Juli nanti.” kata Johnny.

Mendengar ucapan Johnny, Wendy hanya bisa ber-oh ria. Karena dia juga sudah tidak tahu harus membicarakan apa lagi dengan pemuda itu. Karena sikap diam Wendy, Johnny juga akhirnya mengalihkan fokusnya ke ponsel lagi.

Duh, Johnny, kamu masih di sini? Cepat sana mandi, jangan main ponsel terus.” Bibi Seo mengomel saat muncul dari dapur dan melihat aktivitas Johnny.

Tanpa bicara apa-apa, Johnny meletakkan ponselnya, bergerak bangkit dari kasur dan kemudian melipat selimutnya. Well, dari yang Wendy tahu, Bibi dan Paman Seo memang lebih dekat dengan Johnny dibandingkan Nando. Karena Nando adalah tipikal pemuda tertutup yang jarang berkomunikasi dengan kedua orang tuanya, berbanding terbalik dengan Johnny yang justru sangat terbuka dan ramah.

Tapi tetap saja, baik Johnny maupun Nando, di mata Wendy keduanya sama tampan—tolong ingatkan Wendy kalau dua orang itu kembar, tolong—hanya saja, penampilan mereka berbeda.

Ada, dua orang kembar yang secara penampilan dan kelakuan berbanding terbalik, siapa lagi kalau bukan Johnny dan Nando?

Johnny adalah tipikal urakan yang kurang memperhatikan penampilannya. Rambut pemuda itu seringkali dibiarkan tumbuh panjang, atau dimodel aneh-aneh—tidak aneh, sih, karena di mata Wendy seperti apapun rambut Johnny tetap saja kelihatan tampan, duh!—Johnny juga terkenal dengan imej ‘gentle’ karena dia bersikap sangat baik pada semua orang.

Sedangkan Nando adalah kebalikannya. Meskipun penampilan Nando selalu rapi—rambutnya bahkan rutin dipotong pendek setiap tiga minggu!—tapi Nando adalah seorang bad boy yang seringkali berurusan dengan preman saat dia duduk di bangku sekolah. Dari yang Wendy tahu, Nando juga seorang perokok.

Well, memang orang-orang cenderung menilai Johnny sebagai anak yang nakal dari penampilannya, tapi dari segi kelakuan, Nando yang rapi justru diam-diam arung jeram—eh, tidak, diam-diam menghanyutkan.

“Nando belum pulang, ya?” Johnny bertanya pada Bibi Seo saat ia lewat ke dapur.

“Belum, coba kamu telepon saudaramu itu, dia suka sekali keluyuran tidak jelas, meniru kelakuanmu.” Bibi Seo bersungut-sungut.

“Bukan karenaku, Nando saja yang berteman dengan orang-orang aneh.” Johnny menyahut, dia kemudian melangkah ke lantai dua rumahnya, suaranya bahkan tenggelam di balik belokan tangga menuju lantai dua.

“Apa Nando mengambil cuti kuliah lagi?” Wendy bertanya, mengingat dia sudah menempati kost-kostan milik Bibi Seo sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, tentu saja Wendy merasa kalau dia sudah tumbuh besar bersama Nando—karena Johnny menempuh sekolah menengahnya di luar negeri, dan sekalinya tinggal di Seoul dia justru sering bepergian, jadi Wendy tidak terlalu mengenal pemuda itu.

“Iya, akhir-akhir ini Nando sepertinya mengenal perempuan dari Tokyo yang membuatnya sering keluar malam, jujur saja Bibi tidak suka perempuan yang hobi keluar tengah malam. Bayangkan saja, Wendy, Nando berpamitan akan keluar dengan perempuan itu jam dua malam. Kemana mereka akan pergi di jam dua dini hari?” Bibi Seo berucap, wanita paruh baya itu duduk di sebelah Wendy.

Club malam, mungkin, Wendy membatin. Mana mungkin dia berani menyuarakan pikirannya, nanti Bibi Seo akan berpikir kalau Wendy menuduhkan hal yang tidak-tidak pada anaknya.

“Aku sudah telepon Nando, katanya sebentar lagi dia pulang. Setelah Nando pulang aku keluar ya, Bu, ada urusan dengan direktorat.” Johnny turun dari tangga lantai dua dengan mengalungkan handuk berwarna biru tua—warna favorit Johnny, Wendy tahu itu.

“Oh, baguslah. Nanti biar ibu omeli Nando kalau dia pulang.” Bibi Seo berucap.

Bukannya menyetujui ucapan ibunya, Johnny justru berdecak pelan. “Tidak perlu, Bu. Nando bukan anak kecil lagi, dia keluar jam dua pagi dengan Hanna juga pasti ada alasannya.” Johnny terdengar menasehati, memang, tapi Wendy tahu kalau Johnny pasti mendengar konversasinya dengan Bibi Seo tadi.

Tiba-tiba saja, atmosfer di ruang tengah berubah dingin. Bibi Seo memilih bungkam, menatap ke arah adonan yang tengah diulennya sementara Johnny sendiri melangkah ke kamar mandi yang terletak di pojok belakang ruang tengah.

“Johnny memang begitu, selalu saja membela saudara kembarnya.” Bibi Seo berucap.

Mungkin, Johnny bukannya membela saudaranya, tapi dia melindungi saudaranya dari tuduhan tidak benar yang ibunya pikirkan. Wendy pikir, kerenggangan antara Nando dan kedua orang tuanya bukan semata-mata terjadi karena sikap Nando yang tertutup.

Seingat Wendy, dulu Nando bukan orang yang pendiam seperti beberapa tahun belakangan. Apa ada yang terjadi pada Nando dan keluarganya? Apa mungkin, datangnya Johnny ke Seoul juga ada hubungannya dengan hal yang terjadi di keluarga ini?

“Wendy, kamu ‘kan ada di universitas yang sama dengan Nando. Apa tidak bisa sedikit mengawasi apa yang Nando kerjakan di universitas kalau kamu ada waktu senggang?”

Nah, sekarang apa lagi? Wendy dipekerjakan sebagai detektif ilegal dadakan atau bagaimana? Memang, sih, Wendy tahu kalau Nando tertinggal dua semester karena cuti yang diambilnya, mungkin pemuda itu ketinggalan satu semester lagi karena nilainya—Wendy tidak begitu ingat karena hanya mendengar dari gosip saja.

Tapi sekarang, Bibi Seo sedang mengkhawatirkan kehidupan si bungsu itu, bagaimana mungkin Wendy bisa tutup mata sementara dia sudah tahu jelas ada yang janggal di keluarga Seo ini?

“A-Ah, iya, bisa Bibi Seo, lagipula aku sudah semester akhir dan tidak banyak kegiatan di universitas.”

Duh, kenapa sekarang Wendy merasa menyesal karena tiba-tiba saja terlibat secara tidak langsung dalam masalah keluarga Seo?

FIN

IRISH’s Fingernotes:

ADUH BIYUNG, enggak tahan buat enggak ngebuat cerita-cerita lainnya tentang anak kost ini ;~~; dan berhubung di otak ini storyline-nya masih banyak jadi secara paksa cerita ‘Anak Ibu Kost’ aku jadiin series aja ya ;~; (enggak tau diri banget elu Rish, gapapa gatau diri asal tau identitas, ohok).

Berhubung series, jadi pendek-pendek aja kayak sekarang, sedapetnya ide aja, mungkin nanti bakal ada yang loncat-loncat engga jelas gitu, namanya juga series, bukan chapter, jadi harap maklum aja kalo ngetiknya sesuka hati latar waktu dan tempatnya /kemudian ditendang/.

Tapi tenang, nanti Wendy-Johnny kujodohin deh dengan cara yang enggak gampang, icikiwir~

Contact Me  ]

instagram wattpad wordpress

Advertisements

One thought on “[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Johnny vs Nando

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s